Awas Jebakan Pikiran Negatif!
Editor | Kolom Tetap | June 16th, 2009
Oleh: Fita Irnani*
Suatu ketika saya pernah menerima pop message melalui jendela Yahoo Messenger saya, “Saya sedang kepikiran,” begitu kira-kira kalimat yang tertera dari seorang teman yang kebetulan sudah pindah bekerja pada perusahaan lain. Sesuai dengan profesi saya, memang tidak sedikit karyawan di kantor yang menumpahkan unek-uneknya kepada saya, termasuk beberapa teman yang sudah keluar dari kantor pun masih membawa kebiasaan curhat ini.
Percakapan dengan teman saya berlanjut. Rupanya, teman ini ‘merasa’ sedang menghadapi masalah, posisinya terancam digantikan oleh orang lain. Saya katakan ‘merasa’, karena dari dialog kami, saya mendapati bahwa dirinya baru sebatas menduga-duga, hal-hal buruk yang bermain dalam pikirannya begitu kuat memengaruhi perilakunya. Pengandainya bahkan membawa kesimpulan mengambil keputusan besar, keluar dari perusahaannya saat ini.
Anda tentu sepakat bahwa masalah akan selalu datang dalam kehidupan manusia. Tidak ada manusia yang tidak pernah mendapat masalah. Kedatangannya tentu saja harus dihadapi, karena sebenarnya, manusia berpotensi untuk menghadapi masalah-masalahnya. Apabila kita runut ke belakang dari mana masalah berasal pun, tentunya kita juga sepakat bahwa masalah yang menghampiri manusia adalah bagian dari scenario Tuhan. Jelas, Tuhan bukan tanpa perhitungan mengirim masalah untuk manusia. Dia tentu sudah menakar kemampuan umat-Nya, seberapa jauh manusia sanggup menghadapi permasalahan. Jika memang demikian, kenapa manusia tidak berpintar-pintar menghadapi permasalahan?
Perilaku yang ditunjukkan teman saya di atas bukan satu kali saya temui. Kadang hanya lantaran ketidakcocokan dengan atasan, ide-ide yang sering ditolak atasan, laporan yang tidak pernah benar, presentasi yang banyak menuai kritik dan tak sekalipun beroleh pujian, solusi yang dinilai tidak tepat sasaran, atau bombardir aneka macam tugas tanpa guidline yang jelas. Kadang karena kesempatan mengikuti training yang tidak singgah untuk kita, atau malah justru diberikan kepada orang lain, sehingga tidak jarang menjadi pemicu orang berpikir buruk tentang masa depannya. Berbagai kesimpulan yang berasal dari dugaan pribadi mulai muncul memenuhi kepala.
Merasa sudah tidak diperlukan, merasa akan dilengserkan, merasa dipojokkan, merasa gagal menjalankan tugas, dan merasakan hal-hal buruk lain yang sesungguhnya tercipta dari pikiran-pikirannya sendiri. Lebih jauh, jika kita dalam kondisi seperti ini, keputusan nekat pun akan dijalani, dari yang diam-diam melancarkan ‘usaha’ mengirim lamaran kerja ke perusahaan lain (saya bahkan pernah menemui print-out CV salah satu karyawan tergelatak di meja kerjanya), terang-terangan melakukan curhat terbuka pada rekan-rekan kerja, atau serta merta menyerahkan surat pengunduran diri. Padahal, permasalahnnya hanya berasal dari duga-duga pikirannya sendiri yang belum tentu kebenarannya.
Cara paling mudah melenyapkan jebakan pikiran-pikiran buruk seperti itu tentu saja harus berpikir kebalikannya, berpikir positif! Memang benar, untuk sebagian orang yang belum terbiasa melakukan hal ini tentu saja akan mengalami kesulitan. Dalam kondisi banyak sekali dugaan-dugaan buruk yang menari dalam pikiran, orang cenderung malas berpikir positif, semua perhitungannya akan bernilai negatif. Pada saat inilah dibutuhkan teman curhat, namun yang perlu diingat tidak semua orang bisa menjadi pendengar yang baik.
Saya pernah menemui tipe orang seperti ini. Setiap ada waktu berkumpul, misal pada saat lunch break, bahasannya adalah permasalahan pribadinya, seperti; ketidakcocokannya dengan atasan, wewenangnya yang mulai dikurangi, kesulitan menafsirkan keinginan atasan, dan yang lainnya. Melampiaskan unek-unek memang diperlukan, tetapi tentu saja perlu dicermati kepada siapa unek-unek itu tumpah terlebih ditempat umum. Perlu berhati-hati mencermati lawan bicara. Kita tidak akan pernah tahu mana lawan bicara yang tulus mendengarkan dan memberikan solusi; mana yang malah memprovokasi dan semakin membenarkan dugaan-dugaan dalam pikiran kita; dan mana yang sebenarnya juga menghadapi permasalahan yang sama yang justru menambah variasi dugaan-dugaan buruk di kepala kita.
Dengan menceritakan pemasalahan kepada orang yang tepat, sedikit banyak akan cukup membantu melegakan perasaan kita. Terlebih jika solusi dan jalan keluar terbaik pun kita terima. Namun, ada kalanya kelegaan kita tidak berhenti sampai di situ. Kita masih perlu menimbang-nimbangnya kembali. Tentu saja, semua keputusan berada di tangan kita sendiri. Dalam kondisi seperti ini, cobalah untuk berdoa.
Berserah diri dan pasrah kepada pemilik kehidupan adalah obat mujarab untuk kebimbangan hati. Dalam kondisi tenang, khusyuk, melepaskan seluruh pikiran buruk dan hanya fokus kepada yang di Atas, yakinlah bahwa semangat baru akan muncul. Sedikit demi sedikit, emosi akan menurun, pikiran positif akan mulai mengenyahkan dugaan-dugaan negatif sebelumnya. Dalam kejernihan pikiran, kita akan dituntun untuk membentuk kesimpulan yang tepat. Segala risiko tindakan yang akan diambil, akan kita pertimbangkan dari sini. Berserah diri kepada Tuhan akan membawa kita pada suatu bentuk keikhlasan, hingga di kemudian hari tidak akan ada penyesalan dari semua keputusan yang kita pilih.
Sangat penting untuk berlatih mendatangkan pikiran-pikiran positif, karena hal ini mendasari semuanya. Setiap kali kita menyikapi sesuatu, tentu akan datang godaan dari pikiran-pikiran negatif yang melahirkan dugaan-dugaan keliru seperti contoh di atas. Namun, jika kita memilki gudang penyimpanan pikiran positif di kepala kita, apa pun bentuk dugaan negatif akan rontok dengan sendirinya. Demikianlah contoh sederhana dari ajaibnya berpikir positif dan menghindari jebakan berpikir negatif. Saya sudah membuktikannya.[fi]
* Fita Irnani lahir di kota Semarang 13 Juni 1975. Sulung dari tiga bersaudara ini menghabiskan masa kecil hingga SMA di kota kelahirannya. Alumnus workshop Proaktif “Cara Cerdas Menulis Buku Bestseller” Batch VIII, Februari 2009 ini menetap di kota Bogor dan saat ini bekerja sebagai Learning & Development Specialist pada sebuah perusahaan multinasional yang berkantor di Sudirman. Fita dapat dihubungi melalui pos-el: acho_fit[at]yahoo[dot]co[dot]id.

June 16th, 2009 at 8:10 pm
Suudzon(prasangka buruk) diganti dg khusnudzon(prasangka baik) ya bu fita..setuju
June 20th, 2009 at 9:33 am
Tuhan tidak akan membebani manusia melebihi beban yang dapat dipikul manusia. Itu kuncinya sehingga problem yang kita hadapi sebenarnya adalah pancingan Tuhan untuk membuat manusia semaikn kuat. Think positive, act positive, be positive! Good work!
June 22nd, 2009 at 6:13 pm
Pada umumnya kita dapat diterpa pikiran negatif,Tapi Bagaimana luput darinya? Belajar untuk tidak selalu menyalahkan orang sekitar, introspeksi dan bersyukur terhadap apa yang kita peroleh saat ini . Itu jauh lebih produktif.
Sebuah Tulisan inspiratif