Bekerja dari Rumah, Emang ‘Napa?
Editor | Kolom Tetap | February 15th, 2009
Oleh: Anang, Y.B.*
Seri tulisan “Work at Home”
Hari ini (4/2/09) ada dua hadiah ulang tahun yang saya terima. Hadiah terbesar diberikan oleh istri saya, yakni berupa foto keluarga yang dibuat karikatur seukuran setengah meter. Karikaturnya lucu dan bagus banget, maklum istri saya memesan khusus pada karikaturis yang biasa bikin ilustrasi di koran tempat dia bekerja. Karikatur itu menggambarkan kami berempat (saya, istri saya, dan kedua anak saya) sedang jumpalitan di bulan dalam kostum astronaut. Mengapa di bulan? Ah, tampaknya istri saya hendak mengingatkan sekaligus mensyukuri jalan hidup saya sebagai seorang geografer. Sebuah profesi yang saya jalani sambil lalu di pojok rumah setiap hari. Apakah karikatur itu hendak menyampaikan pesan bahwa dengan bekerja dari rumah pun, saya bisa membawa keluarga saya melayang di angkasa? Hus, saya ngelantur! Dasar penulis!
Hadiah satu lagi saya terima dari Google. Ukurannya jauh lebih kecil daripada yang diberikan istri saya, walaupun sama-sama dalam wujud kertas. Hadiah itu berupa cek upah keikutsertaan saya dalam program Google Adsense. Tak banyak nilanya, hanya sejutaan saja. Tetapi, itu pun saya syukuri, setidaknya uang kaget dari Google bisa untuk melunasi ongkos pesan karikatur dan memborong beberapa loyang pizza.
Adakah benang merah dari kedua hadiah ulang tahun itu? Bila bekerja diartikan secara dangkal sebagai upaya mencari nafkah, maka keputusan kami–saya dan istri—untuk memosisikan saya sebagai pekerja self employed dari rumah sudah tepat. Setidaknya grafik penghasilan saya sebagai seorang geografer sekaligus pemulung dolar di internet relatif menanjak, tidak naik turun seperti yoyo mainannya Mbak Mega.
Namun, bila bekerja diartikan sebagai upaya “pemanusiaan” dari diri saya yang notabene sebagai makhluk pekerja, maka saya pun merasakaan harkat saya terangkat saat saya dalam posisi bekerja dan menghasilkan sesuatu. Sebab diakui atau tidak, saat seseorang tak lagi bekerja, tak lagi produktif, tak lagi berpenghasilan, maka proses dehumanisasi pun terjadi. Dalam kalimat sarkastis, penganggur lebih tidak bernilai daripada mereka yang bekerja.
Pilihan bekerja dari rumah sudah menjadi trend di beberapa kota besar. Robert Kiyosaki bisa kita tuding sebagai biang keladi dari gaya cari uang seperti ini. Anda pun mungkin pernah terinspirasi oleh buku-buku bestseller tulisan Kiyosaki. Tak terkecuali saya. Siapa sih yang tak punya pikiran untuk buka usaha sendiri? Siapa sih yang mau jadi orang upahan dan setiap subuh sudah bersolek untuk sekadar melayani bos hingga magrib menjelang? Siapa sih yang tidak tersindir saat banyak orang mengampanyekan slogan “bekerjalah secara smart, bukannya bekerja keras”. Duh, rasanya slogan itu sengaja diteriakkan untuk memerahkan wajah orang-orang kantoran!
Motivasi Bekerja dari Rumah
Jika ada seribu orang yang bekerja dari rumah, bisa jadi ada seribu alasan pula yang bisa kita kumpulkan atas pertanyaan mengapa mereka memilih mencari uang dari rumah. Jennie S. Bev lewat buku Rahasia Sukses Terbesar secara indah menggambarkan betapa merdekanya bekerja tanpa bos. Uang berlimpah bisa kita kumpulkan di sela-sela jadwal shopping atau mengurus kebun di belakang rumah. Bekerja dari rumah bisa juga terdorong oleh ketidakrelaan kita atas tidak sepadannya receh yang kita terima dibandingkan timbunan harta yang dikumpulkan oleh bos dengan “mengendarai” kita. Bayangkan, saya dulu pernah bekerja di sebuah perusahaan konsultan. Untuk proyek-proyek AMDAL yang nilainya ratusan juta, saya harus ikhlas dibayar dengan gaji bulanan plus sebungkus nasi goreng saat lembur!
Pilihan bekerja dari rumah juga sering muncul karena kita sadar diri bahwa kita memiliki keahlian yang layak jual. Teman-teman saya yang bekerja di bidang TI bisa memperoleh honor sepuluh jutaan untuk pembuatan satu program aplikasi komputer sederhana. Anda tentu tahu, belum tentu mereka akan menerima gaji separuh dari angka itu bila bertahan sebagai karyawan kantor biasa.
Bagaimana Memulai?
Untuk Anda yang masih gamang memasuki komunitas pekerja rumahan, berikut ini ada tiga alternatif yang bisa anda pilih untuk mulai bekerja dari rumah.
Alternatif pertama: tetap bekerja pada orang lain.
Lho, katanya bekerja dari rumah akan membebaskan diri dari kita dari ikatan bos? Tenang, alternatif ini tetap nyaman kok biarpun Anda masih mengandalkan orang lain. Mengapa nyaman? Ya, karena hubungan Aanda dengan pemberi kerja adalah sebagai mitra bukan hubungan layaknya pekerja dengan atasan. Sebagai contoh, sebagai seorang geografer saya seringkali mendapat job untuk membuat peta. Untuk pekerjaan model seperti ini saya sudah memiliki mitra beberapa anak lulusan STM atau SMU yang saya sebut sebagai drafter. Para drafter ini bekerja di rumah mereka masing-masing dengan bayaran saya hitung untuk setiap peta yang mereka selesaikan. Adil, kan? Dan biarpun mereka bekerja pada saya, pastinya upah yang mereka kumpulkan jauh lebih tinggi di atas UMR.
Alternatif kedua: kolaborasi dengan orang lain.
Tidak selamanya Anda bisa bekerja sendiri, jadi apa salahnya mempercepat kesusksesan Anda dengan melibatkan rekan Anda? Pelibatan bisa didasarkan pada kesamaan keahlian, misalnya sesama penyuka musik yang kemudian membuka kursus musik. Bisa juga kita melibatkan rekan yang memiliki keahlian berbeda sehingga tercipta satu sinergi yang saling menguntungkan. Sebagai contoh, saya memiliki rekan yang ulet dan memiliki jaringan ke banyak instansi pemerintah di seluruh Indonesia. Kami pun berkolaborasi menyelenggarakan berbagai pelatihan pembuatan peta maupun pengolahan foto-foto satelit. Rekan saya sibuk mencari peserta dan menyiapkan tempat, dan saya kebagian menjadi trainer. Hasilnya? Ehemm…
Alternatif ketiga: jalan sendirian.
Ada banyak peluang bekerja dari rumah yang bisa dijalankan sendirian. Selain berburu uang lewat berbagai program internet marketing yang sekarang mewabah, Anda pun bisa memilih ribuan peluang usaha yang walau tampak sederhana namun sebetulnya hasilnya lebih dari sekadar lumayan. Yang pasti, bukalah mata lebar-lebar, dan jelilah membaca kebutuhan orang-orang di sekitar Anda. Anda bisa mencoba membuka usaha sablon mok yang menjanjikan keuntungan hingga 50 persen, atau cetak banner mumpung banyak caleg lagi butuh poster. Atau, bukalah kursus origami, kursus memasak, kursus melukis. Tak cukup bergengsi? Kemaslah latar belakang pendidikan Anda dan buatlah brand baru! Itulah yang saya lakukan dengan kartu nama saya yang bertuliskan “geografer”.
Rasanya, tak banyak atau mungkin sayalah satu-satunya orang di Indonesia yang tanpa malu mem-banding diri dengan mengaku sebagai geografer. Ratusan rekan saya lebih suka menyebut diri sebagai ahli hidrologi, ahli remote Sensing, ahli GIS… dll tapi saya mantap dengan positioning sebagai geografer sejati. Hasilnya, saya lancar-lancar saja berburu proyek mulai dari pemetaan puskesmas, mengerjakan studi AMDAL, memetakan persebaran agen koran, hingga ikut menyelesaikan sengketa dua perusahaan kehutanan yang berebut lahan.
Dan pastinya, semua itu saya kendalikan dari rumah bermodalkan laptop, internet, dan setumpuk kartu nama. Jadi, bekerja dari rumah, emang ‘napa?[ayb]
*Anang Y.B. dikenal sebagai penulis bergaya story telling. Pria ini menyebut dirinya sebagai blogger yang geografer. Menjadi geografer memungkinkan dia untuk berkeliling Indonesia dan memperoleh banyak inspirasi menulis dari catatan perjalanannya. Seluruh kisah unik dan opininya dia tuangkan dalam blog beralamat di www.jejakgeografer.com, yang kini telah memiliki lebih dari 500 cerita. Anang dapat dihubungi melalui email: anangyb[at]gmail[dot]com.

February 17th, 2009 at 9:13 am
Happy Birthday Mas Anang.
Sebuah tulisan yg baik dan informatif utk mereka yg memiliki interest bekerja dari rumah.
February 17th, 2009 at 9:52 am
tulisannya menarik mas.. bekerja dari manapun apa salahnya.. saya malah bekerja dan menulis dari ladang.. kotor dan ndak bonafide bagi sebagian orang but i love it
February 19th, 2009 at 7:52 pm
wah mas Anang…., ternyata sampeyan udah mulai berbisnis online ya? Aku juga punya cita2 kayak mas Anang tapi belom kesampean. Saya boleh “ngangsu kawruh” nggak mas?
trim’s.
July 24th, 2009 at 10:21 am
trim mas. saya lagi bikin laporan ttg pekerja rumahan. pasti pemikiman si mas sanngat membantu saya. matur nuwun - hatur nuhun…
September 28th, 2009 at 2:03 pm
kemajuan tehnologi saat ini memang memungkinkan kita untuk bekerja di rumah, dengan segala alternatif yang sudah mas ulas diatas. saya juga sedang merintis bisnis dengan bekerja dirumah secara online dengan fasilitas internet yang hebat ini. Trims ya mas.
October 27th, 2009 at 10:26 am
Rekan-rekan sekalian,
Makasih banget atas tanggapan terhadap tulisan ini dan juga tulisan saya lainnya…
Berkat Anda, kumpulan tulisan saya di situs Andaluarbiasa.com siap diterbitkan menjadi buku dengan judul sama dengan artikel ini yakni.. “KERJA DI RUMAH EMANG ‘NAPA?”
Bila tidak ada gangguan, buku bisa diperoleh di Toko buku terkemuka pada pertengahan bulan Nopember 2009.
Sekali lagi, terima kasih atas pertemanan dan dukungannya..
Tetap semangat!
Anang Y.B
November 11th, 2009 at 1:43 pm
Salut buat Mas Anang! Emang cita2 saya juga bisa kerja dari rumah:-) Ajarin nyari duit dari Google Adsense dong^_^