Butir Jagung pun Mengajarkan Tentang Hidup
Editor | Kolom Tetap | February 15th, 2009
Oleh: Sribudi Astuti*
Kantor tempat saya bekerja saat ini mempunyai lahan yang cukup luas untuk membudidayakan berbagai jenis tanaman. Dari lahan yang ada, pegawai lapangan menyebut lahan basah untuk lahan yang mendapat pengairan sepanjang tahun, dan lahan kering untuk lahan yang tidak mendapatkan pengairan teknis. Lahan basah ditanami padi sepanjang tahun, dan lahan kering ditanami tanaman jagung sepanjang tahun.
Suatu hari, di tengah musim penghujan dan bertepatan dengan awal musim tanam jagung, seorang petugas lapangan datang kepada saya. Ia menunjukkan beberapa butir jagung yang ia tanam beberapa hari sebelumnya, yang mulai membusuk dan sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan menjadi tanaman baru.
“Ai…. Sia-sia saja bungkuk seharian, jagungnya banyak yang ndak tumbuh,” begitu keluhnya pada saya kala itu. Petugas lapangan lain yang kebetulan berada tak jauh dari kami berdua juga turut urun bicara, “Jelas saja, lha wong banyak hujan, tanahnya tergenang, bagaimana jagungnya mau tumbuh, busuk iya!”
Saya sebenarnya kasihan dengan petugas lapangan itu. Jelas saya tidak bisa berbuat banyak untuk menumbuhkan jagung-jagung itu.
“Ya sudah... siapkan saja benih baru, nanti disulam. Jangan lupa, buat alur biar airnya tidak menggenang di lahan.” Akhirnya, hanya itu yang keluar dari mulut saya.
Secara mendasar, memang jagung sulit tumbuh dengan baik di musim penghujan. Karena, kebutuhan manusia yang tak bisa terhentilah yang mengharuskan jagung ada dan tersedia sepanjang tahun. Tentu manusia harus berpikir untuk mengatasinya.
Air memang perlu, untuk segala kehidupan di bumi ini, tak terkecuali untuk jagung-jagung itu. Tetapi tahukah, bahwa jagung-jagung itu sama sekali tidak mau tumbuh ketika tempat dia diletakkan tergenang air? Ada apa gerangan?
Jagung juga makluk seperti kita. Meski tak dapat bicara, meski tak dapat merasa, tapi ia juga dikodratkan Tuhan untuk tumbuh dengan tantangan-tantangan agar ia menjadi kokoh dan berguna. Tantangan paling sesuai untuk butir jagung adalah keterbatasan air. Dengan air yang terbatas, jagung akan menumbuhhkan akar-akarnya untuk mencari air jauh kedalam tanah. Ini alamiah. Perimbangan pertumbuhan akarnya itu kemudian memunculkan daunnya, memanfaatkan hasil-hasil kerja keras akar yang menembus tanah. Itu untuk menghadirkan pemandangan hijau di atas tanah. Kemudian, ketika pertumbuhannya maksimal, ia akan menghadirkan bunga dan disusul buah. Itu terjadi untuk melengkapi kodratnya sebagai makhluk Tuhan, untuk berbuah dan berkembang biak, serta menggenapi tugasnya menghadirkan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kehidupan di bumi.
Kita juga bisa seperti jagung-jagung itu. Ketika hidup kita berlimpah, terkadang kita lupa untuk tumbuh. Atau, kita malah malas bertumbuh dan akhirnya kehilangan makna hidup. Saat kita ditempa keterbatasan-keterbatasan kecil, tidak punya uang untuk melanjutkan sekolah misalnya. Padahal, kita ingin sekali melanjutkan sekolah seperti teman-teman yang lain. Kita juga ingin mendapatkan pekerjaan serta mempunyai kehidupan yang lebih baik di masa depan. Tentu, kita akan berusaha keras bagaimana mendapatkan biaya sekolah. Bekerja paruh waktu untuk sekolah, menjadi pengajar di bimbingan les pada malam hari, dan sebagainya.
Dari tantangan terberat untuk tetap bisa melanjutkan sekolah itu, secara langsung akan berdampak pada keberlangsungan pendidikan kita. Inilah pertumbuhan pertama akibat dari sebuah tantangan. Pertumbuhan pertama ini di kemudian hari akan berdampak pada pertumbuhan berikutnya, yang pastinya lebih baik: pekerjaan yang layak, penghidupan yang mapan serta serangkaian dampak lainnya yang dapat kita arahkan sesuai keinginan kita.
Analogi kehidupan yang pantas kita renungkan bukan? Alam selalu mengajarkan kita untuk lebih arif memandang hidup ini, demikian pula dengan butir-butir jagung itu. [sba]
* Sribudi Astuti lahir di Sleman, Yogyakarta, pada 29 Agustus 1979. Pendidikan S-1 diraihnya di Fakultas Teknik Pertanian, UGM, Yogyakarta. Saat ini ia menjadi widyaiswara/trainer di Balai Besar Pelatihan Pertanian Batangkaluku, UPT Badan Pengembangan SDM Pertanian, Departemen Pertanian, Gowa, Sulawesi Selatan. Sribudi dapat dihubungi melalui HP:081342259894/085656450918.

February 18th, 2009 at 10:49 am
Di mana pun kita ditabur, semestinya kita dapat terus tumbuh dan berbuah, ya Bu. Tak peduli itu di atas tanah gersang ataupun di rawa tergenang.
Selamat bertumbuh dan menebarkan serbuk sari untuk sesama!
December 4th, 2009 at 2:48 pm
terimakasih bu atas motifasinya……………