Belajar dari Begawan Entrepreneur

ambOleh: Abdul Muid Badrun*

Alkisah, ada dua orang profesor yang sedang berdebat panjang lebar tentang ilmu mereka. Satu sama lain berusaha mengungguli dan menjadi pemenang dalam dalam debat tersebut. Salah satu profesor menyatakan, Saya sudah tahu banyak hal dalam hidup ini, sudah membaca sekian banyak teori dan buku. Jadi saya tahu semuanya.” Profesor yang satunya juga tidak mau kalah dan menyatakan hal yang sama. Salah satu profesor tadi tinggalnya di seberang sungai. Seperti biasa ketika mau pulang, profesor tadi selalu minta bantuan si tukang perahu.

Ketika mau naik perahu, profesor tadi dengan sombong bilang ke tukang perahu, “Coba tanya apa saja pasti aku akan jawab karena saya tahu semuanya…!”

Namanya juga tukang kayu bodoh yang tidak berpendidikan dan tidak punya pengetahuan, ia asal saja bertanya, “Profesor tahu tentang ilmu berenang?”

Wow, tahu dong! jawab sang profesor dengan sombong dan menerangkan banyak hal tentang bagaimana ilmu berenang. Sepertinya, semua teori berenang yang ia kuasai sudah disampaikan ke si tukang perahu.

Nah, ketika sang profesor sedang menjelaskan semuanya, tiba-tiba angin dan badai datang yang mengakibatkan perahu yang ditumpanginya terbalik ke sungai. Ternyata, si profesor itu kelelep dan megap-megap di sungai serta minta tolong sama si tukang perahu yang dianggap bodoh tersebut. Akhirnya, si tukang perahu menolong sang profesor yang tidak bisa berenang. Padahal, sebelumnya sudah menerangkan ilmu berenang secara detail.

Ilustrasi cerita di atas menggambarkan dengan jelas betapa antara TAHU dan BISA sangat jelas perbedaannya. Hal ini dijelaskan secara gamblang oleh Bob Sadino dalam buku yang ditulis Edy Zaqeus dengan judul Bob Sadino: Mereka Bilang Saya Gila! (Kintamani, 2009).

Sekilas, membaca buku ini terasa banget aroma Bob Sadino yang selama ini kita kenal sebagai entrepreneur nyentrik. Ciri khas itu selalu ditampilkan dengan celana pendek jinsnya yang selalu dipakai ke mana saja Bob beraktivitas dan menemui tamu-tamunya. Tak jarang hal ini memunculkan keheranan dari banyak orang yang melihatnya. Hal itu bisa dilihat di lampiran buku ini (hal. 178-199).

Buku yang diangkat secara apik oleh Edy Zaqeus ini, benar-benar menceritakan sosok Bob Sadino sebagai seorang entrepreneur sejati. Bahkan, saya menyebutnya Bob adalah tokoh begawan entrepreneur Indonesia. Jiwa entrepreneurship Bob sudah mulai tampak ketika Bob lulus SMA tahun 1953 (umur 20 tahun). Saat itu, Bob merasa gelisah karena kerja di tempat orang lain (Unilever dan Djakarta Llyod) yang membuatnya tidak merasakan kebebasan yang sebenarnya.

Pertentangan batin ini membuat Bob Sadino muda memutuskan keluar dari perusahaannya dan keluar dari zona kenyamanan hidup yang ia miliki saat itu. Tahun 1967 (umur 34 tahun), Bob memulai hidupnya dari nol lagi. Yang mengherankan, saat itu Bob muda memilih untuk memiskinkan diri” karena menurutnya selama ini ia merasa hidupnya serba kecukupan. Makanya, ia ingin merasakan bagaimana rasanya jadi orang miskin! Sungguh sebuah revolusi mental yang luar biasa yang tidak dimiliki anak muda sekarang.

Dengan pilihan miskin ini, Bob seperti diberikan pelajaran yang berharga. Sampai akhirnya Bob menemukan hidupnya kembali ketika ia mulai berbisnis telur ayam negeri. Dari sinilah kesuksesan bisnis Bob Sadino dimulai. Yang menarik dan bisa jadi pelajaran kita semua adalah ketahanan mental (persistent factor) Bob Sadino yang membawanya sampai ke puncak bisnis seperti saat ini. Inilah yang belum banyak dimiliki oleh pebisnis pemula di Indonesia. Gagal adalah kesuksesan yang tertunda, jika kita punya ketahanan mental yang kuat.

Buku yang tediri dari 11 bab dan 201 halaman (plus 14 halaman pembuka) ini, sarat akan pikiran dan kisah hidup Bob Sadino. Namun, jika kita memerasnya, ada satu saripati yang bisa kita nikmati sama-sama yaitu Roda Bob Sadino (RBS), saya lebih suka menyebutnya The Entrepreneur Quadrant ala Bob Sadino. Di dalam RBS ini dijelaskan perbedaan antara orang TAHU, BISA, TERAMPIL, dan AHLI. Semuanya bisa dibaca di halaman 13-31. Ilustrasi di awal tulisan ini menjelaskan betapa belajar ilmu TAHU tidak cukup jika tidak belajar ilmu BISA. Perguruan Tinggi (PT) Indonesia menurut Bob adalah pabrik ilmu tahu dan bukan ilmu bisa. Akibatnya, PT gagal menjawab masalah pengangguran di Indonesia. Karena, lulusan yang dihasilkannya tidak mampu memenuhi kebutuhan pasar.

Oleh karena itu, hadirnya buku ini semakin menyakinkan kita semua bahwa pilihan hidup menjadi entrepreneur adalah pilihan tepat untuk mengurangi pengangguran dan kemiskinan di Indonesia. Kita harus menyakini pilihan ini. Ingat petuah bijak what you get is what you believe”, yang artinya; jika Anda yakin maka Anda akan mendapatkan apa pun yang Anda inginkan.

Figur Bob Sadino yang ditulis dalam buku ini menjadi motivasi dan penyemangat hidup. Apa pun kegagalan yang kita alami harus kita lalui dengan baik. Saya sangat terinspirasi dengan pesan Bob Sadino dalam salah satu kesempatan di Jakarta, “Cukup satu langkah awal, ada kerikil saya singkirkan. Melangkah lagi. Bertemu duri saya sibakkan. Melangkah lagi. Terhadang lubang saya saya lompati. Melangkah lagi. Bertemu api saya mundur. Melangkah lagi. Maju dan berjalan terus mengatasi masalah.” Bagaimana menurut Anda?[amb]

* Abdul Muid Badrun adalah alumnus FE UGM, Motivator, Entrepreneur, tinggal di Yogyakarta. Alamat: Jl. Wahid Hasyim 108, Dabag CC Depok Sleman, Yogyakarta, Hp. 0811 335 362, E-Mail: abdulmuidbadrun[at]yahoo[dot]com.

bkbobgilaDATA BUKU

Judul Buku: Bob Sadino: Mereka Bilang Saya Gila!

Penulis: Edy Zaqeus

Penerbit: Kintamani Publishing, Bekasi

Cetakan: Pertama, Januari 2009

Tebal Buku: xiv + 201 halaman

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (5 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a Reply

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox