Lely Arrianie: Ani Yudhoyono Bukan Politisi, Tapi Bisa Muncul Kalau Melakukan Make Over

Dr. Lely Arrianie MSi, pakar komunikasi politik

Dr. Lely Arrianie MSi, pakar komunikasi politik

Pemilu presiden 2014 masih jauh sekali, tetapi kegenitan melempar wacana capres sudah tampak meriah. Nama tokoh-tokoh seperti Aburizal Bakrie, Megawati, Prabowo Subianto, Sri Mulyani Indrawati, dan Mahfud MD belakangan cukup sering disebut. Bahkan, nama first lady Indonesia, Kristiani Herawati Yudhoyono pun mulai diunjukcobakan dan dikomunikasikan dalam wacana pilpres 2014. Pro dan kontra pun membahana memeriahkan diskusi-diskusi politik ke depan.

Namun dalam perspektif komunikasi politik, apa saja peluang serta halang rintang yang mesti mereka hadapi? Apakah mengomunikasikan calon presiden sejak saat ini sudah tepat waktu? Apa wahana komunikasi politik yang pas untuk menyiarkan potensi mereka? Dan, bagaimana pula efektivitasnya bila dikaitkan dengan realitias bahwa mayoritas pemilih kita adalah pemilih irasional?

Lely Arrianie, pakar komunikasi politik dari Universitas Bengkulu memberikan perspektif berdasar temuan-temuan penelitiannya yang sudah dibukukan dengan judul Komunikasi Politik-Politisi dan Pencitraan di Panggung Politik (Widya Padjajaran, 2010). Menurut Lely, contoh keberhasilan komunikasi politik di negara maju tidak serta merta bisa diaplikasikan di sini. Harus ada modifikasi dan kemas ulang, itu jika ingin mendapatkan hasil yang maksimal.

Meski dari segi pemasaran politik istilah yang digunakan sama, positioning, targetting, dan segmentasi, menurut saya ketika hendak diterapkan dalam proses komunikasi pemasaran politik, ketiganya harus disesuaikan dengan budaya politik, etika politik, dan bahkan transformasi nilai-nilai kearifan lokal,” papar Lely, yang menyelesaikan studi doktoralnya di Universitas Padjadjaran Bandung, tahun 2006 dengan predikat cum laude ini.

Untuk mengetahui lebih jauh sisi-sisi terpenting dari komunikasi dan pemasaran politik, secara khusus Edy Zaqeus dari AndaLuarBiasa.com mewawancarai Lely Arrianie yang kelahiran Tanjung Enim, 2 April 1966 ini. Berikut petikan wawancara yang dilakukan melalui situs jejaring sosial Facebook belum lama berselang:

Sekarang wacana calon-calon presiden mulai bergulir. Dari sisi komunikasi politik, apakah ini sudah waktunya atau terlalu pagi?

Tergantung siapa yang memandangnya. Bagi rakyat, masyarakat kebanyakan, jelas ini enggak penting-penting amat. Bukan masih pagi, tapi terlalu subuh, fajar hehehe. Tapi bagi mereka yang menggagas program dan kepentingan politik partainya, jelas ini adalah lonceng, bedug, dan terompet yang harus segera dimainkan. Tapi menyedihkan jadinya, mengingat pascapemilu 2009 nyatanya pemenang prosesi pemilu pun belum menunjukkan bagaimana merealisasikan program.

Salah satu alasan mewacanakan capres lebih awal adalah untuk testing the water. Ibaratnya, melempar satu nama capres atau produk untuk melihat-lihat reaksi pasar. Masuk akalkah?

Enggak juga. Nyatanya yang digadang-gadang akhirnya masuk karung juga. Sekarang saya tanya balik. Antara kredibilitas dan popularitas mana yang berpeluang lebih besar untuk terus melenggang menjajal tujuan politik? Ingat kasus Amien Rais pascareformasi? Apa yang kurang dari popularitas dia? Apa yang tak pas dilihat dari kredibilitasnya? Lagi pula, dua kali kasus kenaikan ke kursi presiden nyatanya muncul karena merasa “iba” terhadap calon yang dizalimi, bukan? Pasar politik tidak sama dengan pasar ekonomi. Makanya, saya bilang politik itu komedi dilihat dari dekat, tapi tragedi dilihat dari jauh.

Dalam ranah survei politik ada pembedaan antara popularitas seseorang dengan tingkat elektabilitasnya. Dari perspektif komunikasi politik, bagaimana menyinkronkan keduanya supaya popularitas berdampak pada peningkatan elektabilitas?

Survei kadang bisa tergantung pesanan. Yang popular belum tentu elektabilitasnya tinggi, yang elektabilitasnya tinggi kadang tidak muncul dari proses meritokrasi. Tapi penyelenggara survei semacam ini pelan-pelan akan terdegradasi. Pernah dengar anekdot 3-D? Alias, duit, doa, dan dukun. Nah, di zaman gonjang-ganjing politik seperti ini, kenapa mereka berani berspekulasi dengan segala upaya pencitraan diri tadi?

Ongkos politik memang mahal, tapi tetap miskin subisatansi. Orang tiba-tiba dianggap bercitra. Pemilih seperti ditawarkan kucing dalam karung. Tapi bagi saya, orang yang popular pun tidak hanya perlu popular di media, tapi juga harus mengakar ke publilk. Jadi, kadang keduanya antara popularitas dan elektabilitas bisa dipertemukan, tetapi kadang juga tidak.

Lely: komunikasi politik kita banyak yang sifatnya manipulatif

Lely: komunikasi politik kita banyak yang sifatnya manipulatif

Para politisi belajar banyak dari kasus kekalahan Jusuf Kalla dan Wiranto pada pemilu presiden 2009 lalu. Mereka start sangat terlambat dan akhirnya gagal. Ditinjau dari perspektif komunikasi politik, apakah mewacanakan calon kandidat presiden mulai sekarang percuma saja?

Bukan masalah start , tetapi masalah mesin politik yang memang bekerja atau tidak. Menurut saya, ke depan partai politik seharusnya berfungsi untuk memanajerialkan tokoh, kader, dan aktivis partainya. Sehingga, ketika sang tokoh, kader, dan aktivis dimunculkan untuk menduduki peran presiden atau kepala daerah sekalipun, semua bergerak untuk menjelaskan ke publik. Bahwa, sang tokohlah yang memang layak menjadi pilihan. Sederhana, bukan? Tapi, karena politik adalah perang tak berdarah dan perang adalah politik berdarah, maka yang terjadi orang-orang memanfaatkan partai tidak dalam kapasitas yang sejalan dengan ideologi partai pun tampaknya dianggap tak masalah.

Menyangkut wahana komunikasi politik untuk meningkatkan popularitas dan elektabilitas. Sebenarnya mana yang paling efektif, komunikasi langsung ke konstituen ataukah melalui media massa, cetak, maupun elektronik?

Tadi kan kubilang “bersinar di media” tetapi (harus juga) mengakar ke publik. Kalau media biasanya dengan agenda setting selalu menganggap, bahwa apa yang dianggap penting oleh media maka dianggap penting oleh publik. Sehingga, dengan berbagai cara analisis framing berita tentang si tokoh, baik isi atau content-nya dengan segala literasi politik sang tokoh, dianggap bisa menjadi popular. Nyatanya, akhirnya kembali ke pemilih juga.

Ingat kasus iklan Sutrisno Bachir dan Rizal Malarangeng yang dimunculkan bertubi-tubi, hanya popular sesaat, bukan? Tapi yang jelas media dianggap mampu membenuntuk opini publik, asalkan tepat. Nah, kalau pemilihan kepala daerahnya di Papua sana, lalu pakai iklan di Jak Tv, pas enggak?

Dalam disiplin komunikasi politik, apakah ada strategi atau teknik yang memadupadankan antara karakter seorang calon presiden misalnya, dengan pilihan model kemasan komunikasi politik?

Oh, banyak… Tapi kan orang Indonesia latah? Mentang-mentang Obama menang terus gaya dan teknik pemasaran politik Obama dikira sama bisa digunakan juga di Indonesia. Meski dari segi pemasaran politik istilah yang digunakan sama, positioning, targetting, dan segmentasi, menurut saya ketika hendak diterapkan dalam proses komunikasi pemasaran politik, ketiganya harus disesuaikan dengan budaya politik, etika politik, dan bahkan transformasi nilai-nilai kearifan lokal.

Tapi, kan model komunikasi politik kita begitu acak. Sehingga, bisakah kita membedakan gaya komunikasi politik seorang calon dari partai yang berbasis agama, nasional, ataupun sebenarnya diam-diam bergaya komunikasi politik tradional? Apa yang dikatakan pemimpin partainya adalah harga yang tidak bisa ditawar, dibantah, dan diabaikan misalnya.

Untuk ketidakjelasan pola komunikasi politik yang tidak bersesuaian antara garis ideologi partai dengan gaya personal sang calon, apa ada “obat mujarabnya” di tengah bervariasinya demografi dan latar belakang calon pemilih?

Menurut saya agak susah. Kita kan sudah terpola dengan gaya komunikasi sesuai langgam masing-masing. Apa bisa Anda bedakan andaikan Ruhut Sitompul dan Anas Urbaningrum bertarung? Keduanya dari partai yang sama, ideologi, platform juga sama. Tapi lihat literasinya. Idialek, bukan dialek keduanya... Anas gayanya bahkan lebih mirip Maruarar Sirait, kan? Nah, persepsi berbasis demografi membelah personal branding calon dalam kekhasan kemasan yang sebenarnya penuh manipulasi juga. Apa boleh buat, itulah fenomenanya sekaligus dinamika politik yang kita hadapi, entah sampai kapan.

Lely saat mewawancarai narasumber aktivis dalam penelitian politiknya

Lely saat mewawancarai narasumber aktivis dalam penelitian politiknya

Mari menukik ke contoh konkret. Tiga nama perempuan disebut-sebut berpeluang maju ke pemilu presiden 2014, Ani Yudhoyono, Megawati soekarnoputri, dan Sri Mulyani Indrawati. Singkat saja, apa kelemahan dan kekuatan masing-masing dari sisi komunikasi politik?

Ani Yudhoyono, mungkin karena terlahir dari seorang Sarwo Edi yang notabene adalah tokoh militer yang disegani, ada nuansa maskulinitas yang dia tampilkan. Tapi, dia tetap tidak bisa disejajarkan dengan seorang Aisyah Amini (politisi senior PPP) yang pernah dianggap Margaret Thatcher-nya Indonesia. Ani Yudhoyono bukan politisi, tapi mendampingi pemimpin negara yang juga ketua dewan pembina partai politik. Dia juga tidak bisa disandingkan dengan Hillary Clinton yang mengembangkan naluri politknya. Tapi, dia bisa muncul kalau diterjunkan, diceburkan, dengan terlebih dahulu melakukan make over.

Megawati mungkin tidak akan tampil lagi. Meski pemilu kemarin suara pemilih masih cukup besar, diam, tapi teguh dalam sikap politik. Tetap konsisten dalam garis oposisi. Lalu Sri Mulyani, saya pikir dia perempuan pintar, tapi mabok ketika bersentuhan dengan politik. Sehingga, dia diskenariokan lari dari tanggung jawab pun dia menganggap adalah sebuah kebenaran. Separuh maskulin dan setengah femininitas.

Bagaimana dengan tiga kandidat pria yang paling sering disebut saat ini, yaitu Aburizal Bakrie, Prabowo Subianto, dan yang dari non partai Mahfud MD?

Ketiganya berpeluang sama tapi dengan kriteria dan standard error yang berbeda. Eh, ini bahasa kuantitatif ya. Tapi enggak apa apa juga, sebentar lagi akan bermunculan kalkulasi kuantitatif dari lembaga survei, yang sebagian besar justru disiapkan oleh mereka yang ingin, akan, dan “dijerumuskan”, “terjerumus”, dan “menjerumuskan” diri dalam pertarungan politik itu. Kesiapan partai yang mengusung yang berkolaborasi dengan kesiapan calon dan semua jajaran tim sukses, termasuk menyiapkan intrik politiknya, akan menempatkan mereka sebagai balon. Kemudian, mereka menjadi calon yang akan “dijual” serta bagaimana ketiganya “menjual diri politik”.

Jadi baik Ical, Prabowo, atau Mahfud punya kans untuk itu. Jika dibandingkan kemenangan Partai Demokrat yang spektakuler pada pemilu lalu, yang disisipi aroma “Century”, membuat kita bisa berasumsi bahwa “uang” bisa memenangkan sebuah prosesi setingkat pemilihan kepala desa sekalipun. Pengalaman sebagai calon, posisi incumbent dengan fasilitas politik yang dimanfaatkan calon juga menjadi pembelajaran politik yang cukup efektif untuk bertarung. Tapi, harga sebuah “idealisme” seperti Mahfud MD mungkin tidak cukup popular di mata pemilih yang “irasional”, bukan? Sebab, masalahnya rata-rata pemilih kita memang kebanyakan irasional. Kepentingan sesaat jauh lebih dominan.

Mungkin juga karena kebanyakan masyarakat “lapar” dan permisif. Sehingga, ketika mereka menyadari bahwa hampir pasti komunikasi antara pemilih dan yang dipilih selesai ketika yang dipilih “terpilih”, maka sikap irasional menjadi rasional. Simbiosis mutualis antara yang memilih dan yang dipilih. Jadi, silahkan prediksi antara Ical, Prabowo, dan Mahfud berhadapan dengan pemilih yang irasional tadi.

Dari perspektif komunikasi politik, bagaimana cara memecah kebuntuan pemilih irasional tersebut?

Pemilih irasional akan tetap ada, terus ada, dan itu berlangsung terus sepanjang prosesi politik lebih mengedepankan untuk hanya siap mendapatkan kemenangan. Sehingga, kekalahan dianggap sebagai aib. Tetapi, menurut saya yang mengakar ke publik pemilih irasional bisa menjadi rasional. Dulu, ketika teori ethos, logos, dan pathos Aristoteles begitu diaplisasikan dalam pendekatan komunikasi massa, beberapa bagian yang ditawarkan Aristoteles relevan juga. Nyatanya ketika bungkusan atau kemasan pencitraan menyerbu dalam semua ruang hampa, pemilih yang rasional pun menjadi tidak rasional.

Ketika SBY dikemas sedemikian rupa, ia dipilih oleh ibu-ibu karena ganteng. Dipilih oleh bapak-bapak karena dizalimi. Dulu juga di negeri uwak Kennedy dia cukup lari di pantai berpasir sambil bertelanjang dada dengan postur tubuh proporsionalnya, dada bidang dan berbulu, terus para perempuan di pantai itu pada teriak histris “Kennedy… Kennedy, dan mereka merasa Kennedy lah yang harus dipilih.

Kasus Jabar juga. Hasil survei digugurkan semuanya karena Agum Gumelar yang popular dengan elektabilitas tertinggi di Jabar, toh tidak melenggang ke kursi gubernur. Dan ternyata, pemilih yang sebagian besar adalah perempuan dengan penuh percaya diri mengatakan memilih Dede Yusuf karena ganteng. Jadi, bukan gubernurnya yang dipilih. Jadi, konteks rasional dan irrasionan macam apa pula ini? Tapi, menurut saya komunikasi linier harus disingkirkan dalam tiap relasi yang menyangkut psikologis pemilih. Jadi, menjadi jelas di mana positioning, segmentation, dan targetting dalam komunikasi pemasaran politik.

Lely Arrianie: selangkah lagi ke profesor komunikasi politik

Lely Arrianie: selangkah lagi ke profesor komunikasi politik

Baik, Anda sudah menelurkan buku komunikasi politik. Apa ssaja yang Anda tawarkan dalam buku itu yang mungkin bisa dijadikan rujukan bagi praktisi politik?

Buku saya merupakan hasil penelusuran panjang dari fenomena panggung politik dengan segala pernak-perniknya. Pendekatan yang saya cenderung masih agak langka digunakan di panggung politik. Sebab itu, saya bisa melihat suatu yang tersirat di balik yang tersurat. Saya menemukan beberapa model yang meski tidak dapat digeneralisasikan, tapi cukup menjelaskan bagaimana ranah politik menjadi panggung para komunikator politik dalam mengemas “impression management politiknya.

Dan, para komunikator politik, yang menurut Nimmo hanya terbagi menjadi aktivis, profesional, dan politisi, di temuan penelitian saya menyatakan, bahwa masyarakat biasa yang menyampaikan apresiasinya ke lembaga-lembaga politik adalah juga komunikator politik. Termasuk jurnalis yang meliput siaran politik. Ini artinya, meski gaya komunikasi linier yang digagas Laswell sangat popular, menurut saya tidak dapat diterapkan di panggung politik. Karena, para komunikator politik nyatanya adalah manusia dinamis, kreatif, yang gagasan dan pikiran politiknya bahkan selalu berkembang. Jadi, sulit di tebak dan selalu berubah. Karenanya dalam “mempertukarkan” pesan politiknya mereka cenderung bergerak dinamis pula dalam model yang interaksional. Sirkuler dan konvergen, bahkan transaksional.

Terkait dengan temuan Anda itu, apa saran Anda untuk para komunikator politik kita?

Dalam konteks ini, dengan yakin saya katakan bagi para komunikator politik, “bacalah” buku saya (Komunikasi Politik-Politisi dan Pencitraan di Panggung Politik, Widya Padjajaran, 2010). Dan, ketika Anda menemukan apa yang saya tulis ternyata tidak membuat Anda melek memaknai panggung politik, berarti Anda belum membacanya.

Pesan penting dari model komunikasi yang Anda paparkan tadi apa?

Yang pasti “berkomunikasi politik” dan melakukan impression manajemen politik apa pun, harusnya tetap membuat relasional antara pemilih yang telah memilih mereka dan mereka yang terpilih tidak selesai begitu saja. Atribut apa pun yang membuat para praktisi menjadi “berjarak” dengan konstituennya, jelas merupakan manipulasi subjektif yang membuat mereka akan tersingkirkan dari prosesi politik dalam setiap wilayah panggung. Front stage ataupun back stage. Dan, saya menemukan nyatanya ada juga middle stage yang diciptakan sendiri oleh para politisi. Salanjutnya dalam ketiga wilayah tadi, saya sarankan para komunikator politik khususnya profesional, aktivis, dan politisi dapat mengemas literasi politik yang relevan. Karena, ketika mereka menggagas peran di panggung depan harusnya perilaku yang tidak layak harus steril dari penonton. Sembunyikan di belakang panggung.

Dan, karena mereka dituntut tampak biasa menguasai peran, menurut saya seharusnya para politisi terutama, tidaklah menganggap parlemen sebagai kawah candradimuka yang baru akan menggodok mereka untuk berperan. Melainkan parlemen adalah tempat mereka mempraktikkan “pembelajaran” politik yang telah mereka tempuh sepanjang menjadi aktivis, kader, dan bahkan simpatisan atau pengurus partai. Jadi, istilah “learning by doing” tidak pas untuk mereka. Sekali lagi “berbuat politiklah” ketika anda terpilih.[ez]

Foto-foto: dokumen pribadi & dokumen Proaktif Schoolen.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (6 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 3 votes)

Relon Star: Coba Dulu Baru Analisis Belakangan!

Relon Star

Relon Star

Salah satu masalah pelik yang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah penyalahgunaan narkoba. Semakin hari semakin banyak korban berjatuhan karena narkoba. Ada korban yang terus terikat narkoba dan berujung pada kematian. Namun, ada korban atau pecandu yang bisa lepas dan kemudian melanjutkan kehidupannya. Bahkan, tak sedikit yang kemudian meraih prestasi dan menemukan ladang pengabdian yang membanggakan.

Relon Star adalah contoh mantan pecandu narkoba yang kini berubah menjadi ‘juru kampanye’ antinarkoba. Bukan hanya itu, dia juga cukup produktif menuliskan pengalamannya dalam artikel-artikel motivasional di sejumlah website, majalah gereja, bahkan setidaknya sudah tiga buku dia luncurkan terkait pengalamannya tersebut. Perempuan kelahiran Palu, 7 Oktober 1979 ini menorehkan karya berjudul Run or Die, Became Extraordinary, dan yang terbaru Aku Bebas dari Jerat Narkoba (Gramedia, 2010).

Di buku ketiganya ini Relon Star ingin berbagi semangat pada korban, keluarga, maupun lingkungan pengguna narkoba. Menurut dia, masih ada harapan untuk lepas dan meraih masa depan yang cerah. Masih banyak tempat untuk tumbuh, mengabdi kepada masyarakat, dan mendapatkan pemenuhan pencapaian pribadi. Berikut petikan wawancara Yanuar Prihastomo dari AndaLuarBiasa.com dengan Relon Star di Jakarta beberapa waktu lalu.

Bagaimana awal kenal dengan narkoba?

Jadi latar belakangnya sebenarnya sih karena saya waktu kelas 2 SMP. Papa kan beralih profesi yang dulunya dia kerja kantoran di AJB Bumi Putera. Terus beliau memutuskan jadi pendeta. Saya melihat sejak jadi pendeta itu banyak sistem yang berubah jadinya—khususnya buat saya pribadi yang waktu itu masih menginjak remaja jadi masih usia-usia peralihan—banyak dituntut. Enggak boleh ini, enggak boleh itu harus sopan ke jemaat terus kalau temenan itu harus selektif pergi dengan siapa, dan akhirnya saya merasa lama-lama seperti dikontrol. Waktu papa jadi pendeta, kami pindah rumah ke daerah Ciledug. Nah, pas saya ketemu teman-teman seperti itu ditawarin. “Relon mau cobain enggak, ganja?”

Yang paling sering dipakai apa?

Waktu awal-awal memang ganja. Cuma waktu ditawarkan putauw saya lebih menikmati putauw. Itu waktu SMP. Waktu SMA, mulai masuk lagi shabu-shabu kan ke Indonesia.

Ada pertimbangan ekonomi keluarga?

Enggak, sih Kalau dulu saya pakai putauw itu enggak pernah dapat dari orang tua. Dulu justru situasinya orang tua sangat sulit dalam segi keuangan karena mendadak mama juga sakit. Saya lebih banyak dapat dari teman-teman, kebetulan dapat teman-teman itu yang orang kaya. Jadi mereka yang beliin-lah karena komunitas seperti itu ya toleransinya sangat tinggi…

Bertemu komunitas penulis yang tepat

Bertemu komunitas penulis yang tepat

Bagaimana kejadian Anda jatuh di pesta narkoba?

Waktu itu memang sengaja pesta narkoba aja dan itu biasa dulu ya jadi kita larinya ke Sentul ada sekitar 7 mobillah berangkat ke sana. Di sana itu ada semua persediaan yang ada dari ganja, budha stick, putauw, inex, shabu-shabu, itu semuanya tersedia… Jadi pas pulang temen saya ngomong, ?Ini tolong dicek semua barang-barang, kita sudah masuk daerah Senayan Asia Afrika. Tolong di cek ada barang bukti enggak.? Pas lagi ngecek-ngecek gitu temen saya ketemu. ?Aduh ada ineks setengah nih siapa mau siapa mau?? Gitu. Teman-teman saya yang lain di belakang itu dah pada mabuk, udah tidurlah mereka udah enggak ini… Ya udah deh saya aja kayak maksain. Terus saya telan yang setengah itu. Tiba-tiba aja langsung pusing terus mata saya tiba-tiba mendelik itu prosesnya cepat banget. Sempat paranoid dulu ngomongnya ngaco gitu kan. Beberapa lama kemudian saya pingsan.

Lalu dibawa ke RS?

Teman-teman enggak berani bawa ke rumah sakit karena kalau ketahuan dari urine, pasti kan teman berpikir ya pasti kayaknya dah mau mati yang ketangkep mereka. Jadi, bahaya sekali kan. Mereka waktu itu benar-benar udah berpikir ini pasti mati.

Seperti apa kejadiaannya ?

Dalam keadaan pingsan kan teman-teman bopong saya ke rumah dan saya sadar, saya menyadari kalau saya sendirian. Padahal saya tadi kayaknya ramai-ramai hahahihi… Di mana ini teman-teman? Gitu kan… Kayak ada perasaan kosong banget. Di situ ada suara aja, suara hati gitu ambil buku. Saya ikuti aja gitu. Emang ini ya, cara Kristiani, supranatural memang. Ambil buku, saya juga enggak ngerti buku apa nih tengah malam. Pokoknya saya pingsan kurang lebih tiga jam. Jam 12-an saya pulang ke rumah dan sadar-sadar sudah jam tiga. Ambil buku, saya terus bacabuku rohani yang sudah dua tahun ada di meja tapi tidak pernah saya baca. Dulu, saya anti bangetkarena papa kan kayak gitu, saya anti banget sama kekristenan—sampai Alkitab saja tidak punya. Ya sudah ternyata buku rohani, dan saya baca buku itu. Di situ saya merasa kayak cocoklah. Jadi, kebutuhan saya terjawab di buku itu. Tentang kembali ke Tuhan lah, gitu.

Menjadi motivator dan pembicara dalam bidang pengembangan diri

Menjadi motivator dan pembicara dalam bidang pengembangan diri

Adakah beberapa ayat yang sampai sekarang masih diingat?

Ya, Yesaya 42 ayat 90 kalau enggak salah. Aku telah memilih engkau dan tidak menolak engkau… Ketiga kakak saya itu baik-baik, saya sendiri yang kacau. Saya merasa diperlakukan beda. Nah, dari ayat itu saya kayaknya seperti semburan air gitu. Pasti Tuhan terima saya sudah keadaan berdosa kayak gini. Ya sudah saya dapat ayat itu, saya merasa (mendapat) suatu jawabanselama ini yang saya caridan saya sadar banget. Saya bisa bangun lagi, bisa apa ya kembali sadar setelah tiga jam koma. Itu, karena ada tangan yang tak terlihat itu… Invisible Hand itu.

Apakah Anda langsung berhenti pakai narkoba setelah kejadian itu?

Setelah itu, memang di situ titik saya berjuang. Cuma, saya tahu kalau saya berjuang sendiri enggak bisa. Jadi, besoknya saya cerita sama semua keluarga. Saya kumpulin semua keluarga, terus saya ceritakan gini lho sebenarnya perbuatan saya itu sudah sejauh ini. Di situ kaget semua kan, ?Kamu narkoba??

Setelah peristiwa itu, masih kesulitan lepas dari narkoba?

Itu perjuangannya yang sulit banget. Jadi beberapa kali saya mengalami sakauw di Malang. Apalagi dipicu dari cuacanya dingin kan, itu bikin tulang-tulang sampai menusuk gitu. Cuma saya bersyukurnya, saya bertemu lingkungan yang mendukung saya. Jadi, support system itu saya dapat banget di situ. Jadi, saat saya sakauw teman-teman itu gantian ajak ngobroldialihkan pikirannyagitu lho. Diajak ngobrol, ya dihibur pokoknya diceritain sesuatu. Puji Tuhan cukup berhasil cara mereka.

Setelah direhab di Malang?

Saya pilih ke Bandung karena saya masih takut ke Jakarta. Pokoknya saya sudah pikir selama saya belum kuat, nih… Jangan ke Jakarta dululah. Jangan tinggal di Jakarta.

Takut lingkungan atau takut aparat?

Lingkungan. Kalau aparat dulu kan belum terlalu segencar sekarang ya. Iya. Dulu itu saya masih bebas-bebas saja lingkungannya. Karena kalau saya sudah ngerasa sembilan bulan bebas nih. Enaklah lebih sehat, jadi enggak maulah balik lagi (kena narkoba-Red). Ke Bandung tinggal sama kakak, di sana saya kuliah ambil Teologi.

Terkait kemampuan menulis, terdorong karena minat baca?

Iya, sejak kuliah tepatnya. Banyak tugas-tugas yang mengharuskan saya baca. Dan saya pikir, saya dulu masih dangkal banget nih. Apa ya pengetahuan saya tentang agama kan? Jadi benar-benar haus banget. Semua buku saya lahap, gitu.

Menjadi penceramah dan motivator hingga ke pelosok daerah

Menjadi penceramah dan motivator hingga ke pelosok daerah

Bagaimana kok bisa tertarik menuliskan pengalaman hidup itu?

Pengalaman sebenarnya dari orang-orang. Jadi, saya cerita orang bilang, ?Kamu bagus itu.” Sampai akhirnya kan stasiun SCTV buat program “Solusi”. Pas tayang kata MC-nya bilang, “Ini yang ratingnya cukup ini karena narkoba kali ya?” Mungkin, karena waktu itu masih pas kesaksian saya tayang itu jaman-jamannya Roy Martin ketangkep. Saya pengen bagaimana pencegahan narkoba tapi yang meluas gitu supaya cerita saya bisa didengar banyak orang. Ditawari bisnis seseorang, saya tolak kan, terus orang ini nanya, So, what your vision? Pencegahan narkoba. Melalui apa?? Saya juga bingung sebenarnya. Spontan aja. Saya terinspirasi sama seorang wanita, saya lagi pegang buku dia. Jadi wanita itu namanya Mc Dellin Kawoco. Dia ini juga penginjil wanita. Dia menulis buku. Melalui buku. “Kamu bisa nulis enggak?” “Enggak, tapi saya mau coba.” Saya bilang gitu. “Ok. Kamu tulis empat bulan ya waktunya, jadi saya support kamu.? Kata-kata itu, saya support kamu, itu membuat saya seperti bensinlah, bahan bakar buat saya. Langsung, setelah itu pulang saya bikin sketsanya tadinya cuma tiga bab. Saya bikin siang malam, akhirnya satu bulanlah jadi kisah hidup itu. Satu bulan terus cari-cari penerbit, cari-cari endorsement, baru di bulan ke empat sudah jadilah. Cari penerbit ya kebetulan diterima.

Itu support-nya dalam hal apa?

Yang orang tadi itu? Dia namanya, Bapak Elianto Widjaya. Support-nya dia sebenarnya lebih ke memberi semangat. Motivator gitu. Jadi dia benar-benar kalau empat bulan, empat bulan jadi. Kalau tipe saya kan mengalir. Kebetulan kakaknya dia senang menulis. Jadi, dia yang membedah buku saya dari yang tiga bab, “Kayaknya ini kurang klimaks-klimaksnya kurang jadi…” Jadi lima bab. Kakaknya dia yang bikin buku ini, jadi lebih bab per babnya. Itu lebih tajamlah konfliknya, gitu.

Setelah terbit bukunya?

Setelah Run or Die publish saya rasanya kok enggak puas gitu. Saya pengen benar-benar menulis. Saya cari buku di Gramedia tentang resep menulis bestseller gitu-gitulah.

Berlibur bersama sang pendukung utama dan suami tercinta Teddy Kurniawan

Berlibur bersama sang pendukung utama dan suami tercinta Teddy Kurniawan

Dapat buku apa?

Saya cari-cari banyak pilihan di situ. Saya milihnya bukunya Mas Edy itu, Resep Cespleng Menulis Buku Bestseller. Saya baca waktu itu lho kok ada workshop, workshop menulis ini Sekolah Penulis Pembelajar. Setelah saya ikut, wah pas banget ketemu komunitas yang sama-sama doyan menulis. Kebetulan Mas Edy langsung merespon, “Kamu mau enggak menulis di AndaLuarBiasa.com?” Saya mau banget, itu kan wadah saya untuk belajar diasah.

Yang ditulis artikel pengalaman atau ada tema-tema lain?

Saya tertarik pengembangan diri, tapi masih berkisar seorang yang kalau bicara narkoba itu berarti sudah kehilangan masa depan ya. Dari seorang yang bisa masa depan suram menjadi menulis. Itu, bagaimana ininya gitu apa aja langkahnya motivasi sih. Akhirnya—lama-lama tulisan pengembangan diri lebih banyak—saya tulis pengembangan diri AndaLuarBiasa.com.

Apa kontribusi ilmu theologi dalam tulisan Anda?

Ya ada pengajaran, jadi ya sangat ada kontribusi theologinya.

Apakah sempat terpikir, karena enggak punya bakat mungkin kurang maksimal di dunia tulis-menulis?

Enggak, sih. Saya tipe orang yang kalau sudah berkeinginan itu kuat ya. Masalah bagaimana hasilnya itu nanti aja, tapi kalau saya belum coba kayaknya belum mengambil kesimpulan saya tidak di situ. Coba dulu baru analisis belakangan… hahaha.

Kemampuan tulis-menulis meningkat?

Banyak berubahnya di sini, website Andaluarbiasa.com. Karena secara langsung dibantulah sama Mas Edy. Jadi, Mas Edy kan bilang, misalnya saya ingat waktu tulisan pertama saya itu judulnya itu masih kepanjangan. Itu dikritiklah dikasih masukan. Kemudian saya mulai melihat-lihat kebetulan saya punya favorit penulis itu, Ibu Eni Kusuma. Saya ketemu itu di website Pembelajar.com. Saya lihat dia orang luar biasalah. Ya, dari kalau lihat latar belakangnya pembantu, dan dia benar-benar buktikan kompetensinya. Saya ambil sampai beli buku itu, ketemunya di Bandung, di BSM lagi yang jauh banget, sampai saya pesan gitu suruh antar ke rumah saya.

Apa yang membuat Anda tertarik Eni Kusuma?

Mungkin awalnya ini ya, awalnya sih story-nya dia ya dari seorang pembantu, tinggal di Hongkong. Tapi dia benar-benar berjuang menunjukkan kompetensinya di bidang menulis. Awalnya itu… Cuma pas saya baca bukunya saya mengambil kesimpulan ini orang lumayan juga wawasannya, smart. Ya, untuk orang seperti dia gitu kan… Jadi banyak belajar dari mbak Eni juga sama satu lagi, Jenny S. Bev… Iya.

Selain tulis-menulis kegiatannya apa?

Pembicara. Tapi munculnya profesi baru ini dari buku. Jadi setelah buku itu terbit mulai banyak undangan gitu ya. Seputarnya sih seminar narkoba, terus seminar tentang remaja bagaimana memahami remaja, terus ya itu di Gereja bawain ceramah, anak muda di sekolah-sekolah talkshow tentang karakter juga… seputar itu. (sn)

Foto-foto: dokumentasi pribadi.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 6.0/10 (4 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Erni Julia Kok: Tuhan Menggunakan Saya Untuk Memberdayakan Orang Lain

erni-kav1Akhir-akhir ini orang mulai marak membicarakan NLP (Neuro Linguistic Programming). Meskipun kemunculannya ilmu ini terbilang cukup lama yakni pada pertengahan tahun 70-an namun di Indonesia sendiri perkembangan NLP belum semarak seperti halnya psikologi yang mempelajari cara manusia berperilaku. NLP adalah studi yang mempelajari bagaimana manusia dapat menjadi yang terbaik (human excellence). Inti dari NLP adalah cara memberdayakan orang melalui mindset dan mental sehat.

Salah satu praktisi NLP yang telah lama berkecimpung dalam bidang ini adalah Erni Julia Kok. Erni Julia Kok adalah NLP Trainer dan Advanced NLP Coach bersertifikasi internasional. Background akademik dalam bidang akuntansi tidak lantas menghambatnya bergerak dalam bidang NLP. Sebaliknya pengalaman bekerja dalam berbagai bidang telah membantunya berproses dengan cepat dan semakin memaksimalkan potensi serta minatnya dalam bidang NLP.

Aktivitas terakhir yang sedang dijalani adalah menulis buku, memberi training berbasis NLP untuk perusahaan-perusahaan, dan public workshop, melakukan penelitian untuk mengembangkan atau menciptakan teknik NLP baru. Penulis empat judul buku, Mental Pemenang Mental Pecundang (2010), NLP Untuk Semua (2009), Cara Pasti Menjadi Kaya (2008), dan The Ultimate Question (2008) ini mempunyai cita-cita yang besar mengenai perkembangan NLP selanjutnya di masa depan. Berikut adalah petikan wawancara Sofa Nurdiyanti dari AndaLuarBiasa.com dengan Erni Julia Kok pada September 2010.

Bisakah Anda jelaskan mengenai NLP? Gambaran singkatnya seperti apa?

NLP atau Neuro Linguistic programming adalah studi yang mempelajari bagaimana kita mampu melakukan apa yg kita lakukan secara baik (excellent). Pada umumnya seseorang melakukan suatu kegiatan dengan excellencet namun karena hal tersebut berada pada level sub consciousness maka sangat sulit mengajarkannya kepada orang lain. Maka solusinya adalah melalui modeling strategy dan mind set, dari situ sebenarnya NLP tercipta, MODELING.

Apakah mirip psikologi?

Hmmmm…. Ya dan tidak. Tergantung dari sudut pandang mana orang melihatnya. Ya jika kita mempertimbangkan bahwa NLP mempelajari dan memberdaya. Pikiran dmkn juga halnya psikologi.

Bisa dijelaskan lebih lanjut mengenai kemiripan atau perbedaan dengan ilmu psikologi?

Namun NLP juga menganut paham pikiran dan tubuh sebagai satu kesatuan yg systemic. Saya memilih untuk tidak memperbandingkan keduanya. Sebagian kaum ortodoks psikologi menganggap NLP itu bukan psikologi.

erni-dlm2Jadi intinya NLP adalah tentang cara memberdayakan orang lewat pembangunan mindset dan mental sehat? Apakah demikian?

Betul. Satu hal adalah akar NLP berasal dari modeling psikiater hebat.

Bisa Anda jelaskan lewat contoh kasus yang pernah Anda tangani? Bagaimana mempraktikkan NLP?

Apakah saat ini Anda merasa ada sesuatu yang kurang dalam hidup Anda?

Yang kurang menurut saya itu sekarang ini pikiran tentang masa depan, setelah lulus kuliah meski sudah membuat rencana untuk ke depan masih ada perasaan was-was?

Ok. Apa yang Anda was-waskan? Apakah karena belum tahu apa yang diinginkan?

Sudah tahu apa yang diinginkan namun karena belum dijalani jadi was-was?

Daripada was-was mendingan fokus pada apa yg diinginkan. Outcome thinking. Jika Anda fokus pada kekhawatiran Anda ragu-ragu terus. Tapi kalau fokus pada outcome maka langkah Anda pasti. Dalam NLP ini disebut outcome thinking approached.

Yang dimaksud outcome ini apakah cita-cita saya atau tujuan yang ingin saya raih? Apakah pertanyaan ini menjawab soal contoh kasus NLP? Saya jadi contohnya ya?

Ya, Anda contohnya sekalian praktek. Mudahnya menjelaskan outcome adalah begini.

Saya konsultasi gratis ini ceritanya?

Yes. Anda sedang haus, apa yang Anda inginkan?

Saya akan mencari minum!

Betul. Mencari minum adalah rencana, cita-cita atau goal Anda saat ini, pertanyaan berikutnya.

Lalu bagaimana menyingkirkan ragu-ragu dan fokus pada tujuan? Karena terkadang meski sudah mengetahui kita tidak usah ragu-ragu sulit untuk berpikir positif?

Saat ini Anda belum memulai kegiatan mencari minum, tapi Anda sudah nyusun rencana, bisakah Anda membayangkan apa rasanya ketika Anda meneguk segelas air nanti?

Iya bisa…

Tolong jawab dulu bisakan membayangkan bagaimana rasanya setelah minum? Bisakah melihat dengan mata mental diri Anda setelah mendapatkan minuman? Bisakan mendengar komentar atau diri sendiri mengatakan sekarang aku lega?

erni-dlm3Iya, saya akan merasa lega, segar, dan tidak kehausan setelah minum…

Ok. Begitu pula goal atau cita-cita Anda saat ini. Tutuplah mata sejenak, lihat apa yg Anda lihat, dengar apa yang Anda dengar dan rasakan apa yang Anda rasakan SAAT INI seakan-akan Anda telah mencapai goal Anda. Itu salah satu teknik NLP outcome setting. Anda mengirimkan sinyal ke alam pikiran sub consciousness.

Ok. Sekarang saya ingin bertanya, bagaimana awal perkenalan Anda dengan NLP?

Tahun 2005 saya telah mencapai cita-cita saya yang dirancang 1986, jadi saya mulai berpikir untuk melakukan sesuatu yang beda dan berguna bagi diri dan orang banyak, saya search di dunia maya dan menemukan NLP. Lalu saya kebetulan melihat workshop NLP Pak Wiwoho, lalu saya ikut. Setelah itu saya memperdalam terus sebab merasakan manfaat. Saya lebih bahagia. Berdaya. Komunikasi dalam keluarga dan kantor membaik. Sehingga tiga tahun kemudian (2008) saya memutuskan meninggalkan dunia kerja dan total mengajar atau mengembangkan NLP. Pengalaman hidup dan kerja yang variatif mendukung kecepatan saya. Teknik NLP membantu saya meningkatkan diri dalam hal training, latihan mental bisa 1000 jam meskipun saya baru memberikan training 100 jam pada awalnya. Anda dapat membandingkan jawaban saya dengan buku yang saya tulis.

Sebelumnya bekerja di bidang apa?

Background akademi saya akuntansi dan management keuangan. Saya bekerja di berbagai bidang yang berbeda sejak 1986 hingga 2008. Terakhir saya bekerja sebagai Commercial Director di sebuah perusahaan asing multinasional di Jawa Timur.

Sekarang total bekerja di bidang NLP?

Dapatkan pula jawaban di buku saya dong. Total. Sebenarnya bukan bekerja di bidang NLP. NLP tuh bukan bidang pekerjaan, tapi saya men-training, menulis, coaching, dan business consultan yang memadukan NLP dengan ketrampilan-ketrampilan lainnya.

Apakah ada jenjang pendidikan khusus yang harus ditempuh untuk memperdalam ilmu NLP?

Ya, mulai NLP Practitioner, Master Practitioner, Trainer & consultancy, dan terakhir Master Trainer.

Lalu, pengalaman apa yang paling mengesankan setelah terjun sebagai praktisi NLP?

Melihat orang lain menemukan kepercayaan diri bahwa setiap diri kita pantas untuk mencapai kesuksesan sebesar-besar yang diinginkannya. Dan saya boleh jadi papan penunjuk jalan buat orang-orang itu Dan saya tak pernah lagi khawatir akan masa depan saya sendiri.

Menjadi berkah bagi orang lain?

Mudah-mudahan. Tuhan menggunakan saya untuk memberdayakan orang lain. Sementara ini saya hanya tahu melakukan pekerjaan saya sebaik-baiknya.

Amin. Pernahkah Anda mengalami hambatan ketika melakukan training NLP pada klien?

Syukurlah belum.

Apa yang Anda rencanakan di masa mendatang setelah pencapaian selama ini?

Setelah ini saya ingin menjadi pengembang NLP karena NLP akan terus berkembang. Terus menulis buku. Kalau diberi umur panjang 100 buku. Memasukkan NLP ke dalam kurikulum kuliah. Menulis buku fiksi.

Selain bidang pengembangan NLP, apakah ada bidang lain yang ditekuni?

Investasi dan perkebunan. Mendirikan rumah jompo dengan fasilitas hotel bintang lima.

erni-dlm4Luar biasa! Biasanya kalaupun ada yang ingin mendirikan panti jompo tidak ada embel-embel bintang limanya….?

Harus beda. Rumah jompo bukan tempat membuang orang tua tapi tempat menikmati masa pensiun.

Menurut Anda bagaimana perkembangan NLP di Indonesia saat ini? Apakah sudah diterima dengan baik oleh masyarakat?

Satu kata: kacau.

Maksudnya Anda?

Biasalah masih banyak yang belum benar-benar paham apa itu NLP dan memang tidak dan barangkali tak perlu adanya standar.

Kalau tidak ada standarisasi apakah tidak akan semakin kacau?

Seperti sms yang baru saya terima mama minta belikan dulu pulsa.. (penipuan lewat sms-red.) masyarakat tetap perlu teliti memilih trainer yang kompeten untuk belajar NLP. Saat ini saya hanya bisa mengajarkan satu hal belajar NLP bermutu tak perlu mahal. Saya yakin akan terseleksi sendiri nantinya dan yang tidak bermutu akan terpinggirkan.

Ok. Di Indonesia sendiri apakah ada himpunan untuk praktisi NLP guna meminimalkan kekacauan itu? Seperti himpunan psikologi untuk bidang psikologi?

Karena dasarnya NLP itu public domain yang boleh dimanfaatkan siapapun dan tidak ada resiko mempraktekkannya maka buat apa? Selama 35 tahun sejak diciptakan pertengahan tahun 70 belum ada yang gila mempraktekkan NLP, kalau yang sukses banyak. Kalaupun ada saya tak akan bergabung. Kalau komunitas okelah.

Terima kasih, senang bisa bincang-bincang dengan Anda.

Iya sama-sama.[sn]


VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Risfan Munir: Kita Harus Kembangkan Mindset Appreciative!

Risfan Munir

Risfan Munir

Sadar atau tidak, setiap hari kita disuguhi bahkan terpenjara oleh berbagai macam informasi dan pemberitaan yang sifatnya negatif. Karena begitu dominannya model pemberitaan dan arus informasi sejenis itu, mau tak mau persepsi dan pemikiran kita terpengaruh pula sehingga menjadi ikut negatif. Akibatnya, bisa saja kita terbawa kepada pilihan-pilihan sikap dan perilaku negatif pula. Padahal, perspektif negatif sangat sulit diandalkan untuk menyelesaikan masalah dengan baik karena memang sifatnya yang selalu “mengkritisi” atau bahkan menyabotase optimisme.

Risfan Munir adalah seorang trainer, fasilitator, dan motivator yang mengajukan gagasan tentang pentingnya pengembangan karakter dan mindset yang lebih fokus pada kemajuan dan perbaikan dengan rasa syukur, pikiran jernih, apresiasi atau penghargaan, serta optimisme. Sebab, menurut Munir, untuk menghadapi deraan pengaruh negatif dari berbagai penjuru di atas, yang harus dibangkitkan saat ini adalah rasa optimisme di segala bidang.

“Seni mengapresiasi keberhasilan, walau itu kecil, akan lebih efektif untuk mendorong perbaikan di semua bidang, daripada kritik misalnya. Karena, kebanyakan orang kalau dikritik akan mencari kambing hitam dan mereka kian apatis,” ujar Risfan Munir memberikan contoh penyikapan berdampak positif dan solutif.

Risfan Munir sehari-hari adalah seorang konsultan di bidang perencanaan, manajemen, dan pengembangan kapasitas organisasi swasta, LSM, dan pemerintah baik di pusat maupun daerah mulai dari Sabang hingga Merauke. Pria kelahiran Malang Jawa Timur tahun 1955 ini menamatkan studi Strata Satu dan Strata Dua di Institut Teknologi Bandung (ITB), dan sempat belajar Real Estate Finance pada University of Texas at Arlington, USA. Risfan Munir juga aktif sebagai di bidang pengembangan kewirausahaan, dinamika klaster ekonomi lokal, peningkatan kinerja manajemen usaha maupun pelayanan publik.

Kolomnis Tetap AndaLuarBiasa.com ini sudah menghasilkan beberapa buku, yaitu Pengembangan Ekonomi Lokal Partisipatif, Skema Tindakan Peningkatan Pelayanan Publik, Good Practices dalam Pengembangan UMKM, Good Practices dalam Peningkatan dan Pelayanan Kesehatan, dan yang terbaru berjudul Jurus Menang dalam Karier dan Hidup ala Samurai Sejati (GPU, 2009). Buku yang digali berdasarkan kombinasi nilai-nilai ala bushido samurai dengan pendekatan Neuro Linguistic Program (NLP) tersebut cukup menarik untuk didiskusikan. Berikut petikan perbincangan Edy Zaqeus dari AndaLuarBiasa.com dengan Risfan Munir pada Januari 2010 lalu:

Apa isi buku Jurus Menang dalam Karier dan Hidup ala Samurai Sejati ini?

Ya, buku saya ini mengenai bagaimana mencapai kemenangan, dalam karier, pekerjaan, ataupun dalam kehidupan sehari-hari.

Ini buku motivasi atau buku how to?

Boleh dibilang keduanya. Motivasi, karena bicara mencapai “kemenangan” kan berarti memotivasi diri untuk selalu menuju kepada cita-cita dan tujuan dengan selalu bersemangat. Juga tentang how to. Karena, dalam tiap bab atau jurus, saya selalu memaksudkannya supaya dapat diterapkan secara langsung. Ada jurus atau langkah pada tiap akhir bab yang saya beri istilah katana atau pedang.

Risfan Munir bersama kolega

Risfan Munir bersama kolega

Bagaimana sampai Anda begitu menggemari filosofi para samurai dan membuatnya menjadi buku panduan dan motivasi?

Memang sejak masa sekolah saya suka baca kisah tentang ksatria seperti Nogososro Sabuk Inten. Juga kisah bersambung samurai Musashi. Umumnya bacaan ini mengisahkan kepahlawanan dan keteguhan dalam meraih cita-cita, atau membela apa yang diyakini. Belakangan, saya membaca lebih jauh tentang kisah samurai termasuk The Book of Five Rings yang ditulis sendiri oleh pendekar samurai Musashi. Di situ saya baca bagaimana “permainan persepsi” begitu banyak diungkapkan sebagai kunci kemenangan. Saya pikir ini sesuai dengan perkataan pakar marketing Al Ries, “We are not in the battle of product, but perception.” Kita semua sekarang merasakannya, betapa perang persepsi yang disampaikan lewat media, baik dalam pemasaran, iklan, atau debat politik telah “memusingkan” kita semua.

Menurut Anda, apa istimewanya filosofi para samurai tersebut?

Yang saya jadikan acuan adalah kisah dua tokoh. Pertama, Musashi yang dijuluki sebagai the Lone Samurai, yang merupakan pendekar yang secara mandiri unggul. Dalam buku yang ditulisnya sendiri, The Book of Five Rings, dia menegaskan pentingnya “bermain persepsi” untuk mencapai kemenangan. Ini yang menurut saya sesuai dengan situasi masa kini di mana “permainan persepsi”, terutama via media massa, telah memengaruhi pikiran kita, fokus kita dalam mencapai tujuan, dan semangat atau optimisme kita. Karena itu, saya ingin berbagi dalam “bermain persepsi” ini melalui jurus-jurus menang itu. Tokoh samurai kedua yang saya jadikan acuan ialah Hideyoshi Toyotomi. Dia tokoh nyata dalam sejarah bangsa Jepang yang kepemimpinannya telah berhasil mempersatukan Jepang setelah masa perang antarklan lebih dari seabad. Hideyoshi disebut sebagai “Samurai Tanpa Pedang”. Mengapa? Karena dia tidak mengandalkan kekerasan dalam kariernya, melainkan persuasi dan sifat kepemimpinannya. Karena itu, jurus-jurus persuasi yang dia contohkan saya pikir layak diangkat dalam situasi bangsa kita yang cenderung suka bertikai saat ini.

Berbagi pengalaman menulis buku

Berbagi pengalaman menulis buku

Balik lagi ke proposisi Al Ries, semua ini soal permainan persepsi. Apakah ini terkait dengan bidang NLP yang Anda tekuni?

Betul. NLP (Neuro Linguistic Programming: red) dalam hal ini saya gunakan sebagai alat bantu untuk lebih mudah menanamkan apa yang dipelajari pembaca ke dalam “pikiran bawah sadar.” Perubahan sikap dan perilaku akan lebih cepat dan efektif kalau apa yang kita pelajari masuk ke “pikiran bawah sadar” sehingga menjadi refleks spontan saat dibutuhkan.

Bagaimana ceritanya sampai filosofi samurai bisa dikait-kaitkan dengan NLP? Yang satu tradisional dan berusia ratusan tahun, satunya lagi ilmu yang baru saja dikembangkan?

Di situlah menariknya. Sebetulnya tidak terlalu aneh ya karena keduanya, baik pendekatan tradisional maupun yang masa kini, kan menyangkut aspek psikologi. Kalau soal nilai-nilai kesatria, sportivitas, itu kan universal, tak mengenal waktu. Tapi menyangkut pendekatan, metode, kan mestinya kalau ada metode lebih baru juga bisa dimanfaatkan. Sekali lagi ini menyangkut aspek psikologisnya ya. Kan saya tidak bicara tentang ilmu fisik bermain pedangnya. Poin yang paling menonjol yang ditunjukkan oleh Musashi adalah “kejernihan pikiran” atau persepsinya dalam menanggapi segala sesuatu.

Soal kejernihan pikiran ini, kalau dari kacamata NLP apakah juga penting untuk pengembangan diri seseorang?

Tentu. Karena, NLP secara praktis adalah teknik memainkan pikiran. Bagaimana agar kita bisa menguasai dan mendaya gunakan pikran kita sendiri? Baik “pikiran sadar” maupun “pikiran bawah sadar”. Betapa sering kita seperti berpikir. Padahal, sesungguhnya kita hanya bereaksi atas bujukan atau provokasi pihak lain terhadap kita. Contohnya, tiap pagi kita memulai hari dengan perasaan segar karena baru bangun dari istirahat. Namun, kita awali kegiatan dengan baca koran, melihat televisi yang menampilkan berita tidak menyenangkan. Maka, suasana pikiran kita berubah seketika. Kita jadi murung, kurang optimis, atau ikut-ikutan bicara, diskusi, seolah kita ahli politik, ahli hukum. Seperti berpikir, padahal hanya bereaksi saja atas berita. Padahal semua yang kita tonton itu belum tentu berpengaruh.

Risfan sebagai trainer, fasilitator, dan motivator di lapangan

Risfan sebagai trainer, fasilitator, dan motivator di lapangan

NLP penting untuk membedah sistem berpikir seseorang, apakah mengarah ke efektivitas atau inefektivitas. Betul begitu?

Betul. NLP sebagai teknik psikologi praktis dapat digunakan untuk meningkatkan efektivitas berpikir. Ini supaya seseorang bisa menjadi “tuan bagi pikirannya sendiri”. NLP berguna untuk menata pikiran dan motivasi diri agar efektif. NLP juga penting untuk berkomunikasi dengan orang lain, baik individu maupun audiens. Bagusnya, selain mengungkap aspek verbal, NLP juga mempelajari perasaan dan tingkah laku yang “tak disadari” seseorang. Misalnya, untuk memvisualisasi visi atau sasaran yang ingin dicapai seseorang. Dengan metode NLP, kita tidak cukup hanya membayangkan rupa mobil dan jumlah uang yang ingin kita raih. Tetapi, kita juga harus tahu “bagaimana perasaan waktu itu, apa warna-warna yang muncul, bagaimana wajah orang yang kita cintai saat memberi selamat”. Ini penting agar pikiran bawah sadar kita juga merasakan “sukses” yang kita idamkan itu. Mengapa? Ini supaya setiap saat—tanpa kita sadari—gambaran tersebut akan senantiasa mengingatkan dan “memandu” kita menuju sasaran.

Menggabungkan perspektif NLP dengan filosofi samurai jelas bukan perkara mudah. Anda menemui kendala dalam penulisan buku ini?

Ada seninya dalam hal ini. Yaitu, bagaimana menangkap pesan atau pengalaman psikologis samurai. Terutama Musashi yang menulis sendiri pengalaman psikologis dan pemikirannya dalam bukunya. Kemudian, saya coba mengaitkannya dengan beberapa jurus atau program NLP yang biasa saya gunakan sebagai praktisi. “Berpikir tanpa persepsi” atau “Jadilah lawanmu”, memahami pikiran lawan bicara misalnya. Ini pesan Musashi. Ini justru akan lebih efektif dan mudah kalau menggunakan jurus NLP, seperti yang saya tulis dalam buku ini.

Menurut Anda, siapa saja yang paling membutuhkan buku ini sekarang dan mengapa demikian?

Buku ini bisa bermanfaat bagi siapa pun. Baik wirausahawan, eksekutif, karyawan, mahasiswa, pelajar, maupun orang tua. Tiap orang bisa membaca dan menerapkan jurus-jurus atau metode yang disarankan dalam buku ini sesuai kebutuhannya. Membacanya pun tidak harus urut dari awal sampai akhir. Karena, pada intinya buku ini didasarkan pada asumsi bahwa setiap orang, apa pun perannya di keluarga dan masyarakat, dia punya cita-cita dan keinginan tetapi juga punya “hambatan internal” dalam dirinya. Apa saja? Takut, ragu, malu, merasa tak pantas, dan seterusnya. Juga ada “hambatan lingkungan” seperti tekanan atasan, orang tua, dan olok-olok teman. Jurus-jurus dalam buku ini dimaksudkan untuk menepis hambatan internal, menembus hambatan lingkungan, bahkan mendapatkan dukungan dari teman atau orang yang kita anggap lawan.

mengembangkan gagasan mindset appreciative

mengembangkan gagasan mindset appreciative

Baik, apa yang Anda dapat dari menulis buku ini?

Banyak nilai yang saya peroleh dari menulis buku ini. Pertama, perjuangan menulis hingga diterbitkannya buku ini oleh Gramedia merupakan bukti “kemenangan” atas diri sendiri, tentunya dengan menggunakan jurus-jurus yang saya sarankan dalam buku ini. Kedua, proses menulis di tengah kesibukan kerja rutin sungguh merupakan perjuangan tersendiri. Penerapan jurus dalam berkomunikasi menghasilkan dukungan dari teman, terutama dari Proaktif Writer Schoolen (lembaga pelatihan menulis untuk profesional: red), dan sesama Kolomnis Tetap AndaLuarBiasa.com. Ini sungguh merupakan nilai tinggi yang tak saya duga sebelumnya. Ketiga, undangan untuk berbicara, untuk men-training-kan jurus-jurus dalam buku ini di perusahaan swasta, kelompok swadaya masyarakat, dan komunitas sosial. Ini merupakan kebahagiaan yang juga tak saya duga sebelumnya. Keempat, datangnya syukur saat orang menyampaikan bahwa jurus tertentu telah membantu dia untuk mengatasi persoalan yang dia hadapi, membantu gugus kerjanya menyusun resolusi tahun baru, atau membantu kelompok UKM yang dia bina, dan lain sebagainya.

Apa profesi Anda dan sebenarnya apa yang sehari-hari Anda lakukan?

Profesi saya sehari-hari adalah konsultan perencanaan kota atau daerah, manajemen pelayanan publik dan pengembangan ekonomi atau kelompok UMKM setempat. Dalam hal ini saya sering berkunjung ke berbagai daerah di Tanah Air dan melakukan perbandingan dengan yang terjadi di beberapa negara. Dari pengalaman tersebut saya belajar bahwa “seni mengapresiasi” keberhasilan, walau itu kecil, akan lebih efektif untuk mendorong perbaikan di semua bidang, daripada kritik misalnya. Karena, kebanyakan orang kalau dikritik akan mencari kambing hitam dan mereka kian apatis. Saat ini, masyarakat kita perlu dibangkitkan optimismenya sehingga persepsi apresiatiflah yang sebaiknya kita sebarkan.

Kalau untuk profesi tersebut, hal teknis apa yang biasa Anda lakukan?

Pada saat ini, sebagai konsultan perencanaan ataupun menajemen, kita tidak bisa bekerja di belakang meja. Kita harus bertindak sebagai fasilitator, moderator, dan mau tak mau jadi motivator juga dalam memfasilitasi stakeholders. Mereka adalah pemerintah daerah, swasta, dan masyarakat. Kita memfasilitasi dalam merumuskan masalah dan secara partisipatif merumuskan solusi, menyusun rencana, baik rencana pembangunan, peningkatan pelayanan publik serta pemberdayaan kelompok UMKM.

Persoalan-persoalan paling krusial seperti apa yang Anda temui di kota-kota atau daerah yang Anda tangani?

Masalah paling krusial saat ini terutama karena terjadinya perubahan yang cepat, akibat pertumbuhan penduduk perkotaan yang tinggi, namun tidak diimbangi kesempatan kerja. Akibatnya adalah besarnya angka kemiskinan perkotaan dan masalah sosial ikutannya. Sementara, pemerintah daerah masih “kaget” dengan otonimi daerah. Kebanyakan sumber dayanya terbatas sehingga banyak yang kebingungan akan melakukan apa. Akhirnya, yang dibuat malah yang bukan kebutuhan warganya. Sementara itu, mengingat potensi sumber daya yang dimiliki masyarakat dan swasta, mestinya mereka diajak berpartisipasi dalam pembangunan kota atau daerah. Tetapi karena sikap mental atau persepsi yang masih belum bisa berubah, potensi tersebut tak bisa dilibatkan kontribusinya secara optimal. Masalah lain terkait sikap psikologis yang cenderung tidak positif.

Bersama para Kolomnis Tetap AndaLuarBiasa.com

Bersama para Kolomnis Tetap AndaLuarBiasa.com

Apa yang kira-kira bisa disinergikan antara permasalahan-permasalahn tersebut dengan “ilmu tambahan” yang Anda tulis dalam buku samurai ini?

Yang pokok ya itu tadi, ada jurus-jurus yang menyarankan kita untuk menginventarisir “keberhasilan”. Walau masih kecil, sedikit, daripada berfokus pada identifikasi atau menggali “persoalan”. Persepsi atau cara pandang inilah yang banyak saya ambil dari buku yang saya tulis ini. Ini pula yang saya terapkan dalam memfasilitasi stakeholders pemerintah daerah ataupun klaster UMKM di daerah.

Apa mereka tahu prinsip-prinsip tersebut diambil dari filosofi samurai dan NLP?

Kepada audiens atau konsumen akhir tidak saya sampaikan. Karena, bagi mereka yang penting masalah mereka terpecahkan, rencana tersusun. Tapi kepada para jaringan fasilitator, baik dari perguruan tingi, LSM atau individual, metode termasuk jurus-jurus dalam buku ini saya sampaikan. Dan, para fasilitator itulah pembaca dan pengguna buku ini. Namun, banyak juga audiens yang akhirnya tertarik membaca buku ini karena sudah merasakan manfaatnya. Kepada mereka saya jelaskan nilai hiburan dan manfaat praktis buku ini.

Ada pengalaman menarik pascapenerbitan buku Anda ini?

Ya, undangan untuk men-training-kan buku ini. Padahal, tadinya saya pikir hanya hanya untuk dibaca. Pengalaman menarik yang masih datang hingga hari ini ialah apresiasi pembaca via Facebook, email, dan SMS. Ini di luar dugaan saya. Saya pikir setelah menulis, buku terbit, ya selesai. Tadinya saya ragu apakah saya bisa dan berani menulis di luar bidang profesional konsultan. Ternyata, dengan sambutan dari kalangan akademisi pula, membuat penulisan bidang baru ini menjadi “bagian dari diri saya” juga. Apalagi setelah banyak kenalan “minta advice” untuk masalah-masalah motivasi, komunikasi, dan psikologi praktis lainnya. “Bagaimana pendapat Samurai Sejati?” tanya mereka misalnya. Pertanyaan seperti main-main tapi jadi pengalaman menarik pula…

Apa rencana Anda ke depan terkait dengan profesi maupun dunia kepenulisan yang sudah Anda masuki?

Ke depan yang saya pikir adalah bagaimana terus mendorong meningkatkan kualitas manajemen pelayanan publik, good governance, pemberdayaan klaster UMKM, dengan menanamkan persepsi yang lebih “appreciative”, menghargai apa yang sudah dicapai walau masih kecil. Untuk penulisan buku, target saya ialah menulis buku tentang Manajemen Apresiatif  untuk menyebarkan “virus” apresiasi dan mempertajam kemampuan “bersyukur”. Harapan saya, buku ini akan meraih predikat bestseller. Sebuah buku yang punya pengaruh besar dalam meningkatkan nilai kemenangan dan kesejahteraan pembaca serta lingkungannya.[ez]

Foto-foto: Dokumentasi Risfan Munir

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 5.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: -1 (from 3 votes)

Wilson Arafat: Satu Menit Kita Tidur, Satu Tahun Negara Lain Sudah Berlari

Wilson Arafat

Wilson Arafat

Wilson Arafat adalah seorang Corporate Governance and Corporate Culture Specialist, penulis buku-buku manajemen, dan professional writer. Sekarang, pria kelahiran Palembang, 21 Maret 1972, yang sehari-hari bekerja di BTN ini semakin sering memberikan pelatihan-pelatihan tentang GCG di berbagai perusahaan, termasuk birokrasi pemerintahan. Belakangan ini, selain sedang bersemangat memberikan seminar-seminar dan pelatihan mengenai pentingnya penerapan GCG, Wilson juga terus menelurkan konsep-konsep dan model-model aplikasi GCG, baik dalam format ratusan artikel, paper atau makalah ilmiah, dan buku popular.

“Sepuluh tahun terakhir saya ber-‘asyikmasyuk’ dengan GCG. Dan, saya melihat hal ini penting untuk dibumikan di negeri ini,” jelas Wilson dalam sebuah wawancara online. Selain demi menyongsong ketatnya persaingan global, Wilson melihat urgensi penerapan GCG adalah untuk menciptakan keseimbangan di antara berbagai kepentingan semua pihak terkait dalam korporasi. “Apalagi di perusahaan, ketika enggak imbang antara kepentingan pemegang saham dengan kepentingan manajemen, maka akan terjadi kerusakan. Pada akhirnya, tidak ada check and balances. Tinggal tunggu waktunya, perusahaan atau apa pun akan hancur, KKN menggurita,” jelas alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta ini.

Namun, bukan soal GCG saja—sebagaimana akan kita kupas dalam paruh pertama wawancara ini—yang dia kuasai. Suami dari Ina Marlina dan ayah dari Fathir Filbert Fahrudin ini sudah menelurkan enam buku manajemen/marketing serta dikenal piawai sekali menulis untuk perlombaan karya tulis. Tak kurang sepuluh award atau penghargaan dia raih dari berbagai perlombaan menulis artikel maupun karya ilmiah popular untuk bidang manajemen, pemasaran, dan perbankan. Soal kiat-kiat memenangkan perlombaan menulis inilah yang akan menjadi fokus paruh kedua wawancara ini.

Wilson Arafat adalah sosok pemikir muda berbakat yang seolah muncul meneruskan tradisi intelektual dan keilmuan dari para tokoh pemikir andal dari Tanah Sriwijaya. Dia tinggal menunggu waktu saja untuk semakin bersinar dalam kiprah profesional maupun pengabdiannya kepada masyarakat. Ide-idenya terus mengalir dan semangatnya tidak pernah padam untuk senantiasa berkarya. Banyak pelajaran yang bisa kita petik dari semangat maupun gagasan-gagasan Wilson. Berikut petikan wawancara Edy Zaqeus dari AndaLuarBiasa.com dengan Wilson Arafat belum lama berselang.

Sudah berapa buku yang Anda tulis dan apa saja temanya?

Sudah enam buku, buku kesatu dan kedua bertema marketing, ketiga manajemen perbankan, keempat dan kelima tentang Good Corporate Governance atau GCG, dan keenam saya sebagai ghost writer buku tentang leadership.

Bagaimana ceritanya, selain berkarier di perbankan Anda akhirnya menekuni bidang GCG?

Kalau boleh bercerita sedikit, petualangan ‘intelektual’ saya cukup berliku hehehe… Mulanya saya berminat menjadi marketer sejati. Studi S-2 saya fokus ke marketing. Cuma dalam perjalanan karier, saya menemui banyak jenis pekerjaan. Misalnya, mengelola manajemen perbankan dan manajemen strategik. Namun, sepuluh tahun terakhir saya ber-‘asyikmasyuk’ dengan GCG. Dan, saya melihat hal ini penting untuk dibumikan di negeri ini. Ide-ide saya cukup banyak yang ingin saya tuangkan sebagai sumbangsih pemikiran saya. Artikel, makalah, dan paper saya sudah dimuat di berbagai media, diapresiasi sejumlah lembaga, dan saya tuangkan juga menjadi buku. Jadinya saya sekarang fokus menjadi corporate governance and corporate culture specialist.

Dari tema-tema buku GCG yang sudah Anda tulis, masing-masing apa bedanya?

Buku How to Implement GCG Effectively mengungkap horizon delapan langkah strategis dalam membumikan sistem dan budaya GCG. Buku ini menguraikan secara big picture bagaimana membumikan GCG secara efektif. Buku Smart Strategy for 360 Degree GCG: Simple, Clear, and Applicable. Buku ini mengupas tuntas bagaimana strategi melaksanakan GCG dengan sebaik-baiknya. Lengkap diuraikan tahapan dan langkah-langkahnya sesuai best practice. Dan, sekarang saya lagi proses memuat buku GCG ketiga berjudul How to Assess GCG Effectively: To be A trusted Company. Ini merupakan pedoman komprehensif untuk mengukur kinerja penerapan GCG.

Anda mahir membuat model-model teoritikal. Bagaimana cara mengasah dan mengembangkan keterampilan tersebut?

Kata Einstain, maestro yang sangat saya kagumi, “Belum dikatakan seseorang itu pakar kalau orang itu belum bisa membuat sesuatu yang rumit menjadi sederhana.” Ini yang saya pegang. Saya berupaya membuat sesuatu yang teoritikal, kata orang rumit, bisa jadi model. Cukup satu gambar, tidak lebih dari satu halaman. Jadi, kuncinya adalah berpikir sederhana dan membuat sesuatu yang rumit itu jadi simple.

Untuk buku-buku GCG, model apa saja yang sudah Anda ciptakan?

Ada Model Indeks/Peratingan GCG, ada model implementasi strategi yang saya namakan GCG Strategy Map 3, Road Map Implementasi GCG, Model Peta Sukses Meraih Tata Kelola yang Baik, Model Transformasi Budaya GCG, dan ada beberapa yang lain.

GCG

GCG

Sebagai awam, pertanyaan saya apa urgensi GCG bagi perusahaan/organisasi yang baru berkembang maupun yang mapan?

Urgensinya terletak pada esensi dari penerapan GCG itu. Yaitu menciptakan keseimbangan antara kepentingan sosial versus ekonomi. Imbang antara kepentingan internal versus eksternal. Imbang antara kepentingan stakeholders versus shareholders. Imbang kepentingan jangka pendek versus jangka panjang. Imbang antara tujuan komunal versus individual. Menurut saya, semua kehancuran di Republik ini adalah karena ketidakseimbangan di berbagai bidang. Contohnya, banjir itu karena kesimbangan terganggu, habitat alam sudah rusak. Apalagi di perusahaan, ketika enggak imbang antara kepentingan pemegang saham dengan kepentingan manajemen, maka akan terjadi kerusakan. Pada akhirnya, tidak ada check and balances. Tinggal tunggu waktunya, perusahaan atau apa pun akan hancur, KKN menggurita. Nah, GCG akan memberikan keseimbangan, itulah urgensinya.

Apakah aplikasi GCG masuk juga ke ranah organisasi birokrasi pemerintahan?

Kalau ranah organisasi pemerintah namanya Good Public Governance. Prinsipnya sama, variabelnya yang beda, scope-nya juga lebih luas karena melibatkan tiga pilar; pemerintah itu sendiri, dunia usaha, dan masyarakat luas. Ketiga pilar itulah yang nantinya akan menentukan terciptanya Good Public Governance. Semua memainkan peranannya masing-masing. Jadi, pada organisasi pemerintahan juga menjadi keniscayaan.

Birokrasi pemerintahan selalu dipersepsi sebagai organisasi lamban dan tidak inovatif. Apakah bisa ditransformasikan ke birokrasi modern yang punya sikap setanggap korporasi-korporasi modern misalnya?

Wah, pertanyaan yang sungguh luar biasa panjang jawabannya hehehe…. Namun untuk Indonesia, kata kunci sangat signifikan—kalau mau berhasil mentransformasi birokrasi mendekati ketanggapan korporasi—menurut saya itu di sisi leadership. Penting sekali di Indonesia. Beberapa gubernur di Tanah Air, karena punya visi entrepreneurship, mereka bisa melaksanakannya. Sayangnya, mereka sangat kecil jumlahnya. Yang ada adalah leadership yang kental dengan ‘darah politik’. Menurut saya, perlu birokrat-birokrat yang berjiwa entrepreneur sehingga leadership-nya kental juga ke visi inovasi. Jangan habiskan waktu kita hanya untuk politik yang menguras tenaga, pikiran, dan biaya yang luar biasa. Ini era informasi dan abad globalisasi, Bung hehehe…. Satu menit kita “tidur”, satu tahun negara lain sudah berlari. Jadi menurut saya, pada saat ini leadership-lah yang menentukan “hitam-putih” organisasi pemerintahan.

Apakah model GCG mampu mengakomodasi pandangan Anda tersebut. Atau, Anda berminat mengembangkan model-model baru untuk modernisasi birokrasi?

Saya ada ‘mimpi” ke sana. Mudah-mudahan juga bisa memberi sumbangsih yang signifikan untuk masyarakat kita. Model GCG tentu mampu mengakomodirnya. Tentunya diperlukan political will untuk itu. Dengan kata lain, prinsip GCG adalah meletakkan ‘kamar’ masing-masing organ organisasi sesuai pada tempatnya. Jadi, prinsip-prinsip GCG sangat diperlukan untuk modernisasi organisasi pemerintah. Doakan kerja saya itu ya….

Ok, kalau ada permintaan pelatihan-pelatihan untuk birokrasi pemerintahan daerah misalnya, apakah tertarik dan siap meladeni?

Itu sudah saya jalani itu. Misalnya, di Permerintahan Daerah Sabang. Sangat menarik itu. Menata Good Governance di daerah istimewa, di wilayah yang istimewa juga. Saya sangat siap.

Profesi

Profesi

Untuk menyelesaikan setiap buku yang Anda tulis, rata-rata butuh berapa lama?

Lebih kurang satu bulan, itu sudah draf final. Jadi minus layout, editing, advice konsultan, cover, minta endorsement, dsb.

Buku-buku Anda padat dengan referensi teori. Bagaimana teknik menulis buku semi ilmiah seperti itu dalam waktu singkat?

Pertama, jadikan menulis sebagai ‘darah daging’ kita, denyut jantung kita. Itu untuk menorehkan sejarah emas selama kita masih bisa berkarya di dunia ini. Dengan demikian, kita akan mencintai pekerjaan kita sebagai penulis. Akan ada sejumlah energi yang sungguh dahsyat yang membuat kita dibimbing dari Langit untuk menulis dengan lancar. Kayak air mengalir hehehe… Dengan demikian kita tidak pernah merasa lelah menulis. Dan, apa yang kita dengar, apa yang kita lihat, apa yang kita baca, semuanya bisa jadi referensi untuk menulis. Alam semesta adalah guru, bertemu kolega adalah guru. Bahkan, bertemu pengemis dan minta tolong sama pembantu adalah guru juga. Mereka juga profesor-profesor saya, selain buku-buku yang saya baca.

Dan, kata Anda menulis juga perlu berdoa?

Ya, jangan pernah lupa berdoa ketika menulis. Mohon kepada-Nya supaya dibimbing untuk menulis dan hanya memberikan hal yang berharga kepada ‘dunia’. Percaya atau tidak, ini adalah kekuatan yang paling dahsyat. Menurut saya, itu soft side kita dalam menulis. Selain itu, kita perlu hardside-nya. Kita harus piawai dengan ilmu menulis dan harus menguasai ilmu yang kita tulis. Belajar ilmu menulis di antaranya ikut workshop menulis, bergaul dengan komunitas dan penulis andal seperti Edy Zaqeus hehehe….

Kalau cara menguasai bidang kepenulisan kita, ada kiatnya?

Kiat menguasai ilmu yang ditulis, saya juga punya. Kita harus paralel dengan apa yang kita kerjakan sehari-hari. Sepuluh tahun terakhir saya bergelut dengan GCG. Menjadi narasumber workshop, seminar, dan juga langsung terjun ke lapangan. Saya merasakan ‘denyut nadi’ berbagai persoalan yang terjadi di lapangan. Selain itu, kita harus membaca banyak literatur. Dengan demikian, pekerjaaan sukses dan bisa pula berkarya lewat goresan pena, malah bertambah lancar. Intinya adalah bekerja dan menulis dengan smart, itu orang-orang sukses yang bilang.

Smart Talk Show

Smart Talk Show

Satu-satu saja, ya. Penghargaan untuk tema GCG antara lain; pertama, dari Center for Good Corporate Governance, FE UGM. Kedua, dari Bank Indonesia. Ketiga, dari BPKP. Keempat, dari Bank BNI dapat dua kali penghargaan. Kelima dari Universitas Trisakti. Sedang untuk tema marketing; pertama, dari Nokia Marketing Award saya menang dua kali penghargaan. Kedua, dari Bank BTN. Sementara untuk tema perbankan; pertama, dari LP3ES dan Yayasan Damandiri, dan kedua dari Universitas Indonesia.

Apa rahasianya bisa menang kompetisi penulisan begitu seringnya?

Rahasianya ada empat. Pertama, tulisannya harus sistematis, mengalir, dan pilihan katanya ada “kekuatan” besar. Kedua, tulisan harus original. Hal ini dapat kita tuangkan melaui model, inovasi, dan tak lupa harus applicable serta cost effective. Ketiga, tulisan harus memberikan value yang berharga, misalnya mengandung usulan yang bermanfaat bagi perusahaan yang menerapkkannya. Keempat, jangan lupa berdoa sebelum enter atau mengirim ke panitia lomba hehehe….

Dalam karya-karya seperti itu, bagaimana peran dan proporsi referensi teori, analisis, kasus, dan opini pribadi?

Semua memainkan peranan yang sungguh besar, seperti mobil ada stir, ban, velg, rem, dashboard, dll. Semua memainkan peranan penting. Bagaimana mobil BMW yang mahal itu kalau tanpa ban tanpa stir? Teori membentuk kerangka berpikir kita, framework yang terarah. Kasus akan melihat best practice atau benchmarking yang sangat penting untuk aplikasi konsep atau teori yang ada. Analisis dan opini adalah ‘value‘ yang kita tawarkan berdasarkan teori dan kasus yang kita kuasai tadi. Di sinilah letaknya nilai tulisan kita. Kita bicara teori dan konsep yang diselaraskan dengan data dan fakta. Lalu kita lontarkan value yang menurut kita bermanfaat.

Setiap lomba penulisan pasti punya persyaratan tema dan teknis penulisan. Bagaimana Anda mencermati itu sehingga Anda selalu berhasil memenangkan penjurian?

Cermati dengan sangat saksama persyatannya. Prediksikan apa yang diinginkan oleh lembaga penyelenggaranya. Itu harus kita pahami benar. Setelah itu, baru kita kumpulkan segenap informasi yang akan memenuhi persyaratan dan keinginan lembaga penyelenggara. Baru kemudian menulis dengan bahasa yang punya power, mengalir. Dan, buatlah sesuatu value yang berharga sebagai saran yang kita lontarkan sehingga karya kita dihargai oleh penyelenggara. Jangan lupa, itu harus beda dengan yang sudah ada, harus orisinal, ada inovasi dari penulis. Kalau kita berhasil membuat tulisan seperti itu, biasanya juara hehehe….

Keluarga

Keluarga

Dengan kata lain, harus ada riset untuk setiap tulisan?

Iya, bisa dikatakan begitu. Terutama untuk karya ilmiah. Kalau berbentuk tulisan atau artikel pendek, kita cukup menjalin riset ‘kecil-kecilan’ berdasarkan apa yang dilihat, didengar, dibaca, dan ditulis dengan bahasa yang padat.

Apakah harus selalu ada ide-ide inovatif dan kreatif dalam setiap karya tulis untuk perlombaan?

Penyelenggara mau memberi hadiah yang besar tentu untuk ‘membeli’ ide, bukan? Menurut saya, itu keharusan kalau mau juara hehehe…. Ide yang kreatif dan inovatiflah yang dicari.

Bagaimana cara menyemaikan ide-ide kreatif dan inovatif itu? Susah dipaksa muncul kalau memang tidak ada?

Menurut saya, ide itu seluas langit dan bumi. Terlalu banyak, di Indonesia ini, yang harus diinovasikan dan dikreatifkan. Berpikir saja bagaimana supaya lebih mudah, lebih murah, lebih cepat, lebih reliable, lebih… lebih… dan lebih, itu ‘pasti’ akan inovatif dan kreatif. Kita paparkan teori, fakta, kita tawarkan ide dan value, kita tunjukkan caranya, lalu kita buktikan itu bisa lebih murah, lebih cepat, lebih, lebih, dan lebih…. Begitu kalau dari pengalaman saya.

Apakah dalam menulis karya untuk lomba Anda juga sudah mengantisipasi tulisan-tulisan kontestan lain akan seperti apa, sehingga mungkin dari situ Anda bisa menyajikan nilai lebih tersendiri?

Kalau peserta lain saya ‘tidak peduli’ hehehe…. Tanda petik, ya. Cuma saya mencari artikel di luar yang terbaik, kata Tung Desem (motivator: red) bergurulah pada orang nomor 1. Makanya, saya cari yang terbaik di bidang yang saya tulis. Kalau GCG namanya Sir Adrian Cadbury, dialah yang dianggap sebagai salah satu suhunya. Kalau menulis, ya berguru pada Edy Zaqeus hehehe…. Jadi, saya berusaha ‘menyaingi’ penulis terbaik di bidang yang ditulis. Kalau bisa saya harus lebih. Soal peserta lain, biarin saja mereka mau menulis apa hehehe….

Sejauh ini, apa manfaat yang bisa Anda petik dari proses penulisan buku maupun karya-karya ilmiah?

Sangat sinergis, saling mendukung. Menulis adalah salah satu bagian dari ‘menorehkan’ track record penulisanya. Menulis akan membentuk image yang baik. Terlebih lagi, kata Publilius Cyrus, “Good reputable is more valuable than money.” Lebih berharga dari tumpukan pundi-pundi, lho…. Jadi, manfaatnya banyak sekali. Dari segi ilmu kita bertambah, dari image itu menopang kita, dari penghasilan cukuplah hehehe…. Dari sisi teman, tambah banyak network. Kata orang, high risk high return. Maka, menulis itu high return no risk. Bahkan, pekerjaan saya sebagai pembicara publik dan konsultan jadi mudah dipercaya orang. Intinya, menulis sangat menopang karier kita.

Kalau menulis buku seperti George Aditjondro itu high risk, enggak?

Hahaha…. Itu bukan ranah saya. Apa lagi saya belum baca….

Iya, bercanda. Ok, terima kasih wawancaranya. Sukses untuk Anda!

Baik, mudah-mudahan bisa mengispirasi dan bermanfaat bagi teman-teman semua. Terima kasih. Salam bestseller![ez]

Foto-foto: dokumentasi pribadi.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 6.9/10 (8 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Anang Y.B.: Berpenghasilan Layak dengan Berusaha dari Rumah, Why Not?

Anang Y.B.: Memperkenalkan profesi geografer

Anang Y.B.: Memperkenalkan profesi geografer

Anda pernah tahu atau mendengar tentang profesi sebagai geografer? Barangkali, ini bukan profesi yang sering Anda dengar, walau mungkin Anda bisa mereka-reka bidang kerjanya karena namanya. Profesi geografer memang benar ada dan penghasilannya pun lumayan. Kebetulan, nama profesi ini diciptakan serta ditekuni oleh Anang Tri Nugroho, seorang bloger atau ‘pabrik blog’ yang lebih dikenal dengan nama pena Anang Y.B.

Anang Y.B. lahir pada 4 Februari 1970 di Bantul, DIY, dan lulusan tercepat Fakultas Geografi, UGM. Ia mengawali kariernya sebagai staf konsultan pemetaan selama lima tahun dan setelah itu memutuskan menjadi tenaga ahli geografi secara self employed. Di sinilah, suami dari Tjandra Susi (yang bekerja di sebuah surat kabar nasional) dan ayah dari Geofani Nerissa Arviana (10 tahun) dan Justin Ananta (5 tahun), ini mengembangkan profesinya sebagai seorang geografer.

Saya bisa masuk dalam tim studi AMDAL. Bisa juga menjadi tenaga penilai lapangan untuk EKOLABEL produk kehutanan. Bisa juga masuk dalam tim perencanaan tata ruang,” jelas Anang tentang profesinya. Menurut Anang, melalui profesi geografer yang ditekuninya dengan berkantor di rumah itu, ia bisa mendapatkan penghasilan rata-rata Rp 9 jutaan per bulan. Tentu saja, di sela-sela itu, Anang masih bisa menekuni hobinya yang lain, yaitu menjadi “pengembang blog” dan menjalankan internet marketing.

Bukan itu saja, buah dari ketekunannya menulis di sejumlah blog sejak 2001, Anang sampai memiliki lebih dari 500 posting tulisan. Hasilnya, kini tulisan-tulisan tersebut bisa dikemas ulang untuk diterbitkan menjadi buku. Dan, dalam lima bulan terakhir ini saja, Kolomnis Tetap AndaLuarBiasa.com ini telah menelurkan empat judul buku. Jadi, hampir sebulan sekali Anang menerbitkan buku baru. Untuk penulis pemula di dunia perbukuan, ini cukup membanggakan juga.

Nah, untuk mengetahui lebih detail tentang apa itu profesi geografer serta proses kreatif Anang dalam melahirkan buku-bukunya, Edy Zaqeus dari AndaLuarBiasa.com mewawancarai Anang melalui chating beberapa waktu lalu. Berikut petikannya:

Bagaimana deskripsi profesi atau pekerjaan sehari-hari Anda?

Saya suka menyebut diri saya sebagai seorang geografer. Istilah ini unik, dalam arti tidak banyak yang mau memakai. Geografer dalam artian orang yang mencari duit dengan mengurusi manusia, lingkungan, dan hubungan keduanya. Profesi ini saya tekuni sejak 2001, hingga saat ini. Untuk satu semester terakhir ini, profesi ini sedikit saya rem, karena saya menemukan keasyikan baru, menjadi penulis naskah buku.

Contoh pekerjaan yang Anda lakukan sebagai geografer apa?

Geografer adalah profesi generalis. Dosen saya menyebutnya profesi Rhemason. Dia bisa mengobati mulai dari sakit kepala, salah urat, hingga asam urat. Saya bisa masuk dalam tim studi AMDAL. Bisa juga menjadi tenaga penilai lapangan untuk EKOLABEL produk kehutanan. Bisa juga masuk dalam tim perencanaan tata ruang. Tapi, rata-rata positioning serang geografer adalah sebagai seorang analis keruangan berbekal peta dan foto satelit.

Kalau misalnya saya mau buka tambang atau perkebunan yang luas, perlukah seorang geografer?

Oh, ya. Klien saya selain dari sektor kehutanan, juga dari pertambangan dan perkebunan. Setiap kali mereka akan memulai usaha, pastilah mereka akan melakukan feasibility study. Mereka perlu seorang analis keruangan. Mereka butuh informasi mengenai jenis penggunaan lahan yang ada sekarang. Berbatasan dengan milik siapa? Apakah peruntukannya sesuai dengan tata ruang? Apakah jenis tanahnya sesuai? Apakah lerengnya ideal untuk membuka usaha? Dan lai-lain. Semua itu bisa dikaji dengan melakukan overlay atau tumpangsusun peta-peta tematik. Trennya, mereka akan membeli foto satelit untuk mengetahui kondisi terkini dari lokasi yang akan diusahakan. Di sinilah peran seorang geografer bisa masuk.

Kalau awam mungkin bertanya, kan sudah ada Google Earth untuk foto satelit gratis?

Foto satelit di Google Earth (GE) sebagian besar menggunakan citra bernama QUICKBIRD. Karena gratisan, maka yang muncul di GE adalah versi lawas. Tertinggal sekitar dua tahunan, dan resolusinya sudah diturunkan. Dalam versi berbayar Anda bakal melihat kedetailan yang lebih tajam, dan umur foto satelit yg lebih baru. Bila mau, Anda bisa memesan untuk dipotretkan Istana Negara dalam tampilan terkini dengan resolusi 60 cm. Artinya, mobil pun bakal tampak jelas, padahal pemotretan dilakukan ribuan kilometer di angkasa sana.

Profesi sebagai geografer cukup menantang dan penghasilan pun lumayan

Profesi sebagai geografer cukup menantang dan penghasilan pun lumayan

Sebagai seorang geografer, Anda juga berperan sebagai konsultan yang memberikan solusi dalam bidang tersebut? Atau hanya menjual data-data semata?

Dua-duanya saya lakoni karena dua-duanya menghasilkan duit hehehe.... Kedua-duanya juga saya jalani secara self employed.

Bagaimana penghasilan profesi ini?

Karena proyek-proyek yang saya terima bergantung pada proyek pemerintah, maka pasti ada masa pacekliknya. Biasanya instansi pemerintah merealisasikan proyek pada periode Juli hingga Desember. Pada masa itulah kontrak biasanya berdatangan. Periode Januari hingga Juni tak banyak pekerjaan. Biasanya saya isi dengan mengadakan pelatihan survei dan pemetaan. Penghasilan cukup lumayan. Bisa buat bantu-bantu istri cari nafkah. Sebetulnya, penghargaan untuk seorang tenaga ahli yang ditetapkan Bapenas cukup tinggi, bisa sekitar Rp 9 jutaan per bulan untuk yang mengantongi pengalaman kerja 9 tahunan. Kalau kita beruntung mendapat pekerjaan dari pemberi kerja yang jujur dan konsultannya jujur, kita bisa memperoleh angka sekitar itu per bulan dari satu pekerjaan.

Dan, itu Anda lakukan dengan berkantor di rumah atau di dunia maya saja?

Ya, menjadi konsultan self employed dari rumah. Mengandalkan kartu nama, laptop, akun email, weblog, pengalaman kerja, dan tentunya nama baik.

Seorang geografer sering menjelajahi berbagai pelosok medan

Seorang geografer sering menjelajahi berbagai pelosok medan

Bagaimana caranya supaya seorang alumni jurusan geografi bisa menjadi seorang geografer seperti Anda?

Pertama, jangan lama-lama menjadi karyawan. Di perusahaan konsultan, seorang geografer berada pada kasta yang relatif rendah dibandingkan seorang sarjana teknik maupun programer. Kalau mau dihargai, jadilah seorang freelancer saat Anda sudah memiliki bekal cukup. Kedua, upgrade ilmu Anda. Saat saya lulus th 1996, kemampuan mengoperasikan GPS dan software SIstem Informasi Geografis adalah sebuah keunggulan. Sekarang tidak. Anak SMA pun sudah bisa. Kita mesti selangkah di depan soal keahlian. Ketiga, jalin relasi dengan siapa pun. Jangan cuma dengan alumni, sebab geografer bakal dapat kerja justru dari bidang ilmu lain. Keempat, bangun personal branding sebaik mungkin. Keempat, jujur dan profesional.

Rupanya, pengalaman pribadi inilah yang mendorong Anda menulis buku Kerja di Rumah Emang ‘Napa?, ya?

Yap, saya ingin berbagi. Saya sadar, mungkin pilihan dan jalan yang saya tempuh bukan yang paling ideal. Tapi, di luar sana masih banyak rekan lain yang belum cukup beruntung. Bukan karena mereka tidak pintar atau kurang berusaha. Tapi karena belum ada yang menunjukkan bahwa di luar jalur yang biasa dilalui orang, masih ada “jalan-jalan tikus” dan jembatan kecil yang bisa dititi untuk memperoleh hasil yang lebih baik.

Sudah berapa buku yang Anda tulis?

Sudah empat buku yang diterbitkan dalam lima bulan ini. Pertama buku biografi berjudul Santo Arnoldus Janssen Abdi Yesus Yang Setia, terbit Juli 2009 oleh OBOR. Kedua, buku rohani popular berjudul Sandal Jepit Gereja, terbit Agustus 2009, juga oleh OBOR. Ketiga, buku internet berjudul 88 Mesin Uang di Internet, terbit September 2009 oleh Best Publishing. Dan keempat, Kerja di Rumah Emang Napa?, terbit November 2009, oleh Gramedia Pustaka Utama.

Hebat. Bagaimana seorang geografer bisa seproduktif itu. Apa rahasianya?

Mungkin ada saatnya ide saya akan kering walau saya tidak mengahrapkan itu terjadi. Tiga dari empat buku tersebut saya gali dari kehidupan dan keseharian saya. Betul-betul saya alami dan tinggal copy-paste dari harddisk di otak saya. Saya beruntung memiliki blog www.jejakgeografer.com dan www.anangyb.blogspot.com. Kedua blog ini telah memiliki 500 posting dan merupakan harta karun saya. Memori saya yang sudah melemah karena faktor usia hehehe… terbantu dengan catatan sejarah yang tertulis di dalam kedua blog tersebut.

Cara Anda meramu tulisan-tulisan yang sudah siap olah menjadi naskah buku itu bagaimana?

Tulisan di blog memang mesti diolah, karena ditulis secara spontan dan sangat kontekstual dengan issue yang ada. Panjang pendeknya pun sesukanya. Agar menjadi sebuah naskah buku yang layak, saya awali dengan menentukan frame naskah. Sudut pandang penceritaan, apakah sebagai “aku/subjek” atau sebagai orang lain. Ini harus disamakan. Panjang pendek juga mesti disamakan. Kalau terlalu pendek, saya akan menambahkan paragraf baru yang relevan, atau kalau memungkinkan, saya akan gabungkan dua posting di blog menjadi satu bab.

Anang bersama keluarga tercinta

Anang bersama keluarga tercinta

Mengenai produktivitas Anda dalam menulis di blog. Apa yang memacu atau memicu Anda sehingga selalu punya tema tulisan?

Jujur saja, masih ada sekitar lima atau bahkan lebih tema buku yang mendesak otak saya untuk segera dituangkan. Bahkan, outline yang saya buat semasa mengikuti pelatihan di ‘Writer Schoolen’ belum juga saya garap. Sejauh ini, ide dan tema belum menjadi persoalan buat saya. Mengenai produktivitas, saya bersyukur karena mengenal sosok Indari Mastuti lewat paparan profil di web ini. Demikian pula dengan misalnya Gregorius Agung, pemilik Jubilee Enterprise. Produktivitas kedua orang inilah yang melecut saya untuk terus menulis. Tentu saja saya membuat strategi agar dapat menyelesaikan naskah secara rutin dan cepat.

Bisakah dibagi strateginya?

Saya berkaca dari buku-buku saya yang sudah beredar. Buku pertama yang berjudul Santo Arnoldus bisa saya kebut dalam waktu sepuluh hari. Sedangkan buku 88 Mesin Uang di Internet, karena lebih tebal dan mesti cari gambar, baru selesai dalam waktu 14 hari. Artinya, kalau mau, sebulan saya bisa bikin dua naskah. Dari sinilah akhirnya saya membuat time schedule naskah apa yang saya mau selesaikan setiap bulannya. Time schedule ini saya lengkapi dengan judul buku, jumlah halaman, dan target penerbit yang mau saya todong. Tidak tanggung-tanggung, sengaja saya buat target yang musykil: sebulan membuat dua naskah buku. Mengapa dua naskah? Ya, kalaupun saya sangat malas dan hanya mampu memenuhi separuh target, maka saya sudah menghasilkan satu naskah dalam satu bulan!

Apa kiatnya sehingga setiap naskah yang Anda selesaikan selalu disambut baik oleh penerbit?

Apa ya? Keberuntungan? Bisa jadi. Kebaikan hati penerbit? Bisa juga. Tapi bisa jadi juga karena kebiasaan menjual diri saat menjadi konsultan, yang membuat saya menyodorkan naskah dalam kondisi dan tampilan yang terbaik. Setiap naskah yang saya sodorkan selalu dalam kondisi siap baca dan lengkap. Setiap naskah juga mesti saya beri kaver full colour. Saya pun belajar membuat layout naskah sehingga biarpun masih berupa dummy book, tapi saya pingin editor atau redaksi merasa nyaman, senyaman membaca buku yang sudah jadi. Saya juga membekali diri dengan terus membaca ilmu editor. Di luar itu, saya pasti menyertakan surat pengantar yang saya buat secara serius.

Sekarang mengenai buku 88 Mesin Uang di Internet, garis besar isinya apa?

Buku tersebut berisi review sekumpulan situs internet yang menjanjikan penghasilan kalau kita bergabung di dalamnya. Bedanya dari buku-buku sejenis, cara bertutur yang saya pakai adalah story telling agar tidak kering dan membuat pembaca bosan. Kebetulan saya cukup aktif dalam bisnis internet sehingga punya beberapa kiat dan trik untuk bisa, paling tidak, meraih sejuta dua juta rupiah dengan mengikuti program peraup dollar di internet. Saya lampirkan juga foto anak saya yang tersenyum lebar sambil merentangkan kiriman cek dollar yang saya terima dari program Google Adsense.

Bisnis internet bak rimba raya yang belum baku bahkan belum ada rambu-rambunya. Bagaimana menghindari penipuan di internet yang berkedok bisnis?

Banyak bergaul, itu kuncinya. Rajin-rajinlah menyambangi blog pelaku bisnis internet yang sudah sukses dan punya reputasi/nama baik yang baik. Ikutlah forum diskusi online. Yang paling praktis, gunakan Google untuk mengetahui apakah program yang mau kita ikuti tersebut sekadar omong kosong atau tidak. Tuliskan saja nama program dan ikuti dengan kata scam dalam mesin pencari Google. Kita bakal dapat referensi dari sana. Yang pasti, saya cenderung tidak mengikuti program yang musti menyetor uang atau menuntut kita untuk memasukkan nomor kartu kredit.

Sekarang, hampir semua orang bisa akses internet. Bagi awam kadang mudah sekali tergiur oleh iklan-iklan bisnis online yang sangat menggiurkan. Komentar Anda?

Itu baik kalau kita lihat dari terbukanya mata orang bahwa cari uang tidak mesti dilakoni dengan berangkat pagi dan pulang petang. Banyak orang sudah sukses walau banyak juga yang akhirnya frustrasi, dan lantas mengeluarkan fatwa pribadi: ‘bisnis internet adalah omong kosong’. Sekali lagi, banyaklah bergaul dan cari referensi dari sumber terpercaya. Kalau mau lebih cepat sukses, carilah mentor atau pembimbing. Ada beberapa pelaku bisnis internet yang menawarkan program mentoring. Ini sekadar alternatif saja agar tidak keblinger.

Kalau buku terakhir, kiat-kiat apa yang anda sodorkan ke pembaca supaya bisa mencari penghasilan dari rumah?

Kalau sudah berkeluarga, tanyalah siapa dari suami dan istri yang paling siap untuk bekerja di rumah? Papa atau mama? Jangan takut juga untuk bekerja yang tidak sesuai gelar pendidikan kita. Bila kesulitan modal, rangkullah orang lain atau pihak lain untuk berkolaborasi. Pertajamlah kemampuan bernegosiasi sebab bekerja di rumah menuntut Anda untuk menjadi panitia tunggal. Jujurlah selalu dan jadilah seorang rekan bisnis yang menyenangkan.

Bagi sebagain orang, kerja di rumah tidak ada gengsinya….!?

Benar. Seorang calon mertua pun bakal berpikir ulang bila calon mantunya tidak punya kantor yang bukan rumah. Ini soal kultur. Ini juga soal mindset. Serasa belum diakui bekerja kalau belum bersepatu dan menuntun motor keluar rumah setiap pagi. Dalam kalimat yang membosankan, orang lebih cenderung memilih keamanan finansial. Aman secara duit dan aman dari sisi citra diri di mata tetangga. Tapi sepanjang kita bisa membuktikan bahwa kita bisa berpenghasilan layak dengan berusaha dari rumah, why not? Di kota-kota besar kesadaran ini sudah muncul, dan bahkan menjadi impian. Sedikit kerja, sedikit keluar rumah, rapi penghasilan oke. Tanyalah orang-orang yang sudah terbius oleh kata-kata manis Robert Kiyosaki. Mereka pasti setuju soal ini.

Anang dalam sebuah acara diskusi buku "Sandal Jepit Gereja"

Anang dalam sebuah acara diskusi buku "Sandal Jepit Gereja"

Anda juga menulis buku agama atau renungan agama. Apa tujuan atau idealisme menulis buku-buku sejenis itu?

Tidak peduli apakah buku saya bertema agama maupun bukan. Saya memiliki satu kesadaran bahwa talenta menulis yang saya genggam berasal dari Sang Ilahi. Jadi, sudah sepantasnya talenta itu saya gunakan dan kembalikan untuk-Nya. Semua yang saya tulis adalah cerita keseharian saya. Menjadi seorang internet marketer, menjadi pekerja rumahan, dan menjadi bagian dari komunitas agama. Saya mesti adil berbagi cerita untuk semua sisi kehidupan saya. Bila pada akhirnya, ada bisikan dari-Nya untuk menuangkan tulisan bertema religi, pastilah itu juga karena kemaun Dia. Saya bersyukur menjadi kepanjangan tangan-Nya. Moga-moga maunya Dia menjadi kenyataan lewat tulisan saya.

Jenis atau tema buku apa yang masih mengganggu pikiran Anda untuk menuliskannya suatu saat nanti?

Belum tahu. Saya masih pemula banget. Belum setengah tahun saya menekuni profesi sebagai penulis. Saat ini saya nekat untuk menulis semua tema yang saya bisa. Saya juga berusaha menembus sebanyak mungkin penerbit yang berbeda. Itulah sebabnya dari empat buku saya yang sudah terbit, memiliki tema yang beragam, dan diterbitkan oleh tiga penerbit yang berbeda. Saya masih hijau dan terlalu memalukan untuk buru-buru mengambil spesialisasi. Bukankah seorang dokter mesti khatam dulu di strata satu sebelum berhak mengambil spesialisasi? Namun bila saya ditanya, buku apa yang sulit dan menantang untuk ditulis, maka jawaba saya adalah buku yang mesti ditulis dengan teknik wawancara. Saya paling grogi menanyai orang. Itulah sebabnya, untuk calon buku kelima, yang bertema kisah nyata, saya mesti memaksa istri saya untuk selalu menelepon nara sumber hehehe….

Ke depan Anda akan terus mengawinkan profesi sebagai geografer dengan penulis, atau menceraikannya dan memilih salah satunya?

Profesi penulis tampaknya mesti jalan terus. Konon usia empat puluh adalah titik balik untuk memperoleh jati diri yang sesungguhnya. Berhubung bulan Februari nanti saya genap berkepala empat, maka predikat sebagai penulis akan saya jadikan sebagai jati diri saya yang baru. Menjadi geografer semoga saja dapat terus jalan juga. Semoga kecakapan saya masih layak jual. Ide menulis pun banyak mengalir saat saya menjelajahi pelosok Tanah Air ketika menjalani profesi sebagai seorang geografer. Jadi, selama bisa “rangkap profesi” saya akan menjalaninya secara paralel.[ez]

Catatan: Foto-foto dokumentasi pribadi.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 6.0/10 (5 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 5 votes)

Agung Praptapa: Buku adalah Warisan untuk Putra-Putri Terbaik Negeri Ini

Agung Praptapa: Controlling People is My Area

Agung Praptapa: Controlling People is My Area

Sebagai akademisi, menulis artikel atau makalah untuk jurnal-jurnal ilmiah adalah “kewajiban akademik” yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Nah, yang tidak kalah penting, menurut Agung Praptapa, adalah menulis buku yang kelak bisa diwariskan kepada generasi terbaik di negeri ini. Dengan semangat itulah, Agung meluncurkan buku perdananya yang berjudul The Art of Controlling People pada acara Writer Schoolen Gathering II (Sabtu, 3 Oktober 2009) di JDC, Jakarta.

Sesuai kompetensinya, Agung membedah berbagai pendekatan pengendalian manusia dalam organsisasi dengan tujuan mendapatkan hasil-hasil sesuai yang ditargetkan. Menurut Agung, sebuah organisasi akan sukses manakala perilaku anggotanya dapat dikontrol sesuai dengan tujuan-tujuan dan target organisasi. Walau begitu, bukan hal yang mudah mengontrol individu-individu dengan beragam latar belakang, sifat, karakter, tujuan, dan kepentingan.

“Mengontrol itu tidak sama dengan mengekang!” tegas Agung, alumnus University of Central Arkansas, USA, dan University of Wollongong, New South Wales, Australia. Yang terbaik menurut Agung, orang harus bisa dikontrol tanpa dia merasa dikontrol. Makannya, pengendalian orang butuh seni yang pas agar tidak terjadi konflik, namun goal organisasi maupun individu juga bisa dicapai secara efektif dan optimal.

Sehari-hari, pria kelahiran di Semarang tahun 1963 ini berprofesi sebagai dosen di Fakultas Ekonomi Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Ia juga menjabat sebagai Direktur Program Magister Manajemen universitas yang sama periode 2006-2009, dan sekarang menjadi pengelola Program Pascasarjana MM-MSi di universitas yang sama. Selain itu, ia juga mendirikan sekaligus menjabat direktur kantor konsultan AP Consulting sejak 1995. Dan, sejak menekuni dunia kepenulisan, suami dari Restu Wardhani yang sudah dikaruniai dua putri bernama Handini Audita dan Nadila Anindita ini, juga menjadi Kolomnis Tetap di situs motivasi AndaLuarBiasa.com. Berikut petikan wawancara Edy Zaqeus dari AndaLuarBiasa.com dengan Agung Praptapa melalui chating di internet.

Bagaimana perasaan Anda setelah buku pertama ini terbit?

Waduh, rasanya seperti saat kelahiran anak pertama…. Iya, menjadi penulis adalah obsesi saya sejak kecil. Dan, baru kali ini saya ada bukti bahwa saya sudah menjadi penulis. Jadi plong rasanya. Dalam setiap kesempatan, saat ditanya cita-cita Anda apa… saya kok selalu menjawab mau menjadi penulis. Tetapi, sampai umur saya kepala empat kok enggak ada produk tulisan. Nah, sekarang lahir bayi pertama. Saya akan bikin bayi-bayi berikutnya. Enak to mantep to... hehehe.

Apa hebatnya jadi penulis itu?

Hebatnya jadi penulis? Kita seperti meninggalkan “sesuatu” seperti amal jariyah. Yang sampai mati pun akan tetap terus mendapatkan pahala selama masih dimanfaatkan orang.

Apa manfaat lainnya dari aktivitas berbagi ilmu dengan menulis?

Yang jelas, saya bisa membangun personal branding. Kebetulan pekerjaan utama saya kan dosen, yang bidang konsentrasinya adalah management control system. Maka, dengan adanya buku tersebut, saya lebih mantap menyatakan kepada publik bahwa control is my area!

Agung Praptapa: Launching buku "The Art of Controlling People"

Agung Praptapa: Launching buku "The Art of Controlling People"

Dalam proses penulisan buku pertama tadi, apa bagian tersulit dan termudahnya?

Bagian tersulit adalah memulai menulis dengan gaya bahasa yang seperti saya angankan. Saya kan sudah terlanjur biasa menulis untuk kalangan akademik. Padahal, saya pingin tulisan saya bisa dibaca orang banyak, baik dari kalangan akademisi mapun praktisi. Nah, saat memulai masih terseok-seok. Kalimat pertama bisa gaul... eh, lama-lama kembali lagi ke bahasa jurnal ilmiah. Bagian termudahnya adalah mengisi tulisan, terutama pada bagian-bagian yang saya ambil dari pengalaman pribadi. Terutama dalam memberikan jasa konsultasi manajemen. Di situ rasanya mengalir karena saya alami, saya resapi, dan saya yakini akan bermanfaat kalau saya sharing-kan.

Apa kiatnya sehingga Anda bisa keluar dari jerat bahasa akademik dan masuk ke bahasa popular?

Pertama, saya selalu membayangkan sedang berbicara kepada publik, yang terdiri dari berbagai kalangan. Yah, membayangkan seperti sedang memberi training atau kuliah umum. Saya bayangkan bahwa saya sedang bercanda, sedang meyakinkan, sedang memberikan contoh supaya mereka mudeng, sedang ditanya, sedang menjawab…. Pokoknya, bayangan sedang bicara yang lancar, santai, dan bermanfaat. Bukan membual, tetapi berbagi dengan ikhlas. Tentu saja, saya juga belajar dari tulisan-tulisan yang saya anggap pas dengan gaya penulisan yang saya bayangkan. Saya belajar dari tulisan orang lain. Yang jelas, dalam setiap kalimat harus ada “nada”-nya… Harus mengandung “gairah” supaya orang membacanya nyaman.

Garis besar isi buku The Art of Controlling People ini?

Pada prinsipnya tentang bagaimana kita mengendalikan diri kita dan orang lain agar kita mendapatkan apa yang kita mau, sekaligus mendapatkan apa yang dimaui oleh organisasi.

Apa manfaat yang bisa dipetik pembaca dari buku ini?

Seperti yang saya sajikan di dalam Pendahuluan. Setelah membaca buku tersebut, diharapkan pembaca memiliki perspektif baru tentang bagaimana mengajak orang-orang yang berada dalam organisasi atau perusahaan, untuk bersama-sama membawa sukses bagi perusahaan maupun orang-orang yang berada dalam perusahaan. Pembaca akan lebih memahami bagaimana peran manusia dan peran sistem pengendalian manajemen di dalam membawa sukses perusahaan.

Agung dalam sebuah acara musik di televisi

Agung dalam sebuah acara musik di televisi

Umumnya, bukankah setiap individu itu adalah pendamba kebebasan alias tidak suka dikontrol?

Nah, ini kuncinya. Mengontrol bukan berarti mengekang! Mengontrol adalah membawa orang menuju apa yang kita maui. Kalau saya mau menjadi penulis bestseller, kemudian Anda bisa mengendalikan semangat saya, memberikan arahan, mendorong, memberi sarana, dan kemudian saya benar-benar menjadi penulis bestseller, berarti Anda berhasil mengendalikan saya untuk bisa menjadi penulis bestseller.

Persepsi umum atau respon otomatis orang kebanyakan terhadap kata ‘kontrol’ adalah penghilangan kebebasan. Bagaimana menghilangkan persepsi itu, supaya pendekatan controlling people efektif?

Seperti kita mengendalikan kuda, kudanya juga senang kok kalau kita kendalikan ke sana dan kemari. Makanya, saya menggunakan istilah “the art supaya kata “kontrol” yang kesannya keras bisa menjadi lunak.

Apakah kontrol yang efektif terhadap orang itu bisa memberikan hasil-hasil yang tinggi presisinya dalam organisasi seperti perusahaan?

Kontrol yang efektif adalah yang memberikan jaminan tertinggi bahwa apa yang kita inginkan akan kita dapatkan. Untuk itu, di dalam buku ini disajikan berbagai strategi pengendalian, seperti result control, action control, dan people control. Kontrol yang efektif pada suatu jenis pekerjaan belum tentu efektif bila diterapkan pada jenis pekerjaan lain. Yang efektf untuk tipe-tipe orang tertentu belum tentu efektif bila diterapkan pada orang dengan tipe yang lain. Jadi, melakukan kontrol itu penuh dengan “art. Bisa keras, bisa lembut, bisa ketat, bisa longgar….

Penerapan prinsip-prinsip dalam buku itu lebih condong untuk karakter organisasi apa saja, profit dan nonprofit?

Keunggulan konsep yang ditawarkan dalam buku ini bisa diterapkan oleh organisasi profit maupun nonprofit. Bahkan, bisa pula diterapkan bagi individu. Gampangnya, para istri yang ingin sukses mengontrol suaminya juga perlu membaca buku inihehehe.

Untuk organisasi nonprofit, apa yang bisa dipakai untuk mengikat individu-individu itu dalam suatu sistem kontrol, manakala tidak ada reward material yang pasti?

Itulah apa yang disebut dengan goal congruency, yaitu kita harus menyelaraskan tujuan organisasi dengan tujuan individu. Dan sebaliknya, kita menyelaraskan tujuan individu dengan tujuan organisasi. Makanya, diperlukan suatu sistem agar keselarasan tersebut terjaga. Dengan demikian, sistem kontrol yang baik justru akan menjamin proses demokrasi di organisasi. Di samping itu, juga meritocracy, yaitu suatu sistem yang memberikan penghargaan yang tinggi bagi siapa saja yang berprestasi.

Agung bersama rekan-rekan kolomnis AndaLuarBiasa.com

Agung bersama rekan-rekan kolomnis AndaLuarBiasa.com

Pernah menangani kasus yang mana ada resistensi terhadap upaya-upaya controlling people dalam organisasi?

Tentu saja sudah pernah, karena itu tugas utama saya. Beberapa pengalaman berpraktik sebagai konsultan manajemen juga saya sajikan dalam buku ini. Coba baca bab yang membahas tentang pengendalian melalui kompensasi. Di situ saya berikan contoh bahwa sistem kompensasi yang tidak tepat akan menimbulkan resistensi. Setelah sistem kompensasi saya sarankan untuk diubah… wow dukungan karyawan luar biasa. Sampai-sampai produktivitasnya meningkat 300 persen!

Baik, kita singgung sedikit soal birokrasi. Anda pasti setuju dengan penilaian umum bahwa birokrasi kita belum sepenuhnya efektif di era reformasi ini. Apakah Anda juga mencium aroma lemahnya hal controlling people di sini?

Iya, tetapi mohon dipahami bahwa ada bentuk kontrol negatif, dan ada pula bentuk kontrol positif. Bentuk kontrol yang negatif ada unsur mengekang dan membatasi. Sedangkan bentuk kontrol positif mengandung unsur mendorong atau encouraging, memotivasi, dan memberikan jalan atau enabling. Nah, di birokrasi kita masih tidak berimbang antara kontrol positif dan negatif. Yang lebih ditekankan adalah kontrol negatif. Sehingga, orang lebih cenderung dari pada salah, mendingan tidak berbuat. Ini yang membuat birokrasi menjadi beban!

Untuk menjadi efektif, birokrasi sering berhadapan dengan sikon lemahnya resources SDM, finansial, dll. Lalu, pada titik mana bisa ditumpukan harapan supaya organisasi tetap bisa berfungsi efektif?

Sistem kontrol harus memerhatikan aspek cost and benefit. Jadi, tidak pada tempatnya kita membuat sistem kontrol yang rumit dan mahal, bila kondisi resource tidak memungkinkan. Sistem pengendalian tidak selalu harus mahal. Bisa dibentuk melalui kultur organisasi, dan juga contoh atasan. Memang, sistem kontrol akan meliputi mekanisme dan peralatan yang mendampinginya. Sesuaikan saja. Mengapa di negara maju orang patuh terhadap peraturan, yang artinya terkendali? Apakah karena mereka lebih kaya? Apakah karena mereka lebih pintar? Apakah karena sistemnya lebih canggih? Tidak, kan? Tetapi, karena mereka hidup dalam kultur taat aturan.

Agung bersama para mentor dan peserta Proaktif Writer Camp

Agung bersama para mentor dan peserta Proaktif Writer Camp

Gaya kepemimpinan, apakah juga menentukan result dari sebuah sistem kontrol? Termasuk, apakah itu juga bisa jadi solusi efektivitas birokrasi?

Iya, gaya kepemimpinan juga sangat berpengaruh dalam pola pengendalian. Tetapi, yang perlu ditekankan di sini adalah “pemimpin yang baik harus bisa membawa suskes organisasi maupun sukses orang-orang yang berada dalam organisasi”. Jadi, kalau organisasinya saja yang sukses tetapi orangnya gagal, kecewa, tidak sukses, itu sama saja tidak sukses.

Kalau begitu, kita bisa menumpukan solusi efektivitas organisasisalah satunyapada soal rekrutmen pemimpin atau pola suksesinya?

Dua-duanya. Pilih orang yang tepat untuk posisi yang tepat. Berikan posisi yang tepat untuk orang yang tepat. Right man in the right place, and right place for the right man. Tadi maksudnya right man for the right place and right place for the right man.

Mari singgung sedikit soal birokrasi di kampus, yang jelas tidak kekurangan SDM. Bagaimana Anda melihat persoalan efektivitas mereka, apakah ada potensi masalah yang sama?

Hahaha…. Mengendalikan orang kampus juga ada keunikannya sendiri, terutama dosen. Birokrasi kampus harus dirancang untuk mengelola orang pintar dan independen, jangan seperti mengelola birokrasi pemerintahan. Tidak akan klop. Maaf, kalau saya katakan bahwa jenis manusianya berbeda. Orang kampus lebih berani SAY NO dari pada orang-orang dalam birokrasi pemerintahan. Kalau menggunakan konsep strategi pengendalian yang saya tawarkan dalam buku saya tersebut, mengendalikan orang kampus sebaiknya lebih condong ke result control daripada action control. Kebetulan saya juga sedang menulis tentang managing smart people, why different? yang akan saya publikasikan melalui Andaluarbiasa.com. Maaf, bukan berarti orang kampus selalu smart, mohon jangan dipelintir kaya wartwan koran… hahaha

Kasih bocoran dikit dong…!

Para profesional yang yakin akan kemampuan dirinya tidak akan suka dikontrol tindakannya dari langkah satu ke langkah berikutnya. Mereka lebih result oriented dari pada sekadar menjalankan tugas. Kalau dikaitkan dengan orang kampus atau dosen, mereka akan lebih bergairah kalau diberi target menulis satu buku setiap tahun, daripada misalnya dikontrol dengan cara diharuskan masuk jam delapan dan pulang jam empat.

Terakhir, sudah terpikir untuk melanjutkan buku-buku berikutnya?

Ada tiga buku yang sedang saya selesaikan hehehe. Kok jadi nafsu begini, ya…? Yang pertama adalah Local Wisdom Global Action, yang sebagian besar sudah saya publikasikan melalui Pembelajar.com, yang ke dua adalah Managing Yourself yang sebagian sudah saya publikasikan melalui Andaluarbiasa.com, dan yang ketiga adalah The New Art of Controlling People yang merupakan pengembangan dari buku pertama saya ini. Saya bisa bergairah menulis ini juga antara lain karena dukungan dan bimbingan Edy Zaqeus, yang terbukti berhasil mengontrol saya untuk menulishehehe.

Terakhir lagi, anjuran untuk rekan sesama dosen, terkait dengan kepenulisan dan buku?

Dosen ya harus menulis…. Menulis di jurnal itu sudah pasti enggak bisa ditawar. Tetapi, menulis buku tidak kalah penting. Ini warisan untuk putra-putri terbaik di negeri ini. Daripada “omong doang” mendingan “nulis doang” hehehe….[ez]

Foto-foto: Dokumentasi pribadi, koleksi Vina Tan, dan Maria Agatha Catursari.

Agung bersama para mahasiswa

Agung bersama para mahasiswa

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.7/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +4 (from 4 votes)

Hari Subagya: Siapa yang Tidak Berubah, Pasti Terpuruk!

Hari Subagya: Motivator Perubahan

Hari Subagya: Motivator Perubahan

Di Indonesia, satu-satunya motivator muda yang secara konsisten gencar menggemakan pentingnya perubahan, mungkin hanya satu nama yaitu Hari Subagya. Maklum, motivator kelahiran Boyolali, 26 Agustus 1968 ini punya serial seminar motivasi dengan banderol sama persis dengan judul bukunya, Time to Change. Tak heran bila kemudian Hari—yang juga menulis buku berjudul Success Proposal dan Time to Change in Selling ini—berhasil menancapkan personal branding-nya sebagai motivator perubahan.

Perubahan demi perbaikan dan kemajuan adalah keniscayaan di berbagai bidang. Tetapi faktanya, di segala lini atau bagian, selalu ada belahan kelompok yang mau berubah dan tidak mau berubah. Kelompok yang mau berubah memandang perubahan adalah keharusan, sementara kelompok yang tidak mau berubah memandang perubahan sebagai ancaman. Apa kata Hari Subagya? “Sungguh, perubahan itu adalah never ending story kalau kita mau bertahan. Siapa yang adaptiflah yang bertahan. Kalau tidak, dunia ini penuh dengan dinosaurus,” tegas jebolan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta ini.

Menurut Hari yang aktif di 3B Consulting dan PDP Consulting ini, treatment yang tepat bagi mereka yang tidak mau berubah harus dijalankan. Ada perubahan mindset, personal touch, ada kepemimpinan yang berwibawa dan berkarakter, bahkan jika perlu harus ada pressure atau replacement yang tepat. Semuanya juga harus disesuaikan dengan situasi dan karakter organisasi, kultur, kepemimpinan, berikut karakter jenis industrinya sendiri. Tetapi yang pasti, “kegelisahan positif” harus senantiasa diciptakan dan ditumbuhkan dalam organisasi agar kita tidak tergilas oleh persaingan dan perubahan.

Untuk mendiskusikan pentingnya perubahan secara lebih mendalam lagi, Edy Zaqeus dari AndaLuarBiasa.com mewawancarai Hari Subagya melalui chatting internet. Dan, suami dari Evie Kusumawardhani dan ayah dari Asia (12), Aussie (8), dan Diaz (2,5) ini memberikan jawaban-jawaban yang bernas serta enak untuk dicerna. Berikut petikannya:

Apa aktivitas Anda terkini?

Memberikan training motivasi Time to Change. Ini training motivasi untuk para karyawan perusahaan maupun organisasi supaya mereka bisa adaptif terhadap perubahan-perubahan yang datang begitu cepat. Persaingan bisnis begitu ketat, sehingga segala sesuatunya harus dijalankan dengan cepat, dan dengan antusiasme penuh. Kalau motivasi tim lemah, konflik internal juga semakin membesar. Apalagi tidak ada kesadaran yang baik tentang pentingnya kerjasama bagi kesuksesan bisnis maupun pribadi. Maka, kondisi organisasi akan semakin memburuk.

Mengapa perubahan penting, kan malah banyak yang enggak suka berubah?

Apakah Anda masih memakai pager hahaha…. Perubahan demi perubahan selalu terjadi. Perubahan tidak pernah secara terang-terangan memberi tahu kita. Butuh kepekaan dan bahkan butuh kesadaran akan adanya perubahan di setiap bidang. Resistent terhadap perubahan? Layaknya memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi tanpa sensitive terhadap tikungan-tikungan jalan. Siapa yang berubah, bisa sukses bisa gagal. Siapa yang tidak berubah, pasti terpuruk. Karena, selera dan ekspektasi customer kita selalu berubah, bahkan selalu meningkat. Untuk itu butuh sensitivitas untuk berubah dan memperbaiki diri.

Hari: Ciptakan kegelisahan positif!

Hari: Ciptakan kegelisahan positif!

Oke, bagaimana dengan orang yang ada dalam posisi comfort zone? Maksud saya, perusahaan lagi laba terus, penjualan meningkat terus, kinerja karyawan lagi bagus-bagusnya. Mau berubah ke mana?

Pernah naik kereta dari Jakarta Surabaya? Nah, apakah pernah tertidur? Mengapa tertidur? Karena rodanya bulat. Roda yang bulat seimbang, maka orang merasa nyaman dan tidur. Jadi, siapa pun yang berada di perusahaan, jika nyaman akan tidur. Untuk itu, selalu penting untuk membangun kegelisahan positif. Kegelisahan di mana organisasi merasa perlu memperbaiki dan bermental. Selalu ada cara yang lebih baik, produk yang lebih baik, proses yang lebih cepat.

Tolong dielaborasi lagi maksud kegelisahan positif itu dan apa contohnya…?

Customer itu selalu senang dengan hal yang baru. Jadi, walaupun sangat maju layaknya Nokia, namun munculnya Blackberry bisa membuat Nokia tergopoh-gopoh dan tergerus market share-nya. Kegelisahan positif adalah kegelisahan yang membuat siapa pun menjadi ingin memperbaiki diri. Caranya, coba lontarkan pertanyaan sepuluh ekspektasi customer Anda. Sebagai seorang ayah, apa sepuluh ekspektasi anak? Sebagai suami, apa sepuluh ekspektasi istri? Sebagai manajer, apa sepuluh ekspektasi anak buah? Sebagai anak buah, apa sepuluh ekspektasi atasan? Sebagai produsen, apa sepuluh ekspektasi konsumen? Jika kita terbiasa memiliki sepuluh keinginan customer kita di posisi mana pun, maka akan terbangun kegelisahan positif dan progres.

Bagaimana kegelisahan positif bisa menang dari kegelisahan negatif? Maksud dan versi saya, kegelisahan akan akibat-akibat negatif dari perubahan?

Layaknya setan dan malaikat berperang! Mereka sama kuat. Yang kita bantuin yang menang. Kebanyakan pribadi senang bertindak dalam batas-batas kenyamanan mereka. Sembilan puluh lima persen manusia senang dengan hal yang demikian. Sedang beberapa yang berhasil menjadi luar biasa. Mereka bisa bekerja dalam batas yang tidak nyaman, karena kesuksesan adalah sebuah keharusan. Tidak semua orang juga senang dengan perubahan. Orang tidak senang dengan perubahan karena perubahan itu memang tidak nyaman. Membutuhkan energi ekstra dan juga biaya. Menawarkan perubahan kepada mereka, biasanya akan ditolak. Kecuali bagi mereka yang sudah bisa melihat perlunya perubahan. Jadi, perubahan itu tidak akan terjadi ketika belum dipandang perlu.

Tuhan sering membuat kejadian supaya manusia memandang perlu adanya perubahan. Kecelakaan yang hampir merenggut nyawa telah membuat orang berubah menjadi lebih baik dan hati-hati. Kematian sang anak karena sakitdan tidak mampu membiayai biaya rumah sakit yang baiktelah membuat seseorang berubah menjadi sangat semangat dan mati-matian dalam bekerja. Cercaan dan makian yang menyakitkan dari para tetangga telah mengubah seseorang menjadi lebih santun dan tidak sombong. Atau, teguran-teguran lainnya.

Kehidupan ini sebenarnya selalu disiplin memberikan sinyal. Jarang terjadi sebuah jembatan roboh sebelum ada tanda-tanda lapuk atau besi berkarat, dan juga bunyi-bunyi sekrup yang kendor atau kerusakan kerusakan kecil. Begitu juga dalam tubuh kita. Manusia pada umumnya akan mati dimulai dengan tanda-tanda memutihnya rambut, melengkungnnya tulang punggung, dan berkurangnya penglihatan maupun pendengaran. Itu semua adalah tanda-tanda. Kejelian dan kemauan kita menentukan.

Hari: What time is it? Its time to change!

Hari: What time is it? Its time to change!

Dalam perusahaan selalu ada dua kelompok yang bisa cepat melaju dan lambat melaju. Bagaimana treatment-nya manakala perusahaan sudah tergerak untuk maju lebih cepat?

Benar, setiap kelompok akan terdistribusi menjadi tiga kurva normal; ektrim kanan yang mendukung perubahan, ektrem kiri yang menolak, dan tengah yang masih bisa diajak ke kanan atau ke kiri. Tawarkan perlunya perubahan, ajari memandang perlunya perubahan. Karena, perubahan itu pasti, maka harus selalu dilakukan. Namun di sisi lain, kecenderungan manusia mencari titik-titik aman untuk tinggal. Jika seseorang menemukan alasan perlunya perubahan, mereka akan berubah. Setiap hari kehidupan dan kejadian selalu memberikan “laporan” untuk kita. Mulailah membaca laporan itu sehingga kita mampu menemukan perlunya perubahan.

Selalu ada upaya serangan balik dari kelompok yang tidak setuju berubah. Bagaimana wise treatment-nya?

Manusia baik itu karyawan, manajer, dan direktur memiliki persepsi sendiri-sendiri. Tugas utama bagi pembawa perubahan adalah memberikan perspektif yang tepat untuk setiap individu. Ingat tidak semua sama. Dan, yang perlu digarisbawahi adalah kepentingan mereka. Show me the money dari masing masing individu. Ketika mereka menemukannya, mereka mendukungnya. Orang tidak setuju itu karena belum tahu atau karena kepentinganya terganggu. Atau, cara menyampaikanya tidak baik. Mungkin juga karena orang yang berada di lingkungan yang salah alias beda habitat. Nah, yang ini harus dipindahkan ke habitatnya hahaha….

Ini perspektif dari yang ogah berubah; perubahan mengguncang sistem, bagaimana dong? Satu simpul saja tidak selaras, ritme terganggu…?

Benar…! Perubahan itu berat, namun harus. bayangkan sebuah pabrik kompresor harus mengubah pabriknya dari kompresor dengan freon ke kompresor jenis baru. Bayangkan juga pabrik TV yang sudah lama dengan tabung harus mengubah produksi TV slim. Siapa yang berani tidak mengeluarkan TV slim dengan LCD? Siapa yang masih bertahan dengan TV tabung? Siapa yang berani membangun perusahaan tanpa harus membangun sistem IT di dalam? Tanpa e-mail? Sungguh, perubahan itu adalah never ending story kalau kita mau bertahan. Siapa yang adaptiflah yang bertahan. Kalau tidak, dunia ini penuh dengan dinosaurus.

Mari lebih menukik. Perubahan selalu berawal dari mindset. Padahal, titik ini pula yang paling susah digempur. Tawaran Anda?

Manusia yang menciptakan Tuhan. Jadi, kita menyontek Tuhan yang paling cespleng! Yaitu, menawarkan surga dan mengancam dengan neraka. Kita harus mampu menawarkan surganya dengan jelas dan menampakkan nerakanya dengan sangat jelas pula. Memahami satu per satu jenis pekerjaan dan karakter manusia. Dalam change management tentu ada tahapan-tahapannya agar bisa mulus.

Hari bersama tim menciptakan permainan-permainan baru

Hari bersama tim menciptakan permainan-permainan baru

Pintu-pintu perubahan mindset bisa melalui apa saja? Apa dari visi perusahaan, target, janji reward, atau bahkan sampai ke nilai-nilai terdalam organisasi?

Training itu sebenarnya adalah installing values, memasukkan positive values dalam diri peserta. Ketika values ini kuat, itu juga yang membentuk cooporate culture. Ada yang unsur-unsur innovative mengemuka, creative menonjol, maka perubahan akan mudah. Begitu juga jenis-jenis industri. Fashion, teknologi, dan yang lekat dengan teknologi. Maka perubahan itu akan semakin cepat. Apakah Anda mau membeli handphone tanpa kamera? Mungkin hanya sedikit yang mau. Apakah mau membeli pelembab atau penyegar dibungkus plastik? Mungkin juga tidak! Apakah mau membeli motor dua tak hahaha polusi!

Mengapa berubah itu sulit? Karena, kita ingin berubah dengan kesadaran atau conscious kita. Tetapi, baik itu emosi, kebiasaan, keyakinan, nilai, dan pola perilaku yang ada di subconscious tidak berubah. Kenyataanya sub-conscious yang lebih beperan. Alam bawah sadar kita yang lebih dominan. Ada yang mengatakan 88 persen subconscious berbanding 12 persen conscious. Jadi, bila terjadi konflik, maka probability kemenangannya adalah dimenangkan oleh subconcious. Itu sebabnya, banyak orang mengalami perubahan atau sukses membuat perubahan besar dalam hidupnya karena dipicu oleh intensitas emosi. Juga oleh perubahan nilai-nilai dalam kehidupanya, perubahan keyakinannya yang semakin membaik dan membesar, serta behavior patern yang berubah.

Nah, di sini sering organisasi melupakan “emosi”. Apa pun dalam perubahan juga harus mengandung “adonan emosi”. Harga diri, semangat, persaingan, penghormatan, penghargaan, aktualisasi, cinta, dll.

Sepertinya soal personal touch juga menentukan. Dalam hal ini, apa Anda lihat ada kelebihan pendekatan orang-orang kita dibanding orang luar?

Wah, kalau hal ini benar-benar tergantung orangnya. Namun, tidak dimungkiri, orang luar sering mendapat apresiasi lebih sehingga sebagai endorser yang lebih kuat. Sugestinya lebih kuat hahaha…. Namun, orang kita memiliki pendekatan budaya yang tentu lebih baik karena pemahamannya. Memang, orang akan senang mendengar dari yang dia hormati, dia sukai, dia percaya, yang suka padanya, dan yang seperti dirinya. Ini PR bagi siapa pun yang menjadi agen perubahan untuk memahami, agar dalam proses perubahanterutama dalam sebuah organisasitidak menghasilkan konflik yang tinggi.

Hari: Perubahan adalah keniscayaan bila ingin survive

Hari: Perubahan adalah keniscayaan bila ingin survive

Soal budaya ini, budaya organisasi-organisasi di Indonesia, apakah menghambat atau malah kondusif bagi perubahan?

Sebenarnya, dari pengalaman saya bekerja, faktornya banyak sekali. Bisa orangnya, bisa juga jenis industrinya, bahkan termasuk karakter pemilik atau pimpinanya. Beberapa restoran tradisional mengalami kegagalan karena tidak berubah. Sedang restoran “impor” selalu memiliki mainan-mainan baru, menu-menu baru, supaya mereka tetap menarik. Coba kunjungi restoran dan kafe-kafe saat ini, semua sudah lengkap dengan layout dan desain yang bagus, plus WIFI. Namun, restoran-restoran lokal tetap diam dan perlahan-lahan menutup gerainya satu per satu.

Karakter pemimpin perusahaan macam apa yang kondusif bagi perubahan dan inovasi?

Yang terbuka dengan hal-hal baru. Dengan teknologi, dengan tren, lifestyle, isu lingkungan, dll. Baru saja saya mengisi Time to Change Motivation di sebuah perusahaan makanan. Di sana kita akan menemukan produk-produk baru yang menarik. Kacang yang selama ini menjadi produk tukang keliling bisa menjadi produk yang sophisticated. Peluncuran produk baru minuman jeruk dengan merek tertentu, ini juga inovasi. Malam ini saya ke Lembang untuk memberikan motivasi bagi tim inovator sebuah perusahaan. Saya banyak menemui produk kosmetik baru yang menawan, baik dari kualitas maupun kemasan. Bahkan, cara memakainya. Pemimpin-pemimpin yang visioner dan adaptif yang akan sangat survive dan sukses. Sedang pemimpin yang kaku akan ketinggalan.

Mari kita tarik sedikit ke lingkup nasional. Menurut Anda, masyarakat kita sekarang—menatap persaingan global—harus bersikap atau berubah seperti apa?

Competitor is motivator! Ini harus menjadi mindset kita semua. Memiliki pesaing yang baik artinya kita akan semakin baik. Berbahagialah dengan keterbukaan dan kelancaran informasi di Indonesia. Maka, kita akan melihat dunia lebih terang benderang. Dan, masyarakat kita pun akan belajar sangat banyak, serta mengambil keuntungan yang banyak dari kondisi ini

Menurut Anda, masyarakat kita sudah siap untuk berubah dan bersaing dengan negara-negara maju lainnya? Atau, masih harus menunggu lebih lama lagi?

Teruslah belajar! Keep learning keep growing! Bidang apa pun, persaingan adalah hal yang hanya akan membuat kita semakin kuat! Kita siap! Sangat siap! Namun, kita harus mengetahui dengan baik kelemahan dan kekuatan sendiri. Pemerintah harus mengarahkan dan membantu dengan intensif, masyarakat Indonesia pasti jaya. Siapa yang bisa mengalahkan pariwisata Indonesia? Tentu tak tertandingi karena memang uniqueness-nya yang luar biasa. Sumber alam, sumberdaya manusia, letak geografis, dll. Sekaranglah saatnya! Now! No Opportunity Wasting. Tidak boleh menunggu. Sukses besar untuk Indonesia![ez]

Foto-foto: Dokumentasi pribadi beserta koleksi PDP Consulting.

Ctt: Hari Subagya membagikan sebuah e-book untuk pembaca. Silakan download di link berikut: http://www.harisubagya.com/hadiah.html

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.3/10 (9 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +8 (from 8 votes)

Johanes Ariffin Wijaya: Apa pun Profesinya, Kita Bisa Menjadi Motivator

Johanes Ariffin Wijaya: Menerima Posmo Award

Johanes Ariffin Wijaya: Menerima Posmo Award

Ia dikenal sebagai seorang inspirator dan motivator muda yang suka menggabungkan permainan sulap dan hipnosis dalam setiap acara seminar dan pelatihan. Johanes juga dikenal sangat rajin menelurkan karya berupa buku. Dalam usianya yang relatif masih muda, lelaki kelahiran Jakarta 14 Oktober 1977 ini sudah menghasilkan 15 judul buku laris. Bukan itu saja,  ia juga pernah menerima penghargaan Muri, Posmo Award, penghargaan Citra Generasi Pembangunan Indonesia, penghargaan Citra Eksekutif dan Profesional 2009, dan masih banyak lagi.

Terakhir, Johanes meluncurkan dua judul buku sekaligus, dan salah satunya yang berjudul The Secret of Hypnosis cukup mendapat perhatian dan sambutan positif dari pasar. Tampaknya, demam acara sulap dan hipnosis di televisi ikut memengaruhi kegairahan publik dalam menerima karya tersebut. Namun, sesungguhnya buku yang ditulis Johanes bareng dengan Setia I. Rusli (ahli hipnosis) itu sendiri memang berisi berbagai hal dasar dalam bidang hipnosis yang layak diketahui masyarakat luas.

“Hipnosis dapat digunakan oleh orang-orang untuk menjadi lebih percaya diri, lebih luar biasa, sehingga jika dirinya menjadi percaya diri dan luar biasa, pastilah motivasinya akan tinggi,” jelas Johanes tentang buku terbarunya itu. Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa selama ini masyarakat masih suka salah paham terhadap pengertian dan pemanfaatan hipnosis itu sendiri. Masih banyak orang beranggapan hipnosis itu seperti ilmu hitam. Padahal menurut Johanes, hipnosis sesungguhnya merupakan ilmu manajemen pikiran yang bisa dimanfaatkan sepenuhnya bagi kesuksesan seseorang.

Bicara mengenai dunia permotivasian, suami dari Mimi Kurniasari ini mengaku optimis bahwa ke depannya peran motivator akan semakin dibutuhkan oleh masyarakat kita. Terlebih melihat fakta bahwa jurang antara sebagian masyarakat yang sudah ber-mindset positif dengan yang ber-mindset tidak positif masih teramat lebar. Bahkan, ia berkeyakinan bahwa apa pun profesi yang kita tekuni, di situ kita bisa menjadi motivator. Dari titik ini, sesungguhnya banyak orang bisa mengambil peran positif dalam menggerakkan dan memajukan bangsa ini.

Masih banyak hal yang bisa didiskusikan bersama motivator yang juga seorang pengusaha ini. Semua hal menyangkut penulisan buku dan permotivasian selalu menarik perhatiannya. Berikut petikan wawancara Johanes Ariffin Wijaya dengan Edy Zaqeus dari AndaLuarBiasa.com yang berlangsung akhir Juli 2009, melalui percakapan online:

Apa judul buku karya terbaru Anda?

The Secret of Hypnosis dan juga buku EO - 7 Langkah Jitu Membangun Bisnis EO karena terbitnya bersamaan.

Kabarnya judul yang pertama mendapat predikat buku terbaik. Apa isi buku tersebut?

Ya, buku tersebut mendapatkan predikat buku motivasi terbaik booth Penebar Swadaya (sebuah grup penerbitan: red), ketika Jakarta Bookfair 2009. Karena, rupanya hipnosis dapat digunakan oleh orang-orang untuk menjadi lebih percaya diri, lebih luar biasa, sehingga jika dirinya menjadi percaya diri dan luar biasa, pastilah motivasinya akan tinggi.

Apa latar belakang Anda menulis buku tersebut?

Pertama, hipnosis itu adalah ilmu tentang manajemen pikiran. Kedua, menulis untuk mempraktikkan ilmu dan bisa membagikan kepada para pembaca. Ketiga, memang lagi demam acara The Master di televisi. Keempat, memberitahukan tentang rahasia-rahasia di balik hipnosis. Mungkin anggapan sebagian orang, hipnosis itu ilmu hitam, pakai magic, mantra, dll. Tetapi nyatanya tidak. Hanya dengan kekuatan pikiran dan komunikasi saja, salah satu bentuk ilmunya adalah NLP atau Neuro Linguistic Programming. Lalu kelima, memberitahukan kepada masyarakat tentang bagaimana cara mencegah kejahatan hipnosis. Dan keenam, dengan hipnosis orang bisa memaksimalkan potensi dirinya, lho. Ini yang membuat buku ini dapat predikat terbaik, di bawah buku Hillary Clinton, lho!

Buku tersebut terbit kapan dan sejauh ini bagaimana pasar menanggapinya?

Terbit Juni 2009. Dan buku ini diterima oleh pasar karena demam The Master. Sudah cetak ulang dan dalam satu bulan penjualannya sudah mendekati angka 10.000, efektif bulan juni 2009. Sekarang Juli 2009, baru satu bulan sudah cetak ulang dan penjualannya good-good-good. Laporan dari toko-toko buku juga sangat memuaskan.

Johanes dalam sebuah acara peluncuran buku terbaru

Johanes dalam sebuah acara peluncuran buku terbaru

Ini buku yang keberapa dan berapa lama proses penulisannya?

Ini buku ke-15 saya, yang The Secret of Hypnosis ya. Menulisnya kurang lebih tiga bulan bersama dengan Setia I. Rusli, teman saya yang pakar hipnosis juga. Cuma ke penerbitnya memakan waktu sekitar satu setengah tahun. Saya harus sabar menunggu momen yang tepat. Ssaya tidak menyerah. Buku ini pun sempat ditolak oleh beberapa penerbit. Namun saya percaya, semangat, semangat, semangat, dan tetap antusias. Akhirnya buku ini berhasil terbit, malah sukses dan diterima oleh pasar. Kebetulan momenya sangat tepat, ya. Pembacanya ada dari anak kecil sampai dewasa, mereka yang suka nonton The Master. Ada juga yang mau ikut audisi hehehe….

Tampaknya Anda banyak menggunakan teknik co-writing untuk menulis buku. Apa kurang dan lebihnya cara itu?

Menurut saya, sekarang kita harus kolaborasi karena masing-masing sudah punya pangsa pasarnya. Saya tidak melihat ada kekurangannya dengan sistem kerjasama. Malah sangat bagus. Tetapi saya kerjasama selama naskah itu masih dalam lingkup pengetahuan saya saja. Memang, lebih cepat pembagian tugas lebih enak. Misalnya, rekan saya tentang A sampai H, saya selanjutnya. Kalau ide, selama bahan dasarnya untuk menulis buku sama, memang ada terjadi sedikit perbedaan. Tetapi ketika dibahas, akhirnya sama lagi tuh. Ini menggunakan teknik negosiasi yah, terhadap rekan dan penerbit hehehe….

Cara ini juga bagus untuk mem-branding penulis baru. Menurut Anda?

Buat saya ndak apa. Saya senang bisa membantu teman-teman penulis baru. Mereka terbantu dengan saya kok, saya senang-senang saja. Hidup ini indah kalau kita bisa membantu orang lain, kan? Anda sudah baca buku Motivmagic yang ada permainan sulap di sana? Ada video tentang “King Make King”. Nah, orang sukses adalah orang yang bisa membantu orang lain untuk sukses.

Kalau dari sisi penulis, bagaimana proses penulisan semacam itu, mulai dari pemunculan ide sampai eksekusi penulisannya?

Kadang-kadang saya yang munculkan ide, terus ajak kerjasama dengan teman atau rekan, yang punya visi dan misi sama, gitu lho! Kalau Motivmagic dan The Secret of Hypnosis karena kebetulan bercerita tentang dunia misteri hehehe…. Ndak tahu pas ketemu Pak Bobby langsung saja, yuk kita buat motivasi dengan magic. Dengan Pak Setia, pas ketemu yuk kita buat hipnosis. Eh, Pak Setia bilang, “Ayo, gua juga mau bikin tuh sama lu.” Begitu.

Anda dikenal sebagai motivator yang sering memasukkan hipnosis dalam seminar-seminar Anda. Mengapa demikian? Nilai tambahkah?

Yes, salah satu training saya adalah berjalan di atas api dan beling. Itu menggunakan hipnosis. Pastinya untuk menambah percaya diri, semangat, dan antusiasme. Jika seseorang pede (percaya diri: red) dan antusias, segala sesuatunya akan menjadi lebih mudah. Dan, itu pastinya nilai tambah bagi saya, termasuk permainan sulap dan hipnosis.

Hipnosis dalam seminar atau pelatihan motivasi itu sebagai jalan pintas untuk mendapat motivasi, atau ada alasan lain?

Salah satunya. Semua pembicara sebetulnya tanpa sadar menggunakan hipnosis massa. Termasuk Anda juga, kan? Hehehe.… Itu juga memasukkan pikiran-pikiran positif, itu pun menggunakan teknik hipnosis juga. Salah satunya afirmasi positif atau pembayangan jalan di atas beling atau api, bahwa jika kita mau kita pasti bisa.

Nah, ini penjelasan yang bagus tentang hipnosis. Apa semua orang yang tidak secara langsung belajar hipnosis pun bisa menghipnosis?

Begini, sejak kecil sebetulnya kita menghipnosis diri kita sendiri. Coba bayangkan, kalau kita pakai baju itu kan biasanya mulai dengan memasukkan tanggan kiri dulu atau kanan. Nah, coba diubah, sekarang kebalikannya. Nah, itu sangat sulit, gitu lho! Tetapi kalau mau diubah kebiasaan itu, lakukan selama 21 hari berturut-turut, pasti bisa. Contoh, kalau bangun tidur jam 5 ya. Kita mau bangun tidur lebih awal, misalnya jam 4.30. Kita perlu setel jam weker. Tetapi cukup selama 21 hari kita lakukan terus-menerus. Nanti setelah itu tanpa weker pun kita akan bangun jam 4.30. Itu contoh untuk menhipnosis diri sendiri. Tetapi kalau menghipnosis orang lain, memang ada cara dan teknik-teknik tersendiri.

Bersama istri tercinta Mimi Kurniasari

Bersama istri tercinta Mimi Kurniasari

Minta contoh self instant hypnosis lagi. Bagaimana menghipnosis diri sendiri supaya tidak malas?

Kata-katanya yang harus diubah hehehe…. Misalnya, “saya rajin”, “saya seorang yang rajin”, “saya rajin”. Caranya, sebelum tidur katakan seperti ini, “Saya akan tertidur dengan pulas, besok saya akan bangun pada pagi hari—sebutkan jamnya, misalnya jam 05.00—saya bangun dalam keadaan segar, sehat, berenergi positif, dan rajin.” Bangun tidur katakan pada diri sendiri, boleh sambil lihat di kaca, “Saya seorang yang rajin. Saya rajin, saya berenergi, saya bersemangat, saya pede!”

Menarik sekali. Bagaimana menghipnosis diri supaya tidak stres atau setidaknya mengurangi stres…?

Kalau yang ini harus dengan bantuan dari agama dan keyakinannya. Misalnya, afirmasinya seperti ini: “Saya selalu bersyukur kepada Tuhan atas nikmat yang Tuhan berikan. Apa pun yang Tuhan berikan kepada saya, saya sangat mensyukuri dan berterima kasih.” Tetapi, ini jangan diterima mentah-mentah seperti itu. Kalau stresnya, misalnya, ndak ada duit, ndak mau kerja ya bagaimana bisa bersyukur hehehe…. Maksudnya, ini stres kalau kita sudah kerja maksimal, tetapi hasilnya masih kurang, nah itu lho caranya. Katakan kita selalu bersyukur atas karunia yang Tuhan berikan. Ini juga ada teknik tentang pikiran positif afirmasi, hipnosis. Segala sesuatu itu diambil hikmah positifnya, begitu….

Bagaimana Anda memandang peran orang-orang seperti Anda sendiri dan juga kolega Anda yang bergerak di bidang motivasi? Apa sumbangsih profesi motivator ini bagi masyarakat kita?

Dengan menjadi motivator, kami pasti sangat senang sekali. Karena, selain kami bisa memotivasi orang lain, kami sebetulnya juga sedang memotivasi diri sendiri. Karena sebagai manusia, wajar saja bila hidup ini pasti ada yang namanya turun naik. Tetapi, bagaimana caranya supaya ketika kita turun kita bisa naik lagi, itu kan permasalahannya? Kalau ditanya apakah saya tidak pernah down, saya katakan dengan jujur, saya pernah dan sering sekali down.

Tahun 2008, saya belajar rugi sebesar ratusan juta. Tetapi buat saya, memaknai rugi itu sebagai proses belajar. Saya buat mindset saya belajar yang memang mahal. Kalau saya terus-menerus terlena, apakah saya bisa maju? Saya langsung putuskan untuk: “Ayo bangkit!” Jadi, saya tidak ada waktu untuk sedih karena pembelajaran itu karena saya langsung semangat lagi. Ketika saya mengajar di kelas, saya pun ikut semangat lagi, membakar diri sendiri.

Menurut Anda, bagaimana masyarakat kita memandang peran dan profesi motivator itu?

Menurut saya, apa pun profesinya, kita bisa menjadi motivator. Siapa saja. Saya terkesan dengan seorang office boy yang berhasil menyekolahkan anak-anaknya ke perguruan tinggi. Caranya, dia sangat rajin sekali membelikan makanan staf kantor. Lalu, uang (upah atau kembalian yang diberikan kepadanya: red)  ditabung, terus dibelikan sebuah motor. Dia kasih sewa ke temannya untuk mengojek, sementara dia sendiri naik angkot. Mengojek kan temannya setor terus-menerus? Berikutnya uang setoran ojek temannya dan juga upah di kantornya dia belikan motor kedua, motor ketiga, motor keempat. Memang sih kredit, tetapi sekarang motornya yang sudah lunas ada tiga buah dan lima buah motor kreditan. Ojeknya pun berkembang, luar biasa! Nah, itu pun sudah jadi motivasi buat saya. Terus orang tua kita adalah motivator juga. Saya lihat ayah saya yang terkenal disiplin dan ibu saya yang penuh dengan cinta kasih. Karena itu saya menulis buku I Love U dan dapat MURI.

Kisah office boy tadi merupakan bukti bahwa siapa pun dengan latar belakang apa pun dapat mengubah kehidupannya menjadi lebih baik, asal ada kemauan berbuat?

Yes!

Kalau menurut Anda, dari titik mana kita bisa mengubah kehidupan kita?

Sebetulnya, banyak sekali. Ketika di titik terendah, kita juga bisa seperti kawan kita yang menulis The Power of Kepepet. Kita juga bisa ketika kita lagi senang di posisi puncak. Ada juga ketika titik biasa-biasa saja. JK Rowling adalah orang miskin harta, pertamannya. Tetapi dia kaya ide. Akhirnya, Harry Potter luar biasa. Menurut saya, di segala titik kalau mau lebih sukses ya harus tinggalkan comfort zone. Seorang yang sudah sukses ingin sukses, harus tinggalkan zona nyamannya.

Memberikan motivasi untuk mengubah mindset masyarakat

Memberikan motivasi untuk mengubah mindset masyarakat

Untuk bisa meraih hidup yang lebih baik, mana yang harus berubah dulu; tindakan atau mindset kita?

Pastinya mindset. Mindset yang dilakukan dengan tindakan. Saya melihat seperti tukang becak yang melakukan tindakan-tindakan, kemudian bekerja keras. Tetapi, kalau mindset tidak mau sukses, tidak akan sukses. Kalau tukang becak yang mau sukses dia pasti akan punya dua sampai tiga becak. Dia bisa sewakan becak-becaknya. Jadilah suatu saat dia tukang becak yang sukses, punya puluhan becak yang disewakan. Kalau tindakan-tindakan kemudian mindset-nya ndak jalan, tidak akan pernah sukses. Memang keduanya harus sejalan ya. Kalau mindset doang, tidak ada tindakan, juga tidak bisa jalan ya.

Mindset seperti apa yang harus diubah dan diganti dengan mindset macam apa?

Mindset budaya nerimo, sudah cukup, ndak bisa, dll. Harus diubah dengan serba bisa, masih ada peluang, masih ada kesempatan, dll. Yang penting ada unsur RA, receiveable dan achieveable. Maksudnya bisa dicapai selama itu bisa dengan RA, kita lakukan terus-menerus.

Bagaimana Anda memandang peran para mahasiswa dalam kebangkitan masyarakat kita? Tentunya dikaitkan juga dengan motivasi dan semangat untuk hidup menjadi lebih baik….

Pastinya para mahasiswa ini harus memiliki mental atau mindset positif. Karena lima, sepuluh, atau dua puluh tahun ke depan mereka adalah penggerak-penggerak di berbagai bidang. Mindset untuk hidup positif, bebas dari KKN, sehingga kalau mahasiswa sudah baik atau berpikiran positif, negara akan lebih maju. Saya sudah memulainya dengan memberikan seminar training citra diri kepada anak-anak SMU dan SMK. Saya minta dukungan dan bantuan Anda untuk sosialisasi kepada teman-teman. Harus dimulai dari SMU, bahkan SD. Penanaman mental di Tiongkok sudah sejak SD. Ada buku budi pekerti namanya Di Ti Kuei. Jadi, budi pekerti ditanamkan dari kecil.

Mereka harus lebih banyak disentuh oleh para motivator kita?

Pastinya. Walaupun mereka kadang-kadang berisik pas di kelas, kita maklumin hehehe…. Namanya juga masih kecil. Tetapi, kita beri sentuhan kasih sayang, cinta kasih. Cinta kasih kepada negara, kepada Ibu Pertiwi. Mana mau dia berbuat curang kepada negara kalau ditanamkan rasa Ai Kuo, cinta negara, seperti di Tiongkok. Memang ada sih satu dua orang, tetapi akan mengurangi banyak. Bentuk curang kan bisa korupsi dan menyelundupkan barang-barang ilegal, dll. Kalau ditanya kenapa rakyat Tiongkok bisa maju seperti sekarang ini, jawabannya ini; ketika saya ke sana belajar dari Mr Yang Kwang, dia katakan satu, cinta pada negara, cinta pada orang tua, cinta pada diri sendiri, cinta pada budi pekerti. Cinta pada budi pekerti termasuk bagaimana sih caranya berhadapan dengan guru, dengan saudara, dengan atasan, dengan bawahan, dll.

Menurut Anda, motivasi masyarakat kita untuk maju bagaimana? Tinggi atau rendah?

Masih terkotak-kotak. Ada yang sudah tinggi dan sudah maju, ada yang masih rendah. Jurangnya sangat lebar sekali.

Indonesia harus belajar dari China

Indonesia harus belajar dari China

Pada posisi mana Anda akan menempatkan diri di tengah-tengah situasi demikian?

Ya, saya sebagai motivator harus bisa ke kedua sisi. Kami sering membuat kelas-kelas dengan harga yang terjangkau biar yang di posisi rendah bisa ke posisi yang lebih tinggi.

Bagaimana Anda melihat dunia permotivasian 10-20 tahun ke depan?

Pasti rame nih. Kita memang perlu banyak motivator, lho! Nah, siapa saja bisa jadi motivator, kan? Seperti di AS, kan banyak tokoh-tokoh motivasi dunia dari Indonesia. Dengan budaya-budaya daerah kita, dengan “semangat 45” kita.

Terkait dengan mindset kolektif yang tadi dan peran para motivator, bagaimana kondisi mental bangsa kita 10-20 tahun ke depan?

Pastinya akan lebih maju, ya. Makanya tugas kita untuk memberikan mindset dengan buku-buku. Karena, dengan buku kita bisa menyebarkan mindset positif sampai ke dalam-dalam daerah yang mungkin kalau kita datangi butuh waktu berjam-jam.

Baik terakhir, mimpi-mimpi Anda ke depan terkait dengan pencapaian diri maupun masyarakat kita?

Saya ingin membuat suatu seminar yang bisa dihadiri oleh 100.000 orang dengan harga tiket yang murah, misalnya Rp 5.000 atau Rp 10.000. Mengapa harus bayar? Karena kalau bayar mereka akan lebih serius dibandingkan dengan gratis. Itu agar mindset manusia Indonesia bisa lebih maju. Mimpi saya juga terus-menerus berkarya untuk bangsa dan negara Indonesia. Termasuk ide kreatif saya, membuat motivitamin; vitamin motivasi dalam bentuk buku dalam kemasan botol.[ez]

Foto-foto: Dokumentasi pribadi.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.8/10 (12 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +12 (from 16 votes)

Cacuk Wibisono: Walk the Talk, Mari Wujudkan Tekadmu!

Cacuk Wibisono

Cacuk Wibisono

Anda suka bingung mencari tayangan televisi yang berkualitas pada hari Minggu pagi? Cobalah sesekali mengarahkan saluran televisi Anda ke stasiun Trans 7 pada pukul 10.00 wib. Anda akan temukan sebuah program berlatih bahasa Inggris bertajuk Walk the Talk dengan host “bule gile” Jason Daniels. Inilah salah satu program berlatih bahasa asing yang kini jadi favorit pemirsa televisi, baik dari kalangan dewasa sampai remaja dan anak-anak.

Ya, mungkin Anda sudah pernah atau sesekali menonton tayangan sarat nilai edukasi sekaligus sangat menghibur tersebut. Tahukah Anda, siapa otak di balik program edutainment televisi yang belakangan mendapat apresiasi dari berbagai kalangan tersebut? Sang kreator, anak muda itu bernama Cacuk Wibisono, Direktur PT Paradigma Visi Gracia, yang pernah menjadi penulis skenario sejumlah sinetron laris seperti Jin & Jun, Tuyul & Mbak Yul, Catatan Si Boy, Istana Impian, Ada-Ada Saja, dll.

Lahir pada 20 Desember di Jakarta, dan dari keluarga seniman, Cacuk memang selalu dihantui kerinduan untuk menghasilkan karya-karya yang punya pengaruh dan berkesan di benak khalayak. Sejak kecil cacuk memang bercita-cita jadi penulis, maka tak heran pula bila kariernya cukup mulus di dunia penulisan naskah sinetron. Namun, industri televisi yang membesarkannya pun telah mengusik hatinya untuk membuat karya-karya yang tidak semata-mata mengabdi pada kepentingan modal. Ada kerinduan untuk menghasilkan program televisi yang langsung dirasakan manfaatnya oleh pemirsa. “Saya tertantang,” ujar suami dari Rugun Sibarani ini.

Berawal dari sebuah sayembara pendanaan program pendidikan bahasa melalui televisi oleh Kedubes AS di Indonesia, Cacuk dan timnya mengadu untung dengan ide kreatif mereka. Ternyata, proposal atau pilot program mereka diterima dan mengalahkan sejumlah production house besar. Lebih membanggakan lagi, program Walk the Talk—jenis program edukasi yang biasanya kurang mampu bersaing di televisi—ternyata kini disambut antusias oleh masyarakat dan mendapat apresiasi positif dari media massa. Semangat pun terpacu untuk terus mencari dukungan agar program ini berlanjut dan terus dapat mendatangkan manfaat bagi publik.

Nah, mungkin Anda adalah salah satu dari “sedikit” pemirsa kita yang masih merindukan tayangan-tayangan televisi berkualitas. Walk the Talk adalah tawaran Cacuk dan kawan-kawannya untuk menghibur, mendidik, sekaligus menekankan betapa pentingnya masyarakat kita menguasai bahasa Inggris sebagai bahasa pergaulan dunia. Dukungan bisa Anda berikan dengan menonton, mengomentari, atau memberikan usulan melalui website mereka yang beralamat di www.walkthetalk-indonesia.com. Berikut apresiasi AndaLuarBiasa.com terhadap program tersebut, yang dihadirkan dalam petikan wawancara tertulis Edy Zaqeus (Editor) dengan Cacuk belum lama berselang:

Sebenarnya, apa latar belakang pembuatan program Walk the Talk ini?

Sebuah kerinduan untuk melihat program yang terasa manfaatnya bagi pemirsa secara langsung. Saya sering mendengar bahwa pemirsa tidak suka program yang berat. Mereka ingin tertawa, mereka ingin relaks…. Nah, saya tertantang Sekalipun tertawa dan relaks, tetapi ada value-nya. Begitulah hasrat saya. Program ini ingin menumbuhkan kerinduan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris kepada pemirsa.

Ada idealisme tertentu?

Saya menganut prinsip berikan kepada viewers apa yang mereka perlu. Dan bukan apa yang mereka mau. Walk the Talk memberikan apa yang masyarakat perlu. Sementara, banyak acara televisi lebih memberikan apa yang masyarakat mau.

Menurut Anda, apakah benar program-program televisi yang bernuansa pendidikan saat ini sudah jauh berkurang? Atau, memang tidak pernah cukup?

Masyrakat terus berkembang…. Perubahan demi perubahan terjadi. Dalam situasi seperti ini, program pendidikan harus juga berkembang. Coba kita tengok program 2 Pendidikan yang ditayangkan di TVRI. Apa kesan pertama yang mampir di kepala kita? Terasa lampau, ya? Terutama dalam sentuhan gambar dan kreatifnya. Jadi, memang harus terus dilakukan pengembangan, baik jumlah maupun kualitasnya.

Cacuk: Kehidupan "orang kecil" selalu memberikan inspirasi

Cacuk: Kehidupan "orang kecil" selalu memberikan inspirasi

Bagaimana prosesnya sampai program ini lahir?

Awalnya sebuah fax berisi tawaran sayembara dari US embassy untuk membuat program pemasyarakatan bahasa Inggris kepada masyarakat. Lalu, saya mengajak dua orang staf cameraman untuk membuat sebuah pilot. Kisah pembuatan pilot ini juga lucu. Sejak semula, saya memang sudah mengenal Jason, host program ini. Dan, setelah saya tahu bahwa dia sedang di Bandung, saya bersama tim kecil ke Bandung juga untuk membuat pilot saya. Seperti biasa, saya menunda memikirkan konsep. Saya pikir, “Ah… sambil jalan ke Bandung saja, deh…!” Sampai di Bandung, saya belum juga memiliki ide, blank! Kami kemudian memutuskan makan siang saja karena hari memang sudah siang saat itu. Nah, ketika makan siang itulah saya melihat ada seorang bapak, Pak Nanang namanya, yang memiliki wajah lucu. Secara naluriah saya minta izin melakukan interview singkat. Pertanyaannya, “Apa kata dalam bahasa Inggris yang Bapak tahu…?”

Apa jawaban si Bapak itu?

Jawaban si Bapak itu salah-salah dan sangat lucu, dengan guyon khas orang Bandung. Tetapi, sorot matanya itu yang begitu menancap di benak saya. Sorot mata yang penuh kesungguhan dan senang karena diberi kesempatn “praktik” berbahasa Inggris. Dia bilang juga kalau dipenuhi penyesalan karena tidak belajar Inggris dengan serius. Daar!!! Eureka!!! Saya tertawa, namun juga terharu. Saat itulah saya menyadari, program bahasa Inggris ini harus dilakukan dengan straight talk, bicara langsung. Karena begitu segar, begitu jujur, begitu tulus.

Akhir dari perjalanan kami di Bandung menjadi mudah dan menyenangkan. Karena sudah ide yang membara di dalam pikiran. Saya bertemu Jason di Bandung siang itu dan menuju Dago untuk pembuatan pilot. Sebagai penghargaan kepada orang yang telah menyulut ide Walk the Talk, saya ajak Pak Nanang ikutan shooting sorenya, dan malam hari kamu sudah di editing room di Jakarta. Tiga hari kemudian saya sudah menyerahkan pilot ke US Embassy.

Dan, pilot Anda sukses memenangkan sayembaranya?

Ya, kira-kira seminggu US Embassy menghubugi kami dan memberitahukan bahwa kami memenangkan sayembara, dan kami mendapatkan dana produksi untuk memproduksi program ini. Kami menyisihkan 50 kontestan lainnya. Banyak di antara para kontestan adalah raksasa dalam bidang program televisi.

Lalu, dari mana ide nama program Walk the Talk?

Nama Walk the Talk sendiri berasal dari hasil pengamatan saya terhadap orang-orang yang kami temui dan interview. Kebanyakan mereka mengatakan penyesalannya karena tidak belajar bahasa Inggris dengan serius. Nah, mulai sekarang mereka akan serius belajar bahasa Inggris. Itu kan tekad? Nah, Walk the Talk berarti mari wujudkan kata-katamu atau tekadmu. Jadi, Walk the Talk itu bukan berarti berjalan dan berbincang, lho! itulah sebabnya kami di Paradigma, jika menegur sesama kami yang sedang lesu, kami berteriak, “KEEP WALKING THE TALK!”

Soal dana program, apakah tidak ada pesan-pesan sponsor?

Pesan sponsor dari US Embassy boleh dibilang tidak ada. Semua diserahkan kepada kami. Hanya satu yang dititipkan kepada kami, yaitu bahwa segmen dari program ini adalah adult learner. Namun, suatu ketika saya mengamati setiap episode Walk the Talk, dan menangkap sebuah pesan yang halus…. Kok ada bule mau ngomong dan ngajarin orang dengan spontan? Tiba-tiba perasaan saya menjadi hangat. Mudah-mudahan perasaan saya ini dirasakan juga oleh setiap pemirsa.

Cacuk bersama Rugun sang istri dan Jason Daniels

Cacuk bersama Rugun sang istri dan Jason Daniels

Ide dasar kemasan program ini sebenarnya seperti apa?

Saya ini orang yang suka bercanda dan humor. Jadi, sejak semula saya tidak ingin membuat program yang kaku dan formal. Nah, ketika membuat pilot, saya menyadari bahwa format semi reality adalah bentuk terbaik dari program ini. Jadilah Walk the Talk seperti saat ini. Namun, saya sepenuhnya menyadari bahwa program televisi adalah sebuah dialektika antara pembuat program dan pemirsa. Dari minggu ke minggu kami mencoba mengerti apa yang diinginkan oleh pemirsa. Dan, kami men-develop apa yang kami rasa “diperlukan” oleh pemirsa kedalam bentuk yang pemirsa inginkan. Sebuah usaha yang tidak pernah berhenti. Menarik namun menguras banyak energi. Terkadang air mata, dan tentu saja keringat. Namun, ini sebuah usaha yang layak.

Sasaran pemirsa program ini?

Adult learner karena segmen inilah yang biasanya melupakan bahasa Inggris, yang dulu mungkin pernah mereka perlajari. Iya, kan? Setelah kita lulus sekolah atau kuliah, begitu masuk dunia kerja, kebanyakan dari kita tidak lagi mendapatkan kesempatan mempraktikkan bahasa Inggris.

Tapi tampaknya Walk the Talk juga oke buat anak-anak?

Ya, lucunya program ini ternyata juga sangat menarik bagi anak-anak dan remaja. Sementara, penonton dari kaum wanita juga banyak sekali. Ada e-mail yang masuk kepada kami dari seorang ibu. Dia menceritakan betapa bahagianya dia karena untuk pertama kalinya bisa menyuruh anaknya nonton Walk the Talk. Biasanya, dia melarang keras anaknya nonton televisi.

Sejauh yang sudah Anda pantau, bagaimana respon masyarakat terhadap acara ini?

Respon terhadapada acara ini bagus sekali. Rata-rata share adalah 3,2, sementara rating 0.5. Saya melihat ke mana pun kami pergi dan shooting, ternyata masyarakat mengenali program ini. Kami pun mendapat banyak supprort melaui Facebook, dan dari hit di website kami juga tampak minat yang besar terhadap program ini. Kompas dan Tempo memuat program ini dalam liputan mingguan mereka. Hal ini menujukan bahwa proram ini menarik dan bagus.

Apa pengalaman-pengalaman paling menarik saat menggarap episode-episode Walk the Talk?

Saya tidak bisa mengingat pengalaman tidak menarik saat shooting. Cobalah ikut bersama Tim Paradigma saat shooting. Setiap orang akan terkesan, karena memang begitu menarik. Suatu ketika terjadi dialog seperti ini di sebuah taman di RT 07, Sawo Ujung, Cipete. Sekelompok ibu sedang menyiram tanaman, Anda bisa saksikan adegan ini di episode Farmer. Begini dialognya:

Jason, memegang jahe, “Apa ini, Bu?

Si Ibu sambil berpikir, “Ooo...

Jason menggigit daun jahenya, “It taste like ginger…!

Si Ibu, “Oh, no….no danger… mister…

Atau lihat contoh dialog Jason dengan penjual parcel yang terjadi di Pasar Cikini dalam episode Entrepreneur.

Jason, “Bapak bisa bicara bahasa Inggris?

Penjual parcel, “No…little…sedikit…

Jason tanya lagi, “Apa kalimat bahasa Inggris yang Bapak tahu?

Penjual parcel menjawab, “Saya enggak tahu… Yang saya tahu cuma… I want to kiss you!!

Jason sontak menjawab, “Oh, no I don’t want to kiss you!

Sebagai seorang penulis, saya takjub dengan keindahan dialog yang begitu fresh dan tidak terduga ini. Saya seperti sedang disuguhi adegan-adegan ciptaan sang maestro penulis, setiap kali shooting. Bagi saya pribadi, proses shooting Walk the Talk adalah sebuah pertunjukan drama manusia yang indah. Ikutlah sekali-sekali….

Kalau tema-tema yang diangkat dalam program ini, ide-idenya dari mana?

Tema-tema di setiap episode memang dibuat dengan alasan strategis, yaitu bagaimana menjangkau dan memperluas segmen. Itulah sebabnya setiap topik selalu adalah topik yang dekat dengan kehidupan masyrakat. Ide-ide setiap tema datang dari saya sendiri, dan saya menyusunnya sebelum Walk the Talk dimulai. Menyenagkan karena tema-tema yang sudah disusun terasa actual di masyarakat.

Tim Paradigma dengan Merah Putih di dada mereka

Tim Paradigma dengan Merah Putih di dada mereka

Kalau tema-tema wisata dan budaya apa digarap, kan menarik juga?

Wisata dan kebudaayaan selama ini saya lekatkan dengan setiap tema. Contohnya dalam episode mingu ini. Kami bisa realisasikan, dan Jason selalu memuji keindahan setiap kota. Oh ya, kami juga mendengar berbagai masukan dari pemirsa. Misalnya, ada yang minta lebih banyak vocabulary. Kami aplikasikan dengan menempatkan stickies di pojok kiri. Atau, ada juga pemirsa yang meminta daerahnya didatangi, dan kami senang saja melayaninya. Jadi, dialektika ini sudah tercipta.

Sejauh ini, tema apa saja yang sudah digarap?

Yang sudah ditampilkan tentang transportasi, guru, extreme sport, green life style, coffee, farmer, film industry, small medium enterprise, antique, dan minggu ini globalisasi!

Profesi-profesi yang sifatnya membangkitkan semangat, kreativitas, dan inovasi masyarakat, seperti yang dijalankan para motivator dan trainer, juga menarik….?

Itu yang sedang masuk ke benak saya. Profesi-profesi yang menarik, yang kontemporer, yang tidak terpikirkan 20 tahun lalu. Mudah-mudahan di season kedua kami bisa merealisasikannya.

Mengenai pemilihan Jason Daniels, ‘si bule’ sebagai host, bagaimana ceritanya?

Jason adalah sosok yang buat saya penuh dengan kontradiksi. Pertama, dia tidak cakep. Kedua, dia itu “kampungan hahaha…. Ketiga, he is very smart. Ketiga hal ini membuatnya pas untuk membawakan karakter host Walk the Talk yang–sama seperti jiwa sayakampungan, blusak-blusuk ke mana-mana. Saya begitu terkesan dengan kemampuan alamiah Jason dalam menghacurkan pemisah, yang biasanya tercipta antara bule dan orang Indonesia… Bukan saya saja, seluruh isi Paradigma jatuh cinta sama bule yang satu ini. Dia mengajar bahasa Inggris di Seskoad. Saya yakin, dengan Jason sesuatu bisa jadi seru, dan itulah kenyataannya.

Berdasar pantauan Anda, bagaimana tingkat penerimaan pemirsa terhadap penampilannya?

Saya mengatakan kepada Jason, untuk meninggalkan kesan “bule gile” yang menancap di pemirsa , dan menjadi seorang dengan image “educator”. Dia sangsi karena menurutnya orang sudah menyukai dia gila-gilaan. Tetapi, kini dia malah berterimakasih. Karena, belum pernah dalam kariernya di televisi, dia menerima begitu banyak respon positif. Jika kami mengajak Jason ke mal, maka banyak ibu atau bapak yang mendorong anaknya untuk berbicara bahasa Inggris ke Jason. Penerimaan masayarakat atas Jason sungguh membesarkan hati.

Target-target apa yang hendak Anda capai dari program ini?

Sungguh naïf ya bila mengatakan dengan menonton program ini orang akan bisa berbahasa Inggris. No! Program ini bertujuan menumbuhkan motivasi kepada setiap penonton, betapa pentingnya meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris, dalam segala skala. Bahkan, jika hanya passive atau patah-patah sekalipun, berbahasa Inggris bisa membuka peluang.

Inilah yang kami ingin share kepada pemirsa. Yang kedua, yang kami lihat dari shooting atau off air, betapa senangnya masyarakat berkesempatan bicara dengan Jason dalam bahasa Inggris. Jadi, kami memperbanyak street talk untuk memberikan pengalaman berbahasa Inggris kepada orang biasa. mereka mendapat kesempatan ngobrol dengan bule. Saya yakin, ini akan berkesan mendalam. Dan, suatu ketika anak mereka minta uang untuk kursus bahasa Inggris, mereka akan merestui, karena mereka menyadari kepentingannya.

Langkah-langkah apa saja yang sudah dijalankan oleh tim Anda supaya program ini terus mendapat dukungan dan apresiasi masyarakat?

Kami sudah mendatangi beberapa pihak dan juga meminta waktu untuk beraudisi dengan Departemen Pendidikan Nasional. Begini, lho... saya tuh malu, karena pihak-pihak dalam negeri sendiri enggan atau belum mau membiayai program-program semacan ini. Sejauh ini, usaha kami masih kecil sekali hasilnya. Dan, untuk season 2, jika tidak ada pihak dalam negeri yang mau mebantu, kami terpaksa baru bisa memulainya di bulan Desember 2009. Sayang sekali.

Baik, Anda punya mimpi apa dengan program ini?

Saya memimpikan program ini bisa bertahan pada skala rating dan share yang tinggi sehingga para brand mau memasang iklan di program ini. Saya juga memimpikan program pindah jam tayang ke jam sore, 18.30 wib. Ini untuk mendapatkan pemirsa yang lebih banyak. Saya berharap suatu ketika program ini tidak diperlukan lagi. Karena masyarakat sudah menyadari pentingnya meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris mereka. Impian yang terakhir inilah yang saya begitu rindu melihat perwujudannya.

Ada pesan untuk target pemirsa Anda?

Walk the Talk adalah sebuah kalimat yang berat, satu kata dengan perbuatan. Ini juga jadi masalah di kepemimpinan nasional kita, kan? Pesan saya, ayo kita terus belajar bahasa Inggris. Biar sedikit, biar enggak sempurna belajarnya, ayo kita terus bersemangat. Dan, terapkan bahasa Inggris kapan pun, di mana pun.

Kalau pesan atau harapan untuk sesama kreator program-program pertelevisian?

Waduh… berat nih pertanyaannya…! Oke, sebagai kreator program, kami diberi previledge untuk menuntun masyarakat. Sehingga, memang kita seharusnya mebuat program yang selalu bernilai positif. Pesan kedua, mari terus berkarya dan belajar, dan ciptakan program dari hati….

Ok, makasih wawancaranya dan sukses ya….

Baik, terima kasih. Saya sangat menghargai kesempatan ini. Mudah-mudahan bermanfaat dan membuka wawasan. Salam Walk the Talk! Sukses untuk Anda![ez]

Walk the Talk digemari oleh orang dewasa, remaja, hingga anak-anak

Walk the Talk digemari oleh orang dewasa, remaja, hingga anak-anak

Foto-foto: Dokumentasi Paradigma.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 5.0/10 (4 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 2 votes)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya Oleh: Don Gabor Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009 ISBN: 978-979-22-5073-2 Tebal: xviii + 380 hal Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas! Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox