Belajar Tanpa Sekolah

ytOleh: Yusuf Tantowi*

Bak tersambar petir, Pak Mahfud (40) teresentak dan kaget. Buku pelajaran  geografi yang dipegangnya, ia letakkan perlahan di atas meja. Ia tidak pernah menyangka, anaknya meminta permintaan ‘gila’ kepadanya. Permintaan itu seolah menusuk telinganya dari samping. M. Izza Ahsin Sidqi (15), putra sulungnya yang sedang duduk dibangku kelas 2 SMPN 1 Salatiga, minta berhenti sekolah.

Mendengar itu tentu saja Mahfud dan istrinya Siti Badriyatul Ahyani yang juga guru TK menjadi shock. Apa lagi kenekatan Izza diikuti oleh adeknya Atida Nuril Salma yang berusia 11 tahun. Untuk meyakinkan kedua orang tuanya agar diizinkan berhenti sekolah, Izza butuh waktu delapan bulan lamanya.

Kenekatan anak guru teladan di Kabupaten Salatiga itu tentu bukan tanpa alasan. Bagi Izza dan adiknya, sekolah sangat membosankan dan mengekang kebebasannya. “Saya minta keluar sekolah karena memang tidak menyukai sekolah,” akunya enteng ketika ditanya wartawan Jawa Pos di rumahnya. Ia mengaku sakit hati karena pikirannya terbelenggu dan tidak bisa berkembang seperti keinginannya untuk mengkepresikan pikiran saat berada di bangku sekolah.

Itulah yang menjadi alasannya memilih belajar secara autodidak. Ia optimis keputusannya itu bisa membuatnya belajar lebih efektif. “Saya tidak butuh ijazah karena saya bercita-cita menjadi penulis. Penulis kan tidak butuh ijazah karena yang dibutuhkan kemampuan,” katanya. Bila dilihat dari usianya yang relatif muda, alasannya itu sangat mengagetkan. Ia berani ‘menentang’ orang tuannya dan arus umum yang mengagungkan lembaga sekolah sebagai satu-satunya jalan meraih kesuksesan hidup.

Kukuhnya Izza mempertahankan argumentasi itu dibuktikannya dengan menulis dua buah buku Green Word, cerita pertualangan setebal 300 halaman. Lalu, yang terbaru Dunia Tanpa Sekolah yang telah laku terjual sebanyak 1.000 copy. Setelah itu, baru orang tuanya percaya ternyata pembelaan anaknya bukan sebatas retorika, tapi dilanjutkan dengan pembuktian.

Makna Belajar

Kenekatan Izza di atas bisa menjadi otokritik tajam bagi lembaga sekolah. ‘Kegilaan’ Izza ini jangan dianggap enteng oleh para pengelola sekolah. Jangan-jangan masih banyak lagi Izza-Izza lain yang sebenarnya diam-diam ‘memberontak’ dengan sistem pembelajaran yang diterapkan di sekolah. Bisa jadi mereka belum muncul karena mareka masih mengumpulkan ‘modal’ keberanian untuk melawan sistem sekolah yang mereka anggap tidak nyaman bagi mereka.

Otokritik ini juga ditujukan kepada orang tua agar tidak menganggap lembaga sekolah sebagai satu-satunya tangga ajaib untuk menggapai kesuksesan. Mindset berpikir orang tua sudah saatnya diubah agar tidak ceroboh memvonis anaknya pemalas, nakal, dan bodoh. Mungkin dia malas karena merasa tidak nyaman belajar, diintimidasi oleh gurunya, atau dijahilin terus oleh temannya. Belakangan ini banyak kasus pelajar ‘meledak’ ke publik terkait kasus seperti ini.

Jangan sampai pengertian belajar yang dipahami orang tua, guru disekolah dipaksakan kepada anak didiknya tanpa koreksi. Keinginan orang tua agar anak-anaknya menjadi pribadi sukses memang sangat mulia. Namun, harus dipahami pembacaan dan pemaknaan generasi sekarang tentang sukses berbeda dengan generasi sebelumnya. Orang tua memang memiliki modal yang bernama pengalaman, tapi kesibukannya mencari nafkah dapat menyita pikirannya sehingga tidak fokus mencermati tumbuh kembang pemikiran anaknya.

Bagi saya, keputusan Izza dan adiknya merupakan keputusan berani dan nakal. Berani karena ia memiliki argumentasi kuat yang tidak mudah dipatahkan oleh orang tuanya sekalipun. Keberanian yang disertai tekat yang kuat berhasil dibuktikan dengan karya nyata. Nakal karena berani melawan arus umum–di mana semua orang mengagungkan dan mendewakan sekolah sebagai satu-satunya tangga mengapai kesuksesan. Dalam kehidupan sehari-hari banyak kita temukan orang sukses tidak melalui jalur pendidikan formal.

Keberanian Izza menginterpretasikan makna belajar berdasarkan hasil bacaan, nalar, dan pengalamannya sendiri patut diapresiasi. Keberaniannya itu telah mengusik pengertian belajar banyak orang, bahkan orang tua dan gurunyanya di sekolah. Belajar baginya bisa di mana saja, tidak mesti di sekolah. Ia ingin mengatakan, alam justru telah menyediakan bahan ajar yang berlimpah untuk didalami. “Belajar disekolah yang mengajarkan banyak mata pelajaran ibarat menimba air dari dalam sumur dengan susah payah, lalu mengguyurnya kembali ke tempat semula,” kata Izza berfalsafah.

Kenekatan Izza patut ‘disesali’ karena anak secerdas dia–di mana sejak SD selalu mendapat juara di kelas–nekat ‘memotong’ masa depannya. Bagi kita mungkin keputusan itu patut disesali, apa lagi Izza berhasil masuk di SMP 1 Salatiga yang notabene-nya salah satu sekolah favorit di daerahnya. Ia anak langka yang tetap kukuh dan berani menentukan takdirnya sendiri sebagai penulis. Apa lagi di tengah masyarakat bangsa yang memandang sebelah mata masa depan sebagai penulis.

Kecendrungan anak-anak sekarang lebih berani untuk mencoba. Suka mencari hal-hal baru. Dan, dengan caranya sendiri berupaya membuang segala macam kejenuhan dan kebosanan. Lalu, kebosanan belajar jangan hanya dimaknai dorongan yang datang dari dalam diri anak. Kebosanan juga berasal dari lingkungan sekitar yang bisa ‘membunuh’ semangat belajar anak. Di sinilah sekali lagi pentingnya orang tua atau guru mencitakan suasana belajar yang menyenangkan.

Umumnya ‘penyakit’ seorang anak sering kali benci pelajaran bukan benci belajar. Pelajaran adalah objek yang diajarkan, sedangkan belajar proses mendapatkan ilmu pengetahuan. Karena benci pelajaran, ia juga benci guru yang mengajar. Di sini letaknya, namun alangkah tidak tepat jika guru juga ikut-ikutan membenci anak didiknya tanpa terlebih dahulu mengetahui sebab kenapa si anak benci pelajaran. Mungkin saja ada sebab-sebab lain sehingga dia tidak konsentrasi menerima pelajaran.

Saya khawatir, rendahnya prestasi belajar siswa juga buah dari ‘sesat’-nya makna belajar yang kita pahami. Jangan-jangan gaya mengajar yang dipakai selama ini telah membunuh benih-benih kreatif siswa. Akibatnya, keberanian yang coba ditumbuhkan kepada siswa bukan keberanian positif, tapi keberanian destruktif. Buahnya yang muncul bukan kebanggaan tapi tawuran dan lain sebagainya.

Sekolah yang baik mau membebaskan anak bebas menjadi diri mereka sendiri. Karena, setiap anak sebenarnya memiliki sifat bawaan bijaksana dan realistis kata A.S Neill, pendiri dan kepala sekolah Summerhill School, Jerman dan Inggris. Pada sekolah ini, siswa dibebaskan untuk belajar atau tidak. Siswa juga dilibatkan mengikuti rapat dengan guru untuk menentukan aturan yang akan diberlakukan dalam sekolah. Ketika rapat, suara guru sama dengan suara siswa bahkan kepala sekolah. Meski menganut sistem bebas, sekolah justru berhasil menyemai anak didik yang berhasil dikemudian hari. Di sini nilai-nilai demokrasi sangat dijunjung tinggi.

Dalam buku Summerhill School, Pendidikan Alternatif yang Membebaskan, A.S Neill menegaskan, tugas anak adalah melakoni hidup dengan kehidupannya sendiri bukan kehidupan orang tuanya. Bukan pula kehidupan yang sesuai dengan tujuan ahli pendidikan yang merasa paling tahu apa yang terbaik bagi anak. Semua campur tangan orang dewasa ini hanya akan menghasilkan generasi robot. Jadi, belajar bisa di mana saja, asalkan kita masih bisa bernapas. Maka, sudah saatnya  kita membaca ulang makna belajar dan makna sekolah yang selama ini kita pahami. Benarkah demikian, bagaimana pendapat Anda?[yt]

* Yusuf Tantowi, tinggal dan bekerja di NGO yang bergerak dalam bidang kajian dan advokasi isu-isu kemanusiaan di NTB. Sejak menjadi mahasiswa ia sudah aktif menulis di media massa lokal dan sering diminta memfasilitasi berbagai pelatihan menulis untuk mahasiswa. Bekerjasama dengan LSM di Jakarta dalam program-program pemberdayaan dan riset di daerah. Ia dapat dihubungi melalui Hp: 08175732513, pos-el: ucup_ntb[at]yahoo[dot]co[id].

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.1/10 (16 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +6 (from 6 votes)

7 Responses to “Belajar Tanpa Sekolah”

  1. Puspita W Says:

    Belajar bisa dimana saja. Anak-anak butuh ditemani untuk memerdekakan potensinya. Orang tua tinggal memfasilitasi.

    Saya baru tahu kasus Izza. Kebetulan saya seorang guru, jadi saya juga perlu belajar pada anak-anak seperti Izza, untuk sedikit meningkatkan pelayanan mengajar di sekolah.

    Terima kasih ilmunya.

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  2. hairul Says:

    semua orang adalah guruku, alam adalah sekolahku..

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: +1 (from 1 vote)
  3. sirtu Says:

    ka ucuuup, kapan wisudanya. ? apa ka ucup akan memilih jalan hidup seperti izza dan nuril ?

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  4. Agus Handoko Says:

    Ijazah itu penting,tapi yang jauh lebih penting adalah ilmunya…kadang ini yang sering dilupakan…

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: +1 (from 1 vote)
  5. azwar Says:

    anak saya sekarang sama dengan adik izza, yang kelas 3 SMP setelah selesai UNAS 2011 nanti akan menjalani masa deschooling. adiknya yang kelas 4 SD sudah off dari sekolah… sang kakak tentunya mengikuti langkah adiknya… kenapa demikian??? benar Sekolah hari ini tidak membuat anak kita menjadi pintar, karena banyak hal yg tidak pernah dipelajari anak disekolah

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: +1 (from 1 vote)
  6. parlina wi Says:

    sy uda baca bukunya… tantangan tersendiri bagi guru dan mahasiswa calon guru untuk membuat sekolah layak menyandang nama “lembaga pendidikan’..

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  7. handoko bayu kelana Says:

    yah ..
    smua jg tau gimana pada kebanyakan sekolah menerapkan cara didik yg kurang memikat pada pelajar.
    hingga banyak pelajar yg kurang nyaman di sekolah.
    pa lagi banyak yg tak adil bagi orang-orang kurang mampu.

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: +1 (from 1 vote)

Leave a Reply

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox