Being Single, to Be or Not to Be?

Miranda SuryadjajaOleh: Miranda Suryadjaja*

Bulan lalu, lebih dari dua minggu saya menghabiskan waktu di Jakarta. Hari-hari saya di Jakarta dipenuhi oleh berbagai reuni, dengan teman-teman SD, SMP, dan SMA. Ada yang menarik dari pengamatan saya soal reuni ini. Teman-teman lama saya, ada yang sudah tak jumpa lebih dari 35 tahun, ada yang 28 tahun, dan semua yang rata-rata berusia 45 ke atas, telah menemukan jati dirinya yang baru.

Beragam-ragam pekerjaan, profesi, kepribadian, yang semua lebih penuh, mantap, kaya pengalaman menjadikan pribadi-pribadi ini bagai air nira yang telah melewati proses fermentasi berulang kali, lebih mantap rasanya, lebih penuh, lebih kaya. Senangnya, kami punya sejarah kebersamaan, sebagai murid-murid kecil, lugu, lucu, dan sekarang masih tetap bisa nyambung karena adanya shared experience itu, meski nuansanya sekarang jauh berbeda. Tragedi dan komedi telah dilewati sebagai bumbu kehidupan. Versi, substansi, serta level kesulitan boleh berbeda, namun sesungguhnya tidak dapat dinilai mana yang lebih hebat atau berat dari yang lain.

Saya mencermati bahwa mereka—khususnya yang telah pernah bercerai atau pernah sendirian dalam waktu yang cukup lamamempunyai suatu kedalaman atau depth yang lebih. Di mata mereka, saya bisa melihat bekas-bekas penderitaan dan kearifan yang dalam, yang seluruhnya tak lepas dari apa yang telah dialami dan lalui, seiring dengan perjalanan sang waktu.

Pada reuni terakhir, kebetulan saya sempat menghabiskan waktu berdua dengan salah satu teman SMA saya. Dulu kami satu gang, dan relatif telah lebih sering saya jumpai dibandingkan dengan yang lainnya. Teman saya ini jagonya plesetan, quickwitted, dan bawaannya becanda melulu. Kalau lagi berbanyak, ya jadilah bersahut-sahutan saling meledek, saling ngenyek, dan nge-kick. Giliran kami berdua saja, pembicaraan kadang jadi tersendat-sendat, karena kebetulan saya, yang hidup di daerah, enggak terbiasa dengan gaya-gaya plesetan orang Jakarta, yang begitu terlatih dan sigap.

Biasanya, meskipun beramai-ramai saya sering telat mikir, sampai kadang-kadang diomelin ramai-ramai karena sering kali harus minta diulang lagi omongannya, sebelum joke-nya saya tangkap. Ujung-ujungnya, saya enggak mau terlalu sering dikunjungi teman saya yang satu ini sewaktu dia berkunjung ke daerah saya, karena males ngomongnya. Dan, mungkin alasan yang lebih jujur juga karena enggak mau kelihatan terlalu ndusun.

Nah, kemarin saya bertemu lagi dengannya, and as luck had it, teman-teman yang lain detour-nya lama banget, sehingga jadilah saya berbincang-bincang dengannya seorang, ditemani putri semata wayangnya yang pas lagi sweet seventeen-an. Telah berlalu empat-lima tahun sejak saya terakhir jumpa dengannya. Di antaranya, beberapa kali sempat dia mengajak saya ketemuan kalau pas tugas kantor membawanya ke Bali.

Teman saya penampilannya sudah banyak berubah, tambah cantik, mukanya bersih dan jernih, tanpa kerutan, tampak jauh lebih muda dari usia sesungguhnya. Body-nya elok pula, langsing, dengan dada tinggi menonjol. Kalau dulu cenderung tomboy, sekarang dengan style rambut yang sangat feminine membuatnya jadi mirip Tamara Blezynski.

Teman saya ini terhitung sukses dalam kariernya. Di SMA, ia enggak terlalu menonjol, tetapi potensinya baru keluar setelah dia berhasil masuk salah satu perguruan tinggi negeri bergengsi, jurusan matematika pula. Orangnya penuh perhitungan. Lucu, sering kali kami tidak melihat bahwa sebenarnya dasar-dasar kepribadian ulet dan teliti sudah tampak di SMA. Hanya saja, sekarang dengan pemahaman yang lebih dalam tentang karakter, saya bisa melihat bahwa teman saya ini memang dari dulu sudah berbakat soal hitung-hitungan yang mendetail, termasuk penuh perhitungan soal kehidupan.

Sekitar lima tahun yang lalu, saya mendengar lewat seorang teman bahwa dia sudah berpisah dari suaminya. Saya agak kaget karena dia tidak pernah menceritakan apa pun soal perkawinannya. Di balik ceplas-ceplos plesetannya, memang yang satu ini orangnya agak tertutup, selalu menampilkan diri sebagai a strong/tough woman. Selalu terlihat ceria, penuh humor, tegar, meskipun hatinya sedang menangis. Di pertemuan berikutnya, saya tanyakan langsung padanya mengenai berita itu. Buat saya sendiri, kondisi cerai bukan lagi hal yang merupakan stigma ataupun sesuatu yang perlu ditutup-tutupi. Namun, sebagai teman saya merasa concern akan teman saya ini. Dan, rupanya biduk perkawinannya memang telah lama diterpa ombak.

Di pertemuan terakhir kami, ketika kami berbincang-bincang, dia tampak jauh lebih tenang dan rileks bicaranya. Dan, ternyata omongan kami nyambung. Saya merasakan sesuatu yang beda berada di hadapannya. Pembicaraan kami lancar, mengacu pada kehidupan dan keseharian kami sekarang ini. Dia telah resmi bercerai dan masih tetap sendiri. Hidupnya dicurahkan pada karier dan putrinya. Kariernya melesat hebat. Dia telah pindah perusahaan yang menjanjikan lebih banyak tantangan, dan gaji yang lebih besar tentunya. Kami berbagi pengalaman kenikmatan hidup sendiri, sebagai seorang single woman, single fighter.

Memang dalam umur-umur around forty, kalau bisa cari uang sendiri, hidup dengan life style pilihan yang kita suka, relative tidak kekurangan materi ataupun sahabat yang menyayangi. Maka, dihitung-hitung jauh lebih enak hidup single daripada punya pasangan. Bangun tidur sesukanya, hari libur berdaster dari pagi sampai malam, mau ngedugem sampai pagi tidak ada yang melarang, dan apa-apa tidak harus minta izin, persetujuan, atau pertimbangan orang lain. Dan enaknya lagi, enggak usah ngurusin makan, baju, mandi pasangan atau suami. Tidak perlu harus selalu jaga perasaan pasangan kita. Kami setuju, memang banyak enaknya hidup single. Kami sepandangan, bahwa kalau hidup sudah enak begini, kalau punya pasangan harus ada added value dari kehidupan yang sekarang.

Di tengah pembicaraan kami, dia menarik keluar dari tasnya sebuah buku berjudul Love, Freedom and Loneliness karangan OSHO, the Baghwan, yang terkenal seantero belahan bumi utara, sebagai pendobrak tradisi dan pemuja kebenaran lewat kebebasan dari pikiran, keyakinan, dan persepsi yang terprogram. Kami makin nyambung, saya enjoy benar dengan kata-kata yang nyerocos keluar dari mulutnya, soal keyakinan-keyakinan serta pemahaman-pemahaman barunya lewat membaca buku-buku sejenis, yang umumnya tentang personal development, growth, dan spiritualitas. Kami sepaham, bahwa banyak yang kita yakini sebagai suatu kebenaran sebenarnya datang dari programming kita, yang diajarkan dan diturunkan oleh society, agama, sekolah, orang tua, ataupun figur-figur otoritas yang kita jadikan panutan, padahal belum tentu benar bagi kita.

Teman saya seorang hajah. Benturan-benturan agama, keluarga maupun sosial tentunya tidak terhindari. Sehingga, sahabat saya yang satu ini memilih menjaga jarak, terutama dengan keluarganya sendiri. Seperti paham orang kita umumnya, budaya ‘apa kata orang’ telah sangat melekat, sehingga perasaan maupun kebahagiaan seorang individu sering kali bukan merupakan hal yang diperhitungkan sama sekali.

Dia bercerita, pernah sempat nge-date seorang cowok. Pada pertemuan kedua si cowok udah langsung bilang, “Kamu sebaiknya pakai jilbab, Dik. Kan enggak pantas seorang hajah pakai baju-baju yang enggak berlengan dan menampakkan leher?” Langsung saja teman saya menimpali, “Jilbab itu baju Arab, bukan baju muslim.

Pada kesempatan berikutnya, si cowok lagi-lagi mencoba jurus dakwahnya, sembari bertanya, “Udah salat belum?” Dijawab begini oleh teman saya, “Emangnya salat pake bilang-bilang? Emang kenapa? Itu urusan gue pribadi sama Tuhan, lagi.” Si cowok menjawab, “Ya, cuma nanya doang. Langsung ditimpali teman saya ini, “Mas, gini aja deh, ini adalah pertemuan kita terakhir.

Saya semakin kagum dengan teman ini, cantik, pintar, sukses, hajah, tidak penakut, dan bisa melihat mana kebenaran yang dihadiskan manusia, serta mana kebenaran yang memang benar-benar adalah benar. Dia tidak lagi terperangkap oleh yang tampak di permukaan saja. Dan, saya tahu imannya sangat kuat, kecintaannya pada Tuhan sangat besar, serta tidak perlu ditunjukan pada orang sebagai barang bukti.

Perempuan Indonesia masih banyak yang takut hidup sendirian, sebagai wanita lajang, janda, dan sebagai single mother pula. Biasanya, ketakutan yang nomor satu adalah kekawatiran akan apa kata orang, keluarga, teman, dll. Berapa tahun belakangan, makin hari makin banyak saya jumpai wanita-wanita newly single atau newly divorced. Tentunya, keputusan pisah/putus/cerai bukan dan tidak pernah merupakan sebuah keputusan yang mudah dibuat. Bukan merupakan pilihan pertama oleh siapa pun, lelaki maupun perempuan.

Sering kali masyarakat, dibantu program-program infotainment, dengan gampang menyalahkan salah satunya, berdasarkan kesimpulan dan nilai-nilainya sendiri. Tetapi, sesungguhnya kita tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara dua umat manusia, di belakang pintu kamarnya. Bukan tidak mungkin itu merupakan pilihan antara hidup dan mati, bukan dalam artian harfiah tentunya. Hidup atau mati yang saya maksudkan di sini adalah antara hidup yang mempunyai arti, dengan hidup yang telah kehilangan artinya karena apa yang kita inginkan, maukan, dan yakini tidak lagi penting atau dipentingkan oleh orang yang sangat dekat dengan kita. Sehingga, hanya jasad saja yang hidup, tapi soulnya mati karena tidak teraktualisasi, tidak bermakna.

Tentu ada hal-hal yang kurang nyaman untuk dilakoni sendirian, karenanya butuh penyesuaian persepsi. Tetapi, pesan saya pada teman-teman perempuan yang baru bercerai, atau masih lajang di usia empat puluhan ke atas: Janganlah takut pada kesendirian. Pada zaman seperti sekarang ini, hidup sebagai single woman di Indonesia sudah tergolong mudah dan cukup nyaman untuk dijalani. Banyak kegiatan yang bisa dilakukan sesama perempuan single, pun negara kita tidak terlalu mendiskriminasikan perempuan. Sehingga, kesempatan perempuan untuk beroleh pekerjaan setara dengan pria.

Kita juga punya kementerian pemberdayaan wanita. Persepsi masyarakat, khususnya di kota-kota besar atau kosmopolitan, tidak lagi menabukan perceraian. Kosmopolitan di sini saya artikan sebagai suatu kota yang penduduknya majemuk, terdiri dari banyak suku dan bangsa. Cukup banyak kota di Indonesia yang memenuhi kriteria tersebut. Di kota kecil pun, kalau kita OK dengan kesendirian kita, lama-lama orang juga tidak akan memusingkannya lagi.

Jauh lebih baik hidup sendiri dan happy daripada memaksakan mempertahankan perkawinan yang telah hancur demi anak atau martabat. Anak-anak akan tumbuh lebih sehat batinnya kalau melihat kedua orang tuanya bahagia, meskipun hidup terpisah, daripada hidup seatap tetapi setiap hari bertengkar sengit, saling menyalahkan, terlebih-lebih kalau sampai melibatkan kekerasan. Anak-anak yang datang dari keluarga yang disfunctional biasanya menanggung beban trauma yang biasanya jauh lebih dalam hingga mereka dewasa, bahkan tua.

Dan suatu saat, tatkala kesempatan memilih tiba kembali, bukan milih caleg atau presiden, lho, lebih baik memilih dan memutuskan dengan hati dan bukan dengan pikiran. Karena, yang dengan pikiran biasanya hitung-hitungannya terlihat bagus di atas kertas, tetapi penuh dengan ekspektasi. Apabila ada yang tak terpenuhi, perasaan-perasaan tertekan mulai muncul, mungkin samar pada awalnya, selama yang diterima masih terasa memadai. Namun, ketika mulai muncul perasaan telah memberi lebih banyak daripada yang diberi, ini adalah awal dari keterpurukan suatu hubungan, di mana kalau perasaan ini diabaikan, bagai menyimpan bom waktu yang sewaktu-waktu akan meledak.

Tulisan saya ini bukanlah suatu anjuran untuk bercerai ataupun untuk menyatakan bahwa hidup sendiri lebih baik dari pada hidup berpasangan. Tidak, sama sekali bukan. Sebetulnya, perceraian tidak banyak bedanya dari putus pacaran, hanya saja dilegalisasi. Saya sendiri bercerai empat belas tahun yang lalu. Dan, sejak itu telah mempunyai periode berpasangan dan single yang masing-masing beberapa tahun lamanya. Dari tiap fase, baik ketika berpasangan maupun sedang sendiri, saya banyak belajar, termasuk belajar untuk menikmatinya. Saya percaya bahwa tidak pernah ada suatu kebetulan dan tidak ada yang salah. Selalu ada berkah dan berkat yang tersirat dalam setiap situasi, tinggal bagaimana kita cermat dan jeli melihat dan menangkapnya, sehingga pelajaran tersebut bisa berguna bagi proses kita selanjutnya.

Namun, dalam situasi di mana kita harus memilih, maka menurut saya pilihan untuk hidup sendiri setara derajatnya dengan pilihan untuk berpasangan, not one is less or more. Dan, status kita tak lebih dari bagian dari proses kehidupan yang ditandai dengan suatu awal dan suatu akhir, dan akan selalu berakhir, entah dengan perpisahan selagi hayat dikandung badan, atau lewat kematian. Jadi, seperti kata salah seorang guru saya, kalau kita sudah paham itu, sekarang tinggal nikmati sisa waktu kebersamaan kita saja, and treat each day you are together as your last.

Being single, to be or not to be? Life is a continuous process. Whatever it happens to be, we can choose to enjoy the process, or not.[ms]

* Miranda Suryadjaja adalah seorang public speaker dan konsultan bisnis yang berdomisili di Bali. Selain itu, Miranda juga seorang life coach dan jewelry designer yang meminati bidang motivasi dan pemberdayaan perempuan. Peraih gelar MBA dari National University, San Diego, USA yang juga hobi menulis, membaca, mendesain, dan traveling ini telah dikarunia seorang putera. Saat ini, ia tengah menulis sebuah buku tentang pribadi Yesus dalam kacamata seorang penganut agama Hindu. Miranda dapat dihubungi melalui email: sayamiranda[at]gmail[dot]com atau HP: 0811389432.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a Reply

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox