Automatis Diplomatis
Editor | Kolom Tetap | December 23rd, 2009
Oleh: Alexandra Dewi*
Kalau mau sukses dalam menjalankan usaha, katanya harus bisa berdiplomasi. Tidak boleh menunjukkan perasaan atau pikiran kita secara terang-terangan. Bahkan, kepada yang berutang kepada perusahaan sekalipun, surat yang isinya menagih utang saja tidak berbunyi kasar. Isinya menagih tapi secara diplomatis. Yang berutang saja masih disebut YTH (Yang Terhormat). Sama seperti menulis surat penawaran harga atas jasa/barang yang kita perdagangkan.
Dalam menjalankan pertemanan, ternyata sama seperti perusahaan, kita harus diplomatis. Mengerti mana yang harus dikatakan, mana yang tidak, dan kalau dikatakan pun harus secara diplomatis. Mengapa saya menulis soal diplomatis ini? Karena saya baru mendengar cerita dua orang kawan lama, yang gara-gara kurang diplomatis, malah menjadi kurang harmonis hubungannya.
Begini ceritanya. Kedua kawan saya ini sebut saja Amanda dan Cindy. Mereka sudah saling kenal sejak SMP. Saya dengar Amanda sudah lama dalam keadaan ekonomi yang bisa dikatakan cukup sulit. Kalau tidak salah selepas SMA Amanda tidak sempat kuliah tapi langsung menikah dan punya anak. Lalu dia bercerai dan menikah lagi. Namun, karena satu dan lain hal, dari suami pertama ke suami yang sekarang, keadaan ekonominya belum bisa dibilang berkecukupan.
Cindy sempat kuliah dan sekarang bekerja di suatu perusahaan milik keluarga. Ketika Amanda bertanya apakah ada lowongan di perusahaan tempat Cindy bekerja—tentu saja secara diplomatis—Cindy bisa menjawab bahwa soal menerima karyawan atau karyawati baru bukan wewenang Cindy. Toh, walau perusahaan milik keluarga, Cindy bukan pemilik atau pimpinan perusahaan yang berwenang menerima pegawai baru. Untung, jawaban diplomatis Cindy diterima dengan baik oleh Amanda.
Amanda kadang curhat kepada kawan lamanya bahwa biaya hidup di rumah tangganya sangat pas-pasan, dan berat sekali rasanya memenuhi kebutuhan dasar sekalipun. Kasihan dengan kawan lamanya, Cindy menawarkan penghasilan tambahan kepada Amanda. Caranya dengan memesan kue-kue untuk acara staff gathering yang akan diadakan oleh perusahaan tempat Cindy bekerja.
Amanda sendiri mengakui bahwa dirinya tidak bisa membuat kue. Tetapi omanya pandai memasak kue dan dari hasil masakan omanya itulah yang akan dijual kepada Cindy. Namun, karena tujuan memesan kue ini sebenarnya adalah untuk menolong teman, tentu Cindy tidak banyak bertanya. Ia memesan beberapa jenis kue yang mana salah satu jenis kuenya adalah tiramisu (yang harus diletakkan di lemari es sebelum disajikan).
Beberapa hari sebelum acara staff gathering, Cindy baru sadar bahwa di kantornya tidak ada lemari pendingin (kulkas). Ia pun segera meghubungi Amanda lewat telepon untuk membatalkan pesanan tiramisu. Setelah Amanda mendengar bahwa Cindy membatalkan pesanan salah satu jenis kue itu, Amanda marah “Lho, Cin! Aku udah order, lho!” Yang fatal, setelah berkata penuh amarah, Amanda menutup telepon secara tiba tiba. Mungkin di tengah-tengah rasa kecewa dan amarah, juga panik atau rasa tidak enak kepada omanya, dicampur lagi desakan kebutuhan keuangan keluarga. Akhirnya, Amanda kehilangan apa yang namanya diplomasi atau lebih simpelnya penguasaan diri.
Cindy yang merasa telah mencoba membantu tentu tidak terima teleponnya ditutup seperti itu oleh Amanda. Tapi hebatnya, teman saya si Cindy ini meneliti dulu apa yang salah pada dirinya sendiri. Ia mengakui ketika menjelaskan kepada Amanda bahwa kantornya tidak ada kulkas, ia sempat juga berkata, “Sorry, perusahaan aku bukan menjual kue. Jadi, aku enggak kepikir soal kue mana yang harus dikulkasin. Aku kan bukan tukang kue, Amanda…!” Cindy mengakui, kata-katanya itu pastinya menyinggung perasaan Amanda sehingga Amanda menutup telepon.
Akhirnya, Cindy menelepon Amanda kembali, “Amanda, sorry aku tadi mungkin berkata-kata kurang baik. Orderanku semua aku teruskan, termasuk yang tiramisu. Tapi, aku harus juga menerangkan bahwa ini adalah pesananku yang pertama dan terakhir yang aku pesan darimu. Sebab, aku enggak mau kita menjadi seperti ini…. berkelahi dan berselisih paham.”
Amanda juga berkata, “Sorry Cindy, tadi aku tutup telepon.”
Cindy menjawab, “Iya, enggak apa, sama-sama. Sorry, salah aku juga…”
Dari kalimat saling meminta maaf sepertinya urusan sudah selesai. Tetapi, seperti yang Cindy katakan tadi, ia tidak akan memesan kue lagi ke Amanda. Dilihat dari sisi usaha, bad for business. Dilihat dari sisi pertemanan, bad for friendship.
Itu dia. Diplomatis. Enggak heran tidak semua orang bisa jadi diplomat.
Dari mendengar cerita ini, yang mana saya tidak terlibat emosi di dalamnya, saya jadi berpikir bahwa berlatih penguasaan diri, berdiplomasi ternyata sangat amat penting dalam segala aspek kehidupan. Ada orang yang sepertinya memahami sekali dalam berdiplomasi. Mungkin nenek moyangnya sampai dianya semuanya keturunan diplomat tujuh turunan. Jadi, lahir-lahir memang dia sudah diplomatis. Namun, bagi saya atau Anda yang lahir-lahir bukanlah anak diplomat, ada baiknya—kalau bukan sangat penting—untuk menguasai ilmu diplomasi ini.
Cerita lain soal pemilik perusahaan A yang berutang kepada pemilik perusahaan B. Bila keduanya bertemu person to person secara tidak sengaja di sebuah restaurant, nasihat dari seseorang yang saya anggap sangat diplomatis menganjurkan yang diutangi untuk tidak menyebut apalagi menagih utang secara langsung. Bapak A yang—walau jengkel kepada Bapak B—yang bisa enak-enaknya makan sushi tapi utang kepadanya. Bila mau diplomatis, harus pura-pura lupa soal itu dan berinteraksi biasa-biasa saja. Soal utang harus orang lain yang menagih, baik itu surat dari bagian keuangan di kantor, baik itu pihak ketiga lain seperti bank atau debt collector company. Kalau mau jengkel dan tidak bisa menahan jengkel dan langsung hajar bleh dengan mengutarakan apa yang plek-plekan ada di hati, maka tidak dianjurkan untuk menjadi pengusaha, apalagi jadi pengacara.
Anyway, mudah-mudahan cerita saya di atas mengingatkan kita semua bahwa setiap kali kita sedang emosi, atau sedang dalam keadaan yang kurang stabil (stres, letih, dll) sebaiknya kita yang bukan automatis diplomatis untuk menunda hal-hal yang mau kita katakan atau lakukan semalam saja. Pengalaman saya, kebanyakan kali, satu malam tidur yang nyenyak sering kali menyelamatkan saya dari hal-hal bodoh yang bisa dengan mudahnya saya ucapkan dengan secara tidak diplomatis.[ad]
* Alexandra Dewi adalah seorang eksekutif sebuah perusahaan pemasar suplemen makanan, penulis buku The Heart Inside the Heart, Queen of Heart, dan co-writer buku I Beg Your Prada. Dewi baru saja meluncurkan bukunya keempatnya tentang fashion yang ditulis bersama Fitria Yusuf berjudul Little Pink Book. Ia juga sedang menyiapkan buku-buku berikutnya. Dewi dapat dihubungi melalui pos-el: inthelalaland[at]yahoo[dot]com.
December 24th, 2009 at 1:00 am
Tulisan yang menarik. Terkadang diplomatis bisa saja mengelabuhi. Harga “disesuaikan” ternyata arti sebenarnya “harga naik”. Cheers!