Budaya Kelola Sampah Jepang vs. Indonesia
Editor | Kolom Lepas | August 18th, 2009
Oleh: Meta Sekar Puji Astuti*
Ketika sedang belajar di Amerika, saya pernah mengambil sebuah mata kuliah filosofi (salah satu alasannya karena dosennya ganteng). Satu kali saya memandangi dosen lulusan Harvard itu dengan penuh kekaguman saat ia memberikan kata pengantar kuliahnya. “Untuk memahami sejarah peradaban dan masyarakat India, salah satu teknik penting—yang mungkin masih kontroversial di antara peneliti khususnya dalam ilmu arkeologi—adalah meneliti peradaban manusia dengan observasi (fosil) sampah rumah tangga,” kata dia. “Apa yang dia makan, peralatan apa yang digunakan, dapat membantu kita dalam memahami jenis dan gaya hidup masyarakat pada zaman itu. Dengan kata lain, melalui pengamatan isi sampah, kita bisa menganalisis peradaban dan sejarah masyarakat,” tambahnya lagi.
Ah, dosen yang ganteng dan pintar ini berhasil memberikan inspirasi dan ide yang keren. Betul. Ilmu pengamatan sampah, dapat membantu kita menganalisis dan mengenali sejarah, sosial, dan kondisi masyarakat! Saya yakin, bukan hanya untuk bidang ilmu arkeologi saja, tetapi juga di abad moderen. Mari kita coba mulai untuk “menerawang” masyarakat Indonesia melalui sampah. Pasti Anda semua sudah mendapatkan gambarannya, kan?
Tanpa argumen panjang, pengelolaan sampah di Indonesia secara umum sangat semrawut. Apakah mungkin itu cermin situasi kondisi masyarakat dan kehidupan bangsa Indonesia? Meskipun tidak semuanya amburadul, tergantung daerah dan kesadaran warganya, toh Kementerian Lingkungan Hidup masih dipusingkan dengan kesadaran pembuangan sampah masyarakat kita. Tetapi bagaimanapun juga, baik jalan, sungai, dan laut di Indonesia bagai “tong sampah raksasa”. Buktinya, seorang teman saya yang bekerja di PLN pernah bercerita, sampah-sampah di Jakarta sering membuat mesin-mesin turbin PLTA rusak, khususnya sampah plastik yang tumpah ruah di laut. Bahkan konon kabarnya, ada sebuah kisah horor mesin turbin listrik di daerah Jakarta Utara pernah macet karena terhambat oleh mayat yang “dibuang” sembarangan. Hiii…luar biasa.
Anggota DPR atau pun lembaga pemerintahan lainnya memang cukup rajin mengunjungi kota-kota besar di negara-negara maju untuk studi banding. Namun rupanya, ilmu yang diperoleh tidak cukup mempan dibagikan kepada masyarakat di tingkat akar rumput supaya mereka menjadi lebih sadar lingkungan. Sebenarnya, apa sih yang menghambat kesadaran masyarakat kita? Negara kita juga tidak terbelakang sekali, tetapi kalau masalah mental dan moral kok belum juga maju, ya? Apa pemikiran masyarakat kita telah terpolusi oleh “sampah-sampah” mental sehingga sampah fisik juga memenuhi ruang publik kita?
Kita seharusnya sudah sangat malu! Apalagi kalau dibandingkan dengan cara pengelolaan sampah negara-negara tetangga kita semacam Singapura, Malaysia, atau Thailand. Memang betul negara kita memiliki jauh lebih banyak tempat wisata yang sangat indah pemandangannya, selain juga masyarakatnya yang (konon) terkenal ramah. Namun, jangan bicara fasilitas dan juga kemauan masyarakat kita dalam mengolah sampah di sekeliling mereka.
Tidak usah jauh-jauh. Kita mulai saja dari negara jiran kita, Malaysia. Jika pernah mengunjungi Kuala Lumpur, pasti kita terkesan dengan pedagang kaki lima yang sangat bersih dan tertib dalam mengelola sampahnya. Tidak terkesan jorok namun serba rapi. Coba kita bandingkan dengan di Makassar. Kota Makassar dulu pernah dikenal sebagai kota dengan pedagang kaki lima terpanjang di seluruh dunia, sepanjang Pantai Losari. Sayangnya, sampah dan kesemerawutan juga berjalan seiring. Tidak bisa menutup mata, sampah dan kecoak pun bertebaran di pagi dan siang hari mengganggu pemandangan.
Akhirnya, diambillah solusi. Pantai direklamasi. Lokasi penjualan—dengan alasan demi ketertiban dan juga kesehatan lingkungan—dipindahkan di lokasi yang kurang strategis. Padahal, pernah dilakukan protes dari pedagang setempat dan juga demo-demo yang menghabiskan energi maupun tenaga. Apa hasilnya sekarang? Pedagang makanan dipindahkan di tempat yang tersembunyi sehingga kurang didatangi konsumen. Makassar kehilangan kekhasannya dengan julukan kota kaki lima terpanjang di seluruh dunia. Sekali lagi, tak kurang-kurangnya aparat pemerintahan Makassar pergi ke Malaysia untuk melakukan studi banding. Tetapi, keunikan kota Makassar yang dulu pernah ada, hilang ditiup angin lalu.
Saya ingin berbagi cerita sedikit tentang pengelolaan sampah di Jepang. Di Jepang, tingkat pengelolaan sampah termasuk cukup maju di dunia. Sampah di Jepang dipilah sesuai dengan jenisnya dan dikelola dengan baik. Sampah botol kaca, botol plastik, kertas, dan sampah rumah tangga dibeda-bedakan. Sebagian didaur ulang. Kecanggihan teknologi Jepang telah memungkinkan negara ini membuat baju dan kain dari serat plastik yang berasal dari pet bottle atau botol plastik minuman ringan.
Sementara, sebagian besar sampah organik—khususnya yang datang dari hotel-hotel maupun di departemen store—dijadikan kompos atau pupuk organik. Bus kota yang dioperasikan oleh kota metropolitan Tokyo (Toei Bus) telah berani mengklaim merupakan bus kota ramah lingkungan. Misalnya, bahan-bahan yang digunakan untuk tempat duduknya merupakan produk daur ulang. Pada saat berhenti di lampu merah, sopirnya pun tidak segan-segan mematikan mesinnya dengan alasan untuk menghemat bahan bakar dan juga mengurangi polusi. Hebat, bukan?
Secara ekonomi, bangsa dan masyarakat Jepang termasuk bangsa yang maju. Ekonomi negara itu secara hitungan statistik nomor dua setelah Amerika Serikat. Secara umum kota-kota di Jepang, baik besar maupun kecil, terjaga kebersihannya, rapi, sistematik, dan teratur. Menurut saya, meski negara ini secara ekonomis telah berhasil, namun salah satu kunci penting dari kebersihan dan kerapian publik di kota-kota di negara itu adalah karena kesadaran masyarakatnya. Mereka sadar, bahwa kebersihan kota adalah tanggung jawab individu, bersama-sama, alias komunitas.
Ketika tong sampah dan tempat sampah umum dikurangi dengan alasan untuk mengurangi bahaya kemungkinan teroris memasukkan bomnya, masyarakat Jepang pun tak segan-segan memasukkan sampahnya di tas. Baru kemudian dibuang di tong sampah yang dapat ditemukannya. Bahkan, tak jarang setelah sampai di rumah baru dibuang. Tetapi, ada anggapan yang salah juga kalau di seluruh Jepang merupakan kota yang bebas sampah 100 persen. Sampah dan tukang sampah juga masih ada di Jepang. Hanya saja, tanggung jawab masyarakat dan individu lebih mementingkan peran penting dalam komunitasnya sehingga ruang publik sangat rapi dan enak dipandang mata.
Di Tokyo, selain dilakukan pemilahan sampah, daur ulang, juga terdapat jadwal pembuangannya. Misalnya, Senin untuk sampah yang dapat dibakar atau sampah rumah tangga (moeru gomi), Selasa untuk benda-benda plastik, Rabu untuk botol kaca, dan seterusnya.
Kebiasaan orang Indonesia yang tidak sistematik dalam tata cara pembuangan sampah—seperti saya misalnya yang tengah studi di Jepang—kadang membuat urusan tersebut menjadi ribet. Tetapi, saya punya satu taktik membuang sampah (kalau tidak mengikuti jadwal), yaitu dengan membuang sampah di toko-toko kombini (convinience store) terdekat. Toko-toko semacam ini bagaikan warung serba ada di Indonesia, yang buka selama 24 jam dan menyediakan servis segala rupa, mulai dari pembayaran tagihan, pengiriman barang, pembayaran tiket segala rupa, sampai dengan ATM (di Jepang tidak semua ATM 24 jam). Bangsa Jepang moderen menuntut kehidupan serba praktis. Demikian pula servis sampahnya, 24 jam.
Meski praktis untuk hal-hal tertentu, tata cara pembuangan sampah di Jepang ternyata menjadi sangat tidak praktis untuk pembuangan benda-benda tertentu. Ketika orang hendak pindah rumah dan perlu membuang benda-benda besar semacam furniture, ternyata kita perlu mengontak perusahaan sampah untuk mengambil benda-benda besar, atau kalau tidak kita bisa kena denda. Membuang sepeda yang tidak pada tempat semestinya, kita bisa ditelepon polisi.
Susahnya di negara maju, orang miskin yang perlu diberi bantuan sedikit jumlahnya. Beda di Indonesia, mungkin masih banyak kita temui saudara yang miskis di antara kerabat atau tetangga di lingkungan kita. Benda-benda bekas layak pakai masih bisa diberikan kepada orang yang berhak mendapatkannya. Nah, kali ini kita mungkin sedikit bisa lega tinggal di Indonesia. Karena sebenarnya barang-barang yang tidak kita perlukan bisa kita ulurkan bagi orang-orang yang membutuhkan tanpa kesulitan seperti di Jepang.
Pernah dalam sebuah mata kuliah saya membahas soal persampahan masyarakat Jepang dan Indonesia. Setelah melakukan observasi pembuangan sampah di jalanan, pasar, dan tempat umum, akhirnya saya menarik sebuah kesimpulan menarik: Pertama, masyarakat seperti di Kota Makassar dan Indonesia pada umumnya sangat bergantung pada petugas kebersihan. Kedua, masyarakat Jepang bertanggung jawab sepenuhnya atas sampah dan kebersihan di ruang publiknya. Ketiga, masyarakat Indonesia seharusnya bisa lebih menghargai kerja keras para petugas kebersihan dan mau memberikan penghargaan yang lebih tinggi, dan jangan sampai malah merendahkan pekerjaan mereka. Jadi, sampah mungkin boleh bau atau busuk. Tetapi, pikiran kita harus terbuka dan mudah menerima ide-ide baru. Sampah boleh busuk dan boleh bau, tetapi sampah bisa menjadi sangat bermanfaat.[mspa]
* Meta Sekar Puji Astuti adalah penulis buku Apakah Mereka Mata-Mata? - Orang-Orang Jepang di Indonesia 1868-1942. Lulusan Sastra Jepang UGM dan menyelesaikan studi masternya di Ohio University, Amerika Serikat. Tercatat sebagai staf pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Jurusan Sastra Jepang, Universitas Hasanuddin. Ia pernah menjadi peneliti tamu di Keio University tahun 2008-2009 disponsori oleh The Japan Foundation. Saat ini tengah menempuh studi S-3 di Keio University, Tokyo, Jepang. Selain akademisi dan peneliti, ia juga seorang ibu rumah tangga biasa dengan dua orang anak yang peduli dengan pendidikan bangsa untuk penyadaran identitas diri bangsa Indonesia.
August 19th, 2009 at 4:00 pm
Apakah ibu Meta tahu bahwa membuang sampah di supermarket-supermarket atau convenience store di Jepang pun sebenarnya dilarang ?
Pengelola tempat perbelanjaan seperti itu tidak semuanya mau menerima sampah dari RT, paling banter hanya menerima pet-botol atau terkadang kaleng alumunium…
Salam
BD