Antara Excuse dan Berpikir Besar
Editor | Kolom Lepas | March 1st, 2009
Oleh: Maria Saumi*
Sebagai seorang marketing manager yang dibantu asisten penjualan, salah satu tugas saya adalah memberikan motivasi. Motivasi saya berikan kepada setiap account executive yang berada dalam tim saya. Bagi saya, tugas memberikan motivasi itu sangatlah berat. Tugas tersebut “memaksa” saya untuk terlihat selalu “stabil” dan “tegar”. Padahal, realitasnya saya pun mengalami up and down. Apalagi saya adalah seorang wanita.
Maksudnya? Setiap wanita, tiap-tiap bulannya secara kodrati pasti mengalami kondisi yang tidak stabil selama beberapa waktu lamanya. Periode datang bulan adalah salah satu contohnya. Sang pemicu unstable condition adalah siklus hormonal dalam tubuh wanita. Maaf, ini bukan sebagai bahan pemakluman wanita terhadap pria. Dan, hal tersebut juga bukan ditujukan untuk melemahkan atau merendahkan posisi wanita di mata pria.
Tetapi, dalam “kaca mata marketing” saya, sesungguhnya kondisi tersebut malah merupakan suatu peluang (opportunity) bagi pria. Mengapa? Karena, dari kondisi inilah pria menjadi makhluk yang bermanfaat bagi pasangannya. Begitu, kan? Yaitu dengan mencurahkan kasih dan sayang kepada sang wanita, makhluk pasangan pria, yang sedang dirundung resah dan gelisah akibat hormon alamiahnya. Sayangnya, sedikit sekali pria yang mampu melihat ini sebagai suatu peluang.
Intinya, kadang kala saya mengalami kesulitan dalam memotivasi orang lain. Bagaimana dapat memotivasi orang lain, sedangkan saya sendiri kadang-kadang juga mengalami lack of motivation? Singkatnya, tidak bergairah!!!
Balik lagi ke motivasi sebelumnya. Bahan dasar motivasi dapat saya berikan berdasarkan pengalaman pribadi, pengalaman teman-teman seprofesi atau di luar profesi, talkshow TV, dari radio, dan lain sebagainya. Bila berdasarkan cerita atau pengalaman orang-orang di luar diri saya, memang saya terkesan. Tetapi, cerita seperti itu kurang menyentuh hati saya secara “dalam”. Namun, apabila cerita atau pengalaman itu berasal dari orang terdekat, teman, atau setidaknya dari orang yang betul-betul kita kenal, lain lagi efeknya.
Sering kali, bila diceritakan pengalaman orang yang “di luar” lingkaran sendiri, kita akan memberikan excuse kepada diri kita sendiri. Seperti ini contohnya, “Ah, pantas saja dia berhasil… Koneksi keluarganya kan kuat!?” Atau, bisa pula seperti ini: “Ah, kejadian itu jauhlah, enggak mungkin menimpa diri kita atau kelompok kita!” Dan, masih ada seribu alasan lainnya.
Ini satu cerita tentang teman saya. Barangkali karena saking terkesannya, cerita ini sering saya dengungkan kepada tim saya untuk memotivasi mereka. Teman saya ini, seorang wanita juga, sebut saja namanya Alexandra (maaf, kalau Mawar atau Melati, biasanya itu nama korban perkosaan, kan?). Dia bekerja di perusahaan yang, walaupun agak berbeda, tetapi bidangnya hampir serupa dengan perusahaan tempat saya bekerja, yaitu di bidang marketing dan bertugas menjaring nasabah.
Ceritanya, waktu itu adalah tahun-tahun pertama saya bekerja. Setelah lulus kuliah, melamar kerja, saya menjadi new comer di dunia kerja. Tidak kurang dari dua tahun, saya bertemu Alexandra. Dia sudah berpenampilan jauh lebih cantik, selain memang pada dasarnya dia sudah cantik. Dia juga sudah berpenampilan bak esmud alias eksekutif muda. Singkatnya, tampilan orang-orang sukses—sepengetahuan saya—ya seperti itu. Memiliki uang banyak, tampilan luar atau pakaiannya dilengkapi dengan high fashion style, sudah mempunyai sopir pribadi yang menemani ke mana pun dia pergi, dan dengan sedan versi terbaru dari merek terkenal tentunya.
Pertemuan kami waktu itu, ternyata menyisakan “hati yang sesak” buat saya. Saya tidak mengerti, bagaimana dalam kurun waktu kurang dua tahun saja, Alexandra sudah sangat “SUKSES” sekali…. Setidaknya, itu sukses di mata saya (yang dalam kasus ini salah satu parameter suksesnya adalah materi). Alexandra punya banyak nasabah yang investasi atau depositnya sampai bermiliar-miliar. Ingat, bukan sekadar deposito/tabungannya, tetapi deposit investasinya, lho! Sebab, ini hal yang berbeda sekali bagi kami yang bergerak di dunia investasi.
Saya tidak mau kalah! Pikiran saya bertarung dengan hati nurani saya sendiri dan terus bertanya-tanya, “Ada apa, Maria?” Lalu, saya redam kecamuk di hati, tentu saja dengan excuse saya, kan? Mulailah saya membuat alasan-alasan, dan kemudian saya tanamkan kuat sekali di dalam pikiran dan hati saya. Alexandra sukses, tentu saja karena dia wanita, cantik, agak ramah alias “rajin menjamah”. Dengan keji saya “memfitnahnya” seperti itu. Walaupun, tentu itu hanya dalam hati saya saja. Lalu, dia juga dari keluarga lumayan berada, berpendidikan tinggi pula. Dan, tentu saja koneksi dari keluarganya sudah lumayan dan sangat membantu dia untuk meraih kesuksesannya. “Dia tidak bekerja cukup keras!” itulah dugaan saya, waktu itu. Itulah excuses saya. Dan, itu benar-benar “melegakan” pikiran dan hati saya….
Ternyata, kami kemudian berkesempatan bertemu kembali. Walaupun sama-sama bekerja di daerah Sudirman, Jakarta, kami belum tentu setengah tahun sekali bertemu. Pertemuan berikutnya itulah yang menampar diri saya ini, hingga saya “terjerembab”, jatuh ke dasar bumi yang paling dalam. Kesuksesan Alexandra, yang akhirnya saya ketahui dari pembicaraan saat itu, ternyata berawal mula dari referensi sebuah yellow page. Buku berhalaman kuning itulah tempat dia menemukan investor besarnya yang pertama. Investor itulah yang menanamkan modal dalam jumlah yang cukup besar di perusahaan tempat teman saya ini bekerja. Tambahan lagi, si investor itu juga mereferensikan koleganya untuk bergabung di investasi yang ditawarkan oleh teman saya ini.
Ceritanya, suatu hari tanpa sengaja dia melakukan marketing call kepada calon nasabah. Datanya ya dari buku berhalaman kuning tersebut. Dan, binggo!!! “Dewi fortuna” pun menyukai usaha kerasnya (walau sebelum-sebelumnya sudah pasti dia juga bekerja keras, no pain no gain). Mendengar cerita itu, perlahan-lahan salah satu excuse yang saya tanam dalam diri saya, gugur! Alasan yang saya buat sebelumnya, dia pastilah sukses karena koneksitas keluarganya yang cukup berada. Penyesalan pun diam-diam merayapi pikiran dan hati saya, waktu itu.
Dari bahan pembicaraan dengan Alexandra hari itu, saya semakin terenyuh dan “terpesona” oleh prinsipnya. Mata hati saya terbuka. Hati nurani saya pun ikut berbicara. Saya juga dapat melihat bahwa kepedulian Alexandra terhadap ibunya, membuat Tuhan pun membuka Mata-Nya, dan mengulurkan rezeki kepada teman saya ini. Dia bercerita, bahwa ibunya setiap dua minggu sekali harus cuci darah pada organ ginjalnya. Biaya yang dia keluarkan untuk ‘kepedulian’ sebagai wujud tanda baktinya itu sekitar belasan hingga puluhan juta rupiah per bulannya. Itu terjadi sekitar tahun 2000-2002, yang waktu itu gaji saya saja tidak lebih dari satu juta rupiah per bulannya. Saya membayangkan, betapa besarnya….
Akhirnya, saya berkesimpulan bahwa Alexandra pasti berpikir besar sehingga kontribusinya juga besar terhadap orang-orang di sekelilingnya. Memang, tentu saja Tuhan tidak “tidur”. Tuhan pun Mahamelihat, mana yang harus “cepat diberi” dan mana yang cukup “diberi secara perlahan”, sambil menilai daya, upaya, serta tingkat kebersyukuran dalam diri tiap-tiap hamba-Nya. Perlahan-lahan, saya mulai paham dan mengerti. Semakin bersyukur kepada-NYA. Semakin ditambahkan oleh-NYA. Amin.[msa]
* Maria Saumi lahir di Jakarta pada 27 agustus 1976 dengan nama asli Mariatun Meima Saumi. Ia adalah lulusan Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia, tahun 2000. Maria bekerja di PT Sentratama Investor Berjangka, Jakarta, sebagai praktisi di bidang investasi dengan spesialisasi futures trading investment. Ia dapat dihubungi melalui email: mariasaumi[at]yahoo[dot]com.

March 1st, 2009 at 5:32 pm
muantaaaaaaabbbbb dddddaaaahhhhh buuuu!!!!!
March 1st, 2009 at 5:52 pm
TWO TUMBS UP!!! terus nulis ya Mar….. gw suka tulisannya!!! Jujur banget!
March 1st, 2009 at 6:26 pm
Artikel ini inspiratif dan membuat saya melihat diri saya kebelakang. Dulu saya (waktu masih muda) juga seperti itu. Melihat semua dari penampilan kasar dulu, dan selalu terpesona oleh materi. Tapi semakin saya bertambah tua dan menimba ilmu, saya sadar bahwa orang yang berhasil bukan orang yang punya orang banyak dan terlihat sukses (seperti misalnya berpenampilan eksekutif muda) tetapi orang yang bisa melihat semuanya sampai inti permasalahannya. Dan mau belajar dari sekelilingnya. Saya rasa jika penulis terus dapat terus melihat, memahami dan merasakan sekelilingnya dengan mata hatinya seperti sekarang yang digambarkan dalam tulisannya, dia dapat menjadi lebih sukses dari Alexandra.
*Andri Pramesyanti. Terakhir lulusan Medizinische Hochschule Hannover.
March 1st, 2009 at 6:32 pm
Mbak Maria,
Selamat ya. Yang mengaku awalnya iseng-iseng saja, hasilnya begitu. Bagaimana kalau serius ya? Saya senang kalau di “batch” mendatang, (entah kapan?) dari antara “batch” VIII bisa menjadi salah satu coach.
March 1st, 2009 at 8:50 pm
Sukses selalu Maria….
March 2nd, 2009 at 8:08 am
Ok mar…yg pasti sih kudu focus dan penuh tantangan…klu udah pernah baca buku “who moved my chesse”…dan berprinsip “do the best”…ini pengalaman gue waktu pindah kerja ketempat lain stlh kerja 9 th di 1 tempat alias comfort zone.motivasi unt mencari yg baru dgn tantangan baru.
March 2nd, 2009 at 11:54 am
Good article… continue yahhh
March 2nd, 2009 at 1:22 pm
good thinking, memang kita sering melihat suatu hal dengan rasa “tidak terima” dgn kelebihan orang lain, padahal sebenarnya hal itu merupakan tantangan tersendiri dalam hidup kita untuk lebih sukses lagi!
March 2nd, 2009 at 2:17 pm
Inspired me to work harder to gain the best! Thanks, Mar!
March 2nd, 2009 at 2:27 pm
Belajar dari ‘Universitas Kehidupan’ ya Bu… Excellent! Keep up the good work!
March 2nd, 2009 at 2:37 pm
Bagus mar … bagus banget lo bisa lebih kembangkan lagi bakat lo dlm menulis …
Tulisan lo apa adanya … mengena dan bisa memberikan motivasi buat marketing2 lainnya …
Sukses ya mar …
March 2nd, 2009 at 3:37 pm
good article.
Rich people believe: “I create my life.” Poor people believe: “Life happens to me.”
March 2nd, 2009 at 4:11 pm
Well Done….
Akan tetapi kenapa tidak diceritakan apakah pengalaman temen ibu itu telah mempengaruhi ibu juga…? tapi cerita sukses Alexandra dengan kepedulian kepada ibunya kurang nyambung deh.. karena itu sisi lain dari kehidupan Alexandra.. karena sudah menjadi kewajiban seorang anak berbakti kepada Orang Tuanya..
March 2nd, 2009 at 9:43 pm
Well done Sis, btw tulisan yang cukup panjang untuk dibaca…. tapi masih penasaran nih.. apa pemikiran besar-nya Alexandra yang membuat dia SUKSES BANGET (menurut kacamata jeung Maria)… kalo hikmah dibalik kepedulian Alexandra kepada ibu dan orang2 sekelilingnya…pasti akan berbuah manis karena setiap energi positif akan kembali kepada kita hal yang positif juga…
March 9th, 2009 at 12:04 am
terimakasih atas kontribusi komentar2 dari temen2 semua…saya sgt merasa luarbiasa memiliki teman yg hebat seperti kalian semua. salam. (msa)
March 9th, 2009 at 8:51 pm
satu kata aja dehh…KEREN! mudah2an si mbakyu ku ini jadi produktif nulisnya.
March 11th, 2009 at 8:25 am
Luar biasa. cerita yang ‘menampar’
, makacih..
March 11th, 2009 at 9:25 pm
Subhanallah…
hanya orang yg berani saja yg bisa sukses…
semoga saya juga bisa begitu…
thanks ya… maria…