All Pain is The Same
Editor | Kolom Tetap | November 11th, 2009
Oleh: Alexandra Dewi*
Selama kita masih menjadi yang namanya manusia, tentu kehidupan kita akan mengalami pasang surut, up and down, joy and pain, tawa dan air mata. Tidak ada yang namanya tra la la tra lili terus. Namun kebalikannya, on more positive not, tentu tidak ada yang namanya nelangsa seumur hidup. Hanya saja… tidak tahu kenapa yang sering diingat adalah masa-masa nelangsa yang membuat banyak dari kita berubah.
Banyak sudut pandang ketika kita sedang diberi cobaan oleh yang Mahakuasa dalam jalan kehidupan kita. Ada pendapat begini, cobaan membuat kita lebih dekat kepada Tuhan. Ada yang berkata supaya kita menjadi lebih dewasa. Ada juga pendapat, mungkin itu karma. Namun, apa pun itu jenis cobaannya, dalam masa itu we experience: Pain.
Dalam keadaan mengalami pain, orang-orang yang dekat dengan kita biasa memberikan kalimat-kalimat yang tujuannya adalah untuk menghibur. Salah satu cara menghibur adalah dengan menceritakan kasus lain yang sama parah atau lebih parah dari sudut pandang si penghibur.
Contoh soal, seorang teman saya yang kehilangan pekerjaan. Dia dihibur oleh temannya dengan menceritakan bahwa ada kenalannya yang kena penyakit jantung dan harus dioperasi sehingga, jangankan kehilangan pekerjaan, tetapi si teman itu juga harus menguras isi tabungannya untuk biaya berobat. Tujuan membanding-bandingkan masalah si A dan si B ini adalah untuk memberi perspektif atau sudut pandang yang membuat si pemilik masalah merasa better; bahwa masalah yang dia alami tidak ada apa-apanya dibanding masalah orang lain (yang tentunya akan diberi contoh masalah orang lain yang lebih besar).
Namun, mungkin kita semua pernah mengalaminya. Walaupun teman kita sudah menceritakan pengalaman orang lain yang lebih parah dari keadaan yang sedang kita alami—kita tentunya bersyukur masalah tidak separah atau seberat masalah pembanding—tetapi bersyukurnya hanya sejam atau maksimal hari itu saja. Setelah itu, kita biasanya kembali tenggelam dalam masalah kita sendiri.
Tentu saja kita sadar jika kita harus memilih masalah mana yang harus dihadapi: kehilangan pekerjaan atau mengalami sakit jantung dan harus dioperasi? Tentu kita akan memilih kehilangan pekerjaan karena pekerjaan masih bisa dicari lagi sedangkan kesehatan tidak bisa di ganti. Namun, walau sadar akan pilihan itu, yaitu kehilangan pekerjaan, tetap saja painfull dan berat untuk kita, simply karena masalah itu adalah masalah kita.
Kita yang mengalami kepusingan, kemumetan, dan segala kekhawatiran akan masa depan. Masa depan dalam hal ini adalah bagaimana membayar segala biaya kehidupan di bulan yang akan datang. Belum lagi kalau sudah berkeluarga, tentu beban tersebut akan lebih berat lagi. While, kita bersimpati kepada cerita si orang yang sedang berjuang melawan penyakit jantung, tetapi dengan bersimpati kepadanya pun masalah kita masih ada di sana.
Sehingga, suatu kali saya membaca salah satu tulisan Dr. Phil, “I was in the hospital with my broken leg while I saw a guy came in with no leg. That is terrible! But, it doesn’t make my broken leg hurt any less.” Maksudnya, “Saya sedang berada di rumah sakit dengan kaki yang patah dan saya melihat seorang lain masuk dengan kaki yang baru diamputasi. Itu sangat menyedihkan, tetapi tidak membuat kaki saya yang patah menjadi tidak sakit.”
Ketika saya membaca kalimat sederhana itu, akhirnya saya mulai berpikir bahwa membandingkan diri kita dengan orang lain, terutama dari sisi masalah, ternyata hanya akan membantu kita sejenak. Kasarnya seperti, “Oh, puji Tuhan itu tidak terjadi terhadap saya.” Tetapi, tetap saja kita akan kembali menggerutu soal masalah kita sendiri karena besar kecilnya, how painfull it is, small pain, big pain, it is pain and that pain is even more important because it is our pain. Sangat manusiawi, sangat real. Dan, it is time to get real.
Masalah kita harus kita hadapi, harus kita selesaikan, bukan hanya dengan membandingkan masalah kita dengan orang lain yang lebih parah. Tetapi, menyelesaikan masalah dengan segera, melakukan segala upaya, damage control, dan upaya lain yang menyelesaikan masalah itu. Dan, God bless you, jika anda sudah tidak bermasalah lagi, mudah-mudahan Anda terketuk hatinya untuk membantu orang lain yang bermasalah.
Sudah menjadi contoh umum bahwa kita harus tahu bagaimana untuk take good care of ourselves dulu. Harus bisa menolong diri kita sendiri dulu baru kita bisa menolong orang lain. Ada analogi begini, jika pesawat terpaksa akan melakukan pedaratan darurat, kita harus mengenakan alat bantu pada diri kita sendiri dulu, baru kemudian kepada anak kecil yang traveling bersama kita di pesawat itu.
Namun, pengalaman saya pribadi pun memberi saya pelajaran tentang bagaimana menolong orang lain pada saat kita bermasalah. Ternyata, langkah itu justru menolong diri kita sendiri juga. Dan, it is my personal belief that kindness, never go out of style and this world goes around. Saya baik kepada Anda, tidak pasti saya akan mendapat kebaikan yang sama dari Anda. Namun, somehow, someway, karena dunia ini berputar, saya akan menerima kebaikan dari orang lain.
Nah, jadi mana yang benar dalam hal ini? Should we care for ourselves first and foremost atau tetap membagikan kebaikan dalam keadaan apa pun yang sedang kita alami?
Akal sehat berkata, kita tidak bisa membantu orang lain kalau diri kita sendiri sedang sungsang sumbel atau gundah gulana. Tetapi, misteri kehidupan menunjukkan bahwa kadang di tengah badai dan kenelangsaan kita, kita malah bisa keluar lewat upaya kita untuk tidak terlalu memfokuskan kepada diri sendiri dan membantu sesama. So what should we do? Inilah yang namanya diperlukan instict, judgement call, dan kebijaksanaan dalam bertindak.
Manakah yang bijak? Baik terhadap orang lain apakah selalu benar? Kalau dilihat dari cerita orang yang diberi air susu lalu membalas dengan air tuba, apakah bijak bila kita tetap berbuat baik terhadapnya? Tentu, terlepas dari segala urusan agama, apakah sebaiknya kita mengorbankan kepentingan diri sendiri demi orang lain?
Anehnya, jawaban dari semua pertanyaan ini , yaitu dibutuhkannya instict, judgement call, dan ilmu bijak, ternyata hanya bisa didapat dari kita melalui berbagai macam pain dan membantu orang lain yang sedang experience pain in their life.
Saya tidak percaya orang lahir lahir langsung jadi bijaksana. Saya ragu ada orang lahir dengan instict dan judgement call yang selalu pas dan tepat untuk dipakai di setiap situasi dan setiap dilema kehidupan. Jadi, kalau sekarang Anda atau saya, from one time to another mengalami somekind of pain, apa pun masalah Anda, masalah saya, tidak ada salahnya menyadari kita bersama sedang dibentuk dan dibekali dengan segala yang kita perlukan untuk menjadi sesuatu yang lebih baik, di luat dugaan kita semua.[ad]
* Alexandra Dewi adalah seorang eksekutif sebuah perusahaan pemasar suplemen makanan, penulis buku The Heart Inside the Heart, Queen of Heart, dan co-writer buku I Beg Your Prada. Dewi baru saja meluncurkan bukunya keempatnya tentang fashion yang ditulis bersama Fitria Yusuf berjudul Little Pink Book. Ia juga sedang menyiapkan buku-buku berikutnya. Dewi dapat dihubungi melalui pos-el: inthelalaland[at]yahoo[dot]com.
November 11th, 2009 at 12:37 pm
Seorang pimpnan pernah bertanya pada saya, ” Ada masalah?” saya bilang tidak ada. Lalu dibalas lagi, ” No Problem is Problem”. Dari pembicaraan itu berlanjut menjadi diskusi pembelajaran antara pimpinan itu dengan saya. Yang ingin saya share adalah bahwa kita tidak pernah luput dari masalah. Malah kadang-kadang kita lah yang kurang peka terhadap masalah, atau menghindar darinya.Kita hidup untuk menghadapi masalah.Kebahagiaan akan muncul diantara masalah yang satu dengan lainya. TQ Bu Alexandra, your article inspired me.Sukses selalu.
July 2nd, 2011 at 12:55 am
mbak cantik sama cantiknya dengan postingannya. Thx for info.
July 24th, 2011 at 1:11 pm
Mba,bukunya Its Complicated bagussss bangeettt…
Bacanya kaya ngaca bener-bener deh saya…
And it help me to move on as soon as possible…
Two tumbs up deh pokoknya…!!!
Sukses selalu ya,mba…