How Are You?

lkk1Oleh: Lina Kartasasmita*

“Give what you have. To someone, it may be better than you dare to think.”

~ Henry Wadsworth Longfellow

Berada di tengah anak-anak kelas 3 sekolah dasar, memberikan gambaran ketika saya kecil dahulu. Beberapa anak tampak sibuk sendiri dengan kotak pensilnya, ada yang sibuk membaca dan ada yang berbincang-bincang dengan teman-temannya. Ketika guru yang mengajar memulai pelajaran, anak-anak memusatkan perhatiannya ke ibu guru yang berdiri di depan kelas.

Saya berada di dalam ruangan kelas untuk melakukan observasi proses belajar dan mengajar di kelas tersebut, duduk mengamati selama 40 menit, saya menuliskan beberapa hal di catatan saya. Sekali-kali saya melayangkan pandangan saya ke murid-murid. Terlihat ada anak yang aktif bertanya, ada yang pasif, dan ada yang menghindar dari segala bentuk pertanyaaan.

Seusai jam pelajaran saat saya hendak beranjak keluar kelas, seorang anak perempuan menghampiri saya dengan membawa selembar kertas sobekan dari buku tulisnya. Dia menyodorkan kepada saya kertas itu. Saya bertanya,Untuk saya?” Dia hanya tersenyum dan menaruhnya di tangan saya, lalu berlari keluar.

Saya melihat kertas yang agak lusuh tersebut, tertulis,How are you, Ibu Lina?Dan, di situ ada gambar wanita berambut pendek. Saya tertegun sejenak. Tak pernah terlintas dalam pikiran saya bahwa seorang anak akan memberikan perhatian kepada saya yang hanya duduk diam selama 40 menit di kelas tersebut. Kertas yang sedikit lusuh tersebut dan gambaran tangan seorang anak kecil itu menjadi suatu yang berharga bagi saya saat itu. Ada hikmah yang bisa di petik dari suatu peristiwa sederhana itu.

Betapa sering kita berpikir pemberian kita harus barang yang berharga mahal. Kita berupaya memberikan impresi yang salah kepada orang-orang dengan memberikan barang yang mahal. Tapi kita lupa ketika memberi, ketulusan tidak menjadi dasar pemberian kita. Kita tidak lagi melihat kebutuhan yang sesungguhnya dari orang di sekitar kita. Mungkin orang di sekitar kita hanya butuh pujian, hanya butuh didengarkan, hanya butuh ditegur, atau melihat senyuman. Kita sering tidak lagi peduli ketika orang di sekitar kita telah kering semangat hidupnya. Ketika kepahitan dan kesulitan hidup telah menjadi beban sehari-hari. Ada banyak orang yang menjalani aktivitasnya tanpa semangat tapi seperti membawa beban di punggungnya.

Ketulusan anak itu menggambar saya, adalah suatu ketulusan yang murni dari seorang anak. Dari suatu yang sederhana, anak itu belajar memberi sesuatu dengan tulus. Dia berupaya membuat saya senang. Ya … anak itu membuat saya merasa bahagia, karena dia peduli dengan keberadaan saya. Dia menanyakan “How are you, apa kabar” kalimat sederhana yang bermakna lebih ketika kita ingin seorang menyapa kita.

Saya menulis di sebagian kertas lusuh itu,I am fine, thank you. I love your picture. Please keep writing and drawing.” Lalu, saya menyobeknya sebagian dan memberikan kepada seorang anak untuk mengembalikan potongan dari bagian kertas itu kepada si gadis cilik tersebut. Di sela waktu istirahat, ketika saya berada di tengah guru-guru. Ada bayangan di jendela ruang guru, si gadis cilik itu melambaikan tangannya sambil memegang bagian dari kertas lusuhnya, dan mengucapkan “Thank you.” Saya tersenyum dan melambaikan tangan kembali. Dan, si gadis cilik itu tersenyum sambil lari bergabung bermain dengan teman-temannya. Sebuah senyuman tertinggal di hati saya sepanjang hari itu. Dan, saya yakin si gadis cilik itu juga punya kebahagiaan sendiri yang cukup untuk disimpannya.

Ketulusan dan perhatian tidak membutuhkan banyak uang untuk di wujudkan. Untuk tersenyum dan melambaikan tangan kita tidak perlu izin khusus. Hanya keinginan untuk peduli akan memberikan kita kesempatan untuk menciptakan keindahan dan kebahagiaan di hati sahabat dan kerabat kita.[lkk]

* Lina Kartasasmita lahir di Jakarta 1966, lulusan sarjana akuntansi yang memilih menjadi guru dan ibu rumah tangga. Aktif di Toastmaster Club, suka menulis dan mencintai dunia pendidikan. Tulisan-tulisan Lina terdapat di www.wisdom-to-share.blogspot.com atau www.wisdom-to-share.blog.friendster.com. Pos-el: Lkartasasmita[at]hotmail[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Silaturahmi: Cara Mudah Mendapatkan Jodoh

gg1Oleh: Gagan Gartika*

Kemudahan bagi seseorang, bisa dianggap sukar bagi orang lain, kecuali bagi mereka yang pandai bersilaturahmi segalanya menjadi mudah.

~ Gagan Gartika

Mendapatkan pasangan hidup, misalnya, bagi sebagian orang sangat mudah, tetapi bagi yang lainnya sukar. Saya mempunyai teman yang susah sekali dapat jodoh. Saya ambil contoh seorang teman wanita lajang, yang sampai saat ini sudah berumur lima puluh lima tahun, ia sukar sekali mendapatkan jodoh. Bukan tidak berkeinginan menikah, namun sulit banget mendapatkan pasangan hidup sehingga ia stres, hilang harapan.

Semula parasnya menunjukan dia wanita cantik, tapi kini sudah mulai memudar, kuyu, bahkan suka berpakaian asal-asalan. Dirinya merasa tak ada lagi yang akan memerhatikan. Kalau ditanya dia cepat tersinggung. Kini dia menumpahkan perhatian pada kucing sehingga kucing di rumahnya semakin banyak. Ia memelihara, memberi makan, memandikan, memakaikan baju, dan menjadikan semua kucingnya lucu-lucu.

Saya sendiri sempat bertanya, “Kenapa masih sendiri, apa enggak ingin menikah? Jawabannya, datar-datar saja, menunjukan dia frustrasi dalam usaha mendapatkan laki-laki.

Lain cerita dengan teman saya yang satu ini. Teman pria ini malah hobinya kawin, padahal pekerjaan belum punya. Bila ada pekerjaan, ya hanya sekali-kali. Itu pun kalau ada yang menyuruh menyopir sehingga penghasilan tidak jelas. Tetapi aneh, kok istrinya banyak? Ketika saya tanya, “Istrinya makan dari mana? Jawabannya enteng banget, “Mereka masing-masing cari sendiri.

Nah, bagi seseorang, berpoligami ini mudah sekali dijalankan. Sementara bagi yang lain, susah sekali, bahkan bisa menimbulkan stres karena harus membagikan keadilan.

Lalu, apa rahasianya, agar mudah mendapatkan pasangan hidup? Ternyata sederhana, yaitu mau membuka diri untuk bisa bergaul dan bersilaturahmi.

Dengan bersilaturahmi, kita bisa menceritakan keinginan kita kepada teman. Siapa tahu sebagai teman mereka bisa membantu? Sebab, yang susah mendapatkan jodoh itu tidak hanya dialami kaum wanita, tetapi banyak juga dari kaum laki-laki.

Teman saya, sering dipanggil Pak Ong, ia hidupnya membujang (usia 48 tahun). Sehingga, segala keperluan hidupnya serba dikerjakan sendiri, mulai dari mencuci, menjemur, menyeterika, sampai keperluan makan. Lagi-lagi, bujang lapuk ini ketika ada masalah sedikit saja juga sering tersinggung. Saya sendiri tak mengerti kok setiap orang yang belum dapat jodoh, apa berperilaku begitu ya, cepat tersinggung? Jawabannya, biarlah kalangan psikolog yang bisa menjawab. Tetapi kenyataan yang saya temui hampir sama.

Makanya, saya pikir kenapa ya mereka sulit mendapatkan jodoh? Sementara, yang lain tampaknya gampang-gampang saja. Akhirnya, penyelenggara biro atau lembaga kontak jodoh pun ramai dikunjungi. Biro-biro jodoh ini sebagai mediasi untuk mempertemukan mereka yang kesulitan mendapatkan pasangan. Dalam kegiatannya, lembaga ini lebih banyak menerapkan pola silaturahmi untuk menyandingkan mereka.

Biro-biro tersebut membuat serangkaian event agar para bujang dan lajang itu bisa dekat, berkumpul bersama, menyanyi bersama, olah raga bareng, piknik, sehingga memungkinkan mereka saling mengenal dan bercerita.

Ketika berkumpul bersama, misalnya, mereka perlu saling menyapa, bersalaman, saling menceritakan tentang hobi, kesenangannya, pekerjaan sehari hari sampai kepada tipe idaman yang diinginkan. Kagiatan pertemuan sering diadakan terus-menerus sehingga mereka mendapatkan pasangan yang cocok.

Melihat model itu, ternyata silaturahmi mempunyai kekuatan yang ampuh bagi orang yang susah mendapatkan jodoh.

Menyontek model yang dilakukan biro jodoh ini, bagi kita yang masih jomblo, namun tidak berkenan datang ke sana, bisa berusaha mendapatkan pendamping hidup dengan sering melakukan silaturahmi. Caranya ya dengan mendatangi perkumpulan-perkumpulan yang banyak massanya, bertegur sapa lewat internet, karena di sana pasti akan mendapatkan peluang dan ketemu berbagai macam orang.

Dalam silaturahmi, supaya lancar kita perlu memilki sikap penolong dan mau membantu orang yang sedang dalam kesusahan. Hasil bantuan kita akan mendapat perhatian dari orang lain sehingga citra kita sebagai seorang penolong dan peduli terhadap orang lain makin melekat.

Makanya, saya yakin bagi orang yang tadinya susah mendapatkan jodohdengan sering melakukan silaturahmiakan cepat memperoleh apa yang dicita-citakan. Kita bisa meluaskan hubungan, meluaskan relasi. Dan, dengan banyaknya kenalan, masak sih enggak ada yang melirik kemampuan kita? Apalagi memiliki jiwa penolong. Pasti deh, dapat dan mudah. Hehehe….[gg]

* Gagan Gartika adalah praktisi Silaturahmi Marketing (SiMark), pengusaha di bidang forwarding, transportasi, dan pengurusan jasa kepabeanan pada PT Kumaitu Cargo dan PT Penata Logistic. Ia adalah pemilik Lembaga Pendididikan dan Pengembangan Bisnis (LPPB) Sinergi Indonesia. Pendidikan terakhirnya adalah S-2 Manajemen dari Ibii, Jakarta. Selain itu, pada bidang pengajaran Gagan mengabdi sebagai dosen Sekolah Tinggi Manajemen Transpor Trisakti, Jakarta. Per November 2009, Gagan tergabung sebagai Kolomnis Tetap AndaLuarBiasa.com. Artikel di atas merupakan bagian dari naskah yang hendak diterbitkan menjadi buku dengan judul The Power of Silaturahmi. Gagan dapat dihubungi melalui pos-el: gagan[at]kumaitucargo[dot]co[dot]id.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.7/10 (6 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 2 votes)

Samurai Sejati 9: Jangan Bangunkan Satpam!

rm1Oleh: Risfan Munir*

Tugas satpam ialah menjaga dan memberi rasa aman pada penghuni area yang dijaganya. Dia akan menahan atau mengusir pengganggu kenyamanan penghuni.

Ternyata di otak kita ada yang berfungsi “menjaga kenyamanan” diri kita, yaitu yang disebut amygdala. Sebagaimana satpam, tugasnya menangkal dan melumpuhkan ide, informasi yang potensial “mengancam kenyamanan” diri kita. Saat tiba-tiba kita dikejutkan oleh benda jatuh, ada kendaraan mau menabrak kita, atau ancaman lainnya, amygdala “memerintahkan” pikiran dan tubuh kita untuk bereaksi sangat cepat dan mengenyampingkan hal-hal lain, sebagai refleks mempertahankan diri. Cara kerjanya adalah “reaksi cepat”. Ini bagus tentu, tapi kelemahannya sering emosional, kurang berpikir panjang. Kelemahan ini yang sering merepotkan kita.

Rupanya amygdala ini juga “menjaga” diri kita dari ide “perubahan ” yang akan kita lakukan, yang potensial mengganggu zona kenyamanan (comfort zone) kita. Mengapa upaya peningkatan kualitas atau pengembangan diri seperti niat berolah raga, menurunkan berat badan, meskipun pikiran rasional kita menyatakan itu sangat penting, tetapi nyatanya kita sulit melakukannya. Itu antara lain karena amygdala menolak, karena dia spontan ingin “menyelamatkan” kita agar tetap  dalam kenyamanan.

Ide perubahan seperti mengurangi berat badan dengan olah raga dan diet. Ide berhenti merokok. Ide menulis artikel, apalagi menulis buku, semuanya mengganggu “kenyamanan” diri kita. Biasa pagi baca koran sambil minum kopi kok harus olah raga. Biasa makan jerongan yang lezat, kok harus diet. Biasa menikmati sedapnya menghisap rokok, kok harus distop. Biasa santai kok harus mengerahkan pikiran untuk menulis. Maka, amygdala bagaikan satpam, bereaksi cepat mempertahan diri kita agar tidak usah melaksanakannya, agar nyaman dan tenteram.

Oleh karena itu, jika rasio kita mengendaki kita berubah, atau melakukan sesuatu yang sangat bermanfaat bagi diri dan tujuan kita, maka lakukanlah itu “tanpa membangunkan amygdala“. Caranya ialah bergerak tanpa menimbulkan “suara, kegaduhan”, berjingkat, menyelinap bagaikan ninja, agar si satpam tak terbangun.

Lakukanlah perubahan mulai dengan langkah-langkah kecil sederhana, sehingga “radar amygdala” tidak mendeteksinya, sehingga tak ada penolakan. Inilah prinsip dari “kaizen” alias continuous process improvement, yaitu proses perbaikan berkelanjutan.

Saya sendiri sudah merasakan manfaatnya. Di rumah saya punya persoalan dengan tumpukan dokumen dan buku ada di mana-mana, di ruang kerja, di garasi, dan di gudang. Tumpukan kertas yang menurut saya “nanti ada manfaatnya.” Saking berantakannya sehingga untuk menyortir dan merapikannya, bayangan saya perlu waktu dan kerja ekstra. Jadi kalau diingatkan istri, saya selalu mengatakan,”Nanti kalau libur panjang.” Tapi bisa ditebak, kalau libur panjang, Lebaran dan Tahun Baru, pasti untuk santai atau bepergian. Jadilah tumpukan kertas itu makin menggunung.

Saya berpikirnya nanti saja sekalian kerja bakti besar-besaran. Dan, masalahnya ternyata bukan kerja fisiknya saja. Masalah membuang barang milik adalah masalah psikologis, “Sayang dibuang, siapa tahu proyek berikutnya perlu, atau ada kenangannya.” Sehingga, penolakan batin ini juga faktor besar. Walau tumpukan barang membuat rumah seperti gudang, dan omelan terus datang.

Akhirnya, saya pilih menerapkan prinsip “kaizen” ini. Pelan-pelan tumpukan demi tumpukan saya tangani. Walau kadang cuma “tega” membuang satu dua paper tak apa, kalau teganya memang baru segitu. Saya jaga agar tidak seperti “kerja bakti”, tapi kegiatan rutin seperti merapikan meja sebelum dan setelah bekerja. Ternyata, ini berjalan tanpa perlawanan berarti dari “satpam amygdala.” Setelah beberapa waktu, mulai tampak rak dan lemari jadi longgar. Ruang kerja jadi longgar, garasi dan gudang kelihatan dindingnya.

Bidang penerapan yang lain ialah olah raga. Bagi yang tidak hobi, anjuran pikiran untuk berolah raga itu selalu ada alasannya. Alasan paling klasik ialah tidak ada waktu. Apalagi bagi yang tinggal di wilayah Bodetabek, yang berangkat sebelum jam 6.00 pagi dan sampai di rumah paling cepat jam 18.00 malam. Tapi ternyata masih sempat nonton TV. Saran untuk gerak badan (tak usah disebut olah raga kalau ‘mengerikan’) di depan TV, mulai dari stretching, jalan di tempat, lari di tempat beberapa menit sambil tetap menikmati acara TV ternyata luamayan juga. Tanpa sadar sudah gerak badan 15 menit. Kalau ini bisa dikerjakan sungguh berbeda dibanding dengan beralasan tak oleh raga selama seminggu, sebulan, setahun sebelumnya. Seorang senior saya di kantor yang usianya di atas 60 tahun tapi masih menunjukkan kebugaran. Sungguh mengagumkan. Ketika ditanya apa olah raganya, ternyata jawabannya “lari-lari kecil di dalam rumah, atau di kamar hotel kalau sedang travelling.”

Saya sekarang sedang menerapkannya dalam meningkatkan volume minum air putih. Sekali lagi saya kapok gagah-gagahan, sehingga saya minum sedikit demi sedikit, tapi botol air mineral selalu ada di samping. Tanpa sadar 3-4 botol terminum juga tiap hari. Sekali lagi kuncinya adalah kaizen, perlahan agar “satpam amygdala” tidak sampai bangun, sehingga menciptakan alasan untuk menunda.

Kesimpulannya, “think big, start small, act now.” Biasanya kita gagah-gagahan pasang target besar, tapi selalu ada alasan, “Tunggu kalau ada waktu, ada uang, kalau yang lain juga siap.” Nyatanya, comfort zone kita juga terlalu nyaman untuk ditinggalkan.

“Change or die!” kata orang. Iyalah, tapi mulai pelan-pelan, jangan sampai satpam amygdala di otak kita bereaksi. Kata ludruk Suroboyoan,ojo nggugah asu turu,” jangan bangunkan anjing tidur. Kalau amygdala kita sadar, ada saja argumen yang dibisikkan ke pikiran untuk tetap nyaman, tunggu waktulah, uanglah, temanlah, nanti saja sekalian. Act now! Selamat mencoba.[rm]

* Risfan Munir adalah penulis buku Jurus Menang dalam Karier dan Hidup ala Samurai Sejati (Gramedia Pustaka Utama, 2009) dan Pengembangan Ekonomi Lokal Partisipatif (LGSP-USAID, 2004, 2008). Kolumnis tetap pada www.AndaLuarBiasa.com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Kalau Bisa Dipersulit Kenapa Harus Dipermudah?

iyOleh: Iftida Yasar*

Ingat iklan layanan masyarakat yang menggambarkan buruknya pelayanan publik di Indonesia? Sebagai rakyat, kadang untuk mengurus segala sesuatu harus dilalui dengan susah payah, dan waktu juga terbuang sia-sia. Urusan KTP sekarang sudah lancar, begitu juga pengalaman saya mengurus perpanjangan pasport, lancar dan pembayaran sesuai dengan harga yang tertera di loket. Sepanjang pengalaman saya, PLN sebagai satu-satunya perusahaan yang menyediakan listrik bagi kita, masih memberikan pelayanan yang buruk. Listrik bisa saja mati tiba-tiba, hanya PLN dan Tuhan yang tahu kapan listrik akan mati.

Coba bagi Anda penggemar olahraga sepeda, apakah anda menikmati enaknya bersepeda di kota Jakarta yang macet, berdebu, dan penuh dengan lalu lalang kendaraan yang tidak mau mengalah? Jika Anda nak bus kota, hanya busway yang agak lumayan, baik kebersihan, kenyamanan, maupun kelancarannya. Yang lain seperti metromini, angkot, ojek, bus kota, kereta api rakyat, semua memerlukan kesabaran, dan juga hati yang lapang untuk tidak protes karena tidak ada pilihan lain.

Hal ini berbeda dengan Jepang, teman! Di Jepang pepatah di atas tidak berlaku. Jepang sebagai negara yang memahami dan menjalankan dengan baik konsep negara kesejahteraan, mampu membuat rakyatnya menikmati dan bangga menjadi orang Jepang. Begitu memasuki bandara Narita, terlihat segala sesuatunya telah ditata dengan rapi. Mulai dari penataan interior yang menyejukkan, baik warna maupun perabot yang sederhana dan berkelas, sampai petugas yang melayani di bandara. Mereka menyambut tamu dengan ramah dan menggunakan bahhsa Inggris yang jauh lebih baik dibandingkan ketika saya ke Jepang tahun 1991. Petugas mampu menerangkan cara mengisi formulir barang yang kita bawa masuk Jepang. Petugas imigrasi berdandan ala anak muda sekarang, rambut gondrong tapi rapi, setelan jas yang modis, ramah, dan tidak berwajah angker.

Dari Narita ke Chiba kami naik bus limousin yang bersih dan mewah. Kopor bawaan juga dilayani sampai masuk ke dalam bagasi. Ada buku saya ketinggalan di dalam bus dan baru ingat dua jam kemudian. Oleh petugas hotel dibantu dicarikan pengemudi yang tadi mengantar saya. Dan, kami bertemu jam 16.16 sore, tepat di tempat yang sama dan dengan buku dikembalikan secara utuh. Sungguh pelayanan yang sopan, cepat, dan ramah.

Sore hari di tengah cuaca dingin saya belanja di Carefour terdekat dari hotel dengan berjalan kaki. Terlihat orang Jepang dengan santai naik sepeda di trotoar lebar yang khusus disediakan bagi pejalan kaki dan pemakai sepeda. Cuaca dingin tidak menghalangi semangat untuk bersepeda karena memang suasana kota memungkinkan untuk itu.

Di depan hotel tersedia payung umum yang boleh dipinjam bagi pengunjung hotel yang kebetulan tidak membawa payung. Jika sudah selesai harap dikembalikan dan lama meminjam tidak boleh lebih dari tiga hari. Tidak ada petugas yang mencatat siapa yang memakai payung dan kapan mengembalikannya, apakah lebih dari tiga hari, dan sebagainya. Tetapi, orang Jepang yang taat aturan akan mengikuti aturan pinjam-meminjam payung. Taman kota tertata rapih, gedung asrama bersih, dan di mana-mana tersedia fasilitas umum yang baik. Seperti: lobi ruang tunggu, kamar mandi yang bersih, kantin, serta kamar asrama yang rapih dan bersih. Wow, rasanya enak ya jadi rakyat Jepang, semuanya diperhatikan dengan baik oleh pemerintahnya.

Bagi saya, yang paling berkesan adalah fasilitas kamar mandi umum yang sangat nyaman. Toilet umum dilengkapi dengan berbagai tombol dengan warna berbeda sesuai kegunaannya. Ada tombol merah dengan tulisan stop, ada tombol hijau untuk membilas kalau kita buang air kecil, ada tombol pink untuk bilas buang air besar, dan yang paling hebat ada tombol putih yang jika dipencet akan mengalunkan lagu. Bagaimana pemerintah Jepang ingin membahagiakan dan melayani rakyatnya terjawab melalui kelengkapan toilet umum tadi. Bahkan, pada musim dingin seperti sekarang, jika kita duduk di toilet maka akan terasa hangat, begitu juga air bilasan disetel hangat.

Di tempat saya menginap dan mengikuti pelatihan namanya OVTA (Oversea Vocational Training Association), terlihat banyak pekerja Indonesia yang mengikuti kerja magang di Jepang. Anak-anak muda yang kelihatan gagah, tampan, dan memiliki semangat serta harga diri sebagai pekerja. Setiap kali bertemu mereka akan mengucapkan ”konichiwa” atau selamat siang, sambil menunduk dengan sopan. Sungguh membanggakan melihat anak bangsa yang kalau dididik dengan benar mampu membuat dirinya berkualitas. Budaya Jepang yang sopan, disiplin, dan semangat bekerja yang tinggi mampu dengan cepat diserap oleh mereka yang berada di lingkungan ini.

Indonesia kamu bisa! Hai…hai dozo, tapi kapan?![iy]

* Iftida Yasar lahir pada 28 Maret 1962. Ia meraih gelar Sarjana Psikologi Pendidikan dan Sarjana Hukum di Universitas Padjajaran tahun 1980. Dan meraih gelar S-2 Psikologi di Universitas Indonesia tahun 1992. Iftida Yasar adalah seorang konsultan SDM, hubungan industrial, dan outsourcing. Ia juga seorang entrepreneur, trainer, motivator, aktivis sosial bidang pengembangan SDM, Wakil Sekretaris Umum APINDO, dan Penasihat Asosiasi Bisnis Alih Daya Indonesia (ABADI). Iftida baru saja meluncurkan dua buku terbarunya yaitu Merancang Perjanjian Kerja Outsourcing (PPM, 2009) dan Perempuan Makan Perempuan (Kosmis, 2009). Ia dapat dihubungi di nomor: 0811896944 atau pos-el: iftidayasar[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Menguak Sukses Lewat Inventarisasi Keahlian

rs1Oleh: Relon Star*

“Jangan pusing dengan apa yang orang lain lakukan,

tetapi sibuklah dengan apa yang bisa Anda lakukan.…”

~ Relon Star

Saat ini saya sedang membimbing komunitas pelajar di SMA yang ada di dekat rumah. Mereka sedang menapaki kelas 3 SMA, dan mulai sibuk memikirkan kuliah. Beberapa dari mereka sudah menemukan bidang masing-masing, dan memilih jurusan kuliah sesuai dengan minat mereka. Sebagian lagi konsultasi pada saya apa yang harus mereka pilih. Salah seorang dari mereka di setiap kali pertemuan sangat mendominasi pembicaraan. Makanya, saya menyarankan untuk memilih jurusan komunikasi.

Tetapi, selalu ada orang yang seperti ini. Simak pernyataan yang diberikan oleh salah seorang pelajar ini: “Ci, saya iri pada temanku. Dia itu memiliki kelebihan di bisnis. Sejak SMA saja dia sudah mengerti tentang bagaimana berbisnis. Wah, pasti masa depannya cerah. Setiap kali saya ke rumah dia, pasti dia sudah berada di depan komputer untuk mengikuti perkembangan saham—bisnis yang juga digeluti oleh orang tuanya. Dia calon orang sukses.”

Kemudian saya bertanya, “Bagaimana dengan kamu? Apa yang kamu rencanakan dalam hidup kamu?”

Ah, saya enggak bisa apa-apa”, ujarnya.

Dan, Anda pasti bisa menebak apa yang saya katakan padanya. Tentunya, motivasi. Belakangan saya baru tahu bahwa dia berminat di perminyakan dan akan mengambil kuliah di ITB.

Fokus pada keahlian yang kita miliki akan memunculkan kekuatan yang bermuara pada kesuksesan. Ditambah lagi dengan kekonsistenan untuk terus melatih diri mengasah keahlian tersebut.

Saya menemukan keterampilan dalam menulis ketika berusia 28 tahun. Agak terlambat, memang. Idealnya, orang mulai menemukan keahliannya saat berusia dua puluhan.

Namun, daripada terus menyesali keterlambatan saya dalam menemukan keahlian menulis, saya memilih untuk fokus pada kekuatan saya ini. Minimal, sebulan dua kali Anda dapat menikmati tulisan saya di website Andaluarbiasa.com. Menulis di Andaluarbiasa.com juga merupakan salah satu usaha saya dalam mengasah keterampilan menulis.

Siapa pun yang bekerja di toko eceran tahu apa arti kata “inventarisasi barang”. Sebagai seorang karyawan, bila Anda melakukan inventarisasi itu berarti Anda mulai mendata produk-produk yang ada di atas rak. Anda menghitung satu persatu setiap barang sampai Anda memeroleh catatan yang akurat tentang apa yang Anda miliki dan apa yang Anda butuhkan. Kebanyakan toko melakukan inventarisasi sekali atau dua kali setahun. Beberapa toko melakukannya setiap bulan. Sebenarnya, Anda tidak dapat benar-benar menjalankan bisnis dengan baik tanpa mengetahui apa yang Anda miliki di daftar inventaris Anda.

“Hal-hal yang merupakan hobi di masa lampau, kalau dikembangkan secara profesional pun akan menghasilkan karya yang tidak tanggung-tanggung,” demikian diungkapkan Jennie S.Bev.

Seorang pemain tenis meja, jika ia ahli dalam melakukan backhand, sebaiknya ia terus menggunakan backhand tersebut untuk melumpuhkan lawannya. Ada lagi yang ahli melakukan forehand, kenapa harus memaksakan diri melakukan backhand jika dengan forehandnya saja lawan bisa mati kutu?

Sewaktu saya mulai mendaur ulang hidup saya di tahun 1999—setelah sembuh dari kecanduan narkoba—saya mulai menginventarisasi keterampilan saya untuk menata masa depan. Okelah, waktu saya sudah terbuang selama tujuh tahun karena terjerumus narkoba. Tapi, saat itu saya berusia sembilan belas tahun. Saya memilih melihat puluhan tahun yang masih bisa saya benahi, ketimbang tujuh tahun yang sudah porak-poranda. Tidak ada gunanya menyesali yang tujuh tahun, sedangkan puluhan tahun ke depan masih ada dalam genggaman saya.

Saya meyakini bahwa Tuhan memberikan setiap orang kemampuan yang berbeda. Daripada Anda terlihat lemah karena terus meratapi kekurangan Anda, lebih baik mulai fokus pada keahlian Anda. “Jangan pusing dengan apa yang orang lain lakukan, tapi sibuklah dengan apa yang bisa Anda lakukan.”

Masakan Anda kalah dengan mantan morfinis ini?[rs]

* Relon Star adalah seorang public speaker dan penulis buku (2008). Saat ini ia bekerja sama dengan Departemen Pemberdayaan Perempuan, aktif mengisi seminar-seminar serta penyuluhan di sekolah-sekolah mengenai bahaya narkoba. Relon dapat dihubungi melalui pos-el: relonstar[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 5.3/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Segera Laksanakan dan Nikmati Benefit GCG

sj1Oleh: Sri Julianti*

“There is nothing permanent except change.”

~ Heraclitus

Ketika saya disodori buku ini untuk mengulasnya, saya amat tertarik, terutama karena GCG ini banyak didengung-dengungkan, dan tempat saya bekerja juga sudah melaksanakanya cukup lama. Meskipun begitu, saya masih juga mendengar nada-nada sinis dalam pelaksanaan GCG. Yang membuat saya tertarik sekali dalam membaca buku ini, saya menjadi lebih tahu tentang cara para pemimpin perusahaan dalam meletakkan fondasi sebelum GCG di laksanakan. Saya juga jadi lebih tahu tentang undang-undang yang berkaitan dengan GCG, cara implementasi, dan cara monitoringnya. Juga soal bagaimana para direktur—yang sering disebut “the untouchable”—terikat dengan aturan dalam board manual.

Buku ini menjelaskan secara detail apa itu GCG, strategi tata pelaksanna GCG terutama smart strategy for 360 degree CGC, dan road map-nya ala Wilson dan Fajri (W-F GCG strategi road map), problem apa yang dihadapi, komunikasi, implementasi, dan monitoring dari GCG. Di dalam buku ini juga dijelaskan tahapan praimplementasi apa saja yang harus disiapkan.

Komitmen dari semua top management, segenap tingkatan, serta jenjang organisasi merupakan prasyarat utama dan pertama yang harus dipenuhi dalam praimplemtasi GCG. Juga tak kalah pentingnya soft structure dan infrastructure. Sedangkan pada tahapan implementasi diperlukan assesemnt, baik self assesment maupun menggunakan independent body dan monitoringnya.

Buku ini sangat cocok sekali untuk para pimpinan perusahaan dalam meletakkan dasar-dasar GCG, baik itu BUMN, bank, maupun perusahaan lainnya. Juga diingatkan berkali-kali oleh penulis agar GCG jangan hanya menjadi lip service saja, melainkan harus menjadi way of life dari setiap orang dalam jajaran organisasi.

Buku ini terbit pada saat yang tepat, di mana bangsa Indonesia tengah dilanda berbagai kasus korupsi di segala tingkatan, baik perusahaan swasta, BUMN, maupun perusahaan perorangan. Apalagi dengan mencuatnya kasus Bank Century dan investasi bodong lainnya. Buku ini membantu para pemimpin perusahaan untuk meletakkan kembali dasar-dasar GCG demi kepentingan karyawan, perusahaan, dan akhirnya menunjang kepentingan ekonomi nasional.

Dari awal membaca buku ini, bahasan setiap teori sangat mendetail dan jelas, lengkap dengan contoh-contoh maupun perundang-undangan yang mendukungnya. Contoh-contoh yang diambil terutama dari perusahaan BUMN dan bank. Buku ini sangat mudah dibaca oleh para profesional dan pemimpin perusahaan.

Ketika membaca buku ini saya mendapatkan nilai tambah dengan melengkapi pengetahuan saya dalam bidang finance, legal, dan terutama yang berkaitan dengan bank dan BUMN. Inilah kelebihan Wilson dan Fajri dibandingkan penulis buku sejenis lainnya. Dengan pengalaman beliau berdua sebagai konsultan, buku ini memberi pesan, bahwa dengan komitmen dan perencanaan yang matang, GCG sangat gampang dijalankan dan perusahaan akan menikmati business growth yang lebih baik.

Wilson dan Fajri juga mengingatkan kita untuk tidak mempunyai mind set yang menganggap GCG hanya lip service atau cuman menambah panjang prosedur dan SOP perusahaan, alias sia-sia saja. Karena itu, pemimpin perusahaan harus menjadi contoh dalam melaksanakna GCG, dan semua orang dalam jenjang organisasi dapat merasakan keuntungan dari pelaksanaan GCG.

Hadirnya buku ini, diharapkan oleh penulis, akan semakin meyakinan kita bahwa tidak ada yang tidak mungkin untuk melaksanaan GCG selama pemimpin dan seluruh jajaaran organisasi berkomitmen. Tetapi sayang, buku ini kurang memberikan contoh mendasar pada code of conduct, misalnya dalam peraturan memberi dan menerima hadiah. Bila seorang karyawan bertanya, ”Pak, Bu, bolehkah saya menerima hadiah Lebaran berupa sebuah sarung?” Pertanyaan-pertanyaan yang praktis dan menggelitik ini tidak dibahas di buku ini. Jadi, buku ini tidak begitu mudah dimengerti oleh awam dan para pelajar. Juga sangat disayangkan, pekerjaan editor kurang teliti dalam spelling, meskipun secara keseluruhan tidak mengurangi makna dari bahasan.

Dengan pelaksaanan GCG, tidaklah mustahil suatu saat ekonomi Indonesia dapat menyaingi negara tetangga kita, bahkan juga India dan China. Bagaimana dengan perusahaan Anda? Sudahkah perusahaan Anda melaksanakan GCG? Segera laksanakan GCG dan nikmati benefit-nya.[sj]

* Sri Julianti adalah konsultan packaging yang sudah malang melintang di dunia packaging selama 25 tahun lebih. Saat ini, ia sedang menuliskan pengalamannya dalam sebuah buku tentang strategi dan seni kemasan. Ia dapat dihubungi melalui pos-el: ulipackaging[at]yahoo[dot]com.

DATA BUKU

Judul buku: Smart Strategy for 360 Degree GCG

Penulis: Wilson Arafat dan Mohamad Fajri M.P.

Penerbit: Skyrocketing Publisher, Jakarta, 2009

ISBN : 978-979-18098-1-8

Tebal : xi + 263 hal

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

5 Elemen dan 5 Aspek Kehidupan: Kesadaran, Bakat, Sifat, Profesi, Kesehatan

ahg1Oleh: Aleysius H. Gondosari*

Di China, konsep Wu Xing serta Yin dan Yang digunakan dalam berbagai aspek kehidupan seperti spiritual (Tao), kesehatan (akupunktur), pernapasan sehat (Chi), olahraga kesehatan dan bela diri (Tai Chi dan Chi Kung), geomansi (Feng Shui), dan astrologi (Shio).

Demikian pula di India, konsep Pancha Mahabutha dan Tiga Guna diaplikasikan dalam berbagai aspek kehidupan seperti spiritual (Yoga), pernafasan sehat (Pranayama), olahraga sehat (Asana), dan pengobatan (Ayurveda).

5 Aspek Kehidupan

Dari hasil analisis energi, saya menemukan adanya energi dari 5 aspek kehidupan dari 5 Elemen, yaitu:

1. Aspek Spiritual: spiritual, kesadaran, nilai-nilai, meditasi, intuisi, konsentrasi.

2. Aspek Pendidikan: bakat, kecerdasan, pendidikan.

3. Aspek Karakter: karakter, sifat.

4. Aspek Kekayaan: kekayaan, penghasilan, rejeki, bisnis, usaha, karir, pekerjaan, profesi.

5. Aspek Kesehatan: kesehatan, panjang umur, kekuatan, perlindungan.

Pada setiap orang, aspek yang menonjol akan berbeda-beda, tergantung kepada elemen-elemen yang aktif. Kita akan mengambil contoh 5 orang dengan elemen aktif yang berbeda-beda.

Orang yang pertama mempunyai energi yang menonjol pada aspek Kesadaran. Ia bisa mempunyai beberapa elemen yang aktif pada aspek Kesadaran sehingga ia lebih suka bergerak di bidang yang berhubungan dengan spiritual, kesadaran, nilai-nilai, intuisi, doa, dan meditasi.

Orang yang kedua mempunyai energi yang menonjol pada aspek Bakat dan Kecerdasan. Ia bisa mempunyai beberapa elemen yang aktif pada aspek Bakat, sehingga ia lebih menyukai hal-hal yang berhubungan dengan bakat dan kecerdasan. Sebagai contoh, orang yang mempunyai bakat sepakbola akan senang bermain bola sejak kecil.

Orang yang ketiga mempunyai energi yang menonjol pada aspek Karakter. Ia bisa mempunyai beberapa elemen yang aktif pada aspek Karakter, sehingga ia selalu lebih mementingkan karakter, sifat, dan penampilan.

Orang yang keempat mempunyai energi yang menonjol pada aspek Kekayaan. Ia bisa mempunyai beberapa elemen yang aktif pada aspek Kekayaan, sehingga ia lebih fokus pada bagaimana meningkatkan kekayaan, penghasilan, rezeki, bisnis, usaha, profesi, karier, dan pekerjaan.

Orang yang kelima mempunyai energi yang menonjol pada aspek Kesehatan. Ia bisa mempunyai beberapa elemen yang aktif pada aspek Kesehatan, sehingga ia tampak selalu memerhatikan aspek kesehatan, panjang umur, kekuatan, serta perlindungan dari bahaya.

Tentu orang tidak dibatasi hanya mempunyai kemampuan pada aspek tertentu saja. Orang bisa saja mempunyai energi yang cukup untuk dua aspek kehidupan atau lebih. Jadi, bisa saja ada orang yang mempunyai kemampuan yang menonjol pada aspek Kesadaran, Sifat, dan Kesehatan tetapi kurang menonjol pada aspek Bakat dan Profesi.

Orang yang lain bisa saja mempunyai kemampuan yang menonjol pada aspek Bakat, Karakter, dan Profesi, tetapi kurang menonjol pada aspek Kesadaran dan Kesehatan.

Hal ini menjelaskan mengapa tidak ada orang yang sempurna di dunia ini. Sebab, jarang sekali ada orang yang energinya aktif pada seluruh aspek kehidupan. Jadi, kita akan menemukan orang-orang seperti contoh berikut ini:

* Orang pertama yang mempunyai bakat yang sangat menonjol, tetapi kariernya tidak cemerlang.

* Orang kedua mempunyai kecerdasannya biasa-biasa saja, tetapi karier dan bisnisnya luar biasa.

* Orang ketiga mempunyai kesadaran yang tinggi, menjunjung nilai-nilai yang baik, dan kariernya juga sukses.

* Orang keempat sangat berbakat, kariernya juga sukses, tetapi kesehatannya kurang baik.

* Orang kelima mempunyai karier yang sukses, kesehatan baik, tetapi kurang menyukai aspek kesadaran dan nilai-nilai.

Resep Sehat Bahagia

Dengan menyadari pada aspek-aspek mana saja kita lebih menonjol, dan pada aspek-aspek mana saja kita masih memiliki kekurangan, kita akan dapat memilih pola hidup yang sesuai dengan kelebihan kita, sambil memperbaiki kekurangan kita.

Di sini, kita lebih banyak membahas tentang aspek Kesehatan, karena setiap orang bisa sehat dengan memperbaiki energi yang aktif pada aspek Kesehatannya. Ia dapat meningkatkan elemen yang aktif untuk kesehatan secara bertahap mulai dari 1, 2, 3, 4, atau mengaktifkan kelima elemennya dengan menjalankan kebiasaan hidup sehat. Salam Sehat Bahagia![ahg]

* Aleysius H. Gondosari adalah alumnus ITB tahun 1984, trainer bidang organisasi dan manajemen, penggemar fotografi, pengembang online business, dan sedang menulis buku tentang sehat secara alami dengan metode Energi 5 Elemen, yang juga dapat dilihat di www.5elemen.com. Aley tinggal di Jakarta dan dapat dihubungi melalui email: aleysiush[at]gmail[dot]com atau di nomor telepon: 0818116669.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.6/10 (14 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +5 (from 5 votes)

Anang Y.B.: Berpenghasilan Layak dengan Berusaha dari Rumah, Why Not?

Anang Y.B.: Memperkenalkan profesi geografer

Anang Y.B.: Memperkenalkan profesi geografer

Anda pernah tahu atau mendengar tentang profesi sebagai geografer? Barangkali, ini bukan profesi yang sering Anda dengar, walau mungkin Anda bisa mereka-reka bidang kerjanya karena namanya. Profesi geografer memang benar ada dan penghasilannya pun lumayan. Kebetulan, nama profesi ini diciptakan serta ditekuni oleh Anang Tri Nugroho, seorang bloger atau ‘pabrik blog’ yang lebih dikenal dengan nama pena Anang Y.B.

Anang Y.B. lahir pada 4 Februari 1970 di Bantul, DIY, dan lulusan tercepat Fakultas Geografi, UGM. Ia mengawali kariernya sebagai staf konsultan pemetaan selama lima tahun dan setelah itu memutuskan menjadi tenaga ahli geografi secara self employed. Di sinilah, suami dari Tjandra Susi (yang bekerja di sebuah surat kabar nasional) dan ayah dari Geofani Nerissa Arviana (10 tahun) dan Justin Ananta (5 tahun), ini mengembangkan profesinya sebagai seorang geografer.

Saya bisa masuk dalam tim studi AMDAL. Bisa juga menjadi tenaga penilai lapangan untuk EKOLABEL produk kehutanan. Bisa juga masuk dalam tim perencanaan tata ruang,” jelas Anang tentang profesinya. Menurut Anang, melalui profesi geografer yang ditekuninya dengan berkantor di rumah itu, ia bisa mendapatkan penghasilan rata-rata Rp 9 jutaan per bulan. Tentu saja, di sela-sela itu, Anang masih bisa menekuni hobinya yang lain, yaitu menjadi “pengembang blog” dan menjalankan internet marketing.

Bukan itu saja, buah dari ketekunannya menulis di sejumlah blog sejak 2001, Anang sampai memiliki lebih dari 500 posting tulisan. Hasilnya, kini tulisan-tulisan tersebut bisa dikemas ulang untuk diterbitkan menjadi buku. Dan, dalam lima bulan terakhir ini saja, Kolomnis Tetap AndaLuarBiasa.com ini telah menelurkan empat judul buku. Jadi, hampir sebulan sekali Anang menerbitkan buku baru. Untuk penulis pemula di dunia perbukuan, ini cukup membanggakan juga.

Nah, untuk mengetahui lebih detail tentang apa itu profesi geografer serta proses kreatif Anang dalam melahirkan buku-bukunya, Edy Zaqeus dari AndaLuarBiasa.com mewawancarai Anang melalui chating beberapa waktu lalu. Berikut petikannya:

Bagaimana deskripsi profesi atau pekerjaan sehari-hari Anda?

Saya suka menyebut diri saya sebagai seorang geografer. Istilah ini unik, dalam arti tidak banyak yang mau memakai. Geografer dalam artian orang yang mencari duit dengan mengurusi manusia, lingkungan, dan hubungan keduanya. Profesi ini saya tekuni sejak 2001, hingga saat ini. Untuk satu semester terakhir ini, profesi ini sedikit saya rem, karena saya menemukan keasyikan baru, menjadi penulis naskah buku.

Contoh pekerjaan yang Anda lakukan sebagai geografer apa?

Geografer adalah profesi generalis. Dosen saya menyebutnya profesi Rhemason. Dia bisa mengobati mulai dari sakit kepala, salah urat, hingga asam urat. Saya bisa masuk dalam tim studi AMDAL. Bisa juga menjadi tenaga penilai lapangan untuk EKOLABEL produk kehutanan. Bisa juga masuk dalam tim perencanaan tata ruang. Tapi, rata-rata positioning serang geografer adalah sebagai seorang analis keruangan berbekal peta dan foto satelit.

Kalau misalnya saya mau buka tambang atau perkebunan yang luas, perlukah seorang geografer?

Oh, ya. Klien saya selain dari sektor kehutanan, juga dari pertambangan dan perkebunan. Setiap kali mereka akan memulai usaha, pastilah mereka akan melakukan feasibility study. Mereka perlu seorang analis keruangan. Mereka butuh informasi mengenai jenis penggunaan lahan yang ada sekarang. Berbatasan dengan milik siapa? Apakah peruntukannya sesuai dengan tata ruang? Apakah jenis tanahnya sesuai? Apakah lerengnya ideal untuk membuka usaha? Dan lai-lain. Semua itu bisa dikaji dengan melakukan overlay atau tumpangsusun peta-peta tematik. Trennya, mereka akan membeli foto satelit untuk mengetahui kondisi terkini dari lokasi yang akan diusahakan. Di sinilah peran seorang geografer bisa masuk.

Kalau awam mungkin bertanya, kan sudah ada Google Earth untuk foto satelit gratis?

Foto satelit di Google Earth (GE) sebagian besar menggunakan citra bernama QUICKBIRD. Karena gratisan, maka yang muncul di GE adalah versi lawas. Tertinggal sekitar dua tahunan, dan resolusinya sudah diturunkan. Dalam versi berbayar Anda bakal melihat kedetailan yang lebih tajam, dan umur foto satelit yg lebih baru. Bila mau, Anda bisa memesan untuk dipotretkan Istana Negara dalam tampilan terkini dengan resolusi 60 cm. Artinya, mobil pun bakal tampak jelas, padahal pemotretan dilakukan ribuan kilometer di angkasa sana.

Profesi sebagai geografer cukup menantang dan penghasilan pun lumayan

Profesi sebagai geografer cukup menantang dan penghasilan pun lumayan

Sebagai seorang geografer, Anda juga berperan sebagai konsultan yang memberikan solusi dalam bidang tersebut? Atau hanya menjual data-data semata?

Dua-duanya saya lakoni karena dua-duanya menghasilkan duit hehehe.... Kedua-duanya juga saya jalani secara self employed.

Bagaimana penghasilan profesi ini?

Karena proyek-proyek yang saya terima bergantung pada proyek pemerintah, maka pasti ada masa pacekliknya. Biasanya instansi pemerintah merealisasikan proyek pada periode Juli hingga Desember. Pada masa itulah kontrak biasanya berdatangan. Periode Januari hingga Juni tak banyak pekerjaan. Biasanya saya isi dengan mengadakan pelatihan survei dan pemetaan. Penghasilan cukup lumayan. Bisa buat bantu-bantu istri cari nafkah. Sebetulnya, penghargaan untuk seorang tenaga ahli yang ditetapkan Bapenas cukup tinggi, bisa sekitar Rp 9 jutaan per bulan untuk yang mengantongi pengalaman kerja 9 tahunan. Kalau kita beruntung mendapat pekerjaan dari pemberi kerja yang jujur dan konsultannya jujur, kita bisa memperoleh angka sekitar itu per bulan dari satu pekerjaan.

Dan, itu Anda lakukan dengan berkantor di rumah atau di dunia maya saja?

Ya, menjadi konsultan self employed dari rumah. Mengandalkan kartu nama, laptop, akun email, weblog, pengalaman kerja, dan tentunya nama baik.

Seorang geografer sering menjelajahi berbagai pelosok medan

Seorang geografer sering menjelajahi berbagai pelosok medan

Bagaimana caranya supaya seorang alumni jurusan geografi bisa menjadi seorang geografer seperti Anda?

Pertama, jangan lama-lama menjadi karyawan. Di perusahaan konsultan, seorang geografer berada pada kasta yang relatif rendah dibandingkan seorang sarjana teknik maupun programer. Kalau mau dihargai, jadilah seorang freelancer saat Anda sudah memiliki bekal cukup. Kedua, upgrade ilmu Anda. Saat saya lulus th 1996, kemampuan mengoperasikan GPS dan software SIstem Informasi Geografis adalah sebuah keunggulan. Sekarang tidak. Anak SMA pun sudah bisa. Kita mesti selangkah di depan soal keahlian. Ketiga, jalin relasi dengan siapa pun. Jangan cuma dengan alumni, sebab geografer bakal dapat kerja justru dari bidang ilmu lain. Keempat, bangun personal branding sebaik mungkin. Keempat, jujur dan profesional.

Rupanya, pengalaman pribadi inilah yang mendorong Anda menulis buku Kerja di Rumah Emang ‘Napa?, ya?

Yap, saya ingin berbagi. Saya sadar, mungkin pilihan dan jalan yang saya tempuh bukan yang paling ideal. Tapi, di luar sana masih banyak rekan lain yang belum cukup beruntung. Bukan karena mereka tidak pintar atau kurang berusaha. Tapi karena belum ada yang menunjukkan bahwa di luar jalur yang biasa dilalui orang, masih ada “jalan-jalan tikus” dan jembatan kecil yang bisa dititi untuk memperoleh hasil yang lebih baik.

Sudah berapa buku yang Anda tulis?

Sudah empat buku yang diterbitkan dalam lima bulan ini. Pertama buku biografi berjudul Santo Arnoldus Janssen Abdi Yesus Yang Setia, terbit Juli 2009 oleh OBOR. Kedua, buku rohani popular berjudul Sandal Jepit Gereja, terbit Agustus 2009, juga oleh OBOR. Ketiga, buku internet berjudul 88 Mesin Uang di Internet, terbit September 2009 oleh Best Publishing. Dan keempat, Kerja di Rumah Emang Napa?, terbit November 2009, oleh Gramedia Pustaka Utama.

Hebat. Bagaimana seorang geografer bisa seproduktif itu. Apa rahasianya?

Mungkin ada saatnya ide saya akan kering walau saya tidak mengahrapkan itu terjadi. Tiga dari empat buku tersebut saya gali dari kehidupan dan keseharian saya. Betul-betul saya alami dan tinggal copy-paste dari harddisk di otak saya. Saya beruntung memiliki blog www.jejakgeografer.com dan www.anangyb.blogspot.com. Kedua blog ini telah memiliki 500 posting dan merupakan harta karun saya. Memori saya yang sudah melemah karena faktor usia hehehe… terbantu dengan catatan sejarah yang tertulis di dalam kedua blog tersebut.

Cara Anda meramu tulisan-tulisan yang sudah siap olah menjadi naskah buku itu bagaimana?

Tulisan di blog memang mesti diolah, karena ditulis secara spontan dan sangat kontekstual dengan issue yang ada. Panjang pendeknya pun sesukanya. Agar menjadi sebuah naskah buku yang layak, saya awali dengan menentukan frame naskah. Sudut pandang penceritaan, apakah sebagai “aku/subjek” atau sebagai orang lain. Ini harus disamakan. Panjang pendek juga mesti disamakan. Kalau terlalu pendek, saya akan menambahkan paragraf baru yang relevan, atau kalau memungkinkan, saya akan gabungkan dua posting di blog menjadi satu bab.

Anang bersama keluarga tercinta

Anang bersama keluarga tercinta

Mengenai produktivitas Anda dalam menulis di blog. Apa yang memacu atau memicu Anda sehingga selalu punya tema tulisan?

Jujur saja, masih ada sekitar lima atau bahkan lebih tema buku yang mendesak otak saya untuk segera dituangkan. Bahkan, outline yang saya buat semasa mengikuti pelatihan di ‘Writer Schoolen’ belum juga saya garap. Sejauh ini, ide dan tema belum menjadi persoalan buat saya. Mengenai produktivitas, saya bersyukur karena mengenal sosok Indari Mastuti lewat paparan profil di web ini. Demikian pula dengan misalnya Gregorius Agung, pemilik Jubilee Enterprise. Produktivitas kedua orang inilah yang melecut saya untuk terus menulis. Tentu saja saya membuat strategi agar dapat menyelesaikan naskah secara rutin dan cepat.

Bisakah dibagi strateginya?

Saya berkaca dari buku-buku saya yang sudah beredar. Buku pertama yang berjudul Santo Arnoldus bisa saya kebut dalam waktu sepuluh hari. Sedangkan buku 88 Mesin Uang di Internet, karena lebih tebal dan mesti cari gambar, baru selesai dalam waktu 14 hari. Artinya, kalau mau, sebulan saya bisa bikin dua naskah. Dari sinilah akhirnya saya membuat time schedule naskah apa yang saya mau selesaikan setiap bulannya. Time schedule ini saya lengkapi dengan judul buku, jumlah halaman, dan target penerbit yang mau saya todong. Tidak tanggung-tanggung, sengaja saya buat target yang musykil: sebulan membuat dua naskah buku. Mengapa dua naskah? Ya, kalaupun saya sangat malas dan hanya mampu memenuhi separuh target, maka saya sudah menghasilkan satu naskah dalam satu bulan!

Apa kiatnya sehingga setiap naskah yang Anda selesaikan selalu disambut baik oleh penerbit?

Apa ya? Keberuntungan? Bisa jadi. Kebaikan hati penerbit? Bisa juga. Tapi bisa jadi juga karena kebiasaan menjual diri saat menjadi konsultan, yang membuat saya menyodorkan naskah dalam kondisi dan tampilan yang terbaik. Setiap naskah yang saya sodorkan selalu dalam kondisi siap baca dan lengkap. Setiap naskah juga mesti saya beri kaver full colour. Saya pun belajar membuat layout naskah sehingga biarpun masih berupa dummy book, tapi saya pingin editor atau redaksi merasa nyaman, senyaman membaca buku yang sudah jadi. Saya juga membekali diri dengan terus membaca ilmu editor. Di luar itu, saya pasti menyertakan surat pengantar yang saya buat secara serius.

Sekarang mengenai buku 88 Mesin Uang di Internet, garis besar isinya apa?

Buku tersebut berisi review sekumpulan situs internet yang menjanjikan penghasilan kalau kita bergabung di dalamnya. Bedanya dari buku-buku sejenis, cara bertutur yang saya pakai adalah story telling agar tidak kering dan membuat pembaca bosan. Kebetulan saya cukup aktif dalam bisnis internet sehingga punya beberapa kiat dan trik untuk bisa, paling tidak, meraih sejuta dua juta rupiah dengan mengikuti program peraup dollar di internet. Saya lampirkan juga foto anak saya yang tersenyum lebar sambil merentangkan kiriman cek dollar yang saya terima dari program Google Adsense.

Bisnis internet bak rimba raya yang belum baku bahkan belum ada rambu-rambunya. Bagaimana menghindari penipuan di internet yang berkedok bisnis?

Banyak bergaul, itu kuncinya. Rajin-rajinlah menyambangi blog pelaku bisnis internet yang sudah sukses dan punya reputasi/nama baik yang baik. Ikutlah forum diskusi online. Yang paling praktis, gunakan Google untuk mengetahui apakah program yang mau kita ikuti tersebut sekadar omong kosong atau tidak. Tuliskan saja nama program dan ikuti dengan kata scam dalam mesin pencari Google. Kita bakal dapat referensi dari sana. Yang pasti, saya cenderung tidak mengikuti program yang musti menyetor uang atau menuntut kita untuk memasukkan nomor kartu kredit.

Sekarang, hampir semua orang bisa akses internet. Bagi awam kadang mudah sekali tergiur oleh iklan-iklan bisnis online yang sangat menggiurkan. Komentar Anda?

Itu baik kalau kita lihat dari terbukanya mata orang bahwa cari uang tidak mesti dilakoni dengan berangkat pagi dan pulang petang. Banyak orang sudah sukses walau banyak juga yang akhirnya frustrasi, dan lantas mengeluarkan fatwa pribadi: ‘bisnis internet adalah omong kosong’. Sekali lagi, banyaklah bergaul dan cari referensi dari sumber terpercaya. Kalau mau lebih cepat sukses, carilah mentor atau pembimbing. Ada beberapa pelaku bisnis internet yang menawarkan program mentoring. Ini sekadar alternatif saja agar tidak keblinger.

Kalau buku terakhir, kiat-kiat apa yang anda sodorkan ke pembaca supaya bisa mencari penghasilan dari rumah?

Kalau sudah berkeluarga, tanyalah siapa dari suami dan istri yang paling siap untuk bekerja di rumah? Papa atau mama? Jangan takut juga untuk bekerja yang tidak sesuai gelar pendidikan kita. Bila kesulitan modal, rangkullah orang lain atau pihak lain untuk berkolaborasi. Pertajamlah kemampuan bernegosiasi sebab bekerja di rumah menuntut Anda untuk menjadi panitia tunggal. Jujurlah selalu dan jadilah seorang rekan bisnis yang menyenangkan.

Bagi sebagain orang, kerja di rumah tidak ada gengsinya….!?

Benar. Seorang calon mertua pun bakal berpikir ulang bila calon mantunya tidak punya kantor yang bukan rumah. Ini soal kultur. Ini juga soal mindset. Serasa belum diakui bekerja kalau belum bersepatu dan menuntun motor keluar rumah setiap pagi. Dalam kalimat yang membosankan, orang lebih cenderung memilih keamanan finansial. Aman secara duit dan aman dari sisi citra diri di mata tetangga. Tapi sepanjang kita bisa membuktikan bahwa kita bisa berpenghasilan layak dengan berusaha dari rumah, why not? Di kota-kota besar kesadaran ini sudah muncul, dan bahkan menjadi impian. Sedikit kerja, sedikit keluar rumah, rapi penghasilan oke. Tanyalah orang-orang yang sudah terbius oleh kata-kata manis Robert Kiyosaki. Mereka pasti setuju soal ini.

Anang dalam sebuah acara diskusi buku "Sandal Jepit Gereja"

Anang dalam sebuah acara diskusi buku "Sandal Jepit Gereja"

Anda juga menulis buku agama atau renungan agama. Apa tujuan atau idealisme menulis buku-buku sejenis itu?

Tidak peduli apakah buku saya bertema agama maupun bukan. Saya memiliki satu kesadaran bahwa talenta menulis yang saya genggam berasal dari Sang Ilahi. Jadi, sudah sepantasnya talenta itu saya gunakan dan kembalikan untuk-Nya. Semua yang saya tulis adalah cerita keseharian saya. Menjadi seorang internet marketer, menjadi pekerja rumahan, dan menjadi bagian dari komunitas agama. Saya mesti adil berbagi cerita untuk semua sisi kehidupan saya. Bila pada akhirnya, ada bisikan dari-Nya untuk menuangkan tulisan bertema religi, pastilah itu juga karena kemaun Dia. Saya bersyukur menjadi kepanjangan tangan-Nya. Moga-moga maunya Dia menjadi kenyataan lewat tulisan saya.

Jenis atau tema buku apa yang masih mengganggu pikiran Anda untuk menuliskannya suatu saat nanti?

Belum tahu. Saya masih pemula banget. Belum setengah tahun saya menekuni profesi sebagai penulis. Saat ini saya nekat untuk menulis semua tema yang saya bisa. Saya juga berusaha menembus sebanyak mungkin penerbit yang berbeda. Itulah sebabnya dari empat buku saya yang sudah terbit, memiliki tema yang beragam, dan diterbitkan oleh tiga penerbit yang berbeda. Saya masih hijau dan terlalu memalukan untuk buru-buru mengambil spesialisasi. Bukankah seorang dokter mesti khatam dulu di strata satu sebelum berhak mengambil spesialisasi? Namun bila saya ditanya, buku apa yang sulit dan menantang untuk ditulis, maka jawaba saya adalah buku yang mesti ditulis dengan teknik wawancara. Saya paling grogi menanyai orang. Itulah sebabnya, untuk calon buku kelima, yang bertema kisah nyata, saya mesti memaksa istri saya untuk selalu menelepon nara sumber hehehe….

Ke depan Anda akan terus mengawinkan profesi sebagai geografer dengan penulis, atau menceraikannya dan memilih salah satunya?

Profesi penulis tampaknya mesti jalan terus. Konon usia empat puluh adalah titik balik untuk memperoleh jati diri yang sesungguhnya. Berhubung bulan Februari nanti saya genap berkepala empat, maka predikat sebagai penulis akan saya jadikan sebagai jati diri saya yang baru. Menjadi geografer semoga saja dapat terus jalan juga. Semoga kecakapan saya masih layak jual. Ide menulis pun banyak mengalir saat saya menjelajahi pelosok Tanah Air ketika menjalani profesi sebagai seorang geografer. Jadi, selama bisa “rangkap profesi” saya akan menjalaninya secara paralel.[ez]

Catatan: Foto-foto dokumentasi pribadi.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 6.0/10 (5 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 5 votes)

Doa Minta Sakit Maag

snOleh: Sofa Nurdiyanti*

Suatu ketika saya pernah berdoa, doa yang saya kira tak akan diminta oleh orang lain. Saya dengan penuh kesadaran, berdoa kepada Allah agar diberi sakit maag hehehe…. Mungkin Anda akan menganggap saya bodoh, kurang bersyukur, atau bahkan gila karena berdoa diberi sakit. Tetapi, saya sungguh berdoa agar diberi sakit maag.

Cerita ini bermula ketika saya mengetahui banyak di antara teman-teman yang menderita sakit maag. Anak kuliahan tidak tahu kenapa sedikit banyak punya riwayat dengan sakit maag. Mungkin karena pola makan yang tidak teratur menyebabkan teman-teman saya memiliki sakit maag. Maklum saja, jauh dari rumah merupakan sebuah pengalaman baru di antara mayoritas teman-teman saya. Mengurus diri sendiri, mengerjakan tugas kuliah, mengikuti aktivitas di kampus, sehingga sering kali membuat saya dan teman-teman lupa waktu.

Cerita tentang mahasiswa yang semasa sekolah sehat dan ceria bisa jadi stres berat kalau tidak cepat-cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan kampus. Kalau di rumah bisa makan tiga kali sehari, tidur siang, dan main bersama dengan teman-teman, rasanya hal itu seperti mimpi waktu kuliah. Euforia tentang dunia mahasiswa yang menjunjung kebebasan, idealis, dan mandiri bisa jadi hancur jika tak sanggup menyesuaikan ritme yang sungguh amat berbeda dengan masa sekolah.

Awal masa kuliah pun, menjadi sumber stres terbesar bagi saya saat itu. Menyesuaikan diri dengan lingkungan yang sama sekali baru, belajar mengurus diri sendiri, dan dituntut untuk selalu up to date dengan informasi di kampus, sungguh sangat melelahkan bagi saya. Apalagi saya tidak pernah jauh dari rumah. Hidup berbalik 180 derajat, rasa cemas dan stres menjadi makanan sehari-hari. Bayangan saya akan dunia kampus yang menyenangkan seakan sirna. Semuanya di luar perkiraan saya.

Awal masa kuliah, saya belum bisa membagi waktu dengan baik. Makan sering kali terlupa begitu saja. Sering kali makan di sore hari sekaligus makan malam. Jadwal kuliah di semester pertama lebih banyak masuk pagi, sebelum jam 7 sudah harus di kampus. Sedangkan warung makanan rata-rata belum buka, jadi tidak sempat sarapan. Jeda kuliah sering kali malas turun dari lantai empat untuk mencari makan di luar kampus (saat itu belum dibangun kantin di dalam kampus karena ada perjanjian dengan masyarakat sekitar, masyarakatlah yang membuka kantin di luar kampus sebagai mata pencaharian mereka). Biasanya, saya akan membeli roti atau camilan di toko terdekat, bukan membeli makan di warung-warung yang pasti penuh pada jam makan siang. Jadilah saya hanya makan malam dengan menu penyetan karena pada malam hari jarang ada warung yang menjual sayur seperti waktu pagi.

Meski pola makan tidak teratur, alhamdulillah saya tidak pernah sakit maag. Hanya saja fisik saya menjadi lemah. Mudah lelah dan sakit-sakitan. Hal ini berpengaruh terhadap prestasi akademik di kampus. Saya merasa tidak bisa berprestasi seperti semasa sekolah di SMA. Ketika menyadari beberapa teman saya mempunyai sakit maag, terbersitlah rasa ingin tahu seperti apakah rasanya sakit maag. Kok saya belum pernah sakit maag, ya? Hehehe....

Mendengar cerita teman yang menderita sakit maag, sungguh membuat saya miris. Mereka bilang,Rasanya sakit banget kalau kambuh.” Mereka tidak bisa makan sembarangan. Harus makan nasi dulu, jangan sampai lupa sarapan dan kambuh. Ke mana-mana membawa obat pereda sakit maag. Kalau melihat hal itu, sungguh membuat saya merasa kasihan pada mereka. Sehingga, itu membuat saya berpikir, “Rasanya gimana, ya? Selain teman kuliah pun, ternyata ada lagi seorang teman yang juga terkena sakit maag. Jika melihatnya secara fisik, orang tidak akan mengira ia terkena maag. Dia berbadan tinggi besar dan relatif gemuk, tetapi tetap saja terkena sakit maag. Hal ini membuat saya semakin heran, kenapa mereka bisa terkena maag?

Mulai saat itu, antara sadar dan tidak, saya mempunyai satu keinginan, yakni ingin diberi sakit maag. Doa yang aneh ini pun mendapatkan jawaban dari Allah. Lebih baik dari yang saya minta dan membuat saya merefleksikan permintaan yang sungguh keterlaluan, yang baru saya sadari belakangan. Seperti salah satu bab favorit saya dari tetralogi Laskar Pelangi; “Tuhan tahu tetapi menunggu”. Diceritakan Ikal dan Arai mendapatkan balasan hukuman atas kejahilan mereka semasa kecil. Mereka mendapatkan balasan 16 tahun kemudian, yang sungguh membuat mereka menyadari kesalahannya. Seperti halnya saya, doa saya pun terjawab dengan cara yang sungguh tidak terduga.

Pada awalnya saya merasakan sakit perut selama sebulan, yang membuat saya berpikir, Jangan-jangan, dah kena maag, neh?” Respon saya yang pertama adalah senang karena akhirnya tahu rasanya sakit maag seperti apa, walaupun itu baru sebatas dugaan saja. Tetapi hal yang aneh terjadi, sakit yang saya rasakan hilang begitu saja. Membuat saya berpikir, masak maagnya sudah sembuh? Tetapi secara fisik, saya merasa cepat lelah dan lebih banyak berdiam diri karena kaki terasa sangat capek saat pergi dan pulang kuliah. Walaupun tiap hari sudah menempuh jarak yang lumayan jauh antara pondok pesantren dengan kampus, tetap saja saya merasa mudah lelah. Hal ini bukan karena saya manja atau tidak kuat berjalan jauh. Saya sudah terbiasa berjalan jauh sejak sekolah sehingga tak menjadi masalah yang berarti ketika harus berjalan pulang pergi setiap hari.

Selain jadwal kampus yang lumayan padat, saya juga menjadi santri di salah satu pondok pesantren bagi mahasiswa di dekat kampus. Walau capek, tetapi hal ini sudah menjadi niat saya dari awal. Saya ingin sekali mempunyai pengetahuan di bidang agama secara mendalam. Dengan begitu, jadwal kuliah dan pondok semakin membuat saya kelimpungan. Meski begitu, saya tetap merasa sanggup menjalani keduanya. Namun, satu yang tidak berubah, saya semakin sering lupa makan. Lebih banyak makan camilan sebagai pengganjal perut ketika lapar.

Sewaktu pergi berlibur ke rumah kakak di Tangerang, saya terkejut ketika salah seorang teman kakak saya bilang jika saya menderita penyakit tertentu. Penyakit yang semula saya duga hanya alergi berubah menjadi penyakit yang lumayan serius. Awalnya, saya berpikir mustahil menderita penyakit tersebut jika mengingat umur yang masih muda hehehe.... Sejak saat itu, saya harus lebih berhati-hati dalam menjaga pola makan saya. Mencoba menahan diri untuk tidak memakan makanan favorit dan belajar hidup sehat. Selama di rumah kakak, saya belajar menerapkan gaya hidup sehat dan berniat menjadi vegetarian secara bertahap mengingat pantangan makanan yang harus saya hindari.

Semangat di awal proses dan lesu di akhir, itulah yang terjadi pada saya. Sekembalinya dari Tangerang, godaan makanan favorit saya pun menghadang. Niat menjadi vegetarian terlupakan begitu saja. Akibatnya sudah bisa ditebak, saya menjadi cepat lelah dan penyakit lama kambuh lagi.

Jika mengingat semua yang saya alami sekarang, saya menyesal telah berdoa diberi sakit maag. Seharusnya, saya bersyukur dengan kesehatan yang diberikan oleh Allah pada saya, bukannya menantang Allah dan berdoa yang tidak-tidak. Mungkin saja di antara Anda ada yang punya pengalaman yang hampir sama dengan saya, walaupun dalam konteks yang berbeda. Sering kali kita kurang bersyukur dengan apa yang diberikan Tuhan. Dan, kita justru meminta sesuatu yang kita anggap benar karena sesuai dengan keinginan kita. Setelah kita diberi jawaban atas setiap doa yang kita minta, terkadang keraguan dan kekecewaan menjadi demo tak terbantahkan kepada Allah. Kenapa tidak sesuai dengan keinginan kita?

Banyak orang yang bilang, di setiap rencana Allah baik dan buruknya di mata kita tersimpan hikmah yang besar, jika kita bersabar. Karena, rencana Allah pasti baik bagi hambanya. Allah lebih mengetahui apa yang terbaik bagi kita walaupun terkadang kita meragukan-Nya. Mungkin, yang dapat membantu kita mengatasi segala keraguan yang ada adalah IMAN. Jika ada iman di hati, tak perlu ada keraguan yang patut kita sandarkan pada-Nya. Mulai saja dengan hal yang sederhana, senyum dan syukur atas semua nikmat-Nya. Dan, jangan sekali-kali menantang Allah dengan keinginan yang konyol seperti yang saya lakukan hehehe. HAMASAH!!![sn]

* Sofa Nurdiyanti adalah mahasiswa Psikologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Suka baca buku cerita, nonton kartun Detective Conan, Bintang, dan tertarik dengan bidang sejarah, arkeologi, bahasa, budaya, dan politik. Tetapi, sekarang ia lagi “nyasar” ke bidang psikologi. Nur aktif menulis di sejumlah website kepenulisan seperti AndaLuarBiasa.com, Pembelajar.com, dan AndrieWongso.com. Saat ini ia tengah semangat berlatih untuk menjadi penulis dan trainer. Nur dapat dihubungi melalui pos-el: nurrohmah_06[at]yahoo[dot]com

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 6.3/10 (6 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Aku Rindu Keluargaku

nsn3Oleh: Nur Sari Ningrum*

Saya mendapat tugas mewawancarai salah seorang lanjut usia di salah satu panti jompo di Yogyakarta. Dan, kalimat itulah yang sering saya dengar ketika mewawancarainya. Hati saya miris melihat matanya yang kelu, menyimpan beban dalam hati, menampakkan senyum palsu, dan dihiasi wajah berbinar-binar. Sesungguhnya, hatinya tersayat oleh keadaan yang mengharuskan dia menerimanya dengan lapang.

Sebuah kenyataan yang mungkin tak ada orang pun yang mau menjalani. Terkadang, para penghuni panti jompo itu pun bingung dan terdiam saat menjelaskan alasan mengapa mereka memilih tinggal di sana.

Sesaat saya termenung ketika melihat seorang ibu muda berusia 42 tahun berjalan dengan sebuah tongkat kayu karena ketidakberdayaannya. Saya mendatanginya, mendapat sambutan salam dan sapaan yang hangat. Sapaan yang sebelumnya tak pernah saya lihat dan rasakan.

Sosok seorang ibu seolah muncul, mengingatkan saya pada ibu saya sendiri. Ketika saya memberi salam dan berjabat tangan, saya mendapatkan sebuah pelukan hangat. Dan, senyum yang mengisyaratkan sebuah kerinduan yang terpendam dalam pada anaknya, “Perkenalkan saya Nur. Ibu sendiri saja?”

“Ya, udahlah Nak… anggap saja aku ibumu sendiri. Nur mau kan panggil aku ibu? Jujur saja aku seneng banget kalau dipanggil ibu.”

Mendengar itu hati saya trenyuh dan secara tidak sadar meneteskan air mata. Ibu itu pun bertanya, “Ada apa, Nur?”

“Oh, enggak apa-apa, Bu… Maaf, saya hanya teringat ibu saya.”
“Pasti kamu kangen ya Nak sama ibumu?”

“Iya, Bu….”

Percakapan itu pun berlanjut. Setelah mengenal lebih jauh latar belakang kehidupan ibu tersebut, saya mulai menangkap alasan apa yang bisa diterima agar orang lain juga bisa memahami keadaannya. Saya tidak tahu, kata apa yang tepat untuk menggambarkan ketegarannya dalam menerima kehidupannya saat ini. Satu-satunya alasan dan kekuatannya untuk tetap berjuang melawan kepahitan hidup adalah anaknya.

Dari hasil wawancara tersebut, sekilas ibu itu berusaha menceritakan sebagian kisah hidup yang sudah dilaluinya. Sejak berusia enam bulan, ia tidak dalam pengasuhan orang tua kandungnya. Penderitaan demi penderitaan tak berlalu darinya. Ia menjalani hidup dengan kerja keras demi sesuap nasi, tanpa pernah mengenyam pendidikan ataupun menghabiskan waktu bermain dengan teman-temannya. Hanya harapan serta untaian doa selalu dipanjatkan, sekadar demi merasakan kebahagiaan membangun sebuah keluarga harmonis penuh kasih sayang.

Namun sayang, nasibnya tak seberuntung itu. Setelah delapan tahun menikah dan mendapatkan seorang anak gadis, berakhirlah rumah tangganya. Sang suami menikah lagi dengan wanita lain. Kebahagiaan sesaat hancur dan si ibu ini terserang stroke. Setelah enam bulan dirawat di rumah sakit, ia dikirim ke panti jompo oleh suaminya. Begitu pula anak gadisnya dikirim ke panti asuhan. Konflik pun harus dihadapi saat ia merindukan anak gadisnya yang beranjak remaja. Namun, ia tak bisa berbuat apa-apa saat anak yang diharapkan menolak menemui dirinya.

Dari pengamatan saya dan juga cerita-cerita mereka, kebanyakan penghuni panti jompo itu punya latar belakang kehidupan yang penuh perjuangan, pengorbanan, hanya demi sebuah keluarga. Ada yang dijauhi dan ditinggalkan oleh keluarga sendiri. Ada yang sengaja dipisahkan dari anaknya dari waktu lahir hingga belum sempat mengenal siapa orang tua yang sesungguhnya, serta bagaimana anaknya tumbuh dewasa. Ada yang dibujuk untuk dibawa ke salah satu tempat wisata, dan pada tujuan akhirnya ditinggalkan begitu saja tanpa pernah ditemui lagi.

Ada juga yang sengaja dititipkan di panti jompo hanya untuk beberapa bulan dengan alasan keluarga sibuk dengan pekerjaan. Ada pula yang secara paksa mengirim ke panti jompo dengan alasan malu merawat orang tua yang sudah tidak berdaya, apalagi kalau sudah berkeluarga, bukan tanggung jawab keluarga lagi. Mengirim orang tua ke panti jompo dipandang sebagai cara praktis dan pantas karena berbagai alasan dan pembenaran.

Saya tidak habis pikir bagaimana jalan pemikiran manusia modern sekarang ini. Adakah mereka menyisakan sebuah hati untuk turut merasakan betapa sulit dan pedih hati orang tidak berdaya? Cobalah kita belajar dan menempatkan diri kita pada posisi mereka. Masihkah kita bisa berkata benar dengan tindakan dan keputusan kita itu? Mampukah kita setegar mereka? Bisakah kita berhati lapang dan sesabar mereka yang masih bisa memaafkan perbuatan orang yang menyakiti dan mengikhlasakan keadaan tersebut?
Padahal, dengan jasa mereka juga kita tumbuh dan hidup dalam lingkungan yang sehat, dalam sebuah keluarga yang harmonis penuh cinta dan kasih.

Dari mereka pula selalu tercurah pengorbanan yang tak akan dapat terbalas selain Surga. Tapi, apa yang mereka dapat dari orang-orang yang dikasihi dan disayangi melebihi diri mereka sendiri? Sebuah penderitaan dan sakitnya sepanjang usia.

Ahli psikososial Erik H. Erikson (1968) menyatakan, kondisi yang dihadapi para lanjut usia salah satunya adalah integritas versus keputusasaan. Dalam tahapan siklus kehidupan tersebut, mereka melihat kembali apa yang telah dilakukan terhadap kehidupan mereka. Melalui jalan yang berbeda, orang lanjut usia mengembangkan suatu harapan yang positif di setiap periode sebelumnya. Jika demikian, pandangan tentang masa lalu (retrospective glances) dan kenangan akan menampakkan suatu gambaran dari kehidupan yang dilewatkan dengan baik. Dan, seorang lanjut usia akan merasa puas manakala mereka merasa telah berhasil mencapai integritas.

Sebaliknya, apabila seorang lanjut usia melalui satu atau lebih tahapan awal dengan cara negatif (terisolasi di dalam masa dewasa awal), maka pandangan mereka tentang masa lalu akan menampilkan keragu-raguan, kemurungan, dan keputusasaan terhadap keseluruhan nilai dari kehidupan seseorang. Keputusasaan saat menghadapi perubahan-perubahan siklus kehidupan individu serta terhadap kondisi-kondisi sosial dan historis. Belum lagi kefanaan hidup di penghujung usia alias menghadapi kematian. Ini dapat memperburuk perasaan bahwa kehidupan ini tak berarti, terlebih bila ketakutan bahwa ajal memang sudah dekat.

Seperti halnya yang dihadapi oleh ibu yang saya ceritakan di atas. Ia menjalani sisa hidupnya dengan perasaan sangat tak berarti karena ia tidak dapat memahami apa arti kehidupannya yang tersisa. Ia terjebak dalam rasa putus asa karena hilangnya harapan dan merasa tak lagi punya alasan atau jawaban yang tepat untuk tetap hidup. Perasaannya terisolasi, terkalahkan, tertinggal, kecewa, bingung, dan haus rasa kasih sayang dari orang-orang yang ia cintai, yaitu suami dan anaknya yang telah meninggalkannya.

Namun, ketika si ibu ini menyadari, menyesali perbuatannya, dan terus menghakimi diri, maka akan semakin sulit pula kehidupannya. Tidak ada pilihan lain baginya selain bersikap lebih bijaksana. Kebijaksanaan adalah nilai yang berkembang dari hasil pertemuan antara integritas dan keputusasaan dalam tahap akhir hidup ini.

Pada tahap terakhir dalam siklus kehidupan kita, kegiatan fisik dan mental dalam kehidupan sehari-hari menjadi lamban. Oleh karenanya, kebijaksanaaan yang sederhana bisa menjaga dan memberikan integritas pada pengalaman-pengalaman yang telah lalu. Saat menyadari semua pengalaman memberikan pengaruh sebagai pengalaman berharga, punya nilai kehidupan, hikmah, maka itu semua mengajarkan pada manusia supaya bersikap bijaksana menghadapi segala keadaan dan tetap beratahan meskipun dalam situasi yang tidak mengenakkan. Di situlah letak arti atau nilai manusia.

Menurut pandangan Allport, orang punya kepribadian matang dan sehat untuk mencapai keamanan emosional apabila mereka memiliki kualitas sifat yang utama, yaitu penerimaan diri. Kepribadian-kepribadian yang sehat mampu menerima semua segi kehidupan mereka, termasuk kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan, tanpa menyerah secara pasif pada kelemahan dan kekurangan mereka tersebut. Ini bisa terjadi pada para lanjut usia. Misalnya, mereka bisa menerima segala kelemahan dan kekurangan dari segi fisik seperti kesehatan kurang dan jadi lamban atau segi psikis seperti konflik batin yang kadang membuat putus asa. Begitu juga kurangnya rasa cinta dan kasih sayang, rasa perhatian, rasa pengertian, dan keinginan untuk dipahami.

Kisah di atas secara tidak langsung mengajarkan pada diri saya sendiri, alangkah indahnya apabila kita mampu memberi kebahagiaan pada orang-orang yang kita cintai, terutama pada orang tua kita tanpa syarat. Bagaimanapun keadaannya, kita akan lebih bahagia bila hidup bersama ketulusan cintanya.

Para orang tua yang pernah saya ajak bicara masih memercayai bahwa kebahagiaan mereka terwujud apabila mereka bisa bersama dengan keluarganya. Ini pelajaran yang sangat berharga untuk kita bercermin pada diri kita sendiri. Sudahkah kita merasa cukup dan bersyukur dengan keadaan kita sekarang? Memiliki keluarga dan saudara-saudara yang senantiasa ada saat kita butuhkan? Ada saat kita rindukan dan ada saat kita ada bersamanya.[nsn]

* Nur Sari Ningrum adalah mahasiswi psikologi semester tiga, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Ia senang menulis puisi dan mempunyai motto hidup: Hidupkan hidupmu agar lebih hidup. Cita-citanya menjadi konselor seusai menamatkan kuliahnya nanti. Nur Sari Ningrum dapat dihubungi melalui pos-el: sari_psychology[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.3/10 (4 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya Oleh: Don Gabor Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009 ISBN: 978-979-22-5073-2 Tebal: xviii + 380 hal Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas! Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox