Apa Salahnya Bersikap Positif?
Editor | Kolom Lepas | July 5th, 2009
Oleh: Femikhirana*
Positive thinking… Apa yang salah sebenarnya dari berpikir positif ini? Untuk beberapa orang yang belum menerapkannya mungkin akan berkata bahwa pikiran positif ini adalah:
- Sikap yang mengada-ngada, menyangkal, dan berpura-pura dengan kejadian sesungguhnya.
- Sikap berharap terhadap sesuatu yang berlebihan.
- Sikap yang tidak menerima kenyataan hidup.
Buat saya malah sebaliknya, dengan pikiran positif justru sebenarnya: Menerima kenyataan apa adanya, bukan dengan sikap yang sinis dan menyerah dengan segala kenegatifan yang ada. Kita mengubah paradigma pikiran kita yang negatif menjadi positif sehingga menghasilkan tindakan dan energi positif. Bukankah tindakan kita berasal dari pikiran? Jadi logikanya, pikiran yang positif seharusnya menghasilkan sesuatu yang positif juga. Dan sebaliknya, menanggapi semua hal dengan sinisme atau sikap negatif malah membuat orang tersebut kerjanya hanya bertanya-tanya, sok mikir, selalu protes sana-sini, akhirnya frustrasi dan malah tidak menghasilkan apa-apa.
Justru terbaca dari sini bahwa mereka yang selalu menolak untuk berpikir positif adalah mereka yang tidak dapat menerima kenyataan dalam hidup, selalu berusaha mencari pertentangan di dalamnya, dan menganggap harapan adalah sesuatu yang kosong. Herannya mereka kok ya bisa menikmati hidup dengan sikap negatif? Herannya, mengapa manusia juga masih suka bertanya tentang ketidakadilan hidup, kesusahan hidup, kekejaman hidup, dan perbudakan dalam hidup?
Saya pribadi merasa hal-hal mengenai hidup itu sudah tidak perlu dipertanyakan. Karena memang jelas jawabannya, HIDUP TIDAK ADA YANG ENAK, mau diputar sana-sini, dijungkir balik atas-bawah semua pasti tidak enak. Semakin dipertanyakan malah akan menambah satu kesangsian terhadap hidup itu sendiri. Dan, penyangkalan kepada si Pembuat Hidup adalah akibat paling fatal bagi mereka yang selalu berdalih. Mereka menerima kenyataan hidup, padahal alam pikiran selalu sangsi dengan hidup. Ironis sekali, bukan?
Nah, di sinilah fungsinya kita diberikan kebijaksanaan di antara semua makhluk hidup ciptaan-Nya, yaitu pikiran yang dapat kita kendalikan, dapat kita olah, untuk menghadapi kenyataan hidup yang tidak enak ini. Paradigma menyikapi hidup dengan pikiran yang positif inilah yang seharusnya membuat kita bertahan menghadapi kehidupan yang jahat. Paradigma berpikiran positif inilah yang membalik:
- beban menjadi tanggung jawab
- kesulitan menjadi tantangan
- upah menjadi hadiah
- gagal menjadi pelajaran
- krisis menjadi kesempatan
- kebingungan menjadi banyaknya peluang yang dapat dipertimbangkan
- tekanan menjadi perjuangan
- kekecewaan menjadi pengertian.
Coba kita telaah, sudah jelas ini bukanlah sikap berpura-pura atau sikap tidak menerima kenyataan. Tetapi sebaliknya, sikap yang menerima dan melihat keadaan sesungguhnya, dan kemudian berusaha mengatasi kenegatifan yang memang sudah kodratnya manusia. Istilahnya kita mengakali sesuatu agar kita hidup lebih nyaman, dan itu bukan pura-pura, tetapi MENJADI PINTAR DALAM HIDUP.
Sama dengan ilmu matematika yang ada di dunia, angka positif yang lebih besar daripada angka negatif tetap menghasilkan nilai yang positif. Itu artinya sebagai manusia kita pasti memiliki sikap dan pikiran negatif, dosa-dosa yang mengintai, dan pikiran jelek yang terlintas. Tetapi bukan pikiran negatif, melainkan pikiran positiflah yang mendominasi sehingga tidak terjadi kemerosotan nilai dalam pemahaman hidup. Sebaliknya, nilai yang negatif ditambah lagi dengan negatif malah akan menghasilkan kekurangan pemahaman yang lebih dalam. Kita akan semakin merasa tidak mengerti tentang kehidupan jika kita dikuasai oleh kenegatifan.
Bagaimana sekarang caranya bersikap positif setiap waktu?
Hal ini memang perlu dilatih. Dan, yang penting adalah niat untuk terus memulai pikiran positif, termasuk kata-kata positif untuk membawa sikap positif. Saya sendiri memiliki pengalaman belajar mengurangi penggunaan kata-kata berkonotasi negatif yang menekan pikiran serta hati. Misalnya saja benci, jahat, tertekan, depresi, atau stres. Juga kata-kata yang bersifat sinisme, makian, kata-kata atau pertanyaan retoris (pertanyaan yang seharusnya tidak perlu ditanyakan).
Percaya tidak percaya, lama-kelamaan saya justru merasa bingung, apa definisi tertekan atau depresi itu? Karena, setiap hari toh saya hidup dalam tekanan dari berbagai segi. Kalau diresapi ya malah bisa mati konyol akibat merasa tertekan terus. Jadi, sekarang saya sudah lupa bagaimana rasanya depresi. Karena, dalam paradigma pikiran saya memang sudah menganggap itu adalah bagian dari hidup. Tidak usah dibesar-besarkan. Yang perlu justru disikapi dengan keberanian menghadapi semuanya dengan tindakan yang positif.
Kembali lagi bukan menyangkal keadaan, tetapi agar tidak terinvasi oleh kondisi negatif yang malah merugikan. Semakin jarang saya mengucapkan segala sesuatu yang berbau negatif, semakin berkuasa pula pikiran positif itu. Dan, pikiran positif itu seperti mencaplok otak, sehingga semakin mudah pula saya menerima kekecewaan yang saya alami dalam hidup. Apalagi mengingat pikiran saya adalah pikiran yang banyak berimajinasi dan berkeinginan. Semakin meningkat kadar positif yang ada, semakin mudah pula membedakan antara imajinasi sendiri dengan kenyataan. Menuangkan idealisme hanya di atas kertas, namun tetap menerima realitas yang ada tanpa harus bertanya terus mengapa, dan akhirnya tersesat dengan jawaban yang tak kunjung benar.
Jika ini dilakukan setiap saat maka akan terbentuk pelan-pelan mental positif itu. Seiring usia, semakin dipraktikkan sikap positif itu, jelas akan semakin dirasakan pula fungsi dan efeknya.
Ingat, yang krusial dari berusaha berpikir positif ini adalah sikap penerimaan terhadap hidup itu sendiri. Semakin berserah, semakin bersyukur, maka secara otomatis atau dengan sendirinya pikiran Anda akan semakin menyangkal semua kenegatifan itu.[fem]
* Femikhirana lahir pada 29 Februari 1976. Ibu dari satu anak ini adalah seorang wiraswastawati, trader, dan penggemar aktivitas kepenulisan. Femi tinggal di Surabaya dan dapat dihubungi melalui blog-nya di http://femi-ontheblog.co.cc.
July 11th, 2009 at 3:26 am
” … Our minds are like a garden. We can intelligently cultivate our garden, or we can allow it to run wild. If you diligently attend to your garden, it will produce the things you cultivate. …. ”
Femi! Anda (Memang) Luar Biasa!!! *rocks*