Belief System dan Peramal Masa Depan
Editor | Kolom Lepas | August 18th, 2009
Oleh: Berny Gomulya*
Bom yang terjadi pada hari Jumat, 17 Juli 2009 lalu di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton, Kuningan, Jakarta, membuat saya tak kuasa menahan hasrat untuk menuliskan artikel ini. Peristiwa itu tidak hanya menguncang Jakarta, tetapi juga mengagetkan dunia. Bagaimana tidak, kondisi aman yang telah dibangun dengan susah payah beberapa tahun belakangan ini, terkoyak dalam sekejap oleh perilaku segelintir orang yang tidak bertanggung jawab. Ada perasaan marah, sedih, bingung, emosi dan duka, berkecamuk menjadi satu. Tak pelak lagi, tim sepak bola papan atas, Manchester United (MU) pun membatalkan pertandingan persahabatan dengan all star Indonesia karena alasan keamanan. Sebuah alasan yang bisa dimaklumi.
Ketika peristiwa itu terjadi, saya berada di Singapura sedang mengadakan meeting dengan beberapa orang lokal di sana. Jujur, ada perasaan malu atas peristiwa bom yang berkali-kali menimpa bangsa Indonesia yang saya cintai ini. Sulit untuk menyembunyikan rasa kecewa atas kemalangan dan penderitaan yang bertubi-tubi menimpa Indonesia.
Ada satu pertanyaan yang kembali saya ajukan dalam hati pascaledakan bom itu. Pertanyaan sama yang saya ajukan beberapa tahun lalu ketika bom bunuh diri terjadi pertama kali di Bumi Pertiwi: ”Kok ada ya orang yang mau mati dengan bom bunuh diri? Kok ada manusia yang tega membunuh umat yang tidak bersalah? Kok ada individu yang bisa berbuat seperti itu?” Pertanyaan itu terus menggema jauh di relung hati, tanpa menemukan jawaban yang berarti.
Keesokan harinya, Sabtu, 18 Juli 2009, sekitar jam 11.30, saya menonton acara The Oprah Show di Metro TV tentang budaya negara Mauritania. Di negara itu, perempuan yang dianggap cantik adalah perempuan yang gemuk dan memiliki banyak selulit. Para pria Mauritania lebih tertarik dengan perempuan yang telah bercerai dari pada perempuan yang masih gadis. Makin sering seorang perempuan bercerai, makin gemuk, dan makin berselulit, maka dia makin diminati para pria Mauritania.
Mengherankan, bukan? Sebaliknya, para pria di sana diharapkan kurus. Makin kurus seorang pria, makin gantenglah dia di mata perempuan Mauritania. Mauritania adalah sebuah negara yang terletak di bagian barat laut Afrika. Pesisirnya menghadap ke Samudra Atlantik, di antara Sahara Barat di sebelah utara dan Senegal di selatan.
”Acara hari ini adalah acara yang paling mencerahkan bagi saya,” begitu kalimat penutup Oprah Winfrey sambil tertawa. Semua penonton pun ikut tertawa sembari berdiri memberikan tepuk tangan. ”Sebuah acara yang menarik,” gumam saya.
Acara di Metro TV itu pun memberikan pemahaman kepada saya tentang belief system. Orang-orang Mauritania mempunyai belief system yang berbeda dengan orang-orang pada umumnya. Itu sebabnya perilaku mereka berbeda. Serupa dengan orang-orang Mauritania, para teroris pun memiliki belief system yang berbeda dengan orang-orang pada umumnya. ”Itu sebabnya mereka tega membunuh orang-orang yang tidak bersalah,” bisik saya dalam hati, seperti menemukan sebuah jawaban.
Setiap manusia memiliki life script (skenario hidup) masing-masing. Sesungguhnya, Anda dan saya menjalani hidup ini berdasarkan life script itu. Dan, life script yang kita jalani selaras dengan belief system yang kita anut. Belief adalah sesuatu yang tertanam dalam diri kita. Tertanam sedikit demi sedikit untuk waktu yang cukup lama, biasanya sejak kita kanak-kanak. Berita baiknya adalah ketika kita lahir, kita tidak memiliki belief sama sekali. Belief adalah sesuatu yang bisa dipelajari. Karena belief adalah sesuatu yang bisa dipelajari, maka belief itu bisa diubah, diganti, atau dimodifikasi. Proses pembentukan belief hampir sama dengan proses instalasi program software komputer. Jika Anda bisa meng-install sebuah program, maka sebenarnya Anda pun bisa meng-uninstall program tersebut. Walaupun perlu diakui bahwa proses uninstall belief tidak semudah membalikkan tangan.
Dalam buku The Leader in YOU! saya menuliskan tentang The Law of Belief (Hukum Keyakinan). The Law of belief berkata: ”Apa pun yang Anda percayai dan yakini sepenuhnya, itu akan menjadi kenyataan.” Anda bertindak berdasarkan apa yang Anda percayai, dan yakini, terlepas apakah hal itu benar atau salah. Keyakinan Anda menentukan kenyataaan hidup Anda. You do not only believe what you see; you rather see what you already believe. Sebenarnya, Anda tidak hanya percaya pada apa yang Anda lihat, tetapi Anda juga melihat apa yang Anda percayai.
Anda dapat memiliki keyakinan positif, keyakinan yang membuat hidup Anda gembira, senang, bahagia dan optimis. Atau, Anda dapat memiliki keyakinan negatif, keyakinan yang membuat hidup Anda sedih, murung, susah, dan pesimis. Anda sulit memiliki hidup yang positif, sementara Anda menyakini hal negatif. Keyakinan mempunyai kuasa dan pengaruh yang luar biasa dalam kehidupan.
Perhatikan! Memang, Anda tidak selalu mendapatkan apa yang layak Anda terima dalam kehidupan, tetapi Anda biasanya mendapatkan tidak lebih dari apa yang Anda yakini. Anda menerima apa yang Anda yakini. Prinsip ini bekerja dalam hal negatif sekuat dalam hal positif. Keyakinan Anda, baik itu positif ataupun negatif, bekerja sama kuatnya untuk menjadi kenyataan dalam hidup Anda.
Oleh sebab itu, berhati-hatilah dengan belief Anda! Seperti yang pernah dikatakan oleh Mahatma Gandhi, “Your beliefs become your thoughts. Your thoughts become your words. Your words become your actions. Your actions become your habits. Your habits become your values. Your values become your destiny.”
Para teroris itu sudah menentukan nasib mereka berdasarkan belief mereka. Orang-orang di Mauritania menjalani hidup selaras dengan belief mereka. Saya pun bertanya dalam hati: “Bagaimana dengan saya? Bagaimanakah saya menjalani hidup ini? Belief apa yang sedang saya yakini saat ini? Apakah belief kesuksesan, kecemerlangan, senang, ceria, gembira, sukacita, dan bahagia atau… belief kegagalan, keterpurukan, duka cita, kesusahan, iri, dengki, sakit hati, dan balas dendam?”
Bagaimana dengan Anda? Ingat! Belief Anda adalah peramal masa depan Anda. May God bless Indonesia. Have a great day, my friends. Thank you. Cheers.[bg]
* Berny Gomulya adalah seorang trainer, konsultan, auditor, penulis, dan pembicara seminar dalam bidang leadership, strategy, dan operations. Sarjana elektro dan pemegang gelar magister manajemen dari Universitas Indonesia ini pernah menjabat sebagai country director untuk Indonesia di sebuah perusahaan Singapura. Berny adalah penulis buku The Leader in You! (Gramedia, 2009) dan dapat dihubungi telepon 0818-0800-7750 atau melalui pos-el: bernygomulya[at]yahoo[dot]com.

August 24th, 2009 at 2:22 pm
Berny, ada orang yang hidup dengan ‘belief’ yang ntah bagaimana caranya dia yakini sebagai kebenaran. Padahal belum tentu benar. Tapi toh benar tidaknya terlahir dari sudut pandang si org itu sendiri.
So, biarpun sudah diinstal berkali-kali dengan program ‘belief’ baru, tetap saja hasilnya, jika ybs masih bertahan dengan ‘belief’ lamanya.
Bahkan sampai pada kesimpulan : “Yg bisa merubah adalah dirinya sendiri”
What do you think ?