Rike Amru: Presenter Harus Selalu Fresh, Fisik Maupun Mental

Rike Amru

Rike Amru

Mungkin Anda adalah sebagian dari pemirsa yang dalam satu dekade terakhir disuguhi penampilan para presenter atau penyiar berita yang cantik-cantik dan ganteng-ganteng. Dan, salah satu wajah cantik yang mungkin sering Anda saksikan di SCTV melalui program Liputan 6 dan Barometer tersebut adalah Rike Amru. Ya, perempuan kelahiran Banda Aceh pada 7 Juli 1973, ini tidak menampik sinyalemen persaingan yang sangat ketat di antara stasiun-stasiun televisi yang ada, khususnya dalam menampilkan para presenter yang rupawan.

Tak heran bila kini, pemirsa bisa melihat sejumlah presenter berita khususnya, yang sempat menjadi semacam ikon di suatu stasiun televisi dan juga berpenampilan menarik serta berwajah rupawan—tentu saja diikuti dengan kemampuan profesi yang sangat baik—seperti menjadi rebutan stasiun-stasiun televisi lain yang ingin menonjol dalam persaingan. Bagi Rike, hal seperti itu lumrah saja, sebab setiap presenter juga membutuhkan tantangan lebih. Yang penting, setiap presenter memiliki modal yang cukup untuk bersaing dan mendapatkan tantangan lebih tersebut.

Walau begitu, menurut Rike, modal penampilan saja sebenarnya tidak cukup memberikan bobot lebih kepada seorang presenter. Menurut jebolan Fakultas Ekonomi USU dan STIE Perbanas ini, kecantikan seorang presenter haruslah terpancar dari intelektualitas dan personality-nya. Nah, kombinasi intelektualitas dan kepribadian yang menawan itulah yang bisa menjadikan penampilan sang presenter memiliki roh, dan itu pula yang memikat maupun mengikta pemirsa. “Sebaliknya, jika betul-betul mengandalkan kecantikan fisik, saya kira penonton tidak bakal betah,” ujar Rike.

Sementara melihat sejumlah rekannya terjun ke dunia politik, Rike menyatakan bahwa hal itu juga wajar-wajar saja. Sebab, dunia jurnalistik memungkinkan seorang jurnalis bersentuhan dengan banyak persoalan riil masyarakat. Dan mungkin saja, itulah yang mengetuk mereka untuk kemudian terjun ke politik. Namun, Rike mengaku akan tetap fokus dan menekuni dunia jurnalisme televisinya. “Jurnalistik adalah end of mind saya,” jelasnya. Berikut petikan wawancara Edy Zaqeus dari AndaLuarBiasa.com dengan Rike Amru, perihal pernak-pernik jurnalistik televisi di Indonesia, yang dilakukan melalui komunikasi via Facebook dan pos-el:

Sekarang ini hampir semua stasiun televisi swasta berlomba-lomba untuk menghadirkan para penyiar berwajah cantik. Komentar Anda?

Wajar saja. Karena itu salah satu cara yang ditempuh oleh stasiun televisi untuk merebut dan mempertahankan atensi pemirsa.

Apakah ini berdampak baik atau buruk?

Berdampak baik, jika kecantikan si penyiar atau presenter itu juga berasal dari intelektualitas dan kepekaannya. Artinya, si presenter tidak sekadar memperlihatkan kecantikan fisik, tapi juga merepresentasikan personality-nya. Dengan begitu, citranya akan memberi roh ke layar stasiun televisinya. Dan, penonton juga merasa nyaman. Sebaliknya, jika betul-betul mengandalkan kecantikan fisik, saya kira penonton tidak bakal betah.

Perpindahan penyiar dari satu stasiun televisi ke stasiun lain juga sering terjadi. Padahal, mereka ini seringnya sudah menjadi semacam ikon bagi stasiun televisi lama. Pandangan Anda?

Banyak faktor yang menyebabkan penyiar pindah ke stasiun televisi lain. Salah satunya, kebutuhan akan tantangan baru. Saya pikir, soal tantangan ini, bisa menjadi lebih penting ketimbang ikon.

Rike Amru: Liputan kebun ganja di Aceh

Rike Amru: Liputan kebun ganja di Aceh

Sebenarnya, modal apa saja yang idealnya dimiliki oleh penyiar televisi?

Yang paling penting memiliki sensitivitas, kepekaan terhadap lingkungan sekitar, sesama, dan isu-isu di tengah masyarakat. Lalu intelektualitas, kemampuan berbahasa yang memadai, serta kepribadian yang luwes, dan low profile. Ini semua modal yang akan membuat seorang penyiar selalu menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari pemirsa televisi.

Di tengah persaingan penampilan para penyiar sekarang ini, menurut Anda, apa yang mesti menjadi tonjolan, hal khas, atau unggulan masing-masing?

Saya pikir…. setiap presenter berita memiliki kekhasan dan daya tarik yang spesifik. Tapi, apa pun kelebihannya, harus selalu bisa diintegrasikan pada prinsip-prinsip jurnalistik, yang direpresentasikan melalui penampilannya. Artinya, prinsip jurnalistik itu yang paling utama untuk ditonjolkan. Seperti, tidak menghakimi dan tidak beropini. Dengan begitu, saat tampil di layar televisi, presenter tidak boleh membawa diri sebagai “selebritis”.

Ada rumor bahwa sejumlah penyiar televisi memaksa diri untuk tetap hidup single untuk mempertahankan penggemarnya. Benarkah itu?

Sama sekali tidak benar! Banyak penyiar menjadi makin matang performanya setelah menikah. Dan, penggemarnya juga menjadi semakin setia.

Dalam masa pemilu seperti sekarang, apakah kalangan penyiar atau jurnalis televisi sering mendapatkan pesan-pesan sponsor, atau bahkan tekanan tertentu?

Secara langsung atau eksplisit sih tidak. Karena, bisa jadi lingkungan jurnalistik justru yang paling disegani. Dan, jangan sampai jadi blunder dan bumerang untuk mereka sendiri. Secara implisit, mungkin ada juga. Tapi, karena kami berpijak pada jurnalisme, kami menjadi tidak peka dan tidak peduli dengan hal-hal semacam itu.

Rike Amru: Presenter harus selalu tampil fresh

Rike Amru: Presenter harus selalu tampil fresh

Sejumlah penyiar, baik yang senior maupun yang masih muda, mulai merambah ke dunia politik. Pandangan Anda?

Saya rasa, pilihan dan keputusan terjun ke politik itu dilandasi oleh keterikatan dan rasa tanggung jawab rekan-rekan tersebut terhadap masyarakat. Selama menjadi jurnalis, mereka selalu bersentuhan dengan persoalan-persoalan masyarakat. Barangkali, ini menjadi langkah konkret mereka untuk bisa berperan lebih banyak. Boleh jadi, ini juga terkait kebutuhan akan tantangan baru tadi.

Dengan tingkat popularitas Anda sekarang ini, apa Anda juga tertarik untuk melebarkan sayap ke dunia politk nantinya?

Tidak…. Jurnalistik adalah end of mind saya.

Anda sering memandu program debat untuk isu-isu yang cukup panas. Pernah punya pengalaman tak terlupakan?

Salah satu pengalaman paling penting, bagi saya, adalah waktu memandu debat para jurnalis senior mengenai kebijakaan pemberitaan eksekusi Amrozi dkk.

Bagaimana cara Anda mengendalikan situasi debat yang memanas itu?

Menghadapi debat yang memanas, yang paling saya pikirkan adalah pemirsa. Informasi apa yang berhak diperoleh pemirsa? Hal ini menempatkan saya sebagai “filter” untuk tidak membiarkan suhu panas menjadi satu-satunya daya pikat program itu. Artinya, saya akan menginjak pedal rem, jika perdebatan keluar dari koridor dan tidak lagi proporsional. Tapi, saya juga memberikan ruang yang leluasa bagi masing-masing panelis, jika dalam debat banyak informasi penting yang bisa dipetik pemirsa.

Kesimpulan apa yang bisa Anda petik dari situasi-situasi debat dalam itu? Apakah masyarakat atau tokoh-tokoh kita siap dan bersedia menerima perbedaan pendapat?

Jujur saja, kadang kala ada tokoh yang tidak siap berdebat, sekaligus tidak siap menerima perbedaan. Kadang kala, ada panelis yang berpikiran sempit, yang memandang forum debat menyerupai arena gulat, dan maunya menang. Tapi, jika presenter yang memandunya melakukan tugasnya dengan baik, masyarakat tentu bisa menilai masing-masing tokoh secara fair.

Rike Amru: Bersama rekan-rekannya di SCTV

Rike Amru: Bersama rekan-rekannya di SCTV

Apa pengalaman paling berkesan yang pernah Anda alami selama tugas jurnalistik?

Hmm, banyak ya. Salah satu yang saya ingat, saat meliput ladang-ladang ganja di lereng pegunungan Leuser. Liputan itu untuk program investigasi Sigi-30 Menit. Anda bisa bayangkan… Saya hampir ‘pingsan’ saat mendaki dan menuruni pegunungan di hutan, untuk mencari ladang ganja bersama tim. Sama sekali tidak mudah bagi saya. Kami stay di sana hampir dua pekan.

Dalam setiap penugasan di lapangan, penampilan tetap menjadi perhatian utama penyiar. Bagaimana Anda menyiasati hal ini, semisal tetap menjaga penampilan selagi tugas di daerah yang sulilt seperti di Aceh…?

Menurut saya, yang paling penting adalah tampil sesuai dengan keadaan dan lingkungan saya berada. Di wilayah sulit, apalagi di daerah yang dilanda bencana, tentu malah tidak wajar kan jika tampil kenes? Tapi, saya selalu memberi “warning” pada diri sendiri, bahwa presenter harus selalu fresh. Fisik maupun mental. Ini penting, supaya selalu siap memberikan informasi yang komprehensif dan detail pada pemirsa. Cara menyiasatinya? Ya, sekurang-kurangnya cukup istirahat dan cukup tidur. Dan, harus bisa istirahat dan tidur di mana pun. Di tenda maupun di kandang….

Penyiar-penyiar baru yang lebih muda dan menarik nantinya pasti akan terus berdatangan. Bagaimana Anda menghadapi situasi semacam ini ke depannya?

Saya sama sekali tidak memandang rekan-rekan muda sebagai pesaing. Saya juga tidak ingin menempatkan diri saya sebagai senior, yang lebih tahu segala hal. Jadi, menghadapi mereka, saya justru mempersiapkan diri, bagaimana supaya saya bisa menjadi rekan kerja dan partner yang ideal. Yang bisa saling berbagi dan belajar satu sama lain.

Siapa penyiar televisi idola Anda?

Banyak. Semua punya spesifikasi dan keunikan masing-masing. Saya juga banyak belajar dari senior saya di Liputan6 SCTV, seperti Ira Koesno dan Rosianna Silalahi.

Rike Amru: Sebuah aksen

Rike Amru: Sebuah aksen

Selain sebagai penyiar, apa yang sehari-hari Anda lakukan, atau yang menyibukkan Anda?

Baca koran, nonton berita maupun program-program dokumenter. Dan, current affairs dari stasiun televisi nasional lain, sampai CNN. Lalu, baca buku dan diskusi dengan rekan-rekan jurnalis maupun dari lintas bidang.

Anda punya mimpi-mimpi ke depan di bidang kehidupan pribadi dan karier? Menuliskan pengalaman jurnalistik dalam sebuah buku, misalnya?

Dalam karier, semoga bisa menjadi wartawan televisi seperti Lara Logan atau Christianne Amanpour, meskipun masih sangat jauh. Menulis buku? Ya, will do.[ez]

Foto-foto: Dokumentasi Rike Amru, dan koleksi Gangsar AJ, Widhi Anthony, Kun GFX, dan Lee Kwangsung.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 5.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Alexandra Dewi: Pernikahan yang Bahagia Butuh Proses dan Kerja Keras

Alexandra Dewi

Awalnya, Alexandra Dewi Aryani Hermanus, begitu nama lengkapnya, tidak cukup percaya diri untuk menganggap coretan-coretannya sebagai tulisan. Maklum, semula ia merasa tulisan-tulisan itu hanya curhatan perempuan pada umumnya. Semata merupakan tulisan-tulisan lepas hasil olah perasaan di sela-sela kesibukan bisnisnya. Tetapi, seorang rekan kerja memperlihatkan karyanya tersebut ke sejumlah rekan. Ternyata, tidak seorang dua orang yang menganggap tulisan Dewi punya “isi”, ada yang khas, merekam realitas masyarakat, dan tentu saja ada nilai jualnya.

Tidak meleset. Debutnya diawali dengan menerbitkan buku nonfiksi bersama Cynthia Agustina berjudul I Beg Your Prada (GPU, 2006) cukup mendapat sambutan publik, sehingga buku itu sempat cetak ulang. Tak lama berselang, Dewi meluncurkan buku kedua yang ditulisnya sendiri berjudul Queen of Heart (GPU, 2007). Ini buku kiat-kiat bagi para lajang untuk mendapatkan pasangan idaman, sekaligus sambil tetap mempertahankan jati diri sebagai perempuan yang elegan, berkelas, dan bermartabat. Kini, Dewi segera hadir dengan karya ketiga berjudul The Heart inside the Heart (GPU, 2009), yang akan diluncurkan pada 23 April 2009 ini di Jakarta.

Apa pesan yang dibawa perempuan kelahiran Jakarta, 11 Mei 1974, dalam buku terbarunya ini? Ternyata, isinya merupakan “kelanjutan” dari buku sebelumnya, Queen of Heart. Kalau di buku sebelumnya banyak bercerita tentang bagaimana cara menemukan pasangan sejati, maka buku terbaru ini berkutat pada masalah menjaga keutuhan rumah tangga. Pesannya sangat jelas, kehidupan perkawinan ternyata tidak selalu seindah yang dibayangkan. “Banyak masalah muncul, dan mungkin kita tidak memikirkan itu sama sekali, dulu waktu memutuskan menikah,” tutur Dewi yang menikah sepuluh tahun yang lalu dengan Peter Chen.

Singkat kata, membangun, merawat, dan mempertahankan biduk rumah tangga itu sungguh-sungguh perlu kerja keras suami-istri. “Seperti berdansa, masing-masing harus tahu kapan maju dan kapan mundur, supaya tidak saling injak,” kata alumnus American College for the Applied Arts, Los Angeles, California, USA, yang kini menjadi Managing Director PT Sun Hope Indonesia itu. Dewi seperti hendak mengingatkan para pasangan muda yang hendak menikah, supaya sejak awal mau memberi porsi lebih banyak memikirkan berbagai kemungkinan problem rumah tangga ke depannya. Harapannya, mereka bisa menjadi lebih realistis dalam mengarungi perkawinan atau menghadapi terpaan beragam persoalan nantinya.

Tetap sibuk mengurus perusahaan bersama sang suami, mengurus kedua putra-putrinya Elizabeth Jessie Chen dan Joseph Mason Chen, dan mengembangkan sebuah butik, Dewi masih sempat aktif menulis untuk sejumlah website, seperti website motivasi www.andaluarbiasa.com, www.curhat.com, dan www.kabarindo.com. Berikut adalah petikan wawancara Edy Zaqeus dari AndaLuarBiasa.com dengan Alexandra Dewi melalui pos-el belum lama ini:

AD: Menjalin persahabatan di mana saja

AD: Menjalin persahabatan di mana saja

Apa judul buku terbaru Anda dan secara garis besar apa isinya?

Judulnya The Heart inside the Heart. Isinya apa saja yang perlu diketahui wanita sebelum menikah. Soal selingkuh, soal bercerai. Secara garis besar tentang kehidupan pernikahan yang realistis, dan berbagai macam dinamika atau liku-liku kehidupan berumah tangga.

Mengapa tertarik menggunakan judul tersebut?

Buku saya sebelumnya, Queen of Heart, garis besarnya berisi dinamika wanita ketika masih single serta tahap mencari pacar atau calon suami. Sedangkan The Heart inside the Heart ini soal dinamika yang lebih dalam. Karena masa kencan atau pacaran jauh berbeda dengan kehidupan berumah tangga. Banyak orang menghabiskan waktunya untuk memikirkan pesta pernikahannya. Tapi, tidak banyak yang berpikir soal kematangan dan kesiapan mental untuk menjalankan kehidupan rumah tangga, yang idealnya untuk seumur hidup. Sementara, pesta pernikahan hanya satu hari saja, kan?

Banyak juga yang menikah karena alasan alasan lain, di luar sebab saling mencintai. Mungkin menikah karena tekanan sosial. Mungkin juga terlalu terbuai fantasi soal indahnya kehidupan berumah tangga, seperti yang ada di film-film itu. Realitasnya, pernikahan yang bahagia butuh proses dan kerja keras.

Dari buku tentang gaya hidup kelas menengah-atas, lalu ke kiat-kiat untuk para lajang. Sekarang, terjun ke buku perkawinan. Ada kaitannya satu sama lain?

Secara tema buku, kaitannya memang tidak ada. Ini cuma hasil pengamatan saya terhadap kehidupan di sekitar kita. Gaya hidup kelas menengah atas, perjuangan para lajang untuk menemukan “soul mate”, yang mana menurut saya pribadi tidak ada itu yang namanya soul mate. Semua pasangan, terutama yang baru saja jatuh cinta, rasanya pasti seperti menemukan soul mate. Tapi, setelah beberapa tahun, kok malah memilih bercerai?

Buat saya, lebih realistis kalau kita jatuh cinta lalu kalau memutuskan menikah dan meraih bahagia. Sementara, awetnya pernikahan itu tidak segampang mengetik kata soul mate. Tapi, benar-benar butuh proses. Ya, proses belajar kompromi, proses mengerti artinya pernikahan, dan yaitu tadi, lagi-lagi kerja keras.

Dapat dorongan dari mana sehingga Anda mau menulis buku ini?

Teman-teman saya di sekitar saya. Bahkan, yang jauh lebih muda, rata-rata pada sudah menikah. Dan, ketika kami saling tukar pikiran secara jujur, menikah itu ternyata ada enak dan tidaknya. Ada suka dukanya. Dan, banyak hal harus dihadapi, yang mana tidak pernah terlintas di benak kami sebelum memutuskan menikah dulu. Kalau waktu masih single dulu sih, kami sama-sama mengakui kok. Walaupun kami sudah mencoba realistis, sudah pacaran bertahun-tahun sebelum menikah, di tengah-tengah pernikahan, ada saja ‘kejutan’-nya. Itu baru kami alami ketika sudah menjadi suami istri. Dan, di zaman sekarang ini, cerai sudah merupakan hal yang lumrah. Begitu juga soal penyebabnya. Yang tidak mengherankan lagi, ya soal pihak ketiga itu. Atau, sebab-sebab lainnya yang saya tuangkan di buku ini.

AD berlibur ke Eropa

AD berlibur ke Eropa

Dari mana Anda gali sumber-sumber penulisannya?

Tentunya dan utamanya adalah pengalaman pribadi. Karena, kebetulan saya sudah menikah sepuluh tahun lamanya. Sisanya, ya dari bertanya kepada siapa saja yang rela menjawab. Atau tanya sama siapa saja yang mau cerita, ya dari teman-teman, juga segala persoalan teman-teman mereka juga. Kadang bahan juga saya dapat dari pertanyaan-pertanyaan yang masuk ke saya melalui www.curhat.com. Jadi ya, semua ditulis berdasarkan bahan atau cerita nyata.

Sejauh yang Anda amati, sebenarnya persoalan-persoalan pokok apa saja yang siap menghadang setiap perkawinan?

Tergantung di usia ke berapa pernikahannya? Juga berapa lama pacarannya? Dan, tentu ke individu masing-masing, persoalannya akan berbeda-beda. Ada yang masalah utamanya mertua, ada yang susah menyatukan dua hati, dua pikiran, dan dua keinginan menjadi satu. Dan, tidak sedikit yang ribut karena masalah uang atau rasa saling percaya soal ini. Yang lain soal kejenuhan terhadap pasangan, atau harapan terhadap pasangan yang tidak terpenuhi.

Padahal, kalau kita terlalu berharap dapat kebahagiaan dari sarana eksternal, walaupun itu suami atau istri sendiri, mood kita akan menjadi sangat tidak stabil. Karena, kita itu hampir tidak mungkin mempunyai remote control terhadap apa yang orang lain lakukan atau rasakan.

Masalah orang ketiga sering jadi faktor pengganggu yang paling menakutkan. Anda sendiri memandangnya bagaimana?

Yah, menikah itu mudah, kalau hanya untuk mencari status menikah. Tapi lagi-lagi, membangun pernikahan yang bahagia itu justru tantangan sesungguhnya. Nah, namanya saja tantangan, tentu kedua belah pihak, baik suami dan istri, harus fokus seratus persen untuk mendapatkannya. Itu saja, sudah tantangan tersendiri, kan? Kalau ditambah dengan kehadiran orang ketiga, kita semua bisa bayangkan…. Tingkat kesuksesannya akan bagaimana? Apalagi kalau salah satu pihak, atau bahkan dua-duanya hanya ada separuh di dalam pernikahan hitu. Ya, karena separuh hatinya sudah ada di hati orang lain, misalnya.

Karier seorang istri, yang misalnya jauh lebih melejit ketimbang sang suami, juga bisa jadi biang keretakan rumah tangga. Menurut Anda?

Pastinya akan jadi masalah. Itu kalau keduanya tidak tahu artinya bersyukur. Si Istri akan merasa lebih superior, dan si suami akan merasa tertekan, atau harga dirinya turun. Sedangkan si istri, tanpa disadari akan lupa bagaimana rasanya dilindungi. Rasanya menjadi seorang wanita. Tanpa dia sadari, bisa saja wanita itu yang membuat rasa itu datang. Caranya, dengan merendahkan suaminya. Jadi, seperti lingkaran setan. Istri dominan, suami tertekan dan kehilangan wibawa. Dari situ istri merasa tidak ada yang melindungi. Dan, dari situ pula sudah ada suatu hubungan yang disfungsional. Si istri merasa jadi suami, dan suami merasa terpaksa jadi istri.

Saya kenal seorang teman, yang juga seorang istri yang kariernya jauh lebih baik dari suaminya. Tapi, dia tetap hormat kepada suaminya. Karena, si istri merasa bahwa tidak penting siapa yang bawa income. Yang penting mereka berdua bisa bersyukur ada income yang baik untuk rumah tangga mereka. Tetap saja, si suami dalam hatinya masih tidak bisa make a peace dengan kenyataan itu. Bukan karena tingkah laku si istri, tapi karena tekanan sosial, yang standarnya menuntut seorang suami harusnya lebih sukses kariernya dibanding si istri.

AD bersama keluarga

AD bersama keluarga

Masalah lain, kalau karier kedua pihak sama-sama bagusnya, tapi sayang waktu untuk keluarga jadi minim. Itu juga bisa merusak keharmonisan rumah tangga, kan?

Betul! Kalau keduanya sama-sama super sibuk. Apalagi tidak ada dorongan untuk memelihara connection antara suami istri. Tentu, akhirnya bisa seperti room mate belaka. Tinggal satu atap, tapi kok sudah tidak menemukan rasa kebersamaan. Orang yang saling mencintai itu, bukan berarti seharian bermesra-mesraan melulu, lalu melihat satu sama lain seperti masa honey moon stage. Tapi, saling mencintai itu kalau mereka melihat ke arah yang sama terhadap masa depan keluarga.

Saya berpendapat, salah satu sumber masalah utama rumah tangga, yang mungkin jarang terdeteksi, adalah sulitnya menekan ego. Akibatnya, muncul perilaku mau menang sendiri dan tidak peka terhadap pandangan pasangan. Menurut Anda?

Kalau kita sudah menikah dan ingin bahagia , mau tidak mau kita harus belajar mengontrol ego. Saya setuju, kalau istri atau suami masih tidak bisa saling kompromi dan belajar “berdansa di pernikahan, tentu akan saling menyakiti. “Berdansa maksudnya adalah, kadang istri mundur, suami maju. Dan sebaliknya, ketika istri maju, suami belajar melangkah mundur, seperti pasangan berdansa. Mana ada yang bisa dansa kalau dua-duanya melangkah maju? Yang ada saling menginjak kaki lawan dansanya, kan? Jadi, kalau sudah saling kenal, irama dan ritme dansa pernikahansama seperti dansa yang kita lihat di televisi itu, akan terlihat kompak dan berasa sekali indahnya.

Ada yang berpendapat, masa kritis perkawinan suka muncul pada dua atau tiga tahun pertama perkawinan. Menurut pengalaman Anda, atau apa yang Anda tulis di buku ini?

Setiap pasangan berbeda situasinya. Tidak bisa disamakan. Ada yang baru pacaran enam bulan kemudian menikah. Ini beda dengan yang sudah pacaran enam tahun, lalu baru menikah. Begitu juga faktor usia ketika menikah. Kalau untuk saya pribadi, masa kritis perkawinan itu terjadi kalau salah satu sudah mulai mempersiapkan surat cerai, atau pisah ranjang, atau pisah rumah. Karena itulah, saya tulis di buku ini, saya pantang bilang mau cerai sebelum saya yakin sekali. Mudah-mudahan saja saya tidak harus mengalami masa kritis itu. Kebetulan suami saya orangnya santai , kalau perlu mundur 3 langkah dia akan lakukan itu karena dia tahu saya tidak akan mendorong nya mundur mundur terus sampai namanya bukan dansa lagi tapi jajahan.

Anda membuat buku ini supaya pasangan-pasangan muda siap dengan segala konsekuensi perkawinan mereka. Bagaimana kalau karena buku ini, malah banyak pasangan yang justru enggan menikah?

Buat saya, menikah itu harus dilandasi oleh rasa saling mencintai. Hari gini… menemukan orang yang kita cintai, dan yang balik mencintai kita, itu lebih susah dari cari uang, lho hahaha…. Jadi, kalau sudah menemukan pasangannya, yang bisa membuat mereka merasa menemukan soul mate, walau ditakut-takuti seperti apa pun, tetap saja mau menikah. Apalagi kalau proses menemukan pasangannya ditempuh dengan segala macam rintangan. Pasti, mereka akan tetap mau menikah. Yang takut menikah itu, justru kemungkinan besar pada dasarnya memang belum ketemu dengan yang pas hahaha… Atau, sederhana saja, mungkin mereka memang belum siap menikah, atau malah sudah nyaman hidup single.

AD bergaya di sebuah gereja di Eropa

AD bergaya di sebuah gereja di Eropa

Berapa lama Anda menyelesaikan penulisan buku ini?

Proses menulisnya kira-kira dua bulan saja. Tapi, banyak tambahan pikiran dan cerita, sehingga makan waktu keseluruhan sekitar enam bulan, termasuk editing-nya, membuat cover, persiapan cetak, dan juga launching.

Anda sudah disibukkan dengan berbagai aktivitas bisnis. Ternyata Anda sudah menghasilkan tiga buku dan menulis kolom di berbagai website secara rutin. Bagaimana cara Anda membagi waktu?

Saya baru mulai menulis ketika perusahaan yang saya kelola bersama suami sudah melewati masa 10 tahun. Saya juga beruntung, di kantor saya mendapatkan tim kerja yang sudah tahu apa tanggung jawab mereka. Tahu apa yang harus dilakukan, walau misalnya saya harus sering bepergian keluar negeri. Jadi, kalau hanya meluangkan waktu menulis hari minggu, atau malam hari ketika belum mengantuk, rasanya tidak akan banyak menggangu kegiatan lainnya.

Ini juga yang kadang membuat saya heran sendiri. Biasanya, kok malah ibu-ibu atau wanita yang bekerja itu yang suka ditanya soal bagaimana membagi waktu. Kaum pria yang berkarier, sepertinya jarang ditanyakan bagi waktu ini. Kalau wanita, mungkin selain berkarier dia juga harus memandori rumah tangga, kan? Hahaha….

Kalau soal variasi tema yang Anda tuliskan. Dari mana Anda memanen ide-ide sehingga sepertinya Anda selalu bisa menulis tanpa kehabisan tema?

Dalam kehidupan ini, kalau kita mau mendengar, mau memerhatikan, coba mengerti perasaan orang lain, dan juga belajar mengerti diri sendiri, saya rasa kita tidak akan kehabisan tema. Kita manusia ini, sebenarnya kompleks. Karena, dari kecil sampai sekarang, kita hidup bersosialisasi dengan orang lain. Bergaul, bermasyarakat, pastinya otak kita akan menyerap berbagai informasi. Dan, itu semua menerbitkan emosi. Dari sana pula bisa ada ide. Masalahnya, tinggal apakah kita mau menuangkannya ke dalam tulisan atau tidak.

Pandangan Anda terhadap pengusaha atau pebisnis perempuan yang juga menulis buku. Apa sih kenikmatannya menulis buku itu?

Menulis buku pastinya soal kepuasan batin. Dari sana saya belajar dari orang lain. Karena, informasinya kan kumpulan pengalaman orang lain juga? Tapi, ketika kita berbagi lewat tulisan, kita seperti berbagi kepada diri kita sendiri juga. Mau percaya atau tidak, jawaban dari masalah kita banyak ditemukan dari dalam diri kita sendiri. Bukan dari di luar sana. Walaupun, punya sahabat dekat, di mana kita bisa menjadi diri sendiri, itu juga merupakan anugerah yang tidak bisa dinilai dengan uang.

Baik, buku-buku berikutnya apa sudah Anda siapkan?

Buku yang berikutnya adalah tentang fashion. Sama seperti buku pertama, buku berikut saya tulis bersama seorang teman. Judul sementaranya “Little Pink Book of Fashion”. Dan, isinya soal dunia belanja dan tip-tip mengenai fashion. Seperti buku kuning”, tapi dengan twist dan tips. Setelah buku itu diterbitkan, kalau Tuhan mengizinkan, saya mau coba menulis sebuah novel, yang buat saya adalah tantangan yang luar biasa. Karena, sampai saat ini saya adalah penulis nonfiksi. Tapi, saya tidak mau terlalu banyak rencana. Lebih baik saya mengucapkan syukur dulu saat ini, detik ini, buku ini sudah selesai.[ez]

Foto-foto: Dokumentasi pribadi.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 5.8/10 (4 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Naomi Susan: Ambisi Itu Penting, Seperti Mesin yang Harus Tetap Menyala

ns1Namanya mudah diingat, Naomi Susan atau suka disingkat NS. Usianya, pada 15 Januari 2009 lalu, baru juga menginjak 34 tahun. Namun, investor sekaligus pemilik Ovis Group dan direktur pada tujuh perusahaan ini sudah menorehkan berbagai prestasi, yang mencatatkan namanya di jajaran para pengusaha muda paling sukses di negeri ini. Ia menguasai bisnis kartu diskon, merchant network berbasis Short Message Service (SMS), biro perjalanan dan penerbangan, properti, restoran dan kafe, hingga ke bisnis salon kecantikan.

Tak heran, bila kemudian media massa tampak memanjakan Naomi dengan publisitas yang melambungkan namanya, serta beragam apresiasi atas prestasinya. Tahun 2002, ia masuk dalam daftar 50 Tokoh Wanita Paling Berpengaruh di Indonesia versi majalah SWA. Tahun yang sama, masuk dalam deretan 18 Pengusaha Sukses di Bawah 35 tahun di Indonesia versi majalah Warta Ekonomi.

Lalu, pada tahun 2003, Naomi kembali masuk deretan 100 Tokoh Sukses Menurut Diagram Robert T. Kiyosaki versi SWA. Majalah DEWI juga memajang namanya ke dalam daftar 10 Wanita Sukses Profesi dan Prestasi. Berlanjut tahun 2004, kembali majalah Warta Ekonomi memasukkan namanya dalam daftar 20 Pengusaha Sukses di Bawah Usia 35 Tahun di Indonesia. Terus-menerus, Naomi mendapatkan aneka predikat penyandang prestasi dari majalah ekonomi bisnis; Srikandi Tangguh, Bukan Wanita Biasa, Entrepreneur Muda, Simbol Prestasi Disiplin 2005, dan sebagainya.

Muda, cantik, terpelajar, smart, energik, bergaya, dan sukses dalam bisnis, itulah gambaran sosok ideal seorang perempuan masa kini. Dan, itu semua dimiliki oleh Naomi, lulusan University of Portland, Oregon, USA, ini. Sukses Naomi menjadi semakin lengkap, setelah belum lama berselang ia menemukan pasangan hidupnya, seorang obstetrician bernama Yusfa Rasyid, seorang dokter spesialis Obgyn. “Saya kan senang dengan pria berseragam, tuh! Tetapi, seragam putih, tukas Naomi.

Akhir 2007, Naomi dibantu Agoeng Widyatmoko, seorang penulis buku wirausaha bestseller, merilis buku laris berjudul Be Negative (iNSpired Books). Buku yang sepintas menentang arus dan dikemas secara populer itu, ternyata penuh dengan gagasan-gagasan bernas nan unik a la Naomi Susan. Tak heran jika, selain menarik, buku yang sudah dicetak ulang tersebut juga mendapat pujian di mana-mana, termasuk dalam salah satu episode talkshow Kick Andy di Metro TV. Berikut petikan obrolan Edy Zaqeus dari AndaLuarBiasa.com dengan Naomi Susan mengenai Be Negative, yang berlangsung melalui medium Facebook:

Anda sangat sibuk dengan segala aktivitas bisnis. Bagaimana cara Anda mengatur waktu sampai bisa menulis buku Be Negative?

Sebenarnya, tidak ada waktu khusus untuk menulis ya. Semua hanya diambil dari ingatan saja. Karena, mayoritas isi buku tersebut adalah pengalaman sendiri maupun pengalaman teman-teman. Jadi, saya hanya merekam suara saya dengan menggunakan recording mobile, yang saya bawa ke mana saja. Pas teringat, saya rekam. Kemudian, ada teamwork saya yang mengetiknya. Yah, saya baca kemudian dipersingkat, dijadikan bahasanya sedikit lebih rapi, walaupun tatanannya tetap saja bukan dari seorang penulis hahaha.... Then, Mas Agoeng membantu mengompilasikan.

Buku perdana Anda itu langsung memancang label session 2. Apa maksudnya, atau ada apa di balik pengemasan seperti itu?

Tadinya sih saya pikir, saya mau mengisahkan perjalanan saya, yang mana saya ada di tengah-tengah. Sehingga, edisi ketiga merupakan pencapaian-pencapaian yang sudah saya ciptakan. Nah, baru yang kesatu, cerita negative saat awal-awal saya memulai berbisnis. Di samping itu, juga dari sisi marketing sendiri. Hal itu sangat membantu bagi pasar. Mereka membeli dan mencari yang awal atau menunggu yang akhirnya. Jadi, ide awal tersebut, tentunya dengan harapan yang optimis, buku diminati oleh pembaca.

Kapan Be Negative berlabel session 1 akan diluncurkan?

Sebenarnya kapan saja bisa diluncurkan hahaha.Semua materi, bahan, sangat banyak dan jelas. Tapi masih di kepala saya. Tinggal direkam saja. Sebenarnya, justru sesi tiga yang sudah selesai. Cuma masih belum sempurna. Saya sudah mencoba menyelesaikannya semua. Tetapi, tetap saja kan saya bukan penulis… Saya hanya ‘kambing percobaan’ hahahaha…. Yang siap cuap-cuap dengan gaya nyeleneh, yang bisa saya pergunakan dalam berbicara sesuatu yang berbau negative.

ns2Buku Anda penuh dengan ide-ide yang tampak kontroversial. Sepertinya sungguh-sungguh mengajak orang supaya berpikir negatif, walau sejatinya tetap mendorong orang untuk berpikir positif, tapi melalui cara pandang yang berbeda. Ada strategi apa di balik ini semua?

Hmmmm…. Saya pribadi sudah cukup sesak dengan semua motivasi-motivasi untuk menjadi berhasil, menjadi positif, dll. Yang seperti itu, akhirnya malah membelenggu orang, jadi jenuh. Keberhasilan atau kesuksesan yang mereka raih itu adalah milik mereka. Sedangkan saya, saya memiliki kapasitas, kualitas, kekuatan, daya dan upaya yang berbeda dengan mereka. Istilahnya,Don’t push anybody to wear your dress! Nah, saya seperti berbicara kepada diri saya sendiri kok, saat menulis buku itu. Apa yang sama mau dengar dari seseorang, bukan lagi mendorong dan memotivasi dengan cara yang umum. Misalnya,Ayo, bangkitlah, kamu pasti bisa kok!Yang kayak begitu sudah tidak mempan buat saya hehehe.... Sudah kebal.

Maunya yang bagaimana?

Saya justru mau diperlakukan seperti Mike Tyson, pada saat dia jatuh di ring. Pelatihnya bukan memotivasi supaya bangkit, tapi justru memaki-maki. “Hey, kamu adalah niger, sampah masyarakat! Kalau kamu tidak mampu, jangan pernah bangkit, dan jangan memenangkan pertandingan. Karena kamu adalah anjing yang mengambil makanan dari tong sampah!” Then, what happen? Mike marah, bangkit dengan penuh kemarahan, memukul lawannya sampai KO, menang, deh hehehe.

Saya juga begitu. Saat orang bilang,Ah, you cant make it, you just a woman bla…bla...bla Then, saya sangat marah. Saya ambil semua strategi, dan lakukan sesuatu. Di Indonesia, sesuatu yang negative lebih bisa dijual daripada yang positive. Contohnya saja lagu-lagu yang populer, melejit di pasaran. Mayoritas kan yang negatif, misalnya Si Jablai, Kamu Ketahuan, SMS Siapa, dan lain-lain.

Coba jelaskan maksud dari rumusan di buku Anda, bahwa “Negative + Positive = Negative” dan “Negative + Negative = Positive”!

Gampang, kok! Misalnya, dari kata-kata saja sudah dapat merumuskannya. Misalnya, ragu, malas, takut itu negatif. Kemudian, mencoba, memulai, bertindak itu positif. Kalau digabungkan menjadi sesuatu yang negatif. Ragu mencoba, malas memulai, takut bertindak…. Hal ini bisa dijabarkan dengan mental seseorang, digabung dengan kondisi dan keadaan, atau orang-orang di sekitarnya, yang memiliki macam-macam sosok. Ada yang negatif, ada juga yang positif.

Kebalikannya adalah, saya sendiri mengalami bagaimana mentalitas saya yang negatif. Karena, orang-orang di sekitar saya keadaannya juga semua serba negatif. Dan, kami terbiasa menggabungkannya. Misalnya, saat saya marah, kesal, tidak punya daya upaya, dikecilkan karena ketidakmampuan saya. Kata-kata seperti takut, gagal, malas, pesimis, marah, tidak mampu, dll semua negatif. Gabungkan saja, maka justru akan menjadi positif. Tapi harus dilakukan, bukan hanya dibaca hehehe

Sekarang ke soal bisnis dan gaya hidup. Anda dipandang sebagai salah satu pengusaha sukses yang mampu mengemas atau memasukkan unsur gaya hidup dalam bisnis Anda. Menurut Anda sendiri?

Sebenarnya sih, saya selalu mau mengemas bisnis saya supaya to make everybody happy”. Misalnya, waktu saya chartered pesawat memprakarsai liburan ke Bali dengan fasilitas maksimal, namun hanya dengan membayar minimal. Pastinya people will be happy with that. Dan, kerenanya, market menerima product atau services dari tiap bisnis saya dengan welcome. Salon misalnya. I want to make all women looks beautiful hehehe…. Jadi, buatkan beberapa paket kecantikan.

Poinnya adalah, saya mau being treated and being serve as I am the only one customer. Dan, hal tersebut saya terapkan di setiap bisnis saya. Bila kebetulan setiap bisnis saya terkesan memasukkan gaya hidup, mungkin lebih tepatnya adalah, saya selalu melihat peluangnya. Bila kuenya masih besar, saya akan ambil bagian.

Apa inovasi-inovasi terbaru yang telah, sedang, dan akan Anda luncurkan untuk mendorong perkembangan semua bisnis Anda ke depan?

At the end of the day, ya hanya ada tiga elemen penting supaya saya survive. Yaitu, pertama, database, connection, dan network. Kedua, branding position, image, atau reputation. Ketiga, advance in technology, follow the trend. Jadi, dari dulu sampai sekarang, untuk mempertahankan perkembangan bisnis, saya mengarah ke ketiga element tadi. Dan, mengarah ke masa depan yang jelas. Masa inovasi untuk menjadi yang pertama, terbaik, dan berbeda sudah bukan zamannya saya lagi hehehe.

Saya sudah pernah di sana. Sekarang justru oposite dari itu, menjadi yang kedua atau ketiga, atau sepuluh besar terbaiklah. Terus, tidak perlu yang berbeda. Saya happy sekarang, bila harus menjadi follower. Bukan the breakthrough. So, apa pun itu, yang dapat mendorong perkembangan semua bisnis saya adalah CRM. Maintain... maintain… maintain….

Bagaimana Anda memandang marketing communication sebagai bagian penting dalam sukses bisnis Anda?

ns3Wooow! Marcomm bagi saya sih, senjata utama untuk membangun persepsi, citra, dan merek yang harus diedukasikan, disampaikan, dan dikomunikasikan kepada market. Dengan perkembangan teknologi saat ini, media komunikasi menjadi banyak pilihannya. Kalau dulu, kan kita berharap kepada iklan di televisi, media cetak, radio, pokoknya outdoor and indoor. Sekarang, sudah further, ya… Internet, SMS, video, call center, events, semua bisa dijadikan alternatif pola marcomm.

Hebatnya, dan yang saya suka, globalisasi telah membuka komunikasi tanpa batas, tanpa terhalang oleh geografis. Coba saja, komunikasi yang ditempatkan di YouTube, mampu menjangkau konsumen di semua negara. Marcomm diperlukan, bukan hanya untuk mendapatkan new customer, tetapi juga untuk maintaining the existing one.

Oh ya, marcomm bagi saya akan mengarahkan ke sebuah integrasi dan sinergi. Maka, saya harus bisa membuat satu ditambah satu menjadi sama dengan tiga atau empat. Bayangkan, kalau tidak ada sinergi, maka satu ditambah satu menjadi lebih kecil dari dua, atau bahkan lebih kecil dari satu.

Anda masih muda, tetapi sudah menangguk kesuksesan dalam kehidupan dan bisnis. Bagaimana Anda memandang nilai penting dari masa-masa produktif seseorang?

Pada dasarnya, masa produktif buat saya sih tidak terlekang masa. Walaupun nanti sudah tua, saya tetap mau produktif. Saya tidak mau membiarkan otak dan tubuh merasa tua. Umur dan kualitas pasti akan tersesuaikan. Namun, saya tidak mau menanamkan kesan tersrbut untuk menajadikan diri saya lemah. Ya, tidak bisa dinihilkan. Banyak yang beranggapan, memasuki usia lansia, let say 50 tahun, dianggap tidak lagi produktif. Karena, sudah sakit-sakitan, demensia alias pikun, depresi, dan penyakit-penyakit degeneratif lainnya. Saya enggak mau kayak begitu. Lihat saja Om Bob, beliau 75 tahun. Dan, bagi saya beliau sangat produktif sampai hari ini.

Makanya, mumpung saya masih muda hahaha.... Saya memiliki kebiasaan baik dalam menjaga kesehatan. Misalnya, banyak mengonsumsi makanan, sayuran, dan buah-buahan yang mengandung vitamin, kalsium, karbohidrat, dan lainnya. Dan rutin berolahraga. Juga banyak melakukan aktivitas olah pikir dan olah tubuh. Supaya apa? Nanti, masa tuanya tentu akan lebih baik, dan bisa tetap produktif, kan?

Bagaimana Anda memaknai peran ambisi dalam menggapai kesuksesan?

Ambisi, buat saya sangat penting. Seperti mesin yang harus tetap menyala untuk menghasilkan sesuatu. Sesuatu itu adalah mimpi-mimpi yang selalu mau saya capai. Itu untuk menambah semangat dalam mencapai tujuan hidup. Saya tidak mau kehilangan ambisi, karena jalan saya mencapai tujuan bisa tersendat-sendat. Tidak memiliki motivasi mencapai apa yang saya inginkan. Akhirnya, karena terlalu pelan, saya akan ter-ninabobo-kan dalam arus yang lamban.

Di buku Anda tertera pernyataan “Bunuhlah Kreativitas”. Bagaimana Anda menjelaskan pernyataan itu di tengah tren ekonomi kreatif, yang dipandang oleh sejumlah pakar menjadi kunci kemenangan dalam persaingan di masa krisis ini?

Hihihi… Ampuunnn, deh. Pengalaman pribadi, tuh! Banyak kreativitas yang jadi stock dan tidak terlaksana. Karena hanya ada ide dan cukup kreatif, tapi tidak executed. Jadi, saya tidak lagi menanggapi kreativitas tersebut, tapi menghilangkannya. Kembali ke rencana awal, merapikan satu per satu. Kemudian, beberapa tim yang menjadi ‘kerikil’ di sepatu saya, yang membuat saya sulit berjalan bahkan berlari, saya berikan kondisi terminasi. Poinnya, sih… banyak buanget orang briliant dengan banyaknya ide, kreativitas, inovasi, luar biasa banyaknya! Namun, hanya sedikit yang bisa menjadikannya nyata. So, better compete with the real creativities.

Naomi, Anda baru saja melepas masa lajang. Coba jelaskan, bagaimana Anda akan mempertahankan ide-ide gila seperti “Boroslah”, “Perbanyak Masalah”, “Berontaklah”, “Paranoidlah”, “Langgarlah Janji”, di hadapan pasangan Anda?

Hahaha…. Asli, lhopertanyaan ini membuat saya tertawa terbahak-bahak hahaha.Ini wawancara atau mau mengajak berantem, toh? Backfire-nya tajam amat… hahaha. Gini deh, yang saya alami saja saat ini, deh! Saya mau boros untuk membuat suasana rumah tidak membosankan. Saya membuat diri senyaman mungkin dengan membuat kantor pribadi di lantai dua. Beberapa gadget sudah saya incar untuk membuat mobilitas saya terpenuhi. Hmmm boros itu boleh, apalagi untuk me-maintain pasangan, agar tidak monoton, toh? Dinamis gitu, walaupun renovasi sana sini memang boros hahaha.

ns4Kalau “Perbanyak Masalah!” …?

Tanpa mau memperbanyak masalah, tapi justru saya me-listed semua masalah yang ada, yang belum terjadi, yang sudah terlanjur, wuiihhh pokoknya buanyak masalah yang ter-provideI don’t want to create it nor make it gone, but I want to handle it and solve it also inticipate itMemang, agak berbenturan juga, sih. Tetapi, konteks yang diambil adalah mau saling mengenal dan mengantisipasi masalah apa pun. Membiasakan untuk berkomunikasi dengan terbuka, separah apa pun masalah tersebut hihihhi….

Kalau “Berontaklah!” …?

Saya jadi geli hahaha. Saya memang berontak waktu saya harus diubah menjadi sosok ‘orang lain’ hehehe Saya tetap mau berkarier, berbisnis, beredar. Tapi, beberapa hal bisa dinegosiasikan. Pemberontakkan terjadi apabila saya harus dijadikan sebagai pantulan symbol dari apa yang tidak saya miliki. Karena saya mau diterima apa adanya, bukan ada apanya… Thanks God… pasangan saya cukup liberal, domokratis gitu hehehe.Komunikasi adalah kunci yang paling baik. Tapi, ada banyak kesadaran, kok bahwa ternyata si NS itu bagus di bidang ini, tapi yang lain masih jauh dari kata baik hehehe….

Sekarang kalau menganjurkan supaya paranoid, maksudnya?

Saya paranoid untuk sesuatu yang tidak berjalan dengan baik. Apalagi pasangan saya cukup banyak penggemarnya hahaha…. Nah, untuk menjadikan diri saya sebagai wanita tepat yang telah dipilihnya, maka paranoid ya supaya bisa menjadi yang ‘tepat’ itulah. Itu yang memicu saya untuk mengoreksi, instrospeksi diri, menjadi ‘wanita’ yang tidak tomboy lagi. Memberi kenyamanan, bahwa pasangan saya adalah leader, walaupun saya cukup tegas di keseharian saya dalam memimpin bisnis.

Apalagi, pasangan saya ini dunianya kan perempuan hehehe…. Semuanya wanita cantik, pintar, sempurna sebagai wanita, naaaahhhh… paranoid dong hahaha.... Nanti pasangan saya diambil orang, piye?! hahaha…. Saya sendiri masih harus banyak belajar, bagaimana mengagumi dan menghargai betapa hebatnya pasangan saya, yang selama ini tdk pernah saya perhatikan detailnya. Karena memang saya memilih dia hanya sebagai sosok seorang ‘Yos’, si lelakiku hehehe…. bukan aksesorisnya dia siapa, apa, dan bagaimana….

Nah, kalau melanggar janji, bagaimana ini?

Nah, konteks…. Ini sebenarnya soal jangan obral janji bila tidak mampu menepati. Langgarlah bila mau dikategorikan sebagai OPUD. Dalam aplikasi ke pasangan saya, maka tidak ada yang banyak berubah di diri saya dalam hal ‘janji’. Saya jarang dan hampir tidak mau membuat janji. Cause, for me DO is better than PROMISSES. Untung pasangan saya tahu dari dulu, tuh.Makanya, if I already saidyes”, pasangan saya akan tenang. Karena saya sangat menjujung tinggi tiap kata dari mulut saya hehehe.

Ok, sebagai perempuan muda dengan beragam bisnis dan sukses yang sudah Anda raih, pada sisi mana Anda meletakkan posisi pasangan hidup Anda?

Pertanyaan tricky, ya…… Seperti quotes yang famous itu, lho! Don’t walk in front of me, I might not follow, don’t walk behind, I might left you, but please walk beside me… bla…bla… kalau tidak salah, ya kayak begitu bunyinya. Memang, tidak bisa totally seperti itu. Tetapi, saya juga agak perang batin, nih hahaha…. Tetap masih banyak belajar supaya bisa lebih baik dalam menempatkan posisi kepala rumah tangga, as a leader adalah pasangan saya, bukannya saya hahaha.So far so good… pasangan saya lumayan sabar.

Jadi, tidak ada semacam… yang satu memerintah yang lain?

Hubungan saya dengan pasangan bukanlah hubungan antara atasan dan bawahan. Tetapi, kami ingin menjadi pasangan yang saling melengkapi, seperti tangan kanan dan tangan kiri. Saya sangat menghargai pasangan saya. Oh ya, saya kan senang dengan pria berseragam, tuh! Tetapi, seragam putih, jadi saya sering bermimpi bisa menjadi istrinya seorang dokter, pilot, atau kapten kapal hahaha…. Kesamaannya, selain seragam, mereka cukup tough dalam menghadapi hidup. Tingkat adrenalin terhadap nyawa orang lain sangat erat. Sehingga, semoga tingkat kesadaran hidupnya akan lebih peka lagi.

Sebenarnya, apa yang Anda inginkan dari seorang pasangan?

Saya tidak ingin memiliki pasangan yang pintar, tetapi juga tidak yang tidak pintar. Saya berharap dapat pasangan yang sabar…. Dari dia itulah, saya mau punya ketenteraman batin. Mau hidup nyaman, mau di setiap gusar dan resah saya, ada yang bisa menjadi tempat menitipkan batin. Saya menginginkan deposito di surga. Dan, tangga menuju ke sana adalah jalan yang akan terpimpin dengan baik oleh pasangan saya. Jadi, jelas sudah bahwa posisi pasangan saya, adalah sebagai belahan dan ketenangan jiwa. Yang memiliki kepekaan terhadap kehidupan ini. Yang menjadi pemimpin dengan tujuan yang sama, yaitu menabung di surga hehehe….

Mimpi-mimpi yang sedang Anda kejar dalam 5-10 tahun ke depan?

Mimpi yang sangat dekat… Saya mau punya anak hehehe…. Yang lainnya sih, hanya menjaga kualitas dan stabilitas dalam mengikuti perkembangan teknologi. Mau menjadi bagian dalam perkembangan bisnis di Indonesia. Sama seperti sekarang, tidak berubah, lima tahun yang lalu dan lima tahun yang akan datang…. Naomi Susan seperti ini saja, kok! Berharap akan lebih baik, dan baik lagi dalam pencapaian-pencapaian berikutnya.

Terakhir, masih akan menulis buku lagi?

Mauuuuuuu…. Tapi, tetap tidak mau nulisnya hehehhe… Inspirasi dan dikompilasikan saja oleh teman-teman, yang mau membantu menjadikan buku tersebut layak dibaca.[ez]

Foto-foto: Dokumentasi pribadi Naomi Susan.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 10.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Nani Sakri: Saya Ingin Menulis Sejarah Fashion Indonesia

nanisakri-alb2Tahun 1970-an, orang sering menyaksikan lenggak-lenggok sosok ini di atas catwalk yang glamour nan gemerlap. Namun belakangan, orang acapkali menyaksikan kepiawaian sosok ini saat tangannya asyik menari-nari dan berimajinasi dengan kuas di atas kanvas. Dialah seorang perempuan yang lahir di Yogyakarta, pada 25 Maret 1948, sang empunya nama lengkap Nani Prihatani Sakri Soenarto, atau lebih dikenal dengan nama Nani Sakri.

Ya, pada tahun 1970-an, Nani Sakri berkibar sebagai seorang peragawati papan atas, dan nama maupun fotonya sering kali nampangd di berbagai media. Namun, sejak tahun 1996, ia mulai memainkan imajinasinya dalam kombinasi cat, kuas, dan kanvas. Pada tahun 1998, Nani mulai serius menekuni dunia lukisan, dan sejak saat itulah lahir banyak karya lukis yang khas dari tangannya. Tak kurang dari 15 pameran lukisan tunggal maupun bersama, di dalam maupun di luar negeri, telah memajang karya-karya Nani yang memiliki corak khusus. Orang mengenal pelukis ini suka menggambarkan nuansa keelokan perempuan, batik, buah, dan binatang dalam sajian yang simple.

Sekalipun kini publik mungkin lebih mengenal namanya sebagai pelukis dan mantan model ternama, namun dunia keperagawatian atau modelling tetap saja merupakan domain seorang Nani Sakri. Penguasaannya akan pengalaman langsung dan pengetahuan atas perkembangan dunia keperagawatian Indonesia sempat mengantarkannya menjadi konsultan media maupun penulis kolom-kolom fashion di sejumlah media massa. Hingga kini, selain aktif melukis dan berpameran, mengembangkan usaha, dan mengajar di sejumlah universitas, Nani juga masih sering menerima undangan untuk hadir maupun tampil di berbagai peragaan busana. Dunia catwalk tidak sepenuhnya lenyap dari genggamannya, sekalipun generasi yang lebih muda telah menggantikannya.

Bagi Anda yang demen menjelajahi dunia Facebook, Anda akan dengan mudah menjumpai dan berkomunikasi dengan Nani Sakri, melihat sebagian dari hasil karyanya, dan mengenal jejak dunia modelling yang pernah dikuasainya. Nani memang seorang figur yang telah mewarnai panggung sejarah fashion Indonesia, dan kini terus menorehkan karya di dunia seni lukis. Selain ingin menjadi pelukis yang mumpuni dan diakui oleh masyarakat seni, saya juga ingin menulis buku tentang perjalanan sejarah industri fashion Indonesia,” ungkap Nani kepada Edy Zaqeus dari AndaLuarBiasa.com, dalam sebuah wawancara melalui pos-el dan dilanjutkan dengan komunikasi via Facebook. Berikut adalah petikannya:

Bagaimana gambaran dunia modeling atau keperagawatian dulu pada masa-masa awal Anda berkiprah di era 1960-1970-an?

Pada saat itu, model belum dikenal sebagai profesi. Jadi, kami merupakan perintis yang masih harus membuktikan, bahwa model itu sama dengan profesi-profesi lainnya, seperti dokter, wartawan, sekretaris, dll.

Siapa saja peragawati dan fashion designer paling top pada periode tersebut?

Rima Melati, Sumi Hakim, Elly Schaefer, dan Titi Qadarsih. Perancang busananya adalah Non Kawilarang, Ibu dari Rima Melati, lalu Peter Sie, Iri Supit, dan kemudian Prayudi.

nanisakri-alb3

Nani Sakri: Malam Dana Galunggung Hotel Hilton

Saya rasa, hingga kini pun tren fashion di Indonesia masih terpengaruh oleh fashion internasional. Karena, busana yang kita kenakan memang busana modern, yang awalnya dari Barat.

Era 60-70-an sangat kental dengan dimensi politis di berbagai aspek kehidupan masyarakat. Dunia keperagawatian juga kena imbasnya?

Akhir tahun 1960-an terasa sekali arus pengaruh Barat yang membanjir sesudah era Presiden Soekarno. Di saat itulah, industri fashion mulai tumbuh. Pada era Soekarno, segala sesuatu yang berbau Barat, hingga ke musiknya pun, dilarang untuk ditiru maupun didengar.

Sebagian orang yang beranggapan, dunia keperagawatian selalu memiliki “sisi gelap” di balik sisi glamour yang tampak dari luar. Pandangan Anda, dengan konteks masa tersebut?

Saya rasa, sisi gelap itu ada di mana-mana, tergantung dari manusianya. Tetapi, karena profesi model masih sangat baru, anggapan itu jadi sangat lekat dengan peragawati di saat itu.

Pada zaman itu, susah enggak mencapai posisi peragawati terkenal itu. Apa ada jalan pintas atau apa?

Tentu, lebih sulit dari sekarang, karena industrinya masih baru. Lapangan pekerjaan tidak sebanyak sekarang. Jalan pintas? Mungkin memiliki hubungan baik dengan perancang busana, istilah ini pun masih baru. Disiplin yang tinggi sangat diperlukan.

Bekal-bekal apa saja yang harus dimiliki oleh seorang peragawati?

Kemahiran bersikap luwes dan anggun, terutama di atas catwalk. Selain itu, kita juga harus mahir menata rias wajah dan rambut sendiri. Karena, industri make up dalam negeri masih sedikit sekali.

Anda sendiri, belajar di mana sampai kemudian bisa menjadi peragawati terkenal?

Saya mengikuti kursus modelling di PAPMI, asosiasi Perancang Busana Indonesia yang pertama, selama tiga bulan, dan lulus dengan nilai terbaik.

Baik, kita bedah dunia keperagawatian masa kini. Menurut Anda, apakah masa sekarang lebih kondusif situasinya?

Jelas. Industri fashion dalam negeri sudah sangat maju, selain membanjirnya produk luar negeri yang berkaitan dengan gaya hidup. Sehingga, lapangan pekerjaan bagi model menjadi semakin luas.

Apakah Anda melihat sekarang ada kesinambungan antara era-era sebelumnya sekarang? Atau, justru ada missing link?

Mungkin para pelaku fashion, baik perancang, produsen maupun modelnya tidak kenal siapa pendahulu-pendahulu mereka. Dan, mungkin juga karena pengetahuan tersebut tidak dianggap perlu.

Soal peragawati muda, siapa-siapa saja yang menurut Anda ada di posisi puncak saat ini?

nanisakri-alb3b

Nani Sakri: World Trade Center 1980, Busana Iwan Tirta

Banyak sekali. Tapi, yang saya tahu hanya Luna Maya, Catherine Wilson, Karenina, dan Aline.

Dibanding era Anda dulu, apa kelebihan dan kekurangan para peragawati muda sekarang ini?

Kelebihannya ada di posture yang jauh lebih memenuhi syarat, dibanding zaman kami dulu. Mereka memiliki tinggi badan dan proporsi yang lebih bagus, karena gizi yang lebih baik. Tetapi, dari sisi kepribadian dan style-nya, saya rasa lebih menonjol model era terdahulu, karena model-model dulu dituntut untuk lebih berjuang dan bertahan di puncak.

Menurut Anda, mengapa peragawati kita sedikit sekali atau bahkan nyaris tidak ada yang sukses ketika go international? Kita belum punya catatan bahwa peragawati asal Indonesia bisa jadi ikon model internasional…?

Bekerja di dunia fashion internasional itu dituntut untuk tahan banting secara fisik. Harus rajin audiensi, sehingga disiplin tinggi merupakan syarat mutlak. Baik dalam waktu maupun menjaga kondisi tubuh.

Apakah para desainer muda sekarang ini jumlahnya cukup memadai untuk mendorong perkembangan dunia fashion dan keperagawatian di Indonesia?

Ya.

Ekonomi kreatif sedang naik daun saat ini. Bagaimana Anda melihat peluang dan tantangannya dilihat dari kacamata pelaku dunia keperagawatian yang Anda geluti sejauh ini?

Selama promosi masih dibutuhkan, lahan pekerjaan bagi seorang model akan selalu ada.

Anda punya pandangan atau aspirasi menyangkut peran pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif, tentu saja dari sisi industri Anda sendiri?

Saya rasa, dari masa ke masa pemerintah sudah banyak membantu industri fashion. Akan tetapi, bantuan tersebut lebih banyak salah tempat. Salah pengelolaan dan juga disalahgunakan, baik oleh oknum-oknum pemerintahnya maupun yang menerima bantuan.

Baik, kalau ditanya, apa yang sejauh ini Anda dapat dari dunia keperagawatian, jawaban Anda?

Banyak sekali. Selain popularitas, yang masih saya nikmati hingga sekarang, yang memudahkan saya memperoleh pekerjaan lain. Profesi ini juga mengantar saya berkunjung ke tempat-tempat indah dan menarik, baik di dalam maupun di luar negeri. Selain itu, saya juga banyak menimba ilmu dari dunia fashion-nya sendiri.

nanisakri-alb4

Converse the Heritage

Dulu, saya memang tercatat sebagai mahasiswa seni rupa ITB. Walaupun bukan jurusan seni lukis. Dan, saya memang sangat suka menggambar sejak kecil. Saya selalu bercita-cita untuk melukis, walau hanya sekadar hobby. Akan tetapi sesudah saya lakukan, ternyata saya langsung jatuh cinta sehingga memutuskan untuk terjun total sebagai seniman. Bahkan, hingga kuliah lagi untuk mengambil S-1 di IKJ, jurusan seni lukis, yang baru saya tuntaskan tahun 2007 yang lalu. Batik sudah saya kenal sejak kecil. Karena, dulu Ibu saya adalah pembuat dan pembaharu batik yang cukup terkenal di era Soekarno, seangkatan dengan Ibu Bintang Soedibyo, nenek dari perancang busana Carmanita. Akan tetapi, membuat batik sudah diwariskan kepada adik saya, dan saya sendiri cukup puas dengan memakai corak batik di atas karya lukis saya. Karena, corak batik Indonesia itu memiliki kandungan filosofi yang tinggi…

Ada hal lain yang masih ingin Anda lakukan ke depannya?

Selain ingin menjadi pelukis yang mumpuni dan diakui oleh masyarakat seni, saya juga ingin menulis buku tentang perjalanan sejarah industri fashion Indonesia. Karena, banyak perintisnya sudah tiada. Tante Non Kawilarang misalnya, selain seorang perancang busana, beliau juga mempunyai peran penting atas tumbuhnya lapang pekerjaan bagi para peragawati dan peragawan. Tante Non lah yang pertama membuka agen model di Indonesia, Indonesia Model Agency, sekaligus memberi arahan-arahan pada anggotanya agar bersikap profesional. Jerih payahnya merupakan hal yang patut dicatat dan diketahui masyarakat fashion.[ez]

Foto-foto: Dokumentasi pribadi.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (5 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Indari Mastuti: Penulis Sukses Tidak Pernah Berhenti Menulis

iin2a

Indari Mastuti

Usianya sih belum genap 29 tahun. Tetapi, soal karya dan produktivitas, jangan ditanya. Sudah lebih dari 50 judul buku dia tulis, mulai dari novel, buku pengembangan diri remaja, buku agama, buku keluarga, buku pertanian, sampai buku cerita dan seri pengetahuan untuk anak-anak. Hebatnya lagi, ke-50 judul buku itu ditulis hanya dalam kurun waktu 2004-2009!

Ya, dialah si pemilik nama pena Indari Mastuti, atau lengkapnya bernama Indari Mastuti Rezki Resmiyati Soleh Addy. Iin, demikian nama panggilannya, sudah menulis sejak SD. Ayahnya, Jumeno Addy Karso (almarhum) yang multi-talenta; seorang sastrawan, ahli bahasa, pelukis, penyanyi, dan olahragawan, tahu persis bakat Iin. Maka, jadilah sang ayah sebagai motivator utama dalam perkembangan keterampilan Iin dalam hal tulis-menulis.

Dan, sang ayah tidak pernah salah. Satu per satu tulisan Iin mulai dimuat di sejumlah media cetak. Honor dari menulis pun makin memotivasi Iin untuk terus menulis. Sambil sekolah maupun saat kuliah, alumnus Universitas Pasundan ini terus produktif menulis, demi menghasilkan honor. Sebab, kondisi ekonomi keluarganya saat itu sempat terpuruk, sementara menulis ternyata telah memberi mereka jalan keluar. Kini, Iin tumbuh menjadi salah satu penulis perempuan yang sangat produktif dalam menghasilkan buku-buku populer.

Jika Anda bepergian ke toko buku, mungkin akan menemukan judul-judul buku seperti; Jadi Petani, Siapa Takut?, Jika Penghasilan Suami Anda Lebih Kecil, Bagaimana Membangkitkan Motivasi Bekerja, Sukses Menjalankan Peran Ganda, SHOPAHOLIC, JANJIHOLIC, Bahasa Baku Vs bahasa Gaul, Biar Hobby jadi Duit, 50 Kiat Percaya Diri, Kalo Bisa Jadi Bos Kenapa mesti Jadi Karyawan, Menulis Kok Dibilang Sulit!, dan masih banyak lagi.

Pernah menjadi wartawan dan freelancer di sejumlah media massa, kini Iin benar-benar dapat hidup dari menulis. Ia juga mengembangkan bakat wiraswastanya dengan mendirikan Indscript Creative, lembaga yang melayani jasa kepenulisan. Sejumlah penulis dan editor kini berada dalam tim kepenulisannya. Selain itu, istri dari Deky Tasdikin dan ibu dari Qanita Muthmainatunnisa (9 bulan) ini juga menjalankan usaha dagang online maupun offline.

Sudah banyak karya ditorehkan oleh Iin, namun ia merasa harus terus bergerak maju. Menurut Iin, penulis itu sukses jika dia tidak berhenti menulis, “…tidak pernah puas menulis! Dan, tentu saja bisa menghasilkan uang dari menulis hahaha…. Semangatnya untuk bisa mandiri dan berkarier di bidang yang ditekuni jelas layak untuk diapresiasi. Berikut petikan wawancara Edy Zaqeus dari AndaLuarBiasa.com dengan Iin melalui email dan disambung melalui chatting:

Sejak kapan Anda mulai berlatih menulis?

Menulis sebetulnya adalah hobi. Sejak SD, saya sudah membiasakan menulis. Namun, menulis yang sesungguhnya alias benar-benar belajar menulis, mungkin baru saya lakukan ketika SMA. Ketika itu, artikel pertama saya dimuat di majalah GADIS, dan otomatis dapat honor. Itu menjadi faktor motivasi saya. Dari kemunculan karya pertama itu, makin kuatlah keinginan lebih serius terjun ke dunia penulisan.

Peran orang tua dalam mendorong Anda supaya rajin berlatih menulis?

Barangkali, peran ayah yang paling menonjol. Ayah saya membudayakan membaca sejak saya masih kecil. Ayah sering memperlihatkan karya-karyanya pada saya. Secara tidak langsung itu mendorong saya aktif dan senang menulis. Dari mesin ketik kuno ayahlah karya pertama saya dimuat di majalah. Bagi saya, beliau adalah yang terbaik dalam hidup saya. Novel pertama saya didekasikan untuk beliau. Beliau sangat berjasa dalam hidup saya, tentu dengan cara beliau mendidik saya.

Dulu, ketika beliau terserang stroke, ekonomi keluarga kami jatuh terpuruk…. Ayah mengatakan, untuk mendapatkan uang, bisa saja saya memaksimalkan potensi menulis saya. Itulah awalnya, saya menyakini bahwa menulis bisa menjadi salah satu cara mencari uang. Tanpa teladannya, mungkin saya tak akan mampu melangkah sejauh ini.

Masih ingat, kapan pertama kali tulisan masuk ke media massa?

Tahun 1996, di majalah GADIS. Majalah favorit yang banyak digandrungi remaja, cewek khususnya.

Bagaimana perasaan Anda saat itu?

Tidak bisa terbayangkan, betapa senangnya! Luar biasa!!

Berapa besar honor menulis Anda saat itu?

Honor pertama yang saya dapatkan… waktu itu Rp 100.000, tahun 1996. Kebayang kan anak SMA udah dapat honor segede itu? Pastinya, seneng banget hehehe….

Ketika kuliah, Anda juga rajin mencari uang dengan menulis?

Ya. Selain kuliah, saya bekerja sambilan sebagai wartawan pemula di tabloid Indonesia-Indonesia dan beberapa majalah lokal di Bandung. Gajinya sih memang kecil. Tapi, keinginan belajar menulis sangat tinggi, keinginan mencari uang juga sama besarnya. Menjadi wartawan terus saya lakonin hingga dua tahun. Dari menjadi wartawan juga, saya sering kali mendapat tawaran menjadi notulis di banyak seminar atau rapat. Alhamdulillah, menulis ternyata memang menjadi sebuah pekerjaan yang menyenangkan.

Menulis 50 buku lebih

Menulis 50 buku lebih

Apa saja yang Anda tulis sewaktu masih kuliah?

Sewaktu kuliah, saya mengikuti beberapa kegiatan kemahasiswaan di kampus. Bidangnya pun tentang kepenulisan. Tulisan-tulisan itu berupa liputan berbagai kegiatan, notulis rapat-rapat, artikel koran, paper teman kampus.

Saat kuliah, Anda juga sudah mulai berwiraswasta, benarkah?

Benar. Kebetulan saya memang punya hobi berdagang. Sebenarnya, saya kuliah karena tuntutan pekerjaan. Bekerja sambil kuliah, sehingga peluang untuk berwiraswasta jauh lebih besar. Ketika kuliah sambil kerja, saya sudah memiliki usaha penjualan produk-produk fashion dan beberapa line KBU (telepon umum) yang tersebar di beberapa wilayah di Bandung.

Saya sangat suka dunia remaja. Remaja memiliki kesempatan yang sangat lebar untuk berprestasi. Sayangnya, saya sering kali miris ketika melihat begitu banyak hal negatif berseliweran di dunia mereka. Beberapa buku yang saya tulis, tak lain untuk satu tujuan agar remaja tidak sekadar menjadi remaja biasa, tapi luar biasa! Luar biasa dalam segala hal! Jujur, selain suka pada dunia remaja, buku-buku saya juga banyak bersumber dari kenyataan-kenyataan yang pernah saya alami, waktu remaja dulu.

Jadi, ini sebagai motivasi bagi remaja, bahwa kesulitan ekonomi tidak boleh menjadikan mereka berhenti melangkah. Justru ini menjadi motivasi untuk terus maju. Saya tumbuh dan besar dalam situasi yang sungguh menantang dalam segala hal. Satu hal yang membuat saya terus berkembang adalah satu keyakinan, masa depan ada di tangan saya, bukan orang lain.

Bagaimana Anda menilai kreativitas dan produktivitas remaja kita sekarang ini?

Di sisi yang lain, ada remaja yang sangat berprestasi dan luar biasa! Tapi di sisi lainnya, ada begitu banyak remaja yang menyia-nyiakan masa remajanya, untuk hal yang sia-sia. Kerap kali kreativitas dan produktivitas remaja terpaku hanya pada satu hal, yang bersifat fun atau kesenangan sesaat. Tetapi, pada hal lainnya yang juga membutuhkan sentuhan kreativitas, mereka sama sekali tak ada.

Kalau remaja berwiraswasta, bagaimana menurut Anda, perlukah?

Jiwa entrepreneur sebaiknya memang diasah sejak dini. Remaja berwiraswasta bagus, asal tidak melupakan tugas penting mereka, yaitu belajar di sekolah. Jangan sampai keasyikan dapat duit, mereka lupa mencari ilmu lainnya. Untuk remaja sih, wiraswasta bisa dilakukan sebagai kegiatan sampingan, yang mengasyikan sekaligus menambah wawasan.

Kabarnya Anda sudah menulis lebih dari 50 buku. Bagaimana caranya supaya bisa seproduktif itu?

Terdapat begitu banyak ide di kepala, dan kerap kali langsung saya tuangkan dalam bentuk tulisan. Dengan pede saya kirimkan kepada penerbit. Dan ternyata… dimuat. Siapa pun bisa produktif menurut saya, asal percaya diri dalam menulis, dan tidak malu mengirimkan karya yang sudah ditulis.

Anda suka menulis buku-buku pengembangan diri. Mengapa?

Moto menulis saya adalah menulis bisa menjadi pembelajaran bagi diri sendiri. Selain itu, menulis merupakan salah satu cara saya belajar, yaitu belajar dari tulisan yang dibuat dan bisa terus mengembangkan diri ke hal-hal yang positif. Itulah motivasi saya mengapa suka menulis buku-buku pengembangan diri.

Anda juga menelurkan banyak sekali judul buku anak. Bagaimana bisa menulis buku anak sebanyak itu?

Buku anak baru bisa saya tulis ketika saya sudah memiliki anak. Sebelumnya, saya kurang terampil membuat cerita anak. Walaupun waktu SMA, cerpen anak saya beberapa kali dimuat di harian Pikiran Rakyat Bandung. Nah, ketika memiliki anak, saya seolah membuat cerita untuk anak saya, sambil meninabobokannya dengan cerita, dan hasilnya ternyata lebih ada sense-nya.

Indari Mastuti bersama tim editor Indiscript

Indari Mastuti bersama tim editor Indscript

Dari sekian banyak karya Anda, karya mana saja yang paling mengesankan dan mengapa?

Yang paling mengesankan adalah buku saya yang diterbitkan oleh penerbit Grasindo, Jakarta, judulnya Berubah, Kenapa Nggak? Di buku itu, saya benar-benar menulis dengan semangat perubahan. Buku yang berkonsep day by day itu memotivasi saya untuk terus berubah. Hari-hari yang ditulis dalam buku itu, benar-benar saya praktikkan dalam keseharian. Saya merasa luar biasa ketika menulisnya.

Dalam waktu dekat, karya apa saja yang hendak Anda luncurkan?

Buku parenting yang akan diterbitkan akhir Februari 2009 ini, oleh penerbit Luxima, Jakarta. Judulnya Becoming A New Mother—Cara Cepat Jadi Ibu Hebat!. Kemudian, menyusul Being A Great Wife—Cara Cepat Jadi Istri Hebat! yang diterbitkan penerbit Luxima juga.

Baik, kalau menurut Anda, penulis sukses itu yang seperti apa, sih?

Penulis sukses adalah penulis yang tidak pernah berhenti menulis, dan tidak pernah puas menulis! Dan, tentu saja bisa menghasilkan uang dari menulis hahaha…. Jadi, semangatlah jadi penulis….!

Ok, sukses ya…![ez]

Foto-foto: Dokumentasi pribadi Indari Mastuti.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.2/10 (10 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

Avanti Fontana: Indonesia Perlu Membangun Sistem Kreativitas Sosial dan Sistem Inovasi

Avanti Fontana Ph.D

Avanti Fontana Ph.D

Agaknya, apa yang hendak dikatakan Avanti adalah bahwa untuk menghadapi persaingan di tengah situasi krisis saat ini, tidak ada satu strategi pun yang lebih ampuh selain menyatukan segenap kekuatan kreativitas untuk melakukan inovasi-inovasi baru. Kreativitas individual itu penting, tetapi akan kurang memadai manakala keberadaannya tidak bisa diseiramakan dengan strategi organisasi. Sebab, pengeloalaan dan penyatuan potensi-potensi individual dalam sebuah tim maupun strategi organisasi dipandang akan memberikan output yang lebih unggul.

Barangkali, itulah pesan-pesan penting Avanti dalam bukunya yang berjudul Manajemen Inovasi dan Penciptaan Nilai, yang sebentar lagi terbit dan beredar di pasaran. Menurut staf pengajar Universitas Indonesia ini potensi kreativitas individual maupun kreativitas sosial masyarakat kita sangat besar. Ia juga sepakat, bahwa local genius atau kearifan lokal kita sangat berpotensi untuk mendorong daya gerak kreativitas sosial. Persoalannya, besarnya potensi kreativitas masyarakat kita masih belum bisa dikembangkan secara optimal.

“Perlu kerja sama erat semua pihak, di antara semua pemangku kepentingan di Indonesia,” tegas Avanti, yang telah melakukan riset di berbagai perusahaan top Asia, Eropa, dan Amerika tersebut. Sekali lagi, perekonomian kita sekarang, yang bakal terguncang-guncang oleh krisis global, mungkin saja malah bisa terselamatkan oleh gerakan kreativitas sosial dan inovasi yang dihasilkannya. Untuk mengetahui lebih dalam menyangkut kreativitas sosial dan inovasi, berikut disajikan petikan wawancara Edy Zaqeus dari AndaLuarBiasa.com dengan Avanti Fontana baru-baru ini:

Dari mana ide penulisan buku Anda ini?

Idenya muncul dari keinginan saya untuk menyatukan percikan-percikan tulisan saya di media massa. Yaitu, tentang manajemen inovasi, kewirausahaan, dan coaching ke dalam format yang lebih compact. Juga ditambah dengan hasil refleksi saya atas situasi krisis yang mulai bertubi-tubi mewarnai zaman kita. Keyakinan saya, bahwa salah satu solusi menghadapi atau keluar dari krisis adalah dengan berinovasi yang mengandalkan kreativitas sosial. Keyakinan ini telah mendorong saya untuk segera menyelesaikan buku ini.

Berapa lama Anda menuliskannya dan apa saja hambatannya?

Saya selesaikan dalam waktu efektif delapan bulan. Tidak banyak hambatan yang saya hadapi. Ada saat-saat di mana jadwal menulis perlu “dikorbankan” dengan jadwal aktivitas lain. Ada saat-saat di mana hasil yang sudah ada dirasa belum cocok untuk disebut hasil final. Sehingga, seorang penulis membutuhkan waktu lebih banyak untuk melakukan penyempurnaan di sana sini. Walau penulisan buku ini sudah selesai pada Oktober 2008, saya baru menyerahkan kepada penerbit pada Desember 2008. Ada waktu sekitar satu bulan untuk membaca ulang, menambah bagian-bagian yang penting, dan menghilangkan yang kurang penting.

Apa temuan-temuan terpenting dari buku Anda?

Pembaca dapat menemukan dalam buku hal-hal terpenting seperti: Pertama, bahwa inovasi masa kini dan masa depan menuntut keberadaan kreativitas sosial. None of us is as smart as all of us! Dan, itu juga butuh kolaborasi di antara banyak pihak. Kedua, bahwa untuk berinovasi, individu atau organisasi, atau juga masyarakat memerlukan manajemen. Dan, mereka juga perlu menerapkan prinsip-prinsip manajemen inovasi dan prinsip inovasi itu sendiri. Memang, dalam buku ini saya lebih banyak memfokuskan pembahasan pada inovasi di tingkat organisasi. Ketiga, implementasi inovasi perlu difasilitasi, baik oleh perangkat lunak maupun oleh perangkat keras dalam organisasi. Pemerintah berperan penting dalam mendorong inovasi di tingkat society atau komunitas. Para pemimpin di berbagai organisasi juga berperan dalam memfasilitasi proses inovasi, baik di tingkat organisasi maupun individu. Dan keempat, saya menekankan pengertian inovasi tidak saja sebagai keberhasilan ekonomi, tetapi juga keberhasilan sosial yaitu dengan diperkenalkannya cara-cara baru, atau kombinasi antara cara-cara lama dalam mentransformasi input menjadi output sedemikian rupa, sehingga dihasilkan nilai manfaat bagi masyarakat, konsumen, atau pengguna. Dan, nilai manfaat itu jauh lebih besar daripada uang yang harus mereka keluarkan untuk memperoleh barang, jasa, atau layanan hasil inovasi tersebut.

Apakah temuan-temuan tersebut didasarkan pada riset atau studi literatur?

Memang lebih banyak didasarkan pada hasil studi literatur dan refleksi saya sendiri. Namun, buku ini juga merujuk pada riset-riset manajemen inovasi yang pernah saya lakukan.

Salah satu tesis utama Anda menyatakan pentingnya membangun kreativitas dalam organisasi. Bukankah selama ini, yang kita kenal adalah kreativitas pada tataran individual?

Betul! Bahwa, kreativitas dikenal pada tataran individual. Dan betul juga, bahwa kreativitas pun muncul pada tataran organisasi, bahkan komunitas. Untuk tataran organisasi, kita akan melihat bahwa organisasi dipimpin dan dijalankan oleh orang-orang yang kreatif. Kreativitas dalam organisasi ini tidak hanya dimiliki oleh satu dua orang. Kalau cuma satu dua orang, itu belum menjadi kreativitas organisasi. Begitu juga berlaku dalam tataran komunitas. Kita bisa bayangkan, hidup dalam suatu komunitas yang kreatif, atau bahkan sangat kreatif. Prinsip “tidak seorang pun dari kita sepandai semua dari kita”, berlaku pada kreativitas tataran organisasi dan komunitas. Rancang atau desain organisasi dan komunitas perlu dibangun sedemikian rupa, agar kreativitas sosial tumbuh subur. Nah, kaitannya dengan inovasi, kreativitas itu adalah pemicu inovasi.

Sebagian orang menganggap kreativitas, yang berkarakter individual, sulit didamaikan dengan karakter organisasi yang menuntut keberaturan dalam sistem. Menurut Anda?

Kesulitan itu akan terjadi bilamana, orang-orang dalam organisasi itu, tidak memiliki karakter positif tentang perlunya kreativitas dalam organisasi. Karakter positif yang saya maksud itu mengedepankan integritas. Kejujuran. Tidak ada iri hati. Tidak ada agenda tersembunyi, dan hal-hal lain yang positif. Organisasi perlu memiliki suasana kebebasan berkreasi. Organisasi juga perlu punya semangat, bahwa berpikir berbeda itu dihargai. Perlu semangat berkolaborasi, semangat berkarya untuk kepentingan yang lebih besar, bukan kepentingan individual belaka.

Avanti (duduk nomor tiga dr kanan) dalam sebuah forum

Avanti (duduk nomor tiga dr kanan) dalam sebuah forum

Bagaimana memberdayakan individu-individu dalam tim atau organisasi supaya mereka mampu mengembangkan kreativitasnya?

Caranya? Pertama, manajer mendorong anggota tim untuk menyumbang ide demi kemajuan organisasi. Pemimpin dan manajer bukan satu-satunya sumber ide, lho! Kedua, membasmi mitos, bahwa penemuan brilian hanya berhasil dengan usaha soliter (baca: upaya sendiri). Ketiga, mengundang individu-individu dengan keahlian dan latar belakang berbeda untuk bekerja sama. Keempat, menciptakan keamanan psikologis untuk mengkreasikan pembelajaran dari setiap kegagalan. Kelima, membiarkan orang-orang melakukan pekerjaan yang baik, “good work”. Keenam, memberi independensi sebanyak mungkin. Hal-hal ini saya ulas lebih jauh dalam bab tiga buku saya.

Saat ini, organisasi dalam sektor-sektor industri apa saja yang bisa lebih digerakkan dengan kreativitas dan inovasi?

John Howkins, dalam bukunya The Creative Economy: How People Make Money from Ideas, 2002, memberi tampilan sektor-sektor perekonomian kreatif pada awal abad ke-21. Di antaranya, Advertising, Architecture, Art, Craft, Design, Fashion, Film, Music, Performing Arts, Publishing, R&D, Software, Toys and Games, TV and Radio, Video Games. Per Januari 2000, total nilai ekonomi perekonomian kreatif adalah 2,2 triliun dolar Amerika Serikat, dengan tingkat pertumbuhan 5 persen per tahun. Untuk 15 sektor tersebut, data nilai perekonomian kreatif tahun 1999 saja menunjukkan bahwa Amerika Serikat dan Inggris masih mendominasi pasar. Pada tahun 2020, nilainya diperkirakan mencapai 6,6 triliun dolar Amerika Serikat.

Saya lihat, sektor-sektor dalam perekonomian kreatif akan melebar, tidak hanya mencakup 15 sektor di atas. Saya lihat semua sektor membutuhkan kreativitas dan inovasi. Dan, pertumbuhan perekonomian kreatif akan tergantung pada meningkatnya penawaran, maksudnya ketika lebih banyak orang menciptakan lebih banyak pekerjaan, dan pada meningkatnya permintaan, yaitu ketika lebih banyak orang mengalami perubahan prioritas kebutuhan dan/atau peningkatan kebutuhan dalam hierarki kebutuhan. Dan juga pada manajemen produk serta manajemen distribusi produk dari produsen kepada konsumen.

Dari sisi pasokan, membangun kewirausahaan dan inovasi pada tingkat individu, organisasi, dan society itu sudah menjadi salah satu tuntutan perekonomian kreatif. Pada saat yang sama, hal ini pun dilakukan untuk memenuhi kebutuhan konsumen atau pengguna, baik yang sudah diketahui dari hasil identifikasi kebutuhan pasar oleh produsen inovator, hasil komunikasi konsumen atau calon konsumen kepada produsen, maupun hasil temuan ”unarticulated needs” oleh produsen inovator pendaya tarik.

Dalam masa-masa krisis global seperti sekarang, yang didengung-dengungkan adalah kreativitas dan inovasi supaya survive. Menurut Anda, kreativitas dan inovasi yang seperti apa?

Sekali lagi, kreativitas yang sosial, atau sebut itu kreativitas sosial. Lagi-lagi, prinsipnya tidak seorang pun sepandai semua dari kita. Bukan sekadar kreativitas soliter. Kreativitas sosial ini memicu aktivitas penciptaan nilai sosial dan ekonomi, berpikir besar, dan sistemik. Untuk apa? Untuk kepentingan banyak orang. Harus ada inovasi yang berprinsip dan berkarakter. Bukan hanya berkompetensi. Jadi, hormati prinsip-prinsip manajemen inovasi. Hormati prinsip-prinsip inovasi. Saya kupas habis dalam bab enam dan tujuh.

Anda sudah melakukan riset maupun pengamatan pada banyak perusahaan multinasional di Eropa dan Amerika. Apa penyebab-penyebab utama dari perusahaan-perusahaan yang berhasil maupun yang gagal berinovasi?

Antara lain, tidak adanya kolaborasi dan integrasi di dalam organisasi. Atau juga, kurangnya karakter individu-individu dalam organisasi, sehingga tingkat kepercayaan dalam organisasi tidak cukup tinggi.

Baik, kalau Anda menilai, seberapa besar potensi kreativitas dan inovasi masyarakat kita?

Potensi kreativitas dan inovasi masyarakat kita besar, kalau tidak mau dikatakan sangat besar.

Sejumlah pengamat menyatakan, kita memiliki potensi local genius yang luar biasa untuk menopang pengembangan daya kreativitas masyarakat. Menurut Anda?

Saya sepakat dengan pernyataan tersebut. Tantangannya, bagaimana membangkitkannya? Bagaimana membangunkannya? Perlu kerja sama erat semua pihak, di antara semua pemangku kepentingan di Indonesia. Bukan hal sederhana, tetapi tidak mustahil, bukan?

Avanti bersama suami

Avanti bersama suami, Philip Gobang

Pada titik-titik mana kreativitas dan inovasi masyarakat itu tersumbat dan bagaimana cara mengatasinya?

Jika tersumbat, kita mengandaikan sudah ada salurannya, kan? Atau, jangan-jangan salurannya pun belum ada? Buatlah saluran-saluran kreativitas dan inovasi masyarakat. Tata saluran-saluran tersebut agar tidak tersumbat. Dorong kreativitas dan inovasi masyarakat, agar mereka berjalan, dan tidak berhenti di tengah jalan saluran.

Dalam era serba kompetisi secara global, salah satu daya saing sebuah negara adalah pada keunggulan daya kreativitas dan inovasinya. Bagaimana caranya supaya kita memiliki keunggulan seperti itu?

Indonesia perlu membangun sistem kreativitas sosial dan sistem inovasi baik pada tingkat society dan organisasi.

Pada titik keunggulan negara ini, di mana Anda meletakkan relevansi buku Anda?

Buku ini relevan dalam mengondisikan perlunya inovasi di berbagai organisasi di Indonesia, dan perlunya inovasi pada tingkat komunitas, society, dan negara-bangsa.

Terakhir, apa aktivitas terbaru Anda? Apakah sudah punya rencana menulis buku berikutnya?

Saya sedang mengembangkan model coaching untuk inovasi dan mempersiapkan riset tentang manajemen inovasi di Indonesia. Saya juga sedang menulis buku kedua tentang pentingnya integrasi dalam organisasi. Sementara bersama enam rekan coach, kami sedang meracik buku tentang coaching dan perannya bagi organisasi dan komunitas.[ez]

Foto-foto: dokumentasi pribadi.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.0/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Pipiet Senja: Berbagilah dengan Siapa pun

pipietsenjaJika Anda adalah penulis pemula, mungkin Anda akan “merinding” melihat data produktivitas seorang Pipiet Senja. Tahun 1978-1985, ia menerbitkan 12 novel populer. Lalu, tahun 1991-2006, ia meluncurkan 28 buku anak. Kemudian, tahun 2001-2008, ia berhasil menerbitkan 33 novel islami! Dan, sepanjang 1983-2008, ia juga menerbitkan 23 antologi puisi bersama. Total, sekurang-kurangnya Pipiet sudah menghasilkan 96 buku dalam waktu 30 tahun terakhir. Dan, itu semua belum termasuk ratusan cerpen serta puluhan novel bahasa Sunda yang tak terdata semua judulnya.

Apa komentar yang tepat untuk prestasi tersebut? Fantastik… Dahsyat… Luar biasa! Sebuah kombinasi yang kokoh antara kreativitas, imajinasi yang kaya, dedikasi pada profesi, dan motivasi diri yang tak terbendung.

Tetapi, yang juga menambah bobot “keelokan” seorang Pipiet adalah bahwa ia menuliskan karya-karya tersebut dalam belenggu penyakit thallasemia. Penyakit kelainan darah sejak lahir semacam ini suka memutus-mutus tali asa penderitanya. Tetapi, belenggu thallasemia justru memacu kreasi dan prestasi penulis fiksi islami ini. Produktivitasnya seolah tak tertandingi oleh penulis-penulis yang lain.

Pipiet Senja dikenal dengan karya-karya seperti Lukisan Rembulan, Menggapai Kasih-Mu, namaku May Sarah, Tembang Lara, Rembulan Sepasi, Meretas Ungu, atau kapas-kapas di Langit yang jadi novel bestseller itu. dan, oleh Ahmadun Yosi Herfanda, seorang jurnalis dan penyair, perempuan bernama asli Etty Hadiwati Arief kelahiran 16 Mei 1957 di Sumedang, Jawa Barat, ini disebut sebagai Sang Ikon Fiksi Indonesia.

Sudah lebih dari 30 tahun berkiprah di dunia kepenulisan, Pipiet belum juga surut berkarya. Di usianya yang sudah lebih dari setengah abad, ia malah makin tertantang untuk berpacu karya dengan penulis yang masih muda-muda.

Selain itu, dari dulu hingga sekarang, ia terus berbagi pengalaman dan ilmu dengan menularkan virus gemar menulis ke semua kalangan. Satu hal yang mendorong dia melakukan hal itu adalah sebuah visi; “Saya ingin banyak generasi muda, terutama kaum perempuan yang menjadi penulis.” Pertengahan januari 2009 lalu, dalam sebuah wawancara melalui email dengan Edy Zaqeus dari AndaLuarBiasa.com, Pipiet Senja menegaskan, supaya kita tidak takut hilang “jatah rezeki” hanya karena berbagi. Berikut petikan wawancaranya:

Sebagai aktivis Forum Lingkar Pena (FLP), bisa Anda gambarkan bagaimana perkembangan terakhir organisasi kepenulisan tersebut?

Semakin bagus, semakin pesat secara karya, baik yang di daerah di Indonesia maupun yang di mancanegara. Meskipun secara organisasi agak keteteran, terutama yang di daerah. Perlu disemangati, dimotivasi selalu para kadernya, terutama untuk menumbuhkembangkan para penulis pemula menjadi eksis!

Anda disebut-sebut sebagai salah satu sastrawati yang memberikan corak atau warna islami dalam setiap karya Anda. Sesungguhnya, corak atau warna islami itu tadi seperti apa gambarannya?

Intinya, yang sastra islami itu, antara lain tak ada unsur ngeseks. Kalaupun ada, biasanya kita mengambil simbol-simbol. Baik melalui simbol alam maupun rasa bahasa yang terselubung. Atau, bahasa yang puitis. Karya islami ditujukan untuk menginspirasi, mencerahkan umat.

Dengan karya yang lebih dari 80 buku, sebenarnya bagaimana cara Anda menggali tema-tema tulisan?

Temanya beragam, mulai dari tema untuk anak-anak batita, balita, ABG, remaja, sampai lansia. Menggali ide, mungkin ya? Ide jika sudah ada tinggal kita siapkan segala perlengkapannya. Umpamanya, kalau perlu survei ke suatu tempat, kita lakoni. Kalau tidak bisa, kita bisa browsing-an dan chatting-an. Umpamanya untuk mem-plot setting atau “penglataran” luar negeri, atau tempat yang masih asing bagi kita.

Dari semua karya, mana yang sangat menguras emosi, daya tahan, dan daya kreatif Anda?

Meretas Ungu (Gema Insani Press), Kupenuhi Janji (Duha Publishing), Kapas-kapas di Langit (Zikrul Hakim), Dalam Semesta Cinta (Jendela), Jejak Cinta Sevilla (Jendela), dan Cinta dalam Sujudku (Luxima Publishing).

Kalau karya yang Anda anggap monumental?

Kapas-kapas di Langit dan Tuhan Jangan Tinggalkan Aku.

Bagaimana cara Anda mempertahankan ‘daya tahan’ untuk tetap produktif?

Sering mencermati karya terbaru, baik dari dalam negeri maupun mancanegara. Jadi, saya selalu tergerak untuk terus berkarya. Merasa tertantang untuk tetap eksis di khazanah kepenulisan. Lagi pula, memang inilah duni saya, profesi saya, sumber mata pencaharian saya. Ya, terus saja daku berkarya, sampai ajal menjemput….

Anda tidak kuatir ada duplikasi tema atau ide dalam karya-karya Anda?

Tidaklah. Karena saya yakin, setiap penulis selalu memiliki ciri khasnya tersendiri. Tidak mungkin karya kita bisa diduplikat secara persis!

Sebenarnya, apa yang membanggakan dari profesi sebagai penulis itu?

Lebih dekat ke masyarakat luas, hehehe…. Nama kalau sudah dikenal kan banyak yang menyapa? Ini membuat saya (punya) banyak saudara di mana-mana. Banyak mengalir rezeki jika saya dalam kemalangan. Terima kasih, ya Allah, dan para penggemar saya, terima kasih!

Kalau ditanya, Anda itu hidup untuk menulis, atau menulis untuk hidup, jawabannya?

Insya Allah, saya hidup untuk menjalankan perintah Allah. Menulis hanya sekadar sarana untuk memenuhi kebutuhan hidup, kebutuhan batin juga. Hanya salah satu sarana! Tidak lebih!

Ketika Anda menulis, “Mosok ada penulis bisa naik haji dari bukunya?” Sesungguhnya, apa yang ada di benak Anda terkait dengan profesi sebagai penulis dengan kesejahteraan hidup?

Alhamdulillah, saya termasuk yang berangkat umroh dan haji memang karena saya seorang penulis. Ada seorang penggemar, kebetulan teman di pengajian yang begitu empati dan suka sekali dengan karya-karya saya. Melalui adik inilah saya diajak umroh, kemudian dihajikan secara gratis. Subhanallah, alhamdulillah…. Hanya Allah Swt yang bisa membalas budi baiknya.

Ketika, akhirnya, Anda bisa naik haji berkat tulisan, apa pendapat Anda?

Tiada mampu berkata-kata untuk waktu lama sekali, seperti mimpi laiknya. Namun, intinya adalah bahwa melalui lahan profesi apa pun, kita bisa saja naik haji. Jika Allah sudah berkenan, mana lagi yang tiada mungkin?

Tak sedikit orang, bahkan sebagian di antaranya penulis, yang memandang bahwa imposible banget hidup dari hanya menulis. Pandangan Anda?

Tergantung siapa yang menjadi penulisnya, barangkali. Kalau gaya hidupnya memang hura-hura dan amburadul, yah, dari pekerjaan apa pun bisa imaging! Saya pribadi memang hidup ini, maksud saya makan dan nafkah saya, selain atas izin Allah Swt, Dia pun telah memberkahi saya sesuatu, yakni menulis!

pipietsApa idealisme Anda sehingga mau melanglang buana dan sangat gencar menyebarkan ‘virus gemar menulis’?

Saya ingin banyak generasi muda, terutama kaum perempuan yang menjadi penulis. Saya tak pernah takut menularkan virus menulis ini, khawatir diambil jatah rezeki saya umpamanya, tidak! Allah sudah mengatur semuanya untuk kita. Maka, berbagilah dengan siapa pun.

Anda juga menyemaikan ‘virus gemar menulis’ itu ke lingkungan keluarga sendiri. Ini lebih sulit atau lebih mudah?

Kalau kepada anak-anak, sama sekali tidak sulit. Bahkan, sesungguhnya tanpa diajak-ajak pun; Butet (Adzimattinur Siregar) dan Abang (Haekal Siregar) sudah ngebet duluan berkarya. Mereka melihat contoh dari ibunya, barangkali pikir mereka; “Kok si Mama tanpa keluar rumah pun punya duit banyak, ya?” Hihihi.…

Penulis-penulis baru akan terus bertumbuh, dan Anda adalah salah satu yang berperan dalam menginspirasi dan melahirkan mereka. Lalu, di mana Anda menempatkan diri dalam gelombang kemunculan penulis-penulis baru tersebut?

Bukan saya yang menempatkan diri, tetapi masyarakatlah atau kalangan komunitas sastra biasanya yang melakukan hal demikian. Aduh, teteh mah hepi-hepi sajaaah! Senang banget atuh banyak penulis baru di Tanah Air. Luar biasa memang pesatnya!

Hal apa lagi yang ingin Anda raih dari aktivitas menulis ke depan?

Pertama, ingin mengangkat karya-karya islami, bukan cuma karya saya sendiri, ke dunia layar lebar dan pertelevisian. Kedua, ingin memiliki rumah baca untuk anak-anak miskin di sekitar rumah saya. Masih banyak anak yang tak mampu untuk sekolah, dan perempuan yang buta huruf. Ketiga, ingin lebih banyak menulis buku untuk anak-anak dan lansia.

Terakhir, kita semua hanya “mampir ngombe” di dunia ini. Kalau masa “mampir ngombe” itu sudah habis, Anda ingin dikenang sebagai penulis yang seperti apa?

Insya Allah, saya hanya ingin dikenang sebagai umat yang ikhlas, tawadu, dan istikamah saja di mata Allah. Amin, ya Robbal alamin.[ez]

Catatan: terima kasih kepada SuaraSurabaya.net atas izin pemuatan foto-fotonya.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 5.0/10 (5 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Melly Kiong: Dengan Moral Kita Bisa Hidup Lebih Baik

melly-kiongOrang bijak mengatakan, pengalaman adalah guru yang terbaik. Tampaknya, itulah yang berhasil digambarkan dan ditularkan oleh Melly Kiong, penulis buku parenting berjudul Siapa Bilang Ibu Bekerja Tidak Bisa Mendidik Anak dengan Baik? (Elex Media Komputindo, 2008). Bukan psikolog, bukan sarjana pendidikan, bukan pula seorang trainer, namun itu tidak menghalangi Melly untuk berbagi pengalaman dalam memberikan pendidikan moral, budi pekerti, dan kedisiplinan kepada anak-anaknya.

Melalui buku yang sudah mengalami cetak ulang tadi, perempuan kelahiran Singkawang, 17 Juli 1969, yang bernama asli Kiong Mui Lie, itu membeberkan pengalamannya meresapkan kasih sayang sembari memupuk kedisiplinan anak sejak dini. Cara yang dia pakai pun terbilang sederhana, mudah, namun sangat kreatif. Semisal, Melly selalu menyelipkan catatan-catatan atau memo kecil di kotak pensil anak-anaknya, Julian Liem dan Matthew Liem. Isinya? Pujian, ungkapan kasih sayang, selain juga mengingatkan supaya si anak tidak lupa mengerjakan PR dan mengikuti pelajaran di kelas dengan saksama.

Tidak itu saja, melalui buku tersebut, Melly juga menegaskan bagaimana seorang ibu yang berkarier di kantor bisa menempatkan para pembantu atau pengasuh anak sebagai mitra strategis dalam mendidik anak. Jauh dari kebiasaan masyarakat kita umumnya, yang cenderung kurang memandang posisi mereka, istri Tatang Wijaya ini justru menegaskan supaya kita menjadikan para pembantu dan pengasuh anak itu sebagai “rekan kerja”.

Karena itu, “Mereka harus kita perlakukan dengan baik, kita bimbing, dan kita hargai martabatnya. Bila perlu diperlakukan seperti anggota keluarga sendiri. Perlakuan baik kita itu akan kembali kepada anak-anak yangkita percayakan kepada mereka selagi kita tidak di rumah,” ujar perempuan berputera dua yang sehari-hari menjadi tenaga marketing di sebuah perusahaan kimia itu.

Melly yang berdomisili di Jakarta Barat ini adalah tipe perempuan yang sanggup bekerja sekeras mungkin untuk menggapai cita-citanya. Ini dibuktikan dengan keberhasilannya menerbitkan buku parenting, walau ia sendiri mengaku bukan seorang penulis dan tidak bisa menulis. Perjalanan menerbitkan buku itu pun juga mengalami banyak batu sandungan, bahkan dari suaminya sendiri. Namun, segala hambatan itu tidak meredakan semangatnya, karena Melly bertekad membuktikan bahwa kemauan dan visinya sungguh berharga. Dan, Melly pun akhirnya berhasil membuktikannya.

Kepada Edy Zaqeus dari AndaLuarBiasa.com, Melly Kiong menuturkan visi dan misinya, pentingnya pendidikan moral diawali dari rumah, serta suka duka yang dialami ketika hendak menerbitkan buku pertamanya. Berikut adalah petikan wawancara yang berlangsung akhir 2008 lalu, saat Melly berkunjung ke Redaksi AndaLuarBiasa.com.

Bagaimana ceritanya sampai kepikiran bikin buku ini?

Awalnya, saya ini kan bekerja kantoran. Sementara bagi saya, keluarga saya itu harus saya utamakan. Makanya, setiap kali ketemu orang, saya pasti cerita tentang suami saya, anak saya.lalu, ada teman saya namanya Mario, dia sampai bilang begini, “Saya kalau lihat Bu Melly itu kayaknya kok enak banget. Kerja bagus, tapi anak kok juga lucu-lucu dan terdidik dengan baik. Kenapa Ibu tidak tulis buku aja?” Ah, gila lu, yang bener aja…. Akhirnya, ya benar juga. Kenapa enggak, ya?

Saat mulai menulis buku, suami tahu?

Suami saya tidak tahu pas saya mulai mengetik. Jadi saya dibelikan communicator, saya sambil nunggu orang, ngetik. Enggak bakalan bisa mengetik di rumah. Makanya, suamiku itu enggak tahu saya bikin buku hahaha… Ntar kalau dia sudah tidur, aku ketik-ketik di dalam, input ke dalam. Tahu-tahu, benar juga lho, jadi 49 halaman….

Lalu, bagaimana perjalanan naskah Anda?

Saya pas sharing di Radio Cosmo, saya jadi tahu Bu Clara (Clara Kriswanto, psikolog Jagadnita Consutling: red). Saya email, lama tidak ada respon. Sampai saya pikir, “Siapa, sih aku, enggak mungkin dikenal sama orang….” Saya pikir, enggak mungkinlah ke Gramedia, pupuslah harapan saya. Akhirnya, saya kenal Clara. Saya bilang, “Pokoknya (buku) ini bagus banget, deh! Saya yakin itu.” Saya punya kepedulian ini…ini… Dia kasih respon positif. Lalu, saya ketemu Mas Edy. Mas Edy minta …. (menyebut angka: red), kaget saya…. Semua orang marahin saya, lho! Sampai seorang teman bilang, “Gila, goblok kamu begini…begini….” Ya sudahlah. Saya enggak pernah sedih, karena saya punya niat.

Komentar suami Anda?

Nah, waktu saya tunjukkan draf MOU ke suami, dia bilang, “Pokoknya aku enggak mau ya, keluar duit!” Akhirnya, saya enggak ngomong ke dia. Dan, Mas Edy baik juga. “Ya, udah, Ibu bayar aku beberapa kali, deh….” Masih itu struknya saya simpan hahaha….

Sempat ada keraguan melangkah?

Yang aneh, saya sama sekali tidak ada keraguan. Karena, di mana pun saya cetak (buku), saya sudah punya market. Waktu saya berpikir seperti itu, 500 buku sudah ada di tangan saya. Pas suami saya bilang begitu tadi, saya takut. Tapi, saya sudah bayar dua kali, hampir yang ketiga. Saya hanya berharap, jangan sampai saya ada masalah gara-gara itu, kan? Lalu, entah pas Natal atau pas saya ulang tahun, saya bilang sama suami saya. “Boleh enggak aku minta sesuatu…?” Suamiku kaget, “Ada apa?” “Kita sudah sekian tahun menikah, aku enggak pernah minta apa-apa lho sama kamu. Aku minta maaf aja, aku sudah bayar Mas Edy itu dua kali. Karena aku dapat THR, aku lunasi itu.” Aduh, saat itu, suami saya diam saja, tidak mau ngomong sama saya. Saya bilang, “Selama ini aku tidak pernah ngeyel, tapi cuma kali ini doang. Ya, aku mohon maaf.” Saya ada rasa bersalah, tapi ada rasa plong setelah ngomong itu.

Proses selanjutnya?

Setelah itu, menunggu endorsement. Begitu saya dapat dari Kak Seto, wah… saya semangat sekali. Lalu, semua saya mintai. Akhirnya, saya jadi tambah semangat. Begitu mendapat banyak endorsement, suami pun mulai mencair. Dengan agak kesal, dia bilang, “Sini, satu kopi, aku mau kasih ke bosku.” Sorenya, dia sudah bawa tulisan ke saya, “Itu, istrinya bosku kasih satu (komentar).” Saya senang banget.

Setelah itu, naskah dimasukkan ke penerbit apa?

Waktu itu, Mas Edy rencana mau ke penerbit lain ya… Enggak ke Gramedia. Saya minta waktu satu minggu. Lalu, saya ketemu saudara, yang punya kenalan di Kompas, tapi bukan di Gramedia. Sabtu, saudara saya telepon, disambungkan dengan orang Kompas itu. Saya bilang, “Pokoknya saya punya buku sudah tidak perlu diedit lagi, karena sudah diedit. Dan, saya dalam waktu singkat sudah dipanggil untuk seminar.” Saya juga katakan, 500 buku pasti sudah terjual, dipesan. Dan, saya yakin banget karena saya orang marketing.

Selanjutnya?

Akhirnya, saya ditelepon orang Gramedia (maksudnya penerbit Elex Media dari Kompas-Gramedia Group; red). Mungkin sudah jalannya kali ya. Selasa kami ketemu Lia jam 9. Saya presentasi tentang apa saja yang akan saya lakukan. Hari itu juga, dia bilang naskah buku saya diterima. Padahal, dia sama sekali tidak membaca.

Pandangan penerbit atas gagasan-gagasan Anda?

Elex Media merasa, kehadiran saya memberikan nuansa yang agak beda. Sampai dia bilang, saya itu benar-benar marketing sekali!

Kapan suami semakin mendukung kiprah Anda?

Mulai kelihatan saat saya kasih informasi, bahwa buku saya sudah diterima di Elex Media. Dia kan pernah cerita, “Wong direkturku saja mau terbitin buku enggak jadi-jadi!” Makanya, begitu tahu buku saya diterima, itu ada suatu nilai kebanggaan buat dia. Waktu itu, buku belum terbit, Elex sudah mulai sounding, di sebuah radio di Surabaya. Anak buah suami saya, yang dengerin siaran itu, cerita, katanya ada sebuah buku yang akan beredar dan sedang ditunggu-tunggu, berjudul “Siapa Bilang Ibu Bekerja Tidak Bisa Mendidik Anak dengan Baik?” Akhirnya, suami yang waktu itu di Surabaya telepon saya, “Selamat, lho sudah diumumkan di radio.”

Begitu melihat buku secara fisik?

Tahulah, seorang laki-laki biasanya kan sulit mengatakan apa yang dirasakan sebenarnya. Tapi, saya bisa tahu betapa dia bangga sekali dengan saya. Setiap kali saya membawakan seminar, dia selalu SMS-in ke saya, “Sukses, ya!” Nah, itu suatu spirit ya dari suami saya. Saya bilang, keberhasilan saya dalam menyusun buku ini dan dalam mendidik anak, itu bukan keberhasilan saya sendiri. Sebab, suami sayalah yang menjadi juri dalam menetapkan pola mendidik anak. Kalau saya ada yang kurang, dia bilang, “Oke, menurut aku begini….” Jadi, bukan kehebatan saya. Di balik itu adalah kehebatan seorang suami.

Arti dukungan suami atas apa yang Anda lakukan saat ini, berbagi melalui seminar-seminar?

Sekarang, apa yang saya senang lakukan, dia ikut senang. Kalau suami secara direct mau share ke saya sih jarang ya. Tapi, kalau setiap kali ada pemberitaan di koran, dia pasti bilang, “Ini dikliping dong… dikliping….” Saya membaca itu, dia merasa bangga, ya. Dan, anak-anak saya juga merasa bangga.

Waktu Anda menjual langsung buku itu, kebanyakan pembelinya siapa?

Kalau untuk di pabrik, banyak sekali bapak-bapak yang beli. Saya sering banget ketemu, contohnya seorang satpam, saya tanya, “Pak, bagaimana keadaan Ibu? Kerja enggak?” Kita tahu dong, satpam penghasilannya berapa. “Aduh, Ibu ngurusin anak di rumah, deh!” Lalu saya bilang, “Pernahkah Bapak berpikir, kalau sesuatu terjadi pada Bapak, dengan seorang istri yang tidak siap, apa yang akan terjadi dengan rumah tangga? Anak harus makan, kan? Keluarga harus tetap berjalan, kan?” Itu yang akhirnya membuat mereka mengatakan, “Iya, ya Bu, kenapa saya tidak berpikir seperti itu?” Lalu, suami-suami yang tidak ingin istrinya bekerja itu menganggap kalau istrinya kerja tidak bisa mendidik anak. Saya jelaskan, saya melakukannya seperti di buku ini. Saya bukan teori, tapi menjalankan. Sampai akhirnya satpam pun beli buku saya.

Jago juga Anda “merayu” calon pembaca hahaha?

Satpamnya bilang, “Bu, saya tidak punya uang…?” “Oke, Bapak punya uang berapa?” Dia jawab, “Saya cuman punya dua puluh ribu…” “Oke, dua puluh ribu saja enggak apa-apa. Tapi ingat, Bapak harus lebih berpikir bagaimana membangun masa depan anak supaya lebih baik.” Sebab, kalau bicara masa depan, kita harus bicara bagaimana menciptakan anak-anak yang berkualitas. Saya banyak melihat, di kalangan “susah” pun mentalitas juang mereka sudah tidak ada.

Kalau pembeli buku dari relasi Anda?

Kalau relasi hampir semua membeli. Mau laki-laki mau perempuan, semua beli. Sampai orang yang tadinya belum berkeluarga pun, berkomentar, “Aduh, setelah saya baca buku Bu Melly saya langsung kepingin cepat-cepat nikah…!” Jadi, menurut saya buku saya ini soal mindset. Mau miskin dia perlu, mau kaya dia perlu.

Anda juga menindaklanjuti buku itu dengan seminar, kan?

Ya. Ketika saya datang memberikan seminar kepada orang-orang miskin, sangat hebat lho, Pak sambutannya. Tiga puluh orang yang hadir, sepuluh buku saya terjual di tempat orang-orang yang tidak mampu. Lalu, di daerah Curug (Tangerang) yang dihadiri hampir 200 orang, yang kebanyakan orangnya penganggur, saya bisa jual 24 buku. Kalau ketemu bos-bos, mereka langsung beli sepuluh buku untuk dibagi-bagikan ke orang lain.

Sebenarnya, apa sumber ketertarikan para pembeli langsung itu?

Satu, saya yakinkan orang bahwa buku saya beda dengan buku orang lain. Buku saya tidak menyampaikan bagaimananya secara teori, tapi secara fakta. Saya berharap, jangan sampai orang lain mengalami pengalaman yang pernah saya lewati. Dengan seorang Ibu yang tidak siap menjadi seorang single parent. Takut menjadi seorang ibu yang tidak siap secara mental. Tapi, ada juga lho yang ngomong, “Aduh, saya sih sudah siapkan duit segunung!” Tapi, yang namanya duit segunung kalau dipacul habis juga, kan? Jadi, menurut saya, mentality itu sangat penting.

Anda mendirikan Rumah Moral, apa visi dan misi lembaga itu?

Itu semacam gambaran atau iming-iming buat saya. Saya itu ingin membuat sesuatu, supaya anak-anak itu di sekolah pun juga diajari tentang moral. Karena, bagi saya moral itu penting banget. Saya mengajarkan sopan santun kepada anak-anak saya, misalnya melalui kaca pembesar. Itu sebenarnya tentang pesan moral, tentang tanggung jawab, tentang disiplin. Saya merasa, di rumahlah saya harus mulai untuk memberikan sebuah pesan moral itu. Jika memungkinkan nanti, saya akan membangun Rumah Moral itu sebagai suatu proyek percontohan. Sebab, dengan moral kita bisa hidup lebih baik.

Rumah Moral ini secara vironer sangat bagus. Kalau benar-benar dikembangkan, mungkin semangatnya bisa ditularkan ke banyak orang. Sebab, segala perbaikan kondisi bangsa kita bisa diawali dari rumah moral ini…?

Mulai, Pak. Ya, makanya sekarang kalau ke mana saja saya selalu membawa “Salam Peduli Anak Bangsa”. Setiap kali ada yang minta tanda tangan (di buku), saya selalu cantumkan; Selamat bergabung, salam peduli anak bangsa, yang dimulai dari rumah. Kenapa saya bilang, saya ingin jadi sebatang lilin? Saya bilang, ketika saya menjadi sebatang lilin dan saya punya api, ketika api saya menyalakan seribu lilin lainnya, toh saya enggak akan mati, kan? Itu arti yang ingin saya sampaikan kepada orang lain. Makanya, saya menghimbau semua orangtua, mulailah berperan dari rumah sendiri, masing-masing satu orang menyalakan satu lilin saja dari rumah, berarti ke depannya kita masih punya harapan untuk melihat terang, kan? Itu kira-kira misi saya.

melly-kiong-familyBisa lebih dijelaskan lagi misi Anda?

Saya punya misi yang luhur, semua orangtua itu bisa hadir dalam seminar saya dan saya masuk dari sekolah. Saya berpikir dari pengalaman sendiri, ketika mau tahu soal parenting saya harus keluar uang Rp 600 ribu. Berarti, cuma bagi orang tertentu saja yang bisa belajar, kan? Bagi orang yang tidak punya, kan dia tidak bisa belajar? Makanya, saya ngamen, saya ketuk sekolah-sekolah satu per satu. Saya juga bilang, kalau pembaca buku saya memandang buku itu baik, saya minta supaya mereka kasih pinjam ke sepuluh tetangga atau orang di sekitarnya. Itu misi saya.

Bagaimana testimoni pembaca buku Anda?

Setiap kali habis seminar, saya selalu minta feedback. Semua saya filing, termasuk semua SMS yang masuk. Termasuk Mbak Eny Kusuma (motivator, penulis buku Anda Luar Biasa!!!: red), yang menulis ke saya, “You’re my inspiration. Ini buku pegangan saya dalam mendidik anak saya.” Banyak sekali, saya kliping semua. Banyak juga testimoni yang mengharukan. Kalau saya talk show di radio, rata-rata penyiarnya yang menangis. Sampai penyiar radio Female itu, kan cowok itu, nangis juga dan bilang, “Bagaimana ya seandainya aku itu punya ibu seperti Ibu Melly….” Ada juga salah satu pembaca yang berkomentar, “Melly, kamu punya buku harusnya sudah masuk arround Indonesia dan pasti bisa diterima. Karena apa? Kita semua problemnya sama, termasuk yang di Malaysia, Hongkong, Singapura, Jepang. Asia semua… mereka semua kesulitan dalam mendidik anak, karena orangtua tidak ada waktu.”

Sejauh mana Anda akan melangkah dengan buku ini?

Saya tidak akan main-main dengan buku saya. Belum tentu lho buku motivator terkenal misalnya, bisa diterima seluruh lapisan masyarakat. Belum tentu buku, yang menurut kita begitu bagus, bisa diterima oleh seluruh masyarakat. Tapi, saya yakin sekali dengan buku saya. Sampai ada testimoni SMS, “Bu, buku itu bisa saya praktikkan 10 atau 15 tahun lagi pada saat saya sudah berkeluarga.” Bagi saya, menjual satu juta kopi itu bukan sesuatu yang mustahil.

Katanya sampai pernah ada yang menanyakan latar belakang pendidikan Anda?

Saya sih apa adanya. Ketika talk show ada yang tanya, “Ibu itu pendidikannya apa, sih?” “Mau tahu pendidikan saya, saya itu S-3!” “Woo… hebat amat, masih muda sudah S-3!” Dia enggak tahu, maksud saya S-3 itu SD, SMP, SMA hahaha…. Seorang psikolog pun bernah berkomentar, bahwa dia tidak menyangka saya sampai bisa berpikir seperti itu.

Anda juga ingin berbagi mengenai pengalaman menulis dan menerbitkan buku ini?

Yang saya ingin sampaikan, kalau suatu saat kita bisa membuat seminar, bahwa sebaiknya kita itu menulis sesuatu secara jujur, seperti yang ada dalam hati kita. Kalau kita yakin apa yang kita tuliskan berguna buat orang lain, kita enggak perlu khawatir.

Kabarnya Anda hendak mengusulkan buku ini supaya mendapat penghargaan MURI?

Iya, saya sedang bicara dengan Jaya Suprana. Ia menjelaskan ada beberapa kategori untuk buku. Saya bilang, “Menurut saya, buku saya adalah buku yang harus dibaca orangtua yang ingin menjadi orangtua.” (Pada Januari 2009, Musium Rekor Dunia Indonesia menganugerahi Melly Kiong penghargaan atas rekor: “Ibu Rumah Tangga Sektor Publik penulis buku Pedoman Parenting untuk para Ibu Rumah Tangga Sektor Publik”: red)[ez]

Foto-foto: dokumentasi pribadi.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.0/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox