Home » Aditokoh » Avanti Fontana: Indonesia Perlu Membangun Sistem Kreativitas Sosial dan Sistem Inovasi

Avanti Fontana: Indonesia Perlu Membangun Sistem Kreativitas Sosial dan Sistem Inovasi

Avanti Fontana Ph.D

Avanti Fontana Ph.D

Agaknya, apa yang hendak dikatakan Avanti adalah bahwa untuk menghadapi persaingan di tengah situasi krisis saat ini, tidak ada satu strategi pun yang lebih ampuh selain menyatukan segenap kekuatan kreativitas untuk melakukan inovasi-inovasi baru. Kreativitas individual itu penting, tetapi akan kurang memadai manakala keberadaannya tidak bisa diseiramakan dengan strategi organisasi. Sebab, pengeloalaan dan penyatuan potensi-potensi individual dalam sebuah tim maupun strategi organisasi dipandang akan memberikan output yang lebih unggul.

Barangkali, itulah pesan-pesan penting Avanti dalam bukunya yang berjudul Manajemen Inovasi dan Penciptaan Nilai, yang sebentar lagi terbit dan beredar di pasaran. Menurut staf pengajar Universitas Indonesia ini potensi kreativitas individual maupun kreativitas sosial masyarakat kita sangat besar. Ia juga sepakat, bahwa local genius atau kearifan lokal kita sangat berpotensi untuk mendorong daya gerak kreativitas sosial. Persoalannya, besarnya potensi kreativitas masyarakat kita masih belum bisa dikembangkan secara optimal.

“Perlu kerja sama erat semua pihak, di antara semua pemangku kepentingan di Indonesia,” tegas Avanti, yang telah melakukan riset di berbagai perusahaan top Asia, Eropa, dan Amerika tersebut. Sekali lagi, perekonomian kita sekarang, yang bakal terguncang-guncang oleh krisis global, mungkin saja malah bisa terselamatkan oleh gerakan kreativitas sosial dan inovasi yang dihasilkannya. Untuk mengetahui lebih dalam menyangkut kreativitas sosial dan inovasi, berikut disajikan petikan wawancara Edy Zaqeus dari AndaLuarBiasa.com dengan Avanti Fontana baru-baru ini:

Dari mana ide penulisan buku Anda ini?

Idenya muncul dari keinginan saya untuk menyatukan percikan-percikan tulisan saya di media massa. Yaitu, tentang manajemen inovasi, kewirausahaan, dan coaching ke dalam format yang lebih compact. Juga ditambah dengan hasil refleksi saya atas situasi krisis yang mulai bertubi-tubi mewarnai zaman kita. Keyakinan saya, bahwa salah satu solusi menghadapi atau keluar dari krisis adalah dengan berinovasi yang mengandalkan kreativitas sosial. Keyakinan ini telah mendorong saya untuk segera menyelesaikan buku ini.

Berapa lama Anda menuliskannya dan apa saja hambatannya?

Saya selesaikan dalam waktu efektif delapan bulan. Tidak banyak hambatan yang saya hadapi. Ada saat-saat di mana jadwal menulis perlu “dikorbankan” dengan jadwal aktivitas lain. Ada saat-saat di mana hasil yang sudah ada dirasa belum cocok untuk disebut hasil final. Sehingga, seorang penulis membutuhkan waktu lebih banyak untuk melakukan penyempurnaan di sana sini. Walau penulisan buku ini sudah selesai pada Oktober 2008, saya baru menyerahkan kepada penerbit pada Desember 2008. Ada waktu sekitar satu bulan untuk membaca ulang, menambah bagian-bagian yang penting, dan menghilangkan yang kurang penting.

Apa temuan-temuan terpenting dari buku Anda?

Pembaca dapat menemukan dalam buku hal-hal terpenting seperti: Pertama, bahwa inovasi masa kini dan masa depan menuntut keberadaan kreativitas sosial. None of us is as smart as all of us! Dan, itu juga butuh kolaborasi di antara banyak pihak. Kedua, bahwa untuk berinovasi, individu atau organisasi, atau juga masyarakat memerlukan manajemen. Dan, mereka juga perlu menerapkan prinsip-prinsip manajemen inovasi dan prinsip inovasi itu sendiri. Memang, dalam buku ini saya lebih banyak memfokuskan pembahasan pada inovasi di tingkat organisasi. Ketiga, implementasi inovasi perlu difasilitasi, baik oleh perangkat lunak maupun oleh perangkat keras dalam organisasi. Pemerintah berperan penting dalam mendorong inovasi di tingkat society atau komunitas. Para pemimpin di berbagai organisasi juga berperan dalam memfasilitasi proses inovasi, baik di tingkat organisasi maupun individu. Dan keempat, saya menekankan pengertian inovasi tidak saja sebagai keberhasilan ekonomi, tetapi juga keberhasilan sosial yaitu dengan diperkenalkannya cara-cara baru, atau kombinasi antara cara-cara lama dalam mentransformasi input menjadi output sedemikian rupa, sehingga dihasilkan nilai manfaat bagi masyarakat, konsumen, atau pengguna. Dan, nilai manfaat itu jauh lebih besar daripada uang yang harus mereka keluarkan untuk memperoleh barang, jasa, atau layanan hasil inovasi tersebut.

Apakah temuan-temuan tersebut didasarkan pada riset atau studi literatur?

Memang lebih banyak didasarkan pada hasil studi literatur dan refleksi saya sendiri. Namun, buku ini juga merujuk pada riset-riset manajemen inovasi yang pernah saya lakukan.

Salah satu tesis utama Anda menyatakan pentingnya membangun kreativitas dalam organisasi. Bukankah selama ini, yang kita kenal adalah kreativitas pada tataran individual?

Betul! Bahwa, kreativitas dikenal pada tataran individual. Dan betul juga, bahwa kreativitas pun muncul pada tataran organisasi, bahkan komunitas. Untuk tataran organisasi, kita akan melihat bahwa organisasi dipimpin dan dijalankan oleh orang-orang yang kreatif. Kreativitas dalam organisasi ini tidak hanya dimiliki oleh satu dua orang. Kalau cuma satu dua orang, itu belum menjadi kreativitas organisasi. Begitu juga berlaku dalam tataran komunitas. Kita bisa bayangkan, hidup dalam suatu komunitas yang kreatif, atau bahkan sangat kreatif. Prinsip “tidak seorang pun dari kita sepandai semua dari kita”, berlaku pada kreativitas tataran organisasi dan komunitas. Rancang atau desain organisasi dan komunitas perlu dibangun sedemikian rupa, agar kreativitas sosial tumbuh subur. Nah, kaitannya dengan inovasi, kreativitas itu adalah pemicu inovasi.

Sebagian orang menganggap kreativitas, yang berkarakter individual, sulit didamaikan dengan karakter organisasi yang menuntut keberaturan dalam sistem. Menurut Anda?

Kesulitan itu akan terjadi bilamana, orang-orang dalam organisasi itu, tidak memiliki karakter positif tentang perlunya kreativitas dalam organisasi. Karakter positif yang saya maksud itu mengedepankan integritas. Kejujuran. Tidak ada iri hati. Tidak ada agenda tersembunyi, dan hal-hal lain yang positif. Organisasi perlu memiliki suasana kebebasan berkreasi. Organisasi juga perlu punya semangat, bahwa berpikir berbeda itu dihargai. Perlu semangat berkolaborasi, semangat berkarya untuk kepentingan yang lebih besar, bukan kepentingan individual belaka.

Avanti (duduk nomor tiga dr kanan) dalam sebuah forum

Avanti (duduk nomor tiga dr kanan) dalam sebuah forum

Bagaimana memberdayakan individu-individu dalam tim atau organisasi supaya mereka mampu mengembangkan kreativitasnya?

Caranya? Pertama, manajer mendorong anggota tim untuk menyumbang ide demi kemajuan organisasi. Pemimpin dan manajer bukan satu-satunya sumber ide, lho! Kedua, membasmi mitos, bahwa penemuan brilian hanya berhasil dengan usaha soliter (baca: upaya sendiri). Ketiga, mengundang individu-individu dengan keahlian dan latar belakang berbeda untuk bekerja sama. Keempat, menciptakan keamanan psikologis untuk mengkreasikan pembelajaran dari setiap kegagalan. Kelima, membiarkan orang-orang melakukan pekerjaan yang baik, “good work”. Keenam, memberi independensi sebanyak mungkin. Hal-hal ini saya ulas lebih jauh dalam bab tiga buku saya.

Saat ini, organisasi dalam sektor-sektor industri apa saja yang bisa lebih digerakkan dengan kreativitas dan inovasi?

John Howkins, dalam bukunya The Creative Economy: How People Make Money from Ideas, 2002, memberi tampilan sektor-sektor perekonomian kreatif pada awal abad ke-21. Di antaranya, Advertising, Architecture, Art, Craft, Design, Fashion, Film, Music, Performing Arts, Publishing, R&D, Software, Toys and Games, TV and Radio, Video Games. Per Januari 2000, total nilai ekonomi perekonomian kreatif adalah 2,2 triliun dolar Amerika Serikat, dengan tingkat pertumbuhan 5 persen per tahun. Untuk 15 sektor tersebut, data nilai perekonomian kreatif tahun 1999 saja menunjukkan bahwa Amerika Serikat dan Inggris masih mendominasi pasar. Pada tahun 2020, nilainya diperkirakan mencapai 6,6 triliun dolar Amerika Serikat.

Saya lihat, sektor-sektor dalam perekonomian kreatif akan melebar, tidak hanya mencakup 15 sektor di atas. Saya lihat semua sektor membutuhkan kreativitas dan inovasi. Dan, pertumbuhan perekonomian kreatif akan tergantung pada meningkatnya penawaran, maksudnya ketika lebih banyak orang menciptakan lebih banyak pekerjaan, dan pada meningkatnya permintaan, yaitu ketika lebih banyak orang mengalami perubahan prioritas kebutuhan dan/atau peningkatan kebutuhan dalam hierarki kebutuhan. Dan juga pada manajemen produk serta manajemen distribusi produk dari produsen kepada konsumen.

Dari sisi pasokan, membangun kewirausahaan dan inovasi pada tingkat individu, organisasi, dan society itu sudah menjadi salah satu tuntutan perekonomian kreatif. Pada saat yang sama, hal ini pun dilakukan untuk memenuhi kebutuhan konsumen atau pengguna, baik yang sudah diketahui dari hasil identifikasi kebutuhan pasar oleh produsen inovator, hasil komunikasi konsumen atau calon konsumen kepada produsen, maupun hasil temuan ”unarticulated needs” oleh produsen inovator pendaya tarik.

Dalam masa-masa krisis global seperti sekarang, yang didengung-dengungkan adalah kreativitas dan inovasi supaya survive. Menurut Anda, kreativitas dan inovasi yang seperti apa?

Sekali lagi, kreativitas yang sosial, atau sebut itu kreativitas sosial. Lagi-lagi, prinsipnya tidak seorang pun sepandai semua dari kita. Bukan sekadar kreativitas soliter. Kreativitas sosial ini memicu aktivitas penciptaan nilai sosial dan ekonomi, berpikir besar, dan sistemik. Untuk apa? Untuk kepentingan banyak orang. Harus ada inovasi yang berprinsip dan berkarakter. Bukan hanya berkompetensi. Jadi, hormati prinsip-prinsip manajemen inovasi. Hormati prinsip-prinsip inovasi. Saya kupas habis dalam bab enam dan tujuh.

Anda sudah melakukan riset maupun pengamatan pada banyak perusahaan multinasional di Eropa dan Amerika. Apa penyebab-penyebab utama dari perusahaan-perusahaan yang berhasil maupun yang gagal berinovasi?

Antara lain, tidak adanya kolaborasi dan integrasi di dalam organisasi. Atau juga, kurangnya karakter individu-individu dalam organisasi, sehingga tingkat kepercayaan dalam organisasi tidak cukup tinggi.

Baik, kalau Anda menilai, seberapa besar potensi kreativitas dan inovasi masyarakat kita?

Potensi kreativitas dan inovasi masyarakat kita besar, kalau tidak mau dikatakan sangat besar.

Sejumlah pengamat menyatakan, kita memiliki potensi local genius yang luar biasa untuk menopang pengembangan daya kreativitas masyarakat. Menurut Anda?

Saya sepakat dengan pernyataan tersebut. Tantangannya, bagaimana membangkitkannya? Bagaimana membangunkannya? Perlu kerja sama erat semua pihak, di antara semua pemangku kepentingan di Indonesia. Bukan hal sederhana, tetapi tidak mustahil, bukan?

Avanti bersama suami

Avanti bersama suami, Philip Gobang

Pada titik-titik mana kreativitas dan inovasi masyarakat itu tersumbat dan bagaimana cara mengatasinya?

Jika tersumbat, kita mengandaikan sudah ada salurannya, kan? Atau, jangan-jangan salurannya pun belum ada? Buatlah saluran-saluran kreativitas dan inovasi masyarakat. Tata saluran-saluran tersebut agar tidak tersumbat. Dorong kreativitas dan inovasi masyarakat, agar mereka berjalan, dan tidak berhenti di tengah jalan saluran.

Dalam era serba kompetisi secara global, salah satu daya saing sebuah negara adalah pada keunggulan daya kreativitas dan inovasinya. Bagaimana caranya supaya kita memiliki keunggulan seperti itu?

Indonesia perlu membangun sistem kreativitas sosial dan sistem inovasi baik pada tingkat society dan organisasi.

Pada titik keunggulan negara ini, di mana Anda meletakkan relevansi buku Anda?

Buku ini relevan dalam mengondisikan perlunya inovasi di berbagai organisasi di Indonesia, dan perlunya inovasi pada tingkat komunitas, society, dan negara-bangsa.

Terakhir, apa aktivitas terbaru Anda? Apakah sudah punya rencana menulis buku berikutnya?

Saya sedang mengembangkan model coaching untuk inovasi dan mempersiapkan riset tentang manajemen inovasi di Indonesia. Saya juga sedang menulis buku kedua tentang pentingnya integrasi dalam organisasi. Sementara bersama enam rekan coach, kami sedang meracik buku tentang coaching dan perannya bagi organisasi dan komunitas.[ez]

Foto-foto: dokumentasi pribadi.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.0/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

4 Comments

  1. orpha jane says:

    Buku yang sangat perlu dibaca oleh semua orang…karena budaya orang Indonesia lebih senang meniru… Selamat untuk ibu Avanti atas buku yg sangat inspiring!

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  2. Sydney, 20 Feb. Terima kasih b Orpha. Halo para pembaca AndaLuarBiasa.com: “Great ideas are everywhere.” Tadi malam saya dengar lagi pesan-pesan bahwa KOLABORASI menjadi faktor penting sekali dalam INOVASI DAN PENCIPTAAN NILAI. Kolaborasi adalah buahnya kreativitas sosial. Salam. AF

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  3. Great Bu Avanti! Smart! Buku langka yang akan banyak dicari dan dibaca orang!

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)

Post a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Komentar