Blackberry, Oh Blackberry
Editor | Kolom Tetap | May 4th, 2009
Oleh: Maria Saumi*
“Maria, handphone kamu yang ada fasilitas suara pengajiannya dan ada TV-nya, buat Bapak saja, ya?” pinta ayah saya suatu hari, beberapa bulan yang lalu. Alasan itulah yang menjadi krusial sebagai alasan pertama saya, hingga akhirnya saya memutuskan “melepas” handphone lama saya dan membeli yang baru, Blackberry. Gadget yang sedang in, menarik, dan digandrungi oleh orang-orang saat ini.
Boleh dibilang, Blackberry tidak saja digandrungi oleh orang biasa, bahkan juga orang sekelas Barrack Obama, presiden Amerika Serikat. Faktanya, dia memang menggandrungi Blackberry—gadget, yang terintegrasi dengan fasilitas Facebook di dalamnya, yang telah berhasil membantu program kampanyenya kala itu. Dia pun muncul sebagai pemenang. Walau agak sedikit enggan pada mulanya, tetapi akhirnya dia terpaksa harus rela dipisahkan dari gadget-nya itu. Dengan alasan adanya aturan protokoler negara. Begitulah pesona si Blackberry ini, yang ternyata digandrungi siapa saja, di mana saja. Pesona yang dimilikinya, memukau luar biasa.
Pengelolaan data dan internet adalah kesatuan fitur yang amat menentukan gadget apa pun untuk bisa sukses di pasar, saat ini. Konsumen, sebagai pengguna, memakainya sebagai media komunikasi tanpa hambatan. Di mana pun dapat terkoneksi. Fitur internet yang susah bekerja sama dengan kepentingan pengiriman data akan sia-sia saja. Maka tak heran, Blackberry, ketika muncul beberapa tahun silam sebagai gadget untuk push e-mail yang paling praktis, langsung saja merebut hati kalangan profesional yang aktivitasnya akan tersendat jika, contoh saja, akses emailnya sering bermasalah. Reseach In Motion (RIM), produsennya, kini menawarkan seri terbaru Blackberry Bold 9000, yang tentunya lebih sempurna dari versi sebelumnya. Versi terbaru tersebut sangat memikat perhatian. Saya pun membelinya.
Fitur-fitur yang tersedia, menambah dan melengkapi fitur-fitur yang sudah ada. Menjadi fitur-fitur terkini bagi penggunanya. Fitur-fitur yang dulunya hanya dapat dioperasikan hanya melalui sebuah komputer atau laptop kini dengan mudahnya disediakan, dalam suatu “gadget” yang praktis. Tinggal klik, klik, dan klik, memencet tombol-tombol dengan menggunakan track ball sebagai panduan mencari. Seperti e-mail, browsing, dan web-chat misalnya. Gabungan antara teknologi, hiburan, dan kepraktisan fungsional telah menjadi satu paket di dalamnya—Blackberry.
Di dalam Blackberry versi terbaru itu, terdapat fitur Blackberry Message dan Yahoo Messenger sebagai suatu standar. Adanya fitur-fitur ini pula yang menjadi alasan kedua saya untuk bergabung menjadi pengguna Blackberry, mengikuti clients saya. Fitur-fitur ini telah memudahkan dan bahkan mengefektifkan, serta mengefisienkan saya dalam berkomunikasi dengan mereka. Dari segi waktu, tenaga, dan biaya tentunya. (Sesama pengguna Blackberry, pengiriman pesan otomatis jadi bisa gratis, di luar biaya paket bulanannya). Sekali lagi, hanya tinggal klik, klik, dan klik. Sudah tercipta komunikasi dua arah karenanya. Soal kepentingan-kepentingan para client, sebagai alasan fungsional makin mendorong saya membeli gadget ini.
Fenomena Facebook memperkuat alasan ketiga saya untuk membeli gadget ini. Kegandrungan yang awal mulanya tanpa sengaja, karena didorong oleh sahabat saya. “Iih, enggak asyik lu Mar, hare gene enggak punya account Facebook?” Begitulah ceritanya mengapa saya jadi keranjingan Facebook. “Hehehe… kalau sudah keranjingan fesbuk, mending lu lengkapin dengan Blackberry dong, klop deh,” rayuan teman lainnya, membuat saya terpancing hingga menjadi “gila” akibatnya.
Kegilaan saya menjadi-jadi pada waktu pertama-tama punya gadget tersebut. Akibatnya, tangan saya jadi gatal untuk terus “utak-utik” alat komunikasi saya yang teranyar ini. Hingga 24 jam terus on-line. Tetapi, ada manfaat dengan mempunyai Blackberry. Pelan-pelan ke-gaptek-an saya, satu-satu pun berkurang karenanya hehehe….
“Ihh, blackberry itu kan bisa bikin kita jadi ‘autis’, bisa keasyikan sendiri, suka jadi enggak fokus, enggak tahu waktu jadinya!” kata seorang remaja, usia pelajar SMA atau kuliahan, ketika sedang makan di salah satu foodcourt, bersama dua orang teman lainnya. Kebetulan saya duduk tidak jauh dari mereka. Saat itu, saya mencuri dengar… “Sekarang, si Airin ketika sedang makan dikantin, suka main-mainin hape-nya di meja makan, agak pamer kesannya gitu, loh!” tambah temannya lagi.
“Oh, lu enggak tahu, dia pakai Blackberry terbaru sekarang. Lu lihat saja di fesbuk, keliatan kan dia online terus jadinya.” Obrolan ringan anak SMA atau kuliahan itu tentang perilaku salah seorang teman kelasnya. “Fenomena apakah ini? Pamer dan iri hatikah?” tanya saya dalam hati, sambil terus mencuri dengar tentunya hahaha… walaupun saya tahu ini kurang sopan hukumnya.
Menurut anggapan segolongan orang, harga Blackberry versi lama ataupun terbaru tersebut relatif murah. Sementara, masih pada kebanyakan orang umumnya menganggap relatif masih mahal, dan karenanya akan muncul gengsi ketika memilikinya. Balik lagi sebenarnya nilai mahal dan murah tentu saja sangat relatif, tergantung kemampuan dan kebutuhan orangnya. Ada yang mampu tetapi tidak butuh, dan ada yang mampu sekaligus butuh. Tetapi, ada pula yang butuh tetapi tidak mampu. Tidak terelakkan, ya begitu kan keadaannya? Mungkin ada juga ya, yang tidak butuh, tetapi mau?
Golongan yang butuh tetapi belum mampu, biasanya “mengakali” membeli dengan cara menunggu hingga beberapa periode waktu lewat. Hingga secara hukum dagang otomotis akan menjadi turun harganya, terlebih bila ada pesaing baru atau versi terbaru lagi yang muncul. Atau, dengan mencoba mencari second hand-nya, yang biasanya kalau masih anyar tentunya masih agak jarang didapat. Lalu, secara perlahan-lahan tren pun beralih, bukan lagi Blackberry yang menjadi primadona, tetapi mungkin merek lain, nanti mungkin saja Strawberry atau Blueberry, misalnya hehehe….
Tindakan seperti itu masih disetujui oleh pikiran saya. Yang saya tidak habis pikir adalah mengapa—dalam kasus obrolan di foodcourt tersebut—“ada memiliki” dan “tidak memiliki” si Blackberry ini menjadi seperti suatu momok yang efeknya kadang memprihatinkan. Sungguh, memprihatinkan bagi saya kala itu. Saya melihat, mendengar, dan mengamat-amati terus obrolan mereka dari meja makan yang bersebelahan. Dalam hati saya agak “setengah” menyesal berada di sana. Saya telah “mencuri” dengar.
Saya katakan begitu karena pertamanya memang tidak sengaja. Tetapi, selanjutnya saya memang sengaja mendengarkan obrolan mereka sambil makan. Lalu akibatnya, saya seperti “diseret” untuk ikut berpikir tentang masalah mereka, walaupun tidak ada juga yang “meminta” saya untuk melakukan hal tersebut. Jangan-jangan, saya pun sudah berlebihan dalam merespon obrolan para remaja itu hehehe….
Ternyata, bagi yang memiliki gadget ini, mungkin tanpa sengaja atau disengaja—karena memang fitur-fitur di dalamnya sungguh menggemaskan—menjadi asyik sendiri. Tidak peduli dengan sekitarnya. Saya juga merasakan hal yang sama pada awalnya. Sehingga, hal tersebut membuat “si yang tidak memiliki” menjadi gundah gulana, merasa diabaikan ketika dia sedang berinteraksi (melakukan komunikasi langsung berhadapan dengan si pengguna).
Apakah seharusnya si pengguna harus melepaskan keterkaitannya dengan Blackberry, ketika berhadapan dengan si bukan pengguna Blackberry? Padahal, mungkin ia sedang mengirim pesan, berita, ataupun e-mail penting ke client-nya? Ke keluarganya? Ke gurunya mungkin? Atau, mungkin nanti ada “etika khusus” memakai gadget ini di depan orang lain, atau bahkan di muka umum? Hahaha… opini saya sudah terlalu berlebihan, sepertinya.
Apakah di sini yang salah dan yang membuat tidak nyaman adalah respon kita terhadap efek pengaruh negatif Blackberry-nya, Si bendanya? Ataukah respon orang lain, si bukan pengguna, terhadap subjek alias si pengguna benda ini, beserta tingkah lakunya ketika berada di muka umum?
Blackberry sendiri sebagai benda, pastinya sangat bermanfaat positif. Kita sebagai subjeklah yang mengontrol penggunaan si Blackberry sebagai benda (objek). Efek negatif yang dikatakan ada dan menempel, mungkin karena efek samping dari si penggunanya, yang mungkin direspon secara berlebihan oleh si pengguna (tidak peduli dengan sekelilingnya, terus asyik dengan gadget-nya), dan si bukan pengguna (karena iri dan ketidakmampuan diri untuk membeli?).
Yang jelas, dan yang salah, tentu saja bukanlah si Blackberry-nya, kan? Blackberry hanyalah produk, hasil dari teknologi terkini yang mutakhir. Dengan fungsinya sebagai “hamba” yang melayani si tuan, manusia, akan kebutuhan koneksi-komunikasi.
Tetapi, saya langsung tersadar saat itu. Jangan-jangan obrolan yang menggiring mereka hingga ke obrolan gosip temannya itu dikarenakan gadget Blackberry, gadget yang terletak di atas meja makan saya ini, keberadaannya yang disarungi oleh bahan bersilikon berwarna kuning terang. Persis tergeletak, tepat “ditonton” oleh penglihatan mereka. Mungkin gadget saya inilah yang “memicu” obrolan mereka. Para remaja perempuan itu, yang bersebelahan duduknya dengan saya, dengan topik “diskusi hangat” kala itu, tentang temannya. Perasaan setengah menyesal dan bersalah menghampiri saya. Saya mencoba “menggiringnya” untuk tidak menjadi berlebihan tentunya.
Jadi, seandainya nanti saya menggunakan Blackberry saya di depan umum, dan perilaku saya terlihat dengan sengaja atau tanpa sengaja menimbulkan ketidaknyamanan dalam perasaan Anda, baik si pengguna dan bukan pengguna, tolong saya dimaafkan. Ini juga sebagai alasan terakhir saya hingga membuat tulisan seperti ini, tentang gadget ini. Blackberry, oh Blackberry.[msa]
* Maria Saumi, S.Si., lahir di Jakarta 27 Agustus 1976. Nama Asli Mariatun Meima Saumi. Lulusan Jurusan Biologi,Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam,Universitas Indonesia,tahun 2000. Maria bekerja sebagai praktisi di bidang investasi, spesialisasi Future Trading Investment di PT.Sentratama Investor Berjangka, Sudirman Jakarta. Ia dapat dihubungi melalui: mariasaumi[at]yahoo[dot]com.

May 9th, 2009 at 11:38 pm
duh jadi pingin blackberry nih….
May 29th, 2009 at 12:47 pm
hahaha..pak agung bisa aja nihhhh!