Anda Luar Biasa, Jika Nyaman Menghadapi Tantangan

ek5Oleh: Eni Kusuma*

“Rasa nyaman menjawab tantangan dipengaruhi oleh ide atau tantangan yang rasional bagi dirinya, sehingga membentuk keyakinan yang kuat. Tetapi keyakinan ini terbentuk dengan sendirinya, bukan paksaan. Sehingga tidak ada keragu-raguan yang akan menghambat proses keberhasilan.”

~ Eni Kusuma

Tantangan adalah sesuatu yang di luar kemampuan kita. Dengan belajar, kita bisa menjawab tantangan tersebut. Ini yang akan membuat kita tumbuh dan berkembang. Sebaliknya, sesuatu yang bisa kita kerjakan dengan sangat mudah bukanlah suatu tantangan. Ini tidak membuat kita tumbuh dan berkembang. Sesuatu yang bisa kita kerjakan dengan mudah tentu membuat kita nyaman dan tidak terbebani. Tetapi, bagaimana jika kita menghadapi tantangan yang tidak begitu mudah kita kerjakan? Bisakah kita tidak khawatir, merasa nyaman, dan tidak terbebani dalam melakukannya?

Saya akan menerangkan ilustrasi di atas, sebagai berikut:

Pembaca, ketika saya berkeinginan merantau menjadi pembantu rumah tangga di Hong Kong, saya tidak merasakan kekhawatiran yang merisaukan. Karena, menjadi pembantu itu adalah sebuah pekerjaan yang “siapa pun bisa melakukannya, jika sudi”. Jadi, ini bukan suatu tantangan bagi saya. Saya merasa demikian pede untuk pekerjaan ini. So pasti, saya begitu yakin, merasa nyaman dan tidak terbebani. Karena, ini bukan hal yang luar biasa.

Apakah Anda pernah mengalami saat melakukan pekerjaan yang sangat mudah bagi Anda? Anda tidak merasa khawatir, bukan? Justru Anda merasa sangat yakin dapat melakukannya. Tentu saja ini tidak membuat Anda lebih hebat, karena ini bukan suatu tantangan. Yang Anda kerjakan tidak membutuhkan segenap kemampuan Anda yang sebenarnya. Sehingga, Anda tidak berkembang dan tumbuh.

Sebaliknya, jika kita melakukan pekerjaan yang kita rasa di luar batas kemampuan kita, apakah kita merasa khawatir tidak bisa melakukannya dengan baik? Ini baru namanya tantangan. Tetapi, kita menjadi luar biasa jika bisa menjawab tantangan ini. Kita akan belajar, maka kita akan berkembang dan tumbuh.

Demikian juga saya, ketika saya mendapat tantangan untuk menulis buku, jelas ini di luar batas kemampuan saya. Karena, saya sadar tidak semua orang bisa melakukannya. Bahkan, tidak semua orang pintar yang memiliki gelar akademik sekalipun bisa menelurkan buku. Khawatir? Jelas saya rasakan. Tetapi entahlah, tiba-tiba saya merasa yakin benar bisa melakukannya dengan belajar. Keyakinan itu muncul layaknya kemunculan sebuah ide. Begitu spontan sehingga kekhawatiran saya terkikis dan saya merasa nyaman, tanpa beban melakukannya.

Keyakinan saya muncul karena bagi saya tantangan yang saya hadapi ini benar-benar rasional sehingga tidak ada pertentangan dalam benak saya. Meskipun mungkin bagi orang lain tantangan saya ini irasional atau emosional. Keyakinan inilah yang terus-menerus memprovokasi pikiran bawah sadar saya.

Sekarang, apakah Anda pernah bertemu dengan seseorang yang sepertinya dia yakin benar bisa menjawab tantangan yang dihadapinya, tetapi hasilnya nihil?

Saya pernah mengalaminya. Saya mendapat tantangan menjadi sales untuk menjual produk. Saya merasa yakin bisa melakukannya dengan baik, karena pekerjaan ini rasional bagi saya dan merupakan keinginan saya. Tetapi, hasilnya nihil. What’s wrong with me? Rasional sudah, yakin sudah. So, what?

Ternyata, saya membohongi diri saya sendiri. Keyakinan saya sangat dipaksakan. Ini yang membuat saya kurang nyaman dan menghambat saya. Keyakinan saya tidak timbul dengan sendirinya. Yang sebenarnya adalah saya tidak yakin dan ragu-ragu. Saya pikir keyakinan bisa dipaksakan. Dan, saya pikir pula keyakinan akan tumbuh, berkembang dan menguat jika terus-menerus dipaksakan. Ternyata, semakin dipaksa semakin tersiksa. Pekerjaan ini tidak pernah terlintas sedikit pun dalam benak saya sebelumnya. Tetapi menulis, sempat terlintas dalam pikiran saya ketika saya masih sekolah.

Seperti kata-kata puitis William Shakespeare: “Bukan aku yang membentuk puisiku, tapi puisiku yang membentuk aku menjadi seperti ini.” Jika saya tarik benang merahnya akan seperti ini: “Bukan aku yang membentuk keyakinan (bahwa aku bisa), tapi keyakinanlah yang membentuk aku menjadi seperti ini.”

Dengan demikian keyakinan tidak bisa dibentuk, dipaksakan, atau dilatih. Begitu ia mendapat ide, jika ia pas dengan ide tersebut, maka keyakinan akan timbul dengan sendirinya secara spontan, semakin lama semakin menguat. Yang bisa dibentuk dan dilatih adalah tindakan yang mengarah kepada ide dan keyakinannya itu.

Seperti keyakinan Einstein akan idenya yang menghasilkan teori-teori spektakuler dan menjadikannya sebagai manusia jenius. Ia pun berkata: “Aku tidak tahu bagaimana prosesnya, tiba-tiba ide itu muncul dalam pikiran saya.”

Contoh yang lain yaitu, keyakinan Thomas Alva Edison bahwa ia akan berhasil membuat lampu pijar, tidak membuatnya lelah melakukan seribu kali percobaan. Keyakinan Edisonlah yang membuatnya sebagai penemu lampu pijar.

Keyakinan Andrie Wongso yang menjadikannya Motivator No.1 Indonesia. Keyakinan Bob Sadino yang membuatnya pengusaha luar biasa. Keyakinan Cak Man yang menjadikannya pengusaha bakso sukses, dan keyakinan-keyakinan orang-orang luar biasa lainnya yang menjadikannya seperti apa yang mereka yakini.

Setiap orang tentu memiliki ide atau gagasan (bahkan lebih dari satu) yang menantang, baik untuk dirinya sendiri, maupun untuk menantang orang lain. Dan setiap orang tentu akan menimbang apakah ide tersebut rasional atau tidak bagi dirinya. Jika bersifat rasional akan lebih mudah meyakininya daripada yang bersifat emosional atau irasional.

Tetapi, meskipun ide kita masuk akal atau rasional, jika keyakinan akan ide tersebut dipaksakan, itu tidak akan bekerja. Biarlah keyakinan Anda yang akan membentuk Anda. Bahkan, banyak orang yang nyaman dengan lebih dari satu macam tantangan. Karena, mereka memiliki keyakinan yang tidak dipaksakan atau tidak pura-pura.

Bagaimana menurut Anda?[ek]

* Eni Kusuma adalah seorang motivator, mantan pembantu rumah tangga di Hongkong, kolomnis Pembelajar.com, AndaLuarBiasa.com, dan penulis buku laris Anda Luar Biasa!!!.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 6.9/10 (7 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

4 Responses to “Anda Luar Biasa, Jika Nyaman Menghadapi Tantangan”

  1. Trisno Says:

    terimakasih mba eni, semoga catatan ini selalu mengingatkan saya untuk terus kuat menghadapi tantangan yang sering menggoda agar saya mengurungkan niat untuk meraihnya.

    kesadaran yang baik memang tumbuh dari dalam diri, makasih ya.

    wassalam,

    Trisno

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  2. Rustiani widiasih Says:

    Anda Memang Luar Biasa mbak Eni Kusuma. Saya terinspirasi dengan Anda.

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  3. ayok Says:

    Luar Biaasa sekali, mbak Eni. Terima kasih. saya terinspirasi sekaligus termotivasi. salam kenal

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: -1 (from 1 vote)
  4. Suyudi Al Mahyudi Says:

    Ketidaknyamanan akan melahirkan tantangan tantangan apabila kita punya prespektive positip akan melahirkan jiwa seperti ibu Eni Kusuma, Salam sukses

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 3.0/5 (1 vote cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a Reply

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox