Antara Saya, New Kids On The Block, dan Bob Sadino
Editor | Kolom Lepas | March 16th, 2009
Oleh: Maria Saumi*
Saya tentunya tidak akan pernah mengetahui rasa dari sebuah jeruk, apabila saya sendiri belum pernah mencicipinya. Rasa buah jeruk ada yang manis, asam, pahit, atau kombinasi dari unsur-unsur rasa tersebut. Begitu pula seperti yang saya alami sendiri, andai saja saya boleh menganalogikan antara buah jeruk dengan dunia kepenulisan.
Dalam bidang kepenulisan atau tulis-menulis, tentu saja saya adalah new comer, pendatang baru. Seperti nama sebuah grup musik, New Kids On The Block. Bedanya adalah, grup musik ini pada tahun 80—90-an langsung tenar, sangat digemari dan disukai, bahkan digila-gilai oleh remaja pada waktu itu. Kasetnya terjual hingga jutaan kopi hingga seantero dunia sejak awal-awal permunculannya (waktu itu CD atau MP3 belum ada). Sedangkan saya, tentu saja belum atau jauh dari itu. Beda nasib hahaha….Tapi, mudah-mudahan saya sedang menuju ke arah sana. Amin.
Disebut pendatang baru, karena tulisan-tulisan saya—baik dalam kuantitas dan kualitas—masih sangat jauh dibandingkan senior-senior saya di bidang kepenulisan. Sebut saja misalnya Edy Zaqeus, Andrias Harefa, Her Suharyanto, dan lain sebagainya. Semuanya pakar-pakar best-seller dalam bidangnya. Saya benar-benar harus “menguras” dalam-dalam ilmu mereka di bidang ini, begitu tekad saya dalam hati. Coba, siapa yang tidak ingin seperti mereka?
Sebenarnya, saya adalah penulis “lama”. Sudah lama menulis, walaupun dalam sebatas buku harian saya sendiri. Satu-satunya tulisan saya yang dilempar ke publik (sebelum di website ini) hanyalah tulisan skripsi saya untuk meraih gelar sarjana strata satu. Itu juga hanya dikonsumsi oleh kalangan tertentu saja, kalangan akademik. Kalau dipikir sekarang, saya beruntung pernah membuat skripsi. Artinya, setidaknya saya pernah menulis sesuatu yang mempunyai topik, ada pembahasan, ada kesimpulan, dan ada pengakuan kelolosan dari tulisan saya tersebut. Gelar sarjana yang sudah saya raih adalah buktinya. Setidaknya, hal ini cukup membesarkan hati saya.
Saya juga mengumpamakan, terjunnya saya ke bidang tulis-menulis ini seperti seorang anak kecil, yang dengan susah payah mencoba menegakkan tubuhnya di atas kaki kecilnya, dan dengan perasaan takut terjatuh. Tetapi, dia terus mencoba dan mencoba, sampai akhirnya mulai bisa berjalan, walaupun hanya satu-dua langkah kecil saja. “Perjalanan menempuh 1.000 Li, awalnya dilakukan dengan satu langkah kaki saja,” begitu kata-kata bijak dari negeri China.
Pelatihan kepenulisan yang saya ikuti secara tidak sengaja—dan saya memang tidak memiliki tujuan tertentu pada awalnya—ternyata begitu membekas dalam benak saya. Bahkan, boleh dikata saya mengikutinya, maaf, sekadar iseng belaka untuk mengisi waktu senggang pada saat itu. “Tambahlah ilmu baru,” pikir saya waktu itu. Jujur, saya malah merasakan “tergagap-gagap” dengan para peserta lainnya waktu pelatihan itu. Saya merasakan sedikit kepanikan karena saya lihat semua peserta setidaknya memiliki tujuan khusus untuk pelatihan tersebut. Entah itu utusan dari kantor mereka, entah itu untuk mengembangkan lagi kemampuan tulis-menulis yang sudah dirambahi sebelumnya, dan bahkan ada yang pernah menerbitkan tulisannya sendiri.
Wah, sangat kontradiktif dengan situasi saya. Akibatnya, saya pun merasa menjadi “peserta yang aneh”, walaupun mungkin saya terlihat biasa seperti peserta lainnya. Saya panik karena tidak memiliki tujuan. Tetapi akhirnya, perlahan-lahan saya mencoba mengikuti anjuran para mentor pelatihan tersebut, yaitu tulis, tulis, dan tulis. Apa pun tulisannya! Ternyata, berawal dari ikut pelatihan tersebut, pelan-pelan saya menyukai dunia yang satu ini.
Baru-baru ini, saya baca buku karya Edy Zaqeus berjudul Bob Sadino: Mereka Bilang Saya Gila!. Di dalam buku itu saya dapatkan gaya berpikir yang “nyeleneh” dari si pengusaha terkenal itu. Salah satunya adalah pernyataan Bob bahwa ia berbisnis tanpa tujuan, rencana, bahkan harapan. Bob sendiri juga mengamini, bahwa tidak ada satu buku atau teori pun, tidak juga ilmu manajemen, yang mau membenarkan kata-katanya itu.
Kontroversi itu memancing perdebatan antara Bob Sadino ini dengan seorang perempuan pengusaha muda yang sukses, Naomi Susan. Pikiran Bob Sadino, yang akrab dipanggil Om Bob ini dikuliti dan dibantah habis-habisan oleh Naomi Susan. Om Bob diibaratkan seperti naik taksi dan mana mungkin tidak punya rencana atau tujuan mau ke mana, karena kalau begitu bisa dipastikan ia akan berputar-putar saja.
Tetapi ternyata, Om Bob berkilah bahwa memang benar ia naik taksi dan tidak memiliki rencana, tidak memiliki tujuan, tetapi itu karenakan ia tidak sendirian di dalam taksi tersebut. Ada anak buahnya yang duduk disampingnya, yang bertugas memikirkan ke mana arah dan tujuannya. Saat membaca bagian itu, saya tersenyum karena dalih yang diutarakannya itu. “Nyeleneh yang cerdas!” itu menurut saya.
Lalu, kaitannya di mana? Bob Sadino terkenal sebagai pengusaha sukses dan sangat terkenal. Pikiran-pikiran enterpreunership-nya sangat kuat dan kokoh sehingga ia memiliki Kemchicks Group, punya rumah besar di kawasan elit, dan punya dua mobil Jaguar yang nongkrong di garasi rumahnya. Semua itu, pada awalnya dimulai dengan hanya menjual telur ayam dari pintu ke pintu. Bayangkan, mulainya dari pintu ke pintu!!! Dan, saat itu ia benar-benar hanya melakukan jualan telur itu. Om Bob hanya melangkah dengan step-step kecil saja. Ia mengakui, pada saat itu memang tidak memiliki tujuan memiliki usaha besar yang akan bisa bertahan hingga 40 tahun seperti sekarang ini.
Tentu saja bila dibandingkan Om Bob, saya tidak ada apa-apanya. Lagi pula, Om Bob juga tidak mengenal saya dalam realitasnya. Hubungan saya dengan Om Bob adalah, dan lagi-lagi, saya menganggap ada pemikiran Om Bob yang menurut saya pribadi, saya juga mengalaminya. Ternyata, di antara “jurang pemisah” yang sangat teramat dalam antara Om Bob dengan saya itu, ada juga sedikit persamaannya, walaupun cuma setitik. Yaitu, saya tidak “merasa” memiliki tujuan pada awal-awal langkah saya. Berangkat dari hal ini, saya pun mulai membentuk suatu kekaguman kepadanya. Nge-fans, istilah entengnya.
Saya juga mencoba ikut dalam perumpamaan taksi tersebut. Saya mungkin memang naik taksi, dengan supir taksi, kemudian entah bagaimana saya menemukan sesuatu yang “menarik” bagi saya. Saya merasa, saya ditarik oleh “Alam Semesta”, atau apa pun itu istilahnya, untuk menuju ke ARAH itu, ke arah di mana saya merasa tertarik karenanya. Jadi, secara tidak sadar, saya “diarahkan”. Perasaan saya seperti itu. Jujur saja, mungkin saya kurang “canggih” dalam mendeskripsikan hal ini kepada Anda. Tapi, kira-kira ya begitulah adanya.
Teringat waktu pertama kali bekerja. Setelah lulus kuliah, saya langsung melamar kerja. Kemudian, saya diterima di dunia kerja yang bidangnya sangat jauh dari disiplin ilmu yang saya punya. Entah kenapa, sampai saat ini saya tetap bergelut di bidang pekerjaan saya sekarang ini, yaitu futures trading investment. Pada awalnya, bahkan mungkin hingga sekarang, banyak pula yang under estimate tentang bisnis ini. Baik dari segi perusahaan, bisnisnya itu sendiri, sampai pada kondisi kesejahteraan pelaku-pelaku di bisnis tersebut. Kadang, hal-hal “miring” seperti itu juga sempat membuat saya ragukan pada awalnya. Tetapi seingat saya, memang saya tidak menetapkan tujuan untuk bekerja di bidang ini. Waktu terus bergulir dan bergulir, hingga akhirnya mendudukkan saya pada ini, saat ini.
Tetapi ternyata, baru-baru ini saya tersadar, saya pernah ingat semasa saya di SMA, mungkin seperti flashback di film-film. Saya pernah membaca koran yang memuat berita tentang seorang wanita yang berprofesi sebagai broker saham. Wanita itu diceritakan berhasil menjadi sukses dan kaya. “Wah, hebat sekali, canggih sekali,” pikir saya waktu itu. “Di mana dia sekolahnya, ya?” tanya saya dalam hati, polos. Dan memang, hanya sampai taraf itulah saya berpikir dan berimajinasi tentang dia, dalam wawasan seorang anak SMA.
Dan memang jujur saja, bagi saya sukses dan kaya adalah hal yang sangat menarik. Tentu, ini juga menarik bagi Anda, bukan? Saya tidak mengagungkan uang, tetapi saya pun sangat setuju dengan ungkapan Robert T. Kyosaki, bahwa menyenangi uang bukanlah sesuatu hal yang jahat. Menurut saya, ungkapan tersebut sangat jujur, apa adanya, manusiawi. Sedikit banyak ungkapan Kiyosaki itu pulalah yang membuat saya mencintai bukunya, sejak pandangan pertama. Bagi saya pribadi, judul-judul bukunya juga pada dasarnya sangat eye-catching, jujur, dan menarik.
Kesimpulan saya, memang kita kadang tidak memiliki tujuan pada awal-awal kita melangkah. Tetapi, mungkin langkah-langkah tersebut menjadikan kita merasakannya seperti “disetir”, atau secara tidak sadar kita “diarahkan” oleh mimpi-mimpi kita. Lalu entah bagaimana prosesnya, mimpi-mimpi kita itu akhirnya secara perlahan-lahan menjelma menjadi kenyataan. Inikah yang menyebabkan asal usul dari pemeo kebanyakan orang, yaitu “mimpi yang menjadi kenyataan”?[msa]
* Maria Saumi lahir di Jakarta, 27 Agustus 1976 dengan nama asli Mariatun Meima Saumi. Ia adalah lulusan Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia, tahun 2000. Maria adalah praktisi bidang investasi, dengan spesialisasi futures trading investment, dan saat ini bekerja di PT Sentratama Investor Berjangka, Sudirman, Jakarta. Ia juga alumnus workshop Proaktif “Cara Cerdas Menulis Buku Bestseller” Batch VIII, Februari, 2009 dan dapat dihubungi melalui pos-el: mariasaumi[at]yahoo[dot]com atau nomor telepon: 021-99111527 dan handphone: 087885299563.

March 16th, 2009 at 8:50 am
Suatu permenungan yang jujur. Tulis, tulis dan tulis lagi.
March 16th, 2009 at 11:22 am
Berani menunjukkan kekurangan…!!!
Tapi jangan jadi minder karena kekurangan kita
Sukses terus Maria
March 16th, 2009 at 4:49 pm
“ambisius” mungkin ini kata yg tepat untuk inti karya diatas. kita perlu memiliki jiwa yg berambisi namun bukan berambisi yg terlalu tinggi, krn hal itu justru akan membuat kita jadi “GILA” pd akhirnya. Jadi yg penting kerja, kerja n kerja ,dimana hasilnya pasti akan kita capai akhirnya n yg paling utama JANGAN PERNAH MENGELUH AKAN PERJUANGAN KITA tapi LIATLAH HASIL YG MENUNGGU KITA DI DEPAN SANA!!!
March 17th, 2009 at 1:17 pm
Maria disini menegaskan sesuatu yang sering diabaikan orang, terutama orang-orang yang terlalu teoritik, tentang The Power of Action! “yes, goals are important but actions are more important!” Saya tidak yakin bahwa Bob bergerak tanpa tujuan, and He lets other people 100% decide for him! Gak! Gak mungkin! Orang lain menentukan tujuan, boleh saja, tapi saya yakin it’s under his direction! So, basically he has somewhere to go, and something to get!
Great Maria! I like this article! Thoughtful!
March 17th, 2009 at 11:32 pm
Sisi lain dari seorang MMS aka Atun, ternyata selama ini memiliki bakat terpendam yang luar biasa.. Bravo.. You inspired me to write, and write and write…
March 18th, 2009 at 7:19 pm
hebad atun…
March 18th, 2009 at 7:56 pm
Bener bgt saran dan komentar temen 2x diatas, memang hidup harus ada tujuannya…ngak mungkin…krn klu tdk kapan akan maju…sukses dpt dipandang dr sisi dimana kita berhasil mencapai suatu tujuan…yg kadang dpt jg dilihat dari materi…coba lihat lg buat apa sukses berlimpah harta tp miskin iman dan tdk tenang dlm hidupnya…Ok bgt Mar…maju terus..
March 22nd, 2009 at 8:06 pm
Dear Maria,
Tulisannya bagus, Bu! Jujur banget.
March 23rd, 2009 at 12:20 am
Menulis untuk mengungkap faktakah? Untuk siapa?
Pandangan pribadi pasti terbingkai keterbatasan akal bukan? Apalagi terganggu oleh perasaan yang terkacaukan oleh bermacam keingingan dan ketidak-puasan.
Kejujuran yang berasal dari hati yang murni tentu akan menyentuh hati. Karena didasari cinta kepada yang dituju. Dan pengabdian diri bagi kehidupan. Anda sudah ditunggu diri sejati.
March 23rd, 2009 at 12:38 pm
Terimakasih kpd teman2 yg sdh sudi baca tulisan sy..tulisan ini InsyaAllah hanyalah ungkapan hati sejujurnya..n berharap ada hikmah buat Anda dan Saya..mudah2an sy dijauhi dan dilindungi dari sifat riya n pamer diri..terimakasih banyak teman2 ya..I love U guys..salam
April 25th, 2009 at 2:05 pm
Mantaaff….disetir or diarahkan oleh mimpi. May God will lead us to our dream…tetap semangat mba!!