Beban dalam Bayang-bayang Kesuksesan
Editor | Kolom Lepas | August 18th, 2009
Oleh: Lily Choo*
Ada yang mengatakan, “One half knowing what you want is knowing what you must give up before you get it.“ Apa artinya, sih? Seorang teman saya hingga sanggup mencari dan memaksa saya duduk, minta dijelaskan maksud quotation yang saya kirim kepadanya via SMS itu. Buat saya, kata-kata tersebut—dalam artinya—hingga membuat air mata bisa menetes. Tahu betapa lemahnya saya dalam mendapatkan apa yang sangat-sangat saya mau. Saya tak mampu menggapainya atau menerimanya, karena saya tak mampu pula melepaskan apa yang ada di tangan saya saat ini. Ada kekhawatiran dan tak kuasa melepaskan apa yang sudah sekian lama dinikmati dan dihasilkan, hanya untuk mengejar mimpi yang indah di hadapan saya.
“Mau apalagi sih, lu?” tanya seorang teman ketika saya membagikan mimpi-mimpi saya. “Apa lagi yang kurang? Tidak pernah puas, ya? Lihat yang lu punya deh. Banyak lagi yang lebih sengsara daripada lu. Udah, jangan serakah lu!” Dan, banyak lagi kata yang dipertanyakan dan dilontarkan. Semuanya baik dan mengingatkan keadaan nyata saya saat ini. Luar biasanya, bukan oleh sanak saudara, teman-teman, tetapi oleh diri saya sendiri. Saya pun meragukannya di dalam hati dan pikiran.
Saya melihat dream board sendiri dan terlihat gambar-gambar berikut:
1. Petronas Twin Tower: Maksudnya saya ingin sekali berdiri dengan kukuh dan megah (alias mau jadi penulis terkenal), tidak mau jadi yang biasa-biasa saja. Hidup cuma sekali, jadi janganlah hidup biasa-biasa saja. Kalau mau dingin, ya dingin sekali. Kalau suka panas, ya panas sekali. Jangan suam-suam kuku atau que sera sera.
Sambil menatap dream board itu saya melihat diri sendiri: “Punya angan-angan kok muluk benar…! Sekarang saja waktu lu habis buat mencari sesuap nasi. Mau cari segenggam berlian? Kapan? Gimana? Apa enggak lebih baik memfokuskan waktu lu untuk menambah nasi lu dengan sayur dan lauk pauk? Tangan lu cuman ada dua. Waktu lu sehari hanya 24 jam. Tidur saja butuh 6-8 jam. Belum lagi lu suka chatting di komputer. Habis berapa jam itu? Bahasa lu enggak becus, ngawur, alirannya enggak jelas! Jarang nulis lagi! Enggak ada yang mau koreksi juga. Gimana bisa maju dan jadi penulis beneran, apalagi jadi terkenal? Terkenal ngawur juga ada!”
2. F1 Ferrari Team: Maksudnya saya punya team yang solid dan kompak dalam bisnis saya. Plus saya ini adalah Schumacher, driver yang dipanuti dan disayangi. Jadi leader dalam bisnis saya.
Untuk jadi leader seperti ini, “Saya mesti praktikkan apa yang dikhotbahkan atau bicarakan, dan khotbahkan atau bicarakan hanya apa yang dipraktikkan.” Banyak habits yang mesti dilepaskan. Saya sudah melepaskan kebiasaan “h“, tetapi masih memiliki kebiasaan lainnya “a bits“. Saya lepaskan kebiasaan berikutnya “a”, tetap saja saya masih punya “bits“. Lepaskan pula kebiasaan “b“, saya masih punya “its“. “ABCDEFB… aduh cape deh eike…fuih gubrak!…“. Ternyata banyak sekali kebiasaan jelek yang mesti dibuang.
3. Bikini: Mimpi saya adalah pakai bikini lalu mampu berjalan dengan pede-nya dari pantai di Kuta hingga pantai di Hawai. Ini dia yang menarik. Bukan hanya untuk laki-laki, tetapi juga kaum perempuan yang sudah punya anak. Namun buat saya, dan menariknya, dari sejak dilahirkan, balita, remaja, hingga umur 20-an saya ini masuk golongan “chubby” dengan bentuk yang tidak proporsional. Pear shape (bila beli jeans, pinggang boleh masuk tetapi pinggul tidak!) hingga punya kaki seperti pemain sepakbola (ini kata suami, makanya saya sepak dia sekali-sekali hahaha…).
Gawatnya, saya ini tergolong yang doyan banget makan pisang goreng, lumpia goreng, ayam goreng fried chicken, kerupuk udang, durian, semuanya yang goreng dan berminyak. Makanan sehat itu tidak enak ya. Plus, malas berolahraga!!! Padahal, olahraga juga hanya memakan waktu sepuluh persen dari hari yang saya punyai. Itu saja susah, ya?!
Oopss, ada lagi beberapa gambar di dream board saya, tetapi untuk mendapatkannya saya harus membuang beberapa muatan yang sudah saya miliki, yang buruk maupun yang sudah mapan. Untuk terkenal jadi penulis, saya harus meluangkan waktu untuk menulis setiap hari, sekalipun cuma sebait. Bila sudah duduk di depan komputer, malah yang dikerjakan yang lain duluan.
Untuk jadi leader yang dipanuti, terlebih dahulu saya harus meluangkan daya, waktu, pikiran, dan emosi dalam meraih kesuksesan sendiri, mempraktikkan apa yang disebut leadership skills, memperkaya pengetahuan, dan menstabilkan emosi. Banyakan, waktu habis untuk ikut training motivasi sana-sini plus baca buku saja. Praktiknya mana?
Untuk bisa pakai bikini hahaha…. Saya harus meluangkan waktu dan membiarkan keringat dikuras di gym. Makanan yang masuk ke dalam mulut harusnya yang bukan junk food, oily food, dan diganti dengan menggigit buah atau mengunyah segala macam sayuran. Sudah tahu mesti rajin pakai galvanic spa untuk menghilangakn selulit, tetapi masih saja pakai alasan tidak punya waktu dan malas.
Teringat si bungsu ketika berumur tiga tahun. Bila dia melihat mainan yang sangat menarik hatinya ada di hadapannya, dia tak akan ragu melepaskan mainan yang ada di tangannya, lalu lari hanya demi meraih yang sangat menarik di hatinya, yang ada di depannya. Bila dia tak mau melepaskan yang ada di tangannya saat itu, yang dilakukan adalah “Mummy, please help me to get it.“ Saya bantu mengambilnya, sambil nyeletuk, “So what now?”
Dia bengong tanda tak mengerti.
“Do you really want this?” tanya saya.
Matanya berbinar-binar dan dia manggut-manggut.
“Then, how do you want to play this if you are still holding the old ones?” tanya saya lagi.
Tak ada kata lainnya, hanya tangannya bekerja melepaskan semua yang ada ke lantai dan meraih apa yang dia mau dari tangan saya. Dan, saya pun belajar dari situ. Saya sudah membuang beberapa muatan (waktu makan dan tidur), sambil memandang gambar Petronas Twin Tower.[lc]
* Lily Choo adalah seorang pebisnis perempuan berusia 37 tahun yang lebih sering beredar di antara Jakarta, Malaysia, dan Singapura. Ia berminat pada bidang leadership, anak-anak, wisata, menulis, dan kesehatan. Lily dikarunai dua anak perempuan yang cantik yang senantiasa menjadi inspirasi hidupnya. Lily mengaku sebagai perempuan biasa yang punya mimpi besar untuk menjalani hidup yang luar biasa serta menjadi inspirasi bagi semua perempuan di seluruh penjuru dunia.
Leave a Reply