Apakah Hanya Anak yang Durhaka?

Iftida YasarOleh: Iftida Yasar*

Banyak cerita tentang bagaimana seorang anak yang tidak berbakti kepada orang tuanya, yang akhirnya dikutuk menjadi batu seperti si Malin Kundang. Dari kecil, kita diajari untuk patuh kepada orang tua, menghormati, dan mentaati perintahnya. Anak yang menurut apa kata orang tuanya akan selamat, dan yang tidak menuruti nasihat orang tua akan celaka.

Kebanyakan orang tua masuk dalam kategori baik dan normal sehingga antara nasihat dan perbuatan seiring sejalan. Anak akan mengikuti nasihat orang tuanya jika ia juga tahu bahwa orang tuanya melakukan hal-hal yang dinasihatkannya. Orang tua yang mengajarkan disiplin, misalnya bangun pagi, dan jika mereka juga bangun pagi setiap hari, maka akan menularlah kebiasaan bangun pagi itu kepada keluarganya.

Sebaliknya, jika antara nasihat dan perbuatan tidak seiring sejalan, bahkan bertolak belakang, maka anak akan sulit menuruti nasihat orang tuanya. Orang tua yang merasa bahwa nasihat itu hanya berlaku untuk anaknya, dan bukan kepada dirinya juga, akan kesulitan dalam memberikan pengertian kepada anaknya. Contoh paling nyata adalah jika kita tidak pernah terlihat melakukan salat lima waktu, bagaimana kita dapat membuat anak kita salat? Mungkin, waktu masih kecil mereka bisa dipaksa melakukan hal itu. Tetapi, pada saat mereka sudah mampu berpikir, apalagi sudah dewasa, maka nasihat orang itu tidak berlaku.

Beberapa teman sering mengeluhkan bagaimana perilaku orang tua mereka. Ada yang tidak memikirkan sama sekali bagaimana persiapan pensiunnya. Pada waktu muda dan masih menjabat, uang dihabiskan untuk kesenangan diri sendiri. Pada saat sudah tidak mempunyai penghasilan lagi, gaya hidup enak sudah tidak bisa diubah. Kebiasaan hidup senang, makan enak, baju bagus, dan bepergian ke mana saja dia suka tidak dapat ditinggalkan. Hasilnya, sedikit demi sedikit uang yang tersisa jadi habis, lalu mulailah menjual harta benda yang ada, bahkan sampai tidak mempunyai apa-apa sama sekali.

Memang, kewajiban anak adalah menjaga dan merawat orang tuanya pada saat mereka sudah tidak mampu. Di sisi lain, orang tua juga harus sadar atas kemampuan anaknya. Jika kebetulan mempunyai anak yang berlebihan dan cukup, mungkin tidak ada persoalan lagi. Tetapi, jika anak hidupnya pas-pasan, seharusnya orang tua memahami keadaan ini. Kalaupun anak hidup berkecukupan, alangkah indahnya jika kita sebagai orang tua tidak menggantungkan diri sepenuhnya kepada anak. Untuk orang tua yang memang keadaannya tidak mampu dan mengharapkan agar anaknya gantian menjaga serta merawat mereka, memang itu bisa dimaklumi.

Yang ingin saya bicarakan di sini adalah orang tua yang tidak mempersiapkan hari tuanya, padahal sebenarnya mereka mampu. Ada orang tua yang tidak mau tahu dengan keadaan anaknya. Mereka, dengan gaya hidupnya yang tidak mau susah, akhirnya bisa menjadi beban anaknya. Keadaan rumah tangga anak pun dapat menjadi panas dikarenakan urusan mertua dan orang tua yang tidak ada habisnya.

Ada juga orang tua yang senang menjalin hubungan dengan orang lain, dalam arti mempunyai affair atau kawin cerai, tanpa memikirkan bagaimana nasib anaknya. Yang dikejar hanya kesenangan dirinya sendiri. Sebagian laki-laki muslim—dengan dalih mampu dan mengikuti sunnah Rasul—mereka melakukan poligami. Jika dilakukan dengan baik dan terbuka, serta dimusyawarahkan dengan baikapalagi jika dapat berlaku adil terhadap keluargamaka keadaan akan aman dan damai. Biasanya, yang terjadi justru sebaliknya, selingkuh atau kawin lagi dilakukan dengan diam-diam. Jika ketahuan akan terjadi keributan. Bisa juga mereka yang doyan kawin cerai, hanya mengurus istri dan anak yang terakhir saja, sementara anak-anak dari perkawinan yang terdahulu tidak diurus lagi.

Ada teman perempuan saya yang sudah kawin cerai sebanyak tiga kali. Setiap kali kawin pasti mempunyai anak, dan ketika bercerai semua anak ikut dia. Masalahnya, selain beban ekonomi juga ada masalah antara anak dengan bapak tirinya, atau dengan keluarga suaminya. Biasanya, perempuan menjadi rentan atau stres, berakhir dengan marah-marah dan pelampiasan kepada anak-anaknya yang tidak berdosa.

Dari cerita teman saya itu, suami ketiganya yang diharapkan terakhir, ternyata hanya bertahan baik selama setahun pertama saja. Sekarang, suaminya mulai main judi dan tidak memberikan nafkah lagi. Apa ini nasib? Atau, apakah ini disebabkan karena teman saya itu terlalu cepat mengambil keputusan kawin lagi, tanpa pertimbangan yang cermat?

Ada juga teman saya yang punya anak lima. Alasan dia kawin tidak dengan dasar cinta, tetapi karena dijodohkan (dan karena anaknya lima?). Teman ini membalas perilaku selingkuh suaminya dengan ikutan-ikutan selingkuh. Lucunya, pasangan selingkuhnya suami orang, dan jauh kualitasnya dibandingkan suaminya yang dulu. Alhasil, anak-anaknya yang sudah besar, dan bahkan sudah ada yang menikah, jadi kecewa sekali. Ibu seharusnya memberikan contoh ketabahan dan kesetiaan, bukannya menghibur diri sendiri dengan jalan yang salah.

Dari cerita di atas, kemungkinan besar anak akan mendapat gambaran yang buruk mengenai perilaku orang tuanya. Mereka akan merasa sebagai pihak yang disakiti, tidak diperhatikan, kurang mendapatkan kasih sayang, bahkan berebut perhatian dan kasih sayang di antara saudara. Sebagai anak, hak kita dirampas tanpa bisa berbuat apa pun.

Kalaupun kita termasuk anak yang tidak terurus, tetapi nantinya berhasil atau sukses, maka jangan disalahkan jika anak tidak menaruh hormat atau sayang kepada orang tuanya. Mereka merasa bahwa kesuksesannya diraih tanpa dukungan orang tuanya. Merekayang tidak mengerti latar belakangnya mengapa anak bersikap demikianakan memberikan komentar, bahwa kita adalah anak yang tidak mengurus orang tuanya. Apalagi jika kita mampu dan kaya, mungkin komentarnya kita ini sebagai anak durhaka.

Selalu dikatakan, bahwa jangan pernah melawan orang tua, jangan pernah menyakiti mereka, dengan alasan apa pun, tidak ada ruang gerak bagi anak untuk berbuat tidak baik terhadap orang tuanya. Memang, tidak dapat dipaksakanjika anak yang merasa disakiti, tidak diurus, bahkan ditelantarkan—akhirnya mereka tidak meedulikan orang tuanya.

Kalau kita termasuk orang yang bijak dan ikhlas, kemungkinan besar kita akan mengurus orang tua kita, tanpa memerhitungkan bagaimana jeleknya perlakuan orang tua kepada kita dahulu. Yang terpenting, kita mengambil hikmah untuk tidak melakukan hal yang sama seperti orang tua kita. Kita mesti belajar bagaimana menjadi orang tua yang baik, sembari mempersiapkan hari tua kita sendiri. Kita mesti belajar menjadi teladan bagi anak-anak kita serta berusaha supaya tetap dapat bermanfaat bagi lingkungan kita.[iy]

* Iftida Yasar lahir pada 28 Maret 1962. Ia meraih gelar Sarjana Psikologi Pendidikan dan Sarjana Hukum di Universitas Padjajaran tahun 1980. Dan meraih gelar S-2 Psikologi di Universitas Indonesia tahun 1992. Iftida Yasar adalah seorang konsultan SDM, hubungan industrial, dan outsourching. Ia juga seorang entrepreneur, trainer, motivator, aktivis sosial bidang pengembangan SDM, Wakil Sekretaris Umum APINDO, dan Penasihat Asosiasi Bisnis Alih Daya Indonesia (ABADI). Iftida juag dikenal sebagai pribadi yang sangat aktif, suka tantangan, senang bertemu dengan orang-orang baru, membangun jejaring, membangun kompetensi SDM, bepergian, dan baca buku. Ia adalah penggemar berat Kho Ping Hoo, Winnetou, Mushashi, Sinchan, dan Andrea Hirata. Iftida dapat dihubungi di nomor: 0811896944 atau email: iftidayasar[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: -2 (from 2 votes)

3 Responses to “Apakah Hanya Anak yang Durhaka?”

  1. Agung Praptapa Says:

    Dalam peribahasa jawa dikatakan agar anak berhati-hati dalam berbuat karena “anak polah bopo kepradah”. Artinya, kalau anak bertingkah, orang tua yang kena getahnya. Sayangnya, sekarang yang terjadi malah kebalikannya. “Bopo polah anak kepradah”, anak menanggung malu dan duka karena tingkah orang tuanya.

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 5.0/5 (1 vote cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: +1 (from 1 vote)
  2. nino Says:

    andai kita tahu bahwa “tidak ada seorang anakpun di dunia ini yg minta dilahirkan”

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 5.0/5 (1 vote cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: +1 (from 1 vote)
  3. maidah Says:

    sebenarnya dalam hidup ini …semua kembali pada “untuk apa kita hidup?” kalau hanya mengejar nafsu saja …akan menunai banyak masalah…banyak makan korban …
    pilih saja hidup untuk mencari bekal mati …nanti tak ada lagi minat untuk berbuat menyakiti orang …menterlantarkan anak dll…yang jelek-jelek (balas dendam dll) …

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a Reply

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox