Berguru pada Serumpun Bambu
Editor | Kolom Tetap | June 1st, 2009
Oleh: Sribudi Astuti*
Ada kesyukuran tersendiri hidup di Indonesia dengan betang alam dan kekayaan flora dan fauna yang beragam. Kita benar-benar kaya, termasuk di dalamnya kearifan lokal beribu-ribu suku yang mendiami seantero negeri dari pantai hingga pegunungan. Kali ini saya ingin sedikit mengungkap sebuah kearifan dari sesuatu yang sangat dekat dengan masyarakat kita, yaitu serumpun bambu.
Bagi masyarakat yang hidup di tempat-tempat yang rawan longsor, utamanya di daerah dengan kelerengan yang bergelombang hingga curam, ada kebiasaan yang cukup unik. Ketika ancaman longsor menunjukkan tanda-tandanya, masyarakat akan memotong tanaman bambu legi (pring legi) kemudian ditancapkan di tebing sungai atau di muka tanggul yang mulai bergeser. Antar patok satu dengan patok lain yang ditancapkan kemudian disatukan dengan jalinan tali yang terbuat dari bambu apus untuk menahan tanah agar tidak terus terbawa garusan dan geseran.
Patok-patok bambu itu tetap berwarna hijau hingga berbulan-bulan sebelum dari buku-bukunya muncul tunas baru. Selama berbulan-bulan patok bambu itu bersemedi. Tetapi, di bagian bawah—di bagian buku-buku yang tertanam di tanah—akar-akar serabut tumbuh pesat dan menjalar ke mana-mana. Mereka memperkokoh posisinya di tebing sungai, membentuk jalinan yang saling merekatkan. Diam-diam patok bambu itu menyusun kekuatan di tempat tersembunyi terlebih dahulu, kemudian baru memunculkan tunas-tunas baru di bagian atas, dan memamerkan daunnya yang selalu hijau sepanjang tahun.
Sadar atau tidak, patok-patok itu telah mengajarkan pada kita untuk membangun fondasi hidup yang kuat terlebih dahulu, baru kita tumbuh sesuka hati kita, dan tanpa disuruh pun orang lain akan melihatnya, tak perlu menyombongkan diri.
Tak hanya patok yang menyebabkan bambu menyebar ke mana-mana, tetapi terkadang orang menanam bonggol yang ada tunasnya, dan karakteristik tunas bambu juga unik. Dia akan memperkuat akarnya terlebih dahulu, baru memunculkan tunasnya di atas permukaan tanah. Sebuah hasil kajian ilmiah menyebutkan bahwa tunas bambu ada yang dapat tumbuh 121 cm dalam sehari. Dan pada akhirnya, bambu dinobatkan sebagai tanaman yang yang mempunyai pertumbuhan tercepat di muka bumi. Wow… fantastis, bukan? Ini mengajarkan bahwa bila fondasi hidup yang kita bangun cukup kuat, kita dapat melesat secepat yang kita inginkan.
Terkadang saya kasihan kepada bambu. Ia cenderung tumbuh di tempat-tempat yang sulit seperti keluarga pomaceae lainnya; lereng gunung yang tandus dan tebing tebing sungai. Tetapi, untungnya bambu tidak punya mulut sehingga tak sedetik pun dia mengeluhkan ketidaklayakan tempat yang ditinggalinya. Bahkan, ketika si bambu harus tumbuh di lahan-lahan kritis—yang mana air saja sulit didapat—mereka tak pernah menangis.
Salah satu hal yang paling tragis yang pernah dialami bambu adalah di Yogyakarta ketika lereng Merapi luluh lantak oleh awan panas yang menyembur. Beberapa waktu kemudian, bambulah yang tumbuh pertama kali sehingga selalu kita jumpai di lereng merapi, dari sisi mana pun bambu selalu tampak. Dan, ini pula yang terjadi di Hiroshima dan Nagasaki, bambu yang tumbuh untuk pertama kalinya sebagai tumbuhan pioner setelah beberapa waktu sebelumnya bom atom meluluhlantakkan kedua tempat tersebut.
Sampai di sini bambu kembali mengajarkan kepada kita bahwa di mana pun kita berada, sesulit apa pun keadaan, tak ada kata menyerah untuk terus tumbuh, tak ada alasan untuk berlama-lama terpendam dalam keterbatasan. Karena bagaimanapun, pertumbuhan demi pertumbuhan harus diawali dari kemampuan untuk mempertahankan diri dalam kondisi yang paling sulit sekalipun.
Setelah tanaman bambu tumbuh optimal, lengkap dengan ranting dan daun disekujur batangnya dan tinggi menjulang, apa yang kita lihat? Ya, daun bambu tumbuh lurus, tak ada satu pun daun bambu—yang sudah waktunya mekar kembali—menangkup seperti daun bambu muda. Dia tetap mekar lurur, sampai waktu gugur tiba dan tergantikan oleh daun-daun baru. Ya, di sini daun bambu menunjukkan kesetiaan kodratnya; tetap lurus dari awal hingga akhirnya, harus lepas dari batang tempat dia bertaut untuk mendapatkan asupan makanan dari akar.
Tahap akhir pertumbuhan pohon bambu tumbuh menjulang dengan kehijauan sepanjang tahun. Walau badai datang, angin kencang menerpa, bambu tetap bergeming dari tempatnya bertumpu. Walau ujungnya bergerak ke sana kemari mengikuti dorongan angin, ia senantiasa kembali ke posisi semula. Inilah simbol tuntutan hidup yang senantiasa harus fleksibel, lentur, dan mengikuti arus tanpa harus roboh tercabut dari fondasi yang menjadi pijakannya. Seperti kata Krishnamurti yang dituangkan dalam Bidadari Words-nya: Terus membangun fondasi akar agar kokoh, terus membangun ruas demi ruas yang ulet hingga menjulang sangat tinggi, mengikuti terpaan angin hingga tinggi tanpa melawan, namun tetap kembali ke tempat semula, kokoh, berprinsip, dan lembut.
Kemampuan bambu untuk tumbuh di tempat yang sulit menyebabkan bambu tersebar dalam area yang sangat luas dari kawasan yang terbentang di antara 50 derajad lintang utara dan 47 derajad lintang selatan. Penyebaran yang luas memungkinkan banyak sekali penggunaan bambu untuk tujuan yang berbeda; sumpit di kawasan Asia Timur seperti Jepang dan Korea, bahan anyaman untuk wadah, perangkap ikan, sampai alat musik dan obor penerangan. Ini mengajarkan kita bahwa di mana pun kita berada, di mana bumi dipijak, senantiasa memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi lingkungan sekitar kita.
Begitu banyak intisari kehidupan yang dituturkan oleh bambu. Begitu banyak pula perlambang-perlambang yang dibuat orang dari berbagai negara untuk mengabadikan ajaran-ajaran Tuhan lewat buku terbesar di dunia yang berjudul ALAM ini. Di China, bambu menjadi simbol umur panjang, di India menjadi simbol persahabatan, di Vietnam bambu dijadikan simbol kerja keras, optimisme kesatuan, dan kemampuan adaptasi. Vietnam bahkan mengabadikan pelajaran berharga dari sebatang bambu ini dengan sebuah peribahasa ”Ketika bambu tua, maka tunas baru akan muncul”. Ini berarti bahwa bangsa Vietnam tak akan pernah binasa, ketika generasi tua mati, maka muncul generasi yang lebih muda untuk menggantikannya.
Keluhuran nilai yang ditampilkan oleh bambu ternyata tak hanya lewat pitutur-pitutur lirih yang hanya dapat dilihat dengan mata batin yang tajam, tetapi juga disertai semangat tinggi seperti ketika sang bambu dipergunakan untuk senjata dalam perjuangan beberapa bangsa di Asia Tenggara. Pitutur-pitutur lirih itu juga disertai alunan merdu dari kulintang, seruling bambu, dan angklung yang tercipta dari batang bambu yang berongga. Dan, ketika kegelapan menyergap, bambu juga menyediakan tempat untuk menumpukan pelita yang biasa disebut obor oleh penggunanya. Sehingga, tak ada lagi alasan untuk mengutuk kegelapan. Nyalakan obor bambu sebagai penerang dan terus pelajari ajaran Tuhan yang tersembunyi di ALAM ini.[sba]
* Sribudi Astuti lahir di Sleman, Yogyakarta, pada 29 Agustus 1979. Pendidikan S-1 diraihnya di Fakultas Teknik Pertanian, UGM, Yogyakarta. Saat ini ia menjadi widyaiswara/trainer di Balai Besar Pelatihan Pertanian Batangkaluku, UPT Badan Pengembangan SDM Pertanian, Departemen Pertanian, Gowa, Sulawesi Selatan. Sribudi dapat dihubungi melalui HP:085656450918.

June 4th, 2009 at 8:41 pm
Halo ibu, ilmu bambunya bagus sekali. Tidak usah jauh-jauh belajar ke negeri org untuk memaknai hidup ya, Bu. Alam kita juga berperan sebagai guru yg bijak.
June 6th, 2009 at 1:00 pm
Iya Bu.. Negeri kita kaya akan petuah bijak.. yang mengajarkan kita pada kearifan.
June 10th, 2009 at 9:57 am
Tulisan yang bagus ibu, dengan contoh sederhana, tapi kaya dengan makna….
June 11th, 2009 at 4:38 pm
Pembelajaran dari alam yang Luar Biasa.Memang kita harus banyak belajar dari alam ya Bu. Terutama bambu.Salam Kaizen
July 24th, 2009 at 6:34 pm
Duh, ternyata betapa banyaknya ilmu itu ditebarkan Allah di sekitar kita, sehingga dari pohon bambu saja kita bisa belajar banyak tentang bgmn hidup bermakna.Dalam menjalani kesulitan-kesulitan hidup pun saya suka belajar dari pohon pisang.Dan akhirnya aku tertarik buat kata-kata mutiara tentangnya :Tirulah ketegaran hidup pohon pisang dalam menghadapi derita luka-luka hidupnya.Terpaan angin yang membuat helai-helai daunnya luka tercabik-cabik justru yang membuat batangnya semakin kokoh berdiri. Pendek kata, semakin banyak cabikan-cabikannya maka dengan sendirinya semakin kokohlah batang-batang mereka berdiri.Terlepas dari semua itu, boleh jadi cabikan-cabikan daun yang seakan menari-nari tatkala diterpa angin tersebut adalah semacam ritme ritual dan zikirnya dalam mengingat Kebesaran Khaliknya. Dan aku pikir pun, teramat mustahil memang jika akhirnya Allah Yang Maha Pencipta menciptakan segala sesuatu dan bila segala sesuatu yang diciptakan-Nya itu tidak tunduk pada yang menciptakannya.