Ibu Bukannya Orang Indonesia?

lkkOleh: Lina Kartasasmita*

“Good teachers are costly, but bad teachers cost more.”

~ Bob Talbert

Sepuluh tahun lalu, seminggu sekali saya pergi berbelanja ke pasar swalayan di dekat rumah. Suatu kali saya melihat seorang anak berusia kira-kira sebelas tahun. Anak itu tampak mempunyai karakter yang baik dan berpakaian rapi. Dia tersenyum dan menghampiri saya yang agak kerepotan membawa barang belanjaan saya.

“Bu, boleh saya bantu?” dengan tersenyum anak laki-laki itu menawarkan jasa kepada saya.

Saya bertanya, Siapa nama kamu?”

Sigap dia menjawab, Udin, Bu.

Sejak perkenalan saya dengan Udin, dia selalu ada untuk membantu saya membawa barang belanjaan saya. Walaupun hanya bertemu seminggu sekali, saya cukup sering berbicang dengan Udin. Saya suka bertanya uang yang dia terima dengan menawarkan jasa akan dibelikan apa dan bagaimana pelajaran di sekolah. Rasanya saya cukup mengenal anak itu.

Saat itu bulan Mei 1998, terjadi kerusuhan di mana-mana. Beberapa hari saya tidak berani keluar rumah karena begitu mencekamnya suasana seperti yang saya saksikan di sekitar saya. Saya melihat orang-orang menjarah dan membakar toko-toko. Selang dua minggu saya memberanikan diri mengunjungi pasar swalayan tempat biasa saya berbelanja. Pasar swalayan itu tidak terkena dampak kerusuhan sama sekali. Tetapi, suasana mencekam masih terasa di sekitar pasar tersebut.

Udin tersenyum gembira melihat kedatangan saya. Dia bertanya, “Apa kabar, Bu? Kok Ibu tidak berbelanja beberapa minggu ini?

Saya menjawab, Saya tidak berani keluar rumah karena kerusuhan di mana-mana. Kamu di mana?

Udin bersemangat menceritakan, Oh saya ikut menjarah Bu menjarah ruko-ruko di dekat rumah saya.

Hati saya terkejut, sepertinya lenyaplah kebaikan di wajah Udin yang saya kenal selama ini. Saya bertanya, Kamu tidak kasihan dengan mereka?

“Tidak, Bu. Ayah saya bilang, saya boleh menjarah orang-orang keturunan itu karena mereka kaya dan tidak apa-apa menjarah mereka” Udin bercerita sambil sibuk membantu membawakan belanjaan saya.

Setelah menaruh barang belanjaan saya saya mengajak Udin duduk sebentar dan berkata, Udin, kamu tahu tidak kalau saya juga orang keturunan?”

Udin tampak terkejut. Lalu dia memandangi wajah saya dengan pandangan mata tidak percaya, Ibu bukannya orang Indonesia?”

Ya, saya orang Indonesia. Tetapi saya ini orang-orang yang disebut orang keturunan juga.

Wajah Udin memerah. Dia memandangi lantai. Saya melanjutkan, Din, apa yang dikatakan ayah kamu bahwa kamu boleh menjarah itu adalah salah. Siapa pun yang memiliki harta itu mereka juga bekerja keras untuk mendapatkannya. Mereka mungkin mengumpulkan bertahun-tahun untuk memiliki apa yang mereka punya. Dan, mereka juga mempunyai anak-anak yang harus mereka sekolahkan. Kamu tidak akan pernah tahu sampai di mana perjuangan mereka untuk memiliki semua yang tampaknya nyaman di mata kamu.

Mereka mungkin bangun lebih pagi dari kamu, berhemat untuk membangun rumah yang nyaman, dan banyak lagi yang mereka perjuangkan dalam hidup mereka, sama seperti perjuangan kamu. Yang jelas mereka punya hak yang sama untuk hidup di negeri ini sama seperti kamu,lanjut saya.

Udin tampak gelisah mendengar perkataan saya. Lalu saya bilang, Ya sudah saya mau pulang ya.... Semoga kamu tahu apa yang baik dan benar yang kamu harus lakukan dalam hidup kamu.

Udin memandangi saya dan berkata, Saya tidak tahu Ibu orang keturunan. Muka Ibu sama sekali berbeda dengan mereka….

Saya menepuk bahu Udin dan berkata, Apa pun warna kulit saya, apa pun warna mata saya, yang penting adalah warna hati saya. Kebaikan kita yang diperthitungkan Tuhan.

Sejak itu saya tidak pernah bertemu Udin lagi.

Satu hal yang sering kita lupakan bahwa kadang sebagai orang tua kita tidak mengajarkan kebenaran kepada anak-anak kita sehingga mereka tersesat di jalan kehidupannya. Sekarang saat saya menulis artikel ini, si Udin pastilah sudah berusia sekitar 21 tahun. Saya tidak pernah bertemu Udin lagi memang. Namun saya hanya berharap percakapan kami yang hanya sesaat itu bisa mengubah pandangannya yang salah. Ya semoga saja….[lk]

* Lina Kartasasmita lahir di Jakarta 1966, lulusan sarjana akuntansi yang memilih menjadi guru dan ibu rumah tangga. Aktif di Toastmaster Club, suka menulis dan mencintai dunia pendidikan. Tulisan-tulisan Lina terdapat di www.wisdom-to-share.blogspot.com atau www.wisdom-to-share.blog.friendster.com. Pos-el: Lkartasasmita[at]hotmail[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 10.0/10 (8 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 5 votes)

Automatis Diplomatis

adOleh: Alexandra Dewi*

Kalau mau sukses dalam menjalankan usaha, katanya harus bisa berdiplomasi. Tidak boleh menunjukkan perasaan atau pikiran kita secara terang-terangan. Bahkan, kepada yang berutang kepada perusahaan sekalipun, surat yang isinya menagih utang saja tidak berbunyi kasar. Isinya menagih tapi secara diplomatis. Yang berutang saja masih disebut YTH (Yang Terhormat). Sama seperti menulis surat penawaran harga atas jasa/barang yang kita perdagangkan.

Dalam menjalankan pertemanan, ternyata sama seperti perusahaan, kita harus diplomatis. Mengerti mana yang harus dikatakan, mana yang tidak, dan kalau dikatakan pun harus secara diplomatis. Mengapa saya menulis soal diplomatis ini? Karena saya baru mendengar cerita dua orang kawan lama, yang gara-gara kurang diplomatis, malah menjadi kurang harmonis hubungannya.

Begini ceritanya. Kedua kawan saya ini sebut saja Amanda dan Cindy. Mereka sudah saling kenal sejak SMP. Saya dengar Amanda sudah lama dalam keadaan ekonomi yang bisa dikatakan cukup sulit. Kalau tidak salah selepas SMA Amanda tidak sempat kuliah tapi langsung menikah dan punya anak. Lalu dia bercerai dan menikah lagi. Namun, karena satu dan lain hal, dari suami pertama ke suami yang sekarang, keadaan ekonominya belum bisa dibilang berkecukupan.

Cindy sempat kuliah dan sekarang bekerja di suatu perusahaan milik keluarga. Ketika Amanda bertanya apakah ada lowongan di perusahaan tempat Cindy bekerjatentu saja secara diplomatisCindy bisa menjawab bahwa soal menerima karyawan atau karyawati baru bukan wewenang Cindy. Toh, walau perusahaan milik keluarga, Cindy bukan pemilik atau pimpinan perusahaan yang berwenang menerima pegawai baru. Untung, jawaban diplomatis Cindy diterima dengan baik oleh Amanda.

Amanda kadang curhat kepada kawan lamanya bahwa biaya hidup di rumah tangganya sangat pas-pasan, dan berat sekali rasanya memenuhi kebutuhan dasar sekalipun. Kasihan dengan kawan lamanya, Cindy menawarkan penghasilan tambahan kepada Amanda. Caranya dengan memesan kue-kue untuk acara staff gathering yang akan diadakan oleh perusahaan tempat Cindy bekerja.

Amanda sendiri mengakui bahwa dirinya tidak bisa membuat kue. Tetapi omanya pandai memasak kue dan dari hasil masakan omanya itulah yang akan dijual kepada Cindy. Namun, karena tujuan memesan kue ini sebenarnya adalah untuk menolong teman, tentu Cindy tidak banyak bertanya. Ia memesan beberapa jenis kue yang mana salah satu jenis kuenya adalah tiramisu (yang harus diletakkan di lemari es sebelum disajikan).

Beberapa hari sebelum acara staff gathering, Cindy baru sadar bahwa di kantornya tidak ada lemari pendingin (kulkas). Ia pun segera meghubungi Amanda lewat telepon untuk membatalkan pesanan tiramisu. Setelah Amanda mendengar bahwa Cindy membatalkan pesanan salah satu jenis kue itu, Amanda marah “Lho, Cin! Aku udah order, lho!” Yang fatal, setelah berkata penuh amarah, Amanda menutup telepon secara tiba tiba. Mungkin di tengah-tengah rasa kecewa dan amarah, juga panik atau rasa tidak enak kepada omanya, dicampur lagi desakan kebutuhan keuangan keluarga. Akhirnya, Amanda kehilangan apa yang namanya diplomasi atau lebih simpelnya penguasaan diri.

Cindy yang merasa telah mencoba membantu tentu tidak terima teleponnya ditutup seperti itu oleh Amanda. Tapi hebatnya, teman saya si Cindy ini meneliti dulu apa yang salah pada dirinya sendiri. Ia mengakui ketika menjelaskan kepada Amanda bahwa kantornya tidak ada kulkas, ia sempat juga berkata, “Sorry, perusahaan aku bukan menjual kue. Jadi, aku enggak kepikir soal kue mana yang harus dikulkasin. Aku kan bukan tukang kue, Amanda…!” Cindy mengakui, kata-katanya itu pastinya menyinggung perasaan Amanda sehingga Amanda menutup telepon.

Akhirnya, Cindy menelepon Amanda kembali, “Amanda, sorry aku tadi mungkin berkata-kata kurang baik. Orderanku semua aku teruskan, termasuk yang tiramisu. Tapi, aku harus juga menerangkan bahwa ini adalah pesananku yang pertama dan terakhir yang aku pesan darimu. Sebab, aku enggak mau kita menjadi seperti ini…. berkelahi dan berselisih paham.”

Amanda juga berkata,Sorry Cindy, tadi aku tutup telepon.”

Cindy menjawab,Iya, enggak apa, sama-sama. Sorry, salah aku juga…”

Dari kalimat saling meminta maaf sepertinya urusan sudah selesai. Tetapi, seperti yang Cindy katakan tadi, ia tidak akan memesan kue lagi ke Amanda. Dilihat dari sisi usaha, bad for business. Dilihat dari sisi pertemanan, bad for friendship.

Itu dia. Diplomatis. Enggak heran tidak semua orang bisa jadi diplomat.

Dari mendengar cerita ini, yang mana saya tidak terlibat emosi di dalamnya, saya jadi berpikir bahwa berlatih penguasaan diri, berdiplomasi ternyata sangat amat penting dalam segala aspek kehidupan. Ada orang yang sepertinya memahami sekali dalam berdiplomasi. Mungkin nenek moyangnya sampai dianya semuanya keturunan diplomat tujuh turunan. Jadi, lahir-lahir memang dia sudah diplomatis. Namun, bagi saya atau Anda yang lahir-lahir bukanlah anak diplomat, ada baiknyakalau bukan sangat pentinguntuk menguasai ilmu diplomasi ini.

Cerita lain soal pemilik perusahaan A yang berutang kepada pemilik perusahaan B. Bila keduanya bertemu person to person secara tidak sengaja di sebuah restaurant, nasihat dari seseorang yang saya anggap sangat diplomatis menganjurkan yang diutangi untuk tidak menyebut apalagi menagih utang secara langsung. Bapak A yangwalau jengkel kepada Bapak Byang bisa enak-enaknya makan sushi tapi utang kepadanya. Bila mau diplomatis, harus pura-pura lupa soal itu dan berinteraksi biasa-biasa saja. Soal utang harus orang lain yang menagih, baik itu surat dari bagian keuangan di kantor, baik itu pihak ketiga lain seperti bank atau debt collector company. Kalau mau jengkel dan tidak bisa menahan jengkel dan langsung hajar bleh dengan mengutarakan apa yang plek-plekan ada di hati, maka tidak dianjurkan untuk menjadi pengusaha, apalagi jadi pengacara.

Anyway, mudah-mudahan cerita saya di atas mengingatkan kita semua bahwa setiap kali kita sedang emosi, atau sedang dalam keadaan yang kurang stabil (stres, letih, dll) sebaiknya kita yang bukan automatis diplomatis untuk menunda hal-hal yang mau kita katakan atau lakukan semalam saja. Pengalaman saya, kebanyakan kali, satu malam tidur yang nyenyak sering kali menyelamatkan saya dari hal-hal bodoh yang bisa dengan mudahnya saya ucapkan dengan secara tidak diplomatis.[ad]

* Alexandra Dewi adalah seorang eksekutif sebuah perusahaan pemasar suplemen makanan, penulis buku The Heart Inside the Heart, Queen of Heart, dan co-writer buku I Beg Your Prada. Dewi baru saja meluncurkan bukunya keempatnya tentang fashion yang ditulis bersama Fitria Yusuf berjudul Little Pink Book. Ia juga sedang menyiapkan buku-buku berikutnya. Dewi dapat dihubungi melalui pos-el: inthelalaland[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (5 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +6 (from 6 votes)

Manfaat Komentar Positif

iyOleh: Iftida Yasar*

Dalam beberapa acara gathering atau acara kantor yang bersifat bergembira, biasanya kita memanggil organ tunggal lengkap dengan penyanyinya. Penyanyinya selalu tampil seronok dengan dandanan yang aduhai. Berdasarkan pengalaman ini, biasanya saya selalu berpesan kepada panitia agar penyanyinya, selain dapat menyanyi dengan baik, dia juga harus berdandan dengan tidak terlalu menor atau seksi. Sebab, biasanya ibu-ibu bisa merasa gerah melihatnya, dan juga para suami yang biasanya getol berjoget menjadi keok dan malu di depan keluarganya jika dipanggil menyanyi.

Tapi memang, mungkin sudah pakemnya atau standar para penyanyi itu untuk bergoyang dengan seksi dan sedikit senggol-senggolan dengan tamu laki-laki yang turut bernyanyi. Alhasil, kami jadi berkomentar mestinya para penyanyi tadi diberi pemahaman mengenai “how to know your customer”, bagaimana mengenal karakter pengundang apakah itu kantoran, rumahan, atau kawinan. Jika saja mereka mengenal karakter pengundangnya, dengan cepat mereka akan menyesuaikan diri, baik dandanan maupun cara berjoget dengan para bapak. Itu agar di rumah nanti para suami tidak dijewer atau dicemburui istri karena berjoget terlalu hot.

Kita juga gampang memberi komentar terhadap orang lain, baik penampilan fisiknya, caranya berbicara, berjalan, sampai mengomentari hasil pekerjaan orang lain. Ada yang memang mulutnya gatal dan usil jika melihat orang lain sepertinya kurang beres menurut ukurannya. Ada juga yang memang komentarnya bermanfaat dan dapat menjadi masukan yang berharga. Jangan sembarangan memberi komentar pada pertemuan pertama, lebih baik pelajari situasi, mendengarkan, dan jika sudah dapat mengetahui keadaan lebih baik baru boleh memberi komentar.

Dalam suatu perkenalan dengan seorang pejabat yang cukup tinggi di sebuah departemen, saya melihat bapak pejabat tersebut kakinya agak pincang dan diseret. Dengan maksud memberi perhatian (sok akrab), saya mengatakan, “Aduh kenapa Pak, habis jatuh, ya?” Beliau dan stafnya hanya senyum dan tidak berkomentar lebih jauh. Dan ternyata, belakangan saya baru tahu memang kakinya agak cacat.

Pernah juga saya mengunjungi seorang relasi yang baru melahirkan anak pertama kurang lebih 1 bulan yang lalu. Seperti biasa saya dengan sok akrab mengatakan, “Lucu ya rambutnya gundul baru dicukur, ya?” Ternyata, si ibu menjawab bahwa memang anaknya dari lahir tidak ada rambutnya alias gundul belum tumbuh..

Kalau mau memberikan komentar berikanlah dengan tulus dan dengan maksud membangun. Sebagai pengajar pada pelatihan pengembangan kepribadian saya selalu bertanya “Apa yang dilakukan jika teman kamu mempunyai bau badan?” Biasanya, topik ini menjadi bahan tertawaan dan jawabannya biasanya mereka enggan memberi tahu, membicarakan di belakang, atau menjauh tidak mau bergaul dengan si BB (Bau Badan).

Dalam kasus ini, saya menganjurkan agar mereka berani menolong teman tersebut dengan membicarakannya langsung. Atau, secara halus misalnya memberikan salah satu produk penghilang bau badan. Yang lain, secara diam-diam memberikan obat itu dalam amplop dengan catatan “Jangan tinggalkan rumah tanpa memakai produk ini. Hal ini jauh lebih konstruktif dibandingkan dengan membicarakan teman tadi di belakang.

Jika teman kita melakukan presentasi mengajukan suatu usulan proyek, bantulah dia dengan memberikan masukan yang membangun. Jika menurut kita sudah bagus katakanlah itu bagus. Tetapi, jika masih ada yang kurang berikanlah komentar agar usulan proyek itu dapat lebih disempurnakan. Jangan pelit memberikan komentar yang positif, apalagi merasa rugi jika komentar yang kita berikan kepada teman dapat menjadi perbaikan yang membuat teman tadi mendapatkan nilai lebih.

Pengetahuan dan pengalaman kita yang diberikan kepada orang lain melalui komentar kita bukan saja bermanfaat bagi si penerima. Tetapi, itu juga bermanfaat bagi kita karena kita akan terbiasa memberikan kontribusi yang positif bagi lingkungan kerja. Orang yang paling bermanfaat adalah orang yang bermanfaat banyak bagi orang lain.[iy]

* Iftida Yasar lahir pada 28 Maret 1962. Ia meraih gelar Sarjana Psikologi Pendidikan dan Sarjana Hukum di Universitas Padjajaran tahun 1980. Dan meraih gelar S-2 Psikologi di Universitas Indonesia tahun 1992. Iftida Yasar adalah seorang konsultan SDM, hubungan industrial, dan outsourcing. Ia juga seorang entrepreneur, trainer, motivator, aktivis sosial bidang pengembangan SDM, Wakil Sekretaris Umum APINDO, dan Penasihat Asosiasi Bisnis Alih Daya Indonesia (ABADI). Iftida baru saja meluncurkan dua buku terbarunya yaitu Merancang Perjanjian Kerja Outsourcing (PPM, 2009) dan Perempuan Makan Perempuan (Kosmis, 2009). Ia dapat dihubungi di nomor: 0811896944 atau pos-el: iftidayasar[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 3 votes)

Bisa, Ala Biasa

ggOleh: Gagan Gartika*

“Bisa ala biasa, sehingga apa pun bisa mahir dikerjakan asal terbiasa.”

~ Gagan Gartika

Meskipun Anda merasa bodoh atau kurang mampu, ketika menghadapi persoalan—tak perlu minder dan takut. Tapi kerjakan, sebab seorang yang tak bisa sekalipun, setelah mengerjakan pasti bisa, karena terbiasa. “Bisa ala biasa, kata isteri saya pede banget, saat meyakinkan dirinya agar bisa melaksanakan pekerjaan yang sulit sekalipun. Semboyan itu bisa mendorong seseorang yang belum bisa apa-apa dalam bekerja menjadi terbiasa bekerja, dan akhirnya mahir.

Saya mempunyai teman, Kolonel Tony Tambunan. Meskipun pangkatnya tinggi, ia keluar dari tentara dan beralih pada pekerjaan lain. Tentu karena mengerjakan sesuatu bukan pada bidangnya, yaitu berurusan dengan transportasi. Saat awal bekerja, ia tak bisa apa-apa sehingga sehari-harinya ia terus bertanya kepada bawahan agar pekerjaan yang merupakan tanggung jawabnya sebagai seorang manajer dapat dikerjakan. Meskipun sebagai pimpinan, ia tak malu bertanya pada anak buah. Misalnya, untuk mengetahui dokumen pengapalan, ia selalu menanyakan tentang persyaratan penerbitan dokumen, dukumen salah atau hilang, dan apakah perbaikan bisa menimbulkan masalah. Semua itu ditanyakan karena sebagai penandatangan Tony tidak mau bermasalah di kemudian hari.

Setiap hari Tony terus memelajari model bisnis sampai kepada model pengurusan dokumen. Ia memetakan persoalan secara keseluruhan soal pengiriman barang. Akhirnya, pekerjaan itu dikuasai karena ia menerapkan semboyan; bisa ala biasa.

Hebatnya, saat awal bekerja, hanya sebagai manajer, tetapi ketika ia pindah ke perusahaan lain, atau ditempat baru, Tony ini selalu dianggap sebagai seorang ahli transportasi sehingga dia diangkat menjadi seorang direktur perusahaan. Dan, orang baru disekitarnya menganggap dia piawai, apalagi didukung pangkatnya yang Kolonel, jadi semakin disegani.

Begitu juga bagi teman saya yang baru lulus perguruan tinggi, semula ia hanya sebagai mahasiswa PKL (Praktik Kerja Lapangan) dalam perusahaan pelayaran. Namun karena kegigihannya, ia menjadi ahli dalam menyandarkan dan melepas kapal. Dan berkat keahliannya, dia bisa bekerja di sana, dan bahkan sekarang tanpa dirinya perusahaan bisa sering kedodoran. Banyak kapal terhambat bongkar karena terlambat sandar. Banyak konsumen komplain dan biaya menjadi tinggi karena pengurusan dokumen terlambat. Anak muda ini bisa bekerja karena biasa. Bisa ala biasa.

Dalam mengurus perizinan di berbagai intansi pemerintah, misalnya saat mengurus STNK, KTP, surat-surat di Departemen Perdagangan, Departemen Kehakiman, Kantor Pajak, sering ada orang menawarkan jasanya agar mudah dan cepat pengurusan. Kita sendiri kadang sering kaku dan bingung dalam melakukan pengurusan. Banyak bertanya ke sana kemari, selain lambat akhirnya banyak biaya keluar. Tetapi melalui jasa mereka, yang terbiasa mengurus perizinan, selain biaya bisa ditetapkan segala urusan bisa cepat kelar. Mereka bisa mengurus cepat karena terbiasa. Jadi, bisa ala biasa.

Dengan begitu, kalau kita menerapkan semboyan bisa ala biasa dalam kehidupan, saat belajar atau saat ingin mendirikan usaha, kita akan cepat berhasil. Contoh, ketika kita melatih ingatan dalam mengembangkan vocabulary bahasa Inggris, memori kita akan kuat mengingatnya. Saat terjadi pemanggilan kata dan data tersimpan dalam memori akan cepat keluar. Selanjutnya, percakapan bahasa Inggris menjadi mahir karena otak pun kalau terlatih akan terbiasa berubah dan bertambah kuat. Bisa ala biasa.

Jadi, apaapun bisa dikerjakan dengan sukses karena kebiasaan kita dalam bekerja. Seorang sales akan jadi pedagang mahir karena terbiasa menawarkan. Seorang politikus akan pandai berkelit karena terbiasa berdebat. Seorang peneliti akan dapat menemukan sesuatu yang baru karena terbiasa meneliti seorang penunggang kuda. Pembalap, pemain sepak bola, akan bisa berlari kencang karena terbiasa bertanding. Seorang artis dan Master of Ceremony (MC) pandai berbicara karena biasa tampil di hadapan umum. Jadi, mereka bisa ala biasa.

Sehingga, bagi yang masih ketinggalan dalam berkeahlian, tak usah khawatir dan kerjakan terus. Lambat laun pekerjaan itu akan bisa dikuasai karena biasa. Begitu juga dalam memperluas jaringan, bagi mereka yang biasa bergaul, mereka akan mempunyai kenalan banyak dan relasi ada di mana-mana. Mereka akan mengetahui informasi baru dengan banyak teman sehingga tak akan lagi kesusahan dalam mendapatkan modal, meluaskan usaha, serta tak akan kesusahan dalam mencari solusi permasalahan.

Dalam hal permodalan, apabila orang berjejaring atau terbiasa bersilaturahmi dengan mereka yang memiliki dana dengan bunga pengembalian murah, mereka juga pasti mempunyai akses dalam hal mendapatkan dana. Dalam hal ini perusahaan perbankan, perusahaan pembiayaan, perusahaan leasing, penggadaian, asuransi, memang mereka ahli dalam bidang keuangan dan pendanaan. Mereka bisa menjadi perusahaan seperti itu karena tebiasa bergerak dan bergaul di bidangnya. Bisa ala biasa.

Dokter biasa membedah orang yang memiliki penyakit. Ia tak gentar dan pusing ketika harus memotong tangan orang, menyilet tubuh dengan berlumuran darah, karena memang sudah terbiasa. Pesulap bisa menghilangkan benda dan memainkan trik membuat penonton penasaran. Mereka pun bisa seperti itu karena biasa. Begitu juga mereka yang jadi pengacara, ahli pengurusan tanah, ahli beternak, ahli pertanian, keahlian tersebut timbul karena terbiasa. Jadi, bisa ala biasa.

Begitu ampuhnya prinsip bisa ala biasa bagi kehidupan seseorang. Maka, ketika saya menghadapi persoalan, saya sering tak berpikir panjang. Ketika ingin menguasai pekerjaan di mana saya terus saja mengerjakankarena saya yakin perkerjaan itu akan dapat dikuasai kalau sudah terbiasapekerjaan itu pun akhirnya saya kuasai dengan baik karena terbiasa.

Namun, tak semua pekerjaan dikerjakan sendiri karena keterbatasan waktu. Dalam hal ini saya akan menyerahkan pada ahlinya yang sudah terbiasa menangani pekerjaan. Begitu juga dalam menempatkan pegawai, saya sering menggunakan prinsip the right man in the right place. Menempatkan orang sesuai tempatnya agar pekerjaan bisa lancar. Bisa ala biasa.[gg]

* Gagan Gartika adalah Praktisi Silaturahmi Marketing (Simark), Pengusaha di bidang Forwarding, Transportasi dan Pengurusan Jasa Kepabeanan pada PT. Kumaitu Cargo dan PT. Penata Logistic. Ia pemilik Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Bisnis (LPPB) Sinergi Indonesia. Pendidikan terakhir, S2 Manajemen dari Ibii. Selain itu pada dibidang pengajaran, mengabdi menjadi Dosen Sekolah Tinggi Manajemen Transpor Trisakti, Jakarta. Email: gagan@kumaitucargo.co.id

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.7/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +4 (from 4 votes)

Superwoman Kampung

fiOleh: Fita Irnani*

Sebenarnya sudah lama saya ingin menulis tema ini, Superwoman Kampung. Berawal dari ketertarikan saya akan sepak terjang seorang hawa di kampung saya. Tidak muluk-muluk tampaknya jika saya menggunakan istilah kampung untuk menyebut pemukiman saya. Sebuah kompleks perumahan yang wilayahnya mengalami perluasan bertahap. Alotnya transaksi pembebasan lahan dengan penduduk lokal rupanya sedikit menghambat pengembang mendulang kesepakatan harga jual. Kawasan pemukimannya sendiri tidak besar. Kawasan ini menginduk pada satu Rukun Warga, yang menaungi tiga Rukun Tetangga, berisi rata-rata lebih dari lima puluh KK disetiap RT.

Tidak bermaksud untuk berhiperbola ketika saya menggunakan istilah superworman. Sosoknya biasa saja, ibu rumah tangga dengan dua orang putri yang sopan dan pintar-pintar. Semula saya tidak mengenalnya, mengingat kami tidak berada dalam lingkungan RT yang sama. Dalam satu RT saja belum tentu 100 persen saya hafal penghuninya, apalagi beda RT? Ditambah aktivitas saya di kantor yang tidak menjamin keberadaan saya setiap saat full day di rumah (bukan bermaksud ngeles, lho). Kesempatan bebas bertemu tetangga hanya terjadi pada akhir pekan, sabtu dan minggu.

‘Kerjasama’ saya dengan ibu ini berawal dari ajakannya mengikuti kegiatan silaturahmi yang dikemas dalam bentuk arisan RW. Supaya lebih saling mengenal, katanya kala itu. Pesertanya tidak banyak. Dua puluh lima orang tapi dari berbagai RT. Ini artinya, sang ibu berhasil mengumpulkan peserta dari ujung ke ujung. Jangan salah, tidak hanya sebatas arisan RW saja, model arisan ekonomis yang bermodal seratus ribu rupiah per orang pun dia selenggarakan. Alasannya supaya mencakup berbagai kalangan.

Tidak berhenti pada arisan, ibu ini juga merambah pada bisnis kecil khas ibu-ibu RT. Segala musim tidak pernah sepi berdagang. Kue kering lebaran, tabungan kurban, buku dan alat tulis, seragam sekolah, semua dijajakan door to door antar-tetangga. Dari alas kaki, pakaian pria-wanita, tas, dompet hingga perlengkapan rumah tangga aneka merek.

Tidak jarang juga, si ibu mengambil peran sebagai event organizer yang mendatangkan aneka demo untuk ibu-ibu rumah tangga. Demo rias wajah, masak-memasak, demo tabung gas hemat energi, demo aneka alat masak. Semua dikoordinir sendiri. Belum lagi untuk perayaan-perayaan hari besar. Andilnya tidak pernah hilang, bahkan untuk menjadi vokalis karaoke pada acara 17-an.

Pernah saya bertanya mengenai kesibukannya ini. Dari sisi materi, saya rasa jauh dari yang namanya kurang. Alasannya hanya satu, aktivitas dan bisnis kecil yang dia jalankan semata-mata untuk menyibukan dirinya. Barangkali ini adalah cara terampuh membunuh kesepian lepas mengantar kedua putrinya bersekolah, sementara profesi suaminya yang seorang pelaut, tentu dapat diprediksi keberadaannya di rumah.

Cinta dan perhatian pada kedua buah hatinya kadang mengundang kecemburuan saya. Setiap pagi telaten menyuapi sebelum mengantar ke sekolah. Malam hari menemani mengerjakan PR. Beberapa kali saya temui jika kebetulan bertandang kerumahnya. Si ibu ini tidak sungkan pula merayakan ulang tahun putrinya pada acara arisan ibu-ibu RW.

Hilir mudik dari klien ke klien, dia lakukan dengan sepeda motor bebeknya. Setiap kali melaju di depan rumah saya, formasi duduknya tidak berubah, berbonceng tiga dengan kedua putrinya. Antar-jemput sekolah, sekadar bertandang ke kerabat, atau mengantar barang orderan klien.

Perannya menjadi ‘toa’ kampung, istilah saya untuk penyebar informasi terkini (seputar kampung tentunya), tidak diragukan lagi. Jadwal arisan, kelahiran, kedukaan, pengajian, hajatan, keamanan lingkungan, produk dagangan baru, setiap saat tersebar secara face to face atau via sms.

Saya sering membaca profil sukses superwoman Indonesia. Pendidikan tinggi, karier cemerlang, anak-anak pintar, keluarga yang bahagia, memimpin lebih dari satu perusahaan, plus social live after office hour. Luar biasanya mereka. Dua puluh empat jam yang dimiliki teralokasi super sempurna. Apa yang saya lakukan saat ini mungkin tidak mampu menandingi kesuperannya.

Hal yang menarik, menjadi super rupanya tidak melulu membutuhkan pendidikan tinggi, tidak perlu jebolan universitas manca negara, tidak perlu memiliki kerajaan bisnis, atau tidak perlu terlahir dari klan ‘berada’. Tergantung pada bagaimana mendefinisikan super itu sendiri. Untuk saya, apa yang dilakukan ibu tetangga saya ini sudah luar biasa bagi perempuan seprofesinya.

Pendidikan yang tidak tinggi, berbekal gaya komunikasi dan kehebatan bersosialisasi (yang entah dari mana belajarnya) dirinya membuka rintisan membangun jaringan, meski hanya seputaran kampung, toh sampai sekarang bisnis kecilnya tidak pernah mati. Kegiatan arisan saja bersambung jilid dua untuk tahun berikutnya.

Inisiatifnya dalam mengadakan acara-acara positif inilah yang menarik perhatian saya. Apa saja dikerjakan, peminatnya juga jangan ditanya. Bahasa gaulnya, “Nggak ada matinya”. Komitmennyalah yang patut dipuji. Bahkan ketika ‘tas kerjanya’ raib dirampas penjahat jalanan, tak kenal lelah beliau mendatangi satu per satu kliennya, sekadar mencatat ulang nomor handphone dan menyalin kembali catatan arisan dan tabungan kurban klien. Salah satu bentuk tanggung jawab si ibu rupanya.

Keberadaan figur seperti ini sesungguhnya sangat diperlukan dalam hidup bermasyarakat. Ketika sekelompok orang disibukkan dengan aktivitas di kantor (seperti saya), fungsi penggerak seperti ini sangat membantu sekali. Ibaratnya kalau semua orang sibuk di kantor, tentu perlu seseorang yang luwes yang mampu dan mau menyemarakkan kampung. Selain Pak RT tentunya, yah.

Ibu rumah tangga yang cerdik, pandai memanfaatkan waktu, percaya diri, mau mencoba dan pintar melihat peluang meskipun dalam skala kecil. Lingkungan kampung. Kelas RT. Kelas Kampung! Superwoman Kampung.[fi]

* Fita Irnani lahir di kota Semarang 13 Juni 1975. Sulung dari tiga bersaudara ini menghabiskan masa kecil hingga SMA di kota kelahirannya. Alumnus workshop Proaktif “Cara Cerdas Menulis Buku Bestseller” Batch VIII, Februari 2009 ini menetap di kota Bogor dan saat ini bekerja sebagai Learning & Development Specialist pada sebuah perusahaan multinasional yang berkantor di Sudirman. Fita dapat dihubungi melalui pos-el: acho_fit[at]yahoo[dot]co[dot]id.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (4 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 3 votes)

Satu Gigitan Demi Satu Gigitan

rsOleh: Relon Star*

“Sukses besar merupakan akumulasi dari sukses-sukses kecil yang telah Anda hasilkan.”

~ Relon Star

Dalam sebuah kegiatan promo buku yang saya lakukan, hasil penjualan menunjukkan angka 23 persen dari audience yang hadir. Sebenarnya, angka itu mengejutkan saya karena sesungguhnya saya berharap lebih besar dari yang angka tersebut. Tahu apa yang saya lakukan? Saya terduduk lesu di kamar, karena target penjualan yang saya tetapkan tidak tercapai.

Keesokan hari seorang rekan menanyakan hasil penjualan buku perdana saya. Saya pun menjawab dengan tidak bersemangat. Namun, respon teman saya sungguh di luar dugaan. Ia mengatakan demikian, “Re, visi boleh besar… tetapi kamu harus merayakan kemenangan kecilmu.”

Kalimat tersebut merupakan kalimat yang singkat, tapi mampu menjungkirbalikkan semua keraguan saya untuk melanjutkan profesi sebagai penulis. Sederhana memang, tapi inilah rahasia yang membuat saya dapat bertahan hingga kini, bahkan sampai bisa menelurkan buku kedua, ketiga, dan seterusnya.

Banyak orang yang secara global mempunyai sasaran pencapaian yang sangat besar. Itu tidak salah! Namun, mereka lupa bahwa sasaran besar merupakan akumulasi dari lompatan-lompatan kecil yang ia hasilkan. Tanpa adanya lompatan kecil, sasaran yang besar tidak mungkin tercapai.

Saya tidak dapat membayangkan apa yang terjadi dengan hidup saya, jika saya patah semangat dan berhenti menulis hanya karena pikiran yang sempit mengenai bagaimana mencetak keberhasilan. Betapa bodohnya saya karena kehilangan kesempatan tesebut. Padahal, sukses dapat diraih secara bertahap. Sukses besar merupakan akumulasi dari sukses-sukses kecil yang kita hasilkan. Bahkan buku perdana saya dapat dicetak ulang karena diawali dengan penjualan 23 persen tersebut.

Cobalah merenungkan jawaban dari pertanyaan berikut ini, “Bagaimana cara memakan seekor gajah dewasa?” Dapatkah Anda menemukan solusinya? Mungkin Anda langsung saja putus asa karena membayangkan seekor gajah dewasa yang besar dengan bobot lebih dari lima ton dengan daging yang keras dan tak sedap untuk disantap. Pikiran ini tentu langsung saja menghentikan usaha Anda untuk mencari solusi dari tantangan ini.

Mau tahu jawabannya? Sederhana, “Satu gigitan demi satu gigitan.” Ya, masalah yang besar dan kompleks dapat diselesaikan secara bertahap. Hal ini juga dapat melatih kita untuk berpikir strategis. Sebab, langkah pertama dari berpikir strategis adalah menjabarkan suatu persoalan menjadi bagian-bagian yang dapat dikelola, sehingga Anda bisa lebih fokus secara efektif.

Ternyata untuk suatu pencapaian yang besar dibutuhkan konsistensi. Jangan pernah terpengaruh pada jumlah kecil di depan, namun terus dapat menggulirkan bola-bola salju kesuksesan di masa mendatang. Anda boleh saja memiliki sasaran pencapaian yang besar, tetapi jangan lupa merayakan setiap kemenangan kecil yang Anda raih. Tentunya sambil terus berusaha untuk mendapatkan hasil yang lebih besar. Anda hanya perlu bertahan sedikit lagi, karena hasil yang besar sudah menanti Anda.

Bagaimana Anda melakukannya tidaklah sepenting “pokoknya Anda melakukannya”. Anda dapat menguraikan suatu persoalan menurut fungsinya. Itulah yang dilakukan Henry Ford ketika ia menciptakan lini perakitan, dan itulah sebabnya ia mengatakan, “Tidak ada yang terlalu sulit kalau Anda uraikan menjadi tugas-tugas kecil.”

Sama seperti masalah yang besar dan kompleks dapat diselesaikan secara bertahap, demikian pula sukses yang besar dapat diraih lewat kemenangan-kemenangan kecil yang sudah Anda hasilkan. Jika kita langsung melihat pada goal akhir, akan kelihatan sangat besar. Namun, jika Anda menguraikan sedikit demi sedikit … akan kelihatan kecil dan Anda merasa mudah meraihnya. Robert Schuller menegaskan, “Yard demi yard, kehidupan ini sulit; tetapi inci demi inci, kehidupan ini mudah.

Sekarang bukan saatnya bagi Anda untuk mundur. Tetapi Anda hanya perlu bertahan. Sukses besar merupakan akumulasi dari sukses-sukses kecil. Selesaikan satu gigitan demi satu gigitan, dan bersiaplah untuk hasil yang besar![rs]

* Relon Star adalah seorang public speaker dan penulis buku (2008). Saat ini ia bekerja sama dengan Departemen Pemberdayaan Perempuan, aktif mengisi seminar-seminar serta penyuluhan di sekolah-sekolah mengenai bahaya narkoba. Relon dapat dihubungi melalui pos-el: relonstar[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.7/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Menulislah!

apOleh: Agung Praptapa*

Sewaktu kuliah saya sangat kagum kepada seorang dosen yang kalau memberikan kuliah sangat atraktif, mudah dimengerti, dengan contoh kasus yang sangat relevan dan terkini. Beliau pintar bercanda sehingga selama mengikuti kuliah hampir semua mahasiswa tetap segar dan semangat. Beliau dosen yang dikagumi banyak mahasiswa. Terkenal. Menjadi konsultan di sana-sini. Sebagai pembicara di dalam dan di luar negeri. Dosen ideal. Luar biasa!

Sayang sekali dosen yang hebat tersebut sekarang telah meninggal dunia. Masih membekas pesan-pesan dan motivasi beliau pada diri saya. Demikian pula saat saya tanyakan kepada teman-teman kuliah dulu, mereka memiliki kesan yang sama. Dosen tersebut telah banyak membantu membentuk diri kita semua yang pernah diajar oleh beliau. Namun sayang, saat saya tanyakan kepada adik kelas yang sudah tidak lagi diajar oleh beliau, mereka bahkan tidak mengenalnya sama sekali. Apa lagi menikmati pemikiran-pemikiran dan pesan-pesan hebat beliau. Jadi, pesan-pesan hebat dosen tersebut hanya sampai pada generasi saya. Dosen yang hebat untuk yang pernah diajar, namun tidak dikenal sama sekali oleh yang tidak pernah diajar.

Saya kemudian berpikir, seandainya dosen tersebut menulis buku, maka pemikirannya, motivasinya, dan kata-kata bijaknya dapat dinikmati oleh generasi-generasi adik kelas saya, bahkan generasi-generasi sesudahnya. Sayang sekali, dosen tersebut tidak menulis buku. Beliau seorang yang sangat ahli di bidang investasi. Namun sayang sekali, beliau lupakan satu hal, yaitu investasi melalui tulisan, atau lebih spesifik lagi adalah investasi melalui menulis buku.

Budaya menulis di negeri kita ini masih tergolong memprihatinkan. Di kalangan intelektual seperti dosen misalnya, mereka lebih cenderung banyak mengajar dari pada banyak meneliti. Atau kalau lebih general dapat dikatakan budaya bicara lebih kuat dari pada budaya menulis. Ini tentunya bukan tanpa sebab. Lingkungan dan sistem insentif yang ada lebih berpihak pada pembicara hebat, dari pada penulis hebat. Di samping itu, faktor pembentukan kebiasaan sejak pendidikan dini juga berpengaruh.

Saat saya tinggal di Australia beberapa tahun yang lalu, anak-anak saya yang masih duduk di sekolah dasar (elementary school) setiap minggu selalu mendapatkan tugas dari gurunya untuk menulis yang berkaitan dengan “theme of the week”, yaitu tema-tema tertentu yang menjadi prioritas dalam satu minggiu tertentu. Misalnya theme of the week pada saat itu adalah “courtesy” atau sopan santun, maka murid-murid diminta menuliskan sopan santun yang mereka lakukan selama satu minggu tersebut. Murid sudah dilatih melakukan riset sejak dini, dan kemudian dituangkan dalam laporan yang tertulis. Jadi, mereka terbiasa menulis sejak dini.

Yang paling heboh adalah apabila para murid liburan sekolah. Mereka akan mendapatkan tugas menulis “my holiday”. Saya amati hal ini merupakan proyek yang menggairahkan untuk mereka. Mereka membuat laporan tentang liburan mereka dengan sangat serius, bahkan beberapa sampai membuat semacam buku, dengan ketebalan seperti layaknya sebuah buku. Buku made in anak-anak SD yang masih lucu-lucu tersebut dibuat semenarik mungkin. Tulisan yang mereka buat disertai ilustrasi dan foto-foto atau gambar yang mereka buat sendiri.

Hari pertama masuk sekolah, presentasi tentang “my holiday” merupakan saat yang sangat mereka tunggu-tunggu. Mereka mempresentasikan pengalaman masing-masing dengan teknik presentasi yang bervariasi. Buku mereka tentang “my holiday” dibaca teman-teman sekolahnya. Anak-anak dibiasakan untuk menulis dan membaca tulisan orang lain, yang ujung-ujungnya adalah mereka dilatih menghargai karya orang lain.

Kembali lagi ke dosen hebat yang tidak menulis tadi. Kisahnya hanya berhenti sampai beliau mengajar yang sebagian besar dilakukan dalam bentuk lisan. Dosen berbicara mahasiswa mendengarkan. Memang sangat efektif untuk zamannya, namun sayang sekali ajaran-ajarannya tidak diabadikan dalam bentuk sebuah buku. Akibatnya, generasi berikut tidak mendapatkan warisan dari kehebatan dosen tersebut. Sayang sekali memang. Seandainya beliau saat itu menulis buku, maka saat karyanya dibaca orang dan bermanfaat bagi orang lain, hal tersebut juga akan menjadi ladang ibadah walaupun beliau sudah meninggal dunia.

Buku yang bermanfaat akan menjadi amal jariyah, yang terus bergulir walaupun penulisnya telah meninggal dunia. Dalam hati saya sering bercanda dengan diri sendiri, “Wah, kalau begitu menulis bisa mengurangi masa hukuman di neraka hehehe….”

Zaman sudah berubah. Budaya lisan tampaknya mulai tersisihkan oleh budaya tulisan. Telepon yang tadinya digunakan untuk berbicara secara lisan dengan lawan bicara, saat ini sudah bergeser fungsi menjadi alat komunikasi melalui tulisan, yaitu dengan maraknya penggunaan SMS. Komunikasi melalui tulisan digencarkan lagi dengan teknologi internet melalui fasilitas chating. Maraknya penggunaan Facebook juga menunjukkan bahwa saat ini sebenarnya kita memiliki kesempatan luas untuk mengungkapkan pemikiran, ide, bahkan perasaan melalui tulisan.

Facebooker sudah terbiasa mengungkapkan perasaan, pemikiran, ide, dan menyampaikan informasi mereka melalui menuliskan pada status” yang ada pada Facebook. Mereka menulis satu dua kata, satu dua kalimat. Jadi, mereka sudah sangat terbiasa dengan menulis. Kalau sudah begini, tampaknya tidak zamannya lagi para intelektual tidak menulis. Dosen mesti menulis. Mahasiswa mesti menulis. Kyai mesti menulis. Pendeta mesti menulis. Manajer mesti menulis. Siapa saja mesti menulis. Saat ini, hampir semua orang menjadi penulis. Minimal penulis SMS. Ini good start! Tinggal dikembangkan menjadi kalimat yang lebih utuh. Kalimat digabungkan dan dirangkai akan membentuk paragraf, dan seterusnya yang akhirnya akan menjadi tulisan, bukan?

Sekarang zamannya menulis. Maka, menulislah![ap]

* Agung Praptapa adalah penulis buku “The art of controlling people” (Gramedia, 2009). Seorang dosen, konsultan, dan trainer pengembangan diri maupun pengembangan organisasi. Kolumnis tetap andaluarbiasa.com. Dapat dihubungi melalui email di praptapa@yahoo.com. Web: www.praptapa.com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.3/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +4 (from 4 votes)

Innovation for Leadership

afOleh: Avanti Fontana*

”Leadership is doing the right things.”

~ Peter F. Drucker

Kepemimpinan adalah mengerjakan hal-hal yang benar. Manajemen adalah mengerjakan hal-hal dengan benar. Begitulah dua pengertian klasik tentang manajemen dan kepemimpinan yang diikonkan Peter F Drucker, Guru Manajemen. Pengertian-pengertian penting itu hampir ditutupi oleh berbagai pengertian dan konsep tentang kepemimpinan dan manajemen yang memenuhi kehidupan praktik organisasi, serta yang diperdengarkan atau diajarkan di sekolah-sekolah bisnis dan manajemen.

Apakah perusahaan melakukan inovasi? Jika ya, harusnya itu (inovasi) menjadi hal yang benar yang perlu dilakukan organisasi perusahaan. Harusnya itu menjadi cerminan kepemimpinan yang ada dan apa yang mau dipimpin atau menjadi pemimpin di kemudian hari. Bagaimana kemudian menjalankan inovasi (sebagai hal yang benar) dengan benar? Itu adalah ranahnya manajemen. Begitulah eratnya kaitan antara kepemimpinan dan manajemen. Prasyarat utama adalah kepemimpinan.

Kepemimpinan dalam pengertian Peter Drucker di atas adalah roh penting dalam organisasi perusahaan. Mengapa, apa, dan bagaimana Innovation for Leadership?

Tuntutan perusahaan untuk melakukan inovasi-inovasi semakin mendesak dewasa ini dalam rangka menjaga kelestarian atau kesinambungan kinerja organisasi pada masa kini dan mendatang.

Survei yang dilakukan Boston Consulting Group (2008) dengan responden eksekutif menunjukkan antara lain, hanya 35 persen eksekutif yang puas dengan pengukuran kinerja praktik-praktik inovasi mereka. Dan sejauh ini, hasil survei menemukan, kinerja inovasi yang banyak dirujuk para eksekutif (82 persen) adalah tingkat keuntungan perusahaan (profitabilitas). Dan sebagai aktivitas strategis, inovasi belum diukur sesuai dengan yang seharusnya.

Membangun organisasi inovatif dan mampu menjaga kesinambungan karakter dan kompetensi inovasi dalam organisasi merupakan kebutuhan, bahkan tuntutan untuk organisasi-organisasi modern dewasa ini.

Perusahaan melakukan inovasi dalam rangka membangun keunggulan dan menjaga kesinambungan keunggulan daya saing perusahaan, yang sifatnya temporer, tidak abadi. Sebuah tantangan, bagaimana melakukannya?!

Yang menjadi tantangan para Chief Executive Officers atau Tim Manajemen Puncak yang juga menurut saya harus menjadi juga Chief Innovation Officers adalah bagaimana membangun ORGANISASI INOVATIF dengan BUDAYA KREATIVITAS dan IMPLEMENTASI, memimpinnya, dan melestarikannya, untuk kepentingan jangka pendek, menengah, dan jangka panjang. Dan pemimpin serta seluruh bagian organisasi mengetahui dan memahami serta mempraktikkan bahwa itu merupakan hal-hal yang benar yang dilakukan. Dan, membangun Organisasi Inovatif bukan berarti meninggalkan atau mengganti praktik-praktik manajemen yang sudah ada yang sudah menghasilkan aliran-aliran pendapatan bagi perusahaan.

Kemampuan organisasi inovatif dicerminkan antara lain oleh kemampuan organisasi dalam menciptakan nilai pada produk-produk (barang atau jasa/layanan) yang dihasilkan atau ditawarkan dan pada teknologi yang digunakan. Penciptaan nilai ini terjadi sepanjang rantai nilai inovasi perusahaan, mulai dari aktivitas penggalian ide, pengembangan ide hingga pengomersialisasian ide atau pendifusian ide dalam bentuk produk (barang atau jasa).

Kalau hasil survei menunjukkan adanya fenomena penekanan pada kinerja akhir (sisi output) yang berlebihan alih-alih melihat juga pada sisi proses dan input inovasi, Innovation for Leadership menunjukkan pentingnya para pimpinan berpikir dan bertindak inovasi dalam paradigma sistem terbuka dan kreativitas sosial untuk menjadi pemimpin di pasar yang diprofilkan. Peran para pengelola organisasi inovatif penting dalam membangkitkan ide-ide inovatif yang dapat banyak dipicu oleh kondisi internal dan eksternal perusahaan.

Bagaimana menciptakan nilai komersial dan ekonomi dari ide-ide inovatif itu? Perangkat keras dan lunak dalam organisasi menentukan keberhasilannya. Desain organisasi adalah contoh perangkat keras. Pola pikir, persepsi, asumsi di belakang layar organisasi, konflik-konflik produktif, serta karakter dan kompetensi adalah contoh perangkat lunak. Pemimpin memimpin penggunaan dan pengelolaan perangkat-perangkat tersebut.

Pada zaman inovasi terbuka (open innovation) dewasa ini, ide-ide inovatif tersedia bagaikan air di lautan luas. Kemampuan perusahaan menangkap dan memanfaatkannya dalam proses penciptaan nilai sangat tergantung pada daya-daya inovatif di dalam perusahaan dan pada kemampuan organisasi mengelola tarikan-tarikan daya dari luar organisasi, dari lingkungan yang semakin dinamis dan kompleks.

Karena itu, penting sekali organisasi menjadi organisasi yang terus menciptakan nilai atau manfaat bagi para pemangku kepentingannya. Organisasi menjadi pusat penciptaan nilai yang tidak terbatas pada penciptaan nilai teknis dan komersial, tetapi juga pada nilai ekonomi dan sosial.

Prasyarat keberhasilan menjadikan organisasi inovatif, unit-unit atau fungsi-fungsi dalam organisasi menjadi pusat-pusat proses penciptaan nilai, antara lain adalah membangun desain organisasi yang kondusif untuk inovasi dengan dukungan karakter dan kompetensi yang tepat untuk inovasi. Ini merujuk pada prinsip tata kelola inovasi yang pertama: Tidak Ada Inovasi tanpa Kepemimpinan![af]

*Avanti Fontana dalah fasiltiator & coach inovasi, pengajar pada Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, penulis Innovate We Can! (Grasindo 2009). Sebagai analis inovasi bisnis, ia aktif meriset tema manajemen inovasi dan inovasi manajemen. Untuk Sesi/Seminar/Forum/Workshop Inovasi, silakan kontak: 081310182099 atau avantifontana[at]gmail[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (5 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

Saya Bersyukur, Buku Saya Sudah Ketinggalan Zaman

aybOleh: Anang Y.B.*

Anda seorang penulis buku dan bermimpi buku Anda akan abadi alias menjadi produk yang ever green? Saya pun begitu. Kalau bisa, buku-buku saya abadi di hati pembaca, syukur-syukur abadi di rak toko buku alias tidak tertendang buku-buku baru yang terus menerobos tumpukan buku-buku lama. Abadi di hati pembaca artinya, setelah sekian bulan buku saya masuk pasar, masih saja ada yang menyampaikan komentar atau pujian kepada saya entah secara lisan maupun lewat surat elektronik.

Saya sadar, tidak semua buku yang pernah saya tulis bakal abadi. Sebut saja buku yang bertema bisnis internet. Saya yakin buku tersebut bakal sekadar seperti kembang api saja. Sesaat bersinar terang selepas itu padam karena trend tidak bisa kita ikat agar berhenti menurut ego kita. Buku bertema entrepreneur, mungkin bisa berumur agak lama sepanjang kita jeli untuk membuang dan menyisihkan pokok bahasan yang lekas usang. Saya masih ingat betul bagaimana editor saya “merayu” saya supaya mau membuang beberapa bagian dari naskah buku Kerja di Rumah Emang Napa? agar tetap enak dibaca dalam waktu lama. Bagian yang diminta untuk dibuang adalah suatu kalimat yang kurang lebih berbunyi “… seperti yoyo mainannya Mbak Mega.” Ya, membicarakan Mbak Megaeh, maksud saya yoyomemang sudah tidak musim lagi.

Tapi… tahukah Anda, ternyata ada saatnya saya harus mensyukuri bahwa buku saya tidak perlu abadi. Saya lega saat sadar bahwa buku saya yang berisi kumpulan cerita inspiratif kini tidak relevan lagi. Biarlah untuk buku yang satu ini, saya ikhlas buku saya ketinggalan zaman!

Sore itu, saya bertemu dengan Pak Totok. Seperti biasa, dia masih setia dengan topi dan sepeda tuanya. “Mau ke mana Pak Totok? Cari nasi, ya?” tanya saya.

Pak Totok tersenyum lebar sambil menghentikan sepedanya. “Ya, biasalah,” jawab dia ramah.

Saya sengaja menggunakan kata ‘cari nasi’ dan bukannya ‘beli makan’ karena memang hanya nasilah yang bakal dia beli. Saya sudah hafal itu. Setiap menjelang magrib dia pasti membeli nasi untuk anjingnya, kecuali hari Kamis karena pada hari itu anjingnya berpuasa. Pak Totok sendiri jarang makan nasi. Paling banter seminggu tiga kali saja dia menikmati nasi. Bahkan mungkin kini dia semakin jarang makan nasi sejak dia diberhentikan dari pekerjaannya sebagai satpam oleh pengurus RT tanpa sebab. Bahkan, empat bulan gajinya yang hanya Rp. 300.00 per bulan pun dikemplang pengurus RT.

“Maaf ya, kemarin saya enggak bisa ikut sembahyangan,” tutur Pak Totok masih dengan senyumnya.

“Lho, Pak Totok malam Minggu kemarin juga nggak ikut sembahyangan masa advent, to?” tanya saya.

“Saya juga enggak datang kok Pak Totok. Anak saya si Fani dilantik jadi Putri Sangkristi, jadi saya harus datang mengantar sekaligus nonton dia dilantik,” papar saya.

Pak Totok mengucapkan ‘O’ panjang.

“Lha, Pak Totok emang kemarin ke mana? Kan biasanya rajin ikut sembahyangan?” tanya saya.

“Anu… anak saya nikah,” jawab Pak Totok singkat namun memancarkan suatu kebahagiaan yang sengaja tidak ingin dia perlihatkan.

Pak Totok punya anak? Hem, soal ini tidak banyak yang tahu. Saya tahu pun belum lama tahu. Kalau tidak salah, Pak Totok punya dua atau tiga anak. Satu kerja di BCA, dan satu lagi di RS Elizabeth, Bekasi.

“Yang mana yang nikah, Pak? Yang kerja di BCA?”

“Iya… wah saya malu datang di acara nikahan,” jawab Pak Totok sambil tersipu.

“Lha, anak nikah kok malu?” tanya saya sambil ikutan nyengir.

“Lha, masak saya pakai disuapin segala. Padahal saya sudah ngumpet bahkan nggak niat mau datang. Eh... malah pakai dijemput segala…,” papar Pak Totok.

“Itu kan tandanya dia sayang saya Pak Totok,” lanjut saya.

Pak Totok memang misterius. Bukan cuma kemiskinannya yang tidak ketulungan, tinggal di gubuk yang lebih jelek dari pada kandang ayam, tidak pernah protes walau sejak sekian tahun lalu digaji hanya Rp 300.000 per bulan sebagai satpam. Uang itu kerap dia pakai untuk mengganti lampu jalan sepanjang empat gang yang sering mati dan warganya tidak pernah peduli untuk menggantinya. Sampai akhirnya pertengahan tahun ini dia diberhentikan dari profesinya sebagai satpam tanpa tahu sebab musababnya.

Anda yang sudah membaca buku Sandal Jepit Gereja khususnya cerita berjudul “Pondok Untuk Pak Totok” tentu sudah mafhum betapa akhirnya Pak Totok bersyukur karena kamiberbekal kekurangan yang kami milikiberhasil melakukan bedah rumah dan bisa memberikan satu rumah sederhana untuk Pak Totok yang miskin, tua, tidak menikah, dan misterius ini.

Sekali waktu saya pernah memergoki Pak Totok dibonceng seorang cewek sepulang gereja. Pak Totok selingkuh? Tentu tidak, karena Pak Totok tidak menikah hingga usianya nyaris kepala tujuh (atau malah sudah kepala tujuh?). Belakangan saya baru tahu, cewek yang memberi tumpangan Pak Totok adalah salah satu dari beberapa anak angkat Pak Totok! Dua yang masih saya ingat tentang anak angkat Pak Totok adalah kesuksesan mereka kini, menjadi karyawan BCA dan karyawan RS. Elizabeth, Bekasi.

Dan hari Sabtu kemarin Pak Totok yang memiliki masa lalu misterius, yang sedemikian miskin namun penuh kepasrahan pada penyelenggaraan Allah, telah menyaksikan salah seorang anak angkatnya menikah. Pak Totok terlihat sangat bergairah menceritakan hal itu. “Yang datang di nikahan sampai lima perusahaan.” paparnya. Saya pun mengangguk-angguk ikut senang.

Saya biarkan Pak Totok melanjutkan kayuhan sepedanya karena azan magrib sudah berkumandang dan mungkin anjingnya sudah lapar menanti nasi yang harus dia beli setiap petang. Saya bersyukur mengenal dan semakin dekat dengan sosok tua itu. Yang rela menghabiskan uang recehnya untuk membeli nasi bagi anjingnya walau dia sendiri tak punya cukup sisa untuk membeli makan untuk dirinya sendiri. Yang menolak untuk tinggal bersama anak-anak angkatnya dan ikhlas mendiami rumah sederhana tanpa plesteran yang dua setengah tahun lalu kami buatkan.

Pak Totok bukan sekadar objek yang mengantar tulisan saya di http://bit.ly/4PVtHx memenangi kontes menulis online bertema “Why I’m So Special” dua tahun lalu yang digelar oleh Jennie S. Bev, Pak Totok adalah satu di antara sekian banyak tanda-tanda yang Dia hadirkan di depan mata saya untuk lebih arif, lebih peka, dan lebih panjang mengulurkan tangan bagi sesama.

Pertemuan sore itu dengan Pak Totok membuat saya mensyukuri bahwa buku saya Sandal Jepit Gereja telah ketinggalan zaman karena kisah hidup Pak Totok tidak lagi sebatas belasan paragraf yang saya rangkai dalam tulisan berjudul “Pondok Untuk Pak Totok”. Moga-moga, kalau bisa, 22 kisah lainnya, entah itu yang berjudul “Murtad”, “Anak di Luar Nikah”, Selingkuhlah Kau Kutunggu” maupun kisah lainnya, juga bakal ketinggalan zaman karena ada ending lanjutan hasil skenario sang Ilahi yang tidak pernah berhenti![ayb]

* Anang Y.B., dikenal sebagai penulis bergaya story telling. Menekuni hobi menulis sejak kecil dan saat ini mulai serius menjalani profesi sebagai penulis buku bertema entrepreneur dan rohani populer. Empat buku terakhir yang sudah dia hasilkan adalah Santo Arnoldus Janssen (OBOR, 2009), Sandal Jepit Gereja (OBOR, 2009), 88 Mesin Uang di Internet (BEST, 2009) dan Kerja di Rumah Emang Napa? (GPU, 2009). Anang, Y.B. dapat dikontak lewat http://facebook.com/anangyb.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.5/10 (4 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Kami Masih Berjuang, Mama…

sj1Oleh: Sri Julianti*

“The best and most beautiful things in the world cannot be seen,

nor touched … but are felt in the heart.”

~ Hellen Keller

“Ayo, anak-anak… sudah mandi semua? Ini sudah jam 4 sore, siapa yang belum mandi?” demikian teriakan Mama Ani, mama kami setiap sore. Setiap jam 4 sore, dengan disiplin Mama meminta keenam anaknya sudah rapi. Bila anak-anaknya belum mandi pada jam itu, hukuman sudah menanti.

Pada jam 18.00, semua anggota keluarga sudah siap dengan makan malam. Dan, tepat pada jam 19.00, kami anak-anak sudah boleh bebas. Jam 20.00 semua berkumpul mendengarkan dongeng yang selalu diceritakan oleh Papa kami. Dongengan ini sampai sekarang masih melekat di kepala kami masing-masing. Jam 21.00 kami semua sudah di kamar tidur, jam 6.00 pagi kami semua bangun untuk ke sekolah, dan pulang sekolah kami tidur siang sampai jam 15.00. Demikianlah ritme kehidupan kami dahulu.

Mama sangat disiplin terhadap semua anaknya karena dia mau anak-anaknya menjadi orang besar”. Tidak seperti dirinya yang cuma seorang ibu rumah tangga yang dibesarkan di desa. Masa kecil Mama memang penuh perjuangan karena orang tuanya kurang mampu. Sejak berumur 6 tahun Mama kecil sudah bekerja serabutan membantu orang tuanya. Mama kecil bekerja sebagai pembantu rumah tangga pada satu keluarga yang cukup mampu, sebut saja keluarga Pak Harta. Mama kecil sering dihukum dengan dijewer telinganya, dipukul bagian lengan atau bokong-nya oleh Bu Harta karena sering pulang terlambat bila diminta belanja ke pasar. Memang, banyak hal menarik perhatian di amata Mama kecil apabila pergi ke pasar.

Saat Mama kecil harus masuk sekolah, bibinya sudah menyiapkan segala keperluannya, tetapi sayang ibunya yang berpikiran “kolot” tidak menginzinkan Mama kecil pergi ke sekolah. Mama kecil tidak berdaya, tapi dia berjanji suatu saat anaknya harus bersekolah setinggi mungkin, dan itulah obsesi hidupnya.

Di waktu senggangnya, Mama belajar membaca dan menulis sehigga nantinya Mama menjadi guru bagi anak-anaknya yang masih kecil. Saya masih ingat bagaimana Mama menuntun saya untuk belajar menulis halus, padahal Mama sendiri tidak pernah bersekolah.

Mundur selangkah, ketika Mama berumur 17 tahun, orang tua menjodohkan Mama dengan pemuda sekampungnya. Jadilah Mama Ani istri Papa Sugi dan masuk dalam keluarga besar Papa. Mama tidak punya pilihan. Mama hanya tahu ada seorang pemuda yang tekun belajar dan baik yang akan menjadi suaminya. Mama Ani berpikir, dengan menikah hidupnya akan lebih nyaman. Tetapi ternyata, penderitaan lain sudah menanti yaitu mulai dari tidak adanya kecocokan dengan anggota keluarga besar suami sampai menjadi penyumbang tenaga dalam keluarga besar; urusan mencuci, memasak, membersihkan rumah, dll. Mama juga selalu mendapatkan tekanan dan sindiran dari mertua maupun anggota keluarga besar lainnya karena tak kunjung hamil.

Lebih aneh lagi, dalam keluarga besar Papa Sugi, Papa tidak boleh menunjukkan kasih sayang kepada Mama. Pernah Mama bercerita, suatu malam Papa pulang dari bekerja dan dia mengeluarkan bungkusan dari kantong celananya. Ternyata, itu adalah sebuah pisang goreng yang ingin diberikan kepada Mama tanpa boleh diketahui saudara yang lain. Mama sangat bangga ketika menceritakan hal itu kepada anak-anaknya, betapa cintanya Papa kepada Mama.

Untunglah pada tahun ke lima perkawinan Mama hamil dan kemudian melahirkan anak pertama perempuan, diikuti oleh kelahiran putra-putri lainnya sampai tujuh orang. Sejak itu, rezeki Mama dan Papa berlimpah. Kami anak-anak didididik dengan disiplin dan belajar dengan tekun. Kami diajari cara berwiraswasta dengan menjual barang-barang toko ke sekolah atau memelihara dan mengolah kebun buah. Kami juga memelihara binatang piaraan seperti ayam, bebek, dll. Saya sendiri mendapat tugas memelihara bebek. Itu berarti, semua keputusan memasak telur atau memotong bebeknya untuk lauk tergantung kepada saya. Sementara kakak saya ada yang memelihara burung dara, ayam, menanam pohon srikaya, pohon jambu, pohon bunga gading, dll. Kami kenang masa kecil tersebut begitu menyenangkannya meskipun kelaurga kami tidak kaya.

Sampai suatu saat, sebuah berita buruk menerpa, Papa Sugi didiagnosis menderita kanker paru-paru dan diperkirakan umurnya tinggal tiga bulan. Sejak itu, kehidupan rumah tangga kami berubah total. Kakak perempuan saya yang baru berumur 19 tahun harus mengelola toko dibantu oleh kakak kedua (laki-laki pertama) yang harus meninggalkan bangku SMA-nya. Kakak kedua kami memang sering mengunjungi Papa ke Malang untuk belajar mengelola toko. Tapi, tidak mungkin semua ilmu diserap dalam tiga bulan.

Akhirnya setelah berjuang keras melawan penyakit kanker selama tiga bulan dua minggu, Papa benar-benar meninggalkan kami semua pada pukul 00.30 dini hari. Usia Papa waktu itu 45 tahun dan Mama sendiri masih berusia 42 tahun. Mama kemudian harus mengambil alih kendali rumah tangga dengan enam anak yang usianya antara 12-19 tahun.

Prahara mulai berdatangan. Perlahan-lahan toko kami mulai merugi. Dari toko yang penuh barang lama-lama menjadi toko yang kosong. Karyawan yang semula tujuh orang plus pembantu rumah tangga tiga orang, akhirnya semuanya di-PHK karena kami tidak punya uang untuk membayar mereka. Setiap hari kami punya tugas masing-masing untuk urusan rumah tangga. Dan, bila menjaga toko serta agar kami tidak mengantuk, maka tugas kami adalah membersihkan lemari-lemari toko yang sudah kosong.

Mama amat susah saat itu karena tak ada harta berarti yang ditinggalkan Papa Sugi. Suatu hari, Mama mengajak saya pergi ke Surabaya saat saya liburan sekolah. Saya yang masih kecil tidak tahu apa tujuan Mama dan hanya mengekor saja. Ternyata, Mama pergi mengunjungi pemasok satu per satu, bicara dengan pemilik toko maupun istrinya. Salah satu kata-kata mama yang masih ingat, “Tolong ya, anak saya dikasih kesempatan berdagang. Memang kami tidak punya modal dan anak saya masih belajar. Tapi saya bisa jamin mereka anak-anak yang baik. Mereka bukan peminum atau penjudi. Kalau dulu Papanya diberi kesempatan, tolong anaknya juga diberi kesempatan. Saya yang menjamin, modal yang dipinjamkan akan dikembalikan. Kalian semua kenal keluarga kami, kan?” Dari road show itu, satu per satu pemasok mulai mengirimkan barangnya dan kami boleh berutang untuk barang-barang itu seperti pada saat Papa masih hidup.

Perjuangan Mama belum habis. Pada saat anak-anaknya menginjak dewasa dan Mama mulai melepas kendali toko, ternyata kami dililit utang sementara sertifikat rumah sudah digadaikan oleh kakak kami kepada salah seorang pemasok barang. Sekali lagi, Mama mengunjungi orang ini bersama saya. Mama bertanya, “Kok bisa ya, anak saya memberikan surat rumah yang kami tinggali kepada Anda?”

Orang itu agak segan ke Mama dan beralasan, ”Dia bilang, itu hanya saya simpan kok. Karena anakmu utang cukup besar. Saya tidak akan mengambil alih rumah Encik….

Syukurlah kalau begitu. Apakah boleh saya membawa surat perjanjian utang itu agar saya jelas dengan segala persoalannya?” tanya Mama.

Boleh” jawab si pemasok.

Setelah surat perjanjian utang itu diberikan, ternyata itu adalah surat penyerahan absolut dari rumah yang kami tinggali. Lagi, seperti sebuah palu godam menerjang batin Mama. Tetapi Mama tetap tidak mau anak-anaknya menderita. Sekali lagi, Mama berunding dengan semua anaknya. Dan akhirnya, salah satu dari kami meminjam emas kepada salah seorang famili untuk menebus surat rumah tersebut. Akhirnya, kami berhasil lepas dari jerat masalah gadai rumah tersebut.

Tahun berlalu, akhirnya semua yang Mama tanam mulai berbunga dan panen sudah di depan mata. Semua anaknya satu per satu lulus dari universitas, kemudian bekerja, mandiri, punya mobil dan rumah. Itulah saatnya Mama menikmati masa tuanya sambil bercocok tanam, memasak, dan sangat mudah bergaul dengan tetangga barunya.

Sayang, masa-masa tuai ini hanya Mama nikmati sebentar saja karena deraan penyakit. Awalnya, Mama yang setiap hari memindahkan tanaman ke tempat yang cocok, pelahan digantikan tukang taman, dan akhirnya dia hanya bisa melihat tanaman yang dia ingin pindahkan. Itu karena kesehatannya mulai menurun saat dia terserang stroke dan osteoporosis secara bersamaan. Stroke-nya tidak berat, tetapi osteoporosisnya yang menyebabkan patah tulang pungung, sehingga saat perawatan Mama harus terus berbaring karena akan merasakan sakit bila bergerak.

Mama tidak berdaya lagi, semangat hidupnya menurun drastis. Keadaan inilah yang akhirnya membuat Mama putus asa. Sampai suatu ketika, Mama berkata, “Daripada Mama seperti ini, lebih baik Mama mati….” Kami selalu berdoa untuk yang terbaik buat Mama. Tetapi, Tuhan akhirnya memanggil Mama setelah menanggung penderitaan selama dua tahun. Kami merelakan Mama pergi untuk yang terbaik. Selamat jalan Mama…. Kami masih terus berjuang di dunia ini.[sj]

* Sri Julianti adalah praktisi packaging yang sudah malang melintang di dunia packaging selama 25 tahun lebih. Saat ini, ia sedang menuliskan pengalamannya dalam sebuah buku tentang strategi dan seni kemasan. Ia dapat dihubungi melalui pos-el: julipackaging[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya Oleh: Don Gabor Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009 ISBN: 978-979-22-5073-2 Tebal: xviii + 380 hal Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas! Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox