Amanat Posisi

maria-saumi-rOleh: Maria Saumi*

Ketika dunia sedang dilanda krisis finansial, saya malah diperlihatkan pada hal-hal yang selayaknya patut dipikirkan. Suatu kali ketika—seperti biasanya—saya mengunjungi salah satu nasabah. Dia adalah owner dari suatu perusahaan afiliasi yang bergerak di bidang supply atau pengadaan barang-barang elektronik. Merek dagangnya sangat terkenal di dunia. Kita pun sering melihat iklan merek dagang tersebut wara-wiri di layar TV ataupun menjadi sponsor dalam penyelenggaraan pertandingan olah raga, bola dunia contohnya. Boleh dibilang bisnisnya mencakup lokal dan internasional. Dia memang salah satu nasabah ”kakap” saya.

Biasanya saya selalu menjumpai dengan mata kepala sendiri misalnya, ataupun membaca, melihat hal-hal di mana seorang petinggi suatu perusahaan berprilaku sewenang-wenang terhadap bawahan atau pegawainya. Tetapi, tidak dengan nasabah yang saya kenal ini. Dia pernah bercerita bahwa koleganya banyak yang merumahkan pegawainya sebagai imbas krisis global ini.

Ketika saya pertanyakan ada atau tidak pegawai yang di-PHK di pabriknya, dengan santai dia menjawab, ”Enggaklah, kalau kondisi kita masih oke, kasihan mereka jangan ditakut-takuti hal seperti itu, nanti malah mereka enggak tenang dan nyaman kerjanya. Kalau mereka nyaman dan tenang bekerja, produktivitas mereka akan jadi bagus. Lagia pula, saya sih target tahun ini mencoba untuk break even point (balik modal) saja. Tidak melulu mengejar untunglah. Ada waktunyalah….”

”Wah, sangat bijaksana sekali…,” pikir saya.

Dia berprinsip, selain tujuan utama memang keuntungan, memiliki pegawai yang loyal dan produktif itu juga merupakan aset yang menguntungkan. Beruntung sekali saya memiliki nasabah seperti itu. Saya jadi bisa belajar dari pola pikirnya. Itu ilmu yang tentunya akan saya terapkan bila, siapa tahu di kemudian hari saya akan menjadi seorang owner dari suatu perusahaan hahaha….

Tetapi, nasabah saya itu hanyalah segelintir owner atau petinggi perusahaan yang karakter pribadinya kuat, baik, dan bijaksana. Masih banyak lagi tentunya yang juga kebalikan dari itu. Hanya mengejar untung banyak, mengurangi ukuran/timbangan kepada konsumen, berkompetisi dengan kompetitornya secara tidak sehat, menjatuhkan nama baik perusahaan lain, pribadi yang gila hormat, tidak memerhatikan kesejahteraan pegawai, dan lain sebagainya.

Bila dikategorikan, perusahaan nasabah saya ini tergolong cukup terkenal dan besar. Bagaimana dengan pemilik usaha dan pekerja pada level-level yang dibawahnya dari itu?

Suatu kali saya membaca artikel yang termuat di blog Kompasiana, 9 juni 2009. Di dalam artikel itu diceritakan bahwa suatu hari seorang ayah dan seorang anak lelakinya berniat membeli kue lopis. Penjual kue lopis berjualan di pinggir jalan itu boleh dibilang adalah pemilik usaha level bawah. Ceritanya, saat membeli kue ternyata si penjual tidak memiliki uang kembalian. Dengan terpaksa si bapak calon pembeli itu berjalan sejauh kira-kira 200-300 meter untuk menukarkan uang recehan yang lebih kecil agar dapat membeli dan membawa pulang kue lopis untuk dinikmati keluarganya, terutama anak lelakinya.

Ketika balik lagi ke tempat pedagang kue lopis tersebut, si penjual ternyata telah menjual kue lopisnya kepada pembeli lainnya, yang kebetulan membeli ketika si bapak itu menukarkan uang recehan. Si penjual mungkin takut rugi dengan menunggu si bapak dan anaknya itu sehingga dengan tanpa rasa bersalah dia menjual kepada pembeli lain. Akhirnya, bapak dan anak itu pulang dengan kecewa.

Contoh lainnya adalah cerita dari teman kantor saya yang mencoba membuka usaha kecil-kecilan, yaitu bisnis ayam goreng. Entah bagaimana cerita sebenarnya, katanya dia merasa ditipu dan dirugikan oleh salah satu pekerja kepercayaannya. Katanya, si pekerja ini membawa sendiri ayam gorengnya untuk dijual ke konsumen, sementera dia berpura-pura menyatakan ayam goreng majikannya tidak begitu laku. Jadi, si pekerja itu menumpang fasilitas majikannya untuk menjual barang dagangannya sendiri. Akhirnya, usaha teman saya itu tutup.

Yang lain adalah pengalaman saya sendiri. Suatu ketika saya dan teman kantor iseng berbelanja pakaian di sebuah pertokoan/plaza di Jakarta Pusat. Pertokoan itu dulunya memang megah tetapi sekarang kalah oleh munculnya mal-mal dan plaza-plaza baru yang menjamur di sekitarnya (saya tidak mau menyebut nama, takut bakal bermasalah seperti kasus si Prita hehehe…).

Pada pandangan pertama saya jatuh hati pada sebuah baju berwarna biru, berbahan ringan, dan sejuk. Baju berbahan transparan di daerah lengan itu cocok untuk semi pesta, dengan lengan ukuran panjang tiga perempat untuk model tangannya, serta bermanik-manik pula. Style-nya cocok dengan selera dan kebutuhan saya, dan tambahan lagi ada potongan 20 persen untuk setiap pembeliannya.

Saya menanyakan pendapat teman saya dan dia juga mengakui pilihan saya itu bagus. Tetapi, seperti biasanya saya melewatkannya dahulu, putar-putar, sambil melihat-lihat yang lainnya. ”Siapa tahu ada yang modelnya lebih bagus,” pikir saya. Akhirnya, saya balik lagi ke counter tersebut dan menanyakan baju yang saya pegang tadi kepada pelayan yang berjaga.

Ada dua pelayan wanita di sana, salah satunya yang melihat betapa saya tertarik sekali dengan baju gaya semi formal tadi. Dia lalu menaruh baju itu di tempat yang berbeda, bukan di tempat yang ada discount-nya. ”Ini discount 20 persen kan, Mbak?” tanya saya mencoba mengonfirmasi.

”Oh, yang ini enggak didiskon, Bu,” jawab pelayan itu.

Lho, kok bisa…? Ini tadi kan tempatnya di sini?!” saya menegaskan.

”Oh, enggak Bu, ini tempatnya di sini…” jawab si pelayan. Sementara pelayan yang satunya berdiam saja.

Saya berlalu dari tempat itu dan tidak jadi bertransaksi. Bagaimana mungkin seorang pelayan mencoba mengelabui saya? Sudah sangat jelas sekali pakaian yang hendak saya beli itu berasal dari barisan gantungan baju berlabel diskon 20 persen. Saya menduga kuat kedua pelayan itu berniat curang terhadap saya karena sebelumnya mungkin mendengar percakapan tentang ketertarikan saya. Jadi, hampir dipastikan ketika saya balik lagi dia lalu mempermainkan saya.

Teman saya saja hampir agak sewot dengan perilaku mereka. Apalagi ketika kami mencoba berjalan lagi ke dekat counter-nya untuk mengetes. Dan, benar saja… ternyata—dan ini yang membuat saya jengkel sekali—baju itu ternyata dibalikkan lagi ke tempat semula yang bertanda diskon 20 persen. Saya berlalu dari tempat itu dengan perasaan jengkel yang sebenar-benarnya. Kalau boleh dikatakan sebenarnya bukan saya sendiri yang dipermainkan.

Andaikan saja pemilik toko atau bosnya saat itu ada di tempat, mungkin mereka bisa kecewa melihat perilaku curang pelayan-pelayan yang mereka gaji itu. Memang, kenyataannya sering kali konsumen atau pelangganlah yang dirugikan.

Dari berbagai peristiwa tersebut saya seperti mendapatkan suatu perbandingan dalam sejumlah kejadian. Kemudian saya mencoba merangkainya. Bagaimana menjadi orang yang baik dalam posisi apa pun? Tidak memandang rendah atau tingginya posisi, baik itu sebagai pemilik usaha, petinggi perusahaan, dan pegawai atau karyawan perusahaan?

Posisi apa pun adalah suatu amanat yang diemban untuk melakukan usaha/kerja dengan kemampuan terbaik yang kita punya. Perlu tercipta suatu hubungan atau relasi yang sinergis antara pemilik usaha beserta jajaran pekerjanya. Apabila kesemuanya itu bersinergi dan saling melengkapi, bersimbiosis mutualisme, maka hubungan kerja akan berjalan baik dan menyenangkan semua pihak. Bukankah semuanya bertujuan dan bermuara kepada kepuasan konsumen atau pelanggan?[msa].

* Maria Saumi, lahir di Jakarta 27 Agustus 1976 dengan nama asli Mariatun Meima Saumi. Lulusan dari Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia tahun 2000. Dia bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang investasi di daerah Sudirman, Jakarta, dengan spesialisasi futures trading investment. Maria dapat dihubungi melalui pos-el: mariasaumi[at] yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

3 Responses to “Amanat Posisi”

  1. Big Sugeng Says:

    Itulah liku-liku kehidupan, diperlukan orang yang amanah dalam setiap level. Mereka bekerja pada satu sistem. Jika salah satu level bermasalah, maka pasti ada sistem yang terganggu.
    Pencerahan yang luar biasa.

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  2. agushandoko Says:

    saya sangat terenyuh membaca uraian tsb,di mana posisi kita,semua mempunyai peranan penting.yg trbaik adalah yg tahu posisi dan menjalankan dengan baik..Peringatan buat para bos,agarSelektif memilih karyawan dan jangan semena-mena.Buat karyawan,bekerja yang benar,baru menuntut hak kalian

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  3. arnie Says:

    saya pernah mengalami kejadia serupa:

    ada 1 konter baju di mal serupa:

    hari A dijaga oleh Pemilik + 2 pegawai. Pemiliknya begitu ramah menyambut saya begitu juga dengan 2 pegawainya yang serta merta aktif dan membantu saya memilihkan baju.

    hari B hanya dijaga 2 pegawai. Saya tidak disambut dan mereka malah asik ngobrol. Ketika saya bertanya, mereka acuh tak acuh menjawab.

    hari C hanya dijaga 1 pegawai. Sekali lagi tanpa sambutan. Setiap saya melihat baju, pegawai tersebut mengikuti saya terus tapi tidak membantu seperti di hari !

    malamnya di cafe, saya dan adik bertemu pemilik konter baju tersebut YANG TERNYATA adalah teman dari adik saya. Walaupun saya tidak tega bercerita tetapi saya menceritakan juga.

    hari D: Saya belanja lagi di konter tersebut. Pemiliknya menyambut saya. Di dinding kaca tertulis mencari SPG YANG BERPENGALAMAN.

    Begitulah kisah mengenai pegwai kecil yang digaji bulanan atau harian dengan sistim gaji buta. Pindah kerja adalah biasa bagi mereka karena kebutuhan SPG konter baju sangat tinggi.

    Moralnya: Adakah yang mau buat usaha outsourcing SPG toko/konter???

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a Reply

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox