Bangsa Besar Masyarakatnya Mampu Antre
Editor | Kolom Lepas | November 18th, 2009
Oleh: Eddy Sunyoto*
Apabila akhir-akhir ini kita sering melihat barisan orang sedang mengantre, baik minyak tanah maupun sembako, itu bukanlah merupakan ’latihan’ menjadi bangsa yang besar seperti premis yang menjadi judul tulisan ini. Sesungguhnya, antre dapat menjadi indikator bahwa suatu bangsa dapat menjadi bangsa yang besar atau tidak.
Antre merupakan aktivitas yang paling sederhana untuk menghargai dan menghormati orang atau sesama. Siapa pun yang hadir atau ada lebih dulu, dialah yang seharusnya mendapat bagian yang lebih dulu juga. Sungguh sangat sederhana, tetapi di sana tercermin sikap yang sangat mendasar untuk hidup bersosial dan bermasyarakat. Ada pengakuan dan penghargaan terhadap hak orang lain. Ada gambaran akan kepatuhan atas aturan dan hukum. Ada ketertiban dan disiplin. Ada kesabaran. Tidak ada egoisme. Tidak ada kesewenang-wenangan.
Dalam keseharian, kita dapat amati betapa tidak tertibnya ketika, misalnya, kita mau masuk di lift atau antre menunggu lampu lalu lintas dari merah ke hijau, ataupun menunggu angkutan umum. Lihat bagaimana kacau dan berebutnya ketika pintu lift terbuka, ketika lampu merah berubah hijau, atau ketika metromini yang kita tunggu muncul. Semua seolah tak peduli dengan yang lain. Yang penting masuk duluan, jalan duluan, atau naik duluan. Itulah keseharian yang kita amati, rasakan, dan kita lakukan.
Salah satu penyebab budaya tak mau antre adalah adanya rasa ketidakpastian dan jaminan hukum untuk memperoleh hak kita. Juga faktor egoisme yang tidak mau peduli kepada orang lain. Dan, tentu saja malas serta keengganan memenuhi aturan atau norma. Sifat-sifat dasar dari perilaku peradaban yang primitif itulah yang menyebabkan mengapa bangsa yang tidak mau antre mustahil bisa menjadi bangsa yang besar, maju, dan beradab.
Sebenarnya, sarana latihan untuk melakukan antre selalu ada di setiap kesempatan dalam kehidupan bersosial, seperti contoh-contoh di atas. Tetapi, tanpa penyadaran yang ditanamkan sejak dini, ternyata orang sangat sulit untuk menjadi pelaku antre yang baik.
Pendidikan dan contoh-contoh tentang perilaku antre ini sejak usia balita mestinya sudah harus diperkenalkan. Sehingga, di masa dewasanya sudah tertanam kesadaran tentang arti pentingnya antre, yang pada akhirnya akan bermuara kepada ketertiban dan disiplin. Dan, hal ini adalah syarat untuk menjadi bangsa yang besar dan maju.
Pada beberapa institusi tertentu, misalnya di bank, saat ini disediakan ’fasilitas’ untuk antre berupa nomor yang harus diambil dari ’mesin antre’, dan dengan bantuan komputer nasabah akan dipanggil sesuai urutan dan di counter mana mereka akan dilayani. Sistem seperti ini memaksa orang untuk antre dan tidak melihat adanya nasabah ’VIP’ yang harus didahulukan untuk dilayani. Semua nasabah adalah very important person.
Di sisi yang lain, justru dalam acara sosial seperti upacara resepsi perkawinan terjadi contoh yang tidak baik. Kita sering melihat antrean panjang untuk bersalaman dengan mempelai yang tiba-tiba harus berhenti dan memberikan kesempatan kepada ’tamu VIP’ untuk didahulukan. Alasannya, sebagai orang Timur kita harus memberikan penghormatan kepada yang lebih senior, yang lebih tinggi jabatannya, yang ningrat, dan seterusnya.
Bukankah itu juga merupakan pencerminan adanya sikap feodalisme, perbedaan kelas, dan tidak demokratis? Hal ini juga merupakan indikasi sulitnya sebuah bangsa untuk menjadi besar.
Itulah perilaku antre, kegiatan yang sangat sederhana tetapi ternyata mempunyai makna dan pengaruh yang sangat besar terhadap kemajuan dan bahkan budaya suatu bangsa. Alam mengajarkan kepada kita bukan melalui hal yang muluk-muluk untuk suatu pembangunan karakter bangsa atau nation and character building tetapi cukup dengan melakukan hal kecil dan sepele yaitu antre.
Sederhana bukan? Mari kita tunjukkan bahwa kita mampu untuk menjadi bangsa yang besar dengan hal yang sepele: antre![es]
* Eddy Sunyoto saat ini bekerja sebagai Widyaiswara di Departemen Pekerjaan Umum, salah satu jabatan fungsional pada PNS yang tugas utamanya adalah mengajar, mendidik dan melatih. “Profesi yang paling mulia setelah nabi”, katanya. Lahir pada 20 Juni 1953, mengantongi ijazah S1 di bidang teknik sipil dan S2-nya sistem dan teknik jalan raya. Ditengah kesibukan pekerjaannya (dan tuntutan profesi) masih menyempatkan diri untuk terus belajar menulis. Tentunya tulisan yang lebih panjang dari sekedar pesan pendek. Dapat dihubungi di surat listrik: e_sunyoto[at]yahoo[dot]com.

November 20th, 2009 at 9:36 am
selain ketidakpastian dan gak da jaminan hukum untuk memperoleh hak kita ketika ngantre, ada satu hal yang sering kita lupakan atau memang kita gak menyadarinya. yaitu…. Bahwa Allah gak kan pernah salah alamat tuk bagi rizqi-Nya…. Kalau kita dah yakini itu, pasti kita rela dan ridho tuk ngantre……