Bahagia Tanpa Syarat

gnOleh: Guntur Novrizal*

Tulisan ini saya mulai dengan cerita tentang seorang tokoh bernama Nasrudin. Pada suatu hari, Nasrudin mencari sesuatu di halaman rumahnya yang penuh dengan pasir. Ternyata, Nasrudin sedang mencari jarum. Melihat Nasrudin yang sedang kebingungan, tetangganya merasa kasihan, akhirnya ia ikut membantu mencari jarum tersebut. Tetapi setelah sekian lama mereka mencari, jarum itu tidak ditemukan juga.

Dengan nada penasaran tetangganya bertanya,Memang jarumnya jatuh di mana?”

Dengan enteng Nasrudin menjawab,Jarumnya jatuh di dalam.

Lalu tetangganya bertanya lagi,Kalau jatuhnya di dalam, kenapa mencarinya di luar?”

Nasrudin menjawab dengan ekspresi tanpa dosa,Karena di dalam gelap, di luar kan terang…?

Cerita di atas bisa menjadi cermin bagi kita, seperti itulah yang sering kita lakukan untuk mencari kebahagiaan dalam hidup. Sering kali kita mencarinya di luar sehingga akhirnya tidak menemukan apa-apa. Sedangkan daerah di mana kebahagiaan itu bisa ditemukan justru luput dari pantauan kita.

Terlalu sering kita larut dalam perbandingan diri kita dengan orang lain. Yang tampak, seolah-olah rumput halaman tetangga selalu lebih hijau dibanding halaman kita. Seakan hati tidak terima kalau tetangga, teman, atau saudara kita mendapatkan pencapaian yang lebih baik dari kita. Berat rasanya hati untuk bisa bahagia kalau melihat hal tersebut. Apalagi bila ingat masa lalu posisi mereka di bawah kita, baik secara intelektual dan materi.

Ada lagi satu hal yang berbahaya dan bisa menyebabkan seseorang susah bahagia maupun mencapai kesuksesan. David J. Schwartz menyebutnya itu sebagai penyakit dalih yang banyak diderita oleh orang yang tidak bahagia dan tidak sukses. Karena, semakin banyak syarat yang kita tentukan untuk bahagia, akan semakin sulit bagi kita untuk bahagia. Semisal, kita akan merasa bahagia kalau sudah punya rumah sendiri sehingga kita bisa tenang menempatinya. Nyatanya, setelah kita punya rumah, kita juga tidak lantas bahagia karena kebahagiaan kita sudah berbeda lagi ukurannya. Begitu seterusnya sampai kita tidak pernah menemukan kebahagian karena syarat yang kita tetapkan terlalu banyak.

Padahal, mungkin kebahagiaan itu tidak jauh dari diri kita. Cuma terkadang banyak orang tidak sadar dengan itu. Coba kita tengok akan diri kita sekarang! Apa yang kurang dari kehidupan kita sekarang? Kita masih hidup dan ditemani oleh orang-orang yang sangat menyayangi kita. Ada orang tua yang sangat perhatian ke kita. Ada saudara yang akan membantu kita kalau kita mendapat kesusahan. Ada sahabat yang bisa kita ajak berbagi persoalan dalam hidup, seberat apa pun itu. Dan, bagi kita yang sudah punya amanah berupa anak, jaga dan rawat dengan baik. Bukankah tawanya, candanya, atau mungkin tangisnya bisa membuat kita bahagia? Selain itu, kita pun masih diberi kemampuan akal dan pikiran kita untuk bisa berpikir jernih dalam menyelesaikan semua masalah.

Jadikan semua itu menjadi sumber kebahagiaan kita. Cukupkan mereka saja yang menjadi alasan kita untuk bisa bahagia. Kondisi sesulit apa pun sekarang yang menimpa, hadapilah dengan penuh keikhlasan. Lalu, memintalah kepada Tuhan untuk diberikan kekuatan menyelesaikannya. Kunci terakhir untuk bahagia adalah dengan senantiasa mensyukuri atas apa pun yang sudah diberikan Tuhan kepada kita, baik itu berupa orang-orang yang peduli sama kita maupun materi yang sudah kita punya. Tentu dengan tidak mengabaikan bekerja keras lagi agar semua yang kita inginkan bisa tercapai. So, tak ada alasan lagi untuk tidak bahagia. Optimislah Anda memiliki semuanya. Maka, berbahagialah.[gn]

* Guntur Novizal lahir di Brebes pada 11 Noverber 1984. Lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jenderal Soedirman dengan predikat Cum Laude. Ketika masih aktif kuliah dulu pernah menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Akuntansi UNSOED. Sekarang sehari-hari bekerja sebagai Marketing di salah satu Perusahaan Pembiayaan Perbankan di Jakarta. Bisa dihubungi di blog: www.gunturnovizal.tk, pos-el: vizal_jr[at]yahoo[dot]com, HP: 081548865435.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 4.5/10 (4 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 3 votes)

12 Responses to “Bahagia Tanpa Syarat”

  1. Agung Praptapa Says:

    Setuju Mas Guntur, Bahagia Tanpa Syarat! Siiip!

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  2. guntur novizal Says:

    makasih banyak Pak atas comment-nya….

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  3. pangky Says:

    ukuran kebahagiaan selalu dikaitkan dengan materi, padahal ‘kebahagiaan tidak dapat diukur hanya dengan materi’… cara memperoleh kebahagiaan yg kekal tercermin di artikel yg kau tulis gun, sukses terus sahabatku..

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  4. Hendra Winanto Says:

    Tulisan mas membangunkan saya dari sgala keterpurukan akibat ketidakpuasan pencapaian diri.
    Baru ingat betapa besar nikmat yang mesti kita syukuri di semesta ini.
    Terima kasih mas, saya jadi lebih optimis dengan pekerjaan dan kehidupan saya.
    Sukses untuk kita!!

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: +1 (from 1 vote)
  5. guntur novizal Says:

    @pangky: thnks bgt mas pangky sudah meluangkan melongok artikel sya. @Hendra: ya mas, dengan kondisi apapun, tidak ada alasan untuk kita mjd pribadi yang murung, klo ada org BT aja tanpa ada alasan yg jelas…harusnya bahagia juga tanpa mensyaratkan apapun…Salam sukses..

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  6. sita Says:

    kl ada syarat pengen ini n itu emg g bkal bhagia.bener deh.tp..kadang org2 yg qt sayangi mbrikan ’syarat’ tu.misal:Nak,km krja d t4 X ja nti….enak,tnang kdpn na…dst.
    pdhl si anak g mw dstu..n jk sdh bgitu ‘harapan,syarat kbhagiaan’ tu musti d apakan y?
    Tanpa syarat, 1 yg pasti, qt bs ciptakn kondisi yg mbwt bahagia.tanpa ‘ngasorake’ syarat org yg qt sayangi:-)

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  7. guntur novizal Says:

    @sita: susah juga de memang klo dihadapkan dengan kondisi tersebut, krn kadang org tua mensyaratkan sesuatu agar anaknya bahagia..padahal bagi si anak belum tentu itu bisa membuat dia bahagia…Yang ada kita dihadapkan dengan kondisi harus mengikuti keinginan orang tua, agar mereka bahagia. Buktikan saja kita bisa menjadi yg terbaik dimanapun kita berada.
    Karena senyatanya orang tua pasti pnya kebanggaan tersendiri terhadap anaknya (bagaimanapun kondisinya)….

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  8. Antiq Says:

    Thanks ya, Trenyata bahagia itu sumberrnya hanya dari diri kita sendiri,,Insya Allah tetep Optimis,Two thumb up for you Gun!

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  9. castono Says:

    teruskan berjuang kawan mencerahkan masyarakat ya…

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  10. syahri Says:

    top abis artikelya. kebahagian itu memang sumbernya ada pada cara pandang kita sendiri dalam mensikapi hidup,, di tunggu lagi ya motivasinya , semoga terus mengalir deras pada mas guntur n tertular ke kami,,god blezz u

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  11. yayan Says:

    wah, terima kasih banyak mas inspirasinya. saya setuju sekali, terkadang baik untuk kita belum tentu baik untuk orang lain, baik untuk orang lain belum tentu baik untuk kita. tetap bersyukur aja. salam sukses.

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  12. guntur novizal Says:

    @antiq: ya kita tidak usah mencarinya di luar, @castono : makasih pak kades dah berkunjung, @syahri : semoga…..

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a Reply

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox