Sisi Positif dari Rasa Tersisih

lkk1Oleh: Lina Kartasasmita*

“If you judge people, you have no time to love them.”

~ Mother Teresa

Marshanda stres, beberapa waktu lalu berita itu muncul di mana-mana. Banyak komentar seputar artis cantik dan muda belia ini. Saya menyempatkan diri untuk melihat video Marshanda, bukan untuk mencari gosip, tetapi saya prihatin dengan Marshanda. Dalam video tersebut Marshanda menyebutkan dia mempunyai masalah dengan teman-temannya di sekolahnya. Tepatnya, seperti apa yang dialami Marshanda secara detail saya tidak tahu, tetapi saya pun memiliki pengalaman yang tidak menyenangkan seperti yang dialami Marshanda. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat kita mencari teman kadang tidak selalu menjadi tempat yang menyenangkan.

Saya terlahir dari pasangan keturunan Tionghoa yang telah turun-menurun tinggal di Indonesia. Sejak lahir rambut saya berwarna merah kecoklatan dan bola mata saya berwarna coklat. Warna rambut dan mata saya menjadi tidak lazim bagi sebagian orang. Jelas saya sangat berbeda ketika berada di antara teman-teman. Di sekolah banyak sekali yang suka mengolok-olok saya. Mereka mengatakan, saya ini bukan orang Indonesia dan juga bukan orang Tionghoa. Mereka memberi saya julukan yang aneh-aneh. Sering kali saya merasa tersisih dan sendirian di antara teman-teman sebaya saya.

Perasaan itu membuat saya mencari dunia saya sendiri. Saya sering bercerita kepada ibu saya, sehingga beliau juga berupaya menghitamkan rambut saya dengan memberikan berbagai ramu-ramuan. Rambut saya memang mulai menghitam atau lebih tepatnya lebih hitam kecoklat-coklatan, tetapi jelas tidak lagi tampak merah kecoklatan. Namun, itu tidak mengubah julukan dari teman-teman saya.

Hingga kini, ibu saya masih menyimpan potongan rambut saya yang berwarna merah kecoklatan. Padahal, sekarang ini banyak sekali orang yang mewarnai rambutnya yang hitam menjadi merah kecoklatan. Kalau saja di era saya kecil warna merah kecoklatan itu menjadi tren, pasti saya menjadi anak yang paling popular dan bukan lagi menjadi korban olok-olokan.

Saya menjadi bosan dengan julukan-julukan aneh itu dan bosan memikirkan bagaimana penampilan saya seharusnya. Saya memilih dunia saya sendiri. Kalau mereka memang membedakan saya dan berpikir saya memang beda, saya harus jadi diri saya sendiri walaupun saya harus berjalan ke arah yang berbeda dari kebiasaan remaja pada umumnya.

Setiap hari sepulang sekolah saya lebih sering mengunci diri di kamar dan membaca. Dari era majalah Bobo dan Kuncung, hingga kisah Mahabarata sampai Siti Nurbaya, dari pengarang Marga T hingga Sydney Sheldon, dari komik sampai kitab filsafat. Semua jadi sahabat setia saya. Julukan yang diberikan oleh keluarga saya adalah “si kutu buku”. Saya tengelam dalam bacaan yang mengasyikan dan menimbulkan kecintaan saya kepada karya sastra. Saya memilih buku sebagai sahabat terbaik saya. Saya akan berburu buku-buku sebelum liburan tiba dan saya selalu berupaya mendapat nilai baik agar ayah saya membelikan buku-buku kesukaan saya. Hidup tanpa buku jauh lebih menderita bagi saya dibandingkan tanpa teman.

Ketika saya membuat kilas balik dari perjalanan hidup saya hingga kini, saya bersyukur karena saya dibedakan oleh teman-teman saya. Sehingga, saya tidak pernah punya teman bermain di luar rumah. Saya pun harus mengurung diri di kamar, membaca banyak buku, dan itu membuat saya menjadi kaya akan ilmu pengetahuan. Kalau tulisan ini kembali mendapat tempat di www.andaluarbiasa.com, berarti masa sulit saya ketika kecil telah dipakai Tuhan untuk mempersiapkan saya berkarya seperti sekarang.

Adakalanya ketika kesulitan itu datang dalam hidup kita, kita sulit melihat setitik cahaya terang atau sisi positif dari setiap peristiwa yang kita alami. Yang dibutuhkan hanyalah waktu untuk memahami dan melalui segala sesuatu dengan respon yang positif pula.

Di dalam masyarakat umum memang sulit untuk terus bisa menjadi positif. Karena, orang suka sekali memberi penilaian dan lebih mudah menilai yang negatif daripada menilai yang positif. Seperti pepatah mengatakan, semut di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tidak tampak. Berapa sering juga kita menilai orang sehingga sulit bagi kita menerima orang itu apa adanya. Tetapi, yang lebih memprihatinkan adalah kita tidak mampu menerima diri kita sendiri dan tidak mampu mencintai diri kita apa adanya.

Marshanda stres, kita juga bisa stres. Kita bisa merasa tersisih di antara teman-teman kita, tetapi hidup ini pilihan. Jadi, pilihlah untuk selalu positif dalam hidup karena segala sesuatu ada hikmahnya.[lkk]

*Lina Kartasasmita lahir di Jakarta 1966, lulusan sarjana akuntansi yang memilih menjadi guru dan ibu rumah tangga. Aktif di Toastmaster Club, suka menulis dan mencintai dunia pendidikan. Tulisan-tulisan Lina terdapat di www.wisdom-to-share.blogspot.com atau www.wisdom-to-share.blog.friendster.com. Pos-el: Lkartasasmita[at]hotmail[dot]com.

UA:A [1.6.4_902]
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.8/10 (8 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +5 (from 5 votes)

Adilkah Kita?

igOleh: Ingrid Gunawan*

“Kenapa saya enggak boleh duduk di sini, Bu? Kok, dia boleh?” demikian pertanyaan yang dilontarkan seorang teman ketika saya memintanya pindah dari tempat duduknya, dan kemudian memberikan kursinya kepada tamu yang telah berdiri di samping kursinya. Saya tidak sempat berargumentasi dengan dia karena tamu-tamu terus berdatangan sehingga saya sibuk mencarikan tempat duduk yang kosong. Saya lihat teman itu masih tetap bertahan di kursinya, tanpa memedulikan tamu-tamu yang belum mendapatkan kursi.

Setelah acara usai, ketika saya menceritakan hal ini kepada teman yang lain, teman saya itu tidak memihak saya. Malah dia berbalik menyatakan,Ya, wajar saja dia tidak mau bangun, lha istri manajer. Anak ibu manajer juga ikut duduk di sana. Padahal, kan mereka bukan karyawan sedangkan dia karyawan, jadi dia tentu lebih berhak duduk disana. Inikan perayaan hari ulang tahun perusahaan kita,” demikian kata teman saya.

Setelah saya renungkan, betul juga sih perkataannya. Mungkin wawasan berpikir saya dan cara berpikir teman itu berbeda. Saya berpikir, sebagai seorang penerima tamu dan tuan rumah yang harus menjalankan tugasnya, mempersilakan tamu-tamu undangan untuk duduk; sedangkan teman saya itu berpikir dia sebagai karyawan yang perusahaannya sedang berulang tahun. Jadi, tentunya dia berhak menikmati acara yang diselenggarakan oleh perusahaan. Adilkah saya mengatakan dia tidak sopan?

“Suami saya tidak bekerja, Bu! Bisakah saya mendapatkan benefit pengobatan untuk keluarga saya, seperti karyawan pria, Bu?” demikian permohonan yang saya dengar ditanyakan oleh rekan kerja wanita di tempat kami bekerja. Memang pegawai wanita yang telah menikah tetap dianggap berstatus lajang dalam benefit pengobatan yang disediakan oleh perusahaan. Jadi, hanya pribadinya saja yang ditanggung perusahaan apabila dia sakit. Berbeda dengan pegawai pria, benefit pengobatan istri dan anak-anaknya juga ditanggung oleh perusahaan. Bahkan, fasilitas keluarganya pun mengikuti fasilitas seperti yang diperoleh oleh suami atau ayahnya yang bekerja di perusahaan tersebut. Terkadang, fasilitas keluarganya yang tidak bekerja di perusahaan itu lebih baik dari pada fasilitas yang dinikmati oleh karyawan yang bekerja di perusahaan itu, hanya karena jabatan suami atau ayahnya itu. Adilkah perusahaan?

Kemarin saya datang ke pameran perumahan di JHCC. Para pengembang sedang memamerkan perumahan susun yang dibangun bertower-tower dengan puluhan lantai dan puluhan unit di setiap lantainya. Rupanya, pemerintah juga memikirkan perumahan untuk masyarakat lapisan bawah yang belum banyak memiliki tempat tinggal memadai dan dengan harga terjangkau, namanya Rusunami. Menurut saya, harga rumah susun ini sudah cukup mahal. Setahun yang lalu, ketika dipasarkan harganya sudah mencapai Rp 80 juta, harga itu pun sudah disubsidi oleh pemerintah.

Menurut penjualnya, seluruh unit senilai tersebut sudah terjual habis. Kalaupun masih ada unit, mungkin kita adalah pembeli kedua. Jadi, harganya sudah tidak sebesar itu lagi alias sudah naik. Kalau kita tertarik ambil satu unit, untuk investasi tidak rugi. Pembeli-pembeli umumnya juga membeli untuk investasi. “Wah, jadi mereka bukan orang susah, dong?!” seloroh saya pada tenaga penjualnya. Mengapa orang yang mempunyai uang masih harus disubsidi pemerintah? Adilkah mereka bertindak demikian?

“Orang yang kaya mempunyai rumah beberapa buah dan dibiarkan kosong tidak ditempati. Sedangkan saya, satu pun tidak punya!” demikian keluhan yang saya dengar dari sepupu saya. Itu dilontarkannya usai dia diajak majikannya membersihkan salah satu rumah yang sudah lama tidak ditinggali. Adilkah orang kaya?

Kemarin kami kebagian distribusi jeruk dari seorang klien yang mengirimkan dua kotak besar jeruk untuk dibagikan. Bukannya saya ingin mendapatkan bagian yang lebih dari bagian yang telah ditetapkan, namun untuk direktur mereka mendapat bagian yang lebih banyak dari pada staf. Padahal, kalau dipikir-pikir direktur pasti bisa membeli satu kotak kalau mau. Sedangkan staf, untuk membeli satu kilo pun sulit. Jadi, mengapa untuk direktur harus mendapat bagian yang lebih banyak? Adilkah kita memperlakukan mereka seperti itu?

Aduh sebel banget, deh!” Baru saja cuci tangan dan mau makan, eh tukang ngamen itu tiba-tiba datang. Dan, jreng-jreng-jreng lagunya tidak karuan jluntrungnya, nyanyi dengan suara sumbang lagi. Itulah tidak nyamannya makan di kaki lima, trotoar jalan. Meskipun rasa masakannya tidak kalah dari restoran, tetapi gangguan pengamen itu yang mengesalkan. Meskipun hati kesal, tetapi kalau tidak kasih uang receh rasanya tidak tega. Kita makan enak-enak, dia hanya melihat saja dan minta diberikan sumbangan, paling hanya lima ratus atau seribu rupiah. Begitu saja juga susah. Adilkah hidup ini?

Begitu banyak ketidakadilan terjadi di dunia ini, tergantung dari mana kita memandangnya. Mungkin buat seseorang dia berkata, “Saya sudah bertindak adil.Namun, menurut orang lain dia tidak adil. Jadi, di mana keadilan? Bagaimana yang dianggap adil? Seperti apa keadilan itu? Lantas pertanyaannya, bisakah kita bertindak adil? Siapakah yang bisa berbuat adil? Pantaskah kita mempertanyakan keadilan?[ig]

* Ingrid Gunawan adalah seorang executive secretary sebuah perusahaan swasta. Meminati bidang tulis-menulis, aktif dalam pelayanan sosial, dan ia dapat dihubungi melalui pos-el: ingridguna[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Rekonstruksi Pembelajaran Budaya

snu1Oleh: Sidik Nugroho*

Dalam tulisannya di Jawa Pos tanggal 24 Agustus 2009, dosen dan peneliti pariwisata Universitas Widya Kartika Surabaya, Dewa Gde Satrya, mengajukan pertanyaan yang menempelak (menggusari, menyesali: red) rasa kepemilikan kita atas beraneka kekayaan budaya bangsa: “… apakah kita telah memanfaatkan secara optimal warisan-warisan mahakarya itu sembari melestarikannya di zaman modern ini, ketimbang menggandrungi produk budaya modern dari negara asing (Barat)?”

Tulisannya itu mengurai dengan telak hal-hal apa saja yang selama ini telah kita pinggirkan dalam elemen-elemen budaya kita. Utamanya, ini berkaitan dengan yang baru-baru ini terjadi: Klaim tari Pendet yang dilakukan oleh Malaysia – sesuai judul tulisannya Klaim Tari Pendet oleh Malaysia. Ya, Malaysia bukan hanya kali ini mencolong budaya kita. Sebelum ini, mereka mengklaim angklung, reog ponorogo, batik, dan yang cukup menghebohkan adalah lagu bertajuk Rasa Sayange sebagai milik mereka.

“Selama ini kebudayaan dipinggirkan. Pemerintah dan masyarakat tak lagi peduli,” kata budayawan Radhar Panca Dahana, mengomentari hal ini. Dalam catatan sejarah Orde Lama, konflik antara Indonesia dengan Malaysia cukup tegang, walau kemudian di masa Orde Baru tampak harmonis. Namun, di masa kini mereka mulai menyulut kembali ketegangan konflik dengan perlakuan yang tidak baik terhadap beberapa Tenaga Kerja Indonesia (TKI), klaim produk budaya, dan melanggar batas wilayah RI. Terhadap hal yang terakhir, Wakil Presiden Jusuf Kalla memberikan reaksi cukup berani dengan menyatakan negara kita siap berperang untuk menjaga kedaulatan.

Jati Diri yang Punah

Ketegangan konflik yang dimuarakan dalam tindakan kekerasan atau perang yang bersimbah darah menjadi ciri khas negara-negara kapitalis yang merasa kuat dan cenderung serakah. Imbasnya belum tentu kemenangan dan kejayaan, namun bisa jadi keterpurukan. Nah, rasanya kita perlu memikirkan solusi lain yang perlu ditempuh mengatasi masalah ini. Salah satunya adalah dengan bagaimana kita mengemas pembelajaran budaya dalam kelas-kelas di sekolah-sekolah kita.

Radhar Panca Dahana dan Dewa Gde Satrya benar. Kita telah kehilangan rasa memiliki – juga kehilangan upaya memikirkan manfaat – produk-produk budaya kita. Kita menyantap lahap-lahap produk-produk budaya kapitalis yang disuapkan lewat iklan, film, produk, dan siaran-siaran di televisi, sementara melupakan budaya bangsa sendiri dalam pendidikan kita.

Sementara itu pula, muncul pihak lain yang anti-kapitalis, yang resah melihat Amerika dan Barat menancapkan berbagai pengaruhnya di dunia global. Mereka kemudian melakukan kekerasan dengan mengadakan teror dan ledakan bom di mana-mana sebagai wujud perlawanan.

Kapitalisme tumbuh subur di negeri yang permai, yang telah didirikan dengan perjuangan para nasionalis yang mengucurkan darah. Terorisme diminati di negeri yang kini telah kehilangan pegangan dan lupa sejarah. Jikalau ini terus-menerus berlangsung, kita tidak akan pernah tahu akan jadi apa kita nantinya.

Merangkai Pembelajaran Budaya

Pembelajaran budaya, dalam kurikulum kita saat ini, paling tidak termaktub dalam tiga mata pelajaran, yaitu Pendidikan Kewarganegaraan, Ilmu Pengetahuan Sosial dan Budi Pekerti (yang terakhir disebut tidak diajarkan di semua sekolah). Sayangnya, ketiga bidang studi ini kalah saing bila dibandingkan dengan pelajaran ilmu pasti atau sains seperti Matematika, Kimia, atau Fisika. Sejak Indonesia berprestasi dan kini punya andil dalam berbagai perhelatan, lomba atau olimpiade bidang-bidang studi ilmu pasti tersebut, pembelajaran budaya tampak kian dinomorduakan.

Tentunya, prestasi-prestasi dalam bidang ilmu-ilmu pasti tersebut mengharumkan nama bangsa; tak serta-merta bisa dijadikan alasan untuk menuding kurangnya kegairahan pembelajaran budaya. Yang vital disoroti adalah bagaimana pembelajaran budaya itu sendiri diajarkan, sehingga tampak menarik sekaligus menantang. Dari situ para pengajar ilmu-ilmu sosial-budaya semestinya bercermin dan berefleksi: Jika selama ini ada beraneka event yang merangsang para siswa untuk berlomba-lomba mengikuti suatu perlombaan sains, apa yang dapat dibuat untuk menggairahkan siswa mempelajari budaya?

Perlu ada upaya rekonstruksi dalam pembelajaran budaya – untuk mengasah kembali nasionalisme dan menumbuhkan kecintaan pada budaya bangsa sendiri. Rekonstruksi ini, paling tidak mencakup dua hal utama yang perlu diperhatikan.

Pertama, modifikasi sumber belajar. Hal ini berkaitan dengan sering dikeluhkannya buku pelajaran ilmu-ilmu sosial yang monoton, kurang dinamis, banyak menghafal, dan terkesan datar. Kurikulum sekarang sebenarnya telah memberikan cukup ruang untuk memantik dinamika itu. Dengan penetapan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar dalam tiap mata pelajaran yang sudah menjadi acuan baku dalam pengembangan bahan ajar, mestinya buku-buku pelajaran sekarang dikemas lebih memikat dan memancing minat belajar para peserta didik.

Kedua, inovasi guru dalam mengemas pembelajaran; juga termasuk memodifikasi atas sumber belajar. Sedapat mungkin, ilmu-ilmu sosial dan budaya tersaji menarik dengan metode dan pendekatan yang beragam – tak melulu berisi ceramah. Guru-guru juga perlu memiliki penghayatan yang baik atas nilai-nilai luhur bangsa ini – yang perlu senantiasa diwariskan kepada para peserta didik. Meminjam istilah St. Kartono, seorang guru di Yogyakarta, seorang guru semestinya “tak hanya numpang hidup dari pendidikan, tapi menghidupi pendidikan”.

Kalau bukan anak-anak didik kita yang kini masih sekolah, siapa lagi yang akan tetap mempertahankan budaya negeri ini? Semoga para guru dan pendidik tergugah untuk merekonstruksi kelas-kelas pembelajaran budaya kita. Baiklah kita berkaca pada sejarah yang menyebutkan bahwa bangsa ini di masa lalu memiliki banyak guru dan pendidik yang hebat. Ya, kalau mereka tidak hebat, Malaysia tidak mungkin mengimpor para pengajar dari negeri ini di masa lalu, ‘kan?[snu]

* Sidik Nugroho adalah Guru SD Pembangunan Jaya 2 Sidoarjo.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.6/10 (9 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Budaya Negara Maju dalam Membesarkan Anak

ghsOleh: Gatut Heru Susanto*

Setiap berkunjung ke negara maju umumnya perhatian kita pertama tertuju pada fasilitas umum dan infrastruktur yang serba memadai dan nyaman. Jalan mulus dan memiliki banyak lajur, sekolah negeri dari SD sampai SMA memiliki fasilitas yang bagus dan gratis. Kantor-kantor pelayanan publik bekerja dengan profesional dan sangat efisien. Kemudian kita juga memerhatikan ketertiban umum dan disiplin yang sangat bagus dan cara orang-orangnya berinteraksi.

Kalau dari sudut prasarana fisik dan taraf ekonomi, saya pikir masih perlu 20 tahun atau bahkan lebih bagi Indonesia untuk masuk dalam kategori negara maju. Harus sedemikian lamakah kita menunggu untuk menikmati kenyamanan hidup ala negara maju?

Kita bisa menikmati kenyamanan budaya ala negara maju dalam waktu relatif lebih cepat kalau kita mau. Kita juga bisa membantu mempercepat pembangunan dengan menghasilkan generasi muda yang cerdas dan inofatif. Untuk bagian pertama dari meneropong negara maju dari sudut budaya, saya memilih budaya mendidik anak, karena anak adalah calon pemimpin bangsa di masa yang akan datang. Kita bisa mulai dari diri sendiri dan keluarga untuk mendidik dan membesarkan anak dengan lebih optimal.

Ketika kita membeli barang baru apakah itu kendaraan, laptop, kamera, iPhone, atau yang lain umumnya selalu disertai dengan buku manual cara mengoperasikan dan perawatannya. Nah, saat kita mendapat anak yang menurut saya jauh lebih sulit dari pada mengurus mobil atau apa pun lainnya, malahan tidak ada manualnya. Yang rajin membaca barangkali akan berburu buku-buku tentang membesarkan dan mendidik anak. Sebagian besar lainnya memilih membesarkan anak dengan cara orang tua membesarkan mereka. Apakah ini salah? Mungkin juga tidak tetapi bisa jadi kurang optimal.

Setiap orang tua pasti ingin anaknya menjadi anak pintar dan kelak menjadi orang sukses. Saya bukannya mau mengupas bagaimana membesarkan dan mendidik anak agar menjadi sukses, melainkan membuat perbandingan budaya membesarkan dan mendidik anak di Amerika Serikat yang mudah-mudahan bisa kita ambil sisi positifnya.

1. Pemenang yang happy dan berhasil

Orang tua di Indonesia sangat senang apabila anaknya menang dalam suatu perlombaan termasuk lomba nilai rapor untuk mendapatkan ranking atas di sekolah. Kadang untuk mencapai kemenangan itu, anak dipaksa untuk berlatih dan berlatih terus, tanpa peduli apakah anak sudah menjadi jenuh karena kebanyakan latihan atau metode latihannya kurang tepat untuk anak-anak. Akibatnya, kalaupun berhasil keluar menjadi pemenang, anak sudah kecapaian dan tidak lagi terlalu happy dengan keberhasilannya. Ada seorang teman yang selalu juara sejak kelas 1 SD sampai SMP, rupanya di SMA prestasinya mulai turun. Saat kuliah dia malah drop out karena tidak mampu mengikuti pelajaran. Mungkin saja otaknya sudah mencapai titik jenuh karena terlalu dipaksa menghafal pelajaran sejak kecil.

Di lingkungan tempat saya tinggal sekarang, sering saya mendengar orang tua bertanya pada anaknya: “Are you happy, honey?” Pertanyaan ini begitu penting bagi para orang tua di sini untuk mengetahui bahwa anaknya happy atau tidak happy dengan sesuatu hal. Maka, dalam metode latihan/belajar untuk mencapai prestasi selalu diusahakan mencari cara yang menyenangkan atau fun. Cara ini disepakati oleh anak dan orang tua, dan apabila sudah deal maka tidak ada lagi istilah excuse atau mangkir.

Orang Amerika sangat heran dan kecewa apabila ada yang tidak disiplin dengan jadwal atau mangkir dari kesepakatan awal. Saya melihat disiplin bisa timbul begitu kuat adalah karena kesepakatan dan jadwal itu dibuat dan disetujui kedua belah pihak, yaitu anak dan orang tua atau pelatih. Maka, ketika anak berhasil menjadi pemenang, dia akan sangat happy karena merasa dilibatkan sejak proses latihan/belajar. Kalaupun kalah, anak telah belajar sesuatu yaitu cara latihan yang telah disepakati tidak bisa membawa kemenangan. Anak akan tertantang untuk menerima metode latihan/belajar yang lebih keras secara sukarela.

2) Penghargaan diri

Orang tua di negeri kita cenderung menomorduakan pendapat dan suara anak. Yang paling penting dan paling tahu adalah orang tua. Ketika orang tua akan pindah rumah—apakah karena pindah tugas atau sekadar pindah ke rumah yang lebih besar dan lebih nyaman—anak paling-paling hanya diberitahu bahwa kita akan pindah rumah, tanpa merasa perlu menanyakan apakah sang anak setuju atau tidak dengan rencana tersebut. Parahnya, ketika anak memberanikan diri bertanya kenapa harus pindah dan lain-lain, ada orang tua yang menjawab, “Sudahlah ini urusan orang tua, kamu diam saja.” Maka, anak Indonesia menjadi anak yang kurang berani mengeluarkan pendapat, apalagi menyatakan pendapat yang berbeda.

Tetangga di depan rumah saya di Houston, memiliki dua orang anak yang baru berumur 5 tahun dan 2 tahun. Sekitar dua bulan sebelum mereka pindah rumah, sang ayah sering mengomunikasikan rencana ini dan memberitahukan alasan kepindahan kepada dua orang anaknya yang masih sangat belia tersebut. Sejujurnya, saya sempat skeptis dan berpkir, “Ah, tahu apa sih anak-anak seumur itu?” Namun rupanya, mereka membahasnya dengan serius dan sang ayah menjawab dengan sabar setiap pertanyaan anak-anaknya. Bart, nama tetangga saya itu, memperlakukan dan mendengar pendapat anak-anaknya yang masih belia seperti dia memperlakukan orang dewasa. Dan, memang begitulah umumnya cara orang tua berkomunikasi dengan anak-anaknya di AS.

Makanya, anak-anak Amerika cenderung speak out dan berani mengutarakan pendapat meskipun berbeda. Pernah ketika saya berada di sebuah toko di Disneyland Orlando, seorang gadis kecil kira-kira berusia 4 tahun meminta pendapat saya, “Mana yang lebih bagus antara boneka berwarna pink dan putih?” Kemudian, saya jawab, “Keduanya cantik.” Namun, dia bilang, “Mommy only allow me to buy one.” Dan, ketika saya jawab, “Pink”, dengan gembira dia berlari menghampiri ibunya dan berkata, “Mommy, mommy I want the pink one.”

3) Perkembangan emosi

Anehnya ada orang tua di Indoneisa yang kadang memanjakan anak dengan membiarkan sang anak bertingkah nakal dan semaunya. Anak bermain pisau dibiarkan, anak memanjat meja dan lemari dibiarkan, anak membanting mainan dibiarkan, bahkan ada orang tua yang hanya bilang “jangan” ketika anaknya dengan sengaja meludahi minuman tamunya. Barangkali, mereka berpikir dengan tidak terlalu banyak dilarang anak akan menjadi lebih berani dan pintar. Dengan lugu mereka berkata, “Lihatlah cara orang Amerika mendidik anaknya. Mereka kan tidak banyak melarang ini dan itu sehingga anaknya menjadi lebih berani dan cerdas.”

Entah mereka mengamati dari mana cara orang Amerika mendidik anaknya, tetapi yang saya tahu mereka juga melarang ketika anak-anaknya bermain dengan barang berbahaya. Mereka juga menegur anaknya jika melakukan kesalahan.

Ketika anak tetangga saya berlairan di halaman depan rumah saya dan membuat sampah daun yang sedang dikumpulkan tukang kebun berserakan, ibunya segera menegur dan meminta anaknya meminta maaf kepada saya secara langsung. Perlu saya sampaikan bahwa ini anak kecil baru berusia sekitar 4 – 5 tahun. Dia datang ke saya dan menyatakan penyesalannya sambil minta maaf serta bilang tidak akan berlarian di halaman rumah saya lagi. Saya pun dengan senyum memaafkan anak tersebut dan menyatakan dia boleh kapan saja bermain di halaman rumah saya asal sudah minta izin orang tuanya.

4) Menggali potensi terbaik anak

Ketika anak TK/SD di Indoensia ditanya apa cita-cita mereka kalau sudah besar kelak, rata-rata jawabannya ingin menjadi insinyur, ingin jadi dokter, ingin jadi pengusaha, dan lain-lain. Jarang yang bilang ingin jadi pembalap, penyanyi, bintang film, pemain bola, atau apalagi tukang kayu. Mungkin juga kondisi negara maju yang memungkinkan olahragawan atau artis sebagai profesi yang menjanjikan juga memengaruhi cara berpikir mereka. Di sebuah acara TV di Amerika, saya takjub mendengar jawaban anak-anak yang jauh lebih beragam ketika ditanya ingin jadi apa kalau sudah besar. Ada yang menjawab normal (menurut saya) seperti ingin jadi dokter, lawyer, dan lain-lain. Tetapi, tidak sedikit juga yang menjawab ingin menjadi pembalap NASCAR, mekanik sepeda motor, tukang kayu, pemadam kebakaran, dan lain-lain. Dan ketika menjawab, kelihatan sekali matanya berbinar-binar penuh semangat menandakan itu adalah keinginan pribadi dan bukan hasil indoktrinasi orang tua. Orang tua di Amerika cenderung mengikuti dan mengarahkan agar bakat terbaik anaknya keluar apabila bekerja di bidang yang disukainya.

Ketika anak sudah kelas 3 SMA, orang tua di Indonesia umumnya lebih sibuk daripada sang anak dalam mencari informasi soal jurusan dan perguruan tinggi favorit yang tepat untuk anak. Memang saya yakin ada diskusi dua arah tentang masa depan anak, tetapi umumnya orang tua lebih dominan karena merasa lebih tahu apa yang terbaik untuk anaknya.

Teman sekantor saya di sini kebetulan anaknya masuk kuliah tahun depan. Nah, dia sampai mengorbankan cutinya dalam satu tahun hanya untuk berburu universitas. Ia menemani anaknya mengunjungi beberapa universitas pilihan dan berdiskusi dengan bagian penerminaan mahasiswa baru tentang keunggulan universitas tersebut, fasilitas yang mereka punya, kegiatan ekstra kurikuler, dan lain-lain. Sang orang tua sangat mendukung anaknya dalam mencari kampus dan jurusan pilihan. Namun, orang tua hanya memberikan pandangan agar sang anak menerima informasi yang lebih komplet. Rick, nama rekan sekantor saya tersebut, mengaku sama sekali tidak meminta/memengaruhi anaknya untuk memilih jurusan tertentu.

Dari keempat poin tersebut saya menyimpulkan kata kuncinya dalah komunikasi. Jadi, jika ingin anak tumbuh dengan cerdas, berani mengeluarkan pendapat, dan menjadi orang yang berhasil kelak, sering-seringlah berkomunikasi dengan anak dengan cara yang positif. Dengarkanlah dan hargailah pendapat mereka dan dukunglah cita cita positif mereka dengan sepenuh hati. Selamat berkomunikasi yang positif dengan anak.[ghs]

* Gatut Heru Susanto SE. AK, adalah profesional yang berkarier di perusahan minyak dan gas multinasional sejak lulus kuliah tahun 1989, dan telah menempati berbagai posisi di departemen Finance dan Planning. Ia menguasai berbagai aplikasi finance dan planning, mengantongi sertifikat penyusun model keekonomian (Certified Economics Modeller), menguasai sistem Kontrak Bagi Hasil (PSC Fiscal Terms), US GAAP, proses penyusunan Business Plan dan Strategic Plan, dll. Saat ini, ia bertugas di kantor pusat perusahaannya di Houston, AS. Gatut adalah pendiri Chevron Automotive Club dan menjadi chairman-nya yang pertama (2002-2006), Presiden Rumbai Country Club (2004-2006), dan saat ini berdomisili di Houston, Amerika Serikat. Ia bisa dihubungi melalui pos-el: gatuths[at]chevron[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.4/10 (10 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +4 (from 4 votes)

Superleadership: Menjadi Pemimpinnya Para Pemimpin

sjOleh: Sri Julianti*

Bagaimana seni memimpin pemimpin? Dan, bagaimana karakteristik seorang pemimpin yang baik? Bagiamana cara memahami dan memimpin perubahan?

Itulah sebagian hal-hal yang akan dibahas dalam buku Super Leadership karya A.B. Susanto ini. Penulis mengibaratkan Superleader seperti dirigen (conductor) yang memimpin orchestra, ia harus memastikan bahwa nada dan suara yang dimainkan meyatu dengan harmonis untuk menghasilkan musik dan nada yang indah.

Dari judulnya sudah jelas buku ini membahas tentang cara menjadi seorang pemimpin yang super, dan membuat orang lain menjadi pemimpin. Buku ini dibagi dalam 5 Bab, di mana bab I, II, dan III merupakan paparan teoritis dengan sedikit contoh kasus mulai halaman 34 dan selanjutnya. Sedangkan Bab IV, merupakan kasus bagaimana seorang superleader dapat memahami dan memimpin perubahan. Bab V, memahami dan mengelola perubahan yang harus di milki oleh seorang superleader.

Seorang superleader yang dimaksud dalam buku ini adalah orang yang memimpin pemimpin lain di bawahnya. Contohnya, President RI, gubernur, direktur utama suatu holding company, atau pemimpin di bidang science (penelittian HIV Aids) dan pemimpin bidang spiritual.

Superleader harus mampu membuat pencapaian yang besar karena superleader mempunyai superfollower. Superleader juga mendelegasi, memotivasi, mendidik, mudah diakses, pandai memilih dan membesarkan bibit unggul, mengubah my problem à out problem à your problem, pandai membawa diri.

Pendekatan yang diterapkan Superleader seperti Appreaciative Inquiry (AI), yaitu pendekatan dalam pengembangan organisasi yang menawarkan proses secara positif dalam mengeksplorasi secara kolektif, berimajinasi, kolaboratif merancang, dan bersama-sama berkomitmen melangkah ke masa depan. Ide dasarnya adalah memperkuat hal-hal yang menjadi kelebihan organisasi. Ini akan memberikan harapan, cara berpikir positif, dan bukan mengorek yang pedih dan menyakitkan. Sebetulnya, secara singkat A.B. Susanto mau mengatakan think positively.

Diagnosis masalah ada empat fase: discovery, dream, design, dan destiny yang dibahas secara rinci dalam buku ini. Superleader tidak harus menjadi superstar. Di sini A.B. Susanto menekan bahwa superleader tidak harus memberikan keterangan langsung tentang isu-isu penting, kecuali memang tidak ada wakil perusahaan atau dikhawatirkan media mendapatkan informasi yang salah.

Menurut The Jakarta Consulting Group (JCG) ada 9 peran superleader sebagai kapten, dokter, eksekutor, ahli strategi, pelatih/coach, pembimbing (councellor), groupdynamizer (menjamin dinamika kelompok untuk membangkitkan energi dan antusiasme serta membangun kepercayaan), change agent, entrepreneur, dan corporate steward (memerhatikan dan memenuhi kepentingan para pemangku, orgnisasi, dan menyeimbangkan tujuan jangka panjang dan keuntungan jangka pendek).

Seorang superleader tidak cukup hanya mempunyai IQ tinggi saja, dia juga harus mempunyai EQ (Emotional Quotient/kecerdasan emosional). EQ yang dimaksudkan antara lain; self disclosure (memahami cara mengungkapkan sudut pandang postif dan memberi pencerahan), insight (kemampuan mengenal pola emosi dan reaksi), personal responsibility (selalu memenuhi janjinya), exchange agent (mendorong pertukaran positif dalam ide, perasaan, dan informasi), dst.

Seorang superleader, juga harus komunikatif, dapat mendengarkan secara aktif, dan seorang king maker (seorang superleder harus tahu talenta pengikutnya untuk dikembangkan, apresiatif, pandai menggunakana the law of leverage, mampu mengatasi masalah, tegas tapi tidak kasar, memiliki semangat entrepreneurship, mampu mengelola sumber daya, mampu melakukan aksi spiral, memimpin dalam situasi krisis, juga mampu melakukan eksekusi.

Superleader harus diimbangi dengan superfollower. Bila tidak, seroang superleader cenderung menjulang tinggi dan tidak berpijak ke tanah, sehingga bisa menjadi megalomania (menganggap dirinya besar, melebihi yang sebenarnya), otoriter, narsistis (senang di puja dan memuja dirinya), dan raja hutan (tidak dapat mentolerir ada orang kuat).

Pemimpin adalah role model (contoh), pengajar dan coach yang sangat berpengaruh pada pembentukan budaya organisasi. Pendiri dan pemimpin mengetahui bahwa perilaku mereka memiliki nilai untuk mengkomunikasikan asumsi dan nilai kepada anggota organisasi. Ini dapat terlihat pada kehidupan dan ritual organisasi: siklus rutinitas, prosedur, laporan, bentuk, dan tugas yang berulang-ulang setiap hari, minggu, bulan dan tahun.

Superleader sebagai pemimpin perubahan, harus memahami perubahan, mampu mengelola perubahan mengimplementasikan perubahan. Perubahan dengan langkah-langkah yang inovatif yang dilakukan untuk menciptakan nilai-nilai tambah dalam organisasi dalam memenangi kompetisi.

Mengelola perubahan harus dengan langkah-langkah perbaikan bertahap (incremental step) dan dilakukan evaluasi terhadap setiap milestone. The JCG Mastery of change model menyebutkan di perlukannya spirit perubahan, alasan yang mendasari perubahan, dan bagaimana mengelola perubahan (the spirit of change, the real reason of change, the how of change).

Seorang superleader harus juga memikirkan dimensi implementasinya untuk konsepnya. Ada beberapa alasan mengapa banyak pemimpin organisasi mengalami kesulitan dalam menangani budaya organisasi: tekan untuk mencapai tujuan finansial jangka pendek, meningkatnya kompleksitas organisasi, keinginan dan kebutuhan untuk mengelola krisis yang selalu berulang, dan kurangnya pemahaman mengenai kepemimpinan dalam organisasi.

Agar pemimipin mampu mengembangkan budaya organisasi secara efektif, pemimpin harus mempunyai kualitas dan keyakinan terhadap apa yang dikerjakan. Pemimpin juga perlu fokus untuk menghilangkan rasa takut, menciptakan sebuah payung keyakinan, serta menerjemahkan keyakinan ke dalam prinsip-prinsip perilaku etis (ethcial cide of conduct).

Buku ini diawali dengan teori manajemen yang langsung menggebrak dengan istilah-istilah manajemen yang bagus dan padat. A.B. Susanto ingin mengingatkan pembaca bahwa ada risiko kegagalan besar bila teori-teori manajemen yang bagus dan produk import itu langsung diterapkan di perusahaan Indonesia. Keseluruhan teori pemimpin ini bisa disimpulkan seperti wisdom dari pendiri Taman Siswa: ”Ing ngarso sung tulada, ing madya mangun karso,d an tut wuri handayani”.

Tidak perlu kasar, tetapi tegas, memerhatikan karyawan, menganggap pemimpin di bawahnya sebagai teman dan mitra, dan seterusnya. Tetapi sayang sekali, di awal buku ini A.B. Susanto kurang melengkapi dengan contoh dan hal-hal praktis yang ringan sehingga teori manajemennya tidak mudah dimengerti oleh pembaca. Tetapi, hal ini ”mencair” pada halaman selanjutnya. Contoh kasus semakin lancar dan terasa geregetnya pada Bab IV.

Yang menarik, buku ini sangat kaya akan teori manjemen, khususnya teori tentang superleader. Hal ini menunjukkan pengalaman A.B. Susanto sebagai ahli manajemen. Buku ini mengutip banyak referensi dari buku lainnya dengan harapan pembaca mengetahui teori-teori dari para pakar lainnya.

Tetapi, hal ini justru agak membingungkan pembaca karena banyaknya bahasan yang hampir sama. Buku ini akan lebih menarik jika pembagian bab maupun subbab lebih sistematik dan masing-masing pembagian dalam bab tersebut jelas kaitannya satu dengan lainnya. Dan, akan lebih memudahkan pembaca bila semua kualitas, karakteristik, mindset, dll yang harus di miliki oleh seorang superleader sudah dibahas di awal buku ini sehingga tidak terjadi tumpang tindih pada bab selanjutnya.

Secara keseluruhan buku ini sudah mencakup teori kepemimpian secara lengkap dan dapat membuka wawasan manajemen semua orang yang tertarik di bidang ini. Perusahaan atau organisasi yang merencanakan lembaganya lebih maju dan effektif dalam kinerjanya dan merencanakan perubahan, juga bisa memanfaatkan buku ini. Pembahasan buku ini memang cenderung diperuntukkan bagi pembaca atau perusahaan yang kemungkinan berminat untuk memakai jasa para konsultan atau The JCG supaya memperolah pendampingan yang baik.[sj]

* Sri Julianti adalah praktisi packaging yang sudah malang melintang di dunia packaging selama 25 tahun lebih. Saat ini, ia sedang menuliskan pengalamannya dalam sebuah buku tentang strategi dan seni kemasan. Ia dapat dihubungi melalui pos-el: julipackaging[at]yahoo[dot]com.

bk-absusantoDATA BUKU

Judul Buku: SUPER LEADERSHIP – Leading Others to Lead

Oleh: DR. A. B. Susanto

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009

ISBN : 978-979-22-4791-6

Tebal : xi + 194 hal

Ukuran : 13.5 x 20 cm

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 6.7/10 (6 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Jangan Pernah Berhenti Bertumbuh

srOleh: Surya Rachmannuh*

“Hanya dengan bertindaklah kita akan melihat suatu saat nanti

kita akan memetik hasil dari yang telah kita tanam hari ini.

~ Surya Rachmannuh

Bila Anda merasakan hari-hari ini beban menekan Anda, Anda harus bertahan. Teruslah bertumbuh dan mencari ke dalam diri untuk melihat potensi Anda kembali. Agar lebih jelas, saya berikan ilustrasi berikut ini yang berjudul “Cara Menanam Pohon Kurma di Padang Pasir”. Kisah ini hasil modifikasi dari situs Wikipedia yang saya ambil dari naskah buku saya yang akan terbit dengan judul “Menjadi Pribadi Champion”.

Ada seseorang melakukan percobaan untuk menanam benih kurma di padang pasir. Kelompok bibit kurma yang pertama ditanam dengan cara diletakkan sebuah batu besar di atasnya. Sedangkan kelompok bibit kurma kedua ditanam dengan cara yang biasa yaitu ditanam dalam lubang dengan kedalaman kurang lebih 20 cm.

Sebagai informasi, pohon kurma termasuk jenis pohon palem dan akan menghasilkan buah setelah mencapai usia 8 tahun. Kelompok bibit kedua dengan cepat menunjukkan pertumbuhan dan perkembangannya, sedangkan kelompok bibit pertama belum menunjukkan pertumbuhannya sama sekali.

Satu windu berlalu, kelompok bibit kedua mulai menampakkan hasil dan manis sekali buahnya. Sedangkan kelompok bibit pertama baru berkembang dan belum menghasilkan buah sama sekali. Pada tahun kesembilan, kelompok bibit kedua barulah menghasilkan panen yang berikutnya, sedangkan kelompok bibit pertama baru menampakkan hasil panennya. Demikianlah, secara hasil kita dapat mengatakan bahwa kelompok bibit kedua merupakan kelompok bibit yang cepat membawakan hasil dibandingkan denagn kelompok bibit pertama.

Suatu ketika atas penentuan alam, terjadilah badai besar. Kekuatan alam yang ada di padang pasir menunjukkan kedahsyatannya. Seluruh area padang pasir itu penuh dengan gemuruh, topan badai melanda termasuk area penanaman pohon kurma tersebut. Kelompok bibit kedua yang ditanam dengan cara yang biasa, hilang lenyap ditelan badai, tidak ada yang tersisa.

Kelompok bibit pertama yang ditanam dengan cara meletakkan batu besar di atasnya juga mengalami banyak kerusakan. Buah kurma yang tergantung dan terbungkus itu pun hilang ditelan badai. Beberapa helai daun patah, namun kelompok pertama ini tetap berdiri tegak, tidak tergoyahkan oleh badai topan di gurun pasir.

Sekarang baru terlihat apa alasan kelompok bibit pertama ini ditanam dengan meletakkan batu besar di atasnya. Cara ini kelihatannya tidak lazim. Tetapi, karena ada batu besar yang menghambat pertumbuhan pohon kurma ke atas, itu menyebabkan mereka bertumbuh ke bawah. Akar mereka tumbuh ke bawah mencari sumber mata air yang cukup untuk bertahan hidup. Setelah akar-akar itu menjadi kuat, tibalah saatnya bagi kelompok bibit yang pertama itu untuk membalikkan batu besar yang menekan diri mereka.

Sebuah momentum terjadi. Sejak saat itu, barulah mereka bertumbuh dan berkembang secara alami dan memang sedikit kurang cepat dibandingkan dengan kelompok bibit kedua yang tumbuh dengan normal tanpa ada tekanan batu besar di dalamnya. Terkadang, lewat proses penekanan ini mereka belum menampakkan potensi aslinya. Namun, bila sudah benar-benar matang, mereka akan menghasilkan buah, manis rasanya, dan dapat dinikmati oleh banyak orang.

Kita perlu mengubah cara pandang kita, bahwa segala sesuatu hal yang menekan kita itu sejatinya adalah sebuah peluang bagi kita. Maksudnya adalah peluang untuk menyikapi perubahan yang terjadi di sekitar kita dengan mengubah pola pikir, dengan menggali potensi, dengan harapan kita juga dapat mengubah tindakan kita. Maka, tindakan itulah yang akan mewujudkan harapan kita menjadi sebuah kenyataan. Terbaliklah “batu besar” yang menjadi beban kita selama ini sehingga kita dapat bertumbuh dan berkembang sesuai dengan hukum alam.

Dalam hidup ini, setiap orang diuji dengan cara yang berbeda. Semua orang akan tampak sama dan penuh dengan motivasi dalam hidup ini. Namun, ketika badai kehidupan datang, yang dapat membuat orang bertahan adalah pengenalan diri akan potensi, bakat, minat, dan pengalaman pribadi dalam menghadapai tantangan hidup sebelumnya. Itulah yang membuat kita kembali kuat menahan seluruh eksistensi keberadaan diri kita.

Lebih baik kita melakukan inisiatif perubahan tindakan dibandingkan kita mengeluhkan keadaan di luar kita yang seakan mengimpit kita. Ingat, keluhan saja tidak akan membawa perubahan dalam hidup kita. Hanya dengan bertindaklah kita akan melihat suatu saat nanti kita akan memetik hasil dari yang telah kita tanam hari ini.[sr]

* Surya Rachmannuh lahir di Jakarta 1970, lulusan S1 dari Bunda Mulia dan S2 dari Jakarta Institute of Management Studies, Certified ISO Lead Auditor dari SGS, Certified Webmaster dan Problem Solving & Decision Making. Aktif di PT. Kalbe Farma, tbk sebagai “Training Specialist”. Hasil tulisannya dapat dilihat di www.webiddesign.com dan suryarachmannuh.blogspot.com

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.6/10 (5 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Tiga Perusahaan Top Jepang

mspa1Oleh: Meta Sekar Puji Astuti*

Sebutlah tiga merek ternama Jepang ini, Toyota, Sony, dan Panasonic. Ketiga merek tersebut sangat mudah ditemukan dalam keseharian kita; di jalan, di rumah, atau di ranah publik. Toyota dengan Toyota Kijang pernah sangat fenomenal di dunia otomotif Indonesia, dan sekarang ini Toyota Avanza tercatat sebagai mobil paling laku di penjuru Indonesia. Sony dengan telepon genggam berkongsi dengan Errikson, TV plasmanya, kamera vide, dan Playstation andalannya. Serta jangan lupakan Panasonic yang dulu dengan merek lamanya National, memberikan kontribusi luar biasa dalam peralatan rumah tangga seperti setrika, rice cooker, dan lain-lainnya. Produk mereka telah membantu ibu-ibu rumah tangga di seluruh Indonesia dan dunia.

Namun, apakah kita mengenali orang-orang besar serta proses keberhasilan di balik sukses mereka yang dapat menginspirasi kita semua? Baik, saya ingin mencoba berbagi cerita mengenai tiga perusahaan ternama Jepang itu.

Kita mulai dari perusahaan Toyota. Perusahaan ini awal mulanya adalah perusahaan tekstil yang produk utamanya adalah tenun dan tekstil. Perusahaan yang awal mulanya bernama Toyoda ini didirikan oleh Sakichi Toyoda. Sakichi Toyoda selaku pendiri perusahaan memiliki cita-cita besar dan memiliki insting kuat untuk membuat mesin-mesin inovatif. Setelah kunjungannya ke Amerika tahun 1910, ia yakin bahwa mobil adalah benda moderen yang sangat berprospek di masa depan. Nah, salah satu cita-cita terbesarnya adalah membuat mobil dari pabriknya.

Sayangnya, sampai ia tutup usia, ia tidak sempat melihat mobil yang dihasilkan oleh perusahaan miliknya. Kiichiro Toyoda, anak laki-lakinya, adalah yang berhasil mewujudkan pesan ayahnya untuk memproduksi mobil dari perusahaannya. Usaha Kiichiro Toyoda yang tak kenal lelah inilah yang akhirnya membuat perusahaan itu banting setir dan berhasil memproduksi mobil. Usahanya juga tidaklah mudah. Bahkan, mobil pertamanya merupakan produk gagal dan tidak laku di pasaran Jepang. Keuletannya, termasuk mengirim teknisi terbaiknya ke luar negeri, serta memperkerjakan konsultan asing terbaik di perusahaannya, akhirnya membuahkan hasil.

Toyoda kemudian berubah menjadi Toyota, dengan pertimbangan supaya lebih mudah disebut serta pertimbangan nama yang memberikan keberuntungan. Ternyata memang berhasil dan memberi sumbangan luar biasa bagi industri otomotif dunia. Istilah kaizen (perbaikan terus menerus), jid?ka (Just in Time) dan kanban (papan penunjuk statistik) merupakan salah satu bukti inovasi sistem pabrikan ini, yang bahkan diadaptasi secara luas dalam industri manufaktur di seluruh dunia.

Prestasi perusahaan Toyota ini juga tidak main-main. Keberhasilan pabrik Toyota dalam merakit mobil secara masal menjadi salah satu acuan utama dari seluruh pabrik otomotif di seluruh dunia. Pada tahun-tahun terakhir ini, Toyota menjadi produsen mobil terbesar di dunia, termasuk terbesar juga di Indonesia.

Lexus, mobil mewah dengan bahan bakar yang irit, adalah contoh keberhasilan Toyota dalam mendobrak mitos mobil mewah yang selalu boros bahan bakar. Prius, salah satu mobil hybrid-nya merupakan rancangan inovatif untuk mobil ramah lingkungan yang menjadi favorit bintang film di Hollywood. Usaha Toyota menjadi perusahaan kelas atas dan juga dihargai di seluruh dunia merupakan perjalanan panjang dan bukti dari kegigihan para penerus sesepuh Toyoda.

Setelah Toyota, mari kita beranjak ke dunia peralatan elektronik. Sony pernah menggegerkan dunia dengan menciptakan walkman pada tahun 1979, dan kemudian menjadi trendsetter fenomenal pada tahun 1980-an. Ketika itu, walkman membuat gebrakan dengan peralatan audio (kaset) yang dapat dijinjing sehingga kita dapat mendengarkan musik di mana pun kita berada.

Perusahaan Sony didirikan oleh duo pionir Masaru Ibuka dan Akio Morita. Tetapi, publik lebih mengenal Akio Morita sebagai co-founder Sony dengan ide-ide briliannya, termasuk walkman-nya itu. Sementara Itu, Masaru Ibuka lebih banyak berperan di belakang layar perusahaan, selain memang karena latar belakangnya sebagai insinyur elektronik.

Akio Morita berlatar belakang keluarga kaya dari saudagar pemilik pabrik sake Jepang. Namun, daripada menjadi pewaris pabrik mirik ayahnya, ternyata ketertarikan pada “barang ajaib” alias peralatan elektronik dari peradaban baru lebih besar. Itulah yang mendorong dia membuka perusahaan elektronik kecil dengan atap bocor di Tokyo pada 7 Mei 1946. Perusahaan yang mulanya bernama Tokyo Telecommunication Engineering itu kemudian menjadi Sony Cooperation yang ternama itu. Salah satu produk andalan dari perusahaan ini adalah radio transistor yang mulanya merupakan hasil ciptaan Bell Labs, Amerika.

Toh, pada kenyataannya Sony berhasil mengembangkan temuan-temuan itu menjadi sesuatu yang lebih inovatif dan juga bermanfaat bagi kehidupan umat manusia. Selebihnya kita tahu, Sony telah merambah dunia hiburan dan telah menguasai industri hiburan Hollywood. Juga tak lupa, Sony BMG juga menguasai dunia rekaman di Indonesia selain produk Sony juga dikenal produk elektronik papan atas saat ini.

Perusahaan ketiga adalah Panasonic. Perusahaan ini memang tidak sefenomenal Sony misalnya. Bahkan, perusahaan yang didirikan oleh Matsushita ini sering disebut dengan kata plesetan Maneshita (artinya melakukan peniruan, khususnya produk Sony). Tetapi, kehebatan perusahaan ini ada pada prinsip kesederhanaan dan kerendahhatian yang mendasari pemikiran pendirinya, Konoshuke Matsushita.

Coba lihat salah satu filosofi perusahaannya, yaitu untuk memerangi kemiskinan dan memajukan kualitas masyarakat. Berbeda dengan latar belakang filosofi Sony yang elegan dan serta ingin mengembangkan mimpi-mimpi spektakulernya. Sebaliknya, Panasonic ini berdasarkan pada prinsip kesederhanaan dan kebersamaan. Salah satu tekat Matsushita adalah menjadikan alat elektronik dapat digunakan oleh siapa saja dengan standar kualitas yang baik dan harga terjangkau. Oleh sebab itu, produk-produk andalannya pun dimulai dengan benda-benda sederhana (dan masih menjadi kekuatan perusahaan ini), dimulai dari lampu sepeda yang ringan dan tahan lama, batu baterai, penanak nasi elektronik, setrika berkualitas baik dan terjangkau, dan lain-lainnya.

Matsushita dikenal sebagai bapak Manajemen dan Filosofi Jepang. Latar belakang keluarganya yang sederhana dan miskin membentuk pribadinya yang sederhana dan rendah hati. Meskipun ia merupakan salah satu pengusaha terkaya Jepang, namun dia selalu menggunakan pesawat komersial kelas ekonomi ke mana pun ia terbang.

Dari kisah tiga perusahaan ternama Jepang ini ada benang merah yang seakan-akan menyambungkan ketiga perusahaan tersebut: Meniru dan menyempurnakan yang sangat khas Jepang. Mobil boleh ditemukan oleh Daimler-Benz, Ford yang menemukan sistem perakitan modern, namun Toyota-lah yang menyempurnakan temuan dari bangsa Barat. Bahkan, ketiga sistem kanban, jid?ka, dan kaizenbukan yang merupakan ide original Toyota ternyata telah diaadaptasi dan disempurnakan setelah belajar dari konsultan mereka yaitu, Profesor Deming yang berasal dari Amerika.

Kedua, radio transistor diciptakan oleh bangsa Amerika (Bell Labs), namun Sony berhasil mengembangkan serta menciptakan inovasi-inovasi baru, yang bahkan menjadi fenomenal. Phillips salah satu perusahaan ternama Belandayang menjadi kiblat Panasonicjuga merupakan perusahaan elektronik ternama dan memulai bisnis peralatan elektronik untuk peralatan rumah tangga. Sama dengan kedua perusahaan di atas, Panasonicdengan usahanya yang keras dan sangat serius termasuk penelitiannya serta perhatiannya yang kuat bagi karyawannya—telah membuat perusahaan itu menjadi sukses dan sangat dihormati di dunia.

Ya, meniru dan menyempurnakan, yang berarti juga berani gagal. Sebuah kata kunci bagi aktivitas perekonomian Indonesia. Saya kira, bangsa kita akan mudah melakukan peniruan dan, maaf, juga pembajakan. Untuk menyempurnakan? Sepertinya kita masih perlu belajar dari Jepang. Negara yang tercatat dan menyatakan dirinya telah keluar dari krisis global pertama di Asia. Siapkah kita?[mspa]

* Meta Sekar Puji Astuti adalah penulis buku Apakah Mereka Mata-Mata? - Orang-Orang Jepang di Indonesia 1868-1942. Lulusan Sastra Jepang UGM dan menyelesaikan studi masternya di Ohio University, Amerika Serikat. Tercatat sebagai staf pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Jurusan Sastra Jepang, Universitas Hasanuddin. Ia pernah menjadi peneliti tamu di Keio University tahun 2008-2009 disponsori oleh The Japan Foundation. Saat ini tengah menempuh studi S-3 di Keio University, Tokyo, Jepang. Selain akademisi dan peneliti, ia juga seorang ibu rumah tangga biasa dengan dua orang anak yang peduli dengan pendidikan bangsa untuk penyadaran identitas diri bangsa Indonesia.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.8/10 (11 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +7 (from 7 votes)

Nuzulul Qur’an dan Budaya Baca-Tulis

ab1Oleh: Abd. Basid*

Tanggal 17 Ramadhan boleh melalui kita. Akan tetapi, faedah yang tersirat di dalamnya tidak boleh melalui kita juga. Kita harus bisa memetik faedah yang terkandung di dalamnya. Malam tersebut merupakan malam yang mempunyai nilai lebih di bulan Ramadhan, selain malam Lailatul Qadar. Karena, malam itu merupakan malam diturunkannya Alquran (Nuzaulul Qur’an) dari Lauhul Mahfudz ke Samaid Dunya. Pada malam tersebut biasanya umat muslim memperingatinya dengan berbagai macam cara. Salah satunya dengan khataman bersama.

Meskipun para ulama berbeda pendapat tentang penetapan malam Nuzulul Qur’an, tapi penulis tidak akan memperbincangkan perbedaan tersebut. Yang jelas Alquran itu diturunkan pada bulan Ramadhan dan malam itu merupakan malam kemuliaan (2:185 dan 97:1), yang akan penulis komparasikan dengan budaya baca-tulis, guna menvitalisasi budaya baca-tulis kita yang tidak kunjung membudaya.

Sejarah menyebutkan bahwa wahyu pertama yang diturunkan adalah surat Al-‘Alaq ayat 1-5. Tepatnya di Gua Hira. Dalam riwayat pewahyuannya, Nabi dikisahkan dipaksa oleh malaikat Jibril untuk membaca (iqra’ = bacalah), akan tetapi Nabi menjawabnya dengan jawaban Ma ana bi qari’” (saya tidak bisa membacanya).

Ada analisis menaik dari Thariq Ramadhan tentang peristiwa tersebut. Dia mengatakan bahwa, karena ke-ummian Nabi waktu itu, Nabi mengungkapkan ketidakmampuannya secara logis. Dan, bila kemudian Nabi mampu membacanya, hal itu tidak lain karena spritualitas yang terkandung di dalamnya telah membuka akses terhadap dimensi lain dari ilmu pengetahuan.

Dari sekelumit pembahasan di atas, setidaknya ada beberapa hal menarik yang dapat kita petik. Pertama, Nabi yang merupakan seorang ummi (tidak bisa membaca) dipaksa untuk membaca wahyu pertama itu. Hal ini menunjukkan betapa Islam menekankan pentingnya kegiatan membaca sampai dipilih seorang yang ummi.

Kedua, keharusan untuk menyertakan spritualitas dan keimanan dalam aktivitas pembacaan itu. Meskipun demikian, bukan berarti nalar/akal tidak perlu dalam prsoses menafsirkan bacaan tersebut. Nalar tetap merupakan komponen utama, akan tetapi juga tetap tidak boleh mengesampingkan keimanan dan spritualitas dalam proses penafsirannya.

Ketiga, ayat pertama dari surat Al-‘Alaq berupa lafad iqra’ yang tidak ada objeknya (dibuang) mengimplikasikan bahwa objek yang dibaca adalah umum—di samping tentu Alquran yang merupakan kitab yang suci. Oleh karena itu, umat muslim—khususnya—tidak perlu membatasi materi bacaan selama pembacaannya selalu menyertakan ismi rabbik. Pembacaan tanpa menggunakan ismi rabbik—sebut saja seperti filsafat sekular—dapat melahirkan hasil pembacaan yang berbeda dengan yang menggunakan ismi rabbik. Untuk sekadar contoh, bagi seorang rasionalis, keraguan adalah metode epistemolgis yang valid untuk menemukan kebenaran, tetapi hal ini ditentang oleh Alquran (10:36).

Keempat, perintah membaca pada ayat pertama surat Al-‘Alaq dilanjutkan dengan isyarat terhadap pentingnya tulisan (ayat keempat dan kelima). Tentang kaitannya ayat 3-4 dan ayat sebelumnya, Al-Biqa’i menyatakan bahwa Allah mengajarkan pada Nabi, sekalipun beliau ummi sebagaimana Allah mengajarkan pada orang-orang bodoh dengan pena. Di sinilah letak penekanan Alquran akan pentingnya penulisan terhadap transmisi ilmu yang dalam Islam mendapat tempat yang tinggi (58:11).

Karenanya, membaca dan menulis merupakan dua komponen yang tidak dapat dipisahkan untuk menopang fungsi akal dan keduanya merupakan anjuran agama. Kita sulit menemukan—jika tidak mau dikatakan tidak ada—tokoh-tokoh besar terdahulu yang di satu sisi memiliki kemampuan membaca tinggi dan di sisi yang lain meninggalkan budaya tulis. Contoh kecilnya seperti Syaikh Nawawi al-Banteni, dengan tradisi bacanya yang kuat, dalam konteks yang lain karya beliau masih menjadi konsumsi resmi pesantren-pesantren Indonesia.

Kalau dikaitkan dengan negara kita, Indonesia masih terkenal dengan budaya dengar-lihatnya. Di Indonesia membaca masih menjadi kebiasaan kalangan kecil saja. Membaca yang merupakan jantung ilmu pengetahuan tidak banyak diakrabi masyarakat kita. Kata pepatah “Buku adalah jendela dunia” tampaknya tidak begitu berefek di negara kita.

Menurut hasil riset World Bank dan International Association for the Evaluation of Education Achievement (IEA) beberapa waktu lalu menunjukkan bahwa peringkat kebiasaan membaca anak-anak Indonesia paling lemah jika dibandingkan dengan negara Asia yang lain. Indonesia hanya mendapatkan skor 51,7. Angka itu masih kalah jauh dari Filipina (52,6), Thailand (65,1), Singapura (75,0), dan Tiongkok (75,5). Selain itu, kemampuan membaca rata-rata para siswa SD dan SMP di Indonesia menduduki urutan ke-38 dan ke-34 dari 39 negara.

Merujuk pada fenomena Nuzulul Qur’an dan hasil survei di atas, setidaknya kita umat muslim—khususnya—bisa menjadikannya sebagai sebuah pijakan untuk membudayakan budaya baca-tulis. Bukankah kita percaya bahwa Alquran merupakan kitab suci pegangan kita? Dan, Alquran sangat menekankan akan pentingnya membaca-tulis, seperti yang telah disinggung di atas.

Akhir kata, seiring dengan peringatan Nuzulul Qur’an Ramadhan kali ini—yang baru saja berlalu—semoga kita bisa menjadikannya sebuah pijakan dalam mentrasformasikan budaya baca-tulis kita. Semoga.[ab]

* Abd. Basid, pencinta pena; bergiat sebagai jurnalis IMABA Bata-Bata wilayah Surabaya dan aktif di pesantren IAIN Sunan Ampel Surabaya. Abdi Pena merupakan nama penanya. Bisa dihubungi lewat http://lingkaran-koma.blogspot.com atau basidabd99[at]yahoo[dot]co[dot]id.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 6.7/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Impian Sering Dianggap Gila

fepOleh: Firman Erry Probo*

Ada sebuah kisah klasik tentang seorang kakek yang berkeinginan untuk memindahkan gunung yang cukup besar dan tinggi, dan akhirnya berhasil. Kakek tersebut mempunyai seorang anak perempuan yang sangat cantik. Ia tinggal di sisi sebelah barat dari gunung itu, tepatnya pada kaki gunung. Karena letak rumahnya seperti itu, setiap pagi rumah sang kakek tidak pernah mendapatkan sinar matahari. Sang kakek pun mulai mengeluh karena dinding rumahnya mulai ditumbuhi lumut.

Hari berlalu, sang kakek pun memiliki keinginan memindahkan gunung yang besar lagi tinggi itu agar rumahnya bisa menerima sinar matahari langsung. Ia pun mengambil cangkul dan mencangkul tanah dari gunung itu sedikit demi sedikit, kemudian dipindahkan ke tempat yang sesuai. Para tetangga sang kakek pun heran melihat kelakuannya sehingga mereka bertanya kepadanya.

“Wahai sang kakek, kenapa kakek mencangkul tanah itu? Padahal, tanah itu bukan lahan untuk pertanian…”

Sang kakek pun menjawab sambil mengusap keringat di dahinya, “Saya ingin sekali memindahkan gunung ini agar rumahku terkena sinar matahari pagi.”

Kontan jawaban sang kakek membuat para tetangganya tertawa karena tidak mungkin memindahkan gunung sebesar itu. Mereka berkata, “Hai kakek, apakah kakek sudah gila? Mau memindahkan gunung sebesar itu? Bagaimana mungkin?”

Sang kakek menjawabnya dengan senyuman dan berkata, “Apabila sisa umurku lima atau sepuluh tahun lagi, maka akan saya gunakan umurku itu untuk mencangkul tanah gunung ini semampuku. Dan ketika aku mati, maka akan ada yang melanjutkan usahaku yaitu anakku. Dan, apabila suatu saat nanti anakku mati maka anak dari anakku, yaitu cucuku, akan melanjutkan usaha ini. Dan, generasiku akan memindahkan sisanya dengan peralatan yang lebih canggih. Bukankah ini tidak mustahil bagi kita?” kata sang kakek sambil melanjutkan usahanya mencangkul gunung.

Para tetangga merasa penjelasan dari sang kakek masuk akal meski awalnya mereka menganggap idenya adalah ide gila. Mereka pun akhirnya ikut membantu usaha sang kakek untuk memindahkan gunung.

Singkat cerita, pada generasi kelima dari keturunan sang kakek, tidak tersisa lagi bekas gunung yang menutupi rumahnya. Bahkan, gunung tersebut kini berpindah dari tempat asalnya dan keturunan sang kakek beserta penduduk lainnya pun dapat menikmati sinar matahari pagi yang hangat. Itu semua berkat kegigihan sang kakek, dan itu berawal dari sebuah impian yang gila.

Anda pasti akan segera mengetahui makna yang terkandung dalam cerita di atas. Bahwa sesungguhnya impian yang besar sekalipun akan dapat diciptakan oleh Anda meskipun impian itu dianggap mustahil oleh orang lain. Tergantung bagaimana Anda melihat peluang dan besarnya keyakinan terhadap impian Anda itu.

Perlu kita ketahui bersama bahwa awalnya hampir semua ilmuwan besar yang terkenal sekarang ini, pada zamannya dianggap sebagai orang gila yang memimpikan hal-hal yang bersifat mustahil. Albert Einstein yang terkenal dengan teori relativitasnya pada saat masih kuliah dijuluki sebagai orang gila karena pemikirannya. Bahkan, dia dianggap sebagai anjing kampus saat itu. Namun, ia berhasil mengukur jumlah energi yang hilang dari matahari—yang saat itu masih dianggap mustahil untuk diukur. Karena, tidaklah mungkin seorang manusia dapat pergi ke matahari dan mengadakan penelitian di sana.

Berawal dari sebuah impianlah sekarang diciptakan pesawat terbang, lampu, telepon, mobil, komputer, dan lain-lain. Jadi, ciptakanlah impian Anda dan buktikan bahwa Anda patut mendapatkan apa yang Anda impikan. Seorang yang memiliki tipe pejuang tidak akan menyerah apabila lingkungan menganggap dia gila. Namun, ia menjadikan itu sebagai minyak yang membakar semangat untuk mencapai impiannya. Dengan semangat itu, sukses pasti akan Anda dapatkan.[fep]

* Firman Erry Probo lahir di Brebes 26 Februari 1986, dan mendapatkan gelar rofesi apoteker dari Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta. Sewaktu kuliah memiliki berbagai macam pengalaman organisasi kemahasiswaan, sebagai apoteker, trainer, pengusaha alat dan bahan kimia, dan sedang menyusun buku motivasi. Bisa dihubungi di nomor HP: 08985162360, pos-el: firmandahsyat[at]gmail[dot]com, blog: firmansukses.blogspot.com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

The Art of Controlling People

bk-agungpkJudul: The Art of Controlling People

Oleh: Agung Praptapa

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009

ISBN: 978-979-22-4963-7

Tebal: xix + 153 hal

Di balik semua proses organisasi atau perusahaan ada orang. Karena itu, mengontrol proses organisasi pada dasarnya adalah mengontrol orang. Bagaimana mengontrol orang tapi mereka merasa tidak dikontrol? Buku ini menyajikan seninya.

PUJIAN UNTUK BUKU INI

“Siapa saja yang terlibat dalam proses manajemen akan mendapat manfaat dari buku ini. Diperkaya dengan sejumlah kasus dan cerita, membuat buku ini enak dibaca. BACALAH!”

~ Andrias Harefa

Penulis 35 buku bestseller, trainer, coach berpengalaman 20 tahun

“Saya terperangah membaca buku ini, karena ternyata keberhasilan bisa dipastikan, dan buku ini memberitahu caranya. Dari sisi penulisan, buku ini memiliki kedalaman khas seorang dosen sekaligus gaya bercerita yang lancar.”

~ Her Suharyanto

Editor Independen & Ghost Writer

“Buku ini memberikan penekanan pada pentingnya faktor manusia dalam sistem pengendalian organisasi… penting dibaca oleh para pemangku kepentingan bisnis, di dalam dan di luar organisasi.”

~ Avanti Fontana

Author “Innovate We Can!”, Facilitator & Coach for Innovation

“’Thanks, Sir. It works!’ kata seorang direktur perusahaan yang gembira dengan kenaikan produktivitas kerja karyawannya sampai 300% setelah menerapkan usulan Pak Agung Praptapa. Buku The Art of Controlling People ini memuat banyak sekali pemikiran dan ide yang bisa Anda terapkan. Kalau Anda memiliki tim, Anda wajib baca buku ini.”

~ Hari Subagya

Motivator Perubahan

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya Oleh: Don Gabor Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009 ISBN: 978-979-22-5073-2 Tebal: xviii + 380 hal Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas! Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox