Buku Saku

sg1Oleh: Sulmin Gumiri*

Dalam bukunya The Seven Habits of Highly Effective People, Stephen R. Covey menjelaskan betapa pentingnya manajemen pribadi dalam menunjang kesuksesan seseorang. Menurut pakar pengembangan diri ini, salah satu hal mendasar dalam manajemen pribadi yang harus menjadi kebiasaan agar bisa sukses adalah dengan selalu mendahulukan pekerjaan berdasarkan skala prioritas. Bagi orang kebanyakan, pekerjaan yang penting dan urgen tentunya harus lebih didahulukan daripada pekerjaan yang penting tetapi tidak harus dilakukan sekarang. Tetapi bagi orang-orang yang proaktif, yang terjadi adalah kondisi sebaliknya. Mereka cenderung akan mendahulukan pekerjaan yang tidak urgen tetapi penting daripada selalu dikejar-kejar waktu dengan selalu fokus kepada pekerjaan urgen dan penting saja.

Masalahnya adalah kita tidak akan pernah bisa menentukan skala prioritas pekerjaan jika kita tidak memiliki daftar pekerjaan yang ingin kita lakukan. Dalam tulisan kali ini saya ingin membagikan pengalaman pribadi saya tentang betapa pentingnya sebuah buku saku dalam manajemen pribadi kehidupan kita sehari-hari.

Saat mengunjungi salah satu museum bersejarah di Jepang baru-baru ini, saya menyaksikan peninggalan salah seorang tokoh besar di negeri Sakura tersebut yang sudah meninggal beberapa puluh tahun yang lalu. Dari semua koleksi pribadi sang tokoh yang dipajang di kotak kaca, mulai dari publiaksi ilmiah, peralatan kantor, dan pakaian kerja, hingga berbagai medali penghargaan yang pernah ia dapatkan semasa hidupnya, saya sangat tertarik melihat tumpukan puluhan buku saku kecil yang juga dipajang di sana. Pada salah satu lembaran buku yang sengaja dibuka, terlihat tulisan tangan yang berisi agenda kerja harian sang pemilik buku.

Dengan memajang buku-buku saku sederhana tersebut, pengelola museum seolah-olah ingin menyampaikan pesan kepada pengunjung, bahwa sang tokoh adalah orang yang sangat disiplin mengelola dirinya dengan selalu membuat rencana kerja dan merekam apa saja yang ia lakukan setiap hari, sejak ia masih sangat muda hingga akhir hayatnya.

Seiring dengan perjalanan waktu sebagai pegawai negeri, akhir-akhir ini saya merasakan ada semacam peningkatan efisiensi dan efektivitas yang luar biasa dari kemampuan saya mengerjakan berbagai jenis dan volume pekerjaan, yang seolah-olah semakin bertambah dari hari ke hari. Saking padatnya agenda kerja yang harus dikerjakan setiap harinya, pernah salah seorang teman bergurau kepada saya, “Di saat para staf terlihat santai dan kadang berkeluh kesah tentang tidak adanya pekerjaan di kantor, Pak Sulmin justru selalu sibuk seolah-olah tidak pernah kehabisan pekerjaan. Memangnya yang dikerjakan Pak Sulmin apa saja, sih?”

Pertanyaan menggoda tersebut hanya saya jawab sekenanya, “Saya juga tidak tahu kenapa selalu saja ada yang harus saya kerjakan. Mungkin karena sebelum menjadi pegawai dulu saya memang seorang pencari kerja. Makanya, yang saya dapatkan setelah menjadi pegawai pun akhirnya juga cuma pekerjaan yang selalu datang tiada habis-habisnya.”

Saya sebenarnya ingin mengatakan kepada teman tersebut bahwa agar hidup kita senantiasa bersemangat dan antusias setiap hari maka kita harus memenuhi kapasitas kerja kita pada hari tersebut. Pemenuhan kapasitas kerja tersebut bisa dengan melakukan tugas-tugas rutin yang biasanya diberikan oleh atasan kita, atau secara proaktif membuat daftar kegiatan antisipasi sendiri sebelum disuruh sehingga kita tidak selalu tergantung kepada perintah atasan. Orang kebanyakan akan cenderung kepada pola yang pertama, sehingga mereka yang selalu pada posisi menunggu perintah atasan inilah yang sering mengeluh bahwa tidak ada pekerjaan di kantor. Alhasil, mereka banyak yang frustasi dan kehilangan gairah serta semangat dalam menjalani kehidupan. Mereka bahkan ada yang memilih ikut meliburkan diri begitu mengetahui bahwa pimpinan mereka tidak akan masuk kerja sehingga tidak ada yang akan memberikan pekerjaan kepada mereka hari itu.

Orang yang proaktif tidak akan pernah kehabisan pekerjaan. Mereka menyadari bahwa sebenarnya banyak sekali hal-hal yang bisa kita kerjakan tanpa menunggu perintah atau arahan dari orang lain. Bagi mereka, lebih baik menyelesaikan pekerjaan tersebut dengan kesadaran dan keinginan sendiri daripada mengerjakannya karena disuruh. Dengan berprinsip seperti ini, mereka menjadi manusia-manusia yang bebas dan tidak pernah merasa dalam tekanan saat melakukan aktivitas-aktivitas pekerjaan mereka sehari-hari.

Sebuah buku saku akan sangat membantu kita untuk selalu menjaga antusiasme dan semangat kerja. Kita dapat memanfaatkan buku saku tersebut sebagai alat untuk merekam dan merencanakan apa saja yang ingin kita kerjakan setiap harinya. Cobalah untuk membuat kebiasaan baru dengan meluangkan waktu 5 sampai 10 menit sebelum tidur untuk memikirkan dan mencatat apa yang ingin kita lakukan esok hari. Besoknya, sebelum berangkat ke tempat kerja, buka kembali buku saku tersebut dan sempatkan sekitar 10 sampai 15 menit untuk kembali mengecek daftar pekerjaan yang telah kita buat malam harinya, dan bila perlu menambahkan daftar aktivitas lain yang baru kita ingat pagi itu.

Dari kedua kebiasaan ini, saya biasanya selalu mempunyai antara 5 sampai 10 daftar aktivitas yang akan dilakukan setiap harinya. Aktivitas-aktivitas tersebutlah yang selalu membuat saya selalu dalam kapasitas penuh untuk bekerja dan berproduksi dari hari ke hari.

Apa pun profesi kita, saya yakin bahwa kita akan selalu semangat dan terlihat bergairah setiap kali datang ke tempat kerja apabila memiliki daftar aktivitas harian yang telah kita buat dan prioritaskan sendiri sebelumnya. Semangat dan antusiasme ini disebabkan karena kita telah menciptakan tantangan yang berupa daftar aktivitas, dan berkomitmen untuk menyelesaikan setiap tantangan tersebut pada hari itu.

Dengan tantangan dan komitmen kepada diri sendiri ini maka kita akan terlatih untuk menghargai setiap prestasi yang berupa penyelesaian satu per satu daftar pekerjaan kita. Sebaliknya, kita akan merasa rugi dan bersalah jika kita tidak bisa menyelesaikan semua pekerjaan dan gagal memenuhi komitmen yang telah kita buat sendiri tersebut. Kondisi untuk memilih antara reward dan punishment inilah yang akan membuat kita selalu terpacu untuk secepatnya menyelesaikan setiap daftar pekerjaan yang telah kita buat.

Setiap kali kita menyelesaikan satu pekerjaan dan men-contreng-nya dari daftar yang ada dalam buku saku kita, di saat itulah kita akan merasa puas dan bangga kepada diri sendiri karena berhasil menyelesaikan satu tantangan pekerjaan. Semakin banyak pekerjaan yang kita bisa selesaikan, perasaan puas dan menghargai diri sendiri pun menjadi semakin besar. Sehingga tidak jarang, ketika kita menyelesaikan semuanya di akhir jam kerja, maka pasangan kita akan melihat kita ceria dan berseri-seri saat pulang ke rumah. Jadi, semakin sibuk kita maka semakin antusias dan bergairah pula kita menutup setiap hari yang kita lewati.

Pertanyaannya, buku saku seperti apa yang paling efektif untuk membuat komitmen harian untuk selalu menyibukkan diri dalam bekerja? Setiap awal tahun baru, saya cenderung selalu mengganti jenis buku agenda yang saya pakai, mulai dari yang sederhana, tipis, polos, dan murahan, sampai kepada yang edisi deluxe, sangat tebal, dan penuh informasi tambahan seperti peta kota dunia, daftar telepon penting, kata-kata mutiara, hingga list what to do dan kolom appointment. Dari semua koleksi itu, terakhir saya merasakan bahwa justru buku saku kecil dan sederhana adalah yang paling efektif. Bukan saja karena harganya murah, tetapi buku saku jenis ini lebih fleksibel, ringan dibawa ke mana-mana, dan tidak terkesan eksklusif sehingga tidak terlalu mencolok saat kita berada di tengah orang kebanyakan. Dan juga, buku saku itu tidak akan membuat kita minder saat berinteraksi dengan kalangan atas karena ia memang selalu tersembunyi di dalam saku kita.

Meskipun harganya cuma Rp 6.900, buku saku sederhana saya tahun ini benar-benar bisa menjadi alat untuk mengukur seberapa efektif saya bekerja setiap harinya. Jika lembaran buku saku saya terisi banyak daftar pekerjaan, saya akan merasa sangat bersemangat dan ingin cepat-cepat menuju ke tempat kerja, serta akan bekerja seperti kesetanan hari itu karena mengejar agar semua daftar pekerjaan yang telah saya buat bisa saya selesaikan sebelum berakhir jam kerja kantor. Jika saya berhasil menyelesaikan semua daftar saya, saya pun akan pulang ke rumah dengan ceria dan akan menutup hari itu dengan semangat baru untuk segera membuat daftar pekerjaan lagi sebelum berangkat kerja esok harinya.

Tetapi, jika buku saku saya kosong, sesampainya di tempat kerja saya kadang-kadang bingung dan tanpa terasa hanya menghabiskan hari itu dengan mengobrol yang tidak berguna atau surving di internet sampai mata saya terasa perih, tanpa jelas apa yang saya cari di dunia maya tersebut. Jika kondisi seperti ini yang terjadi, saat pulang ke rumah badan terasa lesu dan perasaan pun diliputi rasa bersalah dan rugi karena telah menghabiskan satu hari dengan sia-sia tanpa pencapaian sama sekali.

Karena itulah saya sangat menyayangi buku saku murahan saya. Buku senilai Rp 6.900 tersebut ternyata benar-benar bisa menjadi teman setia yang sangat powerfull dalam mengontrol efektivitas kehidupan saya sehari-hari.[sg]

* Sulmin Gumiri adalah seorang pendidik, peneliti, dan profesor di Universitas Palangka Raya. Peraih predikat dosen terbaik di kampusnya tahun 2006 ini memperoleh gelar MSc. dari Nottingham University, Inggris dan gelar PhD dari Hokkaido University, Jepang. Pria disiplin dan pekerja keras ini memiliki hobi membaca buku, gardening dan bermain tenis. Baru-baru ini ia mulai menapaki hobi barunya sebagai penulis buku-buku populer. Sulmin dapat dihubungi melalui pos-el: sulmin[at]upr[dot]ac[dot]id atau sulmingumiri[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 3 votes)

One Response to “Buku Saku”

  1. awis.wisnedi Says:

    Benar sekali pak Sulmin.. dengan adanya buku saku yang kita buat sediri akan selalu mengingatkan kita tentang langkah apa yang akan dilakukan sesuai dengan rencana yang sudah dipersiapkan sebelumnya.Hal ini juga bisa befungsi sebagai filter dari setiap kegitaan agar tidak ngelantur kebawa arus. Sebab dengan pencatatan yang jelas dan terarah kita akan mudah untuk melakukan penilaian terhadap kegiatan terkecil sekalipun.

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a Reply

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox