Ada Tembok China di antara Saya dan Dia (1)

ad1Oleh: Alexandra Dewi*

Saya mencoba menceritakan sebuah kisah percintaan yang saya harap nanti bisa dijadikan sebuah kumpulan cerita dan dibukukan. Cerita pertama ini berasal dari salah satu kenalan saya. Supaya saya tidak menggunakan nama samaran, saya menulis seolah-olah orang ini yang menceritakan langsung dan mudah-mudahan juga bisa lebih mudah dimengerti.

Here it goes.

Saya datang dari keluarga sederhana. Orang tua saya bukan orang melarat, tetapi bukan pula yang kaya raya sampai bisa menyekolahkan anak-anaknya ke luar negeri. Sehingga, ketika sepupu jauh saya menawari saya sekolah ke Amerika dengan biaya dari keluarganyawalau awalnya saya sempat shock, that this is seems too good to be trueakhirnya saya berangkat juga. Usia saya ketika itu 17 tahun.

Di Amerika saya tinggal dengan kakak perempuan saya yang juga dibiayai oleh sepupu kami. Tidak lama kuliah di sana, saya sudah mendapat seorang pacar bernama Hans, tiga tahun lebih tua dari saya. Kami amat sangat saling mencintai. Waktu yang saya lewatkan bersama Hans, bagi saya adalah masa-masa terindah dalam kehidupan saya. Semula saya tidak percaya ada surga. Tetapi, dua tahun pertama saya di Amerika bersama Hans itu berarti surga. Tidak ada yang bisa lebih baik dari saat itu.

Setelah dua tahun berjalan, kakak perempuan saya Cindy yang berusia 23 tahunwalau belum punya pacar yang cocokpun sangat menikmati masa muda kami kuliah di negara itu. Suatu hari, Cindy berkata, “Sepupu (yang selama ini membiayai semua kebutuhan kami) mau melamar dan menikahiku.

Cindy berkata kepada saya, kalau ia menolak lamarannya, sepupu kami itu akan berhenti membiayai sekolah kami dan semua biaya lainnya. “Aku sama sekali tidak ada rasa cinta sama dia. Apa yang bisa kita lakukan?” tanya Cindy.

Saya duduk terdiam. Betapa bodohnya saya selama ini. Saya pikir ada orang atau sanak saudara yang begitu tulus membiayai pendidikan kami, ternyata semua ada syaratnya. Saya melihat Cindy sangat tertekan. Dan, ketika ultimatum diberikan kepadanya, akhirnya saya berkata,OK, kalau begitu biar kita cari kerja saja di sini!

Cindy bertanya, “Bagaimana bisa cari kerja? Kita bukan penduduk? Kita tidak punya green card? Kita harus pulang!”

Alangkah mudahnya kalau Cindy bisa menerima lamaran dari saudara jauh kami itu. Tetapi, alangkah egoisnya saya menyuruh atau bahkan merelakan kakak saya sendiri menikah dengan pria yang tidak dicintainya.

Ketika saya sampaikan masalah ini kepada Hans, dia pun terdiam. Saya tahu dia sedih, tetapi saat itu pun dia masih hidup dengan dibiayai orang tuanya. Usianya baru jalan 23 tahun. Kuliahnya masih di tengah-tengah. Setelah segala sudut kami telaah dan tidak ada jalan keluar, akhirnya saya dan Cindy pulang ke Singapura. Saudara jauh kami ternyata benar-benar sudah tidak mengirim uang sekolah maupun biaya sewa apartemen kami.

Ketika saya berpisah dengan Hans, kami berdua masih saling berjanji. Saya berjanji untuk cari kerja di Singapura dan menabung untuk mengunjunginya. Sementara, Hans menjanjikan hal yang sama, dan apabila selesai kuliah dia akan melamar saya.

Ketika tiba di Singapura, saya benar-benar seperti orang terkena depresi. Rasa rindu saya kepada Hans lebih sakit daripada rasa belum makan berhari-hari. Setiap kali kami bicara lewat telepon, saya selalu menangis. Di antara tahun-tahun pertama kami berpisahsaking tidak tahannya tidak bertemusaya rela menjual semua perhiasan saya untuk tiket mengunjungi Hans di Amerika. Gaji saya tidak pernah cukup ditabung karena untuk hidup sehari-hari saja sudah sangat pas-pasan.

Hans pun sempat datang mengunjungi saya di Singapura. Saya tidak tahu bagaimana dan dari mana Hans dapat uang untuk membeli tiket. Sebab, saya tahu semua biaya hidupnya di sana masih dari orang tua, dan dia pun belum punya mata pencaharian. Waktu berjalan dan terasa semakin berat karena orang tua Hans mulai keberatan dia bolak-balik ke Singapura mengunjungi saya. Apalagi kuliahnya juga belum selesai. Saya tidak menyalahkan orang tuanya. Orang tua mana pun tentu ingin anaknya selesai kuliah dengan baik.

Di tempat kerja saya berjumpa dengan Ron, pria mapan asal Amerika yang usianya 20 tahun lebih tua dari saya. Saya tahu Ron berminat pada saya, tetapi ketika saya berjumpa Ron, dia sudah menikah. Saya tidak pernah menanggapi, apalagi saya masih berharap Hans akan menepati janjinya; selesai kuliah dia akan melamar saya.

Tetapi, lama kelamaan Hans tidak bisa berkunjung lagi walau dia masih sering menghubungi saya lewat telepon. Mungkin, orang tuanya melarang atau dia tidak tahu harus pinjam dan dapat uang dari mana lagi untuk menemui saya. Sementara kami begitu jauh, saya kesepian, letih bekerja, dan fake a smile everyday. Saya amat sangat kangen pada Hans tetapi tidak tahu lagi harus bagaimana….

Ron berkata bahwa dia bersedia menceraikan istrinya jika saya mau menikah dengannya. Saya lihat kegigihan dan keseriusan Ron dengan mata kepala saya sendiri. Ron berkata jika bercerai dengan istrinya, dia harus memberikan hampir semua yang dia miliki kepada istrinya. Karena angan-angan saya bisa hidup bersama Hans semakin pupus dimakan habis oleh realitas kehidupan, akhirnya saya coba membuka sedikit celah hati kepada Ron.

Sebelum bercerai dengan istrinya Ron punya rumah, mobil, dan aset yang cukup. Tetapi ketika menikah dengan saya, hampir semua harta bendanya harus diserahkan kepada (mantan) istrinya. Ron tidak banyak cerita mengapa harus terjadi demikian itu. Yang saya tahu, ketika saya akhirnya menikah dengan Ron, kami tidak hidup berkelimpahan. Ron harus mulai dari awal. Tetapi, saya cukup bersyukur karena pekerjaannya sebagai GM di sebuah club golf internasional cukup untuk menghidupi rumah tangga kami.

Pada hari pernikahan saya, semua seperti blur. Saya masih punya rasa cinta untuk Hans. Tetapi, rasa itu saya tepis karena harapan untuk bersamanya tinggal angan-angan belaka. Saya tidak sadar bahwa saya masuk ke suatu pernikahan, yang mana hati saya masih bersama pria lain. Hans, hanya dia yang saya cintai sepenuh hati.

Karena usia Ron sudah 45 tahun, kami memutuskan segera punya anak. Anak pertama kami laki laki, Josh luar biasa lucunya. Darah Asia saya yang terkombinasi dengan Ron yang caucasian, Josh really a handsome litte boy. Tidak lama kemudian lahir putra kami yang kedua dan yang ketiga.

Menjadi seorang ibu buat saya merupakan pengalaman yang sangat indah. Saya suka anak-anak. Dan, saya menilai diri saya sebagai seorang wanita yang sangat berbakat dalam menjadi seorang ibu. Semua amat sangat natural bagi saya. Proses hamil pun bagi saya indah terasa. Saya menjadi full time mother, full time wife.

Ketika usia pernikahan kami menginjak tahun kedelapan, Ron kehilangan pekerjaannya karena mulai sering sakit-sakitan. Memang, usianya sudah lebih dari 50 tahun. Ketika kehilangan pekerjaan Ron jadi sangat down. Setiap hari dia mulai minum-minum dan saya hampir tidak pernah bisa bicara dengannya ketika dia tidak sedang mabuk. Saya pun mulai harus lebih berhemat lebih dari dari sebelumnya. Memotong kupon discount di koran bukan hal yang baru buat saya, malah sekarang menjadi kerjaan saya sehari-hari. Uang pensiun Ron tidak cukup untuk menghidupi kami sekeluarga.

Bukannnya saya tidak pernah membayangkan bahwa masa-masa seperti ini akan benar-benar tiba. Akhirnya, saya toh harus membesarkan ketiga anak saya yang masih kecil-kecil dengan suami saya yang sudah kelihatan sangat tuadan dengan kebiasan minumnya yang di luar dugaan saya. Kadang saya pergi naik bus malam-malam ketika anak-anak dan Ron sudah tidur, hanya untuk menunggu penumpang terakhir turun, dan bus berputar satu kali lagi, dan saya bisa menangis sendiri.

Saya tidak bisa menangis di depan anak-anak atau di depan Ron. Anak-anak masih terlalu kecil untuk mengerti dan saya tidak ingin mereka melihat ibunya menderita. Saya tidak ingin Ron semakin down karena dia tahu saya amat sangat merana. Karena, usia kami berbeda 20 tahun, maka saat saya menceritakan kisah ini, saya sudah 38 tahun dan Ron sudah 58 tahun. Usia 38 tahun bisa dibilang tidak muda, tetapi saya masih ingin pergi makan dengan teman-teman. Saya kadang masih ingin beli baju baru. Tetapi, Ron sudah tidak ada semangat untuk melakukan semua itu. Ia sakit-sakitan dan tidak ada hasrat untuk meninggalkan rumah, kecuali untuk hal-hal seperlunya seperti ke toserba atau ke dokter. Saya melihat pasangan pergi nonton, makan di restoran, dan saya hanya bisa menghela napas.

Berkali-kali terlintas di pikiran saya untuk bercerai. Lebih gila lagi saya ingin mencari di mana Hans berada. Hans. Tidak ada satu hari pun terlewat tanpa teringat kenangan indah kami di Amerika.

Pada tahun-tahun pertama saya menikah dengan Ron, tentu saya masih mendengar kabar soal Hans dari teman-teman lama kami. Saya dengar dia punya pacar. Saya coba cari fotonya, saya bandingkan diri saya perempuan itu. Buat apa saya begitu, saya tidak tahu. Lalu, beberapa tahun kemudian saya dengar Hans putus dengan pacarnya. Diam-diam saya berharap dia akan mencari saya. Itu bahkan sampai terbawa bawa dalam mimpi. Saya sangat berharap itu terjadi, tetapi saya lupa bahwa saya bukan saya yang dulu. Sekarang saya sudah menjadi milik Ron dan ketiga anak saya.

Saya coba melupakan angan-angan gila itu tadi, tetapi saya tidak bisa. Karena saya tahu, Hans masih sendiri dan saya berharap, siapa tahu minimal Hans masih mau berteman dengan saya? Tidak lama kemudian, Hans menikah. Lagi-lagi saya membanding-bandingkan diri saya dengan istrinya. Saya juga sadar itu tidak ada gunanya, tetapi masih saja saya lakukan. Saya dengar istrinya pun pernah menikah dan bercerai sebelum menikah dengan Hans. Sakit hati saya, kenapa bukan saya? Kalau sama-sama menikah dengan janda, saya pun bisa menjanda dan menikah dengannya, jika dia masih menginginkan saya.

Herannya, setelah dia menikahwalau sakit mendengar kabar itusaya mulai bisa menerima kenyataan bahwa Hans tidak akan pernah hadir dalam kehidupan saya. Mungkin, itu karena kali ini dia sudah beristri. Kenyataan ini seperti tamparan buat saya, dan terbangunlah! Kenyataan… habis sudah harapan saya untuk bisa bersamanya, walaupun sekadar berteman.

Akhirnya, saya tetap jalankan kehidupan hasil pilihan saya sendiri dengan suami seusia ayah saya, dengan keadaan ekonomi sangat minim, dan saya harus bertahan demi anak-anak. Setiap hari hanya mereka yang masih bisa membuat saya tersenyum. Lain dari itu, saya sadar surga jelas-jelas bukan di dunia ini. Terbalik 180 derajat dengan ketika saya jumpa Hans puluhan tahun lalu.

Tiga tahun setelah Hans menikah, saya mendapat kabar dari teman kami bahwa dia mau datang berkunjung ke Singapura bersama temannya itu, dan bahkan mau bertemu saya. Sejak saya dengar kabar itu, saya tidak bisa tidur. Saya menangis karena saya ingin sekali jumpa dia. Sudah puluhan tahun sejak menikah saya inginkan kesempatan itu. Tetapi, saya malu karena rupa saya sudah tidak seperti dulu lagi, dan keadaan saya pun tidak sedang baik-baik. Saking malunya, saya hampir berpikir untuk tidak usah berjumpa dengan Hans nantinya. Tetapi, rasa kangen saya begitu besar dan mengalahkan segala-galanya.

Hari itu ketika kami membuat janji bertemu di sebuah coffee shop, saya datang tepat waktu. Saya bersolek sebisa saya karena saya sudah tidak punya dana ke salon. Makanya, saya sampai mengantri di department store ketika mereka menggelar promosi “Free Make Over. Dan, karena saya tidak punya uang untuk membeli baju baru, saya pinjam sebuah gaun sederhana dari seorang teman—mama temannya Josh di sekolah. Saya sudah berada di tempat janjian dan tidak satu menit pun terlalu pagi, karena saya tidak ingin memberi kesan bahwa saya yang menunggu-nunggu. Juga tidak terlambat satu menit pun karena saya tidak mau memberi kesan bahwa saya tidak menghargai waktu.

Begitu banyak persiapan baik luar maupun dalam hanya untuk pertemuan ini. Hans. Tidak tahukah dia, hanya dia yang saya cintai? Tentu dia tidak tahu, dan sampai kapan pun lebih baik dia tidak tahu. Saya wanita menikah dan dia juga sudah beristri. Bisa bertemu saja sudah anugerah buat saya. Apa pun kenangannya, biar buat saya simpan di hati saya yang paling dalam.

Ketika kami bertemu saya pun terperangah…. Hans juga sudah berumur sekarang. Sudah 15 tahun lebih kami tidak jumpa. Rambutnya sudah menipis dan badannya tidak seramping dulu. Herannya, betapapun tubuh luar bisa dimakan usia, essence dari manusia yang kita cintai masih ada saja di sana. Kami duduk di cafe itu setelah sebelumnya kami saling berpeluk sebentar. Saya harus menahan diri untuk tidak memeluknya seperempat detik lebih lama dari yang sepantasnya. Kami membicarakan hal-hal lucu mengenai orang-orang yang sama-sama kami kenal dari masa sekolah dulu. Apa pun pembicaraannya, asal bukan soal apa yang terjadi dulu di antara kami.

Walau dalam hati saya ingin sekali bertanya, mengapa dia tidak pernah menepati janjinya dulu? Apakah dia bahagia di pernikahannya sekarang? Apakah dia pernah atau sering memikirkan soal saya walau kami jelas-jelas sudah tidak berjodoh? Sering kali saya tidak bisa menangkap kata-kata kasual yang keluar dari mulutnya karena saya terlalu terserap atas semua pertanyaan terpendam itu.

Ketika Hans berpamit, saya pun tersenyum dan berkata bahwa senang bisa jumpa kembali. Dan, saya titipkan salam untuk keluarganya. Saya adalah seorang ‘kawan lama’ yang sedang bertemu ‘kawan lama’, dan sekarang pertemuan itu sudah berakhir. Time to say Good Bye. Tetapi Tuhan tahu, hanya dia yang saya cintai sepenuhnya, dan saya sadar saya tidak akan pernah bisa bersamanya. Saya kadang berpikir apakah hanya saya seorang yang punya perasaan dan nasib seperti ini.

–Cecilia –[ad]

* Alexandra Dewi adalah seorang eksekutif sebuah perusahaan pemasar suplemen makanan, penulis buku The Heart Inside the Heart, Queen of Heart, dan co-writer buku I Beg Your Prada. Dewi baru saja meluncurkan bukunya keempatnya tentang fashion yang ditulis bersama Fitria Yusuf berjudul Little Pink Book. Ia juga sedang menyiapkan buku-buku berikutnya. Dewi dapat dihubungi melalui pos-el: inthelalaland[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +4 (from 4 votes)

2 Responses to “Ada Tembok China di antara Saya dan Dia (1)”

  1. fatma kartika sari Says:

    Cerita cinta yg amat menyentuh..kadang kita tidak mendapatkan yang terbaik utk diri kita, namun kita tetap harus melakukan yg terbaik..

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  2. Nixon Fernando Samosir Says:

    Bener” dalam ceritanya,,saya setuju dengan Ibu Fatma,,kita harus tetap melakukan yang terbaik dalam hidup kita, walaupun kita belum mendapatkan yang terbaik..

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a Reply

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox