Bencana
Editor | Kolom Tetap | October 6th, 2009
Oleh: Iftida Yasar*
Begitu banyak bencana alam yang menimpa kita saat ini, tsunami, banjir, dan gempa yang terus menerus melanda saudara-saudara kita. Allah menentukan dan memilih siapa yang harus mengalami hal itu, tanpa kita tahu kenapa? Kenapa ada yang selamat? Kenapa kita yang terpilih dalam musibah itu? Satu kampung saudara kita di Agam, Sumatra Barat, pergi bersama-sama dipanggil Allah. Mereka sedang dalam suasanan berpesta, tanpa ada yang mengetahui atau mempunyai firasat akan terjadi bencana.
Hidup dan kematian adalah rahasia Allah, di mana pun kita berada selalu berbuat baik. Kita tidak pernah tahu kapan maut akan menjemput, dan apa yang akan terjadi dengan kita. Hidup adalah misteri, tetaplah menjadi baik dan selalu berbuat baik, agar kita mempunyai bekal dalam menghadap-Nya.
Dalam kehidupan sehari-hari tirulah atau jalinlah hubungan baik dengan orang yang baik pula. Pada masa yang penuh dengan cobaan, selayaknya kita tetap percaya bahwa hidup adalah roda yang berputar. Kalau saat ini kebetulan kita diberi amanah untuk mengelola sesuatu lakukan dengan niat tulus. Berbuat baik adalah karakter bukan profesi. Apalagi jika berbuat baik dilakukan hanya untuk kedok agar cepat naik pangkat dan mendapatkan keuntungan.
Kita menjadi orang baik saja, selalu ada cobaan dari mereka yang bodoh dan tidak tau bahwa yang dilakukannya adalah salah. Apalagi jika kita sengaja berbuat jahat kepada orang yang dulu pernah dekat dengan kita. Jika kita berbuat baik kepada orang tentu saja tidak pernah mengharapkan terima kasih, tetapi juga tidak pernah membayangkan akan dibalas dengan perbuatan jahat.
Sebagai atasan ada yang menekan bawahan agar turut serta dalam usaha memutuskan silaturahmi , menyebar fitnah, dan menjatuhkan seseorang. Semua dilakukan agar terlihat hebat dan mendapatkan nama. Tujuannya apalagi jika bukan untuk mendapatkan keuntungan material, menjaga agar tetap menjabat, bahkan mungkin naik pangkat.
Sebagai bawahan kalau memang itu yang akan membuat anda selamat dalam menjaga periuk nasi, apa boleh buat? Lakukanlah tetapi dengan kedaan terpaksa, bukan menjadi karakter. Selayaknya sebagai bawahan harus pintar juga melihat siapa yang harus diservis habis, jangan salah jilat. Jilatlah pemilik perusahaan, apalagi jika ia merangkap atasan kita. Jangan silau dengan jabatan atasan yang belagak pemilik perusahaan. Sebab, dia adalah karyawan juga. Kalau sekarang kelihatannya hebat, itu kebetulan saja, karena tidak ada pilihan. Tuhan tidak pernah tidur, Ia akan membalas dan memberikan ganjaran kepada kita sesuai dengan apa yang kita lakukan.
Sesungguhnya, berbuat baik adalah untuk keuntungan diri sendiri dan berbuat ajahat akan kembali kepada kita lagi.
Jika hubungan baik dianggap sebagai suatu ancaman, tidak heran dan dapat dimengerti jika ada yang berkeinginan me-remove nama seseorang dari list Facebook (mungkin saja sebentar lagi ada sweeping list dari teman FB). Juga tidak heran jika semua cerita akan disampaikan juga kepada penguasa palsu yang belagak owner. Fitnah dan cobaan adalah bagian dari perjalanan hidup seorang pemimpin. Bagi pemimpin tidak penting bagaimana nasibnya sendiri, yang penting adalah bagaimana nasib umatnya, karyawannya.
Semoga hanya sedikit dari kita yang meniru dan membangun karakternya seperti karakter para penjilat, para budak, dan penghianat. Rasanya baru kemarin sang penjilat selalu mencium tangan, berangkat bareng, setia setiap saat seperti rexona… Ah, tidak penting sekali rasanya meniru perilaku rendah seperti itu.
Pemimpin adalah pejuang di mana pun dan dalam situasi apa pun. The real pemimpin tidak pernah kalah dan selalu berhasil membangun pemimpin lainya. Kalaupun ada yang gagal itu pun kegagalan diri orang itu sendiri bukan kegagalan kita sebagai pemimpin.
Semoga dalam situasi yang penuh ketidakpastian dan bencana ini, kita dapat selalu saling menyayangi, menghormati, membantu satu sama lain, dan bersatu dalam kebaikan
Bencana yang sesungguhnya adalah menceburkan diri dalam keadaan celaka di mana kita berbuat baik, patuh, kerja keras, hormat sebagai profesi bukan sebagai karakter. Apalagi jika semuanya itu dipersembahkan bagi manusia.[iy]
* Iftida Yasar lahir pada 28 Maret 1962. Ia meraih gelar Sarjana Psikologi Pendidikan dan Sarjana Hukum di Universitas Padjajaran tahun 1980. Dan meraih gelar S-2 Psikologi di Universitas Indonesia tahun 1992. Iftida Yasar adalah seorang konsultan SDM, hubungan industrial, dan outsourching. Ia juga seorang entrepreneur, trainer, motivator, aktivis sosial bidang pengembangan SDM, Wakil Sekretaris Umum APINDO, dan Penasihat Asosiasi Bisnis Alih Daya Indonesia (ABADI). Iftida baru saja meluncurkan dua buku terbarunya yaitu Merancang Perjanjian Kerja Outsourcing (PPM, 2009) dan Perempuan Makan Perempuan (Kosmis, 2009). Ia dapat dihubungi di nomor: 0811896944 atau pos-el: iftidayasar[at]yahoo[dot]com.

October 7th, 2009 at 7:24 pm
Jadi kalau demikian, segala tindakan kita mestinya dalam kerangka ibadah ya Bu Iftida? Good article!
October 8th, 2009 at 1:34 pm
It’s mostly good person only as a cover for a particular purpose. Sometimes we are too often faced in that position, but if we have hearts that fear the Lord, and all these things we can not miss, even if we have to bear the risk of heavy enough. But we also have to have faith that God will give you the best in the future.
October 10th, 2009 at 11:52 pm
Jika kita berbuat baik kepada orang tentu saja tidak pernah mengharapkan terima kasih,….
Tks pembelajarannya Bu, Seperti kasih ibu pada anaknya, seperti Sang Surya menyinari dunia semua ikhlas diberikan tanpa mengharapkan balasan….
Iya Bu qt hrs selalu bersyukur pada Allah SWT yg selalu mengirim malaikat u/menjaga diri kita dan keluarga.
Anugrah dan musibah hanya Allah yg punya kuasa. Semoga Allah selalu menjauhkankan qt dari musibah dan memberikan anugrah Nya kepada umatnya yg tidak pernah berhenti menyebut nama NYA dan selalu dekat pada NYA.
Setiap hari jangan lupa kirimkan surat pada NYA (Allah), Surat Al Fatekhah.
October 13th, 2009 at 8:38 pm
terima kasih bu atas komentar dan saran doanya
October 13th, 2009 at 8:39 pm
terima kasih juga buat pak Agung dan pak Nixon