Home » Kolom Tetap » Alone, But Not Lonely?

Alone, But Not Lonely?

ad163x2001Oleh: Alexandra Dewi*

Belum lama ini saya berkesempatan untuk bertemu teman-teman lama saya, bekas teman saya kuliah dulu di Los Angeles. Mereka adalah teman-teman wanita saya, yang sudah saya kenal sejak secara legal saya belum boleh masuk ke club dan minum minuman beralkohol di Amerika. Seseorang apparantly secara hukum belum boleh masuk ke club, beli, atau minum minuman beralkohol kalau belum mencapai umur 21 tahun. Namun, kami semua menggunakan fake ID , dengan bangganya dan dengan penuh keinginan tahu, sebelum umur 21 pun sudah hang out dan drink alcohol beverage di sana.

Bisa dibayangkan dong, sudah berapa lama kami tidak ketemu. Well, sekarang saya sudah kepala 3, jadi sudah jadi lebih dari satu dekade kami belum ketemu. Its so exciting. So many things to catch up with. Sekarang, kami sudah jadi mami-mami. We are a married women now. Bahkan, beberapa dari kami punya anak lebih dari satu.

Ngobrol punya ngobrol, kami saling mengenang masa lajang. Betapa dulu kami pernah pacaran dengan siapa, atau sekadar date dengan siapa, dan saling bertukar info (jika ada yang tahu), apakah yang terjadi kepada manusia-manusia tersebut. Well, sekadar gossip, entertainment, penasaran dicampur dengan harapan, semoga hidup kami lebih baik daripada hidup mereka. Setiap pasangan yang sudah putus biasanya punya ’Secret competition’ dengan ex- boyfriend /ex-girlfriend. Setelah mereka putus, hidup siapa yang lebih baik? Siapa yang lebih sukses dari segala aspek kehidupan? Terutama, siapa yang mendapatkan pasangan yang lebih baik?

Anyway, ketika kami membicarakan masa lajang, jadul (zaman dahulu) kami ingat, kadang kami accept a date, hanya sekadar karena kami kesepian (lonely). Daripada enggak ada date, walaupun yang mengajak kami date ketika itu, sebenarnya kami enggak terlalu pengen, ya sudahlaaaah Hitung-hitung buat hiburan akhir minggu, walaupun some of those dates bisa dikategorikan sebagai a bad date. Loneliness, alias kesepian can make us do some stupid things.

Sekarang kami sudah menikah, harusnya kamilega, karena tidak pernah lagi harus put up dengan bad dates, dan rasa kesepian. Is that right? Pertama-tama sih karena sudah lama enggak ketemu, pada jaga image, kami semuanya mengaku that our marriage is perfect. Pokoknya, semuanya serba fine, serba OK. Pokoknya, apa pun pertanyaannya, jawabannya:Fine, atau enggak “Great, atau enggak sekalian Wonderful’. Tapi, setelah beberapa gelas wine, after all, we then still admit, even married people, can still be lonely.

Jadi, kalau dulu masih lajang dan umur 20 tahunan bisa kesepian, jangan berpikir kalau sudah married tidak akan pernah lagi merasakan yang namanya kesepian. Dan, yang namanya kesepian itu its so human. Nothing to be ashamed off, actually.

Biasanya, kami nonton film di bioskop sendirian, malu. Pergi makan malam atau lunch duduk di restoran sendirian, juga malu. Khawatir kalau orang nanti pikir kami a loner, a loser, atau enggak tahu deh, what else will people think. Padahal, siapa juga yang mikirin? Sometimes, its good and enjoyable to spend some time alone.

Saya tanya kepada teman-teman saya yang sudah married ini, “Kesepian macam apa yang kita maksud di sini? Mereka bilang, kadang kalau suami keluar kota atau harus kerja lembur; atau kadang soal anak-anak; atau issue pribadi yang memang tidak bisa atau lebih baik tidak dikomunikasikan dengan suami; atau kadang, sad but true, sudah malas saja mau ngomong apa. This is whole other topic (its about marriage), so I am not gonna discuss it further.

Maksud saya di sini adalah, single atau married, young or old, we all human. We get lonely. Ada teman saya yang single, dia bilang,I am alone, tapi saya tidak lonely. You know what?Kalau memang benar demikian, saya salut. Tapi, bisakah? Benarkah? Seseorang bisa alone dan tidak merasakan yang namanya kesepian?

Secara theory, harusnya kita bisa enjoy dengan kesendirian kita. We need to be happy, spending time with ourselves. Makanya, kita harus punya hobby, harus mencintai diri sendiri, dan whole other nine yards of theories yang bisa kita dapatkan dengan membaca buku-bukunya Deepak Coprah. Maksud saya, theory-nya bisa didapatkan di berbagai macam buku, sehingga harusnya kalau ada theory-nya, tinggal mempraktikannya saja yang bagaimana. How?

Saya sih masih dwelling on the subject, soal apakah mungkin kita manusia kalau sendirian tidak merasa kesepian? Saya yakin, kalau sudah sampai tahap itu, berarti kita sudah mulai mendekati enlightment, yang mana tadinya saya pikir untuk mendapatkan hal itu saya harus make a trip ke Tibet untuk ketemu Dalai Lama, kalau betul beliau tinggal di sana.

Is it soooooooooo bad for someone to be lonely sampai-sampai berbagai macam buku di self help aisle mengajarkan bagaimana mendapatkan pasangan, bagaimana supaya tidak kesepian, dan topik topik sejenis lainnya? Salah satu teman pria saya pernah bilang,Lonely... is bad, lonely and horny, you are in trouble.” Funny, isnt it? No wonder all these books suggest us how not to be lonely, as we all do not want to be in any kind of trouble.

Tapi, setelah saya renungkan kembali, kesepian itu tidak selalu buruk. Itu kalau kita mau menyadarinya, dan mengisi rasa ‘kosong’ itu dengan hal-hal yang positif. Misalnya, kita bisa isi dengan cari kegiatan yang baik untuk kita, entah itu socializingkarena terbukti bahwa kita sebagai mahkluk sosial perlu teman-temanatau dengan olahraga, karena juga terbukti olahraga itu sehat buat jiwa dan raga. Atau, dengan mencari hobby yang bisa kita tekuni, bisa dengan hobby ringan seperti membaca, nonton film, atau hobby lainnya yang lebih mendalam, misalnya belajar hal-hal baru, mulai dari belajar bahasa asing atau memainkan alat musik seperti piano.

Yang lebih saya mengerti sekarang juga, bahwa apa pun agama kita, jauh dari doa alias berkomunikasi dengan Sang Pencipta kita, ternyata benar-benar merupakan suatu kunci, di mana kita bisa menghilangkan rasa ‘kosong’ atau kesepian yang tidak baik.

Banyak dari kita yang berdoa hanya kalau sedang susah. Tapi, apakah kalau dalam keadaan biasa-biasa saja kita bisa tetap setia mendekatkan diri kepada Tuhan? Bukannya saya sok suci, lho. Coba deh kita sama-sama mengulas di dalam hati kita, ketika kita sedang tidak dekat dengan Tuhan, pasti ada rasa bagaimana…gitu. Yang mana rasanya hanya bisa dihilangkan dengan beribadah secara pribadi. Building a connection with God.

Kenalan saya yang rajin berdoa, sharing kepada saya bahwa, kalau kita benar-benar dekat dengan Tuhan, kita bisa beneran alone tapi tidak lonely. Dia katakan kepada saya, “Kita tidak usah banyak berpikir soal banyaknya keinginan kita. Tapi, pikirkan saja Tuhan maunya apa. Sisanya, soal apa yang kita mau, Tuhanlah yang akan mengaturnya. Seperti perkataan, “Jangan tanyakan apa yang negara ini bisa berikan kepada saya, tapi tanyakan apa yang bisa kita berikan untuk negara ini.” Sama juga, hubungan kita dengan pencipta kita, jangan tanyakan apa yang Tuhan bisa berikan kepada kita, tapi tanyakan apa yang bisa kita lakukan untuk Dia?

Nah, dari hasil ngobrol dengan teman-teman itu akhirnya ada kesimpulan, bahwa ketika kita sedang merasa kesepian, atau ada masalah apa pun, justru dengan menolong orang lain, banyak yang mengaku bahwa akhirnya mereka malah bisa keluar dari rasa kesepian, atau rasa terbebani dalam menghadapi masalah. Mau coba?[ad]

* Alexandra Dewi adalah seorang eksekutif sebuah perusahaan, penulis buku Queen of Heart dan co-writer buku I Beg Your Prada. Saat ini sedang menantikan penerbitan bukunya yang ketiga tentang fashion, dan yang keempat tentang kehidupan rumah tangga.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

1 Comment

  1. Linahasyim says:

    Hei, asyik sekali tulisan mbak sandra ini.. bahasanya unik, tidak membosankan. Dan yah, kesepian memang bukan monopoli kaum lajang, siapapun bisa mengalaminya. Yang penting adalah bagaimana kita me-manage rasa sepi itu hingga bisa menghasilkan sesuatu yang konstruktif, menulis misalnya. Ok, salam hangat buat mbak sandra!

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)

Post a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Komentar