Bekerja Tidak Sesuai Gelar, Emang ‘Napa?
Editor | Kolom Tetap | August 11th, 2009
Oleh: Anang Y.B.*
Sadarkah Anda bahwa bumi ini disesaki oleh orang berpendidikan namun terlantar? Bila tidak percaya, tengoklah acara-acara job fair yang banyak digelar di berbagai sudut kota. Ribuan orang mengantri membentuk deretan mengular sambil mengempit map berisi bukti bahwa mereka adalah kaum berpendidikan. Mungkin, Anda pernah menjadi bagian dari mereka. Ya, itulah nasib lulusan kita. Sepuluh orang lulus, lowongan hanya tersedia dua, dan sayangnya hanya satu lowongan yang terisi karena tak ada orang lain yang punya kemampuan untuk mengisinya. Tragis? Memang iya!
Bersyukurlah bila Anda sukses meniti karier yang sejalan dengan gelar yang melekat di dada Anda. Sarjana kehutanan bekerja di sektor kehutanan, sarjana akuntansi berkecimpung di sektor keuangan, sarjana pendidikan mantap sebagai pendidik. Hem… betapa idealnya bila semua orang bisa seperti itu. Sayangnya, yang mulus-mulus saja seperti itu cuma ada di dongeng atau acara mimbar agama di televisi saja. Di kehidupan nyata, terlalu banyak contoh pemilik gelar mencari nafkah tidak dengan mengamalkan textbooks yang dia terima selama menuntut ilmu. Salahkah? Tentu tidak. Dan bila Anda satu di antaranya, Anda saya hibur dengan kalimat: Tidak usah gusar!
Ya, Anda tidak usah sedih karena Anda tidak sendiri. Pernah ke Solo? Sekali waktu mampirlah di trotoar di sepanjang kota Solo Baru. Bila Anda jeli, Anda akan menemukan warung makan lesehan yang selalu ramai. Saking ramainya, Anda mungkin hanya kebagian tempat duduk berupa tikar tanpa meja. Pengunjung akan semakin membludak bila akhir pekan datang. Selain muda-mudi yang sengaja nongkrong di sana secara berpasangan, tempat makan itu juga selalu disesaki oleh rombongan, entah keluarga maupun pelancong. Dan, rata-rata mereka adalah pembeli setia yang selalu ketagihan untuk datang dan datang lagi.
Padahal apa sih istimewanya tempat itu? Karena murah? Memang iya sih, tetapi bukankah masih banyak tempat makan lain yang sama murahnya di sepanjang kota Solo? Karena masakannya khas? Ah, tidak juga. Entahlah, saya juga tidak tahu persis. Mungkin kombinasi antara harga murah, makanan yang bervariasi, suasana lesehan yang nyaman serta keramahan dari pemilik warung yang membuat tempat itu tak pernah sepi.
Bagi saya, satu hal yang membuat unik adalah gelar akademis yang disandang pasangan suami istri pemilik warung itu. Yang laki-laki adalah sarjana hukum, dan yang perempuan kalau tidak salah adalah wisudawati dari akademi sekretaris. Dan… kini mereka dengan bangga membuka warung lesehan.
Saya tidak tahu bagaimana perjuangan pasangan ini dalam meyakinkan kedua orang tua mereka yang notabene sudah punya impian dan gambaran mengenai profesi yang bakal disandang anaknya selepas toga dilepas. Menjadi penasihat hukum, mungkin. Atau, meniti karier di kejaksaan. Atau, entah profesi yang membanggakan lainnya. Pun halnya dengan pihak perempuan yang menamatkan akademi skretaris. Mungkin ibunya sudah terbayang-bayang memasuki kantor anaknya yang adem dan penuh aroma wangi yang merebak dari sela-sela balutan seragam sekretaris yang menawan.
Dalam ukuran bergengsi dan tidak bergengsi, tentu pilihan menjadi pemilik warung lesehan pastilah berada dalam tingkatan paling buncit. Mana bisa keanggunan profesi sekretaris disepadankan dengan pengaduk wedang jahe? Mana bisa kegagahan seorang penasihat hukum disandingkan dengan profesi pemilik warung lesehan yang musti membongkar pasang tenda dan mengelar tikar setiap kali hendak mengumpulkan duit?
Hidup adalah pilihan, dan sering kali penonton hanya bisa bersorak dari luar gelanggang. Mencemooh saah kita salah pilih, dan memalingkan muka saat kita menggenggam sukses. Anda mungkin bisa bersikukuh meniti karier sesuai gelar Anda. Bulan ini Anda mungkin bisa berujar, lowongan memang belum ada jadi saya semestinya sabar. Setengah tahun kemudian mungkin Anda bakal berujar lagi, nasib manusia hanya Tuhan yang bisa menentukan, yang penting tabah dan terus beriktiar. Dan, bila setahun Anda masih juga tak berpenghasilan berdasarkan gelar Anda, mungkin Anda akan kembali mengulang nyanyian penghibur diri seperti yang Anda lantunkan sebelumnya. Banyak dari kita yang sepasrah ini. Namun—seperti contoh pemilik warung lesehan tadi—banyak juga yang tetap bersemangat dan lebih realistis.
Bekerja di ladang yang tidak sesuai dengan gelar pendidikan bukan berarti Anda telah murtad dan berkhianat. Ketika isu bekerja tidak sesuai gelar ini saya lempar dalam diskusi di Facebook, banyak pendapat yang muncul. Rata-rata mereka mengangap hal ini sebagai kewajaran, bukan sesuatu yang tabu untuk dilakoni. Mengapa musti malu? Siapa tahu kita memang salah jalan saat memilih jurusan di kampus! Kata salah seorang pemberi komentar. Benar juga.
Yang lain berpendapat, menuntut ilmu di kampus tidak melulu untuk meraih kerja. Banyak orang memanfaatkan kampus untuk membangun jaringan pertemanan dan koneksi yang lebih kuat. Banyak juga yang menjadikan kampus sebagai wadah untuk menempa kemampuan manajerial dan berorganisasi. Jadi, biarpun profesi yang ditekuni sekarang tidak paralel dengan gelar yang terpampang di foto wisuda, bukan berarti Anda telah salah jalan. Anda telah mendapat manfaat berupa kemampuan intelektual. Jadi, tidak ada yang sia-sia. Begitulah komentar yang lain lagi.
Dan, seperti pasangan pedagang lesehan di Solo Baru yang terlihat rukun dan adem ayem, Anda pun bisa menepis kegundahan Anda bila saat ini profesi Anda jauh dari gelar yang melekat pada nama Anda. Sebaliknya, bila Anda saat ini belum juga bekerja dan masih menunggu ada surat panggilan kerja sesuai profesi yang Anda dan orang tua Anda idam-idamkan, cobalah realistis. Menunggu sambil memperpanjang masa menganggur Anda barang satu dua tahun lagi menurut saya sungguh tidak realistis. Ingat, hakikat manusia adalah sebagai makhluk pekerja. Terlalu lama menganggur pastilah merupakan pengingkaran atas hakikat itu. Dalam bahasa kasar, menganggur adalah proses pembusukan dari nilai kemanusiaan Anda.
Bila membuka warung lesehan memberi penghasilan yang jauh lebih yummy dibandingkan menjadi sekretaris yang duitnya hanya pas untuk membeli bedak dan pulsa, mengapa kita mesti ragu untuk menjalani? Bila dari deretan pelanggan di warung bisa memberi penghasilan bersih setiap hari hingga tiga ratus ribu, mengapa mesti berharap-harap menjadi pegawai kejaksaan yang bahkan untuk menabung tiga puluh ribu sebulan saja belum tentu bisa?
Senyum dan keridaan pasangan penjual warung lesehan saat menghitung untung selepas warung tutup mungkin bisa memotivasi Anda untuk segera bangkit dari mimpi tanpa ujung. Keuntungan dari warung lesehan diputar untuk membuka kebun anturium. Keuntungan dari kebun anturium diputar lagi untuk kulakan beras kualitas super dari Klaten. Dan ujung-ujungnya, hanya yang beriktiar yang dapat menjadi manusia sesuai hakikatnya!
Terlalu lama terlela dalam tidur panjang menanti pekerjaan yang sebungkus dengan gelar bukan zamannya lagi. Tiap tahun ribuan orang menambah panjang saingain Anda di dunia kerja. Jadi, pastikan Anda tidak menghabiskan umur dengan mimpi kerja sambil bertoga. Bila saya kerja di tempat yang tidak sesuai gelar, emang ‘napa? Yang penting bisa kaya dan enjoy aja![ayb]
*Anang Y.B. dikenal sebagai penulis bergaya story telling. Pria ini menyebut dirinya sebagai blogger yang geografer. Menjadi geografer memungkinkan dia untuk berkeliling Indonesia dan memperoleh banyak inspirasi menulis dari catatan perjalanannya. Seluruh kisah unik dan opininya dia tuangkan dalam blog beralamat di www.jejakgeografer.com, yang kini telah memiliki lebih dari 500 cerita. Anang dapat dihubungi melalui pos-el: anangyb[at]gmail[dot]com.

August 11th, 2009 at 10:14 pm
Setuju Mas Anang. Gelar kan cuma tanda bahwa seseorang telah menempuh proses belajar di sekolah. Yang penting adalah pengalaman belajarnya, bukan gelarnya. Pengalaman mendapatkan tugas dan menyelesaikannya. Pengalaman medapatkan tantangan dan menghadapinya. Pilih mana “seorang akuntan yang bekerja di kantor akuntan tetapi tidak suka pekerjaan akuntansi” atau “seorang akuntan, yang bekerja sebagai musisi, dan suka pekerjaan berkaitan dengan musik?” Saya pilih yang terakhir.
August 11th, 2009 at 10:35 pm
Hmm, tepat sekali. Gelar adalah gelar, bukan sebuah nasib ataupun penjara. Setiap orang layaknya dapat mengukir sendiri masa depannya, tanpa terbatas dengan pengkotak-kotakan latar belakang akademis yang ia miliki. Tulisan yang bermutu.
Salam revolusi romansa,
Lex dePraxis
Unlocked!
August 17th, 2009 at 1:00 pm
Iya, ikuti kata nurani. Lentera jiwa
August 17th, 2009 at 6:44 pm
Tulisan motivasi yg baik, Anang.
Semoga bermanfaat utk mereka yg memiliki pengalaman sama, sarjana yg sedang mencari kerjaan dan susah mendapatkannya.
Be creative! Banyak jalan menuju Roma, asal mau aja melakukannya.
August 19th, 2009 at 5:07 pm
Betul sekali, saya setuju! Saya juga termasuk dalam kelompok pekerja yang tak sesuai dengan bidang studi, tapi sangat mencintai apa yang saya kerjakan saat ini.
August 27th, 2009 at 10:50 am
Terima Kasih Mas Anang, tulisan anda telah membuat saya bersemangat kembali. Saya seorang sarjana yang kini berjualan gorengan (risoles, lumpia, martabak, kue bolu dll) bersama istri saya