Aku Rindu Keluargaku

nsn3Oleh: Nur Sari Ningrum*

Saya mendapat tugas mewawancarai salah seorang lanjut usia di salah satu panti jompo di Yogyakarta. Dan, kalimat itulah yang sering saya dengar ketika mewawancarainya. Hati saya miris melihat matanya yang kelu, menyimpan beban dalam hati, menampakkan senyum palsu, dan dihiasi wajah berbinar-binar. Sesungguhnya, hatinya tersayat oleh keadaan yang mengharuskan dia menerimanya dengan lapang.

Sebuah kenyataan yang mungkin tak ada orang pun yang mau menjalani. Terkadang, para penghuni panti jompo itu pun bingung dan terdiam saat menjelaskan alasan mengapa mereka memilih tinggal di sana.

Sesaat saya termenung ketika melihat seorang ibu muda berusia 42 tahun berjalan dengan sebuah tongkat kayu karena ketidakberdayaannya. Saya mendatanginya, mendapat sambutan salam dan sapaan yang hangat. Sapaan yang sebelumnya tak pernah saya lihat dan rasakan.

Sosok seorang ibu seolah muncul, mengingatkan saya pada ibu saya sendiri. Ketika saya memberi salam dan berjabat tangan, saya mendapatkan sebuah pelukan hangat. Dan, senyum yang mengisyaratkan sebuah kerinduan yang terpendam dalam pada anaknya, “Perkenalkan saya Nur. Ibu sendiri saja?”

“Ya, udahlah Nak… anggap saja aku ibumu sendiri. Nur mau kan panggil aku ibu? Jujur saja aku seneng banget kalau dipanggil ibu.”

Mendengar itu hati saya trenyuh dan secara tidak sadar meneteskan air mata. Ibu itu pun bertanya, “Ada apa, Nur?”

“Oh, enggak apa-apa, Bu… Maaf, saya hanya teringat ibu saya.”
“Pasti kamu kangen ya Nak sama ibumu?”

“Iya, Bu….”

Percakapan itu pun berlanjut. Setelah mengenal lebih jauh latar belakang kehidupan ibu tersebut, saya mulai menangkap alasan apa yang bisa diterima agar orang lain juga bisa memahami keadaannya. Saya tidak tahu, kata apa yang tepat untuk menggambarkan ketegarannya dalam menerima kehidupannya saat ini. Satu-satunya alasan dan kekuatannya untuk tetap berjuang melawan kepahitan hidup adalah anaknya.

Dari hasil wawancara tersebut, sekilas ibu itu berusaha menceritakan sebagian kisah hidup yang sudah dilaluinya. Sejak berusia enam bulan, ia tidak dalam pengasuhan orang tua kandungnya. Penderitaan demi penderitaan tak berlalu darinya. Ia menjalani hidup dengan kerja keras demi sesuap nasi, tanpa pernah mengenyam pendidikan ataupun menghabiskan waktu bermain dengan teman-temannya. Hanya harapan serta untaian doa selalu dipanjatkan, sekadar demi merasakan kebahagiaan membangun sebuah keluarga harmonis penuh kasih sayang.

Namun sayang, nasibnya tak seberuntung itu. Setelah delapan tahun menikah dan mendapatkan seorang anak gadis, berakhirlah rumah tangganya. Sang suami menikah lagi dengan wanita lain. Kebahagiaan sesaat hancur dan si ibu ini terserang stroke. Setelah enam bulan dirawat di rumah sakit, ia dikirim ke panti jompo oleh suaminya. Begitu pula anak gadisnya dikirim ke panti asuhan. Konflik pun harus dihadapi saat ia merindukan anak gadisnya yang beranjak remaja. Namun, ia tak bisa berbuat apa-apa saat anak yang diharapkan menolak menemui dirinya.

Dari pengamatan saya dan juga cerita-cerita mereka, kebanyakan penghuni panti jompo itu punya latar belakang kehidupan yang penuh perjuangan, pengorbanan, hanya demi sebuah keluarga. Ada yang dijauhi dan ditinggalkan oleh keluarga sendiri. Ada yang sengaja dipisahkan dari anaknya dari waktu lahir hingga belum sempat mengenal siapa orang tua yang sesungguhnya, serta bagaimana anaknya tumbuh dewasa. Ada yang dibujuk untuk dibawa ke salah satu tempat wisata, dan pada tujuan akhirnya ditinggalkan begitu saja tanpa pernah ditemui lagi.

Ada juga yang sengaja dititipkan di panti jompo hanya untuk beberapa bulan dengan alasan keluarga sibuk dengan pekerjaan. Ada pula yang secara paksa mengirim ke panti jompo dengan alasan malu merawat orang tua yang sudah tidak berdaya, apalagi kalau sudah berkeluarga, bukan tanggung jawab keluarga lagi. Mengirim orang tua ke panti jompo dipandang sebagai cara praktis dan pantas karena berbagai alasan dan pembenaran.

Saya tidak habis pikir bagaimana jalan pemikiran manusia modern sekarang ini. Adakah mereka menyisakan sebuah hati untuk turut merasakan betapa sulit dan pedih hati orang tidak berdaya? Cobalah kita belajar dan menempatkan diri kita pada posisi mereka. Masihkah kita bisa berkata benar dengan tindakan dan keputusan kita itu? Mampukah kita setegar mereka? Bisakah kita berhati lapang dan sesabar mereka yang masih bisa memaafkan perbuatan orang yang menyakiti dan mengikhlasakan keadaan tersebut?
Padahal, dengan jasa mereka juga kita tumbuh dan hidup dalam lingkungan yang sehat, dalam sebuah keluarga yang harmonis penuh cinta dan kasih.

Dari mereka pula selalu tercurah pengorbanan yang tak akan dapat terbalas selain Surga. Tapi, apa yang mereka dapat dari orang-orang yang dikasihi dan disayangi melebihi diri mereka sendiri? Sebuah penderitaan dan sakitnya sepanjang usia.

Ahli psikososial Erik H. Erikson (1968) menyatakan, kondisi yang dihadapi para lanjut usia salah satunya adalah integritas versus keputusasaan. Dalam tahapan siklus kehidupan tersebut, mereka melihat kembali apa yang telah dilakukan terhadap kehidupan mereka. Melalui jalan yang berbeda, orang lanjut usia mengembangkan suatu harapan yang positif di setiap periode sebelumnya. Jika demikian, pandangan tentang masa lalu (retrospective glances) dan kenangan akan menampakkan suatu gambaran dari kehidupan yang dilewatkan dengan baik. Dan, seorang lanjut usia akan merasa puas manakala mereka merasa telah berhasil mencapai integritas.

Sebaliknya, apabila seorang lanjut usia melalui satu atau lebih tahapan awal dengan cara negatif (terisolasi di dalam masa dewasa awal), maka pandangan mereka tentang masa lalu akan menampilkan keragu-raguan, kemurungan, dan keputusasaan terhadap keseluruhan nilai dari kehidupan seseorang. Keputusasaan saat menghadapi perubahan-perubahan siklus kehidupan individu serta terhadap kondisi-kondisi sosial dan historis. Belum lagi kefanaan hidup di penghujung usia alias menghadapi kematian. Ini dapat memperburuk perasaan bahwa kehidupan ini tak berarti, terlebih bila ketakutan bahwa ajal memang sudah dekat.

Seperti halnya yang dihadapi oleh ibu yang saya ceritakan di atas. Ia menjalani sisa hidupnya dengan perasaan sangat tak berarti karena ia tidak dapat memahami apa arti kehidupannya yang tersisa. Ia terjebak dalam rasa putus asa karena hilangnya harapan dan merasa tak lagi punya alasan atau jawaban yang tepat untuk tetap hidup. Perasaannya terisolasi, terkalahkan, tertinggal, kecewa, bingung, dan haus rasa kasih sayang dari orang-orang yang ia cintai, yaitu suami dan anaknya yang telah meninggalkannya.

Namun, ketika si ibu ini menyadari, menyesali perbuatannya, dan terus menghakimi diri, maka akan semakin sulit pula kehidupannya. Tidak ada pilihan lain baginya selain bersikap lebih bijaksana. Kebijaksanaan adalah nilai yang berkembang dari hasil pertemuan antara integritas dan keputusasaan dalam tahap akhir hidup ini.

Pada tahap terakhir dalam siklus kehidupan kita, kegiatan fisik dan mental dalam kehidupan sehari-hari menjadi lamban. Oleh karenanya, kebijaksanaaan yang sederhana bisa menjaga dan memberikan integritas pada pengalaman-pengalaman yang telah lalu. Saat menyadari semua pengalaman memberikan pengaruh sebagai pengalaman berharga, punya nilai kehidupan, hikmah, maka itu semua mengajarkan pada manusia supaya bersikap bijaksana menghadapi segala keadaan dan tetap beratahan meskipun dalam situasi yang tidak mengenakkan. Di situlah letak arti atau nilai manusia.

Menurut pandangan Allport, orang punya kepribadian matang dan sehat untuk mencapai keamanan emosional apabila mereka memiliki kualitas sifat yang utama, yaitu penerimaan diri. Kepribadian-kepribadian yang sehat mampu menerima semua segi kehidupan mereka, termasuk kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan, tanpa menyerah secara pasif pada kelemahan dan kekurangan mereka tersebut. Ini bisa terjadi pada para lanjut usia. Misalnya, mereka bisa menerima segala kelemahan dan kekurangan dari segi fisik seperti kesehatan kurang dan jadi lamban atau segi psikis seperti konflik batin yang kadang membuat putus asa. Begitu juga kurangnya rasa cinta dan kasih sayang, rasa perhatian, rasa pengertian, dan keinginan untuk dipahami.

Kisah di atas secara tidak langsung mengajarkan pada diri saya sendiri, alangkah indahnya apabila kita mampu memberi kebahagiaan pada orang-orang yang kita cintai, terutama pada orang tua kita tanpa syarat. Bagaimanapun keadaannya, kita akan lebih bahagia bila hidup bersama ketulusan cintanya.

Para orang tua yang pernah saya ajak bicara masih memercayai bahwa kebahagiaan mereka terwujud apabila mereka bisa bersama dengan keluarganya. Ini pelajaran yang sangat berharga untuk kita bercermin pada diri kita sendiri. Sudahkah kita merasa cukup dan bersyukur dengan keadaan kita sekarang? Memiliki keluarga dan saudara-saudara yang senantiasa ada saat kita butuhkan? Ada saat kita rindukan dan ada saat kita ada bersamanya.[nsn]

* Nur Sari Ningrum adalah mahasiswi psikologi semester tiga, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Ia senang menulis puisi dan mempunyai motto hidup: Hidupkan hidupmu agar lebih hidup. Cita-citanya menjadi konselor seusai menamatkan kuliahnya nanti. Nur Sari Ningrum dapat dihubungi melalui pos-el: sari_psychology[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

2 Responses to “Aku Rindu Keluargaku”

  1. nenny Says:

    Mbak Nur,

    Memang kasihan ya, setelah membesarkan, mengurus anak dengan lelah dan susah payah, ternyata setelah tua dan tidak berdaya malah dicampakkan begitu saja di panti jompo.
    Walaupun saya juga tahu, mungkin pihak keluarga juga punya alasan sendiri kenapa mereka sampai harus menitipkan orangtuanya ke panti jompo tsb.

    Saya rasa, yang harus dilakukan oleh keluarga2 muda sekarang adalah menanamkan kepada anak2nya, bahwa setiap anak wajib berbakti kepada orang tua, dan rasanya “penitipan orang tua ke panti jompo” sebagian besar kan karena kurangnya “kedekatan” antara orang tua tersebut dengan anak2nya/keluarganya (bisa krn alasan sibuk bekerja dsb). Jadi seharusnya kita semua menanamkan rasa “kedekatan”, keterikatan kepada anak2, mungkin bukan dari kuantitas pertemuan, tapi kualitas pertemuan yang ditekankan sehingga anak2 kita kelak tidak mengabaikan orang tuanya.

    Wass.

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  2. maria saumi Says:

    Tulisannya membuat sy jd kangen dengan ibu saya yg sudah almarhum. Nice article!.

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a Reply

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox