Berbuat Baik Hanya untuk Tuhan
Editor | Kolom Tetap | August 25th, 2009
Oleh: Fita Irnani*
Sebagai makhluk sosial, tentunya manusia akan selalu berhubungan dengan manusia lainnya. Hubungan yang terbina ini kadang-kadang tidak selamanya mulus. Adakalanya justru berbuah konflik di antara mereka sendiri. Demikianlah, jika batas-batas toleransi dalam memaknai hubungan dirasa sudah tidak dapat dijunjung tinggi lagi. Sayangnya, justru batasan toleransi diciptakan berdasarkan sudut pandang pribadi yang tidak objektif. Banyak muatan egoisme dan kepentingan di dalamnya.
Selama persinggungan antarmanusia masih berjalan, demikian pula konflik akan tetap terjadi. Tidak hanya untuk mereka yang sudah saling mengenal, yang belum mengenal pun dapat menciptakan konflik, entah secara sengaja ataupun tidak. Sering saya menyaksikan di tempat-tempat umum bagaimana konflik terlahir di antara orang-orang yang tidak saling mengenal. Hanya lantaran hak antrian diambil orang lain, mampu mendidihkan emosi. Hanya lantaran tersenggol pada saat berdesak-desakan dalam transportasi yang sarat penumpang, kadang baku hantam terjadi.
Terciptanya konflik tidak melulu di dominasi oleh laki-laki. Perempuan pun mampu menberikan andil dalam menyulut konflik. Berebut tempat duduk dalam kereta pun, bahkan berhasil menuai adu mulut dengan penumpang wanita lainnya. Setidaknya, hal ini pernah saya temui dan tiada ending yang membahagiakan. Karena, sepanjang perjalanan adalah mulut yang tiada henti meracau serta body language yang jelas ditunjukkan sebagai bentuk ketidakterimaan.
Hubungan antarsesama saudara kandung juga berpotensi menciptakan konflik. Begitu pula antarteman, dalam komunitas apa pun, di lingkungan perumahan, kantor, atau sekolah, semua berpotensi menciptakan konflik. Demikianlah manusia, dikarunia oleh Tuhan kekayaan akal, nafsu, sekaligus hati. Segala penggunaan ketiga piranti tersebut dan bagaimana menjaga keseimbangannya, kembali pada manusia sendiri.
Akan berbahaya jika nafsu lebih mendominasi dari dua lainnya. Akibatnya tentu saja bangunan konflik yang makin runcing dengan manusia lain. Begitulah nafsu bekerja, menjadikan manusia melupakan manusia lainnya. Sesungguhnya pada saat itu, manusia tengah lupa, yang diingat hanya kepuasaan pribadi, yang penting kemenangan, yang penting kepuasaan, yang penting apa yang diinginkan tercapai. Keegoisan berada pada urutan pertama. Jika hal ini terjadi, sudah pasti segala hal menjadi halal dilakukan, karena dalam pikirannya hanya nafsu mengalahkan.
Sejatinya jika manusia mengedepankan pemanfaatan akal dan kebersihan hati, konsep berpikir dalam memaknai konflik akan mengalami perubahan kearah kematangan. Dari tinjauan berpikir yang matang, biasanya akan disertai teknik pemilihan tindakan yang dewasa.
“Ini lho gue! Lu mesti ikut pendapat gue! Yang gue lakukan benar, kok! Kalau gue enggak mau, lu mau apa? Terserah lu! Kan udah gue bilang! Lu urus diri lu sendiri! Jangan urusin gue! Siape lu?” barang kali demikian contoh kata-kata yang terlintas pada saat berkonflik dengan manusia lain, ditambah intonasi dan bahasa nonverbal yang jelas killer. Jelas sekali, ketidaksukaan yang dominan terhadap lawan bicaranya. Lantas, bagaimanakah kita harus bersikap?
Terpancing pada awalnya tentu saja, karena ini adalah bagian dari proses pembelajaran ke arah kesabaran. Secara naluri pada awalnya reaksi manusia cenderung defensif menerima aksi dari luar. Selanjutnya, untuk beberapa saat manusia butuh waktu untuk berpikir dan menimbang. Di sinilah akal mulai bekerja. Tidak mudah untuk menerima dengan lapang dada, perlakuan seperti di atas, diperlukan ekstra kesabaran menghadapinya. Kadang justru kita membalas dengan perilaku yang sama. Jika sudah demikian apa yang kita cari? Apa yang kita dapatkan? Apakah ada kemenangan di sana? Ataukah kepuasaan?
Permasalahannya, tindakan mana yang lebih baik? Menganggap perlakuan mereka seolah tidak pernah terjadi—lalu memosisikan diri tetap berada dalam situasi tanpa konflik—tetap berbuat baik dan tetap memperlakukan mereka layaknya sahabat atau saudara? Atau, justru melakukan hal yang sama, berusaha mengalahkan, berusaha menunjukkan sebagai pihak yang menang? Setiap hari memikirkan strategi bagaimana menjadi sang juara? Setiap hari menunjukkan perbedaan pendapat dan perilaku yang tidak objektif dengan satu tujuan, “Ingat lho… kita berseberangan!”
Satu hal yang pasti, Tuhan mengajarkan hal baik melalui setiap ajaran agama, dan apa pun agamanya mengajarkan seluruh manusia untuk tidak saling bertikai, melainkan untuk saling mengasihi. Saya percaya, dalam hati setiap manusia beragama tentulah memiliki perasaan kasih yang sama. Jika mereka belum menunjukkannya, tidak rugi pula apabila kita mengawalinya untuk tetap berbuat baik terhadap mereka. Apabila masih terasa berat, pertajam penggunaan hati, jangan biarkan nafsu yang berbicara. Berlatih setiap saat untuk menjaga keseimbangannya. Selanjutnya akan muncul suatu bentuk keikhlasan, dan sedikit demi sedikit kedamaian akan menyelimuti hati. Indah, bukan?
Jangan merasa sudah beribadah dengan baik, jika dalam keseharian kita masih mengabaikan perasaan manusia lain. Jangan merasa yang paling benar jika kita paling pintar menyalahkan orang lain. Tetap berbuat baik dengan siapa pun. Apa pun dan bagaimanapun buruknya perlakuan orang lain, tetaplah berbuat baik hanya dengan satu alasan. Untuk Tuhan. Selamat menikmati keindahan bulan Ramadhan.[fi]
* Fita Irnani lahir di kota Semarang 13 Juni 1975. Sulung dari tiga bersaudara ini menghabiskan masa kecil hingga SMA di kota kelahirannya. Alumnus workshop Proaktif “Cara Cerdas Menulis Buku Bestseller” Batch VIII, Februari 2009 ini menetap di kota Bogor dan saat ini bekerja sebagai Learning & Development Specialist pada sebuah perusahaan multinasional yang berkantor di Sudirman. Fita dapat dihubungi melalui pos-el: acho_fit[at]yahoo[dot]co[dot]id.
August 28th, 2009 at 10:46 pm
Hubungan dengan sesama manusia dan hubungan kita dengan tuhan merupakan satu paket yang gak bisa dipisahkan. Habluminallah dan hablummimanas. Jadi, berbuatbaik harus untuk sesama dan harus untuk Tuhan. Gitu ya Fit? sukses selalu!
August 30th, 2009 at 9:30 am
Setuju pak Agung, hubungan horizontal dan vertikal harus dijalani dengan seimbang. Keseimbangan antara penggunaan akal, hati dan nafsu menjadi penentu dalam menciptakan hubungan horizontal yang cantik. Damainya hati ini jika hal ini terjadi dan terus terjadi.
Namun ketika kita tidak menerima kebaikan horizontal dari saudara kita, adalah bijaksana jika kita tetap menyebarkan kebaikan untuk mereka dengan satu alasan. Untuk Tuhan kita.
February 21st, 2010 at 8:04 am
Memang segala sesuatu hanya untuk mendapatkan keridhoan Allah semata….Bagus bu, aku tunggu artikel2 lainnya…