Jangan Pernah Merasa Pensiun

gg1Oleh: Gagan Gartika*

“Pensiun sering menakutkan bagi seseorang sehingga untuk menghilangkan ketakutan tersebut kita perlu aktivitas lain agar jangan pernah merasa pensiun.

~ Gagan Gartika

Usia pensiun pegawai pemerintah rencananya akan dinaikkan dari batas usia 55 tahun menjadi 58 tahun. Bagi mereka yang usianya mendekati pensiun, mendengar berita itu pasti banyak yang bergembira. “Lumayan, waktu bekerja tambah tiga tahun. Dari pada di rumah mendingan tetap bekerja. Selain dapur tetap ngebul, waktu tak terbuang. Dan, kalau hanya di rumah saja bisa cepat tua,” ucap mereka yang mendukung.

Aneh memang, ketika bekerja dan banyak kegiatan raut wajah terlihat ceria. Tetapi, menjelang pensiun wajah mulai berkerut, terlihat kusam, mata mulai menerawang—melamunkan pekerjaan setelah pensiun. Kondisi ini banyak dirasakan khususnya oleh mereka calon pensiunan pegawai negeri.

Untuk itu, agar terhindar dari cepat keriput, kusam, lunglai, dan tak berkegiatan, sebaiknya Anda jangan pernah merasa pensiun. Meskipun telah berhenti bekerja usahakan tetap memiliki kegiatan lain. Agar pikiran bisa bergerak terus dan berkegiatan—apalagi Anda telah berpengalaman bekerjasumbangkan saja pengalaman itu pada generasi berikut atau untuk perusahaan yang perlu bantuan.

Hal ini banyak dilakukan sekalipun oleh para mantan Presiden Amerika Serikat. Mereka tak pernah mau diam dan malah bergerak terus dalam bidang sosial. Mereka membuat organisasi dermawan yang membantu masyarakat miskin atau membantu mereka yang terkena penyakit yang sulit disembuhkan. Sehingga, hidup mereka selalu diisi dengan berbagai kegiatan dan tak pernah merasa pensiun. Mereka tetap memelihara jaringannya dan masih bisa berbaur dengan sesama teman dan itu membuat umur mereka lebih panjang.

Di luar pegawai negeri atau pada perusahaan swasta, meskipun pegawainya telah masuk usia pensiun tetapi masih banyak dari mereka yang memilih tetap berkarya. Bahkan, seperti bekerja seumur hidup alias tak merasa pensiun sehingga banyak dari mereka malah masih kuat, tak kalah dari yang muda.

Juga bagi mereka yang punya banyak kegiatan di luar selain sebagai pegawai negeri biasanya juga lebih sering memilih cepat pensiun. Karena, waktu mereka lebih sering dialihkan untuk kegiatan mandiri dan menciptakan pekerjaan bagi orang lain. Atau, mereka lebih bisa memerhatikan dirinya sendiri dibanding saat harus terus mengabdi pada pekerjaan pemerintah.

Memang masing-masing orang memiliki alasan sendiri dan tergantung dari mana mereka memandang saat memilih pensiun. Bagi yang tak ada pekerjaan lagi, orang lebih nyaman melanjutkan pekerjaannya. Sementara bagi yang berkegiatan di luar, pasti mereka lebih senang mengambil pensiun muda.

Mereka yang cepat pensiun bisa saja waktunya digunakan untuk berwiraswasta atau mengajar. Pengalaman telah ada, jaringan juga luas, teman banyak—tinggal memaksimalkan jaringan dan temannya tersebut. Lebih istimewanya, waktu dan bekal pensiun sudah ada sehingga itu jadi modal dalam berkarier selanjutnya. Ini beda dibandingkan dengan mereka yang dari nol dan tak ada kekuatan ketika harus berjuang mendirikan perusahaan.

Namun, meskipun telah berpengalaman, ternyata masih banyak di antara mereka yang ketika terjun berbisnis malah tidak berhasil. Mungkin karena sebelumnya terbiasa menjadi orang gajian, sementara dalam wiraswasta harus mampu menggaji diri sendiri. Inilah yang membuat mereka belum terbiasa; ke mana-mana dengan ongkos sendiri, mulai modal, penyediaan tempat, peralatan, membayar karyawan dll. Terkadang setelah berinvestasi pengembaliannya tak kunjung tiba sehingga modal dan investasi bisa melayang. Kadang bila bekerjasama, ketika partner-nya enggak cocok, malah bisa tertipu. Inilah tantangan dalam berusaha.

Maka dari itu, mindset pegawai negeri perlu segera diubah menjadi mindset sebagai pelaku usaha. Biasa enak lalu harus berubah menjadi apa adanya. Biasa santai, mesti berubah menjadi berjuang keras. Biasa ada petunjuk berubah jadi mencari petunjuk, mencari terobosan-terobosan baru. Biasa dapat makan, sekarang harus siap berubah menjadi pemberi makan. Pokoknya serba mandiri. Kalau enggak mandiri tak ada penghasilan dan tak ada makan kita menjadi terbiasa berpikir, berelasi, bertemu orang, melalui berbagai media atau komunitas serta organisasi yang banyak bertebaran. Ujungnya, suatu saat kita bertemu keberhasilan yang menjadikan hidup kita tetap berseri dan tak pernah merasa pensiun.

Setidaknya ini yang dilakukan teman saya. Sebelumnya ia bekerja di bagian hukum dan perizinan perusahaan BUMN. Begitu pensiun, ia tak mau menganggur. Makanya, ia memasuki sebuah organisasi pengusaha di bisnis tranportasi dan pergudangan. Ternyata, keahliannya banyak diperlukan oleh para pengusaha. Akhirnya, sekarang ia menjadi bagian personalia dan perizinan, menimati kegiatan baru pada perusahaan swasta. Pengalaman kerjanya bisa diaplikasikan pada perusahaan tersebut.

Pada saat yang sama para pensiun lainnya masih banyak yang merenungi nasibnya. Mereka meraba-raba mencari tahu jalan baru dalam mengisi kehidupannya. “Kenapa saya bangkrut terus saat mendirikan usaha? Bahkan selalu tertipu Jadi, bagaimana ya cara berusaha yang benar?” tanya seorang pensiunan kepada saya.

Setelah saya selidiki, ternyata penyakitnya adalah ia mendirikan usaha yang bukan berdasar keahliannya sehingga uang pensiunnya habis. Dan jalan keluarnya, sebaiknya ia bekerja sesuai keahlian karena keahlian bisa mendukung kelancaran dalam berusaha. Selain itu, ia tidak perlu banyak belajar lagi. Jadi tinggal menyesuaikan ritme dan model berusaha. Dengan demikian waktu tidak terbuang percuma.

Selanjutnya, ketika telah berhasil dalam berbisnis, kita akan mengetahui bahwa perputaran uang yang lebih menguntungkan adalah dari pendirian perusahaan. Hasilnya bisa berlipat jauh dibanding dengan uang yang ditaruh dalam instrumen investasi lainnya, baik deposito, reksadana, atau lembaran saham yang risikonya juga tinggi.

Kini apa pun bidangnya yang Anda pilih dalam bekerja, yang paling penting Anda memiliki aktivitas sehingga Anda tak merasa tua lagi serta masih terus berpenghasilan. Janganlah Anda merasa pensiun, tetapi tetap bergerak terus. Antara lain, terus bersilaturahmi dengan teman kantor, menginventarisir teman lama, teman baru, dan masuk organisasi. Jangan lupa untuk tetap bergerak sesuai keahlian agar Anda bisa dihargai dan banyak yang membutuhkan. Anda tak akan pernah merasa kesepian, apalagi harus meratapi kesedihan dan ketakutan karena telah kehilangan kebanggaan dalam bekerja. Dan sekarang, bangkitlah dan janganlah merasa pensiun. Dngan banyak bersilturahmi dan ikut masuk komunitas baru maka kemajuan akab tetap dalam genggaman Anda.[gg]

* Gagan Gartika adalah Praktisi Silaturahmi Marketing (Simark), Pengusaha di bidang Forwarding, Transportasi dan Pengurusan Jasa Kepabeanan pada PT. Kumaitu Cargo dan PT. Penata Logistic. Ia pemilik Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Bisnis (LPPB) Sinergi Indonesia. Pendidikan terakhir, S2 Manajemen dari Ibii. Selain itu pada dibidang pengajaran, mengabdi menjadi Dosen Sekolah Tinggi Manajemen Transpor Trisakti, Jakarta. Email: gagan@kumaitucargo.co.id atau website: www.silaturahmimarketing.com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (4 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

Terapi Energi 5 Elemen: Yin, Yang, dan Keseimbangan Hormon pada Pria dan Wanita

ahgOleh: Aleysius H. Gondosari*

Wei Tsuei, seorang Master Traditional Chinese Medicine, menjelaskan dalam bukunya Roots of Chinese Culture & Medicine mengenai keseimbangan hormon dalam filsafat Yin dan Yang. Yin dan Yang merupakan simbol keseimbangan energi. Di dalam energi Yin terdapat benih Yang, dan di dalam energi Yang terdapat benih Yin.

Hormon Estrogen (Estradiol), Androgen (Testosteron), dan Indeks Keseimbangan:

Kita beranggapan bahwa hormon estrogen hanya dibutuhkan oleh wanita, dan hormon androgen hanya dibutuhkan oleh pria. Tetapi dari penelitian medis, diperoleh hasil bahwa baik wanita maupun pria membutuhkan kedua-duanya. Untuk mengukur keseimbangan energi hormon pada pria dan wanita, saya akan menggunakan Indeks Keseimbangan.

Wanita membutuhkan hormon estrogen sebanyak 0,07 – 0,17 mg/dl (tergantung pada fase siklus menstruasi), dan androgen sebanyak 0,5 mg/dl. Dengan kondisi ini, diperoleh nilai Indeks Keseimbangan hormon sebesar +50% untuk wanita.

Pria membutuhkan hormon estrogen sebanyak 0,024 mg/dl, dan androgen sebanyak 6,5 mg/dl. Dengan kondisi ini, diperoleh nilai Indeks Keseimbangan sebesar +50% untuk pria.

Sulit Hamil dan Menopause pada Wanita:

Wanita akan sulit hamil bila Indeks Keseimbangan hormon kurang dari +20%. Jadi bila ingin hamil, sebaiknya keseimbangan hormon ditingkatkan di atas +20%, dengan mengonsumsi makanan sehat yang sesuai.

Ketika menikah, istri saya belum bisa hamil, karena saat itu Indeks Keseimbangan hormonnya hanya +5%. Tetapi setelah mengonsumsi obat dan makanan yang cocok, Indeks Keseimbangan hormonnya naik mencapai +20%.

Ketika Indeks Keseimbangan hormon kurang dari +5%, wanita akan memasuki masa menopause. Menopause biasa terjadi pada usia 55 tahun, tetapi bisa saja terjadi pada usia di bawah itu. Untuk memperlambat menopause, sebaiknya keseimbangan hormon ditingkatkan pada kondisi minimal +10%, dengan mengonsumsi makanan sehat yang sesuai.

Makanan Sehat untuk Menjaga Keseimbangan Hormon pada Wanita:

Hormon sex terletak pada elemen kedua Air. Jadi hormon ini terutama membutuhkan makanan sehat elemen Air. Beberapa makanan sehat yang dapat menjaga Indeks Keseimbangan Hormon pada wanita adalah:

· Tempe segar: mempunyai Indeks Keseimbangan energi hormon untuk wanita = +20%. Indeks Manfaat = +20.

· Pepaya segar: Indeks Keseimbangan hormon = +30%. Indeks Manfaat = +5.

· Jambu biji: Indeks Keseimbangan hormon = +30%. Indeks Manfaat = +5.

· Air kelapa tua: Indeks Keseimbangan hormon = +40%. Indeks Manfaat = +30.

· Tomat: Indeks Keseimbangan hormon = +20%. Indeks Manfaat = +10.

· Semangka – daging buah yang merah dan putih dimakan bersama: Indeks Keseimbangan hormon = +30%, bagian daging buah yang merah saja: Indeks Keseimbangan hormon = 0%, bagian daging buah yang putih saja: Indeks Keseimbangan hormon = 0%. Jadi semangka harus dimakan bagian merah dan putih bersama-sama. Indeks Manfaat = +10.

· Terong: Indeks Keseimbangan hormon = +20%. Indeks Manfaat = +10.

· Daun katuk = +30%. Indeks Manfaat = +10.

· Daun pepaya = 0%.

· Apel hijau atau merah = +2%.

· Pir = +2%.

· Pisang = +2%.

· Nenas = +5%.

Tempe segar merupakan makanan sehat 4 elemen, mulai dari elemen kelima Eter, elemen keempat Udara, elemen ketiga Api, dan elemen kedua Air. Jadi, tempe juga bermanfaat untuk menjaga keseimbangan hormon sex. Menurut penelitian kesehatan, tempe segar memang mengandung hormon estrogen.

Daun pepaya, apel hijau, apel merah, pir, pisang, dan nenas kurang bermanfaat untuk keseimbangan hormon, tetapi makanan sehat ini tetap bermanfaat untuk fungsi kesehatan lainnya.

Makanan Sehat untuk Menjaga Keseimbangan Hormon pada Pria:

· Tempe segar: mempunyai Indeks Keseimbangan energi hormon untuk pria = +20%. Indeks Manfaat = +10.

· Pepaya segar: Indeks Keseimbangan hormon = +30%. Indeks Manfaat = +10.

· Jambu biji: Indeks Keseimbangan hormon = +20%. Indeks Manfaat = +5.

· Air kelapa tua: Indeks Keseimbangan hormon = +10%. Indeks Manfaat = +20.

· Tomat: Indeks Keseimbangan hormon = +30%. Indeks Manfaat = +5.

· Semangka – daging buah yang merah dan putih dimakan bersama: Indeks Keseimbangan hormon = +40%, bagian daging buah yang merah saja: Indeks Keseimbangan hormon = 0%, bagian daging buah yang putih saja: Indeks Keseimbangan hormon = 0%. Jadi semangka harus dimakan bagian merah dan putih bersama-sama. Indeks Manfaat = +10.

· Terong: Indeks Keseimbangan hormon = +20%. Indeks Manfaat = +10.

· Daun katuk = +0%.

· Daun pepaya = +20%. Indeks Manfaat = +10.

· Apel hijau atau merah = 0%.

· Pir = 0%.

· Pisang = +5%.

· Nenas = +0%.

Terlihat ada sedikit perbedaan pada beberapa jenis makanan untuk menjaga keseimbangan hormon pada wanita dan pria. Tetapi secara umum, makanan yang bermanfaat untuk wanita, juga bermanfaat untuk pria. Hal ini disebabkan oleh adanya konsep keseimbangan energi Yin dan Yang.

Buah-buahan Banyak Biji dan Buah-buahan Hasil Rekayasa Genetika Tanpa Biji:

Buah-buahan yang banyak bijinya umumnya bermanfaat untuk pria dan wanita. Jadi, berhati-hatilah bila ingin mengonsumsi makanan hasil rekayasa genetika yang sudah tidak berbiji, misalnya pepaya dan semangka tanpa biji. Menurut analisis Energi 5 Elemen, Indeks Keseimbangan hormon pada buah-buahan yang sudah tidak berbiji ini bernilai 0% sampai -3%. Jadi, buah-buahan ini bisa mengganggu keseimbangan hormon. Sebaiknya tetap mengonsumsi makanan alami yang masih banyak bijinya.

Salam Sehat Bahagia![ahg]

* Aleysius H. Gondosari adalah alumnus ITB tahun 1984, trainer bidang organisasi dan manajemen, penggemar fotografi, praktisi kesehatan alami, dan sedang menyelesaikan buku tentang sehat secara alami dengan Terapi Energi 5 Elemen “The Secret of 5 Elements: Terapi Sehat Bahagia yang Murah dan Praktis“, yang juga dapat dilihat di www.5elemen.com. Aley tinggal di Jakarta dan dapat dihubungi melalui email: aleysiush[at]gmail[dot]com atau di nomor telepon: 0818116669.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 6.8/10 (8 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +5 (from 5 votes)

Underestimate, Over Estimate, Cover Up

adOleh: Alexandra Dewi*

Istilah jaim (jaga image) sudah menjadi istilah pembicaraan sehari-hari. Kita semuakalau mau jujurpastinya cukup sering melihat orang melakukan pekerjaan jaim tersebut, dan pada saat yang sama juga melakukan aktivitas jaim di kehidupan kita sehari-hari. Contohnya, saya tidak mungkin tertawa terbahak-bahak selepas ketika saya sedang tertawa di depan teman-teman dekat saya sendiri. Saya tak mungkin tertawa terbahak-bahak ketika, misalnya, saya sedang berada di depan kumpulan group ibu-ibu orang tua murid di sekolah anak saya, di mana saya tidak kenal dengan mereka. Dan, saya sangat tidak berharap ada kesan bahwa Mamanya si Jessie (nama anak saya) tidak bisa menjaga sikap, urakan, agak enggak beres, atau ketiga kesan itu kumpul menjadi satu.

Saya yakin, kita semua ada cerita sendiri-sendiri mengenai kapan dan mengapa aktivitas jaim ini kita lakukan. Namun kalau mau jujur, sebenarnya jaim itu adalah suatu aktivitas yang lumayan meletihkan. At least bagi saya. Capek deh kalau setiap saat harus jaim. Dan lagian, ternyata apa yang menurut kita sudah jaim belum tentu di pandangan orang lain yang melihatnya sudah seperti itu.

Contoh, suatu ketika saya pernah di-interview oleh wartawan sebuah majalah traveling. Mungkin, karena saya dianggap cukup sering traveling. Namanya interview, bohong-benar kalau on some level kita yang sedang di-interview tidak melakukan aktivitas jaim. Namun, terserah Anda mau percaya apa tidak, ada masa-masa di kehidupan kitamungkin dengan bertambah usia kita lama-lama tidak sadar sedang jaim atau memang itulah kita apa adanya.

Ketika copy majalah sampai di rumah, yang melakukan interview menulis mengenai  saya bahwa baginya kualitas terbesar saya adalah ‘her humble sincerity’. Anehnya, banyak orang bilang kalau enggak kenal saya beneran kelihatannya saya ini orangnya sombong. Jadi, Anda bisa bayangkan kalau kita harus jaim terus-menerus memikirkan apa pendapat orang mengenai diri kita. Betapa letihnya kita dan belum tentu juga ngefek. Sebab, kalau orang sudah ada pendapat tersendiri mengenai kita, rasanya akan cukup sulit mengubah image tersebut.

Anyway, tak lama kemudian wartawan yang begitu baiknya menyebut saya memiliki kualitas sebagai manusia yang humble (rendah hati) dan sincere (tulus) itu menghubungi saya. Dia bertanya apakah saya bersedia menjadi kontributor di  majalah tersebut. Saya jawab saya lihat dulu tulisan seperti apa yang dibutuhkan, dan beliau menjawab akan mengirim e-mail mengenai hal itu. Ketika e-mail saya buka, singkat kata wartawan tadi benar-benar over-estimate kemampuan saya, baik dari sisi menulis dalam bahasa asing maupun pengetahuan saya mengenai traveling. Sedangkan saya sendiri under-estimate pengetahuan sebagian orang mengenai apa yang mereka ketahui. Dan, pada saat yang sama over-estimate mengenai sebagian kelompok orang lagi mengenai apa yang mereka tahu.

Saya over-estimate bahwa kalau orang bisa menulis buku mengenai kesehatan, artinya dia pasti olahraga teratur tiga kali sehari. Saya over-estimate bahwa kalau orang memimpin suatu perusahaan pastinya dia serba tahu. Saya under-estimate bahwa orang yang baru lulus kuliah pasti tidak banyak tahu apa-apa. Ternyata tidak semuanya selalu seperti itu.

Saya pun akhirnya mencoba tetap humble dan sincere. Saya membalas e-mail wartawan itu dan berkata bahwa sepertinya kemampuan saya dalam hal ini sudah di-over-estimate. Saya belum sanggup menulis seperti contoh yang diberikan, namun saya bisa memberi beberapa tips lepasyang bila ada yang mau merangkumnya kembali dalam tulisan ke bahasa Inggrisminimal saya bersedia membantu, tulus tentunya.

Setelah kejadian itu saya berpikir, berapa kali saya over-estimate orang lain atau under-estimate dan mana yang lebih baik? Di-over-estimate atau di-under-estimate oleh orang lain? Well, jika orang lain over-estimate kita, artinya apa yang sebenarnya kita adalah KURANG dari apa yang dipikirkan orang, dan juga diharapkan dari orang itu. Sedangkan jika kita di-under-estimate oleh orang lain, artinya apa yang sebenarnya diri kita ini LEBIH dari apa yang orang pikir.

Maka dari itu kalau dipikir pikir lagi, walau dianggap remeh oleh orang lain, yang pasti lebih menyebalkan daripada dianggap  lebih dari apa adanya kita. At the end of the day, hanya kita yang tahu sesungguhnya kita itu seperti apa.

Sebagai penutup, ada kenalan saya yang cerita bahwa hobinya mengumpulkan mobil dan jam. Mungkin itu benar, mungkin itu jaim. Mungkin dengan ceritanya itu sebagian orang akan menganggap dia kaya raya, sebagian lagi akan menganggap dia suka pamer. Lalu, sebagian lagi mungkin hanya sirik, tapi lagi-lagi at the end of the day, hanya diri kita sendiri yang tahu, sebenar-benarnya dan sesungguh-sungguhnya kita itu siapa, bisa apa, dan tidak bisa apa. Dan, bila kita enggak suka dengan apa adanya kita itu, hanya kita juga yang tahu mesti diapakan dan apakah kita mau melakukannya.[ad]

* Alexandra Dewi adalah seorang eksekutif sebuah perusahaan pemasar suplemen makanan, penulis buku The Heart Inside the Heart, Queen of Heart, dan co-writer buku I Beg Your Prada. Dewi baru saja meluncurkan bukunya keempatnya tentang fashion yang ditulis bersama Fitria Yusuf berjudul Little Pink Book. Ia juga sedang menyiapkan buku-buku berikutnya. Dewi dapat dihubungi melalui pos-el: inthelalaland[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.4/10 (5 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 7 votes)

Kasih Sayang

lkkOleh: Lina Kartasasmita*

Seorang teman mengirim SMS kepada saya isinya: Lin, tulis mengenai hari kasih sayang untuk Valentine Day nih. Buat saya menulis itu harus dari hati. Tapi, bukan tidak mungkin untuk menulis tentang kasih sayang. Apalagi begitu hari Kasih Sayang sibuk dirayakan juga oleh generasi muda di Indonesia, di Facebook sudah banyak yang mengirimkan bunga dan coklat virtual. Ya, sepertinya tidak ada salahnya juga saya ikutan memberi tambahan sebuah tulisan.

Ketika orang menyatakan kasih sayang itu dengan bunga dan coklat. Saya terkesan dengan dua kenyataan akan kasih sayang yang saya lihat bersama teman-teman. Hari Sabtu itu, sebagai ketua panitia reuni saya mengumpulkan beberapa teman untuk mengunjungi guru-guru kami yang tidak dapat lagi hadir di reuni. Pertama adalah Pak Jon yang sudah hampir sepuluh tahun mengalami kelumpuhan akibat stroke. Kedua adalah Ibu Tjoan yang dulu cantik tapi sudah menderita parkinson selama bertahun-tahun. Apa yang menarik dari kunjungan saya itu adalah kasih sayang.

Pertama kali saya dan teman-teman mengunjungi rumah Pak Jon yang berada di sebuah gang, kami sangat-sangat terharu melihat beliau terbaring di tempat tidur dan tidak lagi dapat berbicara. Beliau adalah guru di Sekolah Menengah Pertama kami, beliau mengajar PMP (Pendidikan Moral Pancasila). Pak Jon, seorang yang gagah dan bersuara jernih itu, kini tak lagi dapat bercerita tentang toleransi umat beragama, tidak lagi bisa mengajarkan artinya kerukunan antarsuku bangsa.

Satu hal yang kami semua rasakan sesuatu yang luar biasa adalah penampilan Pak Jon. Walaupun terbaring di tempat tidur, beliau mengenakan pakaian yang bersih dan rapi. Kami mulai mengamati perilaku istrinya yang ternyata merawat dengan penuh kasih. Ketika sang istri mengelus wajah Pak Jon, tampaklah kasih yang luar biasa. Walaupun sang istri mengurus segalanya sendiri, luar biasa rumah mereka tampak sangat bersih. Senyum di wajah sang istri itu mengingatkan kami semua yang hadir saat itu, bahwa ada kasih luar biasa dari seorang istri.

Seorang teman berkomentar, ”Luar biasa, rumahnya bersih sekali dan Pak Jon dirawat dengan sangat baik. Banyak orang yang mengalami kelumpuhan, dan dirawat oleh perawat saja sering kali tempat tidurnya masih tercium bau tidak enak. Ini luar biasa! Kamar Pak Jon bersih sekali” Berarti sang istri telah merawatnya dengan sepenuh hati. Itu hanya bisa terjadi karena adanya kasih.

Perjalanan kami lanjutkan dengan mengunjungi guru kami yang cantik Ibu Tjoan. Beliau dulu adalah guru Sekolah Dasar kelas satu. Ibu Tjoan masih dapat bercanda dengan kami dan mengingat kami, tetapi penyakit parkinsonnya harus diatasi dengan obat terus-menerus. Suami Ibu Tjoan adalah seorang yang penuh kasih sayang, begitu setia menjaga sang istri dan merawatnya terus-menerus.

Kedua kunjungan kami hari itu membawa pesan yang sarat akan kasih sayang. Bahwa, kasih sayang itu tidak luntur karena waktu dan tidak aus karena penyakit. Ketika orang sibuk menyatakan kasih sayang di hari Kasih Sayang, ada banyak orang yang tidak menyatakan kasih dengan bunga dan coklat, tetapi memberikan pengabdian dengan merawat sang kekasih.

Karena itu ada tertulis: Kasih itu sabar, kasih itu murah hati, ia tidak cemburu, ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong … (I Kor 13:4)

Selamat hari Kasih Sayang semua. Nyatakanlah kasih bukan hanya dengan bunga dan coklat, tapi nyatakan kasih hari lepas hari tanpa jemu dengan memberikan diri kita sendiri. Semoga setiap hari kita sanggup merayakan kasih sayang kepada sesama kita.[lk]

* Lina Kartasasmita lahir di Jakarta 1966, lulusan sarjana akuntansi yang memilih menjadi guru dan ibu rumah tangga. Aktif di Toastmaster Club, suka menulis dan mencintai dunia pendidikan. Tulisan-tulisan Lina terdapat di www.wisdom-to-share.blogspot.com atau www.wisdom-to-share.blog.friendster.com. Saat ini Lina sedang menyelesaikan penyusunan buku motivasi-inspiratif perdananya. Pos-el: Lkartasasmita[at]hotmail[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 10.0/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +4 (from 4 votes)

Saya Sudah Siap Mati

sj11Oleh: Sri Julianti*

Kami mengenal Lius dan keluarganya kira-kira 18 tahun yang lalu. Lius didiagnosis menderita kanker paru-paru sejak setahun yang lalu setelah menderita batuk selama dua bulan. Saat kami berkunjung pertama kali setelah diberitahu istrinya tentang penyakitnya, Lius bilang, “Mana mungkin aku percaya aku kena kanker? Lha wong aku ini sehat-sehat saja. Bahkan, dua bulan sebelumnya dokter bilang cuman bronchitis, kok sekarang tiba-tiba jadi kanker?

”Sudah tanya second opinion?” tanya saya.

”Ya, saya rencana ke dokter lain. Mungkin diagnosisnya yang salah timpal Lius.

Lius sangat tegar menghadapi penyakitnya. Dia mencari semua informasi di internet tentang bagaimana mengatasi penyakitnya maupun hidup dengan penyakit kankernya. Mulai dengan jus sayuran organik setiap pagi hari, makan beras merah, tidak makan daging, olahraga teratur, tidak boleh stres, dll.

Suatu hari saya dan suami menerima kabar gembira dari Lius. “Kata dokter lain paru-paruku basah. Dokter memberikan obat-obat bronchitis, kata Lius.

Saya dan suami ikut gembira. Tetapi, saya mengingatkan suami saya, “Papaku dulu awalnya juga dapat keterangan begitu, tetapi akhirnya kanker juga!

Betul juga, selang beberapa minggu kemudian, kondisi Lius drop dan dia harus kembali ke dokter pertamanya. Akhirnya, dia menyerah untuk menjalani chemotherapy. Banyak teman dan sanak keluarganya yang bersimpati kepadanya dengan memberikan bantuan obat, pinjaman mobil, juga bantuan moril.  Tetapi di lain pihak ada juga yang mencari peluang. Banyak juga yang menawarkan pengobatan alternatif seperti TCM (Traditional Chinese Medicine) yang harganya selangit maupun food supplement.

Lha, sebetulnya aku sih lebih pasrah kepada obat dokter dan pola makan. Tetapi, orang-orang ini lho menawarkan obat yang selangit harganya dengan janji yang selangit pula. Kalau mereka jamin aku sembuh, aku sih pasti pakai. Tapi kalau tidak ada jaminan sembuh, buat apa? Mereka ini membuatku jadi bingung dan frustrasi. Aku ini kan sakit, kok mereka juga mencari peluang dari orang yang sudah menderita…?begitulah luapan perasaan Lius.

Itulah dunia….

Tidak hanya mencari informasi, Lius juga mengunjungi sesama penderita kanker dan berbicara dengan mereka. Ada yang berobat ke luar negeri dengan biaya yang tidak sedikityang tidak mungkin dilakukan Lius karena kondisi ekonominya. Awalnya Lius masih bisa menyetir mengantar anak dan istrinya ke mana-mana. Tetapi, pelan dan pasti dia mulai kehilangan tenaga dan menyerahkan kendali keluarga kepada istri dan anaknya.

Setiap menjalani chemoteraphy kondisinya pasti drop untuk beberapa hari. Dan pada saat mulai membaik, dia harus menjalani chemoteraphy lagi. Susahnya lagi, tidak ada hal yang pasti sampai kapan dia harus menjalani chemoteraphy ini. Setelah kira-kira 12 kali chemoteraphy, dia bertanya lagi ke dokter yang merawatnya. “Berapa kali lagi saya harus menjalani chemoteraphy ini, Dok?”

Dokternya menjawab, “Wah tidak tahu pasti Tergantung penyakitnya, bisa saja sampai puluhan kali lagi.

Saat itu juga Lius memutuskan berhenti menjalani chemoteraphy dan hanya minum obat batuk penahan sakit bila perlu dan food supplement. Lha, bagaimana toh, kalau aku di-chemoteraphy terus dan enggak tahu kapan selesainya , buat apa? Sudahlah sekarang aku pasrah, aku minum obat saja dan mengatur pola makanku. Aku ini tidak apa-apa mati…. Tetapi untuk menuju ke sana itu lho Aku juga kepikiran mereka ini lho….” kata Lius sedih sembari merujuk pada keluarganya.

Pernyataan “aku siap mati tetapi menuju ke sana itu lho seperti ini sering saya dengar dari para penderita kanker yang saya kunjungi.

Pagi hari ketika saya baru tiba di kantor kira-kira jam 08.30, ada SMS dari suami saya yang mem-forward SMS anaknya Lius yang memberitahukan ayahnya sudah meninggal jam 07.00 pagi. Saya langsung berdoa di dalam hati untuk arwah Lius dan juga keluarga yang ditinggalkan. Malam harinya kami berkunjung ke rumah duka yang ramai dikunjungi teman-teman dan sanak famili almarhum.

Maria istri almarhum kelihatan lebih tabah. Dia cerita, sebetulnya malam hari jam 20.00-an rekam jantungnya sudah datar. Lalu, dokter menyuntikkan obat dan rekam jantungnya positif lagi. “Dan, tadi pagi rekam jantungnya datar lagi. Akhirnya, dia berangkat dengan tenang kisah Maria. Lius sudah pergi dan meninggalkan kami teman-temannya maupun keluarganya pada usia 62 tahun dengan meninggalkan istri dan dua orang putri yang menjelang dewasa.

Pada hari ketiga jenasah almarhum diberangkatkan ke tempat kremasi. Pemberangkatan dimulai dengan doa dan dihadiri oleh teman-teman dan kerabatnya. Mobil jenasah sudah siap sejak pagi hari, dan seorang Romo sudah siap di sebelah peti jenasah untuk memimpin doa. Setelah doa selesai, anaknya yang sulung memegang foto almarhum dan siap mengantar jenazah ayahnya ke tempat peristirahatan terakhir. Selamat jalan Lius Anda telah menyelesaikan ziarah di dunia ini dengan sempurna. Saatnya Anda berkumpul kembali bersama Bapa.[sj]

* Sri Julianti adalah praktisi packaging yang sudah malang melintang di dunia packaging selama 25 tahun lebih. Saat ini, ia sedang menuliskan pengalamannya dalam sebuah buku tentang strategi dan seni kemasan. Ia dapat dihubungi melalui pos-el: julipackaging[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 3.0/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Two Days Workshop: Writing Skill for Executives and Managers Batch II

bannerez1

Two Days Workshop: Writing Skill for Executives and Managers Batch II

BTN Learning Center, Jakarta, 27-28 Februari 2010

BTN Writers Community bekerjasama dengan AndaLuarBiasa.com dan didukung oleh Skyrocketing Business akan mengadakan workshop dua hari bertajuk “Writing Skill for Executives and Managers Batch II” pada hari Sabtu-Minggu, pukul 08.00-16.00 wib, tanggal 27-288 Agustus 2009, di Learning Center gedung Bank BTN, Lt.15, Jakarta. Workshop akan dipandu dan dimentori oleh Edy Zaqeus (bestseller writer, editor, trainer, writer coach, & publishing consultant) dari Bornrich Consulting dan Wilson Arafat (pengamat perbankan, pakar GCG, & penulis 6 buku manajemen) dari Skyrocketing Business.

Program pelatihan “Writing Skill for Executives and Managers” ini dirancang khusus untuk membekali para peserta supaya memiliki keterampilan menulis praktis yang langsung bisa diaplikasikan dalam kebutuhan-kebutuhan kepenulisan sehari-hari. Selain itu, program pelatihan menulis basic ini diproyeksikan akan dilanjutkan dengan program pelatihan berikutnya, yaitu menyangkut teknik penulisan buku hingga program writing camp. Lebih jauh lagi, program ini dirancang untuk memberikan keterampilan kepenulisan supaya nantinya peserta dapat selalu memberikan nilai tambah berarti, baik bagi individu sendiri maupun perusahaan pada umumnya.

Dalam program khusus angkatan kedua yang diikuti oleh para eksekutif dan manajer Bank Tabungan Negara (BTN) ini, peserta akan diajak untuk menguasai materi dan praktik menulis sebagai berikut:

Hari Pertama:

* Mengetahui berbagai manfaat keterampilan menulis

* Membongkar hambatan dan membangun motivasi menulis

* Menguasai teknik-teknik dasar kepenulisan

* Menguasai teknik-teknik menulis artikel pendek

Hari Kedua:

* Menguasai teknik menggali dan mengeksplorasi ide tulisan

* Menguasai teknik-teknik memperkaya tulisan

* Menguasai teknik dasar penyuntingan tulisan

* Mengenal strategi memublikasikan tulisan di media massa

BTN Writers Community

Program khusus “Writing Skill for Executives and Managers” semacam ini juga dibuka bagi semua perusahaan peminat lainnya. Setiap materi yang dipresentasikan akan senantiasa disesuaikan dan dikembangkan berdasarkan kebutuhan spesifik institusi atau perusahaan yang membutuhkan. Untuk info program lebih lanjut, silakan hubungi Bornrich Consulting/AndaLuarBiasa.com di nomor: 021-59400515/Hp: 08159912074.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 10.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Kenapa Orang Miskin Tetap Miskin

iy1Oleh: Iftida Yasar*

Jika kita dilahirkan dalam keadaan miskin, sudah dapat dipastikan kita berasal dari orang tua yang miskin, tinggal di perkampungan kumuh, bertetangga dengan orang miskin, dan kebanyakan saudara kita miskin. Karena miskin, kita tidak punya kesempatan sekolah. Kalaupun sekolah hanya SD atau paling banter SMP. Dengan pendidikan yang rendah, apa yang bisa kita lakukan? Akhirnya kita bekerja serabutan, apa adanya, asal bisa makan. Keterampilan yang apa adanya ditambah dengan keadaan yang terpaksa, akhirnya membuat kita mau saja menerima bayaran sesuai kerelaan atau belas kasihan mereka yang butuh jasa kita.

Begitu banyak orang yang seperti itu, bekerja tidak setiap hari. Dengan uang yang pas-pasan, makan sangat teratur; artinya pagi makan, siang belum tentu, atau sebaliknya lebih banyak puasa atau makan seadanya. Asupan makanan jauh dari bergizi karena sekadar mengisi perut. Akibatnya mereka kurang gizi, lemah, dan sakit-sakitan. Kalau sakit tidak punya uang, akhirnya banyak pula yang mati muda tanpa pernah menikmati senangnya kehidupan.

Ada puluhan juta orang miskin di negeri kita yang tercinta ini. Saudara kita yang kebetulan tidak mendapat kesempatan dan mendapatkan ujian dengan menjadi orang susah. Allah memang menciptakan manusia, ada yang kaya untuk membantu yang miskin, dan ada yang miskin agar orang kaya bersyukur serta tergerak hatinya untuk membantu.

Kemiskinan menjadi terstruktur jika suatu negara membiarkan korupsi merajalela. Uang negara yang diperuntukan bagi rakyat miskin agar mereka sejahtera malah dimakan oleh pejabat untuk menyejahterakan dirinya sendiri. Banyak anggaran dipersiapkan untuk membantu orang miskin yang berbentuk cash Bantuan Langsung Tunai (BLT). Ini cukup membantu jika langsung diterima oleh si miskin tanpa potongan. Pembagian beras miskin lewat lurah juga sangat membantu jika tidak dijual ke pihak yang tidak berhak dengan harga yang lebih tinggi demi mendapat keuntungan. Rakyat yang terkena bencana atau tinggal di daerah terpencil akan sangat terbantu jika dibangun akses jalan dan fasilitas penunjang. Ini dimaksudkan agar masyarakat mampu mandiri dan menjual hasli buminya. Sayangnya mutu jalan dan infrastruktur dikorupsi sehingga sering sekali jalan baru dibangun sudah rusak.

Kenapa ada manusia yang tega memakan manusia lainnya? Mereka memenuhi perut sendiri dan perut anak istrinya dengan uang haram? Mereka membuat diri mereka kaya, tapi membuat orang lain semakin miskin. Banyak contoh di mana pejabat yang meninjau daerah bencana malah merepotkan. Apalagi jika ia adalah orang penting dari pusat. Anggaran malah habis untuk mempersiapakan kedatangannya. Aparat lokal dipersiapkan untuk menyambutnya dan berebut cari muka. Pejabatnya pun mungkin akan marah jika yang menyambut kedatangannya hanya sedikit.

Belum lagi makanan yang akan dimakan si pejabat haruslah istimewa dan banyak. Apalagi kalau si pejabat membawa rombongan ajudan , istri, dan keluarganya. Kok menengok bencana malahan menjadi merepotkan? Bukankah sebaiknya berikan saja doa restu dan audit pengunaan anggaran untuk menuntaskan kemiskinan dan menanggulangi bencana dengan baik?

Saya saja yang bukan siapa-siapa pernah mengalami dijemput dan diantar oleh banyak orang pemda, yang sebenaranya menurut ukuran saya yang swasta, itu semua sangat mubazir. Sebagai orang swasta kedatangan kita ke daerah cukup dijemput sopir saja yang akan membawa kita ke tempat acara atau tempat bencana.

Untuk mendapatkan BLT, Raskin (Beras Miskin), Jamkesmin (Jaminan Kesehatan Miskin), semuanya harus dicap miskin. Ada pengantar dari kelurahan untuk menyatakan bahwa kita miskin. Kalau perlu diberi seragam atau cap yang membedakan kasta kita adalah kasta miskin proletar yang berhak dapat bantuan. Di kelurahan sendiri juga rawan korupsi. Banyak kartu miskin malah diberikan kepada mereka yang tidak miskin. Apakah mereka ini sudah sedemikian rusak mentalnya dan tidak punya harga diri sehingga tidak malu mengaku miskin agar dapat bantuan dari pemerintah?

Kalau untuk mendapatkan BLT sontak pejabat desa, kecamatan, dan kabupaten berlomba-lomba mendata sebanyak mungkin warganya yang miskin. Bahkan, banyak data yang fiktif, ada data tapi orangnya sudah meninggal. Tapi, jika untuk laporan kemajuan desa, data yang dikeluarkan lain lagi. Pokoknya yang menggambarkan baagimana hebatnya aparat birokrat mengelola daerahnya. Dengan data dan laporan yang bagus, akan keluar lagi kucuran dana untuk program lainnya. Rakyat masih dijadikan alat untuk kepentingan para birokrat, belum diperlakukan dengan benar untuk mengangkat derajatnya agar mereka sejahtera.

Kalau rakyat masih mau dijadikan komoditas politik kepentingan para penguasa, dan mau dijadikan objek kemiskinan, mereka akan berkubang dalam lumpur kemiskinan. Cara berpikirnya adalah miskin, meminta-minta, dan mengggantungkan hidupnya pada orang lain. Jika birokrat masih menjadikan rakyat hanya sebagai alat untuk mendapatkan tambahan anggaran yang peruntukannya tidak sesuai dengan alokasi anggaran, akan terciptalah mental penguasa yang bobrok. Mereka miskin kasih sayang, miskin moral, dan miskin belas kasihan kepada`rakyat yang seharusnya mereka lindungi.

Kita harus memerangi keadaan seperti ini agar jangan sampai orang miskin tetap miskin. Orang miskin hanya dianggap sebagai angka; yang semakin besar jumlahnya semakin banyak bantuan yang diberikan. Sudah saatnya kita semua memperjuangkan suatu negara yang makmur, merdeka, sejahtera, di mana rakyatnya mempunyai harga diri dan semangat untuk mandiri. Masyarakat yang malu untuk meminta-minta dan berjuang untuk hidup secara bermartabat.

Sedih rasanya dalam bulan puasa misalnya, kita melihat bagaimana rakyat miskin yang memang biasa tidak makan malahan tidak puasa. Mereka di bulan suci tersebut malah berjejer di jalan, lengkap dengan anak-istri, bahkan membawa bayi sambil menadahkan tangannya. Manusia gerobak semakin hari semakin banyak saja berjejer di pinggir-pinggir jalan besar. Rasanya mustahil jika tidak ada yang mengorganisir. Begitu banyak gerobak itu mungkin ada juragan gerobak yang mengambil keuntungan dengan menyewakannya.

sOrang miskin mungkin menjadi putus asa dan tidak percaya lagi kepada Allah. Mereka mencari kasih sayang Allah sepanjang hidupnya, namun belum menemukannya dalam bentuk kesejahteraan. Rawan sekali jika kita membiarkan saudara kita tersebut semakin banyak saja yang bertambah miskin. Mereka nantinya bukan saja miskin harta, tapi juga miskin iman. Bisa tidak percaya lagi kepada kasih sayang Allah.

Bahkan, dikhawatirkandemi mengejar kebutuhan perut—mereka akan terperosok ke dalam perbuatan yang tidak bermartabat, seperti minta-minta dan bahkan berbuat kriminal. Bayangkan jika begitu banyak saudara kita yang miskin, ini juga akan membahayakan kita yang dianggap mampu tapi tidak mau membantu. Kemungkinan ada kecemburuan sosial dan kalau ada kejadian yang tidak diinginkan mereka akan gelap mata.

Jadi, jangan berbahagia apalagi tidak peduli terhadap orang miskin. Kita harus membantu mereka.[iy]

* Iftida Yasar lahir pada 28 Maret 1962. Ia meraih gelar Sarjana Psikologi Pendidikan dan Sarjana Hukum di Universitas Padjajaran tahun 1980. Dan meraih gelar S-2 Psikologi di Universitas Indonesia tahun 1992. Iftida Yasar adalah seorang konsultan SDM, hubungan industrial, dan outsourcing. Ia juga seorang entrepreneur, trainer, motivator, aktivis sosial bidang pengembangan SDM, Wakil Sekretaris Umum APINDO, dan Penasihat Asosiasi Bisnis Alih Daya Indonesia (ABADI). Iftida baru saja meluncurkan dua buku terbarunya yaitu Merancang Perjanjian Kerja Outsourcing (PPM, 2009) dan Perempuan Makan Perempuan (Kosmis, 2009). Ia dapat dihubungi di nomor: 0811896944 atau pos-el: iftidayasar[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.8/10 (12 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +8 (from 8 votes)

Risfan Munir: Kita Harus Kembangkan Mindset Appreciative!

Risfan Munir

Risfan Munir

Sadar atau tidak, setiap hari kita disuguhi bahkan terpenjara oleh berbagai macam informasi dan pemberitaan yang sifatnya negatif. Karena begitu dominannya model pemberitaan dan arus informasi sejenis itu, mau tak mau persepsi dan pemikiran kita terpengaruh pula sehingga menjadi ikut negatif. Akibatnya, bisa saja kita terbawa kepada pilihan-pilihan sikap dan perilaku negatif pula. Padahal, perspektif negatif sangat sulit diandalkan untuk menyelesaikan masalah dengan baik karena memang sifatnya yang selalu “mengkritisi” atau bahkan menyabotase optimisme.

Risfan Munir adalah seorang trainer, fasilitator, dan motivator yang mengajukan gagasan tentang pentingnya pengembangan karakter dan mindset yang lebih fokus pada kemajuan dan perbaikan dengan rasa syukur, pikiran jernih, apresiasi atau penghargaan, serta optimisme. Sebab, menurut Munir, untuk menghadapi deraan pengaruh negatif dari berbagai penjuru di atas, yang harus dibangkitkan saat ini adalah rasa optimisme di segala bidang.

“Seni mengapresiasi keberhasilan, walau itu kecil, akan lebih efektif untuk mendorong perbaikan di semua bidang, daripada kritik misalnya. Karena, kebanyakan orang kalau dikritik akan mencari kambing hitam dan mereka kian apatis,” ujar Risfan Munir memberikan contoh penyikapan berdampak positif dan solutif.

Risfan Munir sehari-hari adalah seorang konsultan di bidang perencanaan, manajemen, dan pengembangan kapasitas organisasi swasta, LSM, dan pemerintah baik di pusat maupun daerah mulai dari Sabang hingga Merauke. Pria kelahiran Malang Jawa Timur tahun 1955 ini menamatkan studi Strata Satu dan Strata Dua di Institut Teknologi Bandung (ITB), dan sempat belajar Real Estate Finance pada University of Texas at Arlington, USA. Risfan Munir juga aktif sebagai di bidang pengembangan kewirausahaan, dinamika klaster ekonomi lokal, peningkatan kinerja manajemen usaha maupun pelayanan publik.

Kolomnis Tetap AndaLuarBiasa.com ini sudah menghasilkan beberapa buku, yaitu Pengembangan Ekonomi Lokal Partisipatif, Skema Tindakan Peningkatan Pelayanan Publik, Good Practices dalam Pengembangan UMKM, Good Practices dalam Peningkatan dan Pelayanan Kesehatan, dan yang terbaru berjudul Jurus Menang dalam Karier dan Hidup ala Samurai Sejati (GPU, 2009). Buku yang digali berdasarkan kombinasi nilai-nilai ala bushido samurai dengan pendekatan Neuro Linguistic Program (NLP) tersebut cukup menarik untuk didiskusikan. Berikut petikan perbincangan Edy Zaqeus dari AndaLuarBiasa.com dengan Risfan Munir pada Januari 2010 lalu:

Apa isi buku Jurus Menang dalam Karier dan Hidup ala Samurai Sejati ini?

Ya, buku saya ini mengenai bagaimana mencapai kemenangan, dalam karier, pekerjaan, ataupun dalam kehidupan sehari-hari.

Ini buku motivasi atau buku how to?

Boleh dibilang keduanya. Motivasi, karena bicara mencapai “kemenangan” kan berarti memotivasi diri untuk selalu menuju kepada cita-cita dan tujuan dengan selalu bersemangat. Juga tentang how to. Karena, dalam tiap bab atau jurus, saya selalu memaksudkannya supaya dapat diterapkan secara langsung. Ada jurus atau langkah pada tiap akhir bab yang saya beri istilah katana atau pedang.

Risfan Munir bersama kolega

Risfan Munir bersama kolega

Bagaimana sampai Anda begitu menggemari filosofi para samurai dan membuatnya menjadi buku panduan dan motivasi?

Memang sejak masa sekolah saya suka baca kisah tentang ksatria seperti Nogososro Sabuk Inten. Juga kisah bersambung samurai Musashi. Umumnya bacaan ini mengisahkan kepahlawanan dan keteguhan dalam meraih cita-cita, atau membela apa yang diyakini. Belakangan, saya membaca lebih jauh tentang kisah samurai termasuk The Book of Five Rings yang ditulis sendiri oleh pendekar samurai Musashi. Di situ saya baca bagaimana “permainan persepsi” begitu banyak diungkapkan sebagai kunci kemenangan. Saya pikir ini sesuai dengan perkataan pakar marketing Al Ries, “We are not in the battle of product, but perception.” Kita semua sekarang merasakannya, betapa perang persepsi yang disampaikan lewat media, baik dalam pemasaran, iklan, atau debat politik telah “memusingkan” kita semua.

Menurut Anda, apa istimewanya filosofi para samurai tersebut?

Yang saya jadikan acuan adalah kisah dua tokoh. Pertama, Musashi yang dijuluki sebagai the Lone Samurai, yang merupakan pendekar yang secara mandiri unggul. Dalam buku yang ditulisnya sendiri, The Book of Five Rings, dia menegaskan pentingnya “bermain persepsi” untuk mencapai kemenangan. Ini yang menurut saya sesuai dengan situasi masa kini di mana “permainan persepsi”, terutama via media massa, telah memengaruhi pikiran kita, fokus kita dalam mencapai tujuan, dan semangat atau optimisme kita. Karena itu, saya ingin berbagi dalam “bermain persepsi” ini melalui jurus-jurus menang itu. Tokoh samurai kedua yang saya jadikan acuan ialah Hideyoshi Toyotomi. Dia tokoh nyata dalam sejarah bangsa Jepang yang kepemimpinannya telah berhasil mempersatukan Jepang setelah masa perang antarklan lebih dari seabad. Hideyoshi disebut sebagai “Samurai Tanpa Pedang”. Mengapa? Karena dia tidak mengandalkan kekerasan dalam kariernya, melainkan persuasi dan sifat kepemimpinannya. Karena itu, jurus-jurus persuasi yang dia contohkan saya pikir layak diangkat dalam situasi bangsa kita yang cenderung suka bertikai saat ini.

Berbagi pengalaman menulis buku

Berbagi pengalaman menulis buku

Balik lagi ke proposisi Al Ries, semua ini soal permainan persepsi. Apakah ini terkait dengan bidang NLP yang Anda tekuni?

Betul. NLP (Neuro Linguistic Programming: red) dalam hal ini saya gunakan sebagai alat bantu untuk lebih mudah menanamkan apa yang dipelajari pembaca ke dalam “pikiran bawah sadar.” Perubahan sikap dan perilaku akan lebih cepat dan efektif kalau apa yang kita pelajari masuk ke “pikiran bawah sadar” sehingga menjadi refleks spontan saat dibutuhkan.

Bagaimana ceritanya sampai filosofi samurai bisa dikait-kaitkan dengan NLP? Yang satu tradisional dan berusia ratusan tahun, satunya lagi ilmu yang baru saja dikembangkan?

Di situlah menariknya. Sebetulnya tidak terlalu aneh ya karena keduanya, baik pendekatan tradisional maupun yang masa kini, kan menyangkut aspek psikologi. Kalau soal nilai-nilai kesatria, sportivitas, itu kan universal, tak mengenal waktu. Tapi menyangkut pendekatan, metode, kan mestinya kalau ada metode lebih baru juga bisa dimanfaatkan. Sekali lagi ini menyangkut aspek psikologisnya ya. Kan saya tidak bicara tentang ilmu fisik bermain pedangnya. Poin yang paling menonjol yang ditunjukkan oleh Musashi adalah “kejernihan pikiran” atau persepsinya dalam menanggapi segala sesuatu.

Soal kejernihan pikiran ini, kalau dari kacamata NLP apakah juga penting untuk pengembangan diri seseorang?

Tentu. Karena, NLP secara praktis adalah teknik memainkan pikiran. Bagaimana agar kita bisa menguasai dan mendaya gunakan pikran kita sendiri? Baik “pikiran sadar” maupun “pikiran bawah sadar”. Betapa sering kita seperti berpikir. Padahal, sesungguhnya kita hanya bereaksi atas bujukan atau provokasi pihak lain terhadap kita. Contohnya, tiap pagi kita memulai hari dengan perasaan segar karena baru bangun dari istirahat. Namun, kita awali kegiatan dengan baca koran, melihat televisi yang menampilkan berita tidak menyenangkan. Maka, suasana pikiran kita berubah seketika. Kita jadi murung, kurang optimis, atau ikut-ikutan bicara, diskusi, seolah kita ahli politik, ahli hukum. Seperti berpikir, padahal hanya bereaksi saja atas berita. Padahal semua yang kita tonton itu belum tentu berpengaruh.

Risfan sebagai trainer, fasilitator, dan motivator di lapangan

Risfan sebagai trainer, fasilitator, dan motivator di lapangan

NLP penting untuk membedah sistem berpikir seseorang, apakah mengarah ke efektivitas atau inefektivitas. Betul begitu?

Betul. NLP sebagai teknik psikologi praktis dapat digunakan untuk meningkatkan efektivitas berpikir. Ini supaya seseorang bisa menjadi “tuan bagi pikirannya sendiri”. NLP berguna untuk menata pikiran dan motivasi diri agar efektif. NLP juga penting untuk berkomunikasi dengan orang lain, baik individu maupun audiens. Bagusnya, selain mengungkap aspek verbal, NLP juga mempelajari perasaan dan tingkah laku yang “tak disadari” seseorang. Misalnya, untuk memvisualisasi visi atau sasaran yang ingin dicapai seseorang. Dengan metode NLP, kita tidak cukup hanya membayangkan rupa mobil dan jumlah uang yang ingin kita raih. Tetapi, kita juga harus tahu “bagaimana perasaan waktu itu, apa warna-warna yang muncul, bagaimana wajah orang yang kita cintai saat memberi selamat”. Ini penting agar pikiran bawah sadar kita juga merasakan “sukses” yang kita idamkan itu. Mengapa? Ini supaya setiap saat—tanpa kita sadari—gambaran tersebut akan senantiasa mengingatkan dan “memandu” kita menuju sasaran.

Menggabungkan perspektif NLP dengan filosofi samurai jelas bukan perkara mudah. Anda menemui kendala dalam penulisan buku ini?

Ada seninya dalam hal ini. Yaitu, bagaimana menangkap pesan atau pengalaman psikologis samurai. Terutama Musashi yang menulis sendiri pengalaman psikologis dan pemikirannya dalam bukunya. Kemudian, saya coba mengaitkannya dengan beberapa jurus atau program NLP yang biasa saya gunakan sebagai praktisi. “Berpikir tanpa persepsi” atau “Jadilah lawanmu”, memahami pikiran lawan bicara misalnya. Ini pesan Musashi. Ini justru akan lebih efektif dan mudah kalau menggunakan jurus NLP, seperti yang saya tulis dalam buku ini.

Menurut Anda, siapa saja yang paling membutuhkan buku ini sekarang dan mengapa demikian?

Buku ini bisa bermanfaat bagi siapa pun. Baik wirausahawan, eksekutif, karyawan, mahasiswa, pelajar, maupun orang tua. Tiap orang bisa membaca dan menerapkan jurus-jurus atau metode yang disarankan dalam buku ini sesuai kebutuhannya. Membacanya pun tidak harus urut dari awal sampai akhir. Karena, pada intinya buku ini didasarkan pada asumsi bahwa setiap orang, apa pun perannya di keluarga dan masyarakat, dia punya cita-cita dan keinginan tetapi juga punya “hambatan internal” dalam dirinya. Apa saja? Takut, ragu, malu, merasa tak pantas, dan seterusnya. Juga ada “hambatan lingkungan” seperti tekanan atasan, orang tua, dan olok-olok teman. Jurus-jurus dalam buku ini dimaksudkan untuk menepis hambatan internal, menembus hambatan lingkungan, bahkan mendapatkan dukungan dari teman atau orang yang kita anggap lawan.

mengembangkan gagasan mindset appreciative

mengembangkan gagasan mindset appreciative

Baik, apa yang Anda dapat dari menulis buku ini?

Banyak nilai yang saya peroleh dari menulis buku ini. Pertama, perjuangan menulis hingga diterbitkannya buku ini oleh Gramedia merupakan bukti “kemenangan” atas diri sendiri, tentunya dengan menggunakan jurus-jurus yang saya sarankan dalam buku ini. Kedua, proses menulis di tengah kesibukan kerja rutin sungguh merupakan perjuangan tersendiri. Penerapan jurus dalam berkomunikasi menghasilkan dukungan dari teman, terutama dari Proaktif Writer Schoolen (lembaga pelatihan menulis untuk profesional: red), dan sesama Kolomnis Tetap AndaLuarBiasa.com. Ini sungguh merupakan nilai tinggi yang tak saya duga sebelumnya. Ketiga, undangan untuk berbicara, untuk men-training-kan jurus-jurus dalam buku ini di perusahaan swasta, kelompok swadaya masyarakat, dan komunitas sosial. Ini merupakan kebahagiaan yang juga tak saya duga sebelumnya. Keempat, datangnya syukur saat orang menyampaikan bahwa jurus tertentu telah membantu dia untuk mengatasi persoalan yang dia hadapi, membantu gugus kerjanya menyusun resolusi tahun baru, atau membantu kelompok UKM yang dia bina, dan lain sebagainya.

Apa profesi Anda dan sebenarnya apa yang sehari-hari Anda lakukan?

Profesi saya sehari-hari adalah konsultan perencanaan kota atau daerah, manajemen pelayanan publik dan pengembangan ekonomi atau kelompok UMKM setempat. Dalam hal ini saya sering berkunjung ke berbagai daerah di Tanah Air dan melakukan perbandingan dengan yang terjadi di beberapa negara. Dari pengalaman tersebut saya belajar bahwa “seni mengapresiasi” keberhasilan, walau itu kecil, akan lebih efektif untuk mendorong perbaikan di semua bidang, daripada kritik misalnya. Karena, kebanyakan orang kalau dikritik akan mencari kambing hitam dan mereka kian apatis. Saat ini, masyarakat kita perlu dibangkitkan optimismenya sehingga persepsi apresiatiflah yang sebaiknya kita sebarkan.

Kalau untuk profesi tersebut, hal teknis apa yang biasa Anda lakukan?

Pada saat ini, sebagai konsultan perencanaan ataupun menajemen, kita tidak bisa bekerja di belakang meja. Kita harus bertindak sebagai fasilitator, moderator, dan mau tak mau jadi motivator juga dalam memfasilitasi stakeholders. Mereka adalah pemerintah daerah, swasta, dan masyarakat. Kita memfasilitasi dalam merumuskan masalah dan secara partisipatif merumuskan solusi, menyusun rencana, baik rencana pembangunan, peningkatan pelayanan publik serta pemberdayaan kelompok UMKM.

Persoalan-persoalan paling krusial seperti apa yang Anda temui di kota-kota atau daerah yang Anda tangani?

Masalah paling krusial saat ini terutama karena terjadinya perubahan yang cepat, akibat pertumbuhan penduduk perkotaan yang tinggi, namun tidak diimbangi kesempatan kerja. Akibatnya adalah besarnya angka kemiskinan perkotaan dan masalah sosial ikutannya. Sementara, pemerintah daerah masih “kaget” dengan otonimi daerah. Kebanyakan sumber dayanya terbatas sehingga banyak yang kebingungan akan melakukan apa. Akhirnya, yang dibuat malah yang bukan kebutuhan warganya. Sementara itu, mengingat potensi sumber daya yang dimiliki masyarakat dan swasta, mestinya mereka diajak berpartisipasi dalam pembangunan kota atau daerah. Tetapi karena sikap mental atau persepsi yang masih belum bisa berubah, potensi tersebut tak bisa dilibatkan kontribusinya secara optimal. Masalah lain terkait sikap psikologis yang cenderung tidak positif.

Bersama para Kolomnis Tetap AndaLuarBiasa.com

Bersama para Kolomnis Tetap AndaLuarBiasa.com

Apa yang kira-kira bisa disinergikan antara permasalahan-permasalahn tersebut dengan “ilmu tambahan” yang Anda tulis dalam buku samurai ini?

Yang pokok ya itu tadi, ada jurus-jurus yang menyarankan kita untuk menginventarisir “keberhasilan”. Walau masih kecil, sedikit, daripada berfokus pada identifikasi atau menggali “persoalan”. Persepsi atau cara pandang inilah yang banyak saya ambil dari buku yang saya tulis ini. Ini pula yang saya terapkan dalam memfasilitasi stakeholders pemerintah daerah ataupun klaster UMKM di daerah.

Apa mereka tahu prinsip-prinsip tersebut diambil dari filosofi samurai dan NLP?

Kepada audiens atau konsumen akhir tidak saya sampaikan. Karena, bagi mereka yang penting masalah mereka terpecahkan, rencana tersusun. Tapi kepada para jaringan fasilitator, baik dari perguruan tingi, LSM atau individual, metode termasuk jurus-jurus dalam buku ini saya sampaikan. Dan, para fasilitator itulah pembaca dan pengguna buku ini. Namun, banyak juga audiens yang akhirnya tertarik membaca buku ini karena sudah merasakan manfaatnya. Kepada mereka saya jelaskan nilai hiburan dan manfaat praktis buku ini.

Ada pengalaman menarik pascapenerbitan buku Anda ini?

Ya, undangan untuk men-training-kan buku ini. Padahal, tadinya saya pikir hanya hanya untuk dibaca. Pengalaman menarik yang masih datang hingga hari ini ialah apresiasi pembaca via Facebook, email, dan SMS. Ini di luar dugaan saya. Saya pikir setelah menulis, buku terbit, ya selesai. Tadinya saya ragu apakah saya bisa dan berani menulis di luar bidang profesional konsultan. Ternyata, dengan sambutan dari kalangan akademisi pula, membuat penulisan bidang baru ini menjadi “bagian dari diri saya” juga. Apalagi setelah banyak kenalan “minta advice” untuk masalah-masalah motivasi, komunikasi, dan psikologi praktis lainnya. “Bagaimana pendapat Samurai Sejati?” tanya mereka misalnya. Pertanyaan seperti main-main tapi jadi pengalaman menarik pula…

Apa rencana Anda ke depan terkait dengan profesi maupun dunia kepenulisan yang sudah Anda masuki?

Ke depan yang saya pikir adalah bagaimana terus mendorong meningkatkan kualitas manajemen pelayanan publik, good governance, pemberdayaan klaster UMKM, dengan menanamkan persepsi yang lebih “appreciative”, menghargai apa yang sudah dicapai walau masih kecil. Untuk penulisan buku, target saya ialah menulis buku tentang Manajemen Apresiatif  untuk menyebarkan “virus” apresiasi dan mempertajam kemampuan “bersyukur”. Harapan saya, buku ini akan meraih predikat bestseller. Sebuah buku yang punya pengaruh besar dalam meningkatkan nilai kemenangan dan kesejahteraan pembaca serta lingkungannya.[ez]

Foto-foto: Dokumentasi Risfan Munir

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 5.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: -1 (from 3 votes)

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

bk-don-gaborJudul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Oleh: Don Gabor

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009

ISBN: 978-979-22-5073-2

Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!

Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, ramah, Analitis—untuk membantu Anda mengidentifikasi, menyesuaikan, dan merespon gaya orang lain.

Dengan buku ini, Anda akan membangun hubungan baik secara instan dengan siapa saja yang Anda temui dan dengan cepat menjalin hubungan yag mengutungkan bagi Anda berdua.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.2/10 (43 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +12 (from 16 votes)

Malu Bertanya Sesat di Utang

bk-fajarJudul: Malu Bertanya Sesat di Utang

Oleh: Fajar S. Pramono

Penerbit: Wirausaha & Keuangan, 2009

ISBN: 978-602-95754-0-8

Tebal: xii + 216 hal

Percayakah Anda, kalau jaringan bisnis bisa Anda kembangkan dengan berutang ke bank?

Sadarkah Anda, bahwa one man show yang Anda terapkan dalam bisnis Anda merupakan rapor yang kurang baik di mata bank?

Sudah yakinkah Anda, bahwa keaktifan Anda dalam sebuah komunitas atau asosiasi akan memudahkan Anda untuk memperoleh akses pembiayaan di bank?

Apa pula akibat dari ke-plinplan-an Anda membuat rencana bisnis bagi pengajuan kredit Anda?

Apakah Anda sudah mengenal konsep “4 tepat 5 sempurna” yang menjamin pemanfaatan terbaik kredit bank?

Jika jawaban pertanyaan-pertanyaan di atas adalah “belum”, maka buku yang Anda pegang ini akan mengantarkan Anda kepada pemahaman-pemahaman baru seputar dunia perkreditan bank.

Disampaikan dalam kemasan sang sangat menarik: obrolan sersan alias serius tapi santai, Fajar S. Pramono mengajak Anda memahami berbagai filosofi dan permasalahan kredit yang dipastikan akan membuat Anda semakin paham seluk-beluk kredit bank, sekaligus meyakinkan Anda bahwa urusan kredit bank adalah gampang dan tak sesulit yang sering dibayangkan orang.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 4.9/10 (8 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya Oleh: Don Gabor Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009 ISBN: 978-979-22-5073-2 Tebal: xviii + 380 hal Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas! Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox