Bergeming: Pelajaran dari Kisah Biskuit Lao Po Bing

lcOleh: Lily Choo*

Ada dua cerita legenda mengenai biskuit lao po bing bila Anda mau mencarinya di internet. Itu pun hanya ada satu website yang menceritakan asal-usulnya. Ayah saya punya versi lebih bagus dan artinya mendalam. Cerita ini diceritakan oleh ayah berulang kali sejak saya balita. Tak pernah bosan ayah menceritakannya. Dan anehnya, sebagai anak saya juga tak pernah bosan mendengarnya. Sekarang malah saya turunkan cerita ini ke anak-anak.

Dahulu kala, hiduplah sepasang suami istri di desa kecil di negeri Tiongkok. Sang suami sangat mencintai istrinya, namun dia punya keinginan untuk mengikuti ujian kerajaan di kota. Apa daya dia tunda sekian lama keinginan tersebut karena tiada orang yang akan menjaga istrinya bila dia pergi. Tiap hari dialah yang memasak dan menyuapi istrinya, sedangkan sang istri kerjaannya adalah tidur sepanjang waktu. Hanya membuka mata dan mulutnya bila dia lapar.

Siang dan malam, sang suami memikirkan bagaimana caranya supaya dia boleh ke kota untuk ujian, sementara istrinya tetap tersedia makan minum di rumah. Perjalanan dari rumah ke kota memakan beberapa hari, jadi tak mungkin dia pergi bila makan istrinya tidak terjaga. Akhirnya, mimpi menjadi sarjana tersebut membuat sang suami berhasil menciptakan sebuah biskuit dengan bulat besar. Dan, dia perkirakan biskuit itu akan cukup dimakan oleh sang istri sampai dia kembali dari belajar nanti.

Mengingat tabiat sang istri yang malas, sang suami mengikat biskuit tersebut di leher istrinya. Sang suami pun berpesan bahwa dia hanya perlu memakan biskuit tersebut bila lapar. Sang suami juga berjanjii akan cepat kembali setelah selesai ujian nanti. Setelah itu, dengan tenang sang suami berangkat ke kota untuk mengikuti ujian kerajaan sambil berharap segera mendapat gelar sarjana supaya kelak hidupnya mapan.

Sang suami akhirnya berhasil lulus ujian dengan baik dan mendapat pekerjaan di kerajaan. Predikat sarjana akan memberinya kemewahan hidup nantinya. Maka, segeralah dia melakukan perjalanan kembali ke desa untuk menjemput istrinya. Sesampainya di rumah, sang suami mendapati istrinya telah meninggal. Kenapa? Bukankah ia sudah disediakan biskut yang besar sekali yang digantung dileher sang istri? Bahkan, sang istri tidak perlu bangun dari tempat tidurnya untuk mengambil makanan?

Biskut itu ternyata tidak habis dimakan. Ternyata lagi, biskuit itu hanya digigit sebanyak atau sejauh jarak antara mulut sang istri dengan biskut tersebut. Sisanya masih banyak dan tidak termakan sama sekali. Rupanya, untuk menaikkan biskuit tersebut ke jangkauan mulutnya pun sang istri tak mau, hingga ajal pun menjemput karena dia kelaparan.

Sang suami sedih bukan kepalang karena biskuit yang dibuatnya untuk sang istri tercinta sia-sia belaka. Bahkan, gelar sarjana dan kedudukannya di kerajaan tidak dapat dinikmati bersama sang istri yang dicintainya. Sejak saat itu, disebutlah biskuit tersebut dengan lao po bing. Biskuit istri yang sengaja dibuat karena sang suami sangat mencintai istrinya.

Pelajaran apa yang didapat dari cerita ini? Kemalasan? Dulu, saya pikir begitu. Namun, sekarang pemahaman saya berbeda karena zaman kini kita pada tahu bahwa malas itu haram hukumnya. Tak heranlah bila zaman ini tidak ada pemalas dimana-mana, malah orang pada sibuk semua! Ekonomi menanjak, sibuk. Ekonomi merosot, tambah sibuk lagi. Aneh, kan?

Nah, moral yang ingin saya bahas dari cerita ini adalah actionless (bergeming, keadaan tidak mau bergerak). Ini bukannya malas melainkan tindakan yang dipilih untuk tidak bergerak atau melangkah, secara sadar maupun tidak sadar. Secara sadar dikarenakan adanya risiko yang bakal ditempuh sehingga membuat kita memilih tidak melakukan apa-apa.

Dalam bisnis, bila kita terbentur masalah, kebanyakan tindakan yang dipilih adalah quit dan give up (berhenti melakukannya dan menyerah). Dalam berteman, bila terjadi perselisihan atau salah paham, berkatalah kita pada diri sendiri:Memangnya, siapa sih lu? Apa untungnya berteman dengan lu? Daripada stres punya teman seperti lu, mendingan tidak berteman lagi, dah!

Dalam pekerjaan dulu, daripada salah ketahuan dan dimarahin bos, lebih baik diam alias pura-pura tidak tahu. Dalam pernikahan, bila pertengkaran sudah terjadi, yang muncul di pikiran adalah,Kok bisa sih dulu gua memilih dia jadi suami? Daripada stres mendingan single, deh!

Nah, kalau secara tidak sadar, keputusan kita untuk tidak melakukan apa-apa itu diakibatkan oleh adanya kepercayaan yang sudah terbina sekian lama dalam benak kita. Bahwa, diri kita tidak mampu menghadapi susahnya kerja keras, kerasnya ejekan, pedihnya kesedihan, ketahuan bodoh, dan banyak hal lagi. Adanya peristiwa kegagalan dalam bisnis, berteman, pekerjaan, dan pernikahan membuat diri kita membangun “benteng” yang semakin kuat. Lebih baik tidak bergerak dan berada dalam zona aman daripada bergerak dan masuk dalam kandang singa.

Ketika membawa si sulung dan si bungsu saya ke Bandung beberapa tahun lalu, saya menawarkan kepada mereka dan seorang temannya untuk menaiki kuda. Serempak mereka berteriak kegirangan, “Mauuu…!” Berhentilah mobil kami di depan abang-abang yang menawarkan kuda-kuda mereka. Begitu turun mobil, si bungsu dan temannya dengan gerakan cepat melesat dari pintu, dan dalam hitungan detik sudah berada di atas kuda.

Kagetnya saya, si abang dan kuda langsung melesat lari tanpa sempat saya menawar atau bahkan mengikuti mereka pergi. Sepupu menepuki bahu saya. “Tenang, cuma lima ribu rupiah”. Duh, bukan soal Rp 5.000-nya… “Kalau anakku hilang dibawa lari, bagaimana? Sepupu saya menenangkan bahwa di Bandung tingkat kriminal masih rendah. Dan lagian, saya ini bukan jutawan jadi tidak ada yang berminat menculik anak saya hahaha….

Apa yang terjadi dengan si sulung? Dia terpaku tepat di sebelah saya berdiri, melihat saya dan menunjuk-nunjuk delman yang ada di seberang. Mengerti maksudnya, bahwa dia meminta naik delman, tidak mau naik kuda. Saya menggelengkan kepala, “Yang ditawarkan adalah naik kuda, bukan naik delman!” Air matanya mulai mengalir. Hati dan pikiran saya pun bulat-bulat menolak delman. Kenapa?

Si sulung memikirkan bahwa risiko naik kuda itu besar. Jatuh dari ketinggian. Kata jatuh saja sudah membuatnya gemetar, apalagi dia ini tipe pemikir. Alam bawah sadarnya lagi membuat dia makin tak bergerak. Kepercayaan bahwa jatuh itu akan mengakibatkan luka yang parah, sakit yang luarbiasa, dan bahkan goresan yang dalam. Beberapa peristiwa yang pernah dia alami, adiknya jatuh dari tangga, adik sepupunya jatuh dari tingkat empat, dan beberapa kali kesakitan yang dia alami sendiri ketika jatuh naik sepeda, roller-skate, dan bahkan karena melihat film.

Rupanya, tingkat kepercayaan dirinya tidak mampu menahan bayangan rasa sakit yang lebih besar daripada menerima kesempatan emas menaiki kuda. Akhirnya, dia pun memilih tidak menaikinya sekalipun saya sudah memberikan tawaran.Kesempatan itu datang seperti pintu terbuka sekian saat lalu menutup kembali.” Dia tetap bergeming, hanya air mata yang mengalir, dan tangan yang menunjuk-nunjuk ke delman.

Sekembalinya si bungsu, dia bercerita kepada kakaknya, betapa adventurous dan glorious-nya bisa naik kuda. Ah, si sulung menyesal. Saat ini, bila dia bertemu “kesempatan”, dia akan mengingat hal tersebut lalu bertanya, “Mum, when I can ride a horse?”

Saya pun tersenyum, “Be ready because the opportunity comes like the door. Opens….! Lalu, tangan saya membuka lebar, And close in any second Dan, tangan saya menutup dengan cepat.

Untuk menghindari actionless mode ini dan membuat saya dalam keadaan action mode, yang selalu saya lakukan adalah:

1. Menyadari bahwa bila melangkah tentunya selalu ada risiko yang menanti.

2. Menyadari bahwa actionless-pun memiliki risiko besar

3. Menanamkan kepercayaan bahwa kegagalan yang sama tidak akan terulang lagi asalkan saya belajar darinya dan tetap bergerak atau melangkah (ke arah yang berlainan tentunya). Jadi, bila kegagalan terjadi berarti itu adalah kegagalan baru.

4. Menanamkan kepercayaan bahwa di balik kesempatan selalu ada kegemilangan besar menanti. Kegemilangan dari bergerak atau melangkah adalah jauh lebih besar daripada kebodohan dan kegagalaan dari tidak melangkah sama sekali.

5. Tetap bergerak atau melangkah sekalipun hanya se-inci.

Seperti sang istri di atas, tindakan actionless-nya membuat sang suami menderita kehilangan istri dan dia kehilangan kesempatan besar menikmati hidup bahagia bersama suaminya. Bila Anda mendapatkan keadaan actionless hari ini, cepatlah pergi membeli biskuit lao po bing, makan biskuit tersebut sambil memikirkan ceritanya, dan mulai melangkahlah. Seperti Johny Walker yang mempunyai motto “Keep Walking”.[lc]

* Lily Choo adalah seorang pebisnis perempuan berusia 37 tahun yang lebih sering beredar di antara Jakarta, Malaysia, dan Singapura. Ia berminat pada bidang leadership, anak-anak, wisata, menulis, dan kesehatan. Lily dikarunai dua anak perempuan yang cantik yang senantiasa menjadi inspirasi hidupnya. Lily mengaku sebagai perempuan biasa yang punya mimpi besar untuk menjalani hidup yang luar biasa serta menjadi inspirasi bagi semua perempuan di seluruh penjuru dunia.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.7/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

One Response to “Bergeming: Pelajaran dari Kisah Biskuit Lao Po Bing”

  1. Bergeming: Pelajaran Dari Kisah Biskuit Lao Po Bing … Says:

    [...] Normal 0 false false false IN X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4.Page 2 [...]

Leave a Reply

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox