9 Resep Cespleng Menjadi Ibu Rumah Tangga Bahagia dan Sejahtera
Editor | Kolom Lepas | July 5th, 2009
Oleh: Dewi Rhainy*
Kadang-kadang, kita sebagai ibu rumah tangga ada rasa seperti ini, “Kenapa kok aku cuma begini-begini saja, ya?” Atau, “Duh, bolak-balik cuma ngurusin anak sama suami saja!” Atau lagi, “Coba kalau dulu aku tetap kerja… Ehm…pasti deh enggak kayak gini!”
Setiap muncul “sang rasa minder” itu, badan jadi lemas tak bertenaga, tak bersemangat, dan semua terlihat buruk. Dan biasanya, rumah jadi berantakan, anak-anak tidak terurus…. Malah lebih buruk lagi, penampilan jadi semerawut karena jadi malas mandi hahaha….
Hampir semua orang, di dunia ini—terutama ibu-ibu rumah tangga yang full-time mengurus rumah dan anak-anak seperti saya—pernah mengalami hal seperti ini, termasuk saya (saya tahu hal ini dari curhatnya teman-teman saya yang juga memilih profesi menjadi ibu rumah tangga). Karena minder, dulu biasanya saya menunggu sampai ada sahabat yang menegur. Saya pun harus berusaha melewati masa-masa minder dengan bersusah payah. Tetapi sekarang, tidak lagi…! Mau tahu resepnya?
Mudah-mudahan resep saya ini bisa dipakai oleh semua sahabat yang sedang merasa just the ordinary housewife. Atau, mungkin malah sahabat yang desperate housewife hehehe.… Resep ini hanya berdasarkan pengalaman saya semata. Jadi, jika terasa biasa-biasa saja atau tidak bermutu, maaf, saya hanya berusaha sedikit berbagi.
Resep pertama, jangan pernah membandingkan suami, anak-anak, dan rumah yang kita miliki dengan suami, anak-anak, dan rumahnya ibu-ibu lain. Karena seperti pepatah “rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau”, suaminya ibu-ibu lain pasti terlihat lebih ganteng dari suami kita yang setiap hari kita lihat hehehe…. Sadari bahwa suami, anak-anak, juga sahabat-sahabat Anda hanyalah manusia biasa. Mereka punya kelebihan juga punya kekurangan, sama seperti Anda.
Jadi, jangan terlalu berharap mereka akan sempurna seperti yang Anda harapkan. Maklumi saja…. Dan, yang paling penting adalah bagaimana caranya kita menjadi istri yang baik, yang dapat dipercaya oleh suami dan anak-anak, tanpa menuntut mereka terlalu banyak.
Resep kedua, jangan pernah mengeluh, karena keluhan bukannya menyelesaikan masalah, malah makin membuat kita merasa “terpuruk”.
Resep ketiga, STOP menonton sinetron! Karena, walaupun kadang berdasarkan kisah nyata, sinetron akan membuat kita makin tidak berpijak ‘di dunia nyata’. Kalaupun mau menonton televisi, cari acara-acara yang ‘positif’ seperti acaranya Oprah Winfrey mungkin. Di acara itu kadang-kadang ada cerita tentang perjuangan seorang ibu yang anaknya divonis tidak dapat berjalan, ternyata dengan keyakinan dan kerja keras serta doa sang ibu malah vonis itu tidak berlaku. Dengan kisah-kisah seperti itu, mungkin kita dapat lebih bersyukur karena ternyata ‘di luar sana’ banyak orang yang tidak seberuntung kita.
Resep keempat, perbanyaklah membaca, bukan hanya resep-resep makanan sehat yang membuat suami betah di rumah, atau membuat anak-anak sehat saja. Bukan hanya buku-buku tentang mengatur bagaimana supaya gaji suami cukup untuk dihabiskan sebulan. Tetapi bacalah juga buku-buku yang isinya ‘memotivasi’ kita untuk lebih percaya diri. Contoh, buku-buku kisah sukses ordinary people yang berubah menjadi extra-ordinary people, melalui hobi mereka menulis, hobi mereka belanja, dan lain-lain.
“Gimana mau beli buku? Wong untuk belanja lauk sehari-hari saja mesti diirit-irit?” Nah, ini dia… Jawabannya adalah pinjam sama tetangga (kayak saya). Atau, baca buku di rumah baca sambil menunggu anak-anak pulang dari sekolah. Yang lain, mendaftarlah jadi anggota perpustakaan terdekat dengan sekolah atau rumah.
Resep kelima, perbanyaklah peduli pada orang-orang yang ‘kelihatannya’ lebih susah dari kita (saya bilang ‘kelihatannya’ karena kadang yang kita lihat susah, ternyata bisa lebih bahagia). Contohnya, pembantu rumah tangga kita yang harus meninggalkan anak-anaknya di rumah untuk membantu mencuci atau membersihkan rumah kita. Resep ini hampir sama dengan resep ketiga, intinya adalah ‘menyadari bahwa ada orang lain yang lebih tidak beruntung dari diri kita.
Resep keenam, banyak bersedekah karena bersedekah membuka jalan yang tertutup. Bukannya sombong, lho! Tetapi, setelah saya bersedekah, biasanya lalu ada ‘sesuatu yang baik’ yang terjadi pada diri saya, anak-anak yang sakit jadi sembuh, dapat rezeki ‘tambahan’ yang tidak terduga, atau hal-hal baik lainnya. Lagi-lagi ini maaf, berdasarkan pengalaman pribadi saya, lho ya… Tetapi, bukankah semua agama di dunia ini menganjurkan kita untuk bersedekah/berbagi?
Resep ketujuh, buat hobi baru. Yang senang membaca, coba belajar untuk menulis. Yang senang menjahit atau memasak, coba tawarkan jahitan atau masakan ke tetangga-tetangga. Siapa tahu setelah coba-coba malah menghasilkan sesuatu. Bukan hanya meningkatkan rasa percaya diri tetapi juga menambah penghasilan.
Resep kedelapan, bergabunglah dengan kelompok-kelompok kegiatan yang anggotanya ibu-ibu rumah tangga. Atau, buat kelompok sesama ibu rumah tangga yang berhobi sama, misalnya kelompok ibu yang senang menanam, kelompok membaca, kelompok menulis, dan kelompok memasak, tetapi jangan kelompok arisan ya, hehehe…. Sehingga, kita bisa saling bertukar pendapat, bertukar pengalaman, dan saling menyemangati.
Resep kesembilan, dan ini adalah resep paling manjur (buat saya), BERSYUKURLAH kepada ALLAH. Dengan bersyukur atas segala karunia-Nya dalam setiap keadaan, susah maupun senang, semua masalah akan terasa ringan. Semua kendala pasti akan terlihat pemecahannya, semua rasa minder akan sirna, karena ternyata Allah pasti akan memberikan ‘hanya’ yang terbaik buat kita umat-Nya. Dan, bersyukurlah karena kita ditakdirkan menjadi ibu rumah tangga, yang dari tangan-tangan kitalah terbentuk generasi mendatang yang lebih baik.
Semoga resep saya manjur juga ya buat Anda. Salam Pro Ibu Rumah Tangga![dr]
* Dewi Rhainy lahir di Koln, Jerman Barat, pada 18 November 1970 dan alumnus Teknik Industri Universitas Trisakti, Jakarta. Ibu rumah tangga dengan dua orang putra-putri ini tinggal di Graha Pratama Blok V11 No.23, CitraRaya, Tangerang. Ia dapat dihubungi di pos-el: alauddino[at]yahoo[dot]com.

July 6th, 2009 at 11:35 am
Artikel keren, mbak!
Salam kenal dari full-timer bapak rumah tangga
July 30th, 2009 at 9:30 pm
Artikel yg sgt bgs. Perlu di terapkan di hdpku. Thank’s mbak..
November 1st, 2009 at 10:30 am
artikel ini saya buka ketika saya melihat sesuatu yg tidak mungkin menjadi mungkin,ada timbul rasa iri tapi kenapa dia bisa kenapa aku tidak,saya terjebak dalam suasana ibu rumah tangga, thanks mbak, semoga saya bisa menerapkan receipe itu
November 11th, 2009 at 4:40 pm
Hidup adalah pilihan…walau awalnya saya merasa ‘terjebak’ menjadi IRT…bukan pilihan..11 tahun mjd seorang IRT…membuat saya justru belajar banyak hal yg dulu tidak sempat saya lirik. Dukungan dan pengertian dari suami sangat membantu …Ayo…bangun bangsa ini dari keluarga…dan Ibu adalah ‘PJ’nya…
November 20th, 2009 at 10:56 am
Saya Baru jadi Ibu Rumah tangga 2 tahun..sedang bingung memilih kerja atau di rumah. maunya di rumah urus anak dan suami. tapi orang tua berpikir berbeda..yah, banyak orang menganggap pekerjaan ibu rumah tangga itu rendah. termasuk ibu saya pun berpikir begitu. dan itu membuat saya makin tidak nyaman dengan kehidupan saya..bukan malah bersyukur.. kelak saya ingin membuat anak perempuan saya menjadi ibu rumah tangga yang baik.
December 2nd, 2009 at 9:44 am
saya sudah 10 tahun menjadi IRT,ketika berhenti bekerja karir sedang baik..namun kecintaan untuk menjadikan anak menjadi baik mengalahkan segalanya.Dengan dukungan suami dan cinta anak-anak saya justru semakin ingin belajar memberikan yang terbaik untuk keluarga agar mereka (anak-anak) kelak dapat juga memberikan sumbangsih yang baik bagi keluarga,lingkungan..dan bangsa ini…
January 4th, 2010 at 7:48 pm
saya sedang mengalami kejenuhan yg ‘luarbiasa’ sebenarnya, karena merasa tidak berkembang, setiap hari hanya melakukan hal yang itu2 saja..dan merasa ‘terjebak’.
selama ini saya seperti menghukum diri sendiri karena merasa seperti itu, saya merasa menjadi ibu yg payah karena diluar senyum2, tapi dalam hati mendongkol karena bosan..
setelah membaca artikel ini, saya baru sadar, ternyata rasa bt yang saya alami itu human, dan banyak orang juga mengalami hal yang sama..
mungkin tidak ada salahnya untuk sedikit memanjakan diri sendiri. kasarnya..mundur selangkah untuk maju lebih jauh..’isi’ dulu jiwa kita, dan beri lebih banyak lagi untuk keluarga..
February 3rd, 2010 at 9:54 pm
Saya br menikah 3 bulan, tp rasanya menjadi ibu rumah tangga yg baik itu susah sekali. Saya jg seorang karyawan swasta yg pulangnya sama sore dg suami saya. Tp sampai d rumah dia bisa lebih banyak istirahat, sdgkan saya msh hrs masak, beres2 rumah. Saya iri dg suami. Saya jenuh. Mg saya dpt menerapkan masukan2 ini, dan jd lebih baik..
February 9th, 2010 at 9:47 pm
Ada satu lagi yang bisa jadi tips cespleng : yaitu : mengingat kematian, agar tidak terlalu frustasi dengan kenyataan yang tidak sesuai harapan
February 12th, 2010 at 11:24 pm
yang kesembilan, ane suka banget bu. Ya ALLAH kuatkan hamba agar bisa istiqomah bersyukur dan yakin semua yang terbaik dari ALLAH..
March 7th, 2010 at 2:45 pm
bagus,bagus