Buktikan Profesionalitas Guru Melalui Menulis
Editor | Kolom Lepas | July 21st, 2009
Oleh: Supandi*
“Apa pun yang ingin Anda lakukan, mulailah.
Keberanian memulai sesuatu
memiliki kekuatan yang luar biasa untuk melakukan sesuatu.”
~ Goethe
Pada dasarnya guru adalah penulis sejati. Kesimpulan ini saya ambil dari beberapa event/kegiatan guru, baik yang bersifat resmi maupun yang hanya berupa obrolan santai di sela-sela tugas harian. Guru adalah seorang penulis yang memiliki banyak inspirasi. Pernyataan-pernyataan yang dilontarkan oleh guru lebih bersifat ilmiah sehingga tulisan-tulisannya menarik untuk ditangkap dan dicerna.
Saya menganggap kesimpulan ini tidak berlebihan karena secara proporsional apa yang disampaikan guru lebih ke arah ilmiah. Sebagai seorang profesioanal apa yang disampaikan guru, terutama di hadapan para siswa, adalah memiliki akuntabilitas keilmuan yang tinggi.
Di luar kelas ternyata guru juga merupakan sosok penulis andal. Ide-ide yang dilontarkan begitu berisi dan penuh makna, enak untuk dicermati dan diresapi. Terus terang bukan karena saya seorang guru sehingga mengagung-agungkan rekan-rekan guru. Saya begitu terkesan ketika guru tampil sebagai pembina upacara maupun pada acara-acara tertentu seperti rapat, diskusi, workshop, seminar, dll. Materi yang mereka sampaikan hampir semua bermutu dan mengandung unsur keilmuan yang cukup dalam.
Tidak hanya itu, guru ternyata juga kritis dalam menganalisis peristiwa-peristiwa yang terjadi di masyarakat, mulai dari isu pemilu legislatif, pilpres, pilkada, kurikulum, birokrasi pendidikan, sertifikasi guru, anggaran pendidikan, ujian nasional, minat belajar anak. Bahkan sampai ke hal-hal yang berada di luar bidangnya, seperti merek mobil, harga mobil bekas, spare part mobil, peternakan, pertanian, dan teknologi informasi. Tidak sedikit masukan yang saya dapatkan dari hasil analisis , komentar, maupun pengalaman mereka.
Penulis yang Menulis
To be a writer who writes (menjadi penulis yang mau menulis). Bisa dibayangkan seandainya ilmu dan pengalaman para guru dituangkan ke dalam beberapa lembar kertas, maka bisa dipastikan bahwa ini akan memberikan kontribusi yang sangat bermanfaat bagi orang lain. Karena melalui tulisan maka penyebaran pesan akan semakin luas dibanding apabila hanya dilafalkan saja. Dari sini peran guru menjadi meluas, tidak sekadar menjadi guru di depan murid-muridnya. Melalui hasil karya tulisannya peran guru akan semakin meluas, yaitu menjadi guru bagi semua (the teacher for all). Sekali menulis, akan bermunculan murid-murid baru di luar kelas, dan akan ada sejumlah orang yang bisa memperoleh transformasi ilmu melalui tulisan yang ditulis oleh guru.
Lasa Hs, seorang sarjana alumnus Fakultas Sastra UGM dan alumnus Pascasarjana di bidang manajemen perpustakaan di perguruan tinggi yang sama, mengatakan bahwa pada dasarnya menulis adalah suatu kegiatan yang memiliki kesamaan dengan ngomong. Keduanya sama-sama menyampaikan ide dan gagasan.
Demikian pula dari hasil konsultasi saya dengan beberapa penulis, seperti Ade Maman Suherman (seorang penulis dan dosen FH Unsoed), dan Eni Kusuma (seorang mantan TKW yang sekarang menjadi penulis buku bestseller), ternyata mereka memiliki pendapat yang sama dengan Lasa Hs. Mereka memberi masukan kepada saya, “Pokoknya tulis saja apa yang ada di kepala Anda sebagaimana Anda berbicara.” Langkah berikutnya cetaklah hasil tulisan tersebut, baca dan perbaiki manakala masih ada rangkaian kalimat yang kurang bagus.
Konsep menulis yang dilontarkan oleh para penulis bestseller sebagaimana yang saya sebutkan di atas terkesan sangat sederhana. “Pokoknya tulis saja apa yang ada di kepala Anda”, demikian pesan yang bisa saya rekam di kepala saya. Konsep inilah yang selalu menggoda saya untuk terus menulis.
Dua Telinga versus Satu Mulut
“Dua telinga versus satu mulut” mengandung makna bahwa dalam melakukan komunikasi dengan orang lain sebaiknya frekuensi mendengarkan lebih banyak dibanding frekuensi berbicara. Fenomena di masyarakat yang terjadi; biasanya orang cenderung lebih suka bercerita daripada mendengar. Kita sering menjumpai sekelompok ibu yang sedang saling curhat. Mereka saling berebut menceritakan apa yang ada di dalam pikirannya. Masing-masing dari ibu-ibu itu bernafsu sekali untuk bisa menceritakan pengalamannya. Sementara, ibu-ibu yang lain juga demikian sehingga yang terjadi adalah saling berebut cerita.
Berkaitan dengan kegiatan menulis sebaiknya kita menyadari sebuah filosofi tentang “dua telinga satu mulut”. Filosofi ini mengandung makna yang sangat dalam bahwa kita sebaiknya lebih banyak mendengarkan argumen orang ketimbang berbicara, karena jumlah telinga kita lebih banyak daripada mulut. Dengan lebih banyak mendengarkan maka kita lebih banyak mendapat keuntungan yaitu berupa ilmu, wawasan, maupun pengalaman.
Kegiatan mendengar bisa dilakukan tidak hanya dari ucapan seseorang. Kegiatan mendengar juga bisa dilakukan dengan cara “mendengar” dari buku. Tentu saja yang dimaksud adalah membaca, baik itu membaca buku, referensi, majalah, koran, artikel, ataupun sumber yang lain.
Mengapa harus sering mendengar dan membaca? Tentu saja karena melalui kedua kegiatan tersebut maka di otak kita akan terekam lebih banyak ilmu, wawasan, ide, maupun gagasan. Semakin banyak rekaman di otak maka akan lebih siap tempurlah kita karena persediaan amunisi untuk menulis menjadi lengkap.
Untuk mem-back up karya saya dalam menulis buku, saya selalu melakukan konsultasi dengan para penulis bestseller di negeri ini sebagai upaya memperoleh lebih banyak amunisi. “Untuk menjadi orang sukses maka Anda harus bergaul dengan orang sukses, untuk menjadi orang biasa maka sering-sering bergaul dengan orang-orang yang biasa-biasa saja. Demikian pula untuk menjadi orang yang gagal maka bergaulah dengan orang-orang yang gagal, yang hidupnya semaunya sendiri,” demikian pesan yang disampaikan Dr Agung Praptapa kepada kami di sela-sela kegiatan perkuliahan di program pascasarjana MM Unsoed.
Apa yang Sebaiknya Ditulis oleh Guru?
Sesuai dengan profesinya sebagai orang yang bertugas mencerdaskan anak-anak bangsa, karya tulisan guru sebaiknya lebih menitiberatkan kepada upaya peningkatan hasil belajar siswa ataupun yang berkaitan dengan upaya peningkatan profesionalisme guru. Namun demikian, tidak menutup kemungkinan bahwa seorang guru juga bisa menulis karya-karya hasil gagasannya di luar bentuk-bentuk tulisan seperti yang disebutkan di atas. Tidak salah kalau guru ikut memberi warna di toko buku melalui hasil karyanya berupa buku baik fiksi maupun nonfiksi.
Pada prinsipnya, untuk meningkatkan profesionalitas guru, ada dua tuntutan kegiatan guru yang hendaknya dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. Dua kegiatan tersebut adalah melaksanakan tugas profesi dan mengembangkan mutu profesi. Melaksanakan tugas profesi meliputi mengajar, membimbing siswa, menjadi wali kelas, dll. Sedangkan yang berkaitan dengan upaya mengembangkan profesi dapat dilakukan melalui menulis diktat, menyajikan artikel ilmiah popular, menyajikan makalah seminar, menyusun buku/modul, membuat karya seni, menyusun tinjauan/gagasan, dan menyusun laporan penelitian. Demikian pula tidak menutup kemungkinan, guru juga bisa menjadi penulis terkenal dengan menulis buku, baik buku fiksi maupun nonfiksi.
Gagal dan Sukses Bisa Jadi Milik Semua Orang
Hambatan dan tantangan adalah sahabat orang sukses. Demikian pula kegagalan. Orang sukses justru sering gagal. Tingkat kegagalan kita memasukkan bola ke gawang lawan lebih sedikit dibandingkan dengan David Beckham. Jadi, David Beckam lebih banyak gagalnya dari pada kita. Mengapa? Karena kita tidak pernah bermain sepak bola, dan kalaupun bermain sepak bola termasuk orang yang tidak diperhitungkan. Sedangkan David Beckham bermain sepak bola hampir setiap hari sehingga dia mencoba memasukkan bola ke gawang lawan hampir setiap hari pula. Tentu saja banyak yang gagal, tetapi kalau dihitung yang berhasil? Tentu banyak pula yang berhasil. Di sinilah kita harus memandang hambatan, tantangan, dan kegagalan dari kacamata yang berbeda. Kegagalan bukan untuk ditangisi tetapi untuk diperbaiki.
Dari filosofi di atas kiranya bisa dijadikan motivasi untuk terus melangkah. Melangkah untuk mulai dan terus menulis walaupun terkadang bertemu dengan kegagalan. Gagal dan sukses adalah milik semua orang. Demikian pula malas dan kreatif juga milik semua orang. Guru profesional bisa juga menjadi penulis yang profesional apabila kita mampu melewati kegagalan dan kemalasan.[sup]
* Supandi lahir di Cilacap, 10 Agustus 1965. Alumnus Universitas Alamat Muhammadiyah, Purworejo 2002 (S-1) dan Magister Manajemen Unsoed, Purwokerto 2007 (S-2) mengajar sebagai guru di SMP Negeri 2 Binangun. Pemilik moto hidup “Lakukan perubahan!” ini tinggal di Puri Mujur 163, Kroya, Cilacap, Jawa Tengah. Ia sendiri sudah memiliki minat dan kegemaran menulis sejak masih SMP. Saat ini, Supandi sedang menyusun sebuah buku motivasi. Ia dapat dihubungi melalui telepon: 0282-494921, Hp: 081391274742, atau pos-el: supandi_mm[at]yahoo[dot]com.
July 27th, 2009 at 11:11 am
Ayo…tulis terus Pak Pandi. Mari kita beri warisan pada anak bangsa melalui tulisan. Sukses!