Cahaya Rumah Emma

hfOleh: Hanna Fransisca*

Emma, begitulah saya menyapanya. Dia yang setiap hari membantu saya menangani pekerjaan rumah sehari-hari: mengepel lantai, membereskan tempat tidur, menyediakan kopi, teh hangat, menanak nasi, mencuci dan menyetrika. Seisi rumah bersih dan rapi berkat tangan mungilnya yang ajaib. Konon, di usianya yang sangat belia (usia enam belas tahun), dia sudah meninggalkan keluarga di kampung. Merantau ke Jakarta, hingga akhirnya sekarang menjadi rekan kerja saya di rumah. Jasa Emma tentu tidak bisa dilupakan. Di luar dirinya yang pekerja keras, banyak hal menarik lainnya yang saya pikir layak diacungi jempol.

Emma sangat disiplin soal waktu. Bangun setiap jam lima pagi dan membereskan apa yang seharusnya dia kerjakan tanpa ditunda-tunda. Dia kerjakan semua pekerjaan dengan senyum ceria. Saya tak pernah mendengar dia mengeluh capek. Saya belum pernah menemukan wajahnya yang tengah cemberut hanya karena lelah bekerja. Sampai di sini, saya kerap merasa malu pada diri saya sendiri. Selama ini saya lebih banyak mengeluh dibanding bekerja. Saya tidak dispilin waktu dan suka menunda pekerjaan.

Pada malam hari, kadang kala Emma memiliki tambahan pekerjaan lain, yakni menunggu kepulangan saya jika saya memiliki kegiatan di luar. Sering kali dengan mata terkantuk-kantuk ia membukakan pintu. Menyambut saya dengan senyum sumirat (bercahaya), lalu bertanya, “Kakak mau minum teh atau kopi?”

Apa yang ditunjukkan Emma, adalah satu hal yang, terus terang, belum mampu saya lakukan. Berbaik hati dan tetap gembira saat diberi pekerjaan tambahan, adalah sebuah sikap yang sulit. Pada umumnya, reaksi awal pada tambahan pekerjaan adalah bayangan kesal. Tak jarang diam-diam mengutuk majikan, dan berkata dalam hati, “Mentang-mentang bos, seenaknya saja…!

Tapi, Emma begitu santai menjalani hidup. Dengan gaji kecil (kecil menurut ukuran pendapatan saya), ia masih bisa menabung. Menabung separuh dari gajinya untuk dikirim ke kampung. Emma masih memiliki orang tua serta beberapa adik yang sekolah. Begitulah Emma, yang senantiasa bercerita tentang bagaimana ia harus mengirimkan uangnya sebagai tanda bahwa ia berbakti. Tentu, sikap Emma dengan gajinya acap kali sukses membuat saya terperangah sedih di meja kerja. Saya teringat pada orang tua saya yang lebih banyak saya lupakan dengan alasan sibuk bekerja. Saya belum mampu berbakti seperti yang dilakukan Emma. Jangankan mengirim uang rutin untuk orang tua, untuk keperluan sehari-hari saja rasanya tak pernah cukup. Tak jarang saya mengeluh tentang kenapa semakin hari hidup semakin sulit. Tentang kenapa uang belanja selalu tak pernah cukup.

Tapi belajar dari Emma adalah belajar tentang cara bersyukur yang sederhana. Ia selalu membelanjakan uang pada apa yang dibutuhkan, dan bukan pada apa yang diinginkan.

Emma suka bersenandung. Saya sering iri setiap mendengar Emma bernyanyi kecil saat menyetrika pakaianseolah tiada persoalan hidup dalam dirinya. Saya sangat jarang bisa bernyanyi bahagia seperti Emma. Ketika lebaran tiba, Emma membuat keputusan tegas yang membuat saya kembali terperangah, “Lebaran ini saya tidak pulang, Kak. Tapi saya mau minta izin supaya boleh keluar jalan-jalan. Beberapa jam saja. Tiket pesawat mahal. Jalanan darat macet sana-sini. Ngapain menghabiskan uang dan tenaga? Lebih baik disimpan untuk Bapak dan Mak agar mereka bisa membeli sepetak sawah kecil di kampung. Saya pulang nanti saja kalau harga tiket sudah murah.”

Dia tahu mana hal yang harus didahulukan, mana yang tidak. Sungguh saya kembali merasa kecil di hadapan Emma.[hf]

* Hanna Fransisca adalah ibu dari empat anak yang sehari-hari bekerja di Singkawang Motor, Jl. Sultan Agung Km 27, Pondok Ungu, Bekasi Barat dan Bintang Perkasa Jaya Motor Jl. Mauk/Mohammad Toha No 1, Bugel, Tangerang. Ia gemar membaca, menulis puisi, cerpen, dan esai kehidupan. Hanna dapat dihubungi di pos-el: h4n4_1979[at]yahoo[dot]com, Hp: 0812-8833-1

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.5/10 (6 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +6 (from 6 votes)

Bencana: Waspadai Si Angsa Hitam dan Sang Rembulan

rbyOleh: Bambang Yudomustopo*

Masih segar dalam ingatan kita, media televisi kita menayangkan keadaan musibah jebolnya waduk Situ Gintung, beberapa waktu yang lalu. Seorang ibu yang histeris akhirnya jatuh pingsan setelah menemukan jenazah putrinya di rumah sakit. Tampak juga seorang bapak muda dengan balutan di kakinya, menggendong anaknya yang sudah meninggal dengan pandangan yang hampa. Ini adalah petaka yang diakibatkan oleh jebolnya tanggul Situ Gintung pada hari Jumat, 27 Maret 2009, jam 05.00 wib. Apakah petaka ini dapat dicegah?

Setelah beberapa waktu berlalu, peristiwa itu masih menyisakan para pengungsi yang belum jelas apakah akan dapat kembali hidup normal seperti sedia kala. Meskipun korban meninggal sudah mencapai 100 orang, orang hilang 192 orang, korban luka-luka 190 orang, rumah rusak 420 rumah, dan jumlah pengungsi 1.600 orang. Namun, belum jelas apakah renovasi bangunan atau perbaikan Situ Gintung akan terlaksana dengan baik. Sementara itu, yang berwennag masih saling tuding. Satu pendapat ahli dengan ahli lainnya berbeda-beda (Tempo, edisi 6 – 12 April 2009). Di mana letak permasalahnya sehingga bencana itu sampai terjadi?

Harian Kompas, Senin, 6 April 2009 memuat di halaman pertama: Situ-situ rusak mengepung wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Dari 182 situ, yang rusak 70 (hampir 40 persen). Apa yang harus kita kerjakan?

Menarik pendapat sosiolog Imam Prasodjo yang menyatakan bahwa pemerintah sudah membuat regulasi perawatan, pencegahan, bahkan pengembalian lahan situ. Tetapi, sering kali pelaksanaan di lapangan tidak konsisten. ”Pemerintah hanya bergerak jika ada anggaran.” Karena keterbatasan pemerintah dalam menjaga aset umum situ, seharusnya pemerintah membentuk dan mengorganisasikan kekuatan masyarakat untuk terlibat. Cara pemberdayaan masyarakat sipil ini selain lebih murah juga lebih efektif.

Dan, sekiranya ada laporan sekecil apa pun, sesederhana apa pun, atau semustahil apa pun, itu perlu ditanggapi oleh yang berwenang. Karena, masalah yang kecil bisa menjadi masalah besar dan menjadi petaka karena kita terbiasa dengan pikiran yang terkotak-kotak dalam batasan-batasan keilmuan yang terbatas jangkauannya.

Lalu, apa yang bisa menyebabkan petaka seperti jebolnya waduk Situ Gintung yang lalu? Meskipun kejadiannya jarang—mungkin 1 berbanding 1000—tetapi kalau terjadi tetaplah sebagai suatu bencana. Hal ini yang disebut sebagai peristiwa The Black Swan (Si Angsa Hitam: Nasim Nihcolass Taleb, Gramedia, 2009). Fenomena Si Angsa Hitam adalah suatu peristiwa yang sangat mustahil dapat terjadi serta memiliki tiga karakter utama; yaitu tidak dapat diramalkan, memberikan dampak yang masif, dan sesudah terjadi mendorong kita membuat penjelasan bahwa kejadian itu bukan sebuah kebetulan serta lebih bisa diramalkan dari pada sesungguhnya.

Mengapa kita tidak mengakui adanya fenomena Si Angsa Hitam sampai peristiwa itu terjadi? Menurut Taleb, jawabannya antara lain karena manusia telah dirancang untuk mempelajari hal-hal yang spesifik ketika seharusnya mereka lebih fokus pada hal-hal umum. Kita berkonsentrasi pada hal-hal yang telah kita ketahui dan berulang-ulang gagal memerhitungkan yang tidak kita ketahui. Oleh sebab itu, kita tidak mampu memperkirakan peluang-peluang dan terlalu rentan terhadap godaan untuk meremehkan, mengeluhkan, memilah-milah, serta tidak cukup terbuka untuk menghargai mereka yang berhasil membayangkan hal-hal yang mustahil.

Sebelum Benua Australia ditemukan, orang dari Dunia Lama yakin bahwa semua angsa berwarna putih. Ini sebuah kepercayaan yang tak tergoyahkan karena bukti-bukti yang teramati sangat mendukung hal tersebut. Maka, ketika orang pertama kali menyaksikan angsa berwarna hitam di Australia, pastilah itu suatu kejutan yang menarik bagi peneliti unggas (ornitolog). Penemuan ini penting karena menggambarkan betapa sangat terbatasnya pembelajaran yang kita dapatkan dari pengamatan-pengamatan atau pengalaman-pengalaman serta rapuhnya pengetahuan kita selama ini.

Pengamatan yang hanya satu kali ternyata dapat meruntuhkan pandangan umum yang berasal dari pengamatan banyak orang terhadap jutaan angsa putih selama berpuluh-puluh abad. Ini fakta bahwa kita cenderung untuk bertindak seolah-olah Si Angsa Hitam tidak ada. Seuatu yang tidak ada kepastian dan yang tidak dapat diukur dengan peranti-peranti yang dimiliki oleh para ahli di bidangnya. Contoh fenomena Si Angsa Hitam yang lain misalnya—yang masih kita rasakan hingga saat ini—ialah kejatuhan ekonomi Amerika yang menyeret kejatuhan ekonomi global. Ini terjadi karena pakar ekonomi telah salah dalam menggunakan peranti-peranti emperis mereka.

Taleb menentang arogansi filsafat platonimistik emperik dan dia cenderung kepada filsuf Proper yang berpendapat tentang adanya suatu sikap skeptik yang konstruktif. Di samping itu, dia juga mengutip pendapat filsuf Henri Poincare yang ketenarnnya disejajarkan dengan ketenaran Albert Einstein. Henri Poincare memperkenalkan ketidaklinearan, efek-efek kecil yang dapat mengantar ke konsekuensi besar—sebuah gagasan yang belakangan menjadi popular, sedikit lebih popular dari teori kekacauan (chaos theory).

Taleb memberikan penggambaran untuk memperkirakan Si Angsa Hitam dan membuat model Angsa Abu-abu dengan pendekatan kepada keacakan berdasarkan filsafat emperisme skeptik dan aliran nonplatonik, di antaranya sebagai berikut:

  • Tertarik dengan masalah yang terletak di luar lipatan platonik.
  • Menghormati orang yang mempunyai keberanian mengatakan ”Saya tidak tahu”.
  • Memandang Si Angsa Hitam sebagai sumber keacakan yang dominan.
  • Lebih baik melebar tetapi benar.
  • Teori minimal, memandang kebiasaan berteori sebagai penyakit untuk dicegah.
  • Tidak percaya bahwa kita dapat menghitung probabiitas dengan mudah.
  • Model sextus empericus dan aliran ilmu pengobatan empirik berbasis bukti. Dengan teori minimal.
  • Mengembangkan intuisi dengan praktik pengamatan dari buku ke buku.
  • Gagasan berdasarkan pada skeptisme pada buku-buku yang tak terbaca di perpustakaan.
  • Mengandalkan ektremitas sebagai titik awal.
  • Mencari yang kira-kira benar di antara sejumlah kejadian berspektrum lebar. Sebaliknya, kalau cara pendekatan permasalahan platonik, akan mendasarkan pada asumsi-asumsi yang cermat.

Jadi kehadiran Si Angsa Hitam pada saat jebolnya Situ Gintung sesungguhnya dapat dikurangi dampaknya hingga minimal dan mungkin dapat diadakan pencegahan-pencegahan. Hal ini memerlukan kewaspadaan yang tinggi terhadap kehadiran fenomen Si Angsa Hitam di situ-situ kita, khususnya di situ-situ yang rusak.

Bagaimana mengenai fenomena Sang Rembulan? Meskipun kejadian jebolnya tanggul Situ Gintung terjadi saat hujan deras dan langit gelap, tetapi Sang Rembulan tetap hadir dan kemungkinan besar mempunyai peranan pada jebolnya tanggul Situ Gintung. Bagaimana peran Sang Rembulan? Yaitu melalui daya tarik bulan. Daya tarik gravitasi bulan memengaruhi cairan di bumi. Misalnya, laut mengalami pasang dan surut. Dalam tubuh kita pun—yang sekitar 90 persen terdiri dari air—terdapat pasang saat dini hari. Pada wanita hamil yang melahirkan secara normal, umumnya juga terjadi di sekitar jam subuh dengan didahului pecah atau banjirnya air ketuban.

Demikian juga jebolnya tanggul Situ Gintung terjadi pada jam-jam subuh. Puncak daya tarik gravitasi bulan sekitar jam 02.00, tetapi pengaruh kecembungan air bumi ke arah bulan baru berefek sekitar 2 jam kemudian karena bumi berputar pada sumbunya. Jadi, bisa jadi daya tarik gravitasi bulan ikut berperan pada jebolnya tanggul Situ Gintung. Dan, sebab yang sama mungkin juga dapat menyebabkan terjadinya bencana pada tanggul situ-situ lainnya yang rusak.

Kesimpulannya kita perlu waspada terhadap kehadiran Si Angsa Hitam dan Sang Rembulan untuk membantu mengantisipasi kurangnya kerusakan-kerusakan yang mungkin timbul karena jebolnya tanggul-tanggul di situ lainnya. Kita perlu mengikutsertakan peran suatu organisasi masyarakat yang dikoordinir oleh pemerintah karena menyangkut masalah yang kompleks; masalah kedaerahan, masalah hukum, mana peraturan wilayah pusat dan mana daerah, serta implementasinya di masyarakat setempat. Yang penting adalahbahwa dengan diungkapnya fenomena Si Angsa Hitam dan Sang Rembulan ini kita perlu bertindak cepat dan segera. Karena, situ-situ yang rusak mempunyai potensi kebencanaan yang dapat terjadi kapan saja.[rby]

* R. Bambang Yudomustopo adalah seorang dokter dan ahli di bidang kebidanan dan penyakit kandungan, Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti, Jakarta. Bambang sedang menulis sebuah buku dan dapat dihubungi melalui pos-el: yudomust[at]cbn[dot]net[dot]id.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 5.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Silaturahmi: Cara Cepat Mengembangkan Usaha

gg1Oleh: Gagan Gartika*

Usaha yang dilakukan secara sederhana ternyata lebih cepat berkembang, apalagi ditunjang dengan kekuatan silaturahmi.”

Saat awal belajar usaha ternyata kita sering salah melakukan sesuatu, terlalu berpikir njelimet, dan rumit. Seakan dalam berusaha itu seperti mau berperang melawan musuh. Untuk persiapan berusaha kita persiapkan jauh-jauh hari, mulai sekolah berlama-lama sampai akhirnya di perguruan tinggi. Setelah lulus sarjana ternyata belum jadi pengusaha juga. Kita malah sering bingung sendiri. Dari semenjak jadi sarjana saja, ilmu demikian banyak, penerapannya malah menjadi rumit. Dari belajar manajemen SDM saja misalnya, ilmu yang dipelajari seabreg, mulai dari mempelajari rekrutmen pegawai, cara penggajian, hingga melakukan pelatihan dan peningkatan keterampilan pegawai. Jika terus diikuti ilmunya jelas tak akan habis-habis.

Selanjutnya, kita kejar belajar organisasi agar tahu cara berorganisasi, belajar keuangan agar tahu cara mengelola keuangan, belajar pemasaran agar tahu cara menjual barang, belajar ekonomi makro, dan ekonomi mikro agar tahu perkembangan pergerakan ekonomi secara keseluruhan. Banyak sekali ilmu yang perlu dipelajari. Tetapi setelah selesai belajar, kita malah sering stres, ilmu apa dulu ya yang perlu diaplikasikan dalam pekerjaan? Menggunakan teori apa ya agar usaha bisa berdiri?

Semua yang dipelajari di atas ternyata baru teori cara mengelola perusahaan. Sementara, produk apa yang akan kita usahakan belum juga ketemu. Dari sini kita berpikir njelimet lagi sehingga sudah sekian tahun kita belajarbahkan sampai bergelar doktor sekalipun—namun perusahaan belum berdiri juga karena kita belum ketemu produk yang akan diusahakan. Akhirnya, kita terdampar menjadi dosen karena kita terus-menerus meneliti. Ketika ditanya, “Bagaimana wiraswastanya?” Jawabannya, “Belum siap!” Karena dalam berwirawasata, katanya, kita harus siap mental, punya keberanian, punya modal, berpengalaman, dan banyak persyaratan lainnya. Sehingga, lagi-lagi kita semakin jauh dari mimpi punya usaha sendiri.

Namun, kalau kita berpikir sederhana, kita akan melirik kepada perusahaan-perusahaan yang telah berdiri. Ternyata, usaha yang dilakukan secara sederhana justru bisa cepat berkembang. Dengan berjualan kopi saja, misalnya, begitu banyak perusahaan berhasil menggapai kesuksesan besar. Pemainnya ada Starbucks, Kopi Luwak, Coffee Beans, dll.

Contoh lain, jualan ayam goreng di sini berdiri KFC, AW, McDonald, dll. Atau, jualan donat saja ada Dunkin Donuts dan J.Co Donuts. Ternyata, produk yang diusahakan oleh semua perusahaan tadi adalah produk-produk sederhana. Saya yakin banyak dari kita pun mampu mengembangkan produk seperti itu. Cuma, ya itu tadi, karena cara berpikir kita terlalu njelimet sehingga pendirian usaha tak jadi-jadi.

Untuk itu, mencontoh dari keberhasilan mereka, mulailah mengusahakan produk sederhana. Misalnya, kalau mau jualan tahu buat deh berbagai model tahu; kemasan tahu, variasi tahu, dan pendamping makan tahu. Atau, makan tahu pakai kecap dan cabe, tahu pakai saos, tahu goreng, tahu pakai sayuran, tahu potong miring, tahu bulat, tahu putih, atau tahu warna. Lalu, tinggal dikasih merek agar tahu yang kita jual pun jadi branded.

Juga jual tempe, ya tempe goreng, tempe goreng tepung, tempe bacem, atau tempe mendoan. Lalu, dimakan pakai sambel, tempe diorek, tempe dikukus, tempe potong tebal, potong tipis, tempe kuning, tempe merah, ya pokoknya tempe dibuat variasinya, lalu kasih merek lagi biar branded. Jadi, deh usahanya. Dengan demikian, kalau usaha ingin cepat berkembang, kita juga tak perlu berpikir yang njelimet-njelimet. Yang sederhana saja, setelah itu kembangkan secara menarik.

Bila banyak pakar pemasaran, pakar inovasi, mulai berpikir dan mendorong bangsa Indonesia ke arah pengusahaan kekayaan dan warisan makanan nenek moyang kita, dengan cara sederhana seperti itu, saya yakin akan ada banyak pengusaha kita bisa cepat berhasil.

Memang agak terbalik cara berpikir kita. Kalau berpikir kita inginnya yang canggih-canggih. Misalnya, membuat pesawat terbang atau membuat produk dengan teknologi tinggi. Sementara, bangsa lain seperti Malaysia berpikir sederhana yaitu mengembangkan produk dari dasar tradisional sehingga kita sering kebobolan, yaitu banyak warisan budaya kita yang diambil oleh mereka. Padahal, ribuan budaya kita ternyata juga masih banyak yang bisa dikembangkan. Gampangnya, ambil salah satu, kemas dengan baik, kembangkan.

Dan, warisan budaya Indonesia sangat kaya. Setiap daerah memiliki kekhasan masing-masing sehingga kemasan budaya ini akan cepat berkembang menjadi usaha yang bisa menarik tujuan pariwisata dunia. Misalnya, batik yang telah diakui dunia adalah merupakan warisan leluhur bangsa Indonesia. Dan, produk-produk lain toh masih banyak yang perlu dikembangkan. Kemudian, setelah produk yang secara sederhana diusahakan, tinggal kita memperkuat pengembangan dan pemasarannya, yaitu lewat kekuatan jaringan silaturahmi.

Kegiatan silaturahmi juga merupakan budaya di Indonesia yang perlu dikedepankan. Namun, terkadang kita kurang menyadari sehingga kita terlalu njelimet mencari teori-teori lain yang lebih rumit. Padahal, kalau kita mengembangkan dan meluaskan tali silaturahmi sajayang dimanfaatkan buat pengembangan usaha—saya yakin usaha kita akan cepat berkembang. Dalam pengembangan usaha lewat silaturahmi, kita bisa membuat event tempat orang bisa ramai-ramai berkumpul banyak. Mereka bisa bertukar pikiran tentang cara mengusahakan suatu produk, mereka bisa bertemu dalam satu tempat, dan mereka juga bisa saling memasarkan produknya.

Dalam silaturahmi kita berpikir meluaskan hubungan dan relasi sehingga kita dapat mengemasnya dengan berbagai cara meluaskan hubungan. Misalnya, lewat pertemuan melalui hobi, olahraga, gathering, organisasi, pengembangan cabang usaha, chating lewat internet, blog, Facebook, website, dll. Dengan begitu, semakin luas kita bersilaturahmimeskipun produk yang diusahakan sederhana—itu akan membuat produk kita tersebar meluas ke konsumen.

Alhasil, produk tersebut akan berkembang sesuai dengan permintaan konsumen. Akhirnya, produk akan kuat di pasar dan dibutuhkan oleh pelanggan setianya. Sehingga, produk tradisional kita tak kalah oleh produk-produk keluaran bangsa lain. Karena itu, menggerakan usaha sederhana akan lebih cepat berkembang, apalagi kalau didukung oleh kekuatan silaturahmi.[gg]

* Gagan Gartika adalah seorang pelaku Silaturahmi Marketing (SiMark) dan pengusaha forwarding konsolidator, transportasi, dan kepabeanan. Ia juga menjadi dosen STMT Trisakti, Jakarta, dan saat ini sedang menulis sebuah buku pemasaran. Ia dapat dihubungi melalui pos-el: gagan[at]kumaitucargo[dot]co[dot]id.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.4/10 (9 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +4 (from 4 votes)

Kerja Bermakna

ebsOleh: Eko Supriyatno, MTB*

Henry Ford, seorang pelopor sekaligus founder Ford Motors (1836-1974) berujar, bahwa tujuan hidup adalah bekerja, mendapatkan pengalaman, dan mencari kebahagiaan. Masih menurut Ford, ia merasakan ada kegembiraan dalam bekerja. Ford juga menyatakan bahwa yang dapat dilakukan uang hanyalah membayar orang lain untuk melakukan pekerjaan kita. Kita baru merasa bahagia ketika kita mencapai sesuatu.

Menurut Napoleon Hill keinginan atau kepastian tujuan lebih dari sekadar sesuatu yang melatarbelakangi pencapaian tujuan. Memiliki sebuah keinginan atau kepastian tujuan untuk hidup Anda akan bersinergi dengan kemampuan untuk mencapai sasaran-sasaran Anda. Inilah yang akan mengantarkan pada tujuan Anda kelak.

Ketika kanak-kanak, kita menjadi tanggungan orang lain. Beranjak remaja, sekolah dan kehidupan masa remaja menjadi dunia baru kita yang mungkin mengesankan. Tak ada beban macam-macam kecuali belajar. Menjelang dewasa, sebagian ada yang mulai didorong menghidupi diri, minimal meringankan beban keluarganya. Ada yang disekolahkan lebih tinggi lagi. Visi tentang masa depan mulai dibangun. Ada cita-cita, ada rencana. Ada harapan dan ada ikhtiar.

Bersamaan dengan itu, anak yang berbakti juga memikirkan, ia hendak membalas budi baik orang tuanya dan orang-orang yang sudah berjasa baginya. Intinya, ia ingin memasuki fase kemandirian. Belum lengkap menjadi diri sendiri, selama masih hidup dari atau atas sokongan orang lain. Hidup, menjadi lebih bermakna kalau kita mandiri.

Maka, bekerja dan mandiri adalah satu tekad memaknai hidup. Keberartian hidup, diperteguh oleh “bekerja”. Di sini, tujuan “bekerja” adalah memaknai hidup. Di lingkaran kehidupan yang lain, ada pula yang menjadikan “bekerja” untuk bisa meneruskan hidup. Karena kerasnya tekanan hidup atasnya, orang-orang tertentu tak sempat berpikir “memaknai”. Jangankan memaknai, sekadar bisa hidup saja sudah sulit bukan main.

Orang-orang tertentu, karena keterbatasannya, belum punya cukup ruang di nalarnya, berpikir “memaknai” hidup, apalagi bekerja sebagai aktualisasi. Ia bekerja begitu saja bekerja karena kalau tidak ia akan sulit bertahan hidup. Berbahagialah Anda yang ada dalam poisisi memiliki ruang untuk berpikir ikhtiar memaknai hidup. Tentu, dengan bekerja. Mengapa? Karena, Anda tidak dihadapkan pada pilihan bekerja atau mati. Anda masih bisa merenungkan mau memilih bekerja di mana atau bekerja apa. Anda masih bisa berkata, Kasihan mereka…!” bagi sekelompok manusia yang tak punya pilihan, terpaksa melakukan apa saja demi bertahan hidup.

Termasuk dengan cara terhina: meminta–kasar atau halussebagai fenomena yang mudah terlihat dengan beragam modus. Atau, mencuri, mengambil paksa–yang memicu masalah kriminal.

Munculnya masalah seperti itu karena orang menganggap dirinya tidak punya kesempatan yang luas. Padahal, kata Ford tak ada yang namanya tak ada kesempatan. Saya termasuk sependepat dengan Ford karena kesempatan bukanlah barang yang perlu ditunggu tapi dijemput.

Satu ketika, tahun 1997 saya pernah ikut sebuah proses seleksi penerimaan karyawan di Astra International. Waktu itu ada tes statistik yang tidak pernah saya duga sebelumnya. Alhasil, saya termasuk orang yang tidak lulus seleksi. Serasa lemas badan saya. Tapi kelesuan itu tidak membuat saya patah semangat. Saya langsung datang ke sebuah toko buku dan langsung saya sambar buku statistik. Keesokan harinya saya kembali melamar di perusahaan yang sama. Bahkan, tidak melalui kantor pos (waktu itu internet belumlah menjadi media buat melamar sedahsyat sekarang).

Saya langsung antar dan saya serahkan kepada satpam yang menjaganya. Saya tunggu satu hari, dua hari, seminggu sampai sepuluh hari tidak kunjung ada panggilan. Barulah sekitar dua minggu berlalu panggilan itu pun datang dan saya ikut seleksi. Hasilnya, alhamdulillah saya lolos untuk tahap pertama dan tahap-tahap selanjutnya. Tahun itulah pertama kali saya bekerja di Astra Isuzu sebagai Yunior Assistant Sales Manager.

Coba Anda bayangkan, sekiranya saya waktu itu menyerah, sudah pasti pekerjaan tersebut tidak pernah saya dapatkan. Inilah yang oleh Hill disebut keinginan atau kepastian tujuan. Singkatnya, keinginan Anda adalah peta jalan Anda untuk mencapai sebuah tujuan keseluruhan. Sasaran-sasaran Anda mewakili jalur-jalur di sepanjang jalan tersebut.[eso]

* Eko Supriyanto dapat dihubungi melalui pos-el: eko_supriyatno2007[at]yahoo[dot]co[dot]id.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Jangan Terlalu Mengumbar Kata “Cinta”

ha1Oleh: Handini Audita*

Apa yang membedakan nasi dari piza? Hampir semua orang di Indonesia makan nasi setiap hari. Sudah bisa dipastikan, sangat mudah menemukan nasi di rumah kita. Karena setiap hari kita menemukan nasi, pasti kita cenderung menganggap nasi menjadi sesuatu yang biasa-biasa saja, alias bukan sesuatu yang luar biasa. Lalu, bagaimana dengan piza, makanan khas Italia yang sama mengenyangkannya dengan nasi? Tidak setiap hari kita bisa menemukan piza di rumah kita. Karena itulah, piza menjadi sesuatu yang luar biasa saat dihidangkan.

Walah….!!! Kok malah ngomongin makanan, sih…? Apa hubungannya dengan cinta?

Tenang saja…. Ada kok hubungannya….

Saya sering sekali menanyakan pertanyaan ini kepada teman-teman saya, “Bagaimana hubunganmu dengannya?” Banyak di antaranya yang menjawab, “Ya begitulah.…” Beberapa menjawab, “Biasa-biasa saja....”

Jawaban mereka itu menimbulkan pertanyaan di kepala saya. Ada apa sesungguhnya dengan mereka? Apakah hubungan mereka baik-baik saja? Saya hampir tidak percaya kalau hubungan yang mereka jalin serasa “biasa-biasa saja”. Bukannya yang namanya cinta pasti ada sensasi getaran tersendiri yang sangat luar biasa? Lalu, kenapa mereka justru merasakannya sebagai sesuatu yang biasa?

Saya memiliki seorang teman yang terlihat sangat mesra dengan pasangannya. Hampir setiap saat mereka SMS-an. Di setiap pesan, pasti selalu ada kata “sayang” atau cinta. Dan, di akhir pesan selalu tertulis kata “I Love You”. Begitu pun jika mereka bertemu. Jika akan berpisah, pasti mereka akan sealalu berkata I love you. Bahkan SMS, telepon, dan bertemu belum cukup mereka lakukan. Lewat situs jaringan pertemanan seperti Facebook, mereka juga mengumbar kemesraan. Jika salah satu dari mereka lupa mengucapkan kata cinta, maka pasangannya akan bertanya-tanya.

Lalu, saya mengamati perilaku teman saya itu saat membaca pesan dari kekasihnya itu. Dia selalu tampak biasa saja. Seperti sedang membaca suatu pesan yang tidak penting. Walau dia juga membalasnya dengan kata-kata cinta, tapi sangat tampak terlihat jika dia menulisnya tidak dari hati.

Suatu hari saya menanyakan padanya tentang hubungan mereka. Saya terkejut mendengar jawabannya. Dia berkata BOSAN. Saya tidak percaya mengapa bisa seperti itu. Padahal, kekasihnya begitu romantis terhadapnya. Mereka juga terlihat begitu mesra. Lalu, mengapa dia bisa bosan?

Dari peristiwa itu saya mengamati dan membandingkannya dengan hubungan saya dengan pacar saya. Pacar saya bisa dikata pribadi yang sangat romantis. Namun, tidak setiap saat kami berkata cinta atau menyebut pasangan dengan sebutan mesra. Kami seperti teman. Saya memanggil dia dengan namanya, dia pun memanggil saya dengan nama saya. Kami sangat berhati-hati dalam mengucap kata I love you. Kami hanya menggunakannya di saat-saat special saja. Kami tidak mau menggunakannya setiap saat karena kami takut kata I love youitu tidak menjadi kata yang special lagi.

Saya sangat ingat betul terakhir kali dia memanggil saya dengan sebutan “sayang” dan mengucap kata I love you. Saat itu, kami sedang makan malam berdua di suatu restoran di kota kami. Suasana restoran itu sangatlah menggambarkan kenyamanan. Tempat duduk yang nyaman dan didukung oleh pencahayaan yang remang-remang serta penuh lilin. Saat itu, sebenarnya kami hanya makan malam biasa saja. Tapi, ketika selesai makan dan hendak bergegas pulang, tak disangka dia mengucapkan sesuatu yang sangat manis. Dia berkata,Honey… Tonight I just want you to know that you are very special to my heart... I love you so much....”

Saat itu, dia berhasil membuat saya tidak bisa berkata apa-apa. Saya sangat bahagia mendengar kata-kata itu terucap dari mulutnya. Seperti mendapat suatu hadiah yang tak ternilai harganya. Saya pun menjawabnya, “Honey… I love you, too... So much....” Saat, saya menjawab, pacar saya tersenyum dan matanya berkaca-kaca. Seperti mendapat kebahagiaan yang luar biasa.

Saat di perjalanan pulang, saya tiba-tiba jadi teringat kasus teman saya dengan kekasihnya itu. Teman saya yang mengaku bosan dengan hubungan mereka. Saya ingat betul kalau hampir setiap hari kekasihnya mengucap kata-kata yang hampir sama dengan kata-kata yang kekasih saya ucapkan. Namun, dia tidak merasakannya menjadi sesuatu yang membuatnya sangat bahagia. Setelah berpikir sejenak, saya menemukan alasannya.

Menurut saya, dia tidak merasakan kata-kata itu menjadi suatu kata yang luar biasa. Karena, kata-kata seperti itu sudah menjadi kata-kata yang biasa dan setiap hari mereka katakan. Karena sudah biasa, makannya tidak menjadi luar biasa. Seperti nasi yang sering kita jumpai setiap hari. Karena setiap hari kita menemukannya, nasi bukanlah menjadi suatu menu yang luar biasa. Bahkan, terkadang kita bosan dengan nasi dan enggan memakannya.

Begitulah kasus teman saya. Karena setiap saat kekasihnya mengucap kata cinta, kata cinta bukanlah menjadi kata yang sakral lagi. Berbeda dengan apa yang kami alami. Kami jarang mengucap kata cinta karena kata cinta merupakan kata yang sakral sehingga hanya digunakan di saat special saja. Hal ini mampu membuat kami sangat bahagia saat menemukan kata cinta itu.

Lalu bagaimana dengan kisah artis Widyawati dan suaminya almarhum Sophan Sophian? Dalam salah satu wawancaranya, Sophan Sophian berkata bahwa satu bumbu rahasia yang membuat mereka tetap mesra hingga detik itu adalah karena mereka tidak segan-segan mengucapkan kata cinta pada pasangannya. Bangun tidur Sophan Sophian selalu berkata cinta pada Widyawati dan mencium keningnya. Cara itu boleh juga. Setiap pasangan memiliki caranya masing-masing. Tapi, jika akan melakukan hal seperti Widyawati dan Sophan Sopian, kata cinta harus dilakukan dan diucapkan dari hati. Jangan lakukan itu sebagai rutinitas belaka karena akan terasa hambar.

Jangan juga kita memaksa pasangan kita untuk selalu mengucapkan kata cinta setiap saat. Jangan ucapkan cinta karena terpaksa! Saya yakin, yang membuat ucapan cinta Sophan Sophian menjadi abadi selalu dan tidak terasa hambar karena ucapan itu berasal dari hati. Sophan Sophian mengucapkan kata cinta itu karena dia ingin mengucapkannya, bukan karena dia harus selalu mengucapkannya.

Jika ingin meniru gaya pasangan Widyawati dan Sophan Sophian, saya memiliki tip tambahan untuk menambah sensasi cinta itu. Sesekali berilah pasangan kita hadiah special. Tidak perlu sesuatu yang mahal. Bisa hanya sebatang coklat, setangkai bunga mawar, atau belikan makanan kesukaan pasangan kita. Yang terpenting adalah kejutan saat kita memberikan hadiah itu. Hal ini bisa memberikan bumbu tersendiri dalam hubungan cinta tersebut.

Bagaimana? Ada kan hubungannya antara makanan dengan cinta? Dari kisah singkat itu, bisa diambil suatu kesimpulan bahwa janganlah terlalu mengumbar cinta agar cinta tidak terasa hambar. Berhati-hatilah menggunakan kata cinta atau mengungkapkannya untuk menjaganya agar tetap menjadi kata dan peristiwa yang sakral.

Jika kata cinta dan ungkapan cinta kita anggap dan kita perlakukan sebagai kata yang sakral, pasti kita akan sangat bahagia saat mendengarnya dan mendapatkannya. Dijamin bikin klepek-klepek alias tidak bisa berkata-kata saat mendengar atau mendapatkan ungkapan cinta itu. Tidak percaya? Silakan dicoba![ha]

* Handini Audita, seorang mahasiswa semester V di Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Ia adalah seseorang yang berprinsip untuk selalu do the best pada segala sesuatu yang dilakukannya. Ia juga percaya bahwa every problem has a miracle on it sehingga membuatnya memiliki hobby yang unik, yaitu mengamati dan kemudian mempelajari kejadian-kejadian unik yang terjadi di sekelilingnya. Pernah menulis novel dalam bahasa Inggris saat bersekolah di Elementary School di Australia, tetapi belum diterbitkan. Handini dapat dihubungi melalui pos-el: handini_audita90[at]yahoo[dot]co[dot]id.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.0/10 (8 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +4 (from 4 votes)

Menghilangkan Minder Itu Mudah!

hnOleh: Hartati Nurwijaya*

Seluruh mahluk hidup di dunia ini pasti punya masalah. Bukan hanya manusia saja, ciptaan Tuhan yang punya masalah, dan menghadapi berbagai hal serta kejadian di dunia ini. Semua hal ditakdirkan oleh Tuhan berpasangan; ada panas dan ada dingin, ada baik dan buruk, ada susah dan senang. Manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, dan alam jagat raya ini punya takdirnya masing-masing. Tumbuhan ada yang liar hidup di hutan dan tidak pernah disentuh oleh tangan jahil yang merusaknya. Ada hewan yang diburu dan diperjualbelikan, ada hewan yang disayang, dipelihara, bahkan dibelikan perhiasaan seharga jutaan dolar. Anjing peliharaan Paris Hilton misalnya, atau hewan kesayangan selebritis dunia yang hidupnya kaya raya dan serbamewah.

Siapa sih yang tidak ingin hidup serba senang, mewah, dan berkecukupan? Pasti semua orang menginginkan hal itu. Walau tidak dimungkiri ada banyak juga individu yang memilih hidup dengan menjadi pertapa, biarawan, dan sebagainya. Mereka meninggalkan kemewahan dunia. Di Yunani misalnya, banyak biarawan berasal dari anak-anak muda yang punya penghasilan bagus atau berasal dari latar belakang keluarga yang kaya raya. Mereka memilih hidup dan tinggal di monasteraki dan memberikan seluruh kekayaannya pada gereja.

Anda dan saya yang memilih hidup untuk tetap menyeimbangkan kehidupan dunia dan akhirat. Kita menghadapi berbagai peristiwa yang membahagiakan, mengecewakan, dan membingungkan. Misalanya saja salah seorang pembaca www.andaluarbiasa.com mengirim email pada saya dan bertanya tentang bagaimana caranya mengatasi rintangan dalam pergaulan.

Email yang saya terima cukup panjang, berikut petikannya: “… jika saya tidak diberi kemampuan untuk membawakan diri dengan tepat seperti orang lain dalam pergaulan, lalu apa yang harus disyukuri di balik semua itu? Seperti pada contoh ketika saya tidak bisa membeli makanan-makanan yang enak seperti ayam goreng dan pizza. Akan tetapi, saya masih bisa bersyukur bahwa saya masih bisa kenyang (tidak lapar) dengan sekadar makan nasi dan lauk tempe tahu telur. Namun, bagaimana dengan masalah saya ini?”

Pertanyaan ini bukan hanya milik seorang saja. Pasti banyak pembaca yang mengalami hal yang sama. Saya sendiri sering merasakannya ketika dalam suatu pertemuan, dalam suatu pesta bertemu dengan orang-orang yang tidak saya kenal. Kemudian, saya dikenalkan dan berbincang dengan mereka. Namun, ada respon lawan bicara yang seolah-olah dia tidak ingin memperpanjang percakapan dengan saya.

Menyikapi kejadian tersebut, kalau saya boleh berpendapat; jangan dipikirkan! Jangan biarkan timbul pikiran negatif dalam otak Anda. Singkirkan perasaan bahwa dia sombong, enyahkan pikiran bahwa Anda tidak selevel dengannya. Intinya, tetap fokuskan pada jati diri Anda, tumbuhkan kepercayaan diri Anda dengan memikirkan bahwa Anda lebih baik dari dia. Anda bisa merasa lebih baik dalam beribadah, lebih baik dalam berhubungan dengan orang tua dan sanak keluarga Anda. Ingat kembali prestasi-prestasi yang pernah Anda capai selama ini.

Satu hal lagi yang perlu diingat, bahwa kita sebagai manusia selalu punya keinginan-keinginan. Namun, Tuhan memberikan lain dari harapan. Dalam kitab suci agama-agama yang ada, disebutkan bahwa apa yang kita anggap baik belum tentu baik bagi diri kita. Ada hikmah di setiap peristiwa yang mungkin Anda dan saya belum mengetahuinya.[hw]

* Hartati Nurwijaya (41), adalah seorang pemerhati masalah sosial kemasyarakatan dan politik. Ia telah menerbitkan buku Perkawinan Antarbangsa Love and Shock dan Hidangan Favorit Ala Mediterania , Bahaya Alkohol dan Cara Mengatasi Kecanduannya. Sejak 2003, alumnus Jurusan Sosiologi, Fisipol, UGM, Yogyakarta ini menetap di Yunani. Ia dapat dihubungi melalui email: tatia41[at]gmail[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.7/10 (10 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +6 (from 6 votes)

Songket Minang, Tenun Lama yang Hampir Hilang

lih1Oleh: Linda Helvira*

Bertamu di rumah seorang Arsitek Swiss, Benhard Bart, yang telah bertahun-tahun mendalami sSongket di Asia, akhirnya membuat saya tertarik dengan songket lama minangkabau. Saya bertamu ke kediamannya Kompleks SMKN 1, Batu Taba, Ampek Angkek Agam, Sumbar setelah membaca bukunya yang sarat dengan pendapat-pendapat para budayawan, penghulu, dan sesepuh Minang, yang telah membuka satu per satu pemahaman saya tentang budaya Minangkabau.

Songket yang dihasilkan melalui helaian benang-benang yang ditenun itu ternyata mengandung makna yang dalam, yaitu tentang perjalanan kebudayaan dan masyarakat Minangkabau. Pada motif sebuah songket lama, kita dapat melihat daya hidup dan kreativitas nenek moyang Minangkabau 100 tahun yang lalu. Motif-motif songket minangkabau ditampilkan dalam wujud simbol-simbol alam terutama tumbuhan yang kaya makna tersurat, tersirat, bahkan tersuruk. Berikut contohnya:

1. Motif kaluak paku (pakis), menyiratkan bahwa pentingnya bersikap introspeksi karena pucuk paku bergelung ke dalam terlebih dulu baru keluar.

2. Motif pucuak rabuang (bambu), menyiratkan bahwa bambu selalu bisa dimanfaatkan dari muda sampai tua. Dari rebung untuk dimakan sampai bambu untuk kerajinan. Dan, makna tersirat juga dapat dilihat bahwa semakin tua dan berpengalaman orang Minang hendaknya semakin merunduk.

3. Motif bungo antimun (mentimun), yang mana mentimun selalu dapat dimanfaatkan. Selain dapat dimakan mentimun juga berguna untuk perawatan kecantikan. Dari cara tumbuhnya yang menjalar dan selalu melekatkan akarnya ke penopang seruas demi seruas, makna tersuratnya menurut Abdul Hamid Dt. Rangkayo Sati adalah melakukan sesuatu haruslah secara sistematis dan mengakar. Atau, jika beragumentasi harus jelas dan dengan dalil yang kuat.

4. Motif bijo (biji bayam), yang mana tanaman bayam mudah tumbuh di mana saja. Jika sudah tua bijinya yang halus dan ringan mudah menyebar. Ini diumpamakan bahwa seorang berilmu memberikan ilmu dengan ikhlas dan menerima imbalan juga dengan ikhlas. Dalam budaya Minangkabau, murid biasanya mengisi cupak nan tangah (mengisi tempat beras di rumah gurunya) sesuai kemampuannya.

5. Motif ilalang rabah (rebah), yang artinya ilalang yang rebah jangan diinjak dengan sembrono. Sebab, akarnya yang merentang tersembunyi bisa menjadi ranjau yang dapat menjatuhkan. Artinya, kewaspadaan, kehati-hatian, dan kecermatan seorang pemimpin adalah hal yang utama. Kekuasaan harus bersifat arif agar tidak terjadi kesewenang-wenangan. Tidak selamanya orang lemah menyerah pada penindasan. Bahkan, akar rumput pun bisa menjelma kuat hingga meruntuhkan kezaliman.

Ada lebih dari 14 motif lagi yang sarat dengan filosofi adat Minangkabau yang tersembunyi di dalam songket lama yang pengerjaannya lebih rumit. Namun, zaman dulu nenek moyang kita mengerjakannya dengan ketekunan dan kesungguhan hati. Motif-motif tersebut saat ini tidak sepenuhnya ada lagi karena kerumitan dan tuntutan pasar yang semakin menyamarkan arti filosofi Minangkabau tadi. Saat ini, mungkin melalui generasi muda, budayawan, serta kebijaksanaan pemerintah yang mengertilah yang perlu merevitalisasi kembali tradisi songket lama minangkabau. Ia merupakan identitas budaya yang hampir dilupakan. Semoga songket lama minangkabau lestari.[lh]

* Linda Hevira adalah seorang wanita multi-talenta yang menjabat direktur di CV Komitmen. Selain menjadi dosen, ia juga berprofesi sebagai motivator, instruktur model, dan sering juga menjadi MC, juri, pembaca puisi, pemain teater, dan presenter televisi. Saat ini Linda sedang menantikan penerbitan beberapa buku. Linda tinggal di Bukittinggi, Sumatera Barat, dan dapat dihubungi melalui pos-el: lindahevira[at]gmail[dot]com atau blog: lahevi.blogspot.com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 4.8/10 (4 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Rahasia Sukses Jack Welch

midOleh: M. Iqbal Dawami*

Jack Welch adalah salah satu tokoh yang dikenal dalam dunia bisnis karena kepemimpinannya saat ia menjabat sebagai Pemimpin dan Ketua Eksekutif dari General Electric (GE), Amerika, pada periode 1981-2001. Reputasinya diraih berkat kecerdasan bisnis yang tinggi dan strategi kepemimpinannya di GE. Ia tetap menjadi tokoh yang disegani di kalangan bisnis mengingat strategi manajemennya yang inovatif dan gaya kepemimpinannya.

GE adalah perusahaan teknologi dan jasa dengan bidang usaha yang sangat luas, dari peralatan rumah tangga, lampu listrik, finansial, mesin jet pesawat, sampai pembangunan pembangkit nuklir. Nilai total perusahaan ini sekarang mencapai 500 miliar dollar AS. Jack sudah bekerja jadi teknisi di General Electric sejak 1960. Ia mulai benar-benar dari bawah. Dengan usahanya yang luar biasa, Jack berhasil naik terus ke puncak. Umur 37 tahun, ia sudah menjadi Vice President di GE. Dan pada 1981, Jack menjadi penguasa di GE, sebagai CEO termuda dalam sejarah perusahaan ini.

Jack Welch sering dipanggil “Neutron Jack” karena gaya kepemimpinannya yang penuh ledakan, persis seperti bom neutron. Banyak tindakan besar yang drastis yang ia lakukan selama kepemimpinannya. Misalnya, ia memotong gaji 10 persen eksekutif yang kerjanya terburuk tiap tahun. “Habisi semua yang tidak memberikan sumbangan pada perusahaan,” ujar Jack.

Dan, Jack juga menjadikan perusahaan yang awalnya sangat tidak efisien, menjadi salah satu perusahaan paling menguntungkan di dunia. Jack adalah legenda dalam manajemen perusahaan. Jack sendiri berhenti dari GE tahun 2001. Sekarang, GE adalah salah satu perusahaan terbesar Amerika, bernilai hampir setengah triliun dollar AS.

Melalui buku ini kita akan mengetahui prinsip-prinsip yang dijalankan Jack Welch dalam mencapai semua hal di atas. Melalui buku ini pula, kita akan mengetahui gaya manajemen dan kepemimpinannya yang telah terbukti itu. Penulis buku ini, Stuart Crainer, adalah seorang pendiri Suntop Media, sebuah firma konsultasi, konsep, dan konten media di Amerika, yang telah menghasilkan beberapa buku juga mengenai bisnis dan manajemen.

Sedikit menukik ke belakang, GE didirikan oleh Thomas Alva Edison, sang penemu bola lampu, dan sudah berusia lebih dari satu abad. Sejak didirikan, perusahaan ini berkembang pesat dan menjadi perusahaan raksasa. Tapi, akhir tahun 70-an, GE telah menjadi perusahaan raksasa yang gemuk dan sama sekali tidak efisien. Bisnisnya tidak fokus, birokrasinya besar dan bertingkat-tingkat, pengambilan keputusan dan pemecahan masalah juga lambat. GE adalah perusahaan besar yang akan segera ketinggalan zaman dan dilindas pesaingnya.

Namun, pada 1981, ada seorang pemimpin baru di GE. Namanya Jack Welch, dan ia akan segera menciptakan sejarah. Nah, dalam kepemimpinannya, nilai GE telah naik berkali-kali lipat. Saat Jack masuk, GE bernilai 14 miliar dollar AS dan saat Jack keluar GE bernilai 130 miliar dollar AS. Tidak ada satu pun pemimpin bisnis di dunia, bahkan Bill Gates sekalipun, yang mampu menciptakan perkembangan nilai perusahaan yang sedahsyat ini.

Jack Welch diangkat menjadi vice president GE pada 1972, lalu senior vice president pada 1977, dan vice chairman pada 1979. Welch akhirnya menjadi chairman dan CEO termuda GE pada 1981. Saat pensiun pada 2004, gaji tahunannya 4 juta dollar AS. Kekayaan bersihnya kini ditaksir 270 juta dollar AS.

Nah, berdasar capaian di atas, penulis buku ini mengidentifikasi ada sepuluh bumbu utama dari gaya manajerial Jack: berinvestasi pada manusia, dominasi pasar Anda…. Atau enyah, tak pernah tinggal diam, pikirkan layanan, lupakan masa lalu, ciptakan masa depan, belajar dan memimpin, tanpa basa-basi, hilangkan birokrasi, tidak ke mana-mana, dan mengurus toko kelontong.

Dari kesepuluh gaya manajemen Jack, ada dua hal yang menjadi perhatian saya ketimbang yang lainnya yaitu, hilangkan birokrasi dan mengurus toko kelontong. Dua hal ini boleh dikata jarang saya temukan di dalam manajemen bisnis mana pun. Apa sesungguhnya yang dimaksud dengan ‘hilangkan birokrasi’ dan ‘mengurus toko kelontong’?

Direpotkan dengan birokrasi dan hierarki yang membuang waktu, Jack Welch hampir meninggalkan GE setelah setahun bekerja di sana. Ia berhasil dibujuk, tetapi kejengkelannya tetap bersemayam. Setelah mencapai puncak, Welch membuang aturan-aturan birokratis.

“Bayangkan satu gedung. Perusahaan menambah jumlah lantai ketika bertambah besar. Ukuran menambah jumlah lantai. Kompleksitas menambah jumlah dinding. Kita semua membangun departemen—departemen transportasi, departemen riset. Itulah kompleksitas. Itulah tembok. Pekerjaan kita dalam bisnis adalah meratakan bangunan dan menghancurkan tembok. Jika melakukan itu, kita akan mendapatkan lebih banyak orang yang datang dengan lebih banyak ide untuk berbagai tindakan yang dibutuhkan oleh fungsi bisnis” (hlm. 168-169). Itulah salah satu terobosan Jack dalam upaya menghilangkan birokrasi. Dan, terbukti menguntungkan.

Jack Welch mengelola GE layaknya sebuah toko kelontong. Hal yang harus diperhatikan sama. Kualitas dan pelayanan. Arus uang. Tahu betul tentang apa yang akan laku dijual, bisnis apa yang berhasil saat ini. Fakta bahwa kita menjual reaktor nuklir, bukan menjual permen, tidaklah penting.

Jack dikenal sangat keras, tetapi adil. Keuntungan akan dikejar, tapi karyawan yang baik selalu diperhatikan. Untuk mereka, berbagai sistem promosi, bonus, dan saham di perusahaan diberikan secara kompetitif. Jack juga hafal nama dan pekerjaan dari hampir 1.000 orang yang bekerja di GE. Gabungan dari sistem reward dan punishment yang ekstrem ini membuat GE menjadi salah satu perusahaan terbesar Amerika.

Bagi Jack, semua pihak harus belajar jadi yang terbaik atau, jika tidak, akan dieliminasi. Eksekutif akan dipecat, anak perusahaan yang tidak mampu memberi keuntungan atau bukan dua besar dalam industrinya akan ditutup atau dijual. Semua harus belajar dengan cepat karena perusahaan seperti itulah yang akan unggul. Jadi, semua pihak di GE akan belajar mati-matian, atau ditendang keluar. Kalau bukan oleh pesaingnya, oleh Jack sendiri. Perusahaan pun bergerak semakin cepat, begitu pula keuntungannya.

Belajar dari Jack, bahwa manajemen adalah sebuah seni. Dan hal itu (terkadang) tidak bisa dipelajari di buku, melainkan dari sebuah pengalaman.[mid]

* M. Iqbal Dawami, Staf pengajar STIS Magelang dan blogger buku di http://resensor.blogspot.com.

bk-jack-welch

DATA BUKU

Judul: The Jack Welch Secrets: 10 Rahasia Sukses CEO Paling Fenomenal di Zaman Kita

Penulis: Stuart Crainer

Penerjemah: Arfan Achyar

Penerbit: Daras Books, Jakarta

Cetakan: I, September 2009

Tebal: 208 hlm.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 6.6/10 (5 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Semut dan Ulat

gv1Oleh: Gobind Vasdhev*

Ingatlah, di saat kemampuan kita kecil, masalah terlihat sangat besar dan begitu kemampuan kita besar, masalah-masalah tersebut menjadi pernak-pernik kecil yang membuat kehidupan tampak berkilau.”

~ Gobind Vasdhev

Buah campur adalah menu tetap di setiap sarapan pagi saya. Namun, hari itu ada yang istimewa…. Sewaktu asyik menikmatinya, seekor ulat kecil berwarna merah yang lucu keluar dari timbunan buah yang tersusun tidak rapi di piring bundar. Tak lama lagi seekor yang lain muncul. Terus terang saya terkejut melihat reaksi saya yang tidak kaget melihat ulat yang tiba-tiba muncul tersebut. Saya ingat sekali beberapa tahun yang lalu. Kejadian yang hampir sama pernah saya alami dan waktu itu saya memutuskan untuk tidak melanjutkan makan buah itu lagi.

Tapi sekarang, sama sekali tidak terlintas perasaan jijik. Malah sebuah perasaan senang bahwa sarapan pagi itu saya nikmati beramai-ramai. Saya merasakan suatu perasaan yang sulit digambarkan. Saya melihat bahwa ulat tersebut dan saya diciptakan oleh pencipta yang sama, dan kita sama-sama sedang mengambil energi dari buah yang sama untuk kelangsungan hidup masing-masing.

Ini mengingatkan saya sewaktu baru saja saya pindah ke Ubud, di mana kamar yang saya tempati sering dilalui banyak semut. Semut dengan berbagai ukuran itu mucul dengan tiba-tiba. Awalnya saya jengkel dengan kehadiran mereka. Saya merasa terganggu, mulai dari cairan sampai kapur pengusir serangga sudah saya gunakan untuk mengusirnya. Sampai suatu saat, ketika saya ingin mengusir mereka, ada sesuatu yang berbicara dalam diri saya. Mungkin, itu yang dinamakan suara hati yang berkata demikian, “Tunggu dulu, mengapa kamu marah?”

Sementara, diri saya yang lainnya menjawab, Ya, dia sangat menggangguku.

Kemudian, yang pertama langsung mendebat, Siapa mengganggu siapa? Bukankah semut-semut itu sudah ada sebelum kamu di sini, atau bahkan sebelum kamar ini di bangun? Dan lagian, semut-semut itu kan hanya mencari makanan?!

Dia bukan mencari, tapi mencuri!” kata yang kedua.

Bukankah kita manusia juga mencuri? Kita mengambil buah dari pohonnya. Bahkan, kita mengambil nyawa dari hewan untuk memenuhi kepuasan lidah kita. Jangan karena mereka tidak mengenal uang kau bilang mereka mencuri. Semut juga bekerja, mereka pasti mempunyai fungsi di alam semesta ini. Sama seperti ulat yang menggemburkan tanah dan untuknya mereka mendapat upah makanan berupa buah dari pohon…!”

Sering sekali hal ini terjadi. Pergumulan saya dan diri saya yang lain ini awalnya sering membuat saya frustrasi. Mereka sama-sama mempunyai alasan yang kuat. Mereka sama-sama pintar memberikan argumennya. Namun, di sisi lain pergumulan ini sangatlah mencerahkan, membuat saya melihat segala sesuatunya dari perspektif yang lain, sisi yang beda, yang lebih terang dan lebih luas.

Sewaktu di sekolah kita pasti pernah belajar tentang evolusi. Evolusi dari satu bentuk kera ke bentuk kera yang lain, juga hewan-hewan yang lain. Evolusi yang kita pelajari di sekolah adalah evolusi fisik. Selain evolusi fisik ada namanya evolusi pikiran, yaitu sebuah perubahan secara bertahap dalam tingkat pemikiran kita. Perubahan ini bukan dari tidak tahu menjadi tahu tapi lebih dari sekadar tahu. Juga lebih dari mengerti atau paham namun sadar. Bila seseorang tahu dan mengerti namun belum melakukan apa yang dia pahami, saya menyebutnya ia belumlah sadar.

Saya tidak mengetahui mekanisme secara terinci dalam diri seseorang bagaimana evolusi pikiran ini bisa tumbuh. Yang saya tahu adalah evolusi ini bertumbuh dari dalam, bukan dari luar. Walau sering kita mendengar bahwa banyak faktor luar yang dapat mengubah seseorang. Ada yang mengatakan, kita bisa mendapat tingkat berpikir yang lebih baik dengan cara belajar dari buku atau guru yang luar biasa. Ada juga yang berpendapat bahwa pengalaman yang besar atau mengejutkan akan mengubah seseorang. Seperti berdampingan dengan kematian misalnya, seseorang langsung tersadar dan berubah. Kemudian, orang tersebut melihat hidup dengan cara yang lain, melihat begitu berharganya setiap tarikan napas.

Ya, benar sekali kejadian eksternal akan meningkatkan cara berpikir seseorang bila ditambahkan sebuah syarat. Dan, syarat penting itu adalah bila orang yang mengalami sebuah kejadian bisa mengambil pelajaran darinya. Bukan kejadian yang mengubah seseorang, tetapi orang tersebutlah yang mengubah dirinya sendiri dengan mengambil sesuatu pelajaran dari kejadian itu.

Begitu pula bukan buku atau orang lain yang mengubah seseorang, namun pelajaran yang diambil dari buku yang dibaca atau orang lain yang ia kenali itulah yang mengubahnya. Peran seseorang dalam mengambil pelajaran inilah yang terpenting dalam mengubah dirinya, dan inilah yang menjadikan kita mempunyai tingkatan berpikir lebih tinggi lagi. Dan, dengan cara inilah evolusi pikiran terjadi. Bila terjadi evolusi dalam tingkat pikiran, pastilah kita akan melihat dunia dengan cara yang berbeda. Bahkan, sesuatu yang dulu dianggap sebagai masalah sekarang mungkin sebagai kesenangan, seperti contoh ulat dalam buah tersebut.

Albert Einstein seorang ilmuwan yang abad ini dinobatkan sebagai Man of the Century versi majalah Time pernah menulis, “Masalah penting yang kita hadapi tidak dapat kita pecahkan pada tingkat berpikir yang sama seperti ketika kita menciptakan masalah tersebut.Tingkat berpikir yang lebih tinggi adalah hal yang wajib dan diperlukan untuk memecahkan masalah.

Contoh sederhananya adalah sewaktu kita duduk di bangku sekolah dasar misalnya. Semua pelajaran kelas 1 SD pada saat kita di kelas 1 SD terasa sangat sulit. Kesulitan sangat terasa ketika kita sudah naik ke kelas 2, apalagi ke kelas-kelas yang lebih tinggi. Atau, pernahkah Anda membaca sebuah buku dan Anda tidak mengerti apa yang Anda baca? Dan, setelah beberapa waktu Anda membaca lagi, Anda pun mengerti apa yang dimaksud oleh buku tersebut? Bila ya, itu artinya bahwa sewaktu kali kedua Anda membaca, cara atau tingkat pemikiran Anda sudah berubah.

Begitu juga di kehidupan ini, masalah hanya terjadi ketika tingkat kemampuan seseorang tidak lebih tinggi daripada masalah tersebut. Di saat tingkat pemikiran sudah di atas masalah, semuanya terlihat bukan sebagai masalah. Nah, ketika sebuah atau beberapa masalah datang berulang-ulang dalam hidup kita, kita mempunyai pilihan untuk mengeluh, meyalahkan orang lain, atau menghindarinya. Atau, kita ambil pendekatan lain, yaitu mencoba belajar untuk meningkatkan pengetahuan dan level berpikir kita sehingga yang kemarin menjadi masalah hari ini menjadi sebuah kesenangan. Ingatlah, di saat kemampuan kita kecil, masalah terlihat sangat besar dan begitu kemampuan kita besar, masalah-masalah tersebut menjadi pernak-pernik kecil yang membuat kehidupan tampak berkilau.[gv]

* Gobind Vashdev adalah seorang trainer, public speaker, praktisi hipnosis, dan juga seorang pesulap. Ia tinggal di Ubud, Bali, dan tengah menantikan penerbitan buku perdananya. Gobind dapat dihubungi melalui pos-el: v_gobind[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.3/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Makna Menjadi Owner

iy1

Oleh: Iftida Yasar*

Sesungguhnya kita bukanlah pemilik dari apa pun.”

~ Iftida Yasar

Dalam kartu nama yang diberikan oleh seorang teman tertulis dengan jelas di situ jabatannya adalah “owner” atau pemilik dalam bahasa Indonesia. Pemilik kartu nama ingin memberikan penegasan kepada masyarakat bahwa ia bukan hanya, misalnya sebagai direktur atau apa pun jabatannya, tetapi adalah “pemilik perusahaan”.

Tidak ada yang salah dalam penulisan kartu nama tersebut. Mungkin saja ia ingin memberikan tanda kepada penerima kartu namanya,Jika ada yang ingin dibicarakan, jika ada transaksi bisnis yang ingin dilakukan, langsung saja dengan saya. Saya adalah pemilik perusahaan. Jadi, saya dapat langsung memutuskan tanpa meminta persetujuan orang lain lagi.” Namun, mungkin juga itu dilakukan berdasarkan pengalaman atau penampilan yang kurang meyakinkan, sehingga orang perlu menuliskan dengan jelas bahwa ia adalah pemilik perusahaan.

Ada juga seseorang yang karena penampilannnya sangat meyakinkan dianggap sebagai pemilik perusahaan. Karena, memang fist impression atau dalam pandangan pertama melihatnya saja sudah sangat meyakinkan. Padahal, dalam bisnis seseorang yang sudah diserahi tanggung jawab dan kewenangan dapat melakukan dan memutuskan sesuatu berdasarkan kewenangannya. Mungkin saja, lagak dan gaya orang ini begitu hebat dibandingkan dengan pemilik perusahaan yang lebih suka berada di balik layar.

Ada juga pemilik perusahaan yang sangat ingin memperlihatkan kepada karyawannya bahwa ia memang beda kelas, ia lebih hebat, lebih kaya, dan lebih pintar, sehingga karyawan hanyalah pelengkap penderita. Pemilik perusahaan model ini menerapkan manajemen gaya warung yang memainkan peranannya secara tunggal. Ia ingin semua orang tahu dia adalah “owner” dan ingin diperkenalkan sebagai “owner”.

Ada juga pemilik perusahaan yang biasa biasa saja, sederhana, menghargai, dan memberikan kewenangan pada pekerjanya. Tetapi, pekerja yang bermental penjilat atau budak sangat menaruh hormat luar biasa pada pemilik perusahaan. Setiap bertemu pekerja ini memuji dan selalu siap menjalankan perintah, memanggil pemilik perusahaan dengan “boss”, “tuan”, “nyonya” atau panggilan lain yang dilakukan dengan takzim dan hormat di depan majikannya.

Dan, jika mendampingi pemilik perusahaan untuk bertemu orang lain, pekerja ini akan memperkenalkan pemilik perusahaan dengan pernyataan Beliau ini adalah owner perusahaan”. Biasanya, pekerja tipe ini belum tentu tulus. Jika keluar dari pekerjaan atau ternyata sang “owner” tidak menjadi “owner” lagi, sikapnya langsung berubah 180 derajat. Sesuai dengan sifatnya yang penjilat dan bermental budak, ia akan menjilat dan patuh kepada owner yang baru.

Sesungguhnya, kita bukanlah pemilik dari apa pun. Nyawa yang ada di dalam tubuh kita tak akan sanggup dipertahankan jika sudah diminta pemiliknya. Kita hanya diberi amanah untuk menjalankan usaha, tetapi bukan pemilik dari usaha itu sendiri. Yang tadinya orang biasa bisa menjadi owner, yang tadinya owner suatu saat bisa kehilangan semuanya. Sebagai orang yang diberi amanah, kita tidak usah terlalu sombong dan membanggakan diri dengan apa yang kita miliki namun tidak akan abadi.

Sebagai pekerja kita jangan terlalu menjilat dan bermental budak. Hargailah siapa pun manusia dengan tulus. Jangan hanya baik di muka atau hanya baik jika orang tersebut masih menjadi owner. Menjadi orang baik itu adalah karakter, bukan profesi, yang suatu saat bisa berubah. Owner...? Ah, siapalah kita ini, hanya Allah yang pantas memiliki semuanya.[iy]

* Iftida Yasar lahir pada 28 Maret 1962. Ia meraih gelar Sarjana Psikologi Pendidikan dan Sarjana Hukum di Universitas Padjajaran tahun 1980. Dan meraih gelar S-2 Psikologi di Universitas Indonesia tahun 1992. Iftida Yasar adalah seorang konsultan SDM, hubungan industrial, dan outsourching. Ia juga seorang entrepreneur, trainer, motivator, aktivis sosial bidang pengembangan SDM, Wakil Sekretaris Umum APINDO, dan Penasihat Asosiasi Bisnis Alih Daya Indonesia (ABADI). Iftida baru saja meluncurkan dua buku terbarunya yaitu Merancang Perjanjian Kerja Outsourcing (PPM, 2009) dan Perempuan Makan Perempuan (Kosmis, 2009). Ia dapat dihubungi di nomor: 0811896944 atau pos-el: iftidayasar[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.0/10 (12 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +4 (from 4 votes)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya Oleh: Don Gabor Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009 ISBN: 978-979-22-5073-2 Tebal: xviii + 380 hal Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas! Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox