Bahayanya Ucapan Negatif
Editor | Kolom Lepas | April 6th, 2009
Oleh: Ingrid Gunawan*
“It’s only words. And words are all I have to take your heart away.”
~ Bee Gees
Kata-kata itu dengan mudah, lancar, dan otomatis meluncur dari mulut saya, “Bego amat, sih! Begitu saja enggak bisa! Dasar… enggak selamat, lu!” Kata-kata yang menyakitkan buat orang yang mendengar dan menerimanya. Itu dulu, ketika saya belum mengerti kekuatan sebuah ucapan. Kalau mengingatnya sekarang, menyesal saya. Mengapa harus mengatai orang seperti itu? Mungkin, dia juga tidak sengaja melakukan kesalahannya. Dan, kalaupun dia memang bodoh, kan itu bukan keinginannya sendiri?
Kita sering kali tidak sadar, betapa kata-kata yang diucapkan sangat besar pengaruhnya dan mempunyai kekuatan. Sekarang ini, sudah banyak pakar psikologi yang membahas mengenai kata-kata yang diucapkan berulang-ulang akan tertanam di otak, dan akhirnya akan berpengaruh terhadap tingkah laku orang yang menerima kata-kata tersebut.
Contohnya, anak yang selalu dikata-katai bodoh oleh orangtuanya. Lama-kelamaan anak itu akan benar-benar menjadi bodoh. Mungkin, sebenarnya anak tersebut tidak bodoh. Tetapi, karena selalu dikata-katai bodoh, secara berulang-ulang, akhirnya anak meyakini, menerimanya, serta mematahkan semangatnya. Sehingga, dia tidak berani mencoba serta menganggap dirinya memang sudah bodoh. Anda mau mencobanya kepada anak Anda? Seram sekali, yah…. Kalau saja kita mengerti, betapa kata-kata itu begitu kuat dampaknya terhadap seseorang.
Ketika saya menceritakan dengan kesal tentang seorang teman yang menyebalkan, teman saya berkata, “Jangan ngomong begitu. Kita jangan suka mengeluarkan kata-kata kosong.” Saya tidak mengerti apa maksudnya kata-kata kosong. Dia jelaskan, bahwa kala berbicara kita jangan suka mengeluarkan kata-kata kasar, mengumpat orang, mengeluh, dan kata-kata lain yang tidak ada artinya alias sia-sia. “Oh, maksudnya begitu, toh!” Jadi, sekarang saya ingat, kalau ingin mengekspresikan kekesalan terhadap seseorang, saya menahannya di ujung lidah. “Seeeeh…,” tanpa kata-kata. Kalau dipikir-pikir, memang tidak baik berkata kasar, tidak ada manfaatnya.
Bagaimana kalau kita yang dikata-katai orang, apakah kita perlu membalasnya? Tentu saja tidak perlu. Kita memang tidak bisa menahan mulut orang untuk tidak berkata kasar, karena mulut itu mulutnya sendiri. Yang bisa kita lakukan, sebaiknya ya hindari orang tersebut. Tidak perlu diladeni dan biarkan saja dia berkata-kata. Yang penting kita tidak memasukkannya ke dalam hati kita. Kita tolak kata-katanya. Hal ini saya lakukan walau awalnya sukar, tetapi setelah latihan beberapa kali, bisa tuh.
Kita tahu, saat ini keadaan ekonomi lagi sukar. Biasa, kalau orang lagi menawar sesuatu, maka keadaan sulit dijadikan alasan agar harga bisa dikurangi. Saya langsung saja bilang, “Keadaan sulit jangan diamini Pak, nanti dia enggak mau pergi-pergi. Habis disebut-sebut terus!”
Tadi, waktu saya memeriksakan ban mobil saya, tukang tambal ban memberitahukan, “Bu, bannya sudah tipis. Takut nanti kalau di jalan tol meledak.” Langsung saja saya tolak, “Yah, jangan dong!” Tukang bannya tersipu-sipu, “Eh, enggak, sih!”
Jadi, mana yang lebih tepat, pepatah “lidah tak bertulang” atau “silent is golden” (diam adalah emas)? Asal bukan diam berarti bisu? Semua pokok pangkalnya adalah lidah dan mulut. Ucapan kita bisa menjadi berkat atau penuh kutukan, karena ucapan yang kita keluarkan didengar Tuhan dan setan. Seperti ada tertulis, yang berbahaya itu bukan apa yang masuk ke dalam mulut, tetapi apa yang keluar dari mulutlah yang berbahaya, karena dari hatimulah mengalir air kehidupan. Kalau hati kita jahat, yang ada kita selalu mereka-reka hal-hal yang negatif. Tetapi, kalau kita memikirkan yang baik, yang keluar adalah hal-hal positif.
“Hati-hati lho sama dia, orangnya suka memutar balik kata-kata,” demikian peringatan yang disampaikan oleh teman saya. “Ngomong sama saya begini, nanti ngomong sama kamu begitu. Kita diadu domba,” dia meneruskan. Saya diam saja mendengarkan, karena prinsipnya saya tidak akan mengiyakan pendapat seseorang tanpa tahu dan mengalaminya sendiri. Kalau sudah mengenal dan merasakannya, baru saya akan berkesimpulan, memang orang itu seperti yang dia katakan.
Memang, setelah mendapat tugas baru di bagian marketing, saya menjadi lebih banyak berhubungan dengan orang-orang di luar perusahaan, yang mempunyai berbagai macam sifat dan latar belakang. Betul, kita harus lebih berhati-hati agar tidak terjadi kesalahpahaman dan disalahmengertikan.
Pernah satu kali saya menangani seorang client yang mempunyai masalah pembayaran. Ketika saya menghubunginya, mula-mula biasa saling bertukar sapa, apa kabar. Namun, ketika pembicaraan mengarah ke persoalannya, tensi menjadi tinggi. Dia bilang, “Saya ini orang tua. Mana mungkin bohong,” katanya. Padahal, tidak ada satu kata pun yang mengindikasikan saya mengatakan dia berbohong. Tetapi rupanya, untuk meyakinkan saya dia perlu berkata seperti itu. Dalam hati saya berkata, “Bukan orang tua saja yang tidak boleh berbohong. Orang muda pun tidak boleh bohong. Berbohong kan tidak ada diskriminasi…?”
Kalau kita menonton film detektif Barat, ketika seseorang akan ditangkap, kata pertama yang diucapkan oleh polisi yang menangkap adalah, “You may remain silent and keep it silent until…,” karena dengan ucapan orang dibenarkan, dan dengan ucapan pula orang akan dituntut.
Tahukah Anda bahwa ucapan yang sudah terlanjur dilontarkan tidak bisa ditarik kembali? Ketika suatu ucapan sudah kita utarakan, apakah itu gosip atau fakta, sekali sudah didengar orang pasti tidak bisa ditarik kembali. Bahkan, itu bisa menyebar dan melebar ke mana-mana. Apalagi kalau hal itu mengenai sesuatu yang buruk. Sering kali kita mendengar istilah “tembok bertelinga”. Tentunya, itu bukan benar-benar tembok punya telinga. Maksudnya, kalau berita buruk, meskipun tidak pakai pemberitahuan sirkulasi, eh tahu-tahu sudah menyebar. Bagaimana penyebarannya? Sulit dilacak awalnya. Padahal, sudah dipesankan, ”Ini rahasia, lho! Just for you and me….” Nah, siapa yang you, siapa yang me?
Istilahnya, ludah sudah keluar; sulit untuk dihapus. Hati yang terluka karena ucapan kasar, meskipun kita sudah memohon maaf, namun perihnya hati yang tergores memerlukan waktu untuk mengering, tidak secepat ketika mengatakannya. Oleh karena itu, hati-hatilah mengeluarkan ucapan, terutama kepada orang yang dekat, yang kita kasihi.
Peringatan, “Jangan sembarangan berkata” adalah lebih mudah untuk dikatakan daripada dilakukan. Ketika perbuatan seseorang tidak menyenangkan atau tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan, dengan serta merta terlontar umpatan, bahkan kutukan. Oleh karena itu, jangan sampai mulut kita membawa kita ke dalam dosa, “Oh, kejamnya mulut ini!”
Itulah hebatnya kata-kata, tepat sekali istilah WoM, words of mouth. Iklan berjalan ini sangat efektif. Kalau kita berjualan sesuatu dan ingin iklan yang murah, tetapi besar pengaruhnya, sebarkanlah dengan WoM. Mulut manusia itu besar sekali pengaruhnya dan orang lebih percaya ketika yang mengatakan adalah temannya sendiri. Apalagi kalau ditambahi bumbu, “Ini pengalaman saya sendiri, saya sudah cobain, enak tenan, murah lagi, enggak rugi, deh!”
Saya pernah membaca stiker, yang ditempelkan oleh pemilik hotel kecil di luar kota tempat saya menginap. Tulisan itu berbunyi, “Apabila anda senang dengan pelayanan kami, beritahukan teman-teman Anda. Namun, apabila Anda kecewa dengan pelayanan kami, beritahukanlah kami.” Orang yang punya hotel ini memahami benar rekomendasi WoM.
Lidah dan mulut adalah organ tubuh yang tergolong kecil dalam tubuh manusia. Namun, mereka berfungsi sangat besar. Oleh karena itu, jagalah lidah dan bibir Anda terhadap yang jahat dan terhadap ucapan-ucapan yang tak berguna. Selamat menjaga mulut Anda, eh ucapan Anda.[ig]
* Ingrid Gunawan adalah seorang executive secretary sebuah perusahaan swasta. Meminati bidang tulis-menulis, aktif dalam pelayanan sosial, dan ia dapat dihubungi melalui email: ingridguna[at]yahoo[dot]com.
December 7th, 2011 at 4:51 pm
mantab…..