Badai Pasti Berlalu
Editor | Kolom Tetap | January 9th, 2009
Oleh: Alexandra Dewi*
Setiap kali ada masalah besar di dalam kehidupan kita, biasa teman kita memberi semacam semangat dengan berkata, “Badai pasti berlalu…” yang mana maksudnya, betapa pun beratnya kesulitan atau beban hidup yang kita alami saat ini, layaknya badai... ya, pasti berlalu. Tapi, saya pun berpikir, setelah badai itu berlalu, tentu ada yang namanya after math atau sisa-sisa kerusakan dari hadirnya badai tersebut.
Misal, daerah yang terkena gempa, atau yang terkena banjir, atau tornado. Iya betul, badai, gempa, dan banjir pasti berlalu. Habis gelap terbitlah terang. That, is I know for sure. Tapi, tentu setelah badai ada rumah yang hancur. Setelah banjir, banyak furniture baru yang harus dibeli. Belum lagi penyakit kulit dan lain sebagainya. Itu saja contoh “badai pasti berlalu” dalam arti harfiah.
Bagaimana dengan “badai” dalam kehidupan kita? Itu pun saya yakin, seyakin-yakinnya, pasti berlalu pula. Namun, apa efeknya dalam kehidupan kita setelah badai tersebut berlalu? Bedanya, badai dalam arti harfiah dan badai dalam kehidupan kita, kalau badai dalam arti sesungguhnya tentu lebih banyak kerugian dalam sisi trauma atas kerugian finansial. Karena, misalnya kita harus membangun rumah baru setelah gempa. Sedangkan badai dalam kehidupan kita, misalnya, ditinggal orang yang kita cintai. Atau, tiba-tiba mendapat kabar bahwa diagnosis dokter menyatakan kita terkena penyakit yang cukup kronis. Atau, anak kita kecanduan narkoba, dan hal-hal lain yang sangat menyeramkan untuk dibayangkan.
Tentu, itu semua akan meninggalkan suatu ‘scar’ atau hal-hal yang harus diterima oleh jiwa kita. Kita harus sadar dan kuat untuk terus menjalankan kehidupan ini dengan keyakinan, bahwa semua hal yang terjadi di kehidupan kita pasti ada arti, makna, dan hikmahnya. Dan, kita harus terus menjalankan hidup ini, tetap dengan kacamata yang positif.
Ada seorang kenalan wanita saya yang pacaran dengan pria yang umurnya delapan tahun lebih tua darinya. Teman saya ini datang dari keluarga sederhana. Dan, untuk menunjang kehidupannya, dia bekerja sebagai seorang guru di taman kanak-kanak. Orangtua pacarnya, yang kebetulan dari keluarga berada, ternyata kurang menyetujui hubungan teman saya ini dengan anak mereka.
Wajar, di dunia yang serba materialistis ini, “memungut” mantu saja perlu berpikir keras; apakah sama-sama datang dari keluarga berada atau tidak? Mirip seperti dagang! Padahal, kalau saya pikir-pikir, kalau punya anak laki-laki, wajarlah kalau pastinya laki-laki yang harus keluar modal. Baik dapat mantu anak dari keluarga berada, atau dari keluarga yang kurang mampu. Coba kita sama-sama berpikir, kalau kita punya anak laki-laki, dan mantu (perempuan) kita datang dari keluarga kurang mampu, tentu biasanya yang dikhawatirkan adalah semua harus ditanggung oleh keluarga laki-laki. Mulai dari rumah sampai dengan (mungkin) kebutuhan keluarga mantunya.
Contoh, seperti kenalan saya yang saya ceritakan di atas. Dia harus membagi sebagian gajinya sebagai guru di taman kanak-kanak kepada orangtuanya yang tinggal di kota kecil. OK, misalnya dengan kejadian demikian, keluarga laki-laki akan keluar uang banyak. Karena, selain harus membelikan rumah, ia harus kasih donasi juga ke keluarga mantunya.
Nah, kalau dapat mantu dari keluarga berada (misalnya wanita ini sudah biasa hidup enak karena datang dari keluarga mampu), tentu dia kenal merek-merek terkenal dan pasti sudah biasa pakai barang-barang mahal. Setelah dia menikah, siapa yang harus membelikan barang barang tersebut, kalau bukan suaminya? So, either way, kalau anak kita laki-laki, mau mantu kaya kek, miskin kek, tetap saja ujung-ujungnya suami yang harus keluar duit, bukan?
Anyway, kembali ke teman saya tadi, yang pacaran dengan pria yang datang dari keluarga berada, namun sayang tidak mendapat restu. Tentu, akhirnya mereka harus putus. Buat teman saya yang cimat alias cinta mati terhadap pacarnya, tentu adalah suatu ‘badai’ yang harus dia lalui. Ada masa dia benci orang kaya, ada masa dia benci kenapa dia tidak lahir dari keluarga berada, dan ada masa di mana dia takut jatuh cinta lagi. Lalu, ada pula masa dia malas melihat hari baru, karena setiap hari rasanya seperti zombie, hidup rasanya hampa, dan tidak ada arah maupun tujuan.
Buat kita yang membaca, mungkin kita akan menanggapi dengan, “Yaaa…, gitu aja kok repot?!” atau “Sudahlah, terima nasib!” atau intinya menganggap enteng. Intinya, asal problem itu bukan kita sendiri yang merasakan, tentu kita hanya bisa berempati kira-kira 5 menit lamanya, lalu lupa? Tapi, kalau kita sendiri yang mengalami, 5 menit rasanya seperti 15 menit, alias tiga kali lebih lama dari waktu normal, karena kita yang sedang merana atau menghadapi badai kehidupan.
Setelah masa ‘berkabung’ putus dengan pacarnya, kenalan saya ini mengaku bahwa dia akhirnya bisa mendapat hikmahnya. Ketika saya tanya apa hikmahnya, dia menjawab bahwa hikmahnya adalah, dia tahu bahwa Tuhan akan memberikan dia yang terbaik, lebih dari apa yang dia ketahui. Katanya, “Kalau bekas pacarku itu benar-benar sayang padaku, walau aku datang dari keluarga tidak berada, dan orangtuanya tidak merestui, dia pasti tetap mau memperjuangkan hubungan kami dan rela hidup sederhana sekalipun, daripada kehilangan saya.” Lanjutnya, “Saya yakin, saya akan diberi Tuhan seseorang yang lebih baik untuk saya. Seorang suami yang mengutamakan kepentingan istrinya lebih dari kepentingan dirinya sendiri.”
Saya tanya apakah dia masih benci orang kaya? Dia bilang tidak. Dia bilang, “Benci kepada siapa pun hanya membuat diri sendiri sengsara!” Orang yang kita benci tidak peduli, bahkan tidak merasa apa-apa. Tapi, kita yang membenci akan menjadi orang yang pahit. Yang judulnya pahit ya pasti tidak enak dimakan atau dirasakan.
Saya tanya, “Apakah kamu siap jatuh cinta lagi?” Dia jawabnya, “Tadinya sangat takut untuk jatuh cinta lagi. Jangankan siap, mau jatuh cinta lagi saja rasanya tidak mau. Sekarang, aku tetap masih belum bisa bilang siap. Tapi, aku mau membuka hati, apa yang di masa depan akan terjadi, aku hadapi dengan hati yang terbuka, bukan dengan hati yang terluka.”
Well, badai memang pasti berlalu. Saya harap ketika badai di kehidupan kita berlalu, kita bisa seperti kenalan saya ini, yang tegar menghadapi hidup, menemui kemanisan makna hidup setelah kepahitan yang dilalui. Di dalam kehidupan, pasti kita mengalami masalah; besar, kecil , medium…. Tapi intinya, dalam menghadapi masalah tersebut, pergumulan dalam jiwa kita tentu terjadi. Tapi, kita selalu punya pilihan dalam menghadapinya. Apakah kita ingin menjadi orang pesimis, pahit, dan takut? Atau, kita pilih menjadi orang yang keluar dari suatu masalah dengan menjadi lebih kuat dan bijaksana? Bukan hal yang mudah untuk memilih yang baik dan benar. Namun, pilihan itu selalu ada. There is always a choice, to do the right thing.[ad]
* Alexandra Dewi adalah seorang eksekutif sebuah perusahaan, penulis buku Queen of Heart dan co-writer buku I Beg Your Prada.
Leave a Reply