Being Bookpreneur!
Editor | Kolom Lepas | June 22nd, 2009
Oleh: Indari Mastuti*
Tentu telinga Anda tidak asing lagi dengan istilah entrepreneur yang saat ini sedang banyak dibahas dan jadi topik di mana-mana. Kata entrepreneur sebenarnya berasal dari bahasa Perancis yang diambil sebagai kata serapan ke dalam bahasa Inggris. Kata ini dalam bahasa Indonesia berarti ’wirausaha’. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, wirausaha sendiri merujuk pada kata ’wiraswasta’ yang artinya adalah orang yang pandai atau berbakat mengenali produk baru, menentukan cara produksi baru, menyusun operasi untuk pengadaan produk baru, memasarkannya, serta mengatur permodalan operasinya. Dalam arti lain, menurut hemat saya, wiraswasta atau wirausaha adalah seseorang yang mengatur dan mengendalikan sebuah bisnis yang dibangun oleh dirinya sendiri.
Lantas, apa arti dari bookpreneur? Well, kata itu baru saja saya dapatkan dari e-mail seorang sahabat. Jujur saja, saya baru tahu kata unik itu, entah saya kurang bergaul atau istilah itu sengaja dibuat untuk menggabungkan antara sense of writing dan sense of business. Saya sendiri mengira-ngira arti sebenarnya dari bookpreneur ini. Menurut saya, bookpreneur merupakan orang yang secara mandiri membuat bisnis yang produknya adalah buku karyanya sendiri. Dalam arti lain, seorang penulis buku yang sekaligus mempromosikan dan memasarkan karyanya.
Namun pada kenyataannya sekarang, tidak banyak penulis yang mampu menangkap peluang-peluang emas di sekitarnya. Karena itu, modal menjadi bookpreneur sangatlah penting dan berpengaruh. Jika penulis hanya memiliki sense of writing tetapi tidak memiliki sense of business, maka yang terjadi adalah penulis akan tertinggal dan tergilas oleh hiruk-pikuk dunia perbukuan yang semakin menggeliat hebat.
Saat ini, sesungguhnya pertumbuhan penulis cukup mengembirakan. Hal ini terbukti dengan semakin menjamurnya komunitas baca-tulis, ramainya milis kepenulisan, serta banyaknya produk buku dengan beragam gaya kepenulisan. Karena itu, pertumbuhan penerbitan pun selayaknya dapat ditunjang oleh pertumbuhan penulis yang qualified. Akan tetapi, kerap kali ketika penulis sudah menelurkan satu buku, kebanggaan itu tidak ditopang oleh kemampuan untuk mengikuti pergerakan pasar buku sehingga mereka hanya menulis satu buku dan hilang tanpa nama.
Bagi saya, menulis adalah satu kegiatan dari keseharian saya, bahkan menjadi denyut nadi saya. Meskipun dari sejumlah karya saya belum ada yang best seller, tetapi saya cukup terpuaskan dengan beragam ilmu yang didapat sepanjang kegiatan menulis terus dilakukan.
Ya, menjadi penulis yang baik tidak dapat terjadi secara instan. Kita butuh proses yang cukup panjang dan berliku. Misalnya, keluar masuk perusahaan penerbitan karena naskah ditolak—apalagi kalau karya kita dilecehkan karena dianggap kurang bagus—, mengejar menjadi penulis yang diidolakan untuk menimba ilmu, dan mengikuti beragam kegiatan penulisan yang kadang cukup melelahkan. Karena itu, jika penulis tidak memiliki jiwa entrepreneur, dapat dipastikan dia akan cepat down dan berhenti berkarya.
Jujur, saya mendukung sekali jika ada yang memilih untuk menjadi bookpreneur. Sebab, menulis bukan hanya melahirkan kepuasan psikologis, namun sesungguhnya bisa dijadikan profesi masa depan. Ribuan kesempatan menjanjikan bagi para penulis yang mampu memadukan antara hobi menulis dengan bisnis.
Bookpreneur akhirnya bukan hanya mengandalkan keahlian dalam menulis. Menurut saya, bookpreneur harus memadukan beberapa prinsip marketing dan promosi. Berikut saran saya bagi mereka yang ingin menjadikan bakat menulisnya menjadi sebuah usaha yang menjanjikan. So, be bookpreneur!
Bangun Networking
Kita banyak mendengar kisah sukses para pengusaha bukan karena modal finansial yang melimpah, namun banyak di antara mereka justru memulai usaha dengan modal yang minim atau pas?pasan, bahkan tanpa modal sekalipun. Istilah kerennya adalah modal dengkul, tetapi semangat mereka untuk membangun bisnis dilakukan dengan ulet, kreatif, tekun, dan berupaya untuk terus meningkatkan networking secara luas, sehingga akhirnya berhasil membangun usaha dengan sukses dan sangat menggembirakan.
Miliki Multi-tasking Skill
Dunia perbukuan begitu kompleks dan dinamis, tren buku pun terus berubah. Seorang bookpreneur harus memiliki kemampuan multi-tasking, yaitu penulis yang bisa melakukan semuanya, tidak sekadar mengonsep ide menjadi tulisan, namun juga mengedit, mempromosikan, dan memasarkan tulisannya.
Ada istilah yang bagus dalam hal ini, “You cannot buy the skill to be great.” Anda mungkin bisa meminjam uang, mengkredit perlengkapan kantor, dan membangun kantor, namun keahlian Anda dalam menjalankan bisnis ini tidak bisa meminjam atau membeli dari orang lain. Itu sebabnya seorang wirausaha atau wiraswasta produk apa pun, termasuk seorang bookpreneur, harus memiliki keahlian dalam bidang ini. Barangkali Anda tidak perlu menjadi benar-benar ahli untuk memulai menjadi bookpreneur, tetapi Anda harus terus meng-upgrade skill Anda untuk menjadi lebih baik dan terus lebih baik.
Lakukan Continues Improvement
Pada era kebangkitan perbukuan seperti sekarang, benchmark lapangan yang berkaitan dengan perkembangan jenis atau tema buku adalah hal yang mutlak. Selain itu, penulis selayaknya mengikuti aktivitas atau kegiatan yang dapat terus mengembangkan keahlian dan wawasan menulisnya. Ya, pembelajaran penulis tidak boleh berakhir. Hal ini agar seorang bookpreneur dapat melahirkan produk yang inovatif dan kaya akan ide segar. Bukan sekadar menulis, tetapi juga memberikan sesuatu yang berbeda pada setiap karya yang ditelurkannya.
Lakukan Public Relation
Penulis selayaknya aktif mempromosikan dirinya dan seluruh potensi yang dimiliki. Kenapa? Sebab, semakin aktif promosi dilakukan, semakin besar peluang yang akan didapatkan. Penulis yang melakukan PR atas karya yang dihasilkannya akan membantu, bahkan disukai penerbit. Dalam hal ini, penerbit pun membutuhkan pola promosi yang sinergis dengan penulis untuk memasarkan buku yang diterbitkan. Sehingga, sudah barang tentu penerbit akan memberikan ”order” penulisan lagi yang menggembirakan bagi penulis.
Melakukan PR bagi penulis sesungguhnya bukan perkara sulit. Banyak media yang kini dapat mendukung kegiatan tersebut. Misalnya, dengan aktif berpromosi di milis perbukuan, membuat situs pribadi yang bisa diakses banyak pihak, serta secara aktif berkomunikasi dengan para pelaksana industri perbukuan untuk mempromosikan ide segar Anda yang diyakini layak untuk diterbitkan.
Riset pada Dunia Perbukuan
Apa pun bentuk bisnis yang dilakukan, riset adalah sesuatu yang penting untuk bisa mengintip berbagai peluang dan potensi bisnis yang dilakukan. Bookpreneur adalah bagian dari industri perbukuan. Itulah sebabnya ia harus setali tiga uang dengan penerbitan agar bisa melihat indikasi ke depan mengenai tren yang akan berkembang.
Salah satu hal yang bisa dilakukan untuk mengetahui seluk-beluk industri perbukuan adalah adanya ”perkawinan” antara editor dan penulis. Sinergi antara editor dan penulis tersebut dapat melahirkan buku-buku yang menarik karena keduanya terkait satu sama lain. Jika tak ingin disebut ”perkawinan”, maka hubungan yang harus dikembangkan antara penulis dan editor adalah hubungan “semi pribadi”.
Mempertahankan Hubungan Baik
Setelah Anda mampu melakukan seluruh poin di atas, maka hal terakhir yang harus dilakukan adalah mempertahankan hubungan baik. Jika Anda memiliki kemampuan berbisnis yang andal, mampu membuat karya yang sempurna, dan mampu memasarkan produk yang jitu, namun tidak memiliki kemampuan membina jaringan yang kokoh, maka Anda akan sulit untuk mengembangkan diri.
Akhir kata, menjadi menjadi seorang bookpreneur ternyata tak bisa dilepaskan begitu saja dari sense of marketing. Jadi, selamat mendalami kegiatan menulis dan memasarkannya![im]
* Indari Mastuti lahir di Bandung, 9 Juli 1980. Alumnus Universitas Pasundan ini sudah gemar menulis sejak SD dan telah menelurkan lebih dari … buku. Saat ini, Iin tinggal di Bandung dan memimpin tim yang memproduksi buku-buku psikologi popular, pendidikan, dan wiraswasta. Iin dapat dihubungi melalui website: www.iien.tk atau telepon: 022.70402352/081321811219.

June 23rd, 2009 at 11:51 am
wah mas, salah ni kontaknya…itu kontak lama saya. Untuk kontak ke 022.70402352/081321811219.
June 24th, 2009 at 6:03 am
Thanks atas tulisan yang mantap, Mbak Indari!
Soal riset dunia perbukuan, seorang penulis saat jalan-jalan ke toko buku tak cuma buat belanja, tapi juga cari ide. Termasuk… mencari tema buku yang bisa dikloning..
June 24th, 2009 at 7:22 pm
Sip…sepakat. Itulah tugas seorang penulis.
August 2nd, 2009 at 6:48 pm
makasih yaa mba indari atas ilmu.a krn saya jdi banyak pengetahuan semoga dari pengetahuan ini aq bisa jawab pertanyaan guru kwu amiennn….