Anak Anda adalah Proyek yang Luar Biasa

ahg1Oleh: Aleysius H. Gondosari*

Tulisan berikut ini adalah bagian pertama dari 2 tulisan, yaitu “Anak Anda adalah Proyek yang Luar Biasa” dan “Milestone: Batu Pengukur yang Luar Biasa”.

Beberapa tahun yang lalu, saya tertarik dengan sebuah tulisan dalam majalah Engineering Management yang judulnya “The Project is You”. Topiknya adalah bagaimana memperlakukan karier kita sebagai sebuah proyek. Sebagaimana halnya sebuah proyek, kita perlu membuat rencana dan membuat target pencapaian pada setiap tahap atau milestone. Jadi, sebelum mulai bekerja kita perlu menentukan jenis pekerjaan apa yang akan kita pilih, untuk mencapai cita-cita kita.

Pada minggu-minggu terakhir bulan Januari 2009, ada beberapa informasi menarik yang menguatkan tentang pentingnya kita mengelola diri kita atau anak-anak kita sebagai sebuah proyek yang luar biasa.

Dalam sebuah tulisan di koran anak Berani terbitan 22 Januari 2009, Fermina Katarina Sinaga guru kelas 3 SD Fransiskus Asisi, yang pernah menjadi guru Barack Obama, berkata bahwa Obama kecil adalah calon pemimpin. Obama suka bertanya di kelas, suka menolong, dan gesit. Pada pelajaran mengarang, Obama menulis,Saya Barry Soetoro (nama Obama di Indonesia). Saya kelas tiga. Ibu guru saya ibu Fer. Teman saya banyak. Semuanya baik-baik. Saya ingin jadi presiden. Saya cinta Indonesia. Alamnya enak. Saya ingin berkeliling Indonesia.”

Ternyata cita-cita ingin jadi presiden yang ditulis oleh Barack Obama kecil sewaktu ia masih kelas 3 SD terealisasi di usia 47 tahun, tepatnya pada tanggal 20 Januari 2009.

Ada informasi penting pada tanggal 24 Januari 2009. Pada hari itu, beberapa harian memuat tentang satu juta anak Indonesia yang cerdas dengan IQ di atas 125, di antaranya koran Kompas dan koran anak Berani. Profesor Yohanes Surya dan Kak Seto mengulas betapa pentingnya bagi Indonesia untuk menangani agar satu juta anak ini bisa berhasil di masa depan, baik dari segi intelektual, spiritual, dan emosional. Dengan kata lain, ini adalah sebuah proyek yang luar biasa, karena ada satu juta anak cerdas di Indonesia yang berpotensi menjadi orang sukses luar biasa.

Dalam sebuah survei di Amerika Serikat, anak-anak yang bercita-cita atau pernah menuliskan cita-citanya sewaktu masih kecil, sebagian besar berhasil mencapai apa yang mereka cita-citakan. Tetapi, anak-anak yang tidak pernah bercita-cita, akhirnya sebagian besar menjadi orang biasa-biasa saja. Kita bisa melihat salah satu contohnya pada Barack Obama di atas.

Tahun lalu, anak saya yang waktu itu baru naik ke kelas 3 SMP, bersama anak-anak lainnya mengikuti boot camp untuk anak remaja. Di samping mendapat pelatihan motivasi dan teknik belajar, mereka juga harus menyusun visi, misi, roadmap, dan target tahunan yang akan mereka capai hingga visi mereka terealisasi. Sebagian anak bercita-cita ingin menjadi dokter, yang lain ingin menjadi pengusaha, wirausaha, insinyur, desainer, dan lain-lain. Jadi visi, misi, roadmap, dan target yang biasanya kita pelajari dalam pelajaran manajemen, sudah ditularkan kepada anak remaja. Semoga saja cita-cita mereka bisa terealisasi.

Menurut Profesor Yohanes Surya dalam bukunya Mestakung (semesta mendukung), ketika kita bercita-cita mencapai sesuatu yang besar, maka alam semesta akan ikut mendukung tercapainya cita-cita tersebut. Menurut beliau, hal ini sesuai dengan hukum fisika. Ketika kita mempunyai cita-cita, diri kita sendiri secara otomatis atau tanpa kita sadari akan membuat sebuah proyek baru untuk mencapai cita-cita tersebut.

Saya ingin menceritakan tentang Ibu saya, yang memberi inspirasi kepada saya untuk terus belajar. Ibu saya dulu pernah bercita-cita kuliah di perguruan tinggi. Tetapi, karena adik-adik beliau cukup banyak, Ibu berhenti sekolah setelah tamat SMP, agar adik-adik beliau bisa sekolah. Akhirnya, adik-adik beliau semua berhasil kuliah di perguruan tinggi. Ketika saya duduk di kelas 4 SD, ada kesempatan bagi Ibu untuk meneruskan sekolah ke sekolah guru yang setingkat SMA. Jadi waktu saya lulus kelas 6 SD, Ibu juga lulus sekolah guru pada usia 35 tahun. Kemudian, waktu saya meneruskan S-2 manajemen tahun 1994, ternyata Ibu juga sedang meneruskan pendidikan ke D-3. Tidak lama setelah saya lulus S-2, Ibu juga lulus D-3 pada usia 57 tahun.

Akhirnya, cita-cita Ibu tercapai juga untuk kuliah dan lulus dari perguruan tinggi pada usia 57 tahun. Ternyata, cita-cita tidak mengenal usia. Kita juga pernah membaca, bagaimana kerasnya pengorbanan dan usaha Adnan Buyung Nasution untuk memperoleh gelar doktor dari Universitas Utrecht di Belanda dalam usia 58 tahun.

Jadi, jangan takut untuk meminta anak Anda bercita-cita menjadi orang luar biasa. Juga jangan menertawakan anak Anda bila ia mempunyai cita-cita yang tinggi. Pikiran kita adalah seperti pohon kalpataru, yang dapat mengabulkan segala keinginan, permintaan, dan cita-cita. Cepat atau lambat, cita-cita mereka akan tercapai seperti halnya Barack Obama.

Ketika cita-cita sudah dibuat, maka langkah penting berikutnya adalah membuat beberapa milestone penting atau tonggak pencapaian yang ingin dicapai. Milestone yang terakhir adalah cita-cita yang ingin dicapai. Kita akan membahasnya dalam tulisan berikutnya “Milestone: Batu Pengukur yang Luar Biasa”.[ahg]

* Aleysius H. Gondosari adalah alumnus ITB tahun 1984, trainer bidang organisasi dan manajemen, penggemar fotografi, dan pengembang online business. Aley tinggal di Jakarta dan dapat dihubungi melalui email: aleysiush[at]gmail.com atau di nomor telepon: 0818116669.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

3 Responses to “Anak Anda adalah Proyek yang Luar Biasa”

  1. baitul alim Says:

    mendidik anak sangat perlu untuk hati-hati, jangan sampai salah dalam mendidik anak sehingga membuat anak menjadi orang yang pesimis, minder dan lain-lain.karena didikan ortu dapat membentuk kepribadian anak.

    —————————————————-
    Bagaimana cara mendidik anak agar sukses dan bahagia di anekapilihan.com

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  2. Eni Kusuma Says:

    Dear Pak Aley,

    Tulisan-tulisan Anda sangat menginspirasi saya, terimakasih. Oyah, saya juga sangat berterimakasih atas saran tajin beras merahnya buat anak saya. Anak saya sekarang tidak sakit-sakitan…hehehe.

    Eni Kusuma

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  3. aleysius Says:

    Dear Mbak Eny,
    Terima kasih atas komentarnya. Saya juga ikut senang anaknya sekarang sudah sehat berkat beras merah, he..he..he. Salam Sehat Selalu.

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a Reply

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya Oleh: Don Gabor Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009 ISBN: 978-979-22-5073-2 Tebal: xviii + 380 hal Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas! Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox