Becak dan Tempe: Sebuah Ajakan Menyejarahkan Pusaka Wong Cilik Kita

mspaOleh: Meta Astuti*

Janganlah bangsa Indonesia menjadi bangsa tempe, kata Bung Karno dalam pidatonya berkali-kali. Seandainya Bung Karno masih hidup sekarang ini, mungkin beliau akan berubah pikiran dengan ucapannya. Tempe yang dulunya dikenal sebagai makanan ndeso, murah dan identik dengan wong cilik, di zaman modern ini telah berubah bentuk dan bertransformasi menjadi bahan makanan yang dihormati serta bergengsi (di dunia). Masih belum percaya?

Meski di Indonesia di sebagian tempat tempe masih dikenal sebagai makanan orang kecil, kenyataannya mulai banyak diketahui sebagai makanan bergizi tinggi dan baik untuk kesehatan. Banyak penelitian mengenai tempe yang dipublikasikan secara ilmiah. Tempe mengandung isoflavon dan kandungan gizi kacang kedelai baik untuk tubuh, kesehatan, pencernaan, dan juga dianjurkan sebagai asupan pengganti protein yang sehat.

Salah satu cerita menarik adalah tentang tentara asing (Belanda) yang ditahan di suatu pulau di Papua pada masa PD II. Suatu saat terjadi wabah diare di dalam tahanan tersebut. Para penderita diare itu kemudian diberi makanan lokal yang dimakan orang-orang setempat. Ternyata makanan itu berhasil menyembuhkan para penderita diare itu, dan kelak makanan itu dikenal dengan nama tempe.

Kabarnya, para ilmuwan di Monash University Australia telah meneliti tempe yang merupakan fermentasi dari kapang Rhizopus ini untuk dikembangkan sebagai suplemen makanan yang baik bagi kesehatan dan tubuh, khususnya bagi kaum perempuan. Tempe yang mengandung isoflavon sangat baik bagi perempuan menjelang menopause.

Akhir-akhir ini, kita sedang dalam keadaan sensitif dalam urusan pembajakan hak cipta. Banyak literatur menyebutkan tempe adalah produk asli bangsa Indonesia. Tapi, bangsa kita kadang ceroboh dalam merawat pusaka kuliner. Jangan-jangan negara tetangga kita di kemudian hari mengklaim tempe adalah milik mereka.

Di Singapura, satu warung sate yang terkenal adalah sate “number one” yang dikenal sebagai sate Fatman. Sate ini menjadi andalan salah satu pusat jajanan di Singapura, dan diakui bahwa hidangan sate di Singapura dikenalkan oleh Fatman yang datang dari Indonesia. Saat ini, sate menjadi salah satu makanan favorit di Singapura. Baik sate yang ber-genre China maupun Melayu. Rendang juga dikenal baik oleh penduduk Singapura.

Jadi, sudah saatnya Indonesia menghargai makanan yang merakyat ini. Menginventarisasi, mendokumentasi, serta menyosialisasikannya. Saat ini, konon Jepang telah mengklaim proses pembuatan tempe. Sementara, banyak juga penduduk Jawa tinggal atau menetap di Malaysia. Jangan sampai nanti Malaysia mengklaim tempe sebagai salah satu budaya kulinernya. Bukannya curiga, tapi bangsa kita betul-betul kurang memerhatikan makanan sederhana tapi dahsyat ini.

Apakah betul kita berniat melakukan pendataan dan pelestarian tempe? Pertanyaan selanjutnya adalah, dari titik mana kita akan mulai? Baik, bagaimana kita memulai dengan sejarahnya? Bukan karena saya banyak berkutat di bidang ini, tapi jujur saja seberapa jauh pengetahuan kita tentang sejarah tempe? Kita mungkin terbiasa memakannya, tapi mengetahui sejarahnya? Saya kira masih minim. Banyak sekali publikasi ilmiah mengenai tempe dari sisi “makanan” dan “sumber gizi”. Namun, ahli sejarah tempe Indonesia dari Indonesia siapa? Tampaknya, seperti slogan iklan masuk angin yang dipopulerkan almarhum Basuki, “Wes-ewes-ewes bablas angine.

Apakah tempe asli makanan Indonesia? Bagaimana peran tempe bagi masyarakat kita? Dua pertanyaan dasar untuk mengobservasi studi “pertempean” kita. Sudah saatnya kita berinisiatif mendokumentasikan sejarah dan tradisi tempe, demi anak cucu kita di masa mendatang.

Di Amerika, ada buku klasik tentang tempe berjudul The Book of Tempeh yang ditulis oleh duo ahli gizi William Shurtleff dan Akiko Aoyagi. Di Eropa, ada Pak Jonathan di London yang dengan senang hati membagikan resep dan ilmunya tentang tempe. Di Indonesia, sebenarnya juga banyak ilmuwan ahli tempe dan salah satunya adalah Profesor Tri Susanto dari Universitas Brawijaya, Malang. Ada juga ahli gizi maupun ahli kesehatan dari ilmu kedokteran. Namun, kita masih perlu putra-putra bangsa yang dengan serius menggarap studi tempe dari sisi ilmu sosialnya untuk melengkapi keseriusan pihak asing maupun ahli gizi yang banyak berurusan dengan pertempean.

Hal ini perlu dilakukan, sekali lagi, untuk urusan pelestarian dan penyadaran masyarakat untuk mengapresiasi tempe, makanan unik yang asli milik bangsa kita. Tempe telah dimakan oleh berjuta-juta masyarakat Indonesia. Makanan ini telah menjadi bagian akrab hampir seluruh ibu rumah tangga. Secara ekonomis industri tempe telah menjadi industri yang kuat di Indonesia. Dari penyediaan kedelai sampai industri pembuatan tempe dan distribusinya. Mungkinkah suatu saat kita perlu membuat gerakan cinta tempe selain gerakan gemar membaca?

Tidak ada salahnya kita mengintip sejarah tempe. Masih belum ada referensi yang utuh mengenai sejarah tempe. Namun, ada yang pernah memperkirakan tempe telah berada di bumi Nusantara semenjak berabad-abad lalu. Kata tempe juga telah tercatat dalam serat Centhini, salah satu babad sejarah yang penting dalam sastra Jawa Kuno yang diterbitkan pada abad ke-16. Bahkan, salah satu yang tertulis di serat ini adalah resep untuk mengolah resep ini dengan nama resep sayur podomoro. Sebuah resep klasik untuk etnis Jawa dengan bahan tempe yang dikandung di dalamnya.

Konon dari sebuah informasi yang perlu digali lebih dalam lagi, tempe telah dimakan selama ribuan tahun di tanah Jawa. Kabarnya juga, terjadinya tempe melalui proses ketidaksengajaan. Suatu saat, terdapat kacang kedelai yang disimpan dan secara tidak sengaja masuk jamur ke dalam kacang kedelai itu. Kedelai tampak busuk, tapi setelah dimakan ternyata rasanya menjadi lebih enak. Dan, kemudian hari makanan itu dikenal dengan nama tempe.

Sekali lagi, informasi ini masih merupakan informasi spekulatif. Masih banyak energi yang diperlukan untuk membuktikan teori ini. Bagaimanapun fakta dan bukti yang muncul sampai saat ini, para ahli masih percaya bahwa tempe adalah makanan asli bangsa Indonesia (Jawa), yang kemungkinan besar diperkenalkan dari tradisi China yang telah mengenal sistem fermentasi kedelai dari zaman dulu. Sebagai jajahan Belanda, makanan ini di kemudian hari diperkenalkan ke Eropa dan meluas ke seluruh dunia.

Dari tempe, saya ingin mencoba mengajak pembaca untuk bicara mengenai becak. Saya ingin memberi kuis sederhana untuk Anda semua. Apa kesamaan becak dan tempe? Kalau perbedaan tentu saja kita tahu bahwa yang satu kendaraan umum dan yang satu adalah makanan. Tapi, satu benang merah yang dapat kita tarik bersama adalah keduanya adalah lambang “wong cilik” dalam masyarakat Indonesia.

Hampir semua orang kenal becak karena tersebar di penjuru Indonesia. Orang yang tidak memiliki keahlian kerja, tidak memiliki pendidikan, seringnya akan lari menjadi tukang becak. Jadi? Ya, becak hampir mirip dengan tempe, yaitu menjadi lambang kehidupan orang miskin dan tidak mampu. Sedemikian burukkah becak?

Sebaiknya, bangsa Indonesia mengakui, ketika berada di daerah perkotaan di Indonesia, becak beserta tukang becaknya adalah suatu komunitas yang memudahkan kehidupan kita semua. Bayangkan Anda hidup di Tokyo, sebuah kota metropolitan itu. Sistem transportasi di Tokyo memang luar biasa dan sangat sistematis. Jika Anda bukan termasuk golongan orang kaya yang biasanya naik taksi setiap hari, atau memiliki mobil kendaraan pribadi, sudah dapat dipastikan Anda harus jalan kaki dari jarak stasiun kereta api ke rumah kediaman Anda. Kadang, jaraknya juga tidak pendek. Ketika saya sedang tinggal di negara yang cukup maju, becak adalah satu benda yang sangat saya rindukan. Becak adalah transportasi murah, sederhana, dan mudah (meski kadang proses tawar menawarnya tidak mudah).

Nah, sama dengan tempe, meski becak adalah barang yang sangat umum dalam masyarakat kita, belum ada dokumentasi dan studi yang layak untuk apresiasi kita terhadap benda yang satu ini. Saya masih menawarkan studi yang sama, studi tentang sejarah becak. Kapan becak ditemukan dan dari mana asal-usulnya. Telah diklaim secara luas bahwa becak dalam bahasa Indonesia kemungkinan besar dari bahasa Hokkien, be chia yang berarti kereta kuda. Dalam bahasa Jepang basha, tampaknya mirip, yang jelas tulisannya sama. Dalam bahasa Inggris, becak dikenal dengan nama rickshaw.

Dan, dari berbagai sumber diketahui bahwa becak ditemukan di Jepang dengan nama aslinya, jinrikisha (kendaraan yang ditarik dari tenaga manusia). Coba bandingkan dengan nama rickshaw yang mirip itu. Meski jelas bahwa becak ini merupakan kendaraan temuan di Jepang, namun masih terdapat kontroversi dari beberapa sumber. Prototype becak ada di sebuah lukisan di Perancis pada abad ke-17. Rickshaw atau jinrikisha muncul di Jepang pada tahun 1868 awal tahun Meiji.

Setelah mencoba berselancar di dunia maya dan bertemu di Wikipedia, disebutkan bahwa sumber-sumber dari Amerika menyebutkan, warga tukang besi Amerika, Albert Tolman menciptakan rickshaw pada tahun 1848 di Worcester, Massachusetts, untuk seorang misionari yang pergi ke Jepang. Sumber lain menyebutkan, Jonathan Scobie seorang misionari Amerika yang mengangkut istrinya yang sakit di jalanan Yokohama. Tapi, sumber lain mengatakan Izumi Yosuke pengusaha restoran di Tokyo pada tahun 1869. Tapi yang jelas, pemerintah Jepang memberikan lisensi tiga orang Jepang; Izumi Yosuke, Suzuki Tokujiro, dan Takayama Kosuke untuk pembuatan rickshaw di Tokyo.

Sejak tahun 1872, ada 40.000 jinrikisha beroperasi di Tokyo. Semenjak itu, rickshaw menjadi alat transportasi umum yang merakyat. Apalagi tenaga manusia lebih murah dibandingkan dengan biaya pemeliharaan kuda. Saat ini, jinrikisha masih banyak ditemukan di tempat-tempat pariwisata. Becaknya bersih dan ditarik oleh pemuda atau pemudi yang juga wangi dan bergaya masa kini. Dan tentu saja, harga sekali naik becak Jepang seharga 3.000 yen atau setara dengan Rp 300.000. Bandingkan saja harga naik becak di Indonesia.

Becak versi Jepang ini berbeda bentuk dengan becak roda tiga yang ada di Indonesia. Becak versi ini awalnya adalah beroda dua dan ditarik oleh tenaga manusia dari arah depan. Beda dengan becak yang ada di Indonesia saat ini, rata-rata beroda tiga (kecuali bentor atau becak motor yang terdapat di beberapa kota di Indonesia), meski bentuk berbeda-beda di setiap kota dan daerah. Becak-becak di Makassar, biasanya berbentuk lebih sederhana dan ringan sehingga memungkinkan pengendaranya bergerak dengan gesit.

Bandingkan dengan becak di Yogyakarta yang memang tampak lebih nyaman dibandingkan dengan becak di daerah Makassar. Becak Yogyakarta berbentuk lebih besar, penumpang lebih terlindungi dari panas, dan dengan suspensi yang lebih nyaman. Karakteristik tukang becaknya juga berbeda-beda. Ternyata, kita punya varian becak yang berbeda-beda, bukan? Saya membayangkan ada buku yang membahas lengkap tentang sejarah dan serba-serbi becak di Indonesia. Inginnya, itu ditulis dan dikaryakan oleh putra bangsa kita sendiri.

Ada beberapa teori dengan sumber berbeda menyebutkan sejarah becak di Indonesia. Francis Warren, seorang sejarawan ahli Singapura menulis dalam bukunya berjudul Jakarta pada Saat Ini dari Singapura pada tahun 1914, itu menurut salah satu catatan arsip di Singapura. Namun, sumber lain mengatakan hal yang berbeda. Menurut Yoshifumi Azuma, sumber lain mengatakan becak diperkenalkan dari Hong Kong atau Singapura. Tapi, koran berbahasa Jepang Jawa Shimbun terbitan 20 Januari 1943 menyebutkan, becak diperkenalkan dari Makassar ke Batavia pada akhir tahun 1930-an. Nah, lho..!?

Catatan seorang jurnalis Jepang—yang menulis perjalanannya ke berbagai daerah di Indonesia termasuk Makassarberjudul berjudul Pen to Kamera terbitan 1937-an menyebutkan, becak ditemukan orang Jepang yang tinggal di Makassar. Orang Jepang ini adalah salah seorang pemilik toko Jepang bernama Seiko-san. Pada saat itu, becak sering disebut sebagai tega roda (tiga roda). Pasaran sepeda sedang jenuh saat itu. Tumpukan sepeda yang tidak terjual membuat pemilik salah satu toko Jepang itu memutar otaknya. Akhirnya, dibuatlah roda tiga itu untuk mengurangi stok sepeda.

Kebenaran catatan ini masih perlu diteliti lebih lanjut. Dari sebuah dokumen inventarisasi mantan anggota toko Jepang menyebutkan, bahwa toko-toko Jepang di Makassar didominasi oleh toko sepeda. Jadi, kemungkinan becak merupakan inovasi orang di Makassar, belum tentu salah. Lagi pula, melihat bentuk fisik becak di Makassar yang lebih menyerupai dua buah sepeda yang digabung menjadi satu. Tapi, sejarah becak masih menyimpankan misteri bagi kita semua.

Profesor Yoshifumi Azuma peneliti perubahan sosial dari Jepang, yang menulis buku berjudul Abang Beca: Sekejam-kejamnya Ibu Tiri Masih Lebih Kejam Ibu Kota, juga cenderung percaya bahwa becak berasal dari Makassar. Masih diperlukan penmbuktian dan penelitian lebih lanjut.

Sekali lagi, saya ingin kita menelusuri jejak sejarah becak. Jangan bosan dengan kata kunci becak ini, ya? Selain masih kontroversial juga masih belum ada dokumentasi yang jelas tentang barang wong cilik ini. Seandainya becak berperan bagi pembagian kursi di DPR mungkin sejarahnya akan jauh lebih diperhatikan oleh para petinggi kita. Buktinya, sebagian becak dibuang di Teluk Jakarta, yang menunjukkan petinggi Indonesia kesal dengan barang yang satu ini. Sejarah orang biasa memang masih belum diperhatikan.

Tempe dan becak adalah dua benda milik (kemungkinan besar asli) bangsa Indonesia. Sayangnya, suka atau tidak suka, penulisan sejarah menurut ahli sejarah masih cenderung menuliskan sejarah politik, sejarah negara, dan mungkin bisa dikatakan sejarah yang berpihak ke penguasa. Tempe dan becak memang bukan hanya milik penguasa dan petinggi bangsa, meski bukan tidak mungkin mereka pun pernah menikmatinya. Tempe dan becak adalah milik kita bersama, bangsa Indonesia.

Sudah saatnya, kita sebagai bangsa Indonesia turut saling bahu-membahu mengapresiasi tempe dan becak dalam kehidupan kita. Banyak cara untuk mengapresiasinya. Salah satu caranya adalah dengan turut serta mendokumentasikan dan melacak sejarahnya. Dan, terakhir yang juga terpenting adalah bangga memilikinya dan memberdayakannya. Saya ingin mengutip slogan iklan sebuah provider ponsel nasional, “Mau?”[mspa]

* Meta Sekar Puji Astuti adalah penulis buku Apakah Mereka Mata-Mata? - Orang-Orang Jepang di Indonesia 1868-1942. Lulusan Sastra Jepang UGM dan menyelesaikan studi masternya di Ohio University, Amerika Serikat. Tercatat sebagai staf pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Jurusan Sastra Jepang, Universitas Hasanuddin. Ia pernah menjadi peneliti tamu di Keio University tahun 2008-2009 disponsori oleh The Japan Foundation. Saat ini tengah menempuh studi S-3 di Keio University, Tokyo, Jepang. Selain akademisi dan peneliti, ia juga seorang ibu rumah tangga biasa dengan dua orang anak yang peduli dengan pendidikan bangsa untuk penyadaran identitas diri bangsa Indonesia. Meta dapat dihubungi melalui pos-el: meta_mks[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.7/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

One Response to “Becak dan Tempe: Sebuah Ajakan Menyejarahkan Pusaka Wong Cilik Kita”

  1. Herman Says:

    Tulisan yang menarik bu Meta..
    memang kita perlu juga menggali sejarah budaya dan keanekaragaman yg ada dari bangsa Indonesia.. Dan bu Meta sudah melakukannya melalui tulisan2 di blog..

    btw, kalau boleh bertanya, apakah benar makanan lokal penduduk Papua itu tempe? saya pernah tinggal di Papua dan rasa2nya pada tahun2 itu tempe belum ada, dan baru dikonsumsi khususnya oleh pendatang2 dari Jawa.. ;)

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a Reply

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox