Belajar dengan Mengajar

vtOleh: Vina Tan*

Ada peribahasa yang mengatakan, “Kita belajar dengan mengajar. Karena dengan belajar kita akan mengajar, dan dengan mengajar kita akan belajar.” Setujukah Anda dengan peribahasa ini? Kalau tidak, apa pendapat Anda? Menurut hemat saya, kata-kata indah nan penuh arti ini akan lebih mudah dipahami dan diresapi jika kita terlibat dalam kegiatan belajar-mengajar tersebut.

Anak saya, Eric, yang saat ini duduk di kelas dua belas atau kelas tiga Sekolah Menengah Atas sangat suka mengajar. Menurut wali kelas, Eric sering minta izin untuk memakai ruangan kelas pada jam istirahat. Tujuannya adalah memberikan pelajaran tambahan Matematika, Fisika, dan Kimia untuk membantu teman-teman yang ingin meningkatkan nilai pelajaran-pelajaran tersebut. Minatnya yang besar untuk mengajar mulai terlihat sejak duduk di kelas tujuh. Dan, Eric memulai debut amatirnya menjadi guru dengan mengundang beberapa teman untuk belajar ke rumah.

Sejak itu, rumah saya pun ramai dikunjungi apalagi ketika musim ulangan atau ujian sekolah tiba. Sungguh menyenangkan! Keuntungan lain yang didapatkan adalah saya lebih mengenal teman-teman Eric yang sering datang ke rumah. Saya juga banyak mendapatkan informasi penting tentang perkembangan, tingkah laku, dan sikap mental remaja masa kini.

Suatu hari, terdorong oleh rasa penasaran, saya bertanya kepada Eric tentang waktu belajar untuk dirinya sendiri. Apakah kesibukanmu membantu teman-teman tidak akan membawa dampak buruk bagi nilai rapormu nanti?”

Jawaban Eric sungguh di luar dugaan saya, “Ma, saya harus belajar dulu, dong, sebelum mengajar teman-teman. Sebenarnya, secara tidak langsung sambil mengajar saya pun belajar lagi.”

Sungguh bijaksana! Dari mana Eric mendapatkan filosofi hidup ini serta mampu mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari? Saya sangat bersyukur karena Tuhan yang baik hati telah memberikan karunia istimewa untuk Eric.

Sebagai orang tua, kita harus peka dengan bakat dan minat yang dimiliki anak kita. Sejak kecil Eric suka mengajak saya bermain sekolah-sekolahan. Eric yang menjadi guru dan saya sebagai muridnya. Eric juga minta dibelikan trombolin agar dapat meniru salah satu gaya gurunya ketika sedang mengajar di kelas. Seorang ibu pasti akan melakukan apa saja demi kebahagiaan anak-anaknya, bukan? Ketika Eric menanyakan soal-soal yang harus saya jawab sebagai murid, sekali-kali saya bersikap seolah-olah saya tidak mengerti dan menantangnya untuk menerangkan soal tersebut agar saya dapat mengerti.

Di samping itu, saya juga membimbing dan mengarahkannya agar tidak pelit ilmu. Karena, hanya dengan memberi kita akan menerima. Jika kita mau mengajarkan ilmu yang kita miliki kepada orang lain, maka pengetahuan kita pun akan terus bertambah. Hal penting lainnya yang ikut saya tanamkan adalah mengajarkan ‘cara belajar’ agar kelak anak-anak memiliki ‘kemampuan belajar sendiri’, sehingga tidak selalu harus tergantung orang lain.

Tidak disangka, cikal bakal yang tertanam sejak dini itu akhirnya berkembang dan terus terasah ketika Eric menjadi guru bagi teman-temannya. Semua ini dilakukan dengan sepenuh hati dan tanpa pamrih.

Konsekuensinya, cukup banyak sikap mental positif  yang telah tertanam dalam diri Eric karena mempraktikkan filosofi ‘belajar dengan mengajar’ ini selama bertahun-tahun, misalnya:

  1. Mandiri dalam belajar.
  2. Semangat belajar yang tinggi.
  3. Rajin dan disiplin dalam belajar.
  4. Menjadi proaktif.
  5. Aktif bertanya kepada guru.
  6. Nilai-nilai pelajaran menjadi bagus dan stabil.
  7. Lebih mudah bergaul dan menyesuaikan diri dengan banyak orang.

Kini, tugas saya sebagai orang tua menjadi jauh lebih ringan. Tidak lama lagi, Eric akan kuliah di salah satu universitas negeri yang cukup terkenal di negeri ini. Saya pernah mengingatkan Eric bahwa menjadi sarjana adalah penting, tetapi bukan segala-galanya. Menguasai dan mempraktikkan ‘ilmu-ilmu tentang kehidupan’ adalah jauh lebih penting. Saya cukup bangga ketika melihat Eric tetap mau berbagi ilmu dengan beberapa temannya yang masih harus berjuang untuk ikut tes seleksi masuk universitas.

Satu hal penting yang ingin saya sampaikan di sini adalah apa yang kita tanamkan pada anak-anak sejak usian dini, akan kita petik bertahun-tahun kemudian. Dengan kata lain, kita menuai apa yang telah ditanam. Bertahun-tahun mengamati dan mengikuti perkembangan banyak anak dari kecil hingga remaja ikut memperkaya wawasan dan menambah bobot pengetahuan parenting yang saya miliki.

Saat ini, saya pun telah mengikuti jejak Eric dengan mengajarkan kembali pengetahuan dan pengalaman parenting yang saya miliki kepada banyak orang tua melalui seminar-seminar. Percayalah, belajar dengan mengajar adalah salah satu cara terbaik untuk menjadi pribadi yang lebih dewasa dan matang. Jadi, jangan pernah berhenti belajar. Karena, dengan belajar kita akan mengajar, dan dengan mengajar kita akan belajar.[vt]

* Vina Tan lahir di Sibolga. Selain menjadi ibu rumah tangga, ia juga berprofesi sebagai konsultan dan pembicara. Vina dapat dihubungi di vina.coach[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.4/10 (5 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

3 Responses to “Belajar dengan Mengajar”

  1. Hanna Fransisca Says:

    Hmm… Saya setuju banget. Banyak orang pelit ilmu karena takut tersaingi, apalagi dalam dunia wirausaha. Padahal ketika kita membagi ilmu kepada orang lain, saat itu jugalah kita mengingat kembali apa yang pernah kita pelajari atau ketahui.

    Saya salut dengan Eric. Remaja berpotensi. Luar biasa.

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  2. Vina Tan Says:

    Terima kasih atas komentarnya, Mbak Hanna.
    Ketika saya masih duduk di bangku SMP, seorang guru pernah berkata bahwa kita tidak boleh pelit ilmu. Dengan memberikan ilmu kita kepada orang lain, kita akan menjadi orang yang lebih pintar lagi. Kata-kata guru tersebut selalu saya ingat dan praktekkan dalam kehidupan sehari-hari serta saya ‘wariskan’ kepada anak-anak.
    Salam,
    Vina

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  3. Puspita Says:

    Salam kenal ibu Vina.

    Ibu Vina sangat beruntung sekali memiliki anak sebaik Eric.

    Saya punya anak tidak sehebat Eric namun dia juga memiliki semangat berbagi. Saya sangat bangga padanya. Prinsip hidupnya hanya ingin menjadi orang yang bernilai. Kebetulan saya juga seorang guru.

    Terima kasih sharingnya. Semoga ibu selalu bahagia.

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a Reply

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox