Bhutan: Rahasia Negara dengan Indeks Bahagia Tertinggi di Dunia
Editor | Kolom Tetap | October 6th, 2009
Oleh: Aleysius H. Gondosari*
Beberapa waktu yang lalu, teman saya Hadi Prabowo memperoleh artikel yang sangat menarik dari Ade Gumilang, dan meneruskannya kepada saya, yaitu tentang negara bahagia Bhutan. Telah bertahun-tahun negara ini mengukur tingkat kebahagiaan penduduk dan negaranya dengan ukuran kebahagiaan Gross National Happiness (GNH), dan bukan dengan ukuran ekonomi Gross Domestic Product (GDP).
Bhutan disebut sebagai “Shangrilla di kaki gunung Himalaya”. Dalam sebuah survei tahun 2005, 97 persen menganggap diri mereka berbahagia, dengan 45 persen merasa sangat berbahagia. Hal ini membuat tingkat kepuasan penduduk Bhutan berada dalam kelompok 10 persen tertinggi di dunia berdasarkan Happy Planet Index. Bukannya kebahagiaan yang berasal dari pemuasan nafsu dunia fana, melainkan berasal dari iman dan konsep “tahu-cukup”.
Orang Bhutan beranggapan kemiskinan yang sesungguhnya adalah apabila tak mampu beramal kepada orang lain, mereka sudah sangat puas asalkan memiliki sawah dan rumah.
Dikarenakan mereka adalah umat Budha, maka mereka tidak membunuh makhluk berjiwa, itulah sebabnya mereka mengimpor daging dari India. Namun demikian, di atas meja makan jarang terlihat makanan jenis daging, melainkan makan sayur-sayuran atau produk dari susu sudah membuat mereka puas.
Pengalaman kebahagiaan Bhutan berasal dari Jigme Singye Wangchuck IV, sang mantan raja yang tidak mendahulukan perkembangan ekonomi melainkan mendirikan sebuah negara yang berbahagia sebagai amanah jabatannya, dengan kesetaraan, kepedulian, dan konsep ekologi menyulap Bhutan menjadi negara besar dalam hal kebahagiaan.
Pada 2005, Bhutan menjadi fokus berbagai media besar seantero dunia, “Model Bhutan” ciptaannya, teori Gross National Happiness (GNH) yang ia usulkan memperoleh perhatian saksama masyarakat internasional, dan menjadi tema pelajaran ilmu ekonomi yang digandrungi para pakar dan institut penelitian sebagian negara seperti AS, Jepang dan lain-lain. Konsep “baru” dalam pandangan negara maju pada abad-21 ini, di Bhutan diam-diam telah dijalankan selama hampir 30 tahun lamanya.
Yang disebut “Model Bhutan” ialah mementingkan perkembangan yang seimbang antara materi dan spiritual, perlindungan terhadap lingkungan hidup dan proteksi terhadap kebudayaan tradisional diletakkan yang di atas perkembangan ekonomi. Standar untuk pengukuran perkembangan ini disebut Gross National Happiness (GNH).
Raja Wangchuk sangat memerhatikan pelestarian lingkungan hidup Bhutan, ia memberlakukan larangan merokok di seluruh negeri, melarang impor kantong plastik. Selain itu pemerintah menentukan, setiap orang setiap tahun minimal harus menanam 10 batang pohon.
Angka cakupan hutan belantara di Bhutan sebesar 72 persen berada pada urutan nomor 1 di Asia. Sebanyak 26 persen tanah di seluruah negeri dijadikan taman nasional.
Pada 2005 Bhutan memperoleh hadiah “Pengawal Bumi” dari Pelestarian Lingkungan Hidup PBB (United Nations Environment Programme, UNEP).
Demi melindungi lingkungan hidup dan kebudayaan mereka, Bhutan rela “mengurangi profit” dan mempunyai pertambangan tapi tidak dibuka.
Orang Bhutan beranggapan, “Kehidupan yang benar-benar bernilai, bukannya hidup di tempat dimana dapat menikmati materi tingkat tinggi, melainkan memiliki taraf spiritual dan kebudayaan yang kaya.”
Energi 5 Elemen Negara Bhutan
Dari hasil analisis energi 5 Elemen, negara Bhutan mempunyai energi pada 5 Elemen. Ini merupakan hal yang luar biasa, karena biasanya suatu negara hanya mempunyai energi pada 3 elemen. Pola energi negara Bhutan adalah Air-Bumi-Api-Udara-Ether, dengan nilai Indeks Energi keseluruhan = +10.
Indeks Energi 5 Elemen atau 5 Elements Energy Index pada masing-masing elemen adalah:
- Elemen Air = +2
- Elemen Bumi = +2
- Elemen Api = +2
- Elemen Udara = +2
- Elemen Ether = +2
Dari adanya kelima elemen ini, terlihat bahwa Bhutan memerhatikan kebahagiaan dari seluruh aspek kehidupan, yaitu adanya keseimbangan materi dan spiritual, dan bukan hanya mementingkan segi ekonomi saja, tetapi juga pelestarian alam.
Kebahagiaan memerlukan energi positif dari 3 elemen, yaitu elemen Air, Api, dan Udara.
Keseimbangan antara materi dan spiritual memerlukan energi positif dari 5 elemen, yaitu elemen pertama Bumi, elemen kedua Air, elemen ketiga Api, elemen keempat Udara, dan elemen kelima Ether.
Pelestarian alam memerlukan energi positif dari elemen Air, Api, Udara, dan Ether. Memperhatikan kebahagiaan rakyat juga memerlukan energi positif dari elemen Ether, Udara, Api, dan Air.
Sedangkan konsistensi untuk tetap mempertahankan pelestarian alam memerlukan energi positif dari elemen Bumi. Konsistensi larangan merokok untuk menjaga kesehatan rakyat juga memerlukan energi positif dari elemen Bumi.
Happiness Index atau Indeks Bahagia Penduduk Bhutan
Rata-rata penduduk Bhutan mempunyai Indeks Bahagia yang positif, yaitu +3. Bandingkan dengan Indeks Bahagia rata-rata orang yang tinggal di kota-kota besar yang bernilai negatif -2, karena tekanan stres yang tinggi. Semakin besar nilai negatifnya menunjukkan tingkat stres yang semakin tinggi. Denmark yang juga dijuluki sebagai negara paling bahagia di dunia karena kepeduliannya terhadap pelestarian lingkungan memiliki Indeks Bahagia dengan nilai positif +2.
Nilai Indeks Bahagia berkisar antara +5 sampai -5. +5 berarti sangat bahagia, dan -5 berarti sangat tidak bahagia.
Sebenarnya Indeks Bahagia penduduk Bhutan telah berkurang sejak tahun 2007. Pada tahun itu, televisi mulai memasuki Bhutan. Sebelum tahun 2007, Indeks Bahagia penduduk Bhutan mencapai +5. Tetapi sejak televisi masuk, penduduk Bhutan mulai menjadi lebih konsumtif, sehingga saat ini Indeks Bahagia turun menjadi +3. Tetapi masih tetap menjadi Indeks Bahagia yang tertinggi di dunia. Hal ini sebenarnya juga disayangkan oleh para pengamat lingkungan dan pengamat Gross National Happiness. Mudah-mudahan penduduk Bhutan bisa meningkatkan kembali Indeks Bahagia-nya menjadi +5.
Kebahagiaan yang Holistik
Semoga semakin banyak negara yang memerhatikan kebahagiaan bukan hanya dari aspek ekonomi dan bisnis saja yang cenderung menyebabkan stres, tetapi juga memerhatikan kebahagiaan dari keseimbangan materi dan spiritual, dari sisi kualitas hidup untuk rakyat seperti pemandangan yang indah, lingkungan yang hijau, udara yang segar, air yang jernih, dan makanan yang sehat.[ahg]
* Aleysius H. Gondosari adalah alumnus ITB tahun 1984, trainer bidang organisasi dan manajemen, penggemar fotografi, pengembang online business, dan sedang menulis buku tentang sehat secara alami dengan metode Energi 5 Elemen, yang juga dapat dilihat di www.5elemen.com. Aley tinggal di Jakarta dan dapat dihubungi melalui email: aleysiush[at]gmail[dot]com atau di nomor telepon: 0818116669.

October 7th, 2009 at 3:40 pm
Pemaparan yang memikat, Pak Aley!
Saya jadi teringat kampung kelahiran saya, Jojagarta yang memiliki angka harapan hidup tertinggi di Indonesia. Apa ya rahasia hingga orang Jogja lebih panjang umur dibandingkan penduduk di kota lain?
Atau Pak Aley berkenan mengulasnya di edisi mendatang?
October 7th, 2009 at 7:20 pm
Wah..ini benar2 tulisan luar biasa! hebat! Membuat kita happy….Tapi omong-omong berapa ya Pak Happiness Index masyarakat Indonesia?
October 8th, 2009 at 7:11 pm
Terima kasih atas komentar dan sarannya, Pak Anang.
OK, Pak. Kebetulan saya juga sedang menyiapkan tulisan untuk buku berikutnya, yaitu Rahasia Sehat dan Panjang Umur.
Beberapa artikel panjang umur sudah ada di web 5elemen.
Mudah-mudahan rahasia panjang umur orang Yogya bisa terbit dalam edisi berikutnya.
Salam Sehat Bahagia!
aley
October 8th, 2009 at 7:22 pm
Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya, Pak Agung.
Untuk Indonesia, Indeks Bahagia memang bervariasi tergantung pada tempatnya, berkisar antara -1 sampai +3.
Indeks Bahagia dari beberapa kota di Indonesia:
Untuk Jakarta, berkisar antara -1 sampai +1.
Yogya berkisar antara 0 sampai +2.
Purwokerto berkisar antara 0 sampai +2.
Bukittinggi berkisar antara +1 sampai +2.
Bali Utara berkisar antara +1 sampai +3.
Jadi ternyata masih ada tempat-tempat di Indonesia dengan Indeks Bahagia yang mirip dengan Bhutan.
Mudah-mudahan bisa tetap dipertahankan.
Salam Sehat Bahagia,
aley
October 8th, 2009 at 8:19 pm
Bagus Pak Aley…
nur baru tahu, kalau di dunia ini masih da negara yang mengutamakan kebahagiaan daripada materi,hehe…
semoga kelak indonesia bisa seperti bhutan..mengubah GNP menjadi GNH
hamasah
October 9th, 2009 at 4:09 pm
Terima kasih atas komentarnya, Nur.
Iya, mudah-mudahan Indonesia bisa menjadi bahagia seperti Bhutan.
Di tempat-tempat tertentu di Indonesia sebetulnya masih ada tempat seperti Bhutan.
Dari energinya, di Yogya kelihatannya juga masih ada, he..he..he..
Mudah-mudahan bisa tetap dijaga dan diperluas ke tempat-tempat lain.
Salam Sehat Bahagia,
aley
February 23rd, 2010 at 12:29 pm
[...] Bhutan: Rahasia Negara dengan Indeks Bahagia Tertinggi di Dunia [...]