Numpang Adem

Hanna Fransisca AndaLuarBiasa.comOleh: Hanna Fransisca*

Suara langkah kaki itu sudah akrab di telinga saya. Langkah terseret dengan tekanan telapak yang berat menapak. Perempuan itu muncul di ruang kerja. Rambut pendek dengan ujung menguning pecah-pecah, selalu itu ciri pertama yang paling diingat. Seperti dugaan semula, dan tentu saja dari kebiasaan yang selalu diucapkan, dia akan menyapa saya dengan kalimat yang sama.

“Numpang adem ya, Non.”

Kalimat itu lebih menyerupai mantra bagi saya. Setelah itu dia akan menawarkan dagangannya. Bihun goreng, bakmi goreng, nasi uduk, permen kecil, beberapa macam penganan, dan air mineral. Sudah lama dia tak peduli huruf-huruf kapital berwarna merah yang terpampang besar di pintu masuk: YANG TIDAK BERKEPENTINGAN DILARANG MASUK. Barangkali perempuan itu pura-pura bodoh, atau dia memang buta huruf. Saya hanya mampu menerka-nerka. Mantra numpang adem itu selalu saja berhasil menjadi sihir, membuat hati kami yang berada di ruang kerja itu tunduk dan menaruh empati pada perempuan itu. Maka, kami selalu membiarkannya duduk sebebas-bebasnya. Menikmati sejuknya udara AC. Bahkan, kami membeli dagangannya. Benar-benar ia menikmati numpang adem, alias numpang udara dingin, sekaligus numpang rezeki.

Belakangan perempuan itu tidak hanya numpang adem untuk tubuhnya yang berkeringat. Dia juga numpang adem di tenggorokan. Di meja kerja kami memang selalu tersedia air mineral dalam kemasan gelas untuk para tamu. Beberapa toples permen kecil juga ikut menghias di sana. Perempuan itu awalnya meminta dengan wajah memelas.

“Haus. Di luar panas. Saya minta satu ya aquanya,” dia kerap menyebut air mineral itu aqua, meski mereknya bukan Aqua. Tanpa menunggu jawaban dia mengambil sedotan. Lantas menancapkan sedotan itu ke gelas plastik dan menyedotnya sampai dia merasa lega. Kebiasaan dia yang lain (yang kemudian juga bertambah), yakni sebelum pamit dia akan membuka toples dan mengambil segenggam permen. Setelah itu ia berlalu.

Tingkah perempuan itu, dengan kebiasaannya yang semakin bertambah, tentu saja tidak berarti membuat kami tenang-tenang saja. Dari mulai numpang adem, kemudian numpang haus, dan terakhir numpang permen, membuat beberapa di antara kami mulai serius memerhatikannya. Bahkan, ada yang mulai gerah dan mengatakan, “Siapa sih sebetulnya dia?”

Pada mulanya, seperti telah diceritakan di awal, kami semua memang menaruh simpati dan empati. Setiap gajian atau di saat kami memiliki rezeki lebih, tak jarang di samping membeli (bahkan memborong) jajanan kecil pada perempuan itu, kami kadang kala juga memberi harga lebih padanya. Sekadar tip untuk tempat kami bersyukur. Tapi akhir-akhir ini, beberapa di antara teman saya, ada yang mulai acuh setiap perempuan itu masuk ruangan. Ada yang mulai berkata sedikit keras, menyuruh kami untuk bertindak.

“Besok jangan kasih dia masuk. Orang ini mulai tidak tahu diri. Jangan diberi hati!”

“Iya. Setuju. Kita boleh saja kasihan sama dia. Tapi tak berarti dia boleh seenaknya. Bayangkan, setiap hari dia mengambil segelas minuman. Kemudian permen-permen. Sebulan jika dijumlah, jadi berapa? Dia sendiri menjual minuman. Kenapa harus mengambil di meja kita?”

Begitulah teman-teman saya mulai ribut dan gerah.

***

Esok harinya saya dengar lagi suara langkah kaki yang sama. Suara sandal jepit diseret dengan langkah kecil yang berat. Kali ini diiringi suara batuk. Seperti biasa, dia memulai lagi kalimat yang sama.

“Numpang adem ya, Non?”

Aneh. Tak seorang pun bergerak untuk mengusirnya. Mantra “numpang adem” itu memang hebat, pikir saya. Kami hanya saling memandang dan diam. Lalu, kami sama-sama menatap wajah kusut pucat yang tidak seperti sebelumnya. Dia mulai mengambil minuman. Kali ini tanpa permisi. Barangkali dia sudah merasa menjadi bagian dari kami, sehingga dia merasa punya hak untuk mengambil tanpa permisi. Lagi-lagi kami hanya diam dan saling memandang.

Dia tidak duduk lebih lama seperti hari-hari lalu. Lima menit kemudian, setelah segelas air usai dia teguk, dia mengambil beberapa gelas lain dan menaroh dalam boks asongannya. Dia mengambil juga segenggam permen, dan menaroh di tepi boks asongannya itu. Tangan kanannya kembali ingin menjamah toples, tapi sebuah bentakan keras (yang tentu saja suara bentakan itu juga mengagetkan kami semua), menghentikan tangannya tepat di bibir toples.

“Hei!! Kau pikir kami ini nenekmu yang harus mengasihanimu setiap hari! Sudah bagus kau kami biarkan masuk dan minum seenaknya. Sekarang kau malah menginjak kepala kami. Kau pikir kami yang ada di sini siapa, ha!? Jadi kau mau jual air mineral dan permen-permen yang kau ambil itu!? Enak sekali,” suara salah seorang teman saya itu melengking seperti halilintar.

Saya lihat wajah perempuan itu pucat. Tapi sebentar kemudian ia dengan cepat bisa menguasai keadaan, dan berkata pelan, “Heran. Orang-orang berkecukupan macam kalian kok bisa sepelit ini.”

Akibat dari jawaban ini tentulah bukan perkara mudah. Teman saya serentak bangkit dari tempat duduknya, dan mencengkram tangan perempuan itu. Ia ingin menyeretnya ke luar. Melihat hal itu, entah kenapa hati saya mendadak tidak tega.

“Sudahlah,” saya coba menenangkan teman saya. Di luar dugaan, saya justru yang kena imbasnya.

“Kau juga punya andil besar dalam hal ini. Membiarkan dia begitu saja. Kita boleh mengasihani orang lain, tapi harus dengan cara yang mendidik. Bukan memanjakan atau malah menjerumuskan!

Kali ini saya yang tersuruk. Dalam hati membenarkan perkataan teman saya itu.

“Asal tahu ya, Bu. Kita boleh miskin. Boleh susah. Tapi tak berarti harus melalukan tindakan tidak terpuji seperti yang Ibu lakukan. Ibu pikir sendiri sekarang, siapa yang rugi? Besok-besok kami semua tidak akan lagi sudi belanja sama Ibu. Ibu juga tak boleh lagi numpang adem di sini. Kalau Ibu tetap nekat saya akan telepon polisi dengan alasan Ibu menganggu ketertiban dan keamanan di sini,” bentak teman saya seolah belum puas juga. Saya lihat perempuan itu tertunduk dan menangis.

Berhari-hari, berminggu-minggu, dan berbulan kemudian ia memang tak pernah lagi datang ke kantor kami. Tapi entah kenapa, bayangan tubuhnya yang ringkih, suara langkahnya yang berat seperti diseret, aroma keringat, serta sapaan “numpang adem” yang bagaikan sihir di telinga kami itu, selalu saja seperti beban yang tak pernah hilang dari ingatan. Diam-diam saya masih merindukan wajah itu muncul tiba-tiba di depan pintu. Karena bagaimanapun, ia telah memberi pelajaran paling berharga dalam hidup. Minimal menjadi cermin bagi saya untuk lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan yang menyangkut masa depan.[hf]

* Hanna Fransisca adalah ibu dari empat anak yang sehari-hari bekerja di Singkawang Motor, Jl. Sultan Agung Km 27, Pondok Ungu, Bekasi Barat dan Bintang Perkasa Jaya Motor Jl. Mauk/Mohammad Toha No 1, Bugel, Tangerang. Ia gemar membaca, menulis puisi, cerpen, dan esai kehidupan. Hanna dapat dihubungi di pos-el: h4n4_1979[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.9/10 (9 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +5 (from 5 votes)

Inovasi Ala Printer Tiga Dimensi

Oleh: Doharman Sitepu*

Beruntung sekali pada tanggal 6 November 2009 yang lalu, saya ‘dipaksa’ oleh seorang teman berkunjung ke sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pengerjaan lembaran baja (sheet metal works). Saat itu jam menjelang pulang kantor, jadi saya merasa setengah terpaksa turut serta pada kunjungan tersebut. Namun karena hal itu berkenaan dengan project yang saya kelola, saya pun ‘memaksa’ diri sendiri ikut serta. Selanjutnya, yang kami bahas bukanlah bisnis sheet metal works-nya, melainkan usaha baru yang belum genap satu tahun. Perusahaan yang kami kunjungi itu mencoba menyasar pasar di Tanah Air dengan produk teknologi 3D Printing yang ditemukan oleh Objet USA tahun 1998.

Ceritanya, setelah menyudahi pembicaraan tentang sheet metal Works, kembali lagi (kali ini saya dan teman saya) ‘dipaksa’ melihat sesuatu oleh pemilik usaha yang ada di kawasan Lippo-Cikarang itu. Mereka adalah sole distributor-nya di Indonesia dan dengan antusias mempromosikan 3D printing. Mendengar kata 3D printing, saya pun berubah jadi antusias juga.

Setelah berbincang dan menyaksikan demo 3D printing, saya dapat berbagi tentang printer ini.Ternyata cara kerja printer ini persis seperti pembuatan kue lapis. Tintanya terbuat dari epoxy yang akan kering dengan cepat apabila terkena udara. Print head bergerak bolak-balik layaknya printer biasa, bedanya print head ini bekerja seperti mengecat lapis demi lapis (layer by layer), hingga terbentuk deposit yang sesuai dengan bentuk 3D data yang dikirim komputer.

Apabila Anda memiliki desain (part drawing) dalam format 3D data, misalnya design dari sebuah kunci Inggris, maka untuk memperoleh benda utuhnya Anda cukup mem-print benda tersebut. Kemudian dalam tempo tidak lebih dari 20 menit, jadilah “kunci Inggris” Anda, dan Anda dapat mengevaluasi kunci itu, baik dari sisi design graphics-nya, dimensinya, maupun uji mekanisnya. Karena hasilnya adalah berupa prototype skala satu berbanding satu, kecuali kekuatan kunci yang hanya terbuat dari epoxy itu, semua fungsi sudah mewakili aslinya, persis kunci Inggris.

Contoh lain, apabila kran air di rumah Anda rusak, dan Anda memiliki 3D data-nya, maka selang 20 menit kemudian Anda dapat mengganti kran air tersebut (tentu dengan tingkat kekerasan setara plastik/epoxy) dengan cara mem-print-nya. Setelah selesai di-print, cukup dibilas pakai air untuk pembersihan, dan siap dipakai. Itulah gambaran dahsyatnya alat ini. Masih banyak kegunaan alat yang satu ini, yang akan saya ulas selanjutnya.

Sebagai seorang engineer yang telah menekuni bidang design dan manufacturing komponen otomotif bertahun-tahun, saya merasakan bahwa babak baru akan segera tiba dengan adanya alat ini. Tapi, apabila saya salah ataupun ketinggalan informasi tentang hal di atas, maka saya minta maaf, berarti saya harus belajar lebih banyak lagi.

Berawal dari kebutuhan manusia akan berbagai macam produk dalam menunjang hidup sehari-hari, maka telah banyak cara (methods) yang telah ditempuh oleh manusia untuk mempermudah dan mempersingkat pekerjaan dalam merealisasi sebuah produk (products realization).

Katakanlah apabila seorang designer akan membuat dashboard sebuah mobil, ataupun men-design sebuah velg baru. Pada era pradigital, langkah awal yang dilakukan adalah membuat sketch dari product tersebut, kemudian setelah mengalami beberapa tahap pengkajian/pengujian di atas kertas (ferification), maka langkah selanjutnya adalah membuat moke-up 1-1 (satu banding satu) dari design tersebut. Sesuai dengan eranya, maka pembuatan pun dilakukan dengan cara manual. Biasanya dilakukan oleh ahli moke-up atau prototype. Mereka membuatnya dengan cara manual dibantu dengan alat atau mesin sederhana. Demikian juga bahan yang digunakan biasanya terbuat dari kayu ataupun bahan yang ringan dan mudah dibentuk. Langkah selanjutnya adalah melakukan fitting pada fungsi ataupun posisi part tersebut pada induknya. Apabila itu adalah dashboard, maka di-fitting pada posisi dashboard, dan apabila itu adalah velg, maka di-fitting pada roda kendaraan. Langkah selanjutnya adalah uji visual dan performance secara skala penuh. Dalam tahap ini dapat dilakukan uji gerak/mekanisme dari benda tersebut. Demikian juga akan dilakukan pengujian kelaikan visual, apakah sudah memadai ditinjau dari sisi marketing, safety, ergonomy, economic, dan lain-lain.

Dari beberapa tahapan ini, akan didapatkan feedback yang akan diumpankan kembali pada design awalnya. Apabila tahap design telah selesai, tibalah waktunya pada pembuatan alat bantu produksi. Untuk Otomotif biasanya disebut tahapan pembuatan tooling (tooling stages). Setelah tooling selesai dibuat, barulah mass production dapat dilakukan. Hasilnya, kita dapat merasakan kegunaan dari berbagai produk, mulai dari alat transportasi, electronik, kesehatan, pendidikan, dan home appliances lainnya.

Dapat dibayangkan betapa lamanya waktu yang dibutuhkan untuk mengembangkan (developing) sebuah produk. Mulai dari design concept pertama sampai dengan pengujianya, kemudian dilanjutkan dengan design concept kedua sampai pada tahap pengujian juga hingga dicapai design yang diinginkan (approved). Setelah itu masuk ke tooling stage, barulah mass production dapat dilakukan. Konon pada tahun 80-an membutuhkan waktu 5 tahun untuk mengembangkan sebuah kendaraan, mulai dari design sampai dengan initial mass production .

Era selanjutnya adalah dengan era Computer Aided Design (CAD). Penulis sewaktu duduk di bangku kuliah masih diajarkan CAD dua dimensi, yang penggunaanya sangat sukar dan kurang menarik. Pada 1985, IPTN sudah memakai software design yang masih berbasis 2D (dua dimensi) Crime 2.

Era berikutnya adalah penerapan software 3D (tiga dimensi). Di Indonesia dimulai pada tahun 90-an. Perkembangan software 3D pada dekade ini sangat ramai, bagaikan jamur di musim hujan. Developer software pada umumnya berasal dari Amerika dan Eropa. Sedangkan Jepang mengaku meninggalkan segmen bisnis ini akibat sengitnya persaingan. Mereka akhirnya memutuskan untuk focus pada manufacturing saja. Dalam hal urusan software untuk men-design mencukupkan diri sebagai user saja. Sebut saja misalnya Togo, sebuah software yang dikembangkan Toyota, yang akhirnya mereka sendiri tidak memakainya, dan malah memakai Pro-E untuk urusan desain mesin dan yang komponen bergerak, dan UG untuk komponen statis (keduanya buatan Amerika).

Untuk mendesain sebuah mobil pada era ini sangatlah singkat dibandingkan dengan zaman moke-up kayu. Pada umumnya verifikasi bentuk dan dimensi telah dapat dilakukan dengan bantuan komputer. Pada tahun 2000-an Jepang sebagai pioneer dalam dunia manufacturing otomotif meng-claim bahwa lead time pengembangan sebuah mobil cukup dilakukan dalam tempo dua tahun. Untuk itu mereka harus menyiapkan satu model baru setiap dua tahun. Manurut pengamatan pasar di Jepang, pada umumnya orang sudah segan membeli model yang telah berumur dua tahun. Oleh karena itu, pasarnya pun sudah menurun drastis pada awal tahun ketiga. Untuk menstimulasi pasar, maka dilakukan perubahan-perubahan di sana-sini, baik perubahan sebagian (minor change) maupun perubahan total (major change) pada sebuah produk.

Belakangan, untuk melayani semakin pendeknya lead time pergantian model, terutama otomotif, maka kemampuan untuk membuat prototype pun harus dapat mengimbangi. Maka untuk itu muncullah sebuah bisnis baru yang disebut rapid prototyping (pembuatan model kilat).

Berbagai macam cara ditempuh, mulai dari laser cutting, high speed machining, hingga 3D printing seperti yang sedang kita bahas.

Fungsi Lain 3D Printing

Kita akan membahas beberapa aplikasi dari 3D printing ini. Seperti telah dijelaskan di atas, mulai dari pembuatan prototype kunci inggris, kran air, turbine-impeller, hair-drier, velg, dashboard, sampai pembuatan enginee-block. Semua part yang disebut di atas adalah untuk konsumsi industri automotif, dan home appliances.

Satu lagi aplikasi yang luar biasa adalah dalam bidang kesehatan. Sebagai contoh kasus, untuk seorang pasien yang mengalami kecelakaan, sehingga mengalami retak pada tulang tengkorak kepalanya, dan membutuhkan penggantian pada bagian tulang yang retak tersebut. Langkah pertama adalah men-scanning tengkorak kepala yang bersangkutan dengan CT/MRI. Selanjutnya, data ini dikonversi ke dalam data yang dapat dibaca software 3D seperti Solidworks. Lalu dilakukan evaluasi di komputer, misalnya identifikasi bagian tulang yang harus dibuang, dan meng-copy bagian tersebut dengan pengganti (bisanya terbuat dari platina atau sejenis). Kemudian mengevaluasi assembly part pengganti itu terhadap mekanisme gerakan tulang rahang. Apabila pengkajian telah rampung, maka tibalah waktunya untuk mengevaluasi secara real melalui moke-up kepala, dengan jalan mem-print out data tersebut.

Setelah mendapatkan moke-up kepala hasil print, kita dapat melakukan evaluasi yang lebih tajam lagi ketimbang evaluasi virtual di komputer. Dari hasil evaluasi ini, maka ditemukanlah bentuk tulang pengganti yang telah dikaji dan diyakini paling sesuai terhadap si pasien. Setelah membuat 3D data dilakukan lagi print out untuk memperoleh model tulang pengganti. Selanjutnya model part ini dipesan pada ahli pembuat tulang pengganti.

Sekarang tibalah waktunya untuk melakukan operasi terhadap si pasien. Setelah bagian yang bermasalah dibuka, maka tulang pengganti siap untuk di-install pada tempatnya. Langkah selanjutnya tinggal menutup bekas operasi yang dilakukan. Praktis bukan? Lalu, apa bedanya dengan cara konvensional? Ya, operasi tidak perlu dilakukan dua kali. Biasanya operasi yang pertama dilakukan untuk mempelajari dan mengukur bagian yang rusak, sehingga dapat memesan tulang pengganti berdasarkan ukuran tersebut. Tapi, sering ditemukan masalah ketidaksesuaian bentuk dan ukuran antara tulang pengganti dengan tulang asli, karena kurang akuratnya pengukuran dan bentuk. Hal ini malah dapat mengakibatkan operasi yang berulang-ulang.[ds]

* Doharman Sitepu adalah seorang praktisi manajemen dalam dunia manufaktur pembuatan komponen automotif. Bidang yang didalami adalah Tooling Engineering dan Plant Improvement. Sekarang bekerja di kawasan Industri Jababeka-Cikarang sebagai Engineering Manager. Alumni AOTS Yokohama Kenshu Center-SMEs & Mold, Dies Industry, Alumni Workhsop “Cara Cerdas Menulis Buku Best-Seller Batch XII.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 3 votes)

Kedahsyatan Cinta

Khalili Anwar Andaluarbiasa.comOleh: Khalili Anwar*

Siapa pun ketika diajak berbincang cinta, hatinya bakal mengembang indah. Semua orang bakal tersenyum kala mendengar idiom cinta. Setiap orang pasti pernah mengalami perasaan cinta, meski kualitasnya berbeda-beda. Saking indahnya cinta, maka tak bakal pernah selesai dituangkan dalam bentuk tulisan hingga menghabiskan berem-rem kertas. Mengapa cinta tak pernah selesai dibicarakan? Ya karena dalam cinta sendiri tersimpan misteri yang tak bisa diekspresikan dengan kata-kata. Dan, kata-kata mewakili logika, padahal cinta melampaui logika. Ya, cinta tak bisa didekati dengan logika, hanya bisa dihampiri oleh rasa. Rasa yang tumbuh dari kesadaran terdalam. Ketika cinta telah terbit, maka seluruh persepsi logika menjadi tumbang. Karena itu, kadang orang yang telah memasuki istana cinta, akal pikiran terhenti, seluruh perhatiannya tertuju pada yang dicintai.

Tokoh-tokoh hebat dalam sejarah mengarungi perjuangan hidup berbalutkan spirit cinta. Nabi Ibrahim, karena kecintaan yang seteguh karang, dia mau mengorbankan anak yang paling disayangi, Nabi Isma’il AS yang kemudian diganti dengan seekor kibas sebagai korban oleh Allah SWT. Mahatma Gandhi dipandu dengan semangat cinta, sehingga tak pernah sedikit pun melawan penjajahan dengan kebengisan pula, bahkan dia meredamnya dengan cinta. Bunda Theresa, sosok wanita menyejarah yang terus menebarkan cinta ke mana-mana, tak ayal dia pun dihadiahi bunga cinta yang abadi dari warga dunia. Nabi Muhammad SAW pemimpin suci yang tertancap kesan soal keindahan akhlaknya, selalu memandu umatnya dengan cinta, bahkan di akhir kehidupannya beliau selalu mengulang-ulang kata disertai cinta “Umatku... umatku..!” Kecintaanya pada umat melampaui kecintaan pada dirinya sendiri. Ya, begitulah cinta telah memupus kepentingan diri menuju kepentingan universal, kemanusiaan.

Kita bisa memotret sosok besar dalam sejarah, sesungguhnya nama mereka terus berkibar karena telah menanam dan memupuk kehidupannya dengan cinta. Bagaimana kita menerapkan spirit cinta dalam kehidupan ini? Menebar cinta di mana-mana, tak sebatas bila ketemu dengan pasangan hidup, bahkan bertemu dengan siapa saja, kita bisa menabur cinta. Kita berusaha menjadi saluran-saluran cinta Tuhan yang tak berbatas dan tak bersyarat. Mulailah menebarkan cinta pada keluarga, meluas pada tetangga, teman sekantor, meluas pada umat, bahkan kemudian pada seluruh kehidupan ini. Manakala cinta kita masih terbatas, niscaya kita tidak bakal dipertemukan dengan kekuatan kita yang menakjubkan dalam hidup ini. Hanya orang-orang yang digelora cinta yang bisa mengungkit potensi besar yang terpendam dalam dirinya.

Kita bisa menengok pergulatan Muhammad Yunus, peraih nobel dari Bangladesh. Debut kesuksesan digerakkan dengan cinta tulus pada warga sekitarnya yang terimpit secara ekonomi, berikut mewabahnya aktivitas rentenir yang membikin rakyat makin tercekik. Dengan cinta yang tulus, dia terilhami mendirikan GrameenBank, sebagai wadah yang menyediakan pinjaman tanpa agunan, kendati pada mulanya mendapatkan tanggapan sinis dan pesimis dari para pelaku ekonomi. Namun, dalam waktu singkat dia membuktikan, GrameenBank, meluas pengaruhnya dan ekonomi warga terangkat, mesin ekonomi rakyat bergerak dengan cepat. Cinta memang bisa menggali potensi hero yang ada dalam diri Muhammad Yunus.

Makin luas ruang cinta, makin luas pula ruang pengaruh kita. Ketika cinta masih sebatas untuk keluarga, ya pengaruh kita hanya sebatas dalam keluarga. Tetapi ketika cinta Anda menyentuh pada masyarakat yang lebih luas, maka pengaruh Anda pun makin meluas. Kedahsyatan cinta bakal mengilhami orang lain berbuat melampaui kebutuhan diri, bahkan dirinya sendiri telah punah ditelan upaya bisa memberikan yang terbaik pada orang lain.

Bisakah spirit cinta diterapkan dalam bisnis? Cinta universal tak tersekat ruang dan waktu. Dia bisa menembus ruang dan waktu. Dalam berbisnis pun dibutuhkan cinta. Bukankah guna memikat cinta konsumen kita harus mencintainya? Pencinta selalu ingin mengetahui apa yang kiranya bisa memberikan kepuasan bagi yang dicintai. Ketika Anda telah memberikan cinta, niscaya Anda bakal mendulang cinta yang lebih banyak. Bukankah suatu yang datang dari hati, bakal mendapatkan balasan dari hati pula? Bukankah ketulusan bakal berbalas ketulusan pula?

Saat kita bertemu partner bisnis, hal awal yang berkesan adalah sikap yang terpantul. Ketika cinta telah memenuhi ruang hati, niscaya senyum pun bakal terus mengembang. Ketika Anda melemparkan senyum yang tulus pada partner bisnis Anda, maka secara spontanitas Anda bakal dihadiahi senyum yang tulus pula. Bukankah ketika hati sama-sama terbuka dan bahagia, Anda bisa melanjutkan negosiasi bisnis dengan cara yang jernih, terbebas dari rasa curiga? Bahkan, Anda akan terpandu semangat untuk bisa saling mendukung, sehingga menggapai kesepakatan saling menguntungkan (win-win solution)?

Ketika cinta telah menjadi cahaya dalam hati Anda, niscaya Anda tak pernah disusupi perasaan benci, dendam, dengki, atau kerakusan. Karena cinta tidak bakal bisa bersatu dengan kebencian dan kezaliman. Bahkan sesungguhnya cinta tak pernah punya musuh, sehingga dia terus berada dalam ketenangan. Bagaimana bila ada orang yang sudah menebar dan berlaku cinta, tetapi kok masih ada orang yang tega menipunya? Pencinta tidak pernah menganggap penipu sebagai musuh, tetapi sebagai partner untuk meneguhkan cinta. Bukankah panji cinta memang harus diuji, apa terus berkibar atau roboh? Makin sering diuji, berarti masih ada peluang semakin naiknya kualitas cinta.

Misi kita ke depan, teruslah berkarya bermodalkan cinta. Di mana-mana kita harus menanam bibit cinta agar tumbuh dan berbuah. Bahkan, dengan cinta seluruh karya kita menjadi warisan yang indah bagi generasi mendatang. Mulailah, aktivitas Anda pun dihiasi cinta. Ketika seluruh aktivitas yang Anda jalani telah dibalut cinta, maka seluruh momen ini tidak pernah membosankan, bahkan selalu menjadi detik-detik yang melulu mengalirkan spirit pada jiwa untuk bisa berbuat yang terbaik. Melewati hari-hari penuh semangat cinta, maka kecapekan karena menumpuknya aktivitas akan tertindih oleh luapan kebahagiaan.

Ada orang yang berujar, capek tapi bahagia. Memang, cinta memiliki pengaruh yang amat dahsyat demi terbentuknya sikap hidup manusia penuh bahagia. Ketika hati telah diluapi rasa cinta, berarti hati itu dalam keadaan amat sehat. Namun, ketika hati dinodai kebencian, berarti hati sedang sakit. Dari hati yang sehat akan melejit ide dan karya yang cemerlang, namun dari hati yang sakit, hanya menelurkan ide dan karya minus daya pikat. Cinta seperti cahaya, yang membabar terang di mana-mana, sementara kebencian kegelapan yang hanya bisa menebar kepekatan di mana-mana. Marilah memanggil dan menemui seluruh kosmik dengan cinta, agar kita dialuri rasa kebahagiaan terus-menerus. Menyatu dalam kebahagiaan kosmik.[ka]

* Khalili Anwar, penulis muda yang menekuni bisnis makanan ringan. Dan kesehariannya dihabiskan menulis fokus untuk motivasi spiritual. Biasa memberikan pelatihan motivasi di beberapa kampus, dan organisasi remaja. Tulisannya pernah diterbitkan Lampung Post dan Kompas Jatim. Ia bisa dihubungi di email: khalbuz[at]gmail[dot]com, dan blog: www.versus-versi.blogspot.com

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 6.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Ibuku Luar Biasa

supOleh: Supandi*

Ketika saya membaca buku-buku tentang ESQ, NLP, Berpikir besar, kekuatan God Spot, optimisme, keyakinan, dan sejenisnya, muncul pengakuan dalam diri saya tentang sesuatu yang telah dilakukan oleh ibu saya. Kalau dalam metode pengajaran dapat saya katakan seperti praktik pemberlakuan metode induksi oleh guru di kelas. Sebuah rentetan perjuangan panjang dari seorang perempuan single parent yang harus membesarkan lima anaknya hingga dewasa. Setelah sekian tahun merenungi apa yang telah beliau lakukan baru saat ini saya bisa menyimpulkan teori-teori tentang berpikir besar dan kekuatan tanpa batas berupa God Spot (suara Tuhan) yang didengungkan oleh para pakar memang benar adanya. Dan, ibu saya telah membuktikannya.

Back to record. Masa kecil adalah masa indah yang senantiasa terkenang sepanjang masa. Masa bermain dan masa tanpa beban. Bermain layang-layang adalah salah satu jenis hiburan yang cukup menyenangkan bagi anak. Bermain layang-layang di pinggir sungai merupakan kebiasaan saya di waktu kecil. Di tanggul berumput itu saya bisa menerbangkan layang-layang dengan mudah karena penuh dengan embusan angin.

Perasaan riang lebih mendominasi hati saya saat itu. Di ujung tanggul adalah jalan raya yang merupakan jalan utama Cilacap–Yogya/Semarang. Di bawah panas matahari yang sangat menyengat berjalan seorang wanita setengah baya menggendong dagangannya berupa berbagai jenis pakaian mutu rendah. Beliau bermaksud hendak menjajakan dagangannya ke desa-desa sekitar.

Perasaan riang yang tadinya mendominasi hati saya berbalik seratus delapan puluh derajat. Seketika perasaan itu berubah menjadi perasaan haru, tidak tega, dan berontak terhadap pemandangan yang saya lihat dengan mata kepala sendiri. Dengan sedikit tercengang saya perhatikan dia ternyata benar-benar ibu saya. Berjalan di bawah terik mentari dengan menggendong dagangannya.

Saya panggil beliau sekuat tenaga tetapi jerak terlalu jauh dan embusan angin lebih kuat dibanding suara saya. Akhirnya dengan ketidakberdayaan yang ada, saya biarkan beliau melakukan jihad demi sebuah kesinambungan hidup.

Sebuah pesan moral yang syarat dengan nilai spiritual quotion, thinking big, maupun keyakinan yang begitu kuat saya tangkap dari sepenggal kalimat yang beliau lontarkan dari mulut seorang ibu yang notabene tidak lulus Sekolah Dasar, namun ternyata beliau yakin benar tentang kekuatan-kekuatan tanpa batas yang saat ini banyak dilontarkan oleh para pakar SQ, thinking big, NLP, dan sejenisnya. Kalimat yang dia lontarkan keluar saat saya menyampaikan unek-unek atau isi hati saya tentang ketidaktegaan saya melihat pemandangan sebagaimana yang saya sampaikan di atas.

Bu, saya mulai besok tidak sekolah saja, ya?! Saya tidak rela dan tidak tega kalau Ibu harus berjalan kepanasan demi mencari nafkah untuk keluarga,” demikian komplain yang saya sampaikan kepada beliau.

Bagaimanakah sepenggal kalimat yang beliau katakan kepada saya? Bunyinya demikian, “Pokoke kowe kabeh kudu pada sekolah terus. Gusti Allah kuwe Maha Sugih. Aku yakin bisa. Aku ora kepengin uripmu ngemben pada sengsara.” Pokoknya kamu semua harus sekolah dan terus sekolah. Tuhan itu Mahakaya. Kalian pasti bisa sekolah. Saya tidak ingin hidupmu sengsara kelak.

Allahu Akbar, thinking big (berpikir besar) yang beliau yakini kebenarannya saat ini benar-benar menjadi kenyataan. Beliau telah membuktikan akan dahsyatnya sebuah keyakinan. Dengan keperkasaan dan kemuliaan beliau sebagai seorang single parent kami bisa merasakannya sekarang yaitu hidup relatif layak.

Allahu Akbar, saya pun bisa mengatakan bahwa saat ini beliau benar-benar menjadi manusia yang sangat mulia karena saat saya tulis artikel ini beliau tengah dinanti dan akan diambut kehadirannya oleh ribuan malaikat di tanah suci Mekah sebagai tamu Allah SWT. Allahu Akbar.

Mohon maaf kepada Anda yang kebetulan membaca tulisan saya ini. Semoga Tuhan memaafkan saya manakala apresiasi saya kepada ibu saya ini dihinggapi salah satu penyakit hati yaitu riya. Semoga Tuhan mengampuni dosa-dosa kita. Amin.[sup]

* Supandi lahir di Cilacap, 10 Agustus 1965. Alumnus Universitas Alamat Muhammadiyah, Purworejo 2002 (S-1) dan Magister Manajemen Unsoed, Purwokerto 2007 (S-2) mengajar sebagai guru di SMP Negeri 2 Binangun. Pemilik moto hidup “Lakukan perubahan!” ini tinggal di Puri Mujur 163, Kroya, Cilacap, Jawa Tengah. Ia sendiri sudah memiliki minat dan kegemaran menulis sejak masih SMP. Saat ini, Supandi sedang menyusun sebuah buku motivasi. Ia dapat dihubungi melalui telepon: 0282-494921, Hp: 081391274742, atau pos-el: supandi_mm[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.3/10 (6 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +4 (from 6 votes)

Say No for “ASA”

Muhammad Nur AndaLuarBiasa.comOleh: Muhammad Nur*

Salah satu jenis film yang saya sukai adalah film silat. Apalagi kalau bintangnya Jet Lee dan ceritanya klasik. Dalam cerita klasik, biasanya terkandung banyak nilai filosofi yang menggugah. Film Taichi Master misalnya, film ini membuat saya terkesan ketika Jet Lee (tokoh utama dalam film tersebut) digambarkan sedang mengalami depresi berat. Saudara seperguruannya yang menguasai ilmu silat sebanding dengannya telah menyalahgunakan kemampuan yang dimiliki untuk berbuat kejam kepada orang lain.

Kemudian dalam sebuah adegan digambarkan, ada serombongan orang yang sedang memikul kayu di punggungnya berjalan di pematang sawah. Tampak seorang berlari-lari menemui salah seorang pemikul kayu tersebut dan membawa kabar bahwa istrinya di rumah baru saja melahirkan.

Laki-laki yang mendengar kabar itu hanya tersenyum dan malah bingung apa yang harus diperbuatnya. Kemudian, salah seorang dari temannya berkata dengan mantap, “Mengapa termenung? Segera tanggalkan beban di punggungmu dan sambutlah hari baru!

Serta-merta laki-laki itu melepaskan ikatan di punggungnya, meletakkan kayu yang ia pikul, dan segera bergegas pulang.

Sang Jagoan kita yang mendengar dialog tersebut tergugah, ia tersenyum. Ada perubahan dalam raut wajahnya. Dengan bibirnya ia bergumam mengulang kalimat yang baru saja didengarnya, “Mengapa termenung? Segera tanggalkan beban di punggungmu dan sambutlah hari baru!

Lalu, ia pulang ke rumah, menuju kamar, dan memerhatikan sekelilingnya. Ia ingat sang guru dulu pernah membekalinya sebuah buku. Lalu, ia baca buku itu dan mulai mempraktikkan gerakan yang terdapat di dalam buku tersebut. Ia menemukan jurus baru yang lembut namun penuh kekuatan, jurus taichi.

Sesungguhnya apa yang membelengguh diri kita untuk mencapai kesuksesan? Mengapa seseorang sering menganggap kegagalan adalah akhir dari segalanya? Mungkin kita tidak memiliki cara atau paendekatan lain untuk menuntaskan apa yang tidak bisa kita kerjakan.

Kegagalan hanyalah peringatan bahwa kita harus mencoba menyelesaikan masalah dengan cara lain. Jalan menuju kesuksesan selalu dipenuhi dengan kegagalan. Orang yang sekses adalah mereka yang telah menghadapai begitu banyak kegagalan, tetapi berhasil menghadapinya.

Dalam buku yang pernah saja baca yang menjadi best-seller dunia itu, Dr. Aidh Al Qorni yang berjudul Laa Tahzan memberi pesan:Sesungguhnya kesulitan yang kita alami akan memperkuat hati, menghapus dosa, mematahkan keangkuhan, dan menghancurkan kesombongan yang ada dalam diri. Kesulitan dapat menghapus kelalaian, menyalakan semangat untuk ingat kepada Tuhan mengundang rasa belas kasihan kepada orang lain, dan berakibat kita beroleh doa dari orang saleh.

Saya sangat setuju dengan lirik yang dibawakan oleh D’Masiv (salah satu grup band papan atas) yang sering digaung-gaungkan sekarang ini, seperti liriknya yang mengatakan “Jangan menyerah, dan nikmatilah hidup ini, karena hidup adalah anugarah”. Kesulitan akan membuat yang bersangkutan tunduk pada kekuasaan Tuhan dan berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa lagi Mahamengalahkan.

Kesulitan tak ubahnya seperti larangan yang baru datang dari peringatan dini untuk menghidupkan kesadaran ingatan.

Di balik kesulitan tersembunyi kelembutan yang sangat besar dari Allah. Pemaafan yang lebih besar terhadap dosa, dan ampunan yang lebih banyak daripada kesalahan yang telah dibuat.

Jangan bersedih, karena kesedihan dapat melemahkan diri kita untuk melakukan amal baik. Kesedihan membuat kita malas beribadah, mengendurkan semangat, serta dapat membuat frustrasi. Kesedihan membuat kita berburuk sangka serta terjerumus ke dalam sikap pesimistis.

Jangan bersedih, karena sesungguhnya kesedihan dan kegelisahan yang menyelimuti adalah biang penyakit kejiwaan, sumber penyakit syaraf, penyebab timbulnya cemas, was-was, dan keguncangan jiwa.

Tanamkan dalam diri kita bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sebuah pelajaran bahwa cara yang kita pakai itu tidak berhasil dan sekarang saatnya mencoba dengan cara lain. Karena, hakikat dari belajar adalah melakukan hal yang sama dengan cara yang berbeda. Kegagalan baru akan menjadi tragedi dalam hidup kita jika setelah gagal kita tidak berusaha lagi. Akan tetapi, itu tidak akan terjadi, jika kita berusaha keras untuk mendapatkan kesuksesan dan kita tahu bagaimana cara memaknai kegagalan.

Kita mungkin sering bertanya dalam diri masing-masing, tatkala pemberian yang kita panjatkan Allah dibalas dengan kebalikkannya. Kita memohon kekuatan, dan Allah akan memberi kita kesulitan-kesulitan sehingga membuat kita tegar. Kita memohon kebijaksanaan, Allah memberi kita berbagai persoalan hidup untuk diselesaikan agar kita bertambah bijaksana. Kita memohon kemakmuran, Allah memberi kita otak dan tenaga untuk dipergunakan sepenuhnya dalam mencapai kemakmuran. Kita memohon keteguhan hati, Allah memberi bencana dan bahaya untuk diatasi. Kita memohon cinta, Allah memberi kita orang-orang bermasalah untuk diselamatkan dan dicintai. Kita memohon kemurahan, kebaikan hati dan Allah memberi kita kesempatan-kesempatan yang silih berganti.

Begitulah Allah membimbing kita, nah selanjutnya tergantung bagaimana kita menyikapi cobaan tersebut. Apakah kita ingin hidup terus-terusan dalam keputusasaan atau sebaliknya, penuh dengan pandangan ke depan dengan melihat peluang yang masih disediakan sebanyak-banyaknya untuk dirinya. Wallah a’lam bishowab.[mn]

* Muhammad Nur adalah Alumnus Ponpes Ar-Raudhatul Hasanah, Medan, Sumatera Utara. Kini dalam masa pengabdian di Ma’had selaku guru bahasa Inggris dan staf pengasuhan santri. Gemar dalam kepenulisan, diskusi, maupun kegiatan ekstrakurikuler di ponpes, serta sedang mendalami dunia kepenulisan dan motivasi. Ia dapat di hubungi melalui pos-el: muhammad.nur609[at]yahoo[dot]co[dot]id atau muhammad.nur1809[at]hotmail[dot]com, atau HP: 081396856500.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 6.7/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Untuk Apa Tidak Menabung?

Bartholomius PadatuOleh: Bartholomius Padatu*

Jenuh dengan kemiskinan dan konsep turunannya seperti; lemahnya daya beli, menyusutnya naluri kepemilikan, terjungkalnya martabat diri, termajinalkan dalam pergaulan sosial, sumber pertikaian keluarga, dll. Keadaan yang demikian tentulah, jika dinalar dengan akal sehat, merupakan keadaan yang tidak satu pun manusia rasional bersukarela bermukim di wilayah kemiskinan, apalagi menjadi “warga negaranya.” Namun faktanya, ada banyak orang yang berada pada wilayah tersebut dengan multi sebab kehadirannya.

Tulisan ini tidak berpretensi atau berkeinginan mendaftar keberadaan mereka lengkap dengan seperangkat alat analisis rigid guna memetakan faktor-faktor penyebab, terlebih memprediksi mutu masa depan mereka. Tulisan ini juga tidak bertukar-tanding dengan konseptor-konseptor lainnya yang telah menjagat-raya dengan formulasi idealis-pragmatis mereka mengenai cara jitu, kiat mujarab membongkar atau menghancurkan “Batu ginjal kemiskinan yang menyiksa”.

Jika nantinya tuturan ini pun jatuh pada wilayah yang mirip-mirip reformulasi resep cespleng, ya demikianlah adanya keberpihakan tulisan ini pada usaha-usaha getol untuk turut berkoor-ria (paduan suara) mempreskripsikan jalan tengah. Sedikit jalan baru membujuk secara halus melalui pertukaran gagasan-gagasan guna menjawab pertanyaan sakral “Bisakah orang pas-pasan” (jika tidak mau dikatakan miskin) mengepaskan kembali ukuran harapan ekonomi kehidupan mereka ke tingkat yang lebih berpengharapan, ketimbang sekadar puas dengan kata “cukup-cukupan”.

Kehadiran lembaga-lembaga keuangan, khususnya pemberlakuan mekanisme pertukaran uang, penanaman modal, atau investasi kaya model; depositolah, danareksalah, obligasi, dan macam-macam lainnya menjadi fenomena subur yang terus bertumbuh di tengah-tengah badai trust and distrust pernasabahan. Meskipun demikian, kehadiran lembaga-lembaga pengelola dana ketiga (penabung) tentunya dapat dipahami dari akar filosofis ontologis (nilai kehadiranya) hingga aksiologis (kemanfaatan). Rekapitalisasi dana minim, menjauhkan uang mereka dari tangan “keempat” (sebut saja pengutil), penjaga kebersahajaan hidup dengan mempertahankan gaya hidup sehat, paling tidak demikian beberapa rincian kemanfaatannya.

Kehendak menuliskan pemikiran ini menajam pada semangat yang berkobar-kobar sebagai pemantik penyalaan proteksi-prakondisi bagi banyak orang yang masih berputar-putar dengan ketidakbiasaan menyikapi atau menjinakkan “naluri boros mereka”, “belanja buruk”, “minus kesadaran dengan multi-disaster atau bencana”, bahkan “regenerasi ekonomi pewaris”. Sharing ide atau gagas emiksasi (memaknai) “untuk apa tidak menabung” diruncingkan untuk membangun ketangguhan finansial melalui tindakan sadar; mengamankan atau mengelola secara cerdas dan berdimensi protektif multi ancaman yang memaksa orang patuh pada logika “uang sebagai power.

Persoalannya, beberapa orang sangat serius dan kukuh memijakkan diri pada landasan logika cair bahwa “uang bukanlah segala-galanya”, sehingga membuka celah bagi koreksi pada argumentasi “uang adalah alat pertukaran lega dan powerful” di mana banyak hal akan dikaitkan dengan kemampuan pertukarannya. Dengan sendirinya pelemahan nilai atau bobot kebermaknaan uang menjadi melemah manakala ditarik dengan logika-logika lainnya yang tampaknya benar di permukaan, benar secara parsial, dan tidak mencukupi nilai keutuhan di mana uang sebagai alat mekanis dari sistem “survival life” (perjuangan melanggengkan kehidupan). Dalam hal ini orang lupa bahwa uang (ekonomi) tuntas mengukuhkan dirinya di panggung peradaban hidup manusia sebagai suprasistem dari subsistem lainnya seperti; politik, budaya, keamanan, relegi, dll.

Logika tandingan yang saya maksudkan adalah simplikasi (penyederhanaan) konsepsi-konsepsi definitif (bersipat definisi) mengenai arti limitasi esensi (batasan makna) miskin, kaya. Beragam olah batas makna kemiskinan memecundangi pribadi-pribadi tertentu menurunkan kewajiban mereka untuk hidup lebih dari kecukupan ke wilayah datar yang dimaksud hidup sederhana itu indah, sederhana itu tenang, sederhana itu keren. Seandainya yang ia maksudkan sederhana itu adalah tidak kekurangan, namun menurunkan level keberdayaan mereka dari tingkatan berkelebihan dan menahan diri pada level menengah (artinya berkelebihan namun tidak berkekurangan) tentulah saya sepaham dengan konsep kesederhanaan yang mereka maksudkan. Namun, jika mereka menggeser atau mendistorsi hidup sederhana padahal tidak berkelebihan ataupun berkecukupan tentulah pemahaman tersebut berubah menjadi “opium” pelemahan kesadaran realitas sesungguhnya bahwa kekurangan atau kemiskinan asimetris dengan nilai kesederhanaan yang sejatinya.

Logika turunan lainnya yang mengandum “opium” pelemahan realitas adalah cara berpikir “tentativitas kemiskinan” dalam periode waktu sehari. Maksudnya, beberapa orang menyukai dininabobokan oleh nalar filosofis bahwa kesusahan itu berumur satu hari, besok tidak terwariskan dengan kesusahan tersebut. Cara bernalar demikian sesungguhnya dapat dianalogikan seperti seorang yang menghindari cekikan hutang dengan meminum alkohol agar realitas di kepalanya bergeser kewilayah penyembunyian pikiran kecemasan seolah-olah dia telah pergi jauh dan hidup terlepas dari tangan-tangan peminjam yang mencekik dirinya. Tentu kita mengetahui ending analogi tersebut yaitu kembalinya “tangan-tangan pencekik utang” manakala pengaruh alkohol menguap dan kembali menyingkapkan “aura ketidakberdayaan”.

Realitas kemiskinan dengan aneka perwujudan sesungguhnya berada pada jalur prediktif, artinya dapat diramalkan daya permanennya (keabadiaannya). Kemampuan menalar keabadian kemiskinan tentunya harus ditopang dengan keberadaan pemahaman filosofis yang benar berkenaan bagaimana seharusnya menyikapi fenomena kemiskinan tersebut.

Mengubah cekikan kemiskinan tentunya dapat dimulai dengan melakukan pelurusan-pelurusan anutan-anutan prinsip yang telah dibekukan dalam ruang kesadaran. Pelurusan-pelurusan dimaksud adalah uji kepatutan anutan logika-logika yang men-drive konstruksi model kehidupan berdasarkan fondasi-fondasi filosofis. Logika-logika un-productive seperti “hidup sederhana namun sesungguhnnya berkekurangan” perlu mendapatkan pendudukan kembali makna sesungguhnya. Logika bahwa kesusahan hanya berdurasi periodik harian tentunya tidak dapat dipertahankan lagi selain segera diceraikan, dirontokkan, dan dilempar dari kamus hidup bermartabat, hidup kaya. Sejauh pribadi tertentu tidak membereskan cara berpikir tertib menyangkut cara menyikapi hal kemiskinan, kesederhanaan, ataupun kaya tentulah anomali-anomali (ketidakselarasan) menjadi fenomena keseharian yang menjungkirbalikan nalar sehat. Akibatnya jelas sebuah konstruksi kehidupan yang destruktif (mengarah pada kehancuran sistemik).

Usai membereskan beberapa anutan logika nalar yang asimetris tersebut di atas (tentunya masih banyak konsep-konsep lainnya) penting memasukkan konsep baru yakni “MENABUNG” sebagai kata kunci instrumen kontrol kehidupan yang dikehendaki, proteksi kondisi un-predictive sekaligus yang sanggup diramalkan. Mendapatkan tulisan resep menabung tentu bukan kabar yang menggembirakan atau formula mujarab temuan baru. Konsep ini sesungguhnya setua peradaban. Konsep menabung sesungguhnya telah mencuat ketika orang memahami konteks perebutan sumber daya alam. Keterbatasan sumber daya alam dan munculnya naluri liar atau serakah manusia ditambah dinamika turbulensi siklus alam yang disharmoni terhadap aktivitas penghidupan manusia memunculkan konsep “menabung dengan ragam sinonimnya” sebagai tindakan bijak, pilihan orang-orang yang berkemampuan mengelola energi hidup.

Menabung harusnya menjadi gaya hidup yang terus tumbuh secara linear dengan testimoni-testimoni khalayak yang memberikan pembenaran asumtif bahwa seabrek faedah dapat ditangguk dengan strategi menabung. Menabung dapat menjadi sarana aksentuasi simbolik kecerdasan atau kearifan hidup seseorang terkait apa yang mendatangi dirinya (uang) dan bagaimana berkreasi sekaligus berekreasi dengan kemampuan uang. Bagaimana mengutus uang untuk melakukan serentetan agenda kegiatan yang sifatnya penggandaan. Bahasa sederhananya lepas seribu datang sejuta”. Menabung dapat menjelma menjadi mesin pengaman perputaran kehidupan. Menabung dapat menjadi brand (merek) diri pribadi-pribadi yang sadar bencana, sadar ketidakpastian daya dukung lingkungan hidup. Menabung menjadi “penjara uang positif” dan membiarkan para pencuri frustrasi (tapi tidak berlaku bagi pencuri internal/pengelola saving).

Menabung membangun kesadaran kita bahwa pemborosan adalah proses pemendekan daya jangkau hidup. Nasihat bijak mengatakan “bila Anda menghabiskan semua yang Anda dapatkan, anda tidak akan pergi kemana-mana.” Daya ikat lingkungan, ruang pergerakan kebebasan menjadi pagar pembatas bagi mereka yang terus membuka kran pemborosan. Kebiasaan menabung menjadikan Anda dikenal sebagai pribadi berkejiwaan waras bencana.

Untuk apa tidak menabung? Menjadi sebuah pernyataan yang menekankan aspek pertanyaan dan menuntut kita merentang menjawab kebermanfaatannya. Untuk apa tidak menabung jika menabung dapat menjadikan kita pribadi yang bermartabat? Untuk apa tidak menabung jika menabung menjadi sarana eskalasi martabat? Benar kata penutur-penutur pendahulu yang menggaristebalkan pernyataan “HANYA ADA SEDIKIT KARAKTER DALAM KEMISKINAN”.

Besaran tabungan Anda dapat menjadi oksigen ruang icu kehidupan Anda. Tabungan Anda dapat menjadi kebun tamasya pikiran tenang manakala dunia ini mengalami kekacauan ekonomi. Kelolalah tabungan Anda bukan dengan mekanisme simpan tarik-simpan-tarik, namun sedapat-dapatnya dua kali simpan satu kali tarik’, lalu semakin menguat tiga kali simpan satu kali tarik’, dan seterusnya hingga Anda hanya menjadikan simpanan tersebut sebagai penyisihan dari situasi hidup cukup. Dan juga, Anda dapat menyisihkan kelebihannya tanpa harus berpikir menariknya kembalihingga suatu waktu ia menjadi harta karun bagi generasi selanjutnyabahkan menjadi media donasi-donasi isu-isu kemanusiaan.

Menabung dapat menjadi termometer pengukur dinamika kemajuan hidup Anda dan bukan sebaliknya kemunduran. Menabung dapat memberi Anda insentif sebuah cermin untuk mengenali seorang tua di kemudian hari dalam sebuah cermin dengan memegang sebuah pertanyaan,Bagaimana saya memperlakukan saya nantinya?”

Kemampuan Anda menata ritme tabungan menjadi sumber refleksi akan kemampuan Anda dalam menata logika atau akal budi. Mintalah nasihat hanya kepada orang yang cerdas dalam menabung, maka Anda akan dijangkitkan suatu sistem cara berpikir yang sistemik. Ia akan membawa Anda mengenali manfaat berdampak sistemik bagi kehidupan Anda di kemudian hari melalui keprigelan menabung.

Menabung pada tingkatan tertentu bukanlah aktivitas menyimpan kelebihan. Cara berpikir demikianlah yang mengempas banyak orang ke area ketidakmampuan menabung. Kelebihan bukanlah istilah atau semacam kunci untuk membuka rekening. Menakar belanja ke dalam kategori skala perioritas atau belanja baik atau buruk (menurut istilah Robert Kiyosaki) adalah mekanisme jitu untuk menemukan adanya satuan mata uang yang dapat disimpan. Menabung itu sendiri sesungguhnya harus menjadi salah satu mata anggaran belanja domestik. Menabung harus dipandang sebagai item strategis memberi makan keluarga di kemudian waktu. Berhati-hatilah dengan filosofi belanja banyak adalah keren. Pembelanja yang keren adalah orang yang mampu menakar kekuatan otot dompetnya dengan beban masa depan.

Jika ada peribahasa mengatakan “menabung pangkal kaya” saya ingin merekonstruksinya menjadi “menabung adalah keseluruhan kekayaan”. Jika ada tuturan yang mengabadikan pernyataan “ingatlah masa tuamu dengan menabung”, maka konstruksi saya adalah “pandanglah tabunganmu maka engkau akan melihat seorang nenek atau kakek sedang berbelanja dengan anggun”.

UNTUK APA TIDAK MENABUNG? Akhirnya, itu boleh menjadi pertanyaan abadi untuk dijawab oleh siapa pun, syukur-syukur menjadi sebuah buku di kemudian waktu.[bp]

* Bartholomius Padatu (disingkat BL Padatu) lahir samarinda 24 November 1974. Ia menikah dengan Selvy Handayani, S.E. dan dikaruniai seorang putri bernama Shekinah Jeshan Padatu. Padatu menamatkan studi S-1 di STT INTIM, Makassar 1993-1999, menikmati pembelajaran S-2 di Jurusan Administrasi Negara FISIPOL UGM Yogjakarta 2007-2009, dan studi S-3 sedang ditempuhnya pada 2009 di universitas dan jurusan yang sama. Pernah aktif berkesenian teater, menulis naskah, dan mensutradarai pementasan-pementasan teater. Padatu senang bertemu dengan pribadi-pribadi pembelajar.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.3/10 (7 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 3 votes)

Hidup Berlimpah Syukur!

indari mastutiOleh: Indari Mastuti*

Jika Anda tidak hidup pada kenyataan yang Anda inginkan, maka, mulailah menata pikiran Anda untuk menikmati hidup seburuk apa pun yang Anda miliki sambil terus bermimpi tentang masa depan Anda. Maka, kenyataan Anda selanjutnya pasti akan luar biasa!

~ Indari Mastuti

Dulu ketika saya kecil, di rekam jejak hidup saya, saya bukan berasal dari keluarga kaya. Hidup kami bisa dibilang memang pernah kaya, tapi terjun bebas setelah bapak sakit kronis tahunan. Hasil akhirnya, kami hidup serba kekurangan bahkan memiliki sejumlah utang dalam jumlah yang tidak sedikit.

Menginjak remaja, kesulitan ekonomi kian menjadi-jadi, maklum ayah yang sakit menjadi tidak produktif sedangkan keempat anaknya sekolah dengan biaya yang tidak sedikit. Ibu saya banting stir, kerja apa saja, dan tentu saja utang lama yang belum terbayar harus kembali menumpuk dengan utang baru.

Saya, sempat merasakan minder yang luar biasa dengan posisi ini, maklum saya yang bisa dibilang supel memiliki lebih dari 90 persen sahabat dengan ekonomi di atas rata-rata alias anak-anak borju. Saya pernah merasa bahwa saya ‘termiskin’, ‘terburuk’, ‘tertidakberuntung’, dan ter-ter lainnya.

Bersyukur, hanya sebentar saya merasakan hal itu!

Di masa-masa sulit itu, saya yang masih remaja terus meningkatkan kekuatan diri menghadapi berbagai kesulitan hidup. Saya bertekad, masa depan saya pasti akan lebih baik, bahkan jauh lebih baik. Mulailah saya berpetualang dengan hidup saya, dengan cara saya! Mulailah saya memandu masa depan saya dengan cara saya sendiri.

Salah satu hal yang membuat saya bangkit dari keterpurukan adalah RASA SYUKUR. Saya pahami, siapa pun orangnya, dari mana pun asalnya, sekaya apa pun dia, seberuntung apa pun orang itu tetap akan merasa menjadi orang ‘terburuk’ jika di hatinya tidak ada rasa syukur. Saya mulai mensyukuri hal-hal kecil yang saya miliki. Saya bersyukur karena saya memiliki banyak sahabat yang mengetahui siapa saya dan mereka tidak mempermasalahkannya, saya bersyukur memiliki adik yang sangat kompak dengan saya, saya bersyukur masih bisa melihat senyuman bapak walau sakitnya sedemikian parah, saya bersyukur masih bisa sekolah walau biaya sekolah berasal dari utang, saya bersyukur memiliki rumah untuk berteduh walaupun tidak bisa dibilang bagus, saya bersyukur bisa mendapatkan tambahan uang dari menulis walau nilainya tidak seberapa, dan banyak syukur yang saya hadiahkan untuk diri saya sendiri, tentu syukur yang saya panjatkan pada Allah SWT. Lambat laun, perasaan ketidakberuntungan saya berganti dengan perasaan-perasaan positif dalam hidup saya, dan harus saya akui perasaan itu yang mempermudah saya mencapai apa pun yang saya inginkan.

Setelah memenuhi diri dengan rasa syukur, saya mulai MENATA MIMPI masa depan saya. Ada 101 keinginan dalam hidup yang saya tulis dalam buku harian masa remaja saya. Mulai dari berapa gaji yang saya inginkan kelak, tipe rumah impian, jumlah mobil yang ingin saya miliki, karier yang akan saya raih, jumlah anak di masa depan, bahkan hal-hal besar yang pada saat menulisnya saya sempat berpikir, “Memang aku bisa meraihnya?” Tapi, pertanyaan itu saya tendang dengan kata-kata ajaib, “YA, AKU PASTI BISA!”

Masa depan saya berawal dari sana! Lebih dari 101 keinginan itu memandu saya melangkah dengan pasti dari satu langkah ke langkah lainnya. Tahun demi tahun saya lalui dengan menata mimpi, menata langkah, dan menata masa depan. Tanpa saya sadari ketika saya membuka kembali catatan itu, saya mulai mencapainya. Saya berhasil mendapatkan gaji, jabatan, karier, dan keinginan-keinginan saya tanpa saya sadari. Ketika saya mulai menyadari hal itu, saya mulai men-checklist mimpi yang sudah tercapai dan melanjutkan menata langkah untuk mencapai mimpi lainnya.

Well, saya tidak akan berpanjang lebar lagi tentang saya. Inti dari tulisan ini adalah bahwa dengan limpahan rasa syukur yang dimiliki dalam hidup akan membuka peluang baik pada masa depan.

Rasa syukur membuat mental kita bergerak ke arah yang positif. Jika secara materi Anda tidak kaya, tapi kekayaan hati Anda membuat Anda merasa lebih nyaman, jika secara IQ Anda bukanlah orang yang pintar tapi kestabilan syukur membuat EQ Anda memenuhi seluruh jiwa. Dengan kata lain, rasa syukur mampu memancarkan energi-energi positif dalam pikiran sehingga dapat menarik kelebihan-kelebihan dalam diri dan mengabaikan kekurangan-kekurangan dalam hidup Anda.

Rasa syukur menjadi salah satu bukti dan bentuk terima kasih kepada Allah SWT karena sudah memberikan keluarga, keadaan, napas, fisik, pikiran, dan segala sesuatu yang ada dalam hidup Anda tanpa keluh kesah. Dan, inilah umat yang Allah cintai. Hidup tanpa keluh kesah namun dengan reaksi positif menanggapi segala persoalan dalam hidupnya.

Kebanyakan dari manusia merasa pesimis pada masa depannya ketika dia menyadari bahwa kenyataan yang dialami saat ini jauh dari apa yang dia inginkan. Orang miskin berpikir bahwa hingga ketujuh turunannya akan tetap miskin, orang bodoh menganggap kebodohannya adalah penyakit turun temurun, orang cacat berpikir kecacatannya akan menghambat hidupnya sampai kapan pun, dan berbagai persoalan manusia yang kadang dianggap dapat memutus masa depan yang lebih gemilang. Padahal, jika saja semua orang pandai melihat tanah dibandingkan langit, melihat persoalan orang lain dibandingkan menangisi persoalan dirinya maka dia akan takjub pada diri sendiri dan menyadari bahwa dirinya lebih beruntung dibandingkan yang lainnya. Jika saja yang dilihat oleh semua manusia adalah sisi positif bukan sisi negatifnya semata, maka manusia akan takjub pada dirinya sendiri bahwa begitu banyak yang harus disyukuri dibandingkan ditangisi.

Manusia harus percaya dan lagi-lagi harus menyakini bahwa “di balik kesulitan ada kemudahan, di balik masalah ada makna tersembunyi”. Klise memang, tapi itulah yang sebetulnya terjadi pada manusia. Jika manusia bisa memanfaatkan kesulitannya ke arah yang positif, niscaya dia akan mendapatkan banyak kemudahan-kemudahan di masa depannya!

Lantas, apa yang harus kita lakukan untuk melimpahi hidup kita dengan rasa syukur untuk kemudian mendapatkan buah manis darinya?

  1. Lihatlah sesuatu dari sisi positif

Lihatlah tangan kiri Anda jika Anda tidak memiliki tangan kanan, syukuri sepeda Anda jika Anda tak punya motor, berbahagialah dengan adik Anda yang baik jika Anda jengkel dengan kakak Anda yang menyebalkan, tersenyumlah pada kekayaan batin Anda walau Anda ‘belum’ memiliki kekayaan harta.

  1. Menyakini masa depan Anda akan jauh lebih sempurna

Jika Anda yakin, maka Anda bisa. Jika Anda menganggap masa depan Anda akan sekelam masa sekarang, percayalah begitulah keadaaannya kelak. Begitupun jika Anda percaya masa depan Anda akan begitu indah dan sempurna, maka Anda akan mendapatkannya. Nah, semua kembali pada keyakinan Anda.

  1. Fokus pada penajaman kelebihan Anda

Tidak ada manusia yang diciptakan sia-sia! Anda, saya, dan manusia mana pun di mana pun lahir ke dunia dengan satu tujuan, yaitu BERGUNA. Oleh karena itu, manusia harus benar-benar berguna dengan memokuskan diri pada kelebihannya bukan menangisi kekurangannya.

  1. Lihatlah orang lain yang kurang beruntung dari Anda

Jika Anda sudah patah arang dengan diri Anda, akan lebih tersiksa jika Anda membandingkan Anda dengan orang ‘di atas’ Anda. Kalau sudah begini akan sangat bijak jika Anda mulai melihat ke tanah, dan berhenti melihat langit. Lihatlah orang yang kurang beruntung dibandingkan Anda. Dengan begitu Anda akan menyadari bahwa Anda terlahir lebih istimewa.

  1. Beri penghargaan untuk diri Anda

Berilah penghargaan pada diri Anda jika Anda berhasil melakukan sesuatu yang positif. Misalnya saja, Anda sudah berhasil berlari sejauh 2 km padahal biasanya Anda hanya mampu 1 km. Penghargaan-penghargaan kecil untuk diri Anda sendiri, akan mampu mendorong motivasi Anda untuk mencapai hal-hal lainnya. Tentu ini juga akan semakin menyempurnakan rasa syukur Anda.

  1. Miliki peta masa depan

Jika Anda sudah memiliki blueprint masa depan, maka sudah pasti langkah Anda akan lebih tertata dan terarah. Kalau sudah terarah dan tertata maka satu per satu impian Anda akan terwujud dan kalau begitu, biarpun impian kecil yang teraih, rasa syukur Anda akan bertambah dan terus bertambah.

Nah, selamat melimpahi hidup Anda dengan rasa syukur![im]

*Indari Mastuti Rezki Resmiyati Soleh Addy, atau memiliki nama pena Indari Mastuti lahir di Bandung, 9 Juli 1980. Alumnus Universitas Pasundan ini sudah gemar menulis sejak SD dan telah menelurkan lebih dari 50 buku. Saat ini, Iin tinggal di Bandung dan memimpin Indscript Creative, sebuah publishing service yang memproduksi naskah buku-buku psikologi popular, pendidikan, sains, penunjang, serta berbagai naskah buku bertema bisnis. Iin dapat dihubungi melalui website: www.iien.tk, www.indscript.com atau telepon: 022.70402352/081321811219.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.9/10 (14 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +5 (from 5 votes)

Wilson Arafat: Satu Menit Kita Tidur, Satu Tahun Negara Lain Sudah Berlari

Wilson Arafat

Wilson Arafat

Wilson Arafat adalah seorang Corporate Governance and Corporate Culture Specialist, penulis buku-buku manajemen, dan professional writer. Sekarang, pria kelahiran Palembang, 21 Maret 1972, yang sehari-hari bekerja di BTN ini semakin sering memberikan pelatihan-pelatihan tentang GCG di berbagai perusahaan, termasuk birokrasi pemerintahan. Belakangan ini, selain sedang bersemangat memberikan seminar-seminar dan pelatihan mengenai pentingnya penerapan GCG, Wilson juga terus menelurkan konsep-konsep dan model-model aplikasi GCG, baik dalam format ratusan artikel, paper atau makalah ilmiah, dan buku popular.

“Sepuluh tahun terakhir saya ber-‘asyikmasyuk’ dengan GCG. Dan, saya melihat hal ini penting untuk dibumikan di negeri ini,” jelas Wilson dalam sebuah wawancara online. Selain demi menyongsong ketatnya persaingan global, Wilson melihat urgensi penerapan GCG adalah untuk menciptakan keseimbangan di antara berbagai kepentingan semua pihak terkait dalam korporasi. “Apalagi di perusahaan, ketika enggak imbang antara kepentingan pemegang saham dengan kepentingan manajemen, maka akan terjadi kerusakan. Pada akhirnya, tidak ada check and balances. Tinggal tunggu waktunya, perusahaan atau apa pun akan hancur, KKN menggurita,” jelas alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta ini.

Namun, bukan soal GCG saja—sebagaimana akan kita kupas dalam paruh pertama wawancara ini—yang dia kuasai. Suami dari Ina Marlina dan ayah dari Fathir Filbert Fahrudin ini sudah menelurkan enam buku manajemen/marketing serta dikenal piawai sekali menulis untuk perlombaan karya tulis. Tak kurang sepuluh award atau penghargaan dia raih dari berbagai perlombaan menulis artikel maupun karya ilmiah popular untuk bidang manajemen, pemasaran, dan perbankan. Soal kiat-kiat memenangkan perlombaan menulis inilah yang akan menjadi fokus paruh kedua wawancara ini.

Wilson Arafat adalah sosok pemikir muda berbakat yang seolah muncul meneruskan tradisi intelektual dan keilmuan dari para tokoh pemikir andal dari Tanah Sriwijaya. Dia tinggal menunggu waktu saja untuk semakin bersinar dalam kiprah profesional maupun pengabdiannya kepada masyarakat. Ide-idenya terus mengalir dan semangatnya tidak pernah padam untuk senantiasa berkarya. Banyak pelajaran yang bisa kita petik dari semangat maupun gagasan-gagasan Wilson. Berikut petikan wawancara Edy Zaqeus dari AndaLuarBiasa.com dengan Wilson Arafat belum lama berselang.

Sudah berapa buku yang Anda tulis dan apa saja temanya?

Sudah enam buku, buku kesatu dan kedua bertema marketing, ketiga manajemen perbankan, keempat dan kelima tentang Good Corporate Governance atau GCG, dan keenam saya sebagai ghost writer buku tentang leadership.

Bagaimana ceritanya, selain berkarier di perbankan Anda akhirnya menekuni bidang GCG?

Kalau boleh bercerita sedikit, petualangan ‘intelektual’ saya cukup berliku hehehe… Mulanya saya berminat menjadi marketer sejati. Studi S-2 saya fokus ke marketing. Cuma dalam perjalanan karier, saya menemui banyak jenis pekerjaan. Misalnya, mengelola manajemen perbankan dan manajemen strategik. Namun, sepuluh tahun terakhir saya ber-‘asyikmasyuk’ dengan GCG. Dan, saya melihat hal ini penting untuk dibumikan di negeri ini. Ide-ide saya cukup banyak yang ingin saya tuangkan sebagai sumbangsih pemikiran saya. Artikel, makalah, dan paper saya sudah dimuat di berbagai media, diapresiasi sejumlah lembaga, dan saya tuangkan juga menjadi buku. Jadinya saya sekarang fokus menjadi corporate governance and corporate culture specialist.

Dari tema-tema buku GCG yang sudah Anda tulis, masing-masing apa bedanya?

Buku How to Implement GCG Effectively mengungkap horizon delapan langkah strategis dalam membumikan sistem dan budaya GCG. Buku ini menguraikan secara big picture bagaimana membumikan GCG secara efektif. Buku Smart Strategy for 360 Degree GCG: Simple, Clear, and Applicable. Buku ini mengupas tuntas bagaimana strategi melaksanakan GCG dengan sebaik-baiknya. Lengkap diuraikan tahapan dan langkah-langkahnya sesuai best practice. Dan, sekarang saya lagi proses memuat buku GCG ketiga berjudul How to Assess GCG Effectively: To be A trusted Company. Ini merupakan pedoman komprehensif untuk mengukur kinerja penerapan GCG.

Anda mahir membuat model-model teoritikal. Bagaimana cara mengasah dan mengembangkan keterampilan tersebut?

Kata Einstain, maestro yang sangat saya kagumi, “Belum dikatakan seseorang itu pakar kalau orang itu belum bisa membuat sesuatu yang rumit menjadi sederhana.” Ini yang saya pegang. Saya berupaya membuat sesuatu yang teoritikal, kata orang rumit, bisa jadi model. Cukup satu gambar, tidak lebih dari satu halaman. Jadi, kuncinya adalah berpikir sederhana dan membuat sesuatu yang rumit itu jadi simple.

Untuk buku-buku GCG, model apa saja yang sudah Anda ciptakan?

Ada Model Indeks/Peratingan GCG, ada model implementasi strategi yang saya namakan GCG Strategy Map 3, Road Map Implementasi GCG, Model Peta Sukses Meraih Tata Kelola yang Baik, Model Transformasi Budaya GCG, dan ada beberapa yang lain.

GCG

GCG

Sebagai awam, pertanyaan saya apa urgensi GCG bagi perusahaan/organisasi yang baru berkembang maupun yang mapan?

Urgensinya terletak pada esensi dari penerapan GCG itu. Yaitu menciptakan keseimbangan antara kepentingan sosial versus ekonomi. Imbang antara kepentingan internal versus eksternal. Imbang antara kepentingan stakeholders versus shareholders. Imbang kepentingan jangka pendek versus jangka panjang. Imbang antara tujuan komunal versus individual. Menurut saya, semua kehancuran di Republik ini adalah karena ketidakseimbangan di berbagai bidang. Contohnya, banjir itu karena kesimbangan terganggu, habitat alam sudah rusak. Apalagi di perusahaan, ketika enggak imbang antara kepentingan pemegang saham dengan kepentingan manajemen, maka akan terjadi kerusakan. Pada akhirnya, tidak ada check and balances. Tinggal tunggu waktunya, perusahaan atau apa pun akan hancur, KKN menggurita. Nah, GCG akan memberikan keseimbangan, itulah urgensinya.

Apakah aplikasi GCG masuk juga ke ranah organisasi birokrasi pemerintahan?

Kalau ranah organisasi pemerintah namanya Good Public Governance. Prinsipnya sama, variabelnya yang beda, scope-nya juga lebih luas karena melibatkan tiga pilar; pemerintah itu sendiri, dunia usaha, dan masyarakat luas. Ketiga pilar itulah yang nantinya akan menentukan terciptanya Good Public Governance. Semua memainkan peranannya masing-masing. Jadi, pada organisasi pemerintahan juga menjadi keniscayaan.

Birokrasi pemerintahan selalu dipersepsi sebagai organisasi lamban dan tidak inovatif. Apakah bisa ditransformasikan ke birokrasi modern yang punya sikap setanggap korporasi-korporasi modern misalnya?

Wah, pertanyaan yang sungguh luar biasa panjang jawabannya hehehe…. Namun untuk Indonesia, kata kunci sangat signifikan—kalau mau berhasil mentransformasi birokrasi mendekati ketanggapan korporasi—menurut saya itu di sisi leadership. Penting sekali di Indonesia. Beberapa gubernur di Tanah Air, karena punya visi entrepreneurship, mereka bisa melaksanakannya. Sayangnya, mereka sangat kecil jumlahnya. Yang ada adalah leadership yang kental dengan ‘darah politik’. Menurut saya, perlu birokrat-birokrat yang berjiwa entrepreneur sehingga leadership-nya kental juga ke visi inovasi. Jangan habiskan waktu kita hanya untuk politik yang menguras tenaga, pikiran, dan biaya yang luar biasa. Ini era informasi dan abad globalisasi, Bung hehehe…. Satu menit kita “tidur”, satu tahun negara lain sudah berlari. Jadi menurut saya, pada saat ini leadership-lah yang menentukan “hitam-putih” organisasi pemerintahan.

Apakah model GCG mampu mengakomodasi pandangan Anda tersebut. Atau, Anda berminat mengembangkan model-model baru untuk modernisasi birokrasi?

Saya ada ‘mimpi” ke sana. Mudah-mudahan juga bisa memberi sumbangsih yang signifikan untuk masyarakat kita. Model GCG tentu mampu mengakomodirnya. Tentunya diperlukan political will untuk itu. Dengan kata lain, prinsip GCG adalah meletakkan ‘kamar’ masing-masing organ organisasi sesuai pada tempatnya. Jadi, prinsip-prinsip GCG sangat diperlukan untuk modernisasi organisasi pemerintah. Doakan kerja saya itu ya….

Ok, kalau ada permintaan pelatihan-pelatihan untuk birokrasi pemerintahan daerah misalnya, apakah tertarik dan siap meladeni?

Itu sudah saya jalani itu. Misalnya, di Permerintahan Daerah Sabang. Sangat menarik itu. Menata Good Governance di daerah istimewa, di wilayah yang istimewa juga. Saya sangat siap.

Profesi

Profesi

Untuk menyelesaikan setiap buku yang Anda tulis, rata-rata butuh berapa lama?

Lebih kurang satu bulan, itu sudah draf final. Jadi minus layout, editing, advice konsultan, cover, minta endorsement, dsb.

Buku-buku Anda padat dengan referensi teori. Bagaimana teknik menulis buku semi ilmiah seperti itu dalam waktu singkat?

Pertama, jadikan menulis sebagai ‘darah daging’ kita, denyut jantung kita. Itu untuk menorehkan sejarah emas selama kita masih bisa berkarya di dunia ini. Dengan demikian, kita akan mencintai pekerjaan kita sebagai penulis. Akan ada sejumlah energi yang sungguh dahsyat yang membuat kita dibimbing dari Langit untuk menulis dengan lancar. Kayak air mengalir hehehe… Dengan demikian kita tidak pernah merasa lelah menulis. Dan, apa yang kita dengar, apa yang kita lihat, apa yang kita baca, semuanya bisa jadi referensi untuk menulis. Alam semesta adalah guru, bertemu kolega adalah guru. Bahkan, bertemu pengemis dan minta tolong sama pembantu adalah guru juga. Mereka juga profesor-profesor saya, selain buku-buku yang saya baca.

Dan, kata Anda menulis juga perlu berdoa?

Ya, jangan pernah lupa berdoa ketika menulis. Mohon kepada-Nya supaya dibimbing untuk menulis dan hanya memberikan hal yang berharga kepada ‘dunia’. Percaya atau tidak, ini adalah kekuatan yang paling dahsyat. Menurut saya, itu soft side kita dalam menulis. Selain itu, kita perlu hardside-nya. Kita harus piawai dengan ilmu menulis dan harus menguasai ilmu yang kita tulis. Belajar ilmu menulis di antaranya ikut workshop menulis, bergaul dengan komunitas dan penulis andal seperti Edy Zaqeus hehehe….

Kalau cara menguasai bidang kepenulisan kita, ada kiatnya?

Kiat menguasai ilmu yang ditulis, saya juga punya. Kita harus paralel dengan apa yang kita kerjakan sehari-hari. Sepuluh tahun terakhir saya bergelut dengan GCG. Menjadi narasumber workshop, seminar, dan juga langsung terjun ke lapangan. Saya merasakan ‘denyut nadi’ berbagai persoalan yang terjadi di lapangan. Selain itu, kita harus membaca banyak literatur. Dengan demikian, pekerjaaan sukses dan bisa pula berkarya lewat goresan pena, malah bertambah lancar. Intinya adalah bekerja dan menulis dengan smart, itu orang-orang sukses yang bilang.

Smart Talk Show

Smart Talk Show

Satu-satu saja, ya. Penghargaan untuk tema GCG antara lain; pertama, dari Center for Good Corporate Governance, FE UGM. Kedua, dari Bank Indonesia. Ketiga, dari BPKP. Keempat, dari Bank BNI dapat dua kali penghargaan. Kelima dari Universitas Trisakti. Sedang untuk tema marketing; pertama, dari Nokia Marketing Award saya menang dua kali penghargaan. Kedua, dari Bank BTN. Sementara untuk tema perbankan; pertama, dari LP3ES dan Yayasan Damandiri, dan kedua dari Universitas Indonesia.

Apa rahasianya bisa menang kompetisi penulisan begitu seringnya?

Rahasianya ada empat. Pertama, tulisannya harus sistematis, mengalir, dan pilihan katanya ada “kekuatan” besar. Kedua, tulisan harus original. Hal ini dapat kita tuangkan melaui model, inovasi, dan tak lupa harus applicable serta cost effective. Ketiga, tulisan harus memberikan value yang berharga, misalnya mengandung usulan yang bermanfaat bagi perusahaan yang menerapkkannya. Keempat, jangan lupa berdoa sebelum enter atau mengirim ke panitia lomba hehehe….

Dalam karya-karya seperti itu, bagaimana peran dan proporsi referensi teori, analisis, kasus, dan opini pribadi?

Semua memainkan peranan yang sungguh besar, seperti mobil ada stir, ban, velg, rem, dashboard, dll. Semua memainkan peranan penting. Bagaimana mobil BMW yang mahal itu kalau tanpa ban tanpa stir? Teori membentuk kerangka berpikir kita, framework yang terarah. Kasus akan melihat best practice atau benchmarking yang sangat penting untuk aplikasi konsep atau teori yang ada. Analisis dan opini adalah ‘value‘ yang kita tawarkan berdasarkan teori dan kasus yang kita kuasai tadi. Di sinilah letaknya nilai tulisan kita. Kita bicara teori dan konsep yang diselaraskan dengan data dan fakta. Lalu kita lontarkan value yang menurut kita bermanfaat.

Setiap lomba penulisan pasti punya persyaratan tema dan teknis penulisan. Bagaimana Anda mencermati itu sehingga Anda selalu berhasil memenangkan penjurian?

Cermati dengan sangat saksama persyatannya. Prediksikan apa yang diinginkan oleh lembaga penyelenggaranya. Itu harus kita pahami benar. Setelah itu, baru kita kumpulkan segenap informasi yang akan memenuhi persyaratan dan keinginan lembaga penyelenggara. Baru kemudian menulis dengan bahasa yang punya power, mengalir. Dan, buatlah sesuatu value yang berharga sebagai saran yang kita lontarkan sehingga karya kita dihargai oleh penyelenggara. Jangan lupa, itu harus beda dengan yang sudah ada, harus orisinal, ada inovasi dari penulis. Kalau kita berhasil membuat tulisan seperti itu, biasanya juara hehehe….

Keluarga

Keluarga

Dengan kata lain, harus ada riset untuk setiap tulisan?

Iya, bisa dikatakan begitu. Terutama untuk karya ilmiah. Kalau berbentuk tulisan atau artikel pendek, kita cukup menjalin riset ‘kecil-kecilan’ berdasarkan apa yang dilihat, didengar, dibaca, dan ditulis dengan bahasa yang padat.

Apakah harus selalu ada ide-ide inovatif dan kreatif dalam setiap karya tulis untuk perlombaan?

Penyelenggara mau memberi hadiah yang besar tentu untuk ‘membeli’ ide, bukan? Menurut saya, itu keharusan kalau mau juara hehehe…. Ide yang kreatif dan inovatiflah yang dicari.

Bagaimana cara menyemaikan ide-ide kreatif dan inovatif itu? Susah dipaksa muncul kalau memang tidak ada?

Menurut saya, ide itu seluas langit dan bumi. Terlalu banyak, di Indonesia ini, yang harus diinovasikan dan dikreatifkan. Berpikir saja bagaimana supaya lebih mudah, lebih murah, lebih cepat, lebih reliable, lebih… lebih… dan lebih, itu ‘pasti’ akan inovatif dan kreatif. Kita paparkan teori, fakta, kita tawarkan ide dan value, kita tunjukkan caranya, lalu kita buktikan itu bisa lebih murah, lebih cepat, lebih, lebih, dan lebih…. Begitu kalau dari pengalaman saya.

Apakah dalam menulis karya untuk lomba Anda juga sudah mengantisipasi tulisan-tulisan kontestan lain akan seperti apa, sehingga mungkin dari situ Anda bisa menyajikan nilai lebih tersendiri?

Kalau peserta lain saya ‘tidak peduli’ hehehe…. Tanda petik, ya. Cuma saya mencari artikel di luar yang terbaik, kata Tung Desem (motivator: red) bergurulah pada orang nomor 1. Makanya, saya cari yang terbaik di bidang yang saya tulis. Kalau GCG namanya Sir Adrian Cadbury, dialah yang dianggap sebagai salah satu suhunya. Kalau menulis, ya berguru pada Edy Zaqeus hehehe…. Jadi, saya berusaha ‘menyaingi’ penulis terbaik di bidang yang ditulis. Kalau bisa saya harus lebih. Soal peserta lain, biarin saja mereka mau menulis apa hehehe….

Sejauh ini, apa manfaat yang bisa Anda petik dari proses penulisan buku maupun karya-karya ilmiah?

Sangat sinergis, saling mendukung. Menulis adalah salah satu bagian dari ‘menorehkan’ track record penulisanya. Menulis akan membentuk image yang baik. Terlebih lagi, kata Publilius Cyrus, “Good reputable is more valuable than money.” Lebih berharga dari tumpukan pundi-pundi, lho…. Jadi, manfaatnya banyak sekali. Dari segi ilmu kita bertambah, dari image itu menopang kita, dari penghasilan cukuplah hehehe…. Dari sisi teman, tambah banyak network. Kata orang, high risk high return. Maka, menulis itu high return no risk. Bahkan, pekerjaan saya sebagai pembicara publik dan konsultan jadi mudah dipercaya orang. Intinya, menulis sangat menopang karier kita.

Kalau menulis buku seperti George Aditjondro itu high risk, enggak?

Hahaha…. Itu bukan ranah saya. Apa lagi saya belum baca….

Iya, bercanda. Ok, terima kasih wawancaranya. Sukses untuk Anda!

Baik, mudah-mudahan bisa mengispirasi dan bermanfaat bagi teman-teman semua. Terima kasih. Salam bestseller![ez]

Foto-foto: dokumentasi pribadi.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 6.9/10 (8 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Warisan Budaya Bangsa Memanggil Kita semua

Meta Sekar Puji Astuti AndaLuarBiasa.comOleh: Meta Sekar Puji Astuti*

Pertama kali mengunjungi pulau Ternate, pulau indah di provinsi Maluku Utara yang sarat nuansa sejarah khususnya sejarah kolonial Indonesia, saya diperkenalkan dengan kata kastela. Saya mencoba mengingat di mana saya pernah mendengar kata ini, ya? Sebagai catatan, dalam bahasa serapan Ternate, kata ini berarti castle atau kastila alias benteng atau istana dalam bahasa Indonesia. Sebagai pengajar bahasa Jepang, tentu saja wajib bagi saya untuk mengenal kosa kata bahasa Jepang. Setelah agak lama berpikir, muncullah kosa kata ini dalam ingatan saya. Istilah ini ada dalam perbendaharaan bahasa Jepang yang tentu saja termuat dalam kamus bahasa Jepang.

Dalam bahasa Jepang kata kastela (yang diucapkan kastera di lidah orang Jepang) dikenal sebagai nama sponge cake atau kue bolu berwarna kuning, dengan tekstur dan cita rasa sangat lembut. Kata ini serapan dalam bahasa Portugis, berasal dari kata paõ decasthela (roti dari kerajaan). Kuliner dan istilah ini mulai dikenal di Jepang sekitar abad ke-16 ketika pedagang Portugis mengunjungi Jepang.

Awalnya, saya anggap sebuah kebetulan belaka. Sampai akhirnya, untuk memenuhi perasaan penasaran, saya coba melakukan semacam observasi kecil-kecilan. Ada enggak ya kaitan kastela Jepang dengan kastela versi Indonesia ini?

Di Ternate ternyata terdapat banyak sekali kastela, baik kecil maupun besar yang tersebar di seluruh pelosok pulau kecil ini. Dinamakan kastela karena Ternate yang dikenal akan cengkehnya ini pernah dijajah Portugis yang ingin memonopoli perdagangan cengkeh di wilayah ini. Bangsa Portugislah yang pertama kali membangun benteng ini. Akibatnya, kata kastela menjadi kata serapan di Ternate hingga saat ini. Bangunan kesultanan Ternate sekarang ini juga bekas salah satu lokasi benteng Portugis pertama kali. Karena kerusuhan, para tentara Portugis yang tinggal di benteng itu diusir oleh kesultanan Ternate. Maka, diubahlah fungsi benteng itu menjadi bangunan tempat tinggal sultan Ternate, hingga kini.

Meskipun Portugis hanya sempat menjajah wilayah ini dalam jangka waktu pendek, namun beberapa bangunan, kata serapan, maupun pengaruh kuliner masih dipergunakan hingga saat ini. Ada meriam, peniti, kamar, bola, (hari) Minggu, adalah beberapa kata yang merupakan serapan dari bahasa Portugis.

Sementara di Jepang, bangsa Portugis pernah singgah di negara kepulauan tersebut. Salah satu maksud kedatangan bangsa Portugis adalah untuk memperluas ajaran Kristen, sekaligus melakukan ekspansi perdagangannya ke wilayah ini. Franciscus Xaverius datang ke Jepang bermaksud mengajarkan ajaran Kristen. Sayangnya, misi ini gagal dan orang-orang Portugis dibantai karena ketakutan bangsa Jepang akan ajaran-ajaran baru dari dunia Barat. Anehnya, meskipun bangsa Portugis di kemudian hari dicap sebagai musuh dan bangsa bar-bar bagi masyrakat, beberapa budaya dan tradisinya kelak diadaptasi oleh bangsa Jepang.

Dalam kuliner Jepang dikenal nama tempura dan pan dari kata paõ (roti) dalam bahasa Portugis. Ternyata kuliner yang satu ini juga diperkenalkan oleh bangsa Portugis kepada bangsa Jepang. Demikian pula cake castela yang di kemudian hari begitu digemari oleh bangsa Jepang yang merupakan warisan kuliner Portugis.

It’s a small World, after all” adalah syair lagu di Disneyland. Jepang dan Ternate, terhubung benang merah dengan kata kastela!

Saya menjadi setuju dengan sejarawan yang mengatakan, meskipun Portugis hanya melakukan penjajahan secara singkat, namun penyebaran budayanya cukup melekat. Contohnya di Jepang dan di Ternate itu. Bahkan di Indonesia, banyak sekali bahasa yang merupakan serapan dari bahasa Portugis yang masih dipergunakan sampai saat ini. Meriam misalnya, yang cukup unik sejarahnya. Orang Portugisketika selesai menembakkan meriamnyaselalu melakukan doa Rosario dan menyebutkan kata Maryam. Orang lokal Ternate, mengira Maryam adalah sebutan untuk meriam itu. Sementara, kata Minggu adalah sebutan “Hari untuk Dominggo” atau hari beribadah si Dominggo. Hasilnya, Minggu untuk pengganti Ahad dari bahasa Arab.

Meski budaya dan sejarah Ternate sangat menarik, sangat disayangkan publikasi mengenai sejarah Ternate dan Maluku Utara masih terbatas. Ada beberapa ilmuwan yang telah menuliskan sejarah ini. Antara lain Des Alwi, juga almarhumah Irza Anyta Djafaar, dan beberapa lainnya. Namun harus diakui sejujurnya, masyarakat Indonesia kurang mengenalnya secara luas. Padahal, ketertarikan bangsa Barat akan rempah-rempahlah yang mendorong “nafsu” kolonialisme dari konsep Gospel, Glory, and Gold di masa lalu, sebenarnya bermula dari titik Ternate dan kepulauan Maluku yang begitu kaya akan rempah-rempah.

Ah, saya jadi ingin bercerita tentang kastela atau benteng di Ternate. Di Ternate tersebar beberapa benteng baik peninggalan Portugis maupun Belanda. Bahkan, benteng Oranje adalah benteng pertama Belanda di Indonesia. Memasuki benteng-benteng di Ternate bagaikan memasuki mesin waktu dan mengingatkan kejayaan Ternate akan rempah-rempahnya. Beberapa ilmuwan dan sejarawan percaya Columbus sebenarnya mencari kepulauan Maluku untuk mencari emas hitam, dan bukan secara sengaja mencari benua Amerika. Sebuah insiden tanpa sengaja yang membuat Colombus salah arah hingga dirinya masuk ke wilayah Amerika Serikat masa sekarang. Konon, menurut para sejarawan yang mendukung teori ini, bangsa asli Amerika disebut Indian. Istilah yang sangat mirip dengan kata Indies, bukan?

Bisa dibayangkan jika Ternate berhasil ditemukan oleh bangsa Spanyol pada masa itu. Sekadar berkhayal, jika sang Columbus sampai tujuan sesuai arah, mungkin Hollywood aka nada di pulau Jawa, dan New York barangkali ada di kepulauan Maluku! Mungkin bahasa nasional kita menjadi bahasa Inggris. Ah, ini kan hanya sebuah imanjinasi belaka…. Jangan hiraukan fantasi saya, ya hehehe…

Beberapa benteng di Ternate masih tampak terpelihara meskipun sebagian besar tampak tersia-siakan. Benteng Oranje, meski tampak utuh, benteng tertua yang dibangun oleh VOC ini menyedihkan kondisinya. Sangat disayangkan karena sepatutnya benteng ini dijaga. Sebab, pemandangannya kurang sedap dari sisi estetika sehingga terkesan amburadul. Benteng ini masih dihuni oleh warga biasa. Kebiasaan penduduk yang kurang menjaga lingkungan menyeret mereka untuk juga kurang menjaga keindahan dan kebersihan. Sekadar ingin berbagi suasana, gantungan baju dan pakaian merupakan pemandangan umum di benteng ini. Sampah juga tersebar di mana-mana serta suasananya kurang teratur. Tidak ada kesadaran untuk menjaga bangunan tua.

Bentuk fisik benteng ini juga sudah berubah. Tembok mulai uzur dimakan usia hanya diplester dengan semen seadanya, tanpa perencanaan detail dari ahli konservasi bangunan. Lonceng di atas pintu gerbangnya telah diangkat dan dipindahkan ke tempat lain, ke sebuah gereja di wilayah Ternate. Sangat disayangkan. Bentuknya aslinya yang unik dan mirip benteng-benteng di wilayah Amerika Selatanyang mengingatkan kita film-film koboi—sayangnya sudah tidak bisa kita nikmati saat ini. Pun, siapa bisa memastikan properti di dalamnya aman dari gangguan tangan? Kesadaran kita sebagai bangsa belum terlalu tinggi untuk menjaga dan merawat warisan budaya semacam itu. Malaysia yang berhasil “mengutak-atik” dan mengklaim perbendaharaan warisan budaya kita adalah salah satu cermin, betapa ringkihnya sistem pertahanan kita akan pelestarian budaya dan warisan cagar budaya.

Selain di Ternate dan Buton, sebenarnya di wilayah Timur Indonesia banyak sekali bangunan masuk kriteria pusaka bendawi (tangible heritage) yang menarik. Misalnya di Banda, wilayah Maluku, Makassar dengan Fort Rotterdam-nya, dan benteng di Bau-Bau, Buton. Benteng di Buton ini merupakan benteng yang unik karena dibangun dengan karang atol. Lebih menariknya lagi karena didirikan oleh inisiatif anak bangsa, bukan dari bangsa asing seperti benteng-benteng lainnya. Sebuah catatan kecil, bentuk dan lokasi benteng Wolio di Buton ini mengingatkan saya akan bentuk dan material yang sama dengan benteng Shurijo di Naha, Okinawa, Jepang.

Sayangnya, sekali lagi seribu sayang. Kenyataan membuktikan kurang adanya keseriusan baik dari pihak pemerintah maupun masyarakat setempat. Dari sekian benteng yang pernah saya kunjungi, satu benteng yang cukup terawat dan memang telah diubah fungsi menjadi museum sepenuhnya adalah benteng Vrederburg, kebanggaan kota Yogyakarta. Perawatan benteng ini dilakukan secara cukup serius, meski ada beberapa catatan untuk manajemen benteng ini. Informasi yang tanggung dan kurang dilakukan secara teliti dan detail adalah salah satunya.

Bicara mengenai pelestarian warisan budayakhususnya peninggalan bendawi (tangible heritage)saya ingin sekadar berbagi pengalaman. Saya cukup beruntung dapat mengunjungi sebuah tempat yang dinamakan dengan Dejima di wilayah kota Nagasaki. Kota Nagasaki umumnya dikenal sebagai kota yang dibom atom oleh Amerika Serikat. Ternyata Nagasaki tidak hanya menyimpan cerita tentang bom atom.

Dejima adalah sebuah wilayah bagian dari pulau hasil reklamasi. Karena orang asing tidak diperkenankan masuk secara bebas, maka pembangunan Dejima ini adalah solusinya untuk mengonsentrasikan orang asing di sini. Pada tahun 1634 pulau ini dibentuk untuk memberikan tempat bagi orang asing, awalnya bagi bangsa Portugis untuk melakukan aktivitasnya. Setelah bangsa Portugis diusir oleh Jepang wilayah Jepang kemudian digunakan sebagai kantor perwakilan dan pusat administrasi VOC, Belanda. Satu-satunya bangsa Eropa yang diperbolehkan melakukan perdagangan langsung di Jepang pada masa itu.

Dejima yang dikenal dengan nama Oranda Shokan (kantor administrasi belanda) ini yang habis dilalap api karena perang di zaman Meiji. Bangunan ini dibangun dan direkontruksi kembali oleh pemerintah Jepang sejak tahun 2000 dan dibuka untuk umum sejak tahun 2006. Saat ini, Dejima dapat dinikmati oleh publik berdiri dan dirancang secara detail dan diupayakan persis seperti aslinya. Upaya ini dilakukan dengan sangat serius sehingga kita seakan memasuki wilayah di mana seorang kapitan, pimpinan perwakilan kantor VOC di Jepang, memimpin perdagangan Belanda ke seluruh penjuru dunia. Namun, perdagangan utama Belanda yang utama adalah jalur perdagangan segitiga antara Jepang, Hindia Belanda yang dikuasai VOC alias kompeni, serta negara induknya, Belanda.

Yang membuat saya begitu terkesan dan menyenangi kunjungan ke Dejima ini adalah penyajian informasi serta pengaturan benda-benda dan pendirian bangunan dalam museum ini sangat detail, penuh perhitungan, dan sangat rinci. Sejarah yang tampak kuno dan jadul, menjadi sesuatu yang menyenangkan dan juga dilengkapi perlengkapan teknologi tinggi. Entah kapan Indonesia akan memiliki museum semacam ini, ya?

Tapi keterkejutan saya bukan karena gedung atau dioramanya yang detail. Pertama kali melangkahkan kaki di Dejima, tiba-tiba saya merasa begitu familiar. Gedung-gedung yang berdiri di sana membuat saya serasa saya kenal dengan baik. Masuk ke dalam museum lebih dalam, ternyata menjadi sangat jelas. Ternyata ada kaitan antara arsitektur di Dejima dengan bangunan kolonial di Indonesia. Perancangnya dari Belanda dan warnanya pun memiliki kesamaan. Ah, pantas saja.

Namun, tidak hanya sebatas kesamaan warna dan bentuk gedung. Gudang-gudang yang dulu juga pernah ada di Dejima diisi dengan gula yang dibuat di, sekali lagi, Hindia Belanda. Selain gula juga tak lupa rempah-rempah, termasuk pala, cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang berasal dari kepulauan Maluku (Jepang dan Ternate memang terhubung sejak zaman dulu). Jepang juga mengenal beberapa flora dan fauna asli Indonesia berkat perdagangan segitiga ini. Baiklah, kekayaan kita memang diperas untuk kepentingan para penjajah. Namun, bagaimana dengan orang-orang Indonesianya?

Aha, akhirnya saya temukan bangsa Indonesia di dalam museum ini. Pertama mereka berperan sebagai koki dan pelayan, yang jelas berperan di urusan dapur. Daging ham yang diawetkan dengan cengkeh adalah bukti urusan dapur dan perut bisa membawa situasi ke penjajahan. Tapi para pelayan dari Indonesia ini tampak jelas membawakan minuman anggur dan juga melayani urusan dapur. Hanya pelayan? Ya, hanya pelayan.

Untuk urusan museum memang kita perlu belajar dari rancang bangun dan juga penyajian informasi dari Dejima. Kita perlu belajar dari perencanaannya dan juga keseriusan menggarapnya. Di sisi yang lain, kita perlu bertekad dalam benak dan sanubari kita. Bayangkan seandainya sejarah di masa depan nanti akan mencatat kejayaan dan kebesaran nama bangsa Indonesia sebagai bangsa yang besar dan beradab. Bukan sekedar negara jajahan dan bangsa kuli. Tentu saja kita akan bangga! Ah, semoga ini tidak hanya menjadi sebuah imajinasi belaka.

Diperlukan upaya khusus untuk meningkatkan kesadaran kita, bangsa Indonesia, supaya mau menjaga dan melestarikan peninggalan budaya kita. Tentu saja, di seluruh wilayah Indonesia. Usaha dan strategi yang tepat adalah upaya penting. Ingat, masyarakat kita memiliki keragaman budaya yang luar biasa kayanya. Sekaligus kita harus sadari bahwa masyarakat kita masih lemah dalam memahami pentingnya kesadaran untuk menjaga jejak sejarah maupun peningalan pusaka, baik yang berwujud (tangible) maupun tak berwujud (intangible). Bukan sekadar retorika atau seminar di sana-sini. Namun, sebuah kegiatan yang tepat sasaran dan aplikatif harus dilakukan. Selain itu, perlu juga ada inisiatif penuh dari masyarakat setempat. Dan yang terpenting semua itu dilakukan dengan sepenuh hati, serta nothing to lose.[mspa]

* Meta Sekar Puji Astuti adalah penulis buku Apakah Mereka Mata-Mata? – Orang-Orang Jepang di Indonesia 1868-1942. Lulusan Sastra Jepang UGM dan menyelesaikan studi masternya di Ohio University, Amerika Serikat. Tercatat sebagai staf pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Jurusan Sastra Jepang, Universitas Hasanuddin. Ia pernah menjadi peneliti tamu di Keio University tahun 2008-2009 disponsori oleh The Japan Foundation. Saat ini tengah menempuh studi S-3 di Keio University, Tokyo, Jepang. Selain akademisi dan peneliti, ia juga seorang ibu rumah tangga biasa dengan dua orang anak yang peduli dengan pendidikan bangsa untuk penyadaran identitas diri bangsa Indonesia. Meta dapat dihubungi melalui pos-el: meta_mks[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 6.5/10 (6 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya Oleh: Don Gabor Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009 ISBN: 978-979-22-5073-2 Tebal: xviii + 380 hal Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas! Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox