Tanpa Memori Tak Ada Jiwa

nsnOleh: Nur Sari Ningrum

Memori merupakan jiwa yang melekat pada bagian diri manusia, yang tak terpisah oleh waktu selama manusia itu hidup.

Coba bayangkan bila dalam otak kita tidak ada memori yang tersimpan? Bagaimanakah kita menjalani hidup? Baik memori itu manis ataupun pahit bagi pengalaman hidup kita. Seharusnya hal yang patut kita lakukan adalah mensyukurinya, karena Tuhan masih perkenankan memori kita itu masih ada dan tersimpan baik dalam otak.

Kalau tidak demikian maka kita akan kesulitan dalam melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari, karena kita dituntut untuk selalu melahirkan ide-ide baru dalam setiap waktu dan setiap hal yang akan kita lakukan. Menjadi manusia baru dan mengenal orang-orang serta benda-benda yang sama meski kita sudah mengenalnya. Jika kita tidak mempunyai memori tentang itu semua maka akan jadi menjenuhkan bagi orang di sekitar kita karena harus memperkenalkannya secara berulang pada kita.

Hal ini mengingatkan saya pada sebuah cerita dari pengalaman dosen yang mempunyai seorang putri berusia 18 tahun yang cantik dan unggul dalam bidang desain grafis, sayangnya putri tersebut mengalami gangguan tentang LTM (Long Term Memory). LTM adalah bagian memori yang relatif permanen. Jadi putri tersebut tidak dapat mengingat memori dalam jangka waktu yang panjang sehingga tidak dapat fokus dalam mengingat memori tersebut. Memori tersebut mengalami gangguan pada episodic memory (informasi tentang kapan sesuatu itu terjadi dan hubungan antar kejadian) dan procedural memory (mencakup cara melakukan sesuatu).

Hal ini mengakibatkan putri tersebut harus dihadapkan pada situasi yang sulit. Ia harus selalu mengenal segala sesuatunya sebagai hal yang baru, meski sudah mengenalnya berulang kali. Untuk mengenal saudara dalam anggota keluarganya saja, harus diingatkan setiap saat. Ketika sedang berkomunikasi anggota keluarga tersebut selalu menyebutkan namanya sendiri untuk mengingatkan putri tersebut. Kemudian untuk menjalani aktivitasnya sehari-hari dalam melakukan sesuatu ia dibantu dengan sebuah catatan mengenai serangkaian hal yang harus dilakukan dari cara ia mandi, mencuci pakaian sampai cara makan serta cara mencuci peralatan makannya.

Begitu pula dalam mengingat kejadian baik yang telah, sedang, dan akan terjadi selalu terhambat. Semua itu karena tidak ada memori yang tersimpan dalam jangka panjang, hanya menjalani hal yang sedang dilakukan saja dan seketika itu juga akan hilang. Namun dengan dukungan dari keluarga yang penuh kasih sayang maka hal itu menjadi hal biasa dihadapinya.

Coba kita bayangkan jika hal tersebut menimpa kita, bagaimana kita akan mengahadapinya? Maka bersyukurlah kita terhadap Tuhan yang telah memberikan memori untuk kita simpan secara baik dalam otak kita. Kita mudah melakukan aktivitas sehari-hari sesuai dengan memori yang ada dan tersimpan. Kita juga dapat mengakses secara cepat untuk mengingat kembali memori yang kita perlukan setiap saat.

Tidak perlu lagi mengenal hal-hal yang baru apabila kita sudah mengenalnya dalam memori kita. Itulah kelebihan yang kita miliki selama memori itu tersimpan secara baik. Maka di sinilah arti dari memori itu berlaku yaitu memori merupakan jiwa manusia itu hidup, karena kalau tidak ada memori maka kita tidak dapat mengenal, mengingat sesuatu, dan kita tak dapat pula melakukan apa-apa.

Sayangnya, terkadang manusia masih saja mengeluh terhadap memori yang dimilikinya karena terdapat bagian pengalaman yang pahit apabila diingat sehingga manusia cenderung berusaha melupakannya dan tidak menganggap memori itu ada. Dalam salah satu teori psikologi kognitif, hal ini sering disebut dengan motivated forgetting yaitu lupa terjadi karena adanya dorongan atau usaha untuk melupakan, biasanya hal-hal atau peristiwa yang tidak mengenakkan.

Hal ini dilakukan secara sengaja untuk melupakan dan berusaha menghilangkannya karena dihadapkan pada sesuatu yang tidak menyenangkan bagi manusia. Manusia itu takut apabila peristiwa itu terulang kembali sehingga bagaimanapun caranya seseorang melakukan motivated forgetting.

Seperti yang dilakukan oleh teman saya, untuk melupakan ayahnya yang telah sengaja meninggalkannya dan menyakiti hati ibunya, ia rela dan secara sengaja melupakan ayahnya. Untuk mengingat dan mengenalnya kembali saja tidak mau. Bahkan sampai ayahnya meninggal pun ia tidak ingin mengetahuinya. Ia juga tidak menjalin tali persaudaraan dengan keluarga ayahnya sepeninggal ayahnya.

Seandainya kita mau menyadari dan merenunginya segala sesuatunya pasti mempunyai segi positif di balik sisi negatifnya. Jika kita mampu bersikap bijak pada situasi tersebut maka tidak akan sia-sia memori itu ada bila kita mengingatnya. Hal ini dimaksudkan agar kita belajar dari pengalaman yang sudah kita miliki, didukung dengan memori yang tersimpan dalam otak kita masing-masing. Kita tidak lagi mengeluh karena memori yang dimiliki meskipun tidak menyenangkan tapi selalu bermanfaat. Ini memberikan makna terhadap setiap pengalaman sekaligus jiwa dari manusia itu hidup. Apabila tidak ada memori, maka tidak ada jiwa bagi eksistensi manusia itu ada.

Menurut Frankl dalam teorinya berpendapat bahwa “Apa yang berarti dalam eksistensi manusia, bukan semata-mata nasib yang menantikan kita, tetapi cara bagaimana kita menerima nasib itu”. Frankl percaya bahwa arti dapat ditemukan dalam semua situasi, termasuk penderitaan dan kematian. Dia menulis, hidup adalah menderita, tetapi untuk menemukan suatu arti dalam penderitaan seseorang ialah tetap dalam keadaan hidup.

Pandangan Frankl tentang kesehatan psikologis menekankan pentingnya kemauan akan arti. Kemauan akan arti dan arti kehidupan adalah kebutuhan kita yang terus-menerus mencari bukan diri kita melainkan suatu arti untuk memberi maksud bagi eksistensi kita. Semakin kita mampu mengatasi diri kita, memberi diri kita kepada suatu tujuan atau kepada seseorang akan menjadikan kita manusia sepenuhnya. Arti yang kita cari memerlukan tanggung jawab pribadi yaitu untuk menemukan cara kita sendiri dan tetap bertahan di dalamnya segera setelah ditemukan.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa dalam situasi serta kondisi apapun baik bahagia ataupun menderita seseorang diharuskan dapat mengetahui akan arti dari keadan tersebut. Sebagaimana sebuah pengalaman yang menyenangkan ataupun tidak tetap dapat diterima, karena telah menjadi bagian dari memori kita. Tetap bertahan dalam keadaan apapun apalagi setelah mengetahui arti dari semua itu. Sebagai manusia yang sehat secara psikologis dan menjadi manusia yang berfungsi sepenuhnya maka kita dituntut untuk bertanggung jawab secara pribadi untuk menemukan arti dari setiap pengalaman yang telah menjadi bagian memori kita.

Memori merupakan suatu kelebihan yang kita miliki untuk mengingat pengalaman serta memberikan arti pada pengalaman tersebut. Dengan begitu kita dapat melihat gambaran kepribadian diri sendiri, dengan memori yang dimiliki. “Dengan memori itu juga memberikan jiwa pada kehidupan kita. Untuk mengetahui apa yang seharusnya kita lakukan dan memberikan nilai atau arti pada pengalaman yang sudah terjadi. Kalau tidak demikian maka kita tidak mempunyai jiwa dari eksisitensi manusia hidup tanpa bisa melakukan apa-apa karena kita tidak menyimpan suatu memori yang berarti.

* Nur Sari Ningrum adalah mahasiswi psikologi semester lima, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Ia senang menulis puisi dan mempunyai motto hidup: Hidupkan hidupmu agar lebih hidup. Cita-citanya menjadi konselor seusai menamatkan kuliahnya nanti. Nur Sari Ningrum dapat dihubungi melalui pos-el: sari_psychology[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 6.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Design Thinking for Innovation

afOleh: Avanti Fontana*

“Semua lebih pandai dari setiap dari kita.”

Apa itu pemikiran desain atau berpikir desain? Mengapa itu perlu dalam berinovasi? Apa pentingnya bertanya kepada orang-orang yang ada di sekitar kita tentang kebutuhan mereka? Apa perlunya mengamati perilaku konsumen atau calon konsumen dari produk-produk (barang atau jasa) yang sudah dan akan kita hasilkan atau perbarui?

Pernahkah kita menggantung sesuatu tidak pada tempatnya atau tempat yang diperuntukan untuk itu hanya karena alatnya tidak ada. Pernahkan kita melihat orang-orang melakukan sesuatu bukan pada tempatnya. Menulis nomor telepon di telapak tangan. Mencatat sesuatu yang penting di atas tisu bekas atau tisu makan? Pernahkah kita melihat rekan, anggota keluarga atau bahkan kita sendiri melakukannya? Menggaruk punggung yang gatal dengan benda-benda yang cukup panjang dan runcing tapi tidak terlalu tajam seperti badan pensil, pulpen, atau penggaris? Sebaliknya, cukup seringkah kita melihat produk-produk di sekitar kita yang indah warna dan bentuk namun kurang berfungsi alias kurang bermanfaat? Mungkin kita pernah mengalami membeli produk menarik dan kita rasa cukup inovatif, namun tidak berapa lama setelah pembelian, belum sampai satu bulan, karena kita salah tekan atau pencet, produk itu menjadi tidak berfungsi. Produk itu hanya menjadi pajangan atau rongsokan kosong.

Design thinking merupakan pendekatan yang perlu dilakukan dalam berinovasi. Di mana letak pentingnya pendekatan ini? Pertama kita ingat bahwa inovasi itu tidak sekedar menciptakan produk baru, barang atau jasa baru. Inovasi lebih dari itu. Keberhasilan secara sosial dan ekonomi karena diperkenalkannya cara baru atau kombinasi baru dari cara lama dalam mengubah input menjadi output sedemikian rupa sehingga menghasilkan perubahan besar pada MANFAAT yang dirasakan oleh konsumen dibanding dengan HARGA atau pengorbanan yang ia perlu keluarkan untuk memperoleh manfaat tersebut.

Pendekatan pemikiran desain menuntut disiplin para produsen inovator sebelum menghasilkan produk yang akan dipersembahkan kepada konsumen atau pengguna. Pusat pemikiran ini adalah pelanggan atau konsumen atau secara umum saya sebut customers atau pelanggan. Inovator harus mampu menciptakan permintaan tidak hanya menyuplai produk. Untuk sampai ke sini, converting needs into demand, kata Peter Drucker. Inovator perlu melakukan proses inovasi secara bertahap, dan pada setiap tahap melibatkan pandangan, perspektif serta konteks lingkungan sosial ekonomi budaya di mana pelanggan berada.

Empat tahapan pendekatan ini yang dapat penulis ringkas di sini adalah (1) mengerti apa kebutuhan pelanggan dan konteks di mana kebutuhan itu muncul; (2) mengamati bagaimana pelanggan biasa berperilaku dan menggunakan produk-produk yang sudah ada; (3) melakukan brainstorming di dalam organisasi inovator untuk menggali ide sebanyak mungkin yang bertujuan memberikan nilai manfaat sebesarnya untuk pelanggan yang sudah dipilih atau diputuskan. Brainstorming penting dilakukan pada setiap tahap dalam proses inovasi, mulai dari penggalian inspirasi, pengumpulan ide hingga seleksi ide, dan implementasi berupa kegiatan pengembangan produk hingga produksi dan komersialisasi, produk sampai di pasar yang di tuju. Setiap kegiatan itu memerlukan komunikasi interaktif antara calon pelanggan, produsen inovator, dan pelanggan pendukung (supporting customers). Dengan ini proses inovasi menjadi betul-betul bertumpu dan berangkat dari apa yang dibutuhkan pelanggan atau calon pelanggan, yang sering jika tidak diamati seterusnya, akhirnya menjadi tidak disadari adanya kebutuhan itu. Kita bisa belajar banyak dari praktik perusahaan yang telah menerapkan design thinking, antara lain IDEO, termasuk pelopor pendekatan ini. [AF]

*Avanti Fontana: fasilitator & coach inovasi, pengajar pada Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, penulis Innovate We Can! (Grasindo 2009). Pembaca tertarik mengikuti Workshop Innovation & Design Thinking, silakan kontak kami di imed@avantifontana.com atau SMS INFO di 0813 – 1862 – 1970.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.4/10 (5 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Anjing Menggonggong Tidak Menggigit

lc2Oleh: Lily Choo*

Di pagi hari 2010, saya berkesempatan menikmati makan pagi bersama teman di Hotel Renaissance Melaka. Kami melanjutkan bahasan semalam mengenai tidak amannya beberapa wilayah di Malaysia, dari perampokan, penjambretan, dan pencurian. Sebenarnya saya punya banyak cerita tentang betapa bahayanya jalanan di negara Jiran ini, namun tidak sepatah pun keluar dari mulut. Tidak berniat menambah seinci atau bahkan satu sentimeter kekuatiran teman saya ini dengan kisah nyata. Adanya wanita Indonesia yang mengantar ibunya berobat di Melaka terpaksa dirawat setelah jatuh terhempas di aspal karena ada yang menjambret tas tangannya dari atas motor. Beliau malah menghembuskan nafas lebih cepat daripada ibunya yang sakit.

Rupanya temanku sering membaca berita kriminal di Malaysia sehingga rasa kuatir dan cemas terpancar di wajahnya dan terdengar di setiap perkataan mereka. Banyak penjambret motor mengakibatkan yang korban jambret kehilangan uang dan nyawa. Tidak heranlah bila sang suami tetap tidak memperbolehkan kami berjalan kaki menikmati udara malam tahun baru di Melaka. Suami adalah kepala keluarga, maka dari itu kami tidak berbantahan lagi dengannya.

Pagi itu sang suami berkeinginan menyewa mobil van. Dengan alasan kami semua, yang berjumlah enam orang dewasa dan tiga kurcaci cilik tidak terpencar dalam dua mobil. Alasan kedua, tidak perlu parkir mobil. Memang agak ribet mencari parkir di kota Melaka bila sedang musim liburan. Ketiga, agar tidak salah jalan. Menurutnya badan saya boleh tinggal di Melaka namun pikiran saya tidak. Jadi, mana berani mengambil resiko tersesat di jalan bersama saya? Yang ada, seorang teman tersesat bersama saya di Kuala lumpur selama tiga jam ditambah dengan jalanan macet total disertai hujan lebat. Untung tangki bensin saya isi penuh. Keempat, yang terpenting alasannya adalah keamanan mobil mewahnya yang bernomer plat negeri Singapura. Duh Gusti… Memang barang mewah itu susah jaganya. Lebih susah dan ribet daripada jaga anak kecil.

“Daripada mobil kita yang kena baret dan rusak, lebih baik mobil sewa yang kena baret.

Kurang lebih begini motonya, yang tak berbeda dengan moto semalam ketika kami hendak jalan kaki keluar dari hotel.

“Daripada kita kena baret dan luka karena jalan kaki, lebih baik mobil yang kena baret dan rusak.

Memang teman yang satu ini amat sangat antik, selalu keluar dengan pernyataan antik. Saya dan sang istri tetap berkeberatan sewa mobil karena tidak masuk akal harga yang ditawarkan oleh penyewa mobil di Melaka. Namun sang suami tak kalah keberatannya bila kami berjalan-jalan dengan mobilnya. Mulailah beliau membahas bagaimana tidak amannya mobil-mobil Singapura di Negara jiran ini. Memang banyak kasus seperti ini di beberapa negara bagian di Malaysia dan tentunya tidak mengherankan bila hal ini juga banyak terjadi di Jakarta. Sebagai info, mereka ini adalah penduduk Jakarta. Jadi seharusnya tidak perlu heran bila kejahatan seperti ini bisa saja terjadi di mana-mana.

Sang istri yang tidak tahan lagi dengan segala cerita kejahatan berkata, “Makanya kita harus menarik semua yang baik dan positif ke dalam pikiran kita. Law of attraction ya. Betul gak Ly?”

Uhukkkk!!!!! Serasa tertumbuk perut saya dan asam lambung terdesak keluar. Senyum saya berkembang tak sempurna, alias nyengir kuda akibat penyakit gila saya kambuh. Saya geli sendiri. Secara pribadi saya setuju dan percaya akan law of attraction ini, namun tiba-tiba saya tersedak dan tergelak lagi. Ditambah melihat sang suami yang sudah ingin menjawab pernyataan istrinya.

“Saya setuju dengan law of attraction tapi saya mempunyai jawaban untuk hukum ini juga,” suara saya menahan jawaban dari sang suami.

Ada cerita di mana seekor anjing mengonggong sekeras dan segalak-galaknya ketika seorang lelaki mendekatinya. Reflek yang masih bagus membuat lelaki tersebut lari sekuat-kuatnya. Ia kuatir akan gonggongan anjing galak dan lebih kuatir lagi dengan gigitannya. Tak heran pula bila si anjing turut berlari sekencang-kencangnya mengejar sang lelaki. Yang empunya anjing kaget dan turut berlari sekuat dan sekencang si lelaki dan anjingnya.

“Jangan lari!” teriaknya kepada si lelaki dan anjing.

Si lelaki lari tambah kencang lagi sambil berteriak, “Kenapa tidakkkkkk……..?!”

Sang empunya anjing ngos-ngosan mengejar dan berteriak untuk terakhir kalinya, “Tidakkah kamu tahu ada pepatah yang mengatakan, anjing menggonggong itu tidak menggigit?”

Si lelaki berlari dan berlari. Si anjing mengejar dan mengejarnya.

“Saya tahu pepatah itu tapi apakah si anjing tahu akan pepatah itu?” kata lelaki itu sambil berlari dan berlari tak keruan.

Gubrakkkkkkkk! Kedua teman saya tersedak beneran dan tergelak bersamaan. Hahaha

Bolehlah kita berpikiran positif. Bolehlah kita berpikiran yang baik-baik. Bolehlah kita berpikiran yang indah-indah. Namun sekeliling kita tidak selamanya berlaku demikian. Sekeliling kita tetap saja berpikiran buruk, berpikiran negatif, berpikiran jorok, berpikiran porno. Lho… Lho… Lho… Makin ditarik makin banyak ya. Buktinya, banyak penjahat, pencopet dan penjambret di mana-mana. Buktinya, teman saya dihipnotis di shopping mall sehingga uang dan perhiasannya ludes. Buktinya, koran penuh akan berita kriminal, berita pembunuhan, berita korupsi hingga berita selingkuh, dari dalam dan luar negeri.

Bagaimana dunia ini mau tentram, damai, sejahtera, penuh sukacita bila masih banyak manusia yang belum bertobat, belum sadar, belum waras atau belum eling akan betapa negatifnya mereka? Bila yang bertobat masih juga dikelilingi oleh penjahat, penagih dadah, penagih sex, dan penagih uang. Bagaimana yang bertobat bisa bertahan dalam pertobatannya? Ayo dipikirkan...

Temanku selalu nyeletuk, Iman boleh kuat tapi imin tidak lho. Hihihi….. Iman itu ‘I’-nya satu, sedangkan imin itu ‘I’-nya ada dua. Bila satu dilawan dengan dua, sudah pasti tidak imbang.

Pernahkah terpikir untuk menyebarkan kepada yang negatif-negatif ini akan adanya law of attraction? Penyebaran dalam bentuk perkataan, perbuatan, dan tulisan. Hm… Seperti yang saya lakukan saat ini. Lebih baik memuji diri sendiri karena kebanyakan orang tidak suka memuji, apalagi buat diri saya. Terpikir mengajak banyak orang untuk memiliki otak yang waras, pikiran yang waras. Teringat ketika saya pelayanan berkunjung ke penjara, memang tidak mudah dikelilingi bahkan berbicara dengan mereka yang pernah berdiam di dunia hitam dan gelap. Paling tidak, kita terpikir untuk memulainya dari keluarga sendiri, mengajak keluarga tercinta selalu berpikiran positif setiap hari, setiap detik.

Mari kita berusaha bersama-sama di tahun 2010 ini, seperti cerita di atas baik lelaki maupun si anjing boleh sama-sama tahu akan pepatah yang ada dan sama-sama menyakini akan kebenaran law of attraction. Dengan harapan banyak dari antara mereka boleh jadi orang yang positif. Boleh memulainya dari berpikiran positif dan kemudian berlanjut ke tindakan positif. Tentulah dunia akan jauh lebih aman, damai dan sejahtera.[ly]

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: -1 (from 1 vote)

You What You Are

iyOleh: Iftida Yasar*

Kalau kita baca atau lihat iklan mobil BMW dikatakan bahwa “You What You Drive”. Dimana pesan yang ingin disampaikan adalah ketika mengendarai mobil bergengsi kita tidak perlu lagi meninggikan mutu diri, sebab mobil itu sudah menunjukan siapa kita. Apapun pekerjaan dan siapapun kita tidak menjadi penting, yang penting kalau sudah mampu menaiki BMW kita akan dihargai karena masuk dalam golongan orang yang hebat dan keren. Mulai dari pandangan dan komentar kagum orang lain sampai kemudahan tempat parkir diberikan kepada mereka yang mengendarai mobil ini. Sedangkan masalah mobil keren itu didapatkan dari hasil korupsi misalnya atau menyewa menjadi tidak penting lagi.

Banyak sekali orang terkecoh dengan gaya hidup seperti itu. Kita menjadi tidak percaya diri kalau belum memakai barang bermerek. Saya sendiri adalah orang yang gaptek dengan teknologi telepon genggam. Yang penting bagi saya adalah fungsinya, bukan fitur canggih dan selalu berubah dengan cepat setiap saat. Selama hampir dua tahun saya memakai telepon genggam yang sama dengan model sederhana. Karena sudah terlalu lama maka warnanya menjadi dekil, apalagi telepon genggam itu berwarna putih. Teman dan staf di kantor selalu berkomentar melihat handphone yang selain sudah berwarna putih tua juga sudah mulai pudar angkanya.

“Ganti dong handphone-nya, masak bos handphone-nya jelek bener!

Ada juga komentar lain, ”Buat apa uang banyak disimpan-simpan, beli dong barang bagus.. Pelit banget.

Akhirnya oleh kantor, saya dibelikan handphone yang paling canggih dan mahal, yang sebetulnya tidak saya gunakan dengan maksimal. Satu hal yang akhirnya saya suka dari handphone itu adalah saya bisa mengirim SMS tanpa membuat pegal tangan karena bentuknya seperti laptop kecil.

Banyak orang yang tidak percaya diri jika tidak dilengkapi dengan barang mahal dari merek terkenal. Mulai dari rambut yang tertata rapi made in salon, baju model sekarang, tas, perhiasan, jam tangan, dan sepatu semuanya dari merek terkenal. Alasannya adalah tuntutan pekerjaan atau pergaulan yang mengharuskan ia berdandan, melengkapi diri dengan barang merek terkenal yang asli.

Golongan yang mendewakan hal ini adalah golongan berada yang menilai ke-bonafide-an seseorang adalah dari apa yang dipakainya. Mereka akan tahu jika barang yang dipakai seseorang palsu dan ini akan membuat kita susah untuk masuk ke lingkungan mereka. Bayangkan berapa anggaran yang harus dialokasikan untuk mendapatkan predikat bonafide.

Dimana kita makan juga menjadi ukuran ke-bonafide-an seseorang. Bagi yang memposisikan diri sebagai profesional muda, ga keren kayak-nya kalau makan di kantin atau pesan di kantor. Biasanya pada jam makan siang, berbondong-bondong mereka pergi mencari makan siang di kafe yang banyak berada di sekitar perkantoran. Dengan dalih untuk memperluas networking, pulang dari kantor mereka akan menghabiskan waktu untuk clubbing atau hanya sekedar kongkow dan ngobrol di kedai kopi. Uang dan energi mereka seakan tidak terbatas, rumah hanya menjadi sekedar tempat untuk numpang tidur.

Kalau semua dilakukan dengan dukungan pandapatan yang jelas dan besar, hal ini menjadi tidak masalah. Yang menjadi masalah adalah jika lebih besar pasak daripada tiang, apalagi jika gaya hidup semu itu ditopang oleh hutang dari kartu kredit. Dalam tiga bulan pertama mungkin kita bisa mempertahankan gaya hidup seperti ini, tapi memasuki bulan keempat cashflow menjadi kacau. Hal ini dikarenakan semua uang dipakai untuk membayar tagihan minimum kartu kredit ditambah dengan bunganya yang mencekik leher. Semua gaya hidup yang kelihatan glamour hanya semu belaka akan berakhir dengan malapetaka.

Hidup dengan lilitan hutang adalah mimpi buruk, bukan saja untuk kita, tapi juga keluarga dan lingkungan kantor. Bukan hanya si pengemplang hutang saja yang akan dikejar oleh debt collector tapi juga orang rumah dan orang kantor akan repot menghadapi hal ini. Mereka tidak segan untuk menelpon dan menggunakan kata yang tidak sopan sampai mengancam kepada siapa saja yang dianggap menyembunyikan keberadaan kita.

Saya punya teman yang sampai trauma karena pada suatu hari TV, kulkas sampai sofa diangkut oleh para debt collector tersebut. Ada juga teman lain yang mertuanya sampai stroke dan harus masuk rumah sakit berbulan-bulan karena kaget mendapati menantunya yang tinggal serumah mempunyai hutang yang begitu banyak. Yang lebih mengerikan, ada juga yang harus berakhir di penjara karena menipu di berbagai tempat untuk berhutang dan tidak dapat melunasinya.

Saya sendiri termasuk tipe orang yang susah menabung, rasanya gatal kalau melihat uang ditangan langsung dibelikan barang yang sebetulnya tidak terlalu dibutuhkan. Berdasarkan pengalaman pribadi saya selalu menikmati keadaan untuk memiliki barang yang mahal dengan cara berhutang. Jika cicilan sudah lunas maka langsung otak ini berputar mau hutang apa lagi ya? Mulai dari panci, microwave, TV layar lebar sampai mobil adalah hasil dari berhutang.

Rasanya lega dan bangga bisa memiliki barang bagus serta mahal dari hasil kerja keras menyisihkan uang tiap bulan untuk mencicil. Saking seringnya berhutang dengan catatan pembayaran cicilan yang sangat bagus, maka tawaran hutang pun selalu mengalir lancar. Saya adalah “pelanggan yang dapat dipercaya dan memenuhi kriteria bonafide”. Begitu cicilan terakhir lunas langsung ditawarkan hutang baru lagi, baik dari bank untuk Kredit Tanpa Agunan, sampai perusahaan leasing mobil. Saking seringnya membeli mobil dengan cara kredit, perusahaan leasing langganan saya menjadi banyak dan mereka dengan senang hati meluluskan permintaan saya membeli mobil apa saja tanpa harus melengkapi persayaratan administrasi apapun.

Menurut saya tidak ada yang salah dengan berhutang, asal dilakukan dengan bijaksana dan sesuai dengan kemampuan kita. Jaga reputasi sebagai penghutang yang dapat dipercaya. Jadi, jangan terkecoh dengan jargon “You What You Drive”, You What You Wear”, atau “ You What You Have”, apalagi kalau kita tidak mampu. Penting bagi kita untuk mengenal diri sehingga dapat menilai dengan jelas siapa diri kita, apa yang kita butuhkan, dan bagaimana kemampuan kita. “You What You Are”, kita apa adanya adalah lebih penting dengan segala kelebihan dan kekurangannya. [iy]

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (5 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

Payung Tuaku yang Jelek

ss-sugeng-santosoOleh: Sugeng Santoso*

Dengan agak terkejut saya bertanya, “Haaah, mana payung saya mbak?” Baru saya tinggal 40 menit, payung yang saya titipkan sudah hilang raib entah kemana.

“Tadi saya lihat kok pak, tapi kemana ya sekarang?” tanyanya kembali.

Sebuah perbincangan yang menarik ketika saya sedang mensurvei sebuah alternatif tempat untuk training yang akan kami adakan bagi salah satu perusahaan FMCG terbesar di Indonesia.

“Mbak tadi kan saya titipkan dan tinggal di sini karena saya harus melihat tempat Anda untuk acara outbound kami nantinya. Lha sekarang kemana?” tanya saya kembali.

“Saya sudah ditunggu untuk meeting kembali di Jakarta pada pukul 18.00 ini. Jadi saya harus cepat meluncur kesana,” lanjut saya.

Terlihat enggan, staf tersebut masuk ke dalam ruangan, dan tidak sampai lima menit kembali bersama satu orang temannya. Katanya, “Mungkin dibawa para orang bank yang baru saja selesai training di tempat kami ini pak.”

“Bapak kan tadi melihat rombongan mereka banyak sekali, kami tidak sempat melihat satu persatu.”

Sedikit berpikir saya menimpali, “Maksud Anda, seorang dari rombongan peserta training salah satu bank terbesar di Indonesia itu, dengan sengaja dan tahu benar bahwa itu bukan payungnya, mengambil dan menyimpannya untuk dibawa pulang? Itu tuduhan mencuri lho,” lanjut saya.

Agak terkejut mereka berdua terdiam. Seorang temannya langsung bergabung, dan mencoba mencari sebentar, dan kemudian mengatakan, “Tidak dapat kami temukan pak!”

Tidak sengaja, saya mendengar sedikit celotehan di belakang ruangan oleh para staf tadi, “…Ah cuma payung  aja….”

Setelah berbasah-basah diguyur hujan lebat, dan menjalani tiga meeting marathon hari itu dari Jakarta menuju wilayah Bogor. Dan harus kembali ke Jakarta untuk meeting kembali dengan perut keroncongan karena sudah dengan sengaja melewatkan makan siang untuk mengejar ketepatan waktu, mendengar celotehan seperti itu membuat emosi negatif saya bergerak naik.

Untung sebagai seorang personal dan business development coach saya terbiasa mengontrol reaksi saya atas hal-hal yang tidak memberikan kontribusi positif. Saya segera teringat akan identitas saya yang selalu saya afirmasikan setiap hari, ”Saya adalah orang yang sabar, cerdas, bijaksana, ….”

Saya tergoda untuk sedikit berbagi pelajaran.

Dengan nada mulai saya buat ketus saya berkata, “Mbak tadi kata Anda cuma payung aja… Boleh tidak gelas dan tatakan gelas tersebut saya bawa balik untuk saya?” sambil saya menunjuk gelas yang ada di mejanya.

“Wah ya tidak boleh pak, itukan milik tempat ini!” jawabnya.

Lho kan cuma gelas? Lha nasib payung saya bagaimana?” saya menimpali.

Saya melanjutkan, “Saya tidak mau tahu, pokoknya Anda cari solusinya! Saya sudah akan berangkat kembali ke Jakarta dan sudah ditunggu meeting kembali.”

Setelah menunggu sekian lama tanpa solusi, akhirnya saya mencoba memberi solusi, “Saya mau tempat ini mengganti payung saya. Berikan saya pengganti payung yang paling besar dan paling bagus untuk penggantinya sekarang juga.”

Sedikit terkejut akan permintaan saya dan terlihat tidak rela, mereka tetap tidak bergerak.

Kemudian seorang dari mereka berkata, “Mungkin dibawa si A ke toilet atas kali.”

Di dalam hati saya berkata, “Hmm… bagus juga, Anda mulai mau berfikir dan bertanggung jawab dibandingkan hanya sekedar menimpakan kesalahan dan menuduh pada rombongan orang bank yang tidak tahu menahu.”

Segera ia meminta temannya untuk menyusul si A yang sedang ke toilet tersebut sedemikian lamanya.

Tapi saya tidak mau menunggu, “Ok, bapak, ibu, saya jalan sekarang, dan payung di depan itu saya ambil sebagai pengganti payung saya.” Sambil berpamitan dan berjalan, saya ambil payung mereka dari tempatnya.

Ketika mobil saya mulai meluncur, dengan tiba-tiba seseorang mengejar dan memberhentikan mobil saya.

“Pak, ini payung bapak.”

Lho ketemu juga akhirnya. Tuh kan pak, kalau bapak mau belajar untuk sedikit memikirkan orang lain, toh akhirnya payung ini ditemukan. Dan memang ternyata di tempat bapak kan, bukan diambil orang? Terima kasih pak,” jawab saya.

“Yang itu, mana payung kami, tolong dikembalikan,” lanjutnya.

“O.. tentu, silahkan ini payung Anda pak. Terima kasih sudah mau bertanggung jawab pak. Saya pamit ya,” lanjut saya.

Mobil meluncur kembali, dan saya tersenyum.

Di dalam hati saya berkata, “Selamat bapak, ibu, teman-teman di tempat ini. Hari ini Anda telah belajar untuk berempati, mengambil tanggung jawab, tidak berfokus mencari gampang dengan menimpakan kesalahan kepada orang lain, berfikir untuk mencari solusi, dan tentunya meningkatkan customer service Anda dengan menangani pelanggan menyebalkan seperti saya.”

Terima kasih untuk payung tua dan jelek yang selalu menemani saya selama musim hujan ini.

Dan saya berkata kepada diri sendiri, “Selamat Sugeng, hari ini Anda telah belajar untuk bersabar,  berfikir jernih, dan berbagi pelajaran kepada orang lain. Sekarang segera cari roti dan teh manis untuk memberi perhatian pada tubuhmu ya…”

“Lapar juga aku akhirnya…”[SS]

* Sugeng Santoso adalah seorang Your browser may not support display of this image.Business Performance Coach dari Brian Tracy’s Focal Point Coaching – USA, Penulis Tetap Seputar Pengembangan Bisnis dan Pribadi di Majalah Pengusaha dan Majalah Media Kawasan, Penulis Buku Best Seller “Beyond Productivity”, Life Performance and Personal Development Coach, Your browser may not support display of this image.Motivational Trainer, Certified Firewalk/ Fire-eater/ Glasswalk Trainer.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

Consumer Safety

sj1Oleh: Sri Julianti*

Beberapa waktu yang lalu, saya membuka website Food Review, dan mencoba menjawab pertanyaan di website tersebut. Pertanyaannya adalah, “Kasus keracunan makanan disebabkan oleh?” Jawaban yang tersedia adalah makanan olahan, makanan restoran, makanan catering, dan makanan kaki lima. Saya langsung memilih makanan catering. Dan begitu saya kirimkan ternyata keracunan makanan catering memberikan angka sekitar 42%, peringkat utama dari keracunan makanan. Peringkat berikutnya adalah makanan kaki lima, sedangkan makanan restoran, dan olahan menduduki peringkat terakhir serta dalam presentase yang hampir sama. Data ini dapat diartikan bermacam-macam tergantung dari sudut mana kita meninjaunya. Saya tidak akan membahas data ini lebih lanjut, tetapi bahsan saya akan fokus kepada consumer safety.

Masih ingat peristiwa susu yang mengandung melamin di China? Korban dan keluarganya tentunya sangat sedih dan berapa pun uang pengganti dan pengobatan yang diberikan oleh produsen susu, tidak akan dapat menggantikan masa depan anak dan keluarganya. Di sisi lain kerugian yang dialami oleh pabrik susu adalah pejabat tinggi di pabrik susu tersebut yang dihukum mati atau seumur hidup oleh pemerintah China dan ribuan buruh yang kehilangan pekerjaan karena pabrik tersebut tidak boleh beroperasi lagi. Sudah tak terhitung lagi kerugian material dan dampak psikologis dari kejadian ini. Belum lagi dampak ini juga merambah ke negara lainnya.

Produk kosmetik, mainan anak-anak juga pernah berkali-kali dilarang beredar oleh pemerintah karena kandungan logam berat, mainan anak-anak maupun produk lainnya. Teman kuliah saya menggunakan pearl cream, semacam foundation dan akhirnya seluruh wajahnya jadi “rusak” akibat logam berat. Akhirnya dia harus dirawat seorang dokter kulit untuk memulihkan kulit wajahnya dengan biaya yang tidak sedikit.

Banyak contoh lain, produk baby walker yang tidak stabil dan dapat menyebabkan anak mudah terguling bila menggunakan baby walker tersebut. Jaket anak-anak lengkap dengan topinya yang di lengkapi tali, menyebabkan anak mudah terjerat lehernya.

Ketika anak saya masih sekolah di Taman Kanak-kanak, salah seorang temannya meninggal dunia karena terjerat alat fitnes di kamar pamannya. Beritanya sangat mengejutkan dan orang tuanya sangat shock, demikian juga kami yang mengenalnya.

Pernah mendengar atau membaca anak-anak yang tercekik kantong plastik? Kantong plastik yang jatuh di wajah dan mulut anak ketika anak rebahan akan mencekik mereka, dan menyebabkan mereka tidak dapat bernapas. Kejadian ini banyak terjadi di negara lain yang pada umumnya anak-anak tidak didampingi penjaga (baby sister atau anggota keluarga yang lainnya) seperti di Indonesia. Alat magnet dapat menyebabkan anak sakit parah bila tertelan, bahkan sampai meninggal dunia.

Rumah Anda dan peralatannya juga dapat menyebabkan bahaya kepada anggota keluarga. Seperti, kabel listrik, stop kontak, pisau dll. harus di tempatkan pada tempat yang seharusnya. Baik produsen maupun konsumen dilindungi hak-hak dan kewajibannya oleh undang-undang. Pihak produsen harus bertanggung jawab terhadap keamanan produk yang dibuatnya selama konsumen mengikuti cara pakai yang disarankan. Konsumen akan terlindungi bila dia menggunakan produk tersebut sesuai dengan cara yang di sarankan produsen. Kita sebagai orang tua juga harus bertanggung jawab terhadap keselamatan diri sendiri dan anggota keluarga.

Standar keamanan adalah standar yang di desain untuk menjamin keamanan produk, aktivitas, jasa atau proses dll. Secara undang-undang, baik konsumen maupun produsen mempunyai hak dan kewajibannya masing-masing, dan jika kewajiban ini di langgar tentunya akan ada sanksinya. Di Indonesia, undang-undang ini pun ada dan di lapangan di kontrol oleh departemen terkait (Misal, BPOM dan DepKes) dan Yayasan Lembaga Konsumen yang berada di pihak konsumen. Di negara maju, masyarakatnya amat kritis, sehingga mereka tidak akan segan-segan mengkomplain dan mengajukan produsen ke pengadilan bila produknya tidak aman. Tetapi sebaliknya, ada juga konsumen yang “nakal” dengan tujuan “tertentu” untuk mengkomplain produsen atas hal-hal yang tidak realistik.

Di negara kita pun tidak kurang maraknya berita di koran tentang keracunan makanan yang menyebabkan jatuhnya korban bahkan sampai meninggal, meskipun fokusnya masih pada produk makanan. Kalau ada akibat pasti ada penyebabnya.

Apa saja sih penyebab bahaya? Penyebab bahaya ini dapat di golongkan dalam empat hal:

  • Bahaya keracunan
  • Bahaya microbiologi
  • Bahaya fisik
  • Bahaya merusak lingkungan

Contohnya, sesorang makan bakmi goreng, apa saja kemungkinan bahaya yang dapat saja terjadi? Keracunan (bakminya kadaluwarsa, saosnya dari bahan yang non food grade), microbiologi (tempat penggorengan, bahan tidak higienis, dan tempat menyajikan), fisik (ada campuran paper klip, staples, dan pecahan piring), bahaya merusak lingkungan (bila bakmi tersebut dibungkus oleh packaging yang tidak ramah lingkungan)

Contoh pada bahan kemasan seperti pewarna, tinta, cara penggunaan, dan proses daur ulang bila packaging-nya sudah tidak digunakan.

Misalnya kemasan kaleng untuk makanan dan minuman dari kaleng, apa saja bahaya yang mungkin terjadi? Bahaya keracunan, jika bahan pelapis pada kaleng rusak dan bahan kaleng bereaksi dengan produknya. Bahaya microbiologi, bila proses selama pengemasan tidak sempurna atau formulasi produk tidak cukup menahan tumbuhnya microbiologi. Bahaya fisik, jika kaleng tersebut ada bagian yang tajam, terutama pada bagian pembukanya atau pada bagian sambungan kaleng. Bila ada bagian yang tajam, tangan konsumen atau petugas toko atau restoran dapat terluka. Bahaya merusak lingkungan, tidak terjadi karena semua bahan kemasan kaleng dapat didaur ulang

Untuk produk farmasi, digunakan child resistance proof cap (tutup yang tidak dapat dibuka oleh anak-anak), hal ini dimaksudkan untuk keamanan anak-anak.

Barang-barang seperti sendok kecil, jepit rambut, penghapus pensil, magnet, kancing dll. yang kecil sekali ukurannya, akan membahayakan bila tertelan anak-anak. Produk dari bahan plastik seperti styrofoam yang sering digunakan untuk wadah makanan, sebaiknya tidak digunakan pada makanan panas, karena terjadi migrasi dari residu stiren yang membahayakan kesehatan. Kantong kresek berwarna hitam, yang dibuat plastik daur ulang dan tidak jelas sumber dan higienisnya, dianjurkan tidak digunakan untuk makanan.

Melalui media, baik koran maupun elektronik, BPOM maupun instansi terkait sudah cukup aktif mengeluarkan himbauan agar masyarakat maupun produsen lebih berhati-hati dalam memilih kemasan makanan. Hal ini harus diperluas untuk menjangkau lapisan masyarakat kelas menengah kebawah, seperti penjual makanan kaki lima agar mereka pun dapat memproduksi makanan yang aman bagi anak-anak kita.

Bila Anda sebagai pedagang atau produsen UKM, mungkin Anda berpikir, “Wah… Buat apa ya repot-repot memikirkan yang sulit ini, toh produk yang kami buat selama ini tidak pernah ada kejadian seperti contoh di atas?” Bila Anda produsen, Anda punya tanggungjawab moral untuk keamanan konsumen Anda, dan berguna untuk menjamin kelangsungan bisnis Anda.

Tanda-tanda bahaya lengkap dengan tulisan awas bahaya, barang beracun, hindari dari jangkauan anak-anak pada umumnya sudah dikomunikasikan oleh produsen pada kemasannya. Bila konsumen teliti, mestinya peringkatan ini langsung dimengerti oleh konsumen. Tanda peringatan ini pada umumnya digunakan pada bahan kimia, insektisida, pestisida, pembasmi nyamuk, bahan mudah terbakar, dan mudah meledak. Untuk bahan makanan, minuman, dan kosmetik tentunya tidak dengan cara yang langsung seperti itu, tetapi disampaikan pada cara pakai atau peringatan lainnya.

Misalnya, jangan menggunakannya, bila kaleng rusak atau bila merasa kulit Anda panas setelah menggunakan produk ini, hentikan pemakaian. Sebagai konsumen Anda bertanggungjawab juga terhadap keamanan diri sendiri dan orang sekitar Anda.

Bila Anda sebagai konsumen, Anda harus membaca, mengerti isi produk, dan peringatan yang dicetak di kemasannya. Bila toh masih terjadi sesuatu, segera hubungi alamat, nomor telpon, atau nomor hotline yang tertera pada kemasannya, kemudian sampaikan keluhan Anda. Produsen akan segera memberikan respon. Tetapi mungkin saja karena birokrasi internal atau tidak kompetennya bagian hotline service, sehingga responnya dirasa lambat.

Beberapa undang-undang penting yang mengatur hak-hak dan kewajiban produsen dan konsumen adalah sebagai berikut.

  • UU No. 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen
  • UU No. 23/1992 tentang Kesehatan
  • UU No. 2/1981 tentang Metrologi Legal
  • UU No. 18/2002 tentang Sisnas dan Iptek

Khusus untuk Industri Makanan, undang-undang yang penting selain diatas adalah

  • UU No. 7/1996 tentang Pangan
  • PP No. 69/1999 tentang Label dan Iklan Pangan
  • PP No. 102/2000 tentang Standardisasi Nasional.

Kita bertanggung jawab untuk menjaga keamanan diri kita sendiri dan orang di sekitar kita.[sj]

*Sri Julianti adalah praktisi packaging yang sudah malang melintang di dunia packaging selama 25 tahun lebih. Saat ini, ia sedang menuliskan pengalamannya dalam sebuah buku tentang strategi dan seni kemasan. Ia dapat dihubungi melalui e-mail : julipackaging@yahoo.com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

Memberdayakan Fungsi Strategis KCP

Oleh A. Heru Kristanto*

Dalam sebuah struktur organisasi perbankan, termasuk Bank BTN, fungsi outlet sangatlah penting sebagai delivery channel kepada para nasabah. Outlet-outlet tersebut berupa Kantor Cabang (KC), Kantor Cabang Pembantu (KCP), dan juga Kantor Kas (KK) termasuk ATM. Kinerja sebuah bank sangat didukung oleh keberadaan dari outlet-outlet tersebut, karena outlet tersebut menyebar pada titik di mana para nasabah tinggal dan merasa lebih dekat dengan keberadaan bank tersebut. Namun, kehadiran outlet-outlet tersebut terutama outlet sekelas KCP sering kali belum dapat berfungsi secara optimal, sehingga belum memberikan kontribusi yang cukup bagi kinerja KC induknya. Bahkan beberapa KCP mengalami kemunduran (decline), stagnan, atau mengalamai penurunan aset. Padahal aktivitas bisnis di wilayahnya tetap tumbuh dan menjadi rebutan bank pesaing.

Bank BTN sebagai salah satu bank yang menggeluti bisnis ritel, sudah seyogyanya mempunyai banyak outlet yang menyebar di titik-titik konsentrasi nasabah. Dengan demikian para nasabah merasa nyaman dan merasa dekat jika ingin bertransaksi dengan Bank BTN. Outlet-outlet tersebut merupakan perpanjangan tangan dari KC, sehingga segala aktifitas bisnis dapat dikendalikan dan dilakukan di outlet tersebut terlebih lagi di KCP. Dalam struktur organisasi, KCP merupakan outlet terbesar dibawah KC, sehingga mempunyai prototipe organisasi yang mirip dengan KC. Dengan demikian, KCP lebih merupakan organisasi KC mini. Makanya jabatan Kepala KCP sering disebut sebagai branch manager junior (BM Jr).

Sebelum terbentuk cikal bakal KCP, biasanya dilakukan suatu riset studi kelayakan terhadap nilai potensi bisnis yang dapat diraih KCP di wilayah tersebut. Data bisnis dapat diperoleh dari berbagai sumber, seperti BPS, BI, observasi pasar, kehadiran bank pesaing, dan sumber-sumber terpercaya lainnya. Oleh karena itu, jika KCP sudah terbentuk, sangatlah wajar jika KCP tersebut diekspektasikan menjadi suatu outlet yang dapat mendukung kinerja KC. Misalnya, KCP diharapkan akan menambah aset dan laba. Selain itu, kehadiran KCP juga diharapkan mampu mewakili kehadiran Bank BTN di wilayah tersebut. Jika Bank BTN mampu hadir di setiap wilayah konsentrasi nasabah, maka akan membantu proses branding Bank BTN agar lebih dikenal dan dekat dengan nasabahnya. Positioning yang diharapkan dari nasabah adalah Bank BTN ada dimana-mana.

Tidak dapat dimungkiri bahwa keberhasilan KCP untuk tumbuh dan berkembang tidak lepas dari peranan Kepala KCP beserta seluruh staf yang ada didalamnya. Tidak jarang ada beberapa KCP yang stagnan, bahkan mengalamai decline, artinya asetnya tidak berkambang bahkan cenderung turun dan tidak dapat bersaing di wilayah bisnis tersebut. Tetapi banyak juga KCP yang terus tumbuh berkembang, bahkan menjadi cikal bakal terbentuknya KC baru karena adanya peningkatan aset dan kinerja dari KCP tersebut. Tentu kondisi yang terakhir ini yang sangat diharapkan, karena hal itu menunjukkan bahwa investasi pembentukan KCP dinilai manajemen telah berhasil.

Upaya dalam memberdayakan fungsi strategis KCP agar dapat mendukung kinerja KC dalam menumbuhkan aset dan laba, serta agar KCP tersebut terus tumbuh dan berkembang di wilayah bisnis lingkungannya, dapat dilakukan dengan beberapa hal berikut ini.

Pertama, KCP harus diberikan target yang realistis dan menantang. Targetnya adalah suatu target yang disesuaikan dengan potensi bisnis di wilayahnya dan harus dicapai dengan kerja keras. Jangan lupa bahwa target tersebut harus dituangkan dalam kontrak manajemen antara KC dengan KCP. Dengan kontrak manajemen, maka segala sesuatu akan menjadi terukur dan lebih bertanggung jawab. Kontrak manajemen tersebut harus terus dikawal sepanjang tahun agar target yang ditetapkan akan tercapai. Tentu didalamnya diperlukan bimbingan dan monitoring dari KC induknya. Jika target tidak tercapai dalam periode tertentu, misalnya dua tahun berturut-turut tidak tercapai, maka sudah sepantasnya dilakukan rotasi terhadap kepala KCP tersebut. Akan tetapi jika target tercapai, maka pemberian insentif layak diberikan untuk menambah motivasi pencapaian target berikutnya.

Kedua, kenali dengan baik lingkungan sekitar KCP dengan membuat suatu analisis potensi bisnis yang ada di wilayah kerjanya. Semua potensi bisnis yang ada harus dibidik, mulai dari sekolah, industri, wirausaha, UKM, perumahan, komunitas tertentu, perorangan, dan lain-lain. Dengan analisis potensi bisnis ini nantinya akan menjadi suatu alat yang mendukung pencapaian kinerja atau target yang telah ditetapkan. Manajer yang baik adalah seseorang yang mampu mengenal lingkungan kerjanya dengan baik, rinci, dapat menjelaskan kondisi pasar, dan nasabah yang menjadi binaan atau targetnya.

Ketiga, membuat rencana kerja harian, mingguan, dan bulanan. Rencana kerja ini harus tertulis rinci, terukur, dan terencana. Rencana kerja juga harus dilaksanakan dengan konsisten dan disiplin oleh semua jajaran KCP. Rencana kerja ini berupa daftar (list) calon nasabah potensial yang akan diprospek di wilayah KCP. Calon nasabah beragam, mulai dari nasabah perorangan, instansi, sekolah, developer, wirausaha, UKM, dll. Rencana kerja inilah yang menjadi dasar kegiatan marketing dan mengembangkan bisnis di KCP. Semakin banyak dan lengkap rencana kerja yang dibuat akan semakin mendukung kinerja KCP.

Keempat, membuat database semua nasabah, dimulai dari nasabah prima sampai dengan nasabah yang baru. Database ini sangat penting dan banyak manfaatnya. Ibarat kartu pasien yang memuat riwayat kesehatan pada suatu rumah sakit, maka database nasabah ini juga akan berfungsi untuk mengetahui riwayat nasabah mulai saat pertama kali menjadi nasabah hingga bertahan sampai sekarang. Dengan adanya database ini, maka jajaran KCP akan dapat mengenal dan melakukan maintenance nasabah dengan baik, baik itu nasabah individu maupun nasabah lembaga. Dengan sentuhan yang terus dilakukan oleh pihak bank, maka nasabah pasti akan merasa senang dan nyaman, sehingga diharapkan akan lebih mencintai Bank BTN.

Kelima, selalu melakukan riset pasar dan benchmarking terhadap keberadaan bank-bank pesaing untuk mengetahui perkembangan, sekaligus mengetahui share Bank BTN (KCP) di wilayah tersebut. Hal ini sangat penting dilakukan, agar pertumbuhan kinerja KCP signifikan dengan pertumbuhan market share yang diperolehnya. Jika market share semakin besar porsinya dari bulan ke bulan dan dari tahun ke tahun, hal tersebut membuktikan bahwa KCP tersebut telah berhasil merebut dan memenangkan persaingan di wilayah kerjanya. Itu yang harus selalu dijaga dan dipertahankan.

Dengan melakukan hal-hal tersebut secara kontinyu dan konsisten, penulis yakin bahwa peran KCP yang strategis dalam mendukung kinerja KC induknya akan terwujud. Hal ini membuat KCP akan tumbuh berkembang menjadi outlet andalan dan kemungkinan akan menjadi cikal bakal terbentuknya KC baru. Jika organisasi semakin maju dan berkembang, sudah dapat dibayangkan bahwa kesejahteraan para pegawai akan ikut meningkat dan peluang kenaikan jabatan yang lebih tinggi akan terbentang di depan mata. Semoga!

* A. Heru Kristanto adalah alumnus Sarjana Teknik UNS, Surakarta, dan saat ini menjadi praktisi perbankan serta peminat bidang pemasaran dan properti. Heru dapat dihubungi melalui blog: http://aherukristanto.blogspot.com, email : masmuheru[at]gmail[dot]com, atau mobile phone: 0811 570 4966.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Erni Julia Kok: Tuhan Menggunakan Saya Untuk Memberdayakan Orang Lain

erni-kav1Akhir-akhir ini orang mulai marak membicarakan NLP (Neuro Linguistic Programming). Meskipun kemunculannya ilmu ini terbilang cukup lama yakni pada pertengahan tahun 70-an namun di Indonesia sendiri perkembangan NLP belum semarak seperti halnya psikologi yang mempelajari cara manusia berperilaku. NLP adalah studi yang mempelajari bagaimana manusia dapat menjadi yang terbaik (human excellence). Inti dari NLP adalah cara memberdayakan orang melalui mindset dan mental sehat.

Salah satu praktisi NLP yang telah lama berkecimpung dalam bidang ini adalah Erni Julia Kok. Erni Julia Kok adalah NLP Trainer dan Advanced NLP Coach bersertifikasi internasional. Background akademik dalam bidang akuntansi tidak lantas menghambatnya bergerak dalam bidang NLP. Sebaliknya pengalaman bekerja dalam berbagai bidang telah membantunya berproses dengan cepat dan semakin memaksimalkan potensi serta minatnya dalam bidang NLP.

Aktivitas terakhir yang sedang dijalani adalah menulis buku, memberi training berbasis NLP untuk perusahaan-perusahaan, dan public workshop, melakukan penelitian untuk mengembangkan atau menciptakan teknik NLP baru. Penulis empat judul buku, Mental Pemenang Mental Pecundang (2010), NLP Untuk Semua (2009), Cara Pasti Menjadi Kaya (2008), dan The Ultimate Question (2008) ini mempunyai cita-cita yang besar mengenai perkembangan NLP selanjutnya di masa depan. Berikut adalah petikan wawancara Sofa Nurdiyanti dari AndaLuarBiasa.com dengan Erni Julia Kok pada September 2010.

Bisakah Anda jelaskan mengenai NLP? Gambaran singkatnya seperti apa?

NLP atau Neuro Linguistic programming adalah studi yang mempelajari bagaimana kita mampu melakukan apa yg kita lakukan secara baik (excellent). Pada umumnya seseorang melakukan suatu kegiatan dengan excellencet namun karena hal tersebut berada pada level sub consciousness maka sangat sulit mengajarkannya kepada orang lain. Maka solusinya adalah melalui modeling strategy dan mind set, dari situ sebenarnya NLP tercipta, MODELING.

Apakah mirip psikologi?

Hmmmm…. Ya dan tidak. Tergantung dari sudut pandang mana orang melihatnya. Ya jika kita mempertimbangkan bahwa NLP mempelajari dan memberdaya. Pikiran dmkn juga halnya psikologi.

Bisa dijelaskan lebih lanjut mengenai kemiripan atau perbedaan dengan ilmu psikologi?

Namun NLP juga menganut paham pikiran dan tubuh sebagai satu kesatuan yg systemic. Saya memilih untuk tidak memperbandingkan keduanya. Sebagian kaum ortodoks psikologi menganggap NLP itu bukan psikologi.

erni-dlm2Jadi intinya NLP adalah tentang cara memberdayakan orang lewat pembangunan mindset dan mental sehat? Apakah demikian?

Betul. Satu hal adalah akar NLP berasal dari modeling psikiater hebat.

Bisa Anda jelaskan lewat contoh kasus yang pernah Anda tangani? Bagaimana mempraktikkan NLP?

Apakah saat ini Anda merasa ada sesuatu yang kurang dalam hidup Anda?

Yang kurang menurut saya itu sekarang ini pikiran tentang masa depan, setelah lulus kuliah meski sudah membuat rencana untuk ke depan masih ada perasaan was-was?

Ok. Apa yang Anda was-waskan? Apakah karena belum tahu apa yang diinginkan?

Sudah tahu apa yang diinginkan namun karena belum dijalani jadi was-was?

Daripada was-was mendingan fokus pada apa yg diinginkan. Outcome thinking. Jika Anda fokus pada kekhawatiran Anda ragu-ragu terus. Tapi kalau fokus pada outcome maka langkah Anda pasti. Dalam NLP ini disebut outcome thinking approached.

Yang dimaksud outcome ini apakah cita-cita saya atau tujuan yang ingin saya raih? Apakah pertanyaan ini menjawab soal contoh kasus NLP? Saya jadi contohnya ya?

Ya, Anda contohnya sekalian praktek. Mudahnya menjelaskan outcome adalah begini.

Saya konsultasi gratis ini ceritanya?

Yes. Anda sedang haus, apa yang Anda inginkan?

Saya akan mencari minum!

Betul. Mencari minum adalah rencana, cita-cita atau goal Anda saat ini, pertanyaan berikutnya.

Lalu bagaimana menyingkirkan ragu-ragu dan fokus pada tujuan? Karena terkadang meski sudah mengetahui kita tidak usah ragu-ragu sulit untuk berpikir positif?

Saat ini Anda belum memulai kegiatan mencari minum, tapi Anda sudah nyusun rencana, bisakah Anda membayangkan apa rasanya ketika Anda meneguk segelas air nanti?

Iya bisa…

Tolong jawab dulu bisakan membayangkan bagaimana rasanya setelah minum? Bisakah melihat dengan mata mental diri Anda setelah mendapatkan minuman? Bisakan mendengar komentar atau diri sendiri mengatakan sekarang aku lega?

erni-dlm3Iya, saya akan merasa lega, segar, dan tidak kehausan setelah minum…

Ok. Begitu pula goal atau cita-cita Anda saat ini. Tutuplah mata sejenak, lihat apa yg Anda lihat, dengar apa yang Anda dengar dan rasakan apa yang Anda rasakan SAAT INI seakan-akan Anda telah mencapai goal Anda. Itu salah satu teknik NLP outcome setting. Anda mengirimkan sinyal ke alam pikiran sub consciousness.

Ok. Sekarang saya ingin bertanya, bagaimana awal perkenalan Anda dengan NLP?

Tahun 2005 saya telah mencapai cita-cita saya yang dirancang 1986, jadi saya mulai berpikir untuk melakukan sesuatu yang beda dan berguna bagi diri dan orang banyak, saya search di dunia maya dan menemukan NLP. Lalu saya kebetulan melihat workshop NLP Pak Wiwoho, lalu saya ikut. Setelah itu saya memperdalam terus sebab merasakan manfaat. Saya lebih bahagia. Berdaya. Komunikasi dalam keluarga dan kantor membaik. Sehingga tiga tahun kemudian (2008) saya memutuskan meninggalkan dunia kerja dan total mengajar atau mengembangkan NLP. Pengalaman hidup dan kerja yang variatif mendukung kecepatan saya. Teknik NLP membantu saya meningkatkan diri dalam hal training, latihan mental bisa 1000 jam meskipun saya baru memberikan training 100 jam pada awalnya. Anda dapat membandingkan jawaban saya dengan buku yang saya tulis.

Sebelumnya bekerja di bidang apa?

Background akademi saya akuntansi dan management keuangan. Saya bekerja di berbagai bidang yang berbeda sejak 1986 hingga 2008. Terakhir saya bekerja sebagai Commercial Director di sebuah perusahaan asing multinasional di Jawa Timur.

Sekarang total bekerja di bidang NLP?

Dapatkan pula jawaban di buku saya dong. Total. Sebenarnya bukan bekerja di bidang NLP. NLP tuh bukan bidang pekerjaan, tapi saya men-training, menulis, coaching, dan business consultan yang memadukan NLP dengan ketrampilan-ketrampilan lainnya.

Apakah ada jenjang pendidikan khusus yang harus ditempuh untuk memperdalam ilmu NLP?

Ya, mulai NLP Practitioner, Master Practitioner, Trainer & consultancy, dan terakhir Master Trainer.

Lalu, pengalaman apa yang paling mengesankan setelah terjun sebagai praktisi NLP?

Melihat orang lain menemukan kepercayaan diri bahwa setiap diri kita pantas untuk mencapai kesuksesan sebesar-besar yang diinginkannya. Dan saya boleh jadi papan penunjuk jalan buat orang-orang itu Dan saya tak pernah lagi khawatir akan masa depan saya sendiri.

Menjadi berkah bagi orang lain?

Mudah-mudahan. Tuhan menggunakan saya untuk memberdayakan orang lain. Sementara ini saya hanya tahu melakukan pekerjaan saya sebaik-baiknya.

Amin. Pernahkah Anda mengalami hambatan ketika melakukan training NLP pada klien?

Syukurlah belum.

Apa yang Anda rencanakan di masa mendatang setelah pencapaian selama ini?

Setelah ini saya ingin menjadi pengembang NLP karena NLP akan terus berkembang. Terus menulis buku. Kalau diberi umur panjang 100 buku. Memasukkan NLP ke dalam kurikulum kuliah. Menulis buku fiksi.

Selain bidang pengembangan NLP, apakah ada bidang lain yang ditekuni?

Investasi dan perkebunan. Mendirikan rumah jompo dengan fasilitas hotel bintang lima.

erni-dlm4Luar biasa! Biasanya kalaupun ada yang ingin mendirikan panti jompo tidak ada embel-embel bintang limanya….?

Harus beda. Rumah jompo bukan tempat membuang orang tua tapi tempat menikmati masa pensiun.

Menurut Anda bagaimana perkembangan NLP di Indonesia saat ini? Apakah sudah diterima dengan baik oleh masyarakat?

Satu kata: kacau.

Maksudnya Anda?

Biasalah masih banyak yang belum benar-benar paham apa itu NLP dan memang tidak dan barangkali tak perlu adanya standar.

Kalau tidak ada standarisasi apakah tidak akan semakin kacau?

Seperti sms yang baru saya terima mama minta belikan dulu pulsa.. (penipuan lewat sms-red.) masyarakat tetap perlu teliti memilih trainer yang kompeten untuk belajar NLP. Saat ini saya hanya bisa mengajarkan satu hal belajar NLP bermutu tak perlu mahal. Saya yakin akan terseleksi sendiri nantinya dan yang tidak bermutu akan terpinggirkan.

Ok. Di Indonesia sendiri apakah ada himpunan untuk praktisi NLP guna meminimalkan kekacauan itu? Seperti himpunan psikologi untuk bidang psikologi?

Karena dasarnya NLP itu public domain yang boleh dimanfaatkan siapapun dan tidak ada resiko mempraktekkannya maka buat apa? Selama 35 tahun sejak diciptakan pertengahan tahun 70 belum ada yang gila mempraktekkan NLP, kalau yang sukses banyak. Kalaupun ada saya tak akan bergabung. Kalau komunitas okelah.

Terima kasih, senang bisa bincang-bincang dengan Anda.

Iya sama-sama.[sn]


VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Strategi Mengurangi Beban Pajak Secara Sah

arles-oposungguOleh: Arles Ompusunggu

‘’In this world nothing can be said to be certain except death and tax.’’

~ Benjamin Franklin

Semua orang menyadari bahwa mati dan pajak adalah dua hal yang tidak terlelakkan. Secara mutlak bahwa kematian tidak mungkin ditunda karena setiap insan manusia pasti mati, tetapi kewajiban pajak walaupun pasti terjadi namun bisa dihindari melalui strategi perencanaan pajak yang tidak melanggar ketentuan Undang-Undang Perpajakan.

Pertanyaan yang menggelitik adalah apakah ada cara atau mekanisme untuk menghindari pajak menjadi zero tax payment? Beberapa strategi yang perlu diketahui oleh wajib pajak (WP) yang dapat digunakan sebagai alat perencanaan pajak untuk menghemat beban pajak di akhir tahun. Penulis merefleksikan pada artikel Stephen Fishman dengan judul ”Seven steps to lower your taxes” dengan kondisi yang berlaku di Indonesia sebagai berikut.

Satu, upayakan mendapatkan penghasilan yang bebas pajak. Perlu diketahui bahwa klasifikasi penghasilan menurut UU No. 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan (PPh) pada dasarnya mendefinisikan penghasilan ke dalam tiga kelompok yaitu, (1) penghasilan yang merupakan objek pajak (pasal 4 ayat 1); (2) penghasilan yang dikenakan tarif final (pasal 4 ayat2), dan (3) penghasilan yang bukan objek pajak (pasal 4 ayat 3). Nah bisa saja penghasilan yang kita peroleh selama setahun dikelompokkan dalam penghasilan bebas pajak. Banyak cara untuk mendapatkan penghasilan yang bukan merupakan objek pajak atau merupakan penghasilan yang telah dikenakan secara final sehingga tidak perlu dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) PPh akhir tahun. Misalnya dengan menjual aset yang berasal dari hibah orang tua kemudian hasilnya didepositokan maka akan terhindar dari pengenaan pajak penghasilan di akhir tahun.

Kedua, ambil keuntungan adanya kredit pajak selama tahun berjalan. Melalui pengakuan kredit pajak yang telah dibayar sendiri (angsuran tahun berjalan) maupun yang dipotong (dipungut) pihak ketiga maka akan tercapai pembebanan pajak yang seefisien mungkin. Pengertian kredit pajak adalah pajak yang dibayar di muka kepada negara yang dipotong atau dipungut pihak lain dari penghasilan yang diterima. Pajak ini dikenal dengan nama witholding tax dan pajak yang dibayar di muka. Dalam hal ini sebenarnya masyarakat pembayar pajak diwajibkan terlebih dahulu melunasi angsuran pajak dan pajak atas pemotongan serta pemungutan.

Jadi, negara sebenarnya belum berhak mengklaim penerimaan atas pajak-pajak dibayar di muka hingga perhitungan final oleh wajib pajak melalui mekanisme pelaporan SPT di akhir tahun. Kecuali atas pajak-pajak yang dikenakan tarif final seperti penghasilan dari transaksi saham dibursa efek, bunga deposito, penghasilan dari transaksi jual beli tanah dan bangunan, penghasilan dari persewaan harta tanah atau bangunan, dan transaksi pemajakan atas penghasilan tertentu yang ditetapkan pemajakannya dengan Peraturan Pemerintah.

Sering terjadi tanpa disadari bahwa pajak yang dibayar di muka sebenarnya bisa menutupi perhitungan pajak terutang tetapi karena ketidaktahuan atau ketelodoran wajib pajak sehingga bukti pembayaran pajak tersebut gagal untuk dikreditkan. Penyebabnya seperti bukti potong dari penerima jasa atau yang membayarkan tidak ada, cacat, atau hilang sehingga merugikan wajib pajak sendiri.

Ketiga, tunda (tangguhkan) pembayaran pajak terutang tanpa dikenakan sanksi administrasi (penalti) oleh kantor pajak. Menunda pembayaran pajak hingga batas akhir masa pembayaran merupakan fasilitas pinjaman kredit tanpa bunga dari pemerintah. Sebagaimana diketahui pembayaran pajak terdiri atas pembayaran masa dan pembayaran akhir tahun. Setiap bulan setoran masa yang wajib dibayarkan sendiri merupakan angsuran PPh, pasal 25 wajib dibayar paling lambat tanggal 15 setiap bulan. Sedangkan sisa pajak kurang bayar hasil perhitungan final berdasarkan self assesment yang dilakukan oleh wajib pajak harus disetor paling lambat akhir bulan Maret tahun berikutnya untuk PPh kurang bayar orang pribadi dan akhir April tahun berikutnya bagi setoran akhir PPh Badan. Sesuai konsep nilai waktu dari uang maka kesempatan penghematan dari penundaan pembayaran pajak hingga last minute merupakan peluang yang sah menurut undang-undang.

Keempat, maksimisasi tax deduction. Semakin besar pengurang atau biaya usaha maka akan semakin kecil beban pajak terutang. Komposisi biaya yang bisa mengurangi penghasilan kena pajak bergantung kepada jenis dan sumber penghasilan yang diperoleh wajib pajak. Bagi pekerja yang semata-mata hanya memperoleh penghasilan dari pemberi kerja maka maksimisasi pengurang pajak dilakukan dengan menerapkan Penghasilan Tidak Kena Pajak dan Biaya Jabatan yang besarnya masing-masing 15.840.000 rupiah (diri sendiri, tidak kawin) dan 6 juta rupiah setahun. Sedangkan bagi wajib pajak yang memiliki usaha atau pekerjaan bebas maka jumlah biaya yang dapat mengurangi penghasilan neto sangat fleksibel bergantung pada jenis usaha dan pelaksanaan kewajiban pembukuan dan pencatatan akuntansi.

Orang pribadi yang mempunyai usaha dapat memilih menggunakan pembukuan atau tidak dengan batas treshold omset setahun yang diatur dalam pasal 14 ayat 2 UU No. 36 Th 2008 sebesar 4,8 milar rupiah. Jika tidak menggunakan metode pembukuan maka pengenaan pajak secara deem profit atau norma penghitungan. Artinya berapapun omset akan dikenakan penghasilan neto berdasarkan persentasi tertentu berdasarkan Klasifikasi Lapangan Usaha (KLU) yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak. Sebagai contoh, pedagang eceran barang kelontong di Jakarta dengan omset setahun 2 miliar rupiah maka penghasilan neto KLU 62200 berdasarkan Keputusan Dirjen Pajak Nomor 536/PJ/2000 tanggal 29 Desember 2000 adalah 30% atau sebesar 600 juta rupiah. Yang menjadi dasar pengenaan PPh tarif berlapis pasal 17. Bandingkan apabila wajib pajak yang bersangkutan menyelenggarakan pembukuan akan bisa membebankan segala tetek bengek biaya usaha sehingga penghasilan neto tidak sebesar jika menggunakan norma penghitungan.

Kelima, usahakan untuk mendapat pengurangan lapisan tarif pajak PPh pasal 17. Pengurangan lapisan tarif pajak tertinggi dapat dicapai melalui penggeseran penghasilan kena pajak (pasal 4 ayat 1 UU PPh) menjadi penghasilan yang dikenakan tarif final (pasal 4 ayat 2 UU PPh) seperti saham, deposito, dividen (khusus yang diterima perseorangan), real estate, dan penghasilan yang bukan objek pajak (pasal 4 ayat 3 UU PPh) seperti hibah serta sumbangan. Konteks pengurangan pajak ini hanya relevan untuk penghasilan yang diperoleh wajib pajak orang pribadi sedangkan untuk wajib pajak badan sejak tahun pajak 2009 telah dikenakan single tarif sebesar 28% dan mulai tahun pajak 2010 akan turun menjadi 25%.

Keenam, usahakan untuk dapat menggeser beban pajak ke pihak lain (tax shifting to others). Apabila penghasilan Anda sudah terkena lapisan tarif pajak penghasilan yang tertinggi misalnya tarif 30% maka secara substansi beban pajak terutang dapat digeser. Ke pihak terkait yang masih berada dalam lapisan tarif pajak yang lebih rendah seperti memberikan hibah kepada anak Anda. Namun dalam hal ini yang mendapat pembebasan pajak adalah si penerima hibah. Sedangkan bagi si pemberi tetap merupakan penghasilan yang dikenakan pajak pada saat pertama kali memperolehnya.

Ketujuh, ambil keuntungan dari status SPT dan pengecualian pajak (tax exemption). Berbagai pengecualian yang dapat mengurangi beban pajak dapat disiasati apabila kita jeli mengelola penghasilan yang merupakan objek pajak dan bagian mana yang dapat menjadi pengecualian pajak. Tentu tidak mudah untuk merealisasikan dan mengarahkan secara awam tanpa direkomendasikan oleh perencana pajak yang handal. Namun yang perlu disikapi adalah bahwa UU Pajak Penghasilan memberikan ruang yang cukup lebar kepada masyarakat untuk menghindar dari pajak. Seperti contoh apabila perseorangan membentuk usaha partnership maka atas penghasilan yang dibagikan kepada masing-masing partner sesuai pasal 4 ayat 3 huruf i UU No. 36 Tahun 2008 bukan penghasilan yang dikenakan pajak penghasilan sehingga menjadi bebas pajak secara sah menurut Undang-Undang Pajak. Selamat mencoba dan sukses untuk pembaca yang budiman.[ao]

* Arles Omposunggu adalah praktisi perpajakan.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 6.8/10 (5 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya Oleh: Don Gabor Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009 ISBN: 978-979-22-5073-2 Tebal: xviii + 380 hal Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas! Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox