Bintang Tak Pernah Pergi

sn1Oleh: Sofa Nurdiyanti*

“Seseorang yang merasa sendiri dan kesepian adalah saat di mana ia tidak membuka diri dan hatinya untuk menerima kasih sayang dari orang lain.”

Tulisan ini terinspirasi oleh beberapa ungkapan teman-teman saya yang mengaku sering merasa sendiri dan kesepian. Mereka sering mengeluh tidak mempunyai teman, merasa sendiri, dan tentu saja kesepian. Padahal, mereka mempunyai begitu banyak teman dan anehnya masih saja mengaku sendirian dan kesepian. Sebenarnya, apa yang membuat seseorang merasa sendiri dan kesepian?

Sendiri dan kesepian adalah dua kata yang pastinya ingin dihindari oleh setiap orang. Secara alamiah, manusia mempunyai kebutuhan untuk berhubungan dengan orang lain. Seperti teori hierarki kebutuhan yang diungkapkan oleh Maslow. Salah satu dari hierarki kebutuhan manusia adalah kebutuhan untuk mencintai. Manusia mempunyai kebutuhan untuk berafiliasi dengan orang lain. Hal ini menimbulkan adanya interaksi antara manusia yang satu dengan yang lain. Interaksi inilah yang menghadirkan rasa bahagia. Manusia merasa bahagia dan dihargai karena eksistensinya diakui oleh orang lain.

Mengingat jumlah penduduk bumi yang mencapai angka di atas enam miliar, secara logika menjadi mustahil jika ada orang yang mengaku sendiri dan kesepian. Begitu banyak teman yang dihadirkan oleh Allah untuk menemani kita semua. Anugerah kehidupan yang begitu besar tidak layak untuk kita sia-siakan. Jika kita ditakdirkan untuk hidup bersama dengan orang lain, usir saja keinginan untuk sendiri. Karena, sendiri hanya menghadirkan kesepian yang menghalangi kita untuk hidup bahagia.

Saya mencoba berpikir ulang mengenai sendiri dan kesepian, mencoba mengingat saat-saat saya merasa sendiri dan kesepian. Saya teringat, saya merasa sendiri dan kesepian saat saya tidak membuka hati untuk menerima hangatnya kasih sayang dari orang lain, termasuk teman-teman saya. Itulah saat saya ingin menyembunyikan diri dari orang lain. Tidak hanya secara fisik tapi juga hati. Intinya, tidak mau diganggu orang lain hehehe.

Keinginan untuk menyendiri ini tidak terkait dengan jenis kepribadian seseorang. Misalnya, orang yang introvert lebih senang menyendiri, namun bukan berarti orang yang ekstrovert tidak pernah menyendiri dan menghindari orang lain. Apa pun jenis kepribadian seseorang, tentunya pernah merasakan rasa sendiri dan kesepian.

Kita semua tentunya sudah paham bahwa manusia adalah makhluk sosial. Saling membutuhkan satu sama lain. Hal ini dikarenakan manusia diciptakan Allah dengan kemampuan yang berbeda dan saling melengkapi satu sama lain. Menjadi ganjil jika manusia merasa bahwa dirinya bisa hidup tanpa orang lain. Mustahil hal ini terjadi, bahkan oleh orang yang mempunyai bakat luar biasa sekalipun.

Pada awalnya pun saya senang menyendiri daripada berinteraksi dengan orang lain. Hal ini lebih disebabkan saya kurang pandai bergaul jika berada di antara teman-teman saya. Semasa sekolah pun, saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk membaca buku di perpustakaan sekolah. Saya lebih suka membaca daripada pergi ke kantin atau berkumpul bersama dengan teman. Namun, suatu ketika nasihat seorang teman menyadarkan saya. Teman-teman saya menganggap saya egois dan aneh, apalagi kalau bukan karena sikap saya yang suka menyendiri dan pendiam.

Saya pun mulai membuka pikiran untuk lebih terlibat dan berkomunikasi secara aktif dengan teman-teman saya. Aneh pada awalnya, saya merasa bukan menjadi diri saya sendiri. Tapi melihat berbagai usaha yang dilakukan oleh teman-teman sekolah yang begitu gigih agar saya tidak lagi menjadi anak pendiam akhirnya membuat hati saya luluh. Butuh waktu yang tidak sebentar untuk menjadi pribadi yang terbuka kepada orang lain.

Proses dari berdiam diri menjadi bicara pun merupakan peristiwa yang tak terlupakan bagi saya. Banyak kejadian unik yang saya alami yang jika dikenang akan membuat saya tertawa hehehe.... Saat berkumpul bersama dengan teman saya pun, kemudian menjadi saat yang membahagiakan dalam hidup saya. Saya tidak lagi berkutat pada dunia sendiri yang terbangun di antara kesendirian dan buku-buku. Sekarang, saya mempuyai pilihan yang lebih baik, yaitu menikmati dunia saya, yaitu antara membaca dan berteman dengan banyak orang.

Menurut Rogers, membuka hati pada orang lain merupakan bagian dari salah satu ciri kepribadian yang baik, yaitu terbuka pada pengalaman. Orang yang punya kualitas ini memiliki persepsi yang akurat tentang pengalamannya di dunia, termasuk perasaannya sendiri. Perasaan merupakan bagian terpenting dari keterbukaan karena menunjukkan penilaian organismik. Kalau Anda tidak terbuka terhadap perasaan sendiri, Anda pun tidak bisa terbuka terhadap perasaan diri sendiri (Boeree, 2006).

Terbuka terhadap perasaan sendiri akan membantu mengenali diri Anda sendiri. Kesadaran pribadi menjadi kunci penting untuk terbuka pada pengalaman. Pengalaman yang Anda terima dalam kehidupan sehari-hari sesungguhnya berguna bagi peningkatan kualitas kehidupan Anda. Mencerna dan memahami setiap peristiwa dengan baik sehingga Anda tidak perlu mengasingkan diri ketika menghadapi masalah dan merasa kesepian. Justru di saat punya masalah sebaiknya Anda berada di tengah teman-teman atau saudara-saudara Anda. Dukungan mereka akan membangkitkan kepercayaan diri Anda dalam menghadapi masalah.

Sejak kecil saya menyukai bintang. Jika sedih, saya melihat bintang… itu hal pertama yang selalu saya lakukan. Tetapi, semenjak saya mulai membuka diri dan hati pada orang lain, saya menjadi tahu akan satu hal. Bintang itu adalah teman-teman saya sendiri. Seperti bintang di langit, teman-teman saya memberikan warna yang berbeda dalam hidup. Bersama mereka, saya tak pernah merasa sendiri dan kesepian. Meski sekarang saya berada jauh dari teman-teman sekolah, saya tahu mereka tidak pernah meninggalkan saya. Mereka selalu ada untuk saya.

Berada di tempat yang baru tidak lagi menjadi hal yang menakutkan bagi saya. Saya bisa berkenalan dan mempunyai banyak teman baru. Ibarat bintang, teman tak akan pernah meninggalkan kita sendiri. Jika kita tidak melihat bintang, bukan berarti bintang menghilang. Ini hanya masalah waktu saja. Rotasi bumi membuat kita berada di belahan dunia yang lain, tapi kita masih bisa mendapat sinar matahari yang tak kalah ramahnya. Yang pasti, bintang tak pernah pergi. Bintang akan selalu ada untuk kita semua.

Jika Anda merasa sedih, jangan pernah menyendiri. Hal ini akan memperparah keadaan Anda. Seberat apa pun masalah yang Anda alami, bukalah hati Anda untuk menerima hangatnya kasih sayang dari orang lain. Buka hati dan rasakan kehadiran mereka dalam kehidupan Anda. Dengan begitu Anda tidak akan pernah merasa sendiri dan kesepian. Jangan jadi Mr. Lonely dan bilang I Have No Body, seperti yang dibilang Akon. Hidup Anda tidak separah itu. Anda berharga dan istimewa, dan punya banyak teman. Hargailah apa yang Anda miliki sekarang. Hamasah!!![sn]

* Sofa Nurdiyanti adalah mahasiswa Psikologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Suka baca buku cerita, nonton kartun Detective Conan, Bintang, dan tertarik dengan bidang sejarah, arkeologi, bahasa, budaya, dan politik. Tetapi, sekarang ia lagi “nyasar” ke bidang psikologi. Nur aktif menulis di sejumlah website kepenulisan seperti AndaLuarBiasa.com, Pembelajar.com, dan AndrieWongso.com. Saat ini ia tengah semangat berlatih untuk menjadi penulis dan trainer. Nur dapat dihubungi melalui pos-el: nurrohmah_06[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 2.7/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 3 votes)

13 Responses to “Bintang Tak Pernah Pergi”

  1. Fita Irnani Says:

    Hmm… saya jadi teringat teman saya. Sedemikian rupa, mindsetnya telah terpola bahwa hidupnya adalah untuk suami & keluarganya. Tidak punya teman tak apa baginya. Berkonfrontasi dengan sesama bukan soalan buat dirinya. Background pendidikannya tidak berbeda dengan Nur. Psikologi.

    What do you think?

    anyway, It’s a good tulisan. Thanks Nur.

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  2. Radinal Mukhtar Harahap Says:

    Yup…

    Jika saat sedih kita menyendiri, kesedihan itu bukannya berkurang tetapi akan bertambah…

    Makasih atas artikelnya…

    Sukses selalu…:D

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  3. ayu Says:

    sejauh mana qt blh curhat dgn sesama makhluk-Nya?
    soalnya mb ayu pernah baca artikel tulisan seorang motivator, dia blg curhat dgn sesama manusia membuat diri ini lemah & byk mengeluh, lain halnya bila langsung berkeluh kesah dgn Sang Pencipta masalah itu

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  4. andik wijayanto Says:

    good decision :)

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: +1 (from 1 vote)
  5. lynk's Says:

    kamu emang punya bakat nulis, nur…..
    kamu bisa mengkaitkan hal yang satu dengan hal yang lain.
    bagus banget itu.

    tp aku kurang setuju sama kalimat di paragraf terakhir.

    “Jika Anda merasa sedih, jangan pernah menyendiri. Hal ini akan memperparah keadaan Anda.”

    setiap orang itu berbeda-beda. (ingat itu!)
    ada tipe orang yg kalo merasa sedih, dia merasa lebih nyaman jika sendiri.
    jadi setiap orang punya caranya sendiri untuk mengatasi rasa sedihnya itu.

    okei, nur…..
    tetep nulis yaa…..
    ditunggu artikelmu selanjutnya…..

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 5.0/5 (1 vote cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  6. din Says:

    yup that right… but intercept or make relation with wrong person also will cause us bad result… i once had meet with good person and bad one but what made me regrate until now that i meet wrong person and the consequences still trouble me until now… other than that i support ur writing..

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  7. maria saumi Says:

    saya suka tulisan diatas. juga ada setuju tentang hal itu. kalau boleh menambahkan, bagi saya kadangkala kesendirian itu perlu bagi saya khususnya. karena sejatinya kitapun tidak pernah sendiri. Karena selalu ada Dia menemani kita setiap saat.

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  8. Hadi Says:

    Great, tiap orang mang butuh orang lain, dengan proporsinya masing-masing..tp, saran dikit ya, judulnya kurang gambarin keseluruhan isi..awal baca agak bingung…baru dong ternyata bagian dari isi…mungk lain kali cr judul yang seru, aneh, tapi begitu liat judul sedikit ngerti mau bicara apa

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  9. muji Says:

    wah, jadi terinspirasi utk ikutan nulis…

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  10. sofa nurdiyanti Says:

    @ Mbak Fita Irnani: Sebenarnya background pendidikan seseorang tidak begitu berpengaruh pada cara bersikap seseorang mba,hehe.. bisa jadi orang yang diluar psikologi lebih bisa memahami orang lain, bisa juga sebaliknya. menurut teori behavioristik Lingkungan berpengaruh terhadap cara berpikir seseorang, bagaimana dia bersikap itu ditentukan dari hasil belajarnya.. Apabila dia dah belajar psikologi tapi tetap mempunyai pemikiran lain, saya kira itu bukan lagi maslah background tapi lebih ke pilihan hidup seseorang,hehe.. Tq
    @ Radinal M.: Thanks yak..
    @ Andik W. : Makasih, artikel ini perlu direvisi deh, banyak dapat masukan dari teman-teman, dan pendapat mereka juga ok,hehe..
    @Mb Ayu: Sebenarnya proses konseling yang benar itu bukan menggurui mba. Tiap orang hanya butuh didengarkan. Bicara dengan orang lain akan membantu kita melihat hal-hal yang tidak kita sadari.. Batasannya sejauh kita merasa nyaman dan percaya ma orang lain nur kira,hehe..
    @Lynks: Yupz ling, aku lupa bilang itu kutulis berdasar pengalaman pribadi jadi ga bisa digeneralisir ke orang lain,hehe.. tq yak
    @ Din : Yupz din, kamu benar. Kita juga harus pandai memilih teman curhat. Tapi meski kita dah berusaha dan terkadang salah bicara ma orang lain, kita ga boleh berputus asa lalu menutup diri dengan semua orang kan? tq
    @ Mba Maria S. : Iya mba, ada Tuhan yang selalu menenami kita:p
    @

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  11. sofa nurdiyanti Says:

    @ Mbak Fita Irnani: Sebenarnya background pendidikan seseorang tidak begitu berpengaruh pada cara bersikap seseorang mba,hehe.. bisa jadi orang yang diluar psikologi lebih bisa memahami orang lain, bisa juga sebaliknya. menurut teori behavioristik Lingkungan berpengaruh terhadap cara berpikir seseorang, bagaimana dia bersikap itu ditentukan dari hasil belajarnya.. Apabila dia dah belajar psikologi tapi tetap mempunyai pemikiran lain, saya kira itu bukan lagi maslah background tapi lebih ke pilihan hidup seseorang,hehe.. Tq
    @ Radinal M.: Thanks yak..
    @ Andik W. : Makasih, artikel ini perlu direvisi deh, banyak dapat masukan dari teman-teman, dan pendapat mereka juga ok,hehe..
    @Mb Ayu: Sebenarnya proses konseling yang benar itu bukan menggurui mba. Tiap orang hanya butuh didengarkan. Bicara dengan orang lain akan membantu kita melihat hal-hal yang tidak kita sadari.. Batasannya sejauh kita merasa nyaman dan percaya ma orang lain nur kira,hehe..
    @Lynks: Yupz ling, aku lupa bilang itu kutulis berdasar pengalaman pribadi jadi ga bisa digeneralisir ke orang lain,hehe.. tq yak
    @ Din : Yupz din, kamu benar. Kita juga harus pandai memilih teman curhat. Tapi meski kita dah berusaha dan terkadang salah bicara ma orang lain, kita ga boleh berputus asa lalu menutup diri dengan semua orang kan? tq
    @ Mba Maria S. : Iya mba, ada Tuhan yang selalu menenami kita:p
    @ Hadi: iya,hehe.. sebenarnya ne agak maksa ma editornya buat ga rubah judul, habis lagi pingin kasih artikel ma temen..

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  12. sofa nurdiyanti Says:

    @ mas muji: yupz.. semangat!!!

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  13. Inoeg Says:

    Yach,begitulah manusia ,.makhluk yg g pernah puas,. Udh ckup mash minta yg lain,. Lha ini malh minta sakit,.cukup aneh,.but nevermind.
    Kadang kita memohon kpd tuhan sesuatu,. Yg kita yakini adalh yg baik bt kita,. Tp terkadang yg terbaik menurut kita,.belum tentu terbaik di mata Nya,. So sbagai manusia kita hanya bisa berusaha dan berdoa semoga selalu diberi limpahan yg terbaik dariNyA,.

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a Reply

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox