Momentum Sukses

sg1Oleh: Sulmin Gumiri*

Karena momentum mengandung dimensi massa dan kecepatan,

maka prestasi besar hanya akan bisa kita capai apabila kita bisa

mempertahankan kedua dimensi tersebut.”

~ Sulmin Gumiri

Kata momentum sering sekali kita dengar dalam percakapan sehari-hari. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia ada dua pengertian momentum. Dalam bahasa umum momentum diartikan sebagai saat yang tepat (untuk melakukan sesuatu), sedangkan dalam Ilmu Fisika kata ini juga digunakan sebagai sebuah besaran yang merupakan hasil kali dari massa dan kecepatan gerakan sebuah benda. Dari kedua pengertian tersebut, momentum memiliki tiga dimensi yaitu waktu, bobot, dan kecepatan. Ketiga dimensi tersebut sangat lekat dengan rahasia kesuksesan seseorang.

Dalam menjalani kehidupan ini ada kalanya kita memiliki semangat yang luar biasa untuk melakukan suatu pekerjaan. Semangat ini biasanya timbul setelah kita termotivasi karena melihat prospek hasil dari pekerjaan yang ingin kita lakukan tersebut. Pemahaman kita tentang prospek yang menjanjikan itu biasanya kita dapatkan melalui proses perenungan sendiri atau juga dari hasil interaksi kita dengan orang lain. Saya sendiri pernah merasakan semangat yang luar biasa untuk segera memulai menulis setelah mengikuti Proaktif Training: Cara Mudah Menulis Buku Bestseller bulan Desember tahun 2008 yang lalu. Saking termotivasinya saya waktu itu, saya benar-benar tidak percaya ketika saya mampu menulis artikel sepanjang 50 halaman hanya dalam waktu tiga hari saja, sejak hari pertama pelatihan tersebut. Pencapaian luar biasa yang saya hasilkan waktu itu hanya dimungkinkan karena saya memiliki momentum.

Dari contoh kasus di atas, kita dapat menarik pelajaran bahwa pencapaian-pencapaian luar biasa dalam hidup ini hanya dapat kita raih kalau kita memiliki momentum. Sayangnya, momentum tersebut jarang datang sendiri kepada kita. Ia harus dicari atau diciptakan. Dan setelah kita mendapatkannya, yang tidak kalah pentingnya adalah tetap mempertahankan momentum tersebut untuk mencapai target yang telah kita tetapkan.

Bahan mentah pertama untuk menciptakan momentum adalah keinginan untuk selalu tumbuh dan berkembang. Keinginan untuk selalu berubah ke arah yang lebih baik ini akan menjadikan kita sebagai pribadi yang selalu haus untuk belajar. Dengan perasaan yang senantiasa haus belajar berarti kita telah menciptakan ladang yang subur di dalam diri kita sebagai tempat bertumbuhnya segala macam benih ide-ide kreatif yang ingin kita lakukan untuk memperbaiki kualitas diri kita. Dengan melimpahnya beraneka ragam benih ide kreatif tersebut maka yang kita perlukan berikutnya adalah ramuan kedua yang berupa faktor eksternal yang akan mentriger ide-ide tersebut supaya benar-benar tumbuh menjadi sebuah kenyataan.

Pergolakan pemikiran untuk segera mewujudkan ide kreatif menjadi tindakan nyata akan membawa kita kepada suatu petualangan untuk mencari sesuatu di luar sana, yang bisa memicu kita untuk segera mewujudkan keinginan kita tersebut. Dalam kondisi ini, pertanyaan yang selalu berkecamuk dalam pikiran kita adalah, “Bagaimana cara memulainya?” Pengalaman saya, ketika tiba pada kondisi ini, mulailah saya menjadi penguping pembicaraan orang lain dengan harapan, siapa tahu dari apa yang mereka bicarakan itu saya bisa mendapatkan jawaban atas pertanyaan di atas.

Atau, saya akan segera teringat kepada deretan buku-buku di lemari dan membolak-balik kalau-kalau ada tulisan yang membahas tentang apa yang saya pikirkan. Yang lain, saya segera menghidupkan komputer dan mencari informasi tentang jawaban pertanyaan tersebut di dunia maya melalui jaringan internet. Cara terakhir inilah yang menyebabkan saya mengetahui bahwa ada cara untuk bisa menjadi penulis, yaitu dengan mengikuti pelatihan menulis buku bestseller yang diselenggarakan oleh para penulis berpengalaman di negeri ini.

Setelah kita mendapatkan jawaban bagaimana cara memulainya, maka tindakan selanjutnya yang harus kita lakukan adalah “bersegera” untuk mewujudkannya. Anda bisa bayangkan, betapa besarnya energi yang akan tercipta dalam diri kita jika terjadi kombinasi antara keinginan yang sangat besar untuk mewujudkan ide kreatif yang akan meningkatkan kualitas diri, dengan tersedianya kesempatan untuk mewujudkannya. Karena kita sudah menemukan kondisi “inilah saat yang tepat untuk mengerjakannya”, artinya kita sudah menciptakan momentum.

Begitu mendapat momentum, saya yakin tidak ada satu hal atau satu orang pun yang bisa menghalangi kita untuk segera bertindak. Keyakinan diri bahwa “sekaranglah saatnya” akan membuat kita memiliki semangat yang membara, tidak ubahnya seperti murid-murid perguruan shaolin yang siap melakukan apa saja yang diajarkan gurunya demi tercapainya cita-cita untuk menjadi seorang kungfu master.

Meskipun momentum dapat diciptakan, sayangnya ia juga bisa menghilang dalam diri kita. Sebagian dari kita mungkin mengalami masa di mana kita sangat menggebu-nggebu pada saat awal melakukan suatu pekerjaan, tetapi kemudian menjadi loyo dan tidak bersemangat untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut dengan tuntas. Akhirnya, kita kecewa karena tidak mendapatkan hasilnya. Di dunia pendidikan, banyak mahasiswa yang mengalami persoalan kehilangan momentum ini. Saat lulus SMA mereka begitu bersemangat melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi. Tetapi, setelah kuliah dijalani beberapa tahun, tiba-tiba semangat mereka menjadi kendor dan akhirnya mereka memutuskan untuk tidak menyelesaikan kuliahnya.

Kalangan penulis pun tidak luput dari ancaman kehilangan momentum. Pada awalnya, mereka mungkin begitu termotivasi dan berkomitmen untuk menulis buku. Tetapi, seiring dengan makin bertambahnya naskah yang telah ditulis, ada-ada saja yang mengalihkan perhatian mereka sehingga mereka terjebak untuk menunda-nunda atau bahkan akhirnya memutuskan untuk tidak melanjutkan penulisan naskah tersebut hingga selesai menjadi sebuah buku.

Jika momentum sangat penting untuk menghasilkan prestasi luar biasa, maka yang harus kita pelajari adalah keterampilan menciptakan momentum, dan kemudian mempertahankannya hingga menghasilkan sebuah prestasi besar yang kita cita-citakan. Untuk menciptakan momentum kita harus membuka diri selebar-lebarnya sebagai tempat berkembangnya benih-benih ide kreatif untuk mengembangkan kualitas diri kita. Setelah itu, cari orang lain atau mentor yang bisa membantu kita untuk segera memulai mewujudkan ide-ide besar tersebut. Begitu kita mulai bersemangat melakukaannya, maka yang harus kita lakukan selanjutnya adalah senantiasa menjaga momentum tersebut agar kita bisa menyelesaikan pekerjaan tersebut sampai tuntas.

Karena momentum mengandung dimensi massa dan kecepatan, maka prestasi besar hanya akan bisa kita capai apabila kita bisa mempertahankan kedua dimensi tersebut. Kegagalan sering terjadi hanya karena kita kehilangan bobot motivasi atau karena adanya godaan yang membuat kita berhenti di tengah jalan. Karena itu, pertahankan momentum dengan selalu memotivasi diri dan menjaga konsistensi untuk terus maju menuju kepada penyelesaian dari apa yang sudah kita mulai. Motivasi bisa selalu diperbaharui dengan mendekatkan diri kepada sang mentor. Menjaga hubungan dengan mentor ini bisa kita lakukan baik dengan melakukan komunikasi langsung dengan mereka, atau melalui karya-karya mereka, baik melalui tulisan maupun lisan. Membiasakan diri untuk selalu membaca buku dan mendengar kaset motivasi merupakan cara tidak langsung kita untuk selalu menjaga hubungan dengan mentor.

Sama seperti motivasi, kecepatan juga bisa naik turun. Karena itu, untuk dapat mempertahankan momentum maka kita harus menghitung hasil kali dari keduanya. Pada saat kecepatan berkurang, pertahankan momentum dengan memperbesar motivasi. Sebaliknya, pada saat motivasi menurun kita harus terus berusaha untuk selalu bergerak maju. Yang tidak boleh sama sekali adalah berhenti total. Jika berhenti total berarti kecepatan kita bernilai nol, dan sebesar apa pun motivasi kita tetap saja momentum tidak akan bisa dipertahankan karena apa saja yang dikalikan dengan nol hasilnya tetap akan nol.

Ibarat mendorong truk, sekali kita berhenti, maka sangat berat untuk membuatnya berjalan kembali. Jadi untuk sukses, yang kita perlukan adalah stick always to your mentor and never give up. Teruslah bergerak maju dan selesaikan setiap pekerjaan yang telah kita mulai. Salam sukses![sg]

* Sulmin Gumiri adalah seorang pendidik, peneliti, dan profesor di Universitas Palangka Raya. Peraih predikat dosen terbaik di kampusnya tahun 2006 ini memperoleh gelar MSc. dari Nottingham University, Inggris, dan gelar Ph.D. dari Hokkaido University, Jepang. Pria disiplin dan pekerja keras ini memiliki hobi membaca buku, gardening, dan bermain tenis. Baru-baru ini ia mulai menapaki hobi barunya sebagai penulis buku-buku populer. Sulmin dapat dihubungi melalui pos-el: sulmin[at]upr[dot]ac[dot]id atau sulmingumiri[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 3.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 3 votes)

Samurai Sejati 6: Meminjam Akal Teroris

rm1Oleh: Risfan Munir*

Lagi-lagi aparat keamanan kecolongan dan bom meletus di dua hotel mewah yang pengamanannya super ketat, Ritz Carlton dan JW Marriott pada 17 Juli 2009 yang lalu. Modus operandinya menggunakan perangkat non-konvensional, yaitu komponen elektronik TV dan lemari es yang ada di kamar hotel tersebut. Pelakunya juga menyamar sebagai tukang bunga yang rutin datang sehingga pantas saja tak terdeteksi petugas.

Apa yang sesungguhnya terjadi sehingga aparat atau pasukan yang dilengkapi dengan peralatan super canggih sering tak mampu mencegah serangan yang non-konvensional? Salah satu hal yang bisa dipahami ialah faktor “ketidak-terdugaan” yang dilancarkan oleh teroris atau pelaku teknik gerilya umumnya.

Ini mengingatkan saya akan pesan samurai sejati Musashi, yang selalu menekankan “ketidak-terdugaan”. Musashi sering tidak membuka serangan dengan kuda-kuda, bahkan kadang hanya bersenjata batang “kayu bakar” yang dipungut di tempat pertarungan, sehingga lawannya bingung, menunggu (kuda-kuda, pedang). Di saat musuh bingung itulah serangan mematikan dilancarkan.

Kejadian “kecolongan” dari teroris atau gerilyawan ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi pada skala dunia juga seperti dulu di Vietnam, Afganistan, Somalia, dst. Mengapa “kecolongan” ini sampai terjadi pada pasukan yang terlatih baik? Salah satu jawabannya, pasukan modern dengan peralatan canggihnya terlalu berpikir konvensional dan terlalu mengandalkan (rely on) peralatan teknologinya.

Dalam knowledge management suatu knowledge (pengetahuan) dan skill (keterampilan) harus bisa menyatu (internalized) pada manusianya sebagai perilaku, kebiasaan, atau refleks. Sebetulnya, teknologi canggih bisa membantu banyak untuk operasi pasukan. Namun penyakitnya, kalau sudah menggunakan teknologi canggih, manusia manjadi nyaman, terlalu mengandalkannya, sehingga kemampuan individualnya menjadi tidak dipakai secara maksimal.

Kecenderungan tersebut tentu tidak terjadi dalam bidang pertahanan saja, tetapi juga pada kegiatan manusia lainnya. Misalnya, banyak nelayan yang tergantung pada perahu motor sehingga generasi berikutnya tak bisa memanfaatkan angin dengan manuver layar. Akibatnya, pada saat bahan bakar mahal dan langka, para nelayan sekarang tak bisa melaut. Padahal, kalau bisa memadukan layar dan mesin, mereka akan bisa menghemat bahan bakar minyak pada saat angin bagus.

Mungkin ada yang nonton film Black Hawk Down, batapa para prajurit marinir itu saat lepas dari perlengkapan tempur dan senjatanya tak merasa dirinya sebagai prajurit yang harus tetap waspada, malah bergaya turis. Kelengahan terjadi sehingga pada saat itulah dia ditangkap dan diseret lawan. Naluri dia sudah bukan naluri prajurit, tetapi operator peralatan tempur.

Kita umumnya sudah sulit berhitung tanpa kalkulator. Saat kita tergantung pada kalkulator, bukan cuma keterampilan berhitung yang hilang, tetapi naluri analisis kuantitatifnya juga melemah. Seperti halnya dokter yang mengandalkan alat USG untuk mendeteksi, nalurinya dalam mengantisipasi kejadian bisa ikut hilang.

Sewaktu kuliah dulu cucian saya serahkan ke tukang binatu (laundry) dekat kampus. Yang menarik, si tukang binatu yang tua itu tak pernah mencatat. Paling hanya mengonfirmasi, “Lima potong ya, Den; satu celana, dua kaos, dua baju.” Awalnya saya khawatir dengan risiko hilang karena tak tercatat, tetapi waktu mengambil tiga hari kemudian ternyata menakjubkan, Pak Tua itu hafal. Padahal, ada ratusan pakaian ditumpuk rapi di seluruh dinding, dia hafal punya siapa, berapa potong, dan apa saja. Kemampuan memori Pak Tua itu terasah terus sehingga dia bisa selalu mencatat dalam pikirannya dengan akurat. Tetapi, kemampuan individual ini—pada banyak orang—hilang karena ketergantungan pada catatan atau komputer.

Ungkapan “use it or loose it” berlaku di sini. Pergunakan atau kamu akan kehilangan. Ini berlaku untuk otot maupun akal kita. Kalau tangan tak pernah dipakai mengangkat beban, kalau kaki tak pernah digunakan untuk jalan jauh atau lari, lambat laun kemampuannya pun menurun. Begitu pula akal, kalau memori tak pernah dilatih, akan menurun pula daya ingat kita. Kalau ketajaman pikiran dalam matematika, aritmatika, menyusun strategi atau taktik, memecahkan masalah, mengembangkan visi tak dilatih secara teratur, maka daya pikir kita akan menurun atau malah merosot.

Pada saat ini, banyak ahli yang menyarankan agar kita menggunakan otak kiri dan kanan secara berimbang. Otak Kiri bekerja menggunakan rasio, logika, sistematis seperti matematika dan bahasa yang baku. Sedang Otak Kanan untuk fungsi yang menyangkut kreativitas, mencerna simbol, warna, dan rasa. Selama ini, pendidikan mengunggulkan penggunaan Otak Kiri secara dominan sehingga yang mendominasi adalah logika, pola pikir yang sistematis, terstruktur, dan sistematis. Padahal, kenyataan di masyarakat akhirnya menunjukkan bahwa mereka yang mampu menghimbau, mempersuasi, memasarkan, menarik perhatian, termasuk memimpin, dan mengubungkan berbagai aspek secara kreatif (Otak Kanan) justru menjadi orang-orang yang berhasil dalam pengertian lebih luas.

Sementara, mereka yang mengandalkan logika konsisten, matematis, terstruktur sistematis (Otak Kiri) kebanyakan “terjebak” pola pikirannya sendiri, dan akhirnya mereka hanya sukses kalau masuk sistem yang sudah teratur seperti perusahaan besar, swasta, ataupun BUMN, sebagai profesional atau manajer bidang tertentu saja. Padahal, pada masa sekarang ini perusahaan besar atau instansi pemerintah pun sewaktu-waktu bisa dilikuidasi alias dibubarkan karena perubahan kebutuhan dan keterbatasan anggaran.

Shoto (pedang pendek sebagai ringkasan):

Kembali kepada pesan Musashi, dan meminjam akal si teroris: Janganlah tergantung pada teknologi semata, tetapi kembangkan kemampuan sebagai manusia seutuhnya. Kedua, pakai pola pikir non-konvensional (Otak Kiri) dan konvensional (Otak Kanan) secara berganti-ganti dalam kegiatan apa pun agar “ketajaman logika maupun daya kreatif” kita terasah terus.

Beberapa kegiatan rutin harian yang dapat membantu meningkatkan dan memelihara kemampuan knowledge dan skill kita agar kian tajam dan kreatif, antara lain:

- Untuk melatih otot dan kemampuan fisik, daya tahan, saran klasik yang memang harus dilakukan ialah olah raga dengan teratur. Di samping itu, sewaktu bekerja usahakan sesering mungkin melakukan stretching; kalau banyak menggunakan komputer alihkan pandangan sesekali ke objek yang jauh;

- Daya ingat bisa dilatih antara lain dengan mengingat hal-hal yang menurut kita penting selama dua hari yang lalu, setiap malam menjelang tidur, baik itu menyangkut nama-nama, angka, kegiatan, dan lainnya;

- Daya kreatif bisa dilatih setiap jeda waktu dengan menggambar, menulis karangan, atau membuat coretan diagram mind-mapping untuk mengeluarkan dan memetakan ide-ide;

- Daya pikir rasional, sistematis bisa dilatih dengan melakukan analisis pemecahan masalah dan pengambilan keputusan (problem solving, decision making), sederhananya: (i) Pilih satu topik persoalan yang sedang mengganggu pikiran, tulis di atas kertas; (ii) Identifikasi sebab-sebabnya dengan menuliskan di bawah topik, tarik garis yang menghubungkan topik dan setiap sebab; (iii) Untuk setiap sebab identifikasi akar sebabnya, lalu hubungkan setiap akar-sebab dengan sebab di atasnya, sehigga akhirnya tergambar pohon masalah. Untuk mencari solusinya, buatlah diagram yang identik dengan pohon masalah itu, tetapi ubah isinya: Semua akar-sebab ganti dengan ‘tindakan’ dengan mengubah kata misalnya ‘kurang disiplin’ menjadi tindakan ‘melatih disiplin’ dan seterusnya hingga ‘topik persoalan’ diganti dengan ‘kondisi yang diinginkan’ (misalnya persoalan ‘Kemerosotan Prestasi’ diganti dengan ‘Masuk 5 Besar’). Maka, akan tergambar diagram pohon solusi lengkap dengan tindakan-tindakan yang harus diambil. Selanjutnya adalah menentukan prioritas tindakan berdasarkan tingkat pengaruh atas solusi besar dan sumber daya yang tersedia.

Semua latihan di atas, seperti halnya latihan yang dilakukan para samurai, sebaiknya diawali dengan proses “relaksasi”, antara lain dengan duduk tenang, menarik napas panjang tiga kali. Sambil berhitung mundur dari sepuluh hingga nol, lupakan/ikhlaskan sementara semua beban pikiran. Setelah itu lakukan salah satu latihan di atas.

Daftar latihan itu tentunya bisa dikembangkan sendiri pembaca pilihan dan caranya. Namun intinya, dengan melakukan latihan berbagai kemampuan dasar manusia secara rutin, diharapkan kemampuan tersebut akan berkembang terus dan terpelihara, sehingga kita selalu siap menghadapi tantangan yang tak terduga sekalipun.[rm]

* Risfan Munir adalah peminat spirit samurai untuk meningkatkan etos kerja. Ia bekerja sebagai seorang konsultan manajemen dan perencanaan. Alumnus Institut Teknologi Bandung ini sudah menulis tiga buku berjudul Pengembangan Ekonomi Lokal Partisipatif, Seri Manajemen: Skema Tindakan Peningkatan Pelayanan Publik, dan Aplikasi Pemberdayaan UMKM. Ia dapat dihubungi melalui blog http://ecoplano.blogspot.com dan pos-el: risfano[at]gmail[dot]com.


VN:F [1.6.9_936]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Kata-Kata Positif, Gelombang Epsilon, dan Hidup Sehat Bahagia

ahgOleh: Aleysius H. Gondosari*

Para pembaca tentu pernah mendengar atau membaca buku populer berjudul The True Power of Water dan The Secret Life of Water yang ditulis oleh Masaru Emoto, peneliti dan pemikir independen Jepang. Dalam kedua buku tersebut, Masaru Emoto memperlihatkan efek dari doa, pikiran, lagu, dan kata-kata positif yang dapat membuat bentuk kristal air yang jelek, atau biasa saja menjadi kristal hexagon yang indah.

Berikut ini saya kutip kembali kata-kata positif yang digunakan oleh Masaru Emoto dalam melakukan eksperimennya.

Kata-kata Positif:

  • Kebahagiaan: Kristal dengan bentuk yang seimbang nyaris sempurna, seperti berlian yang dipotong dengan amat teliti.
  • Terima kasih: Kristal dengan bentuk teratur yang indah tidak ada tandingannya.
  • Cinta dan terima kasih: Kristal indah yang sangat menyentuh hati.
  • Kamu cantik: Kristal yang indah dan alami.
  • Suka: Kristal yang menggambarkan hati yang gembira.
  • Tulus: Terbentuk kristal yang sangat besar, seolah-olah memberi kekuatan yang sangat besar untuk menyelesaikan sesuatu.
  • Damai: Kristal berbentuk mirip seperti orang-orang yang berkumpul dalam harmoni.
  • Kebersamaan: Muncul kristal yang dibentuk oleh dua kristal.
  • Kedamaian pikiran: Membentuk kristal yang membesar dan meluas.
  • Cinta suami istri: Saling mengasuh dan mengasihi.
  • Bagus sekali: Terbentuk kristal indah merekah bebas.
  • Rileks: Terbentuk kristal dengan bentuk bebas dan bertumpuk.
  • Tenang: Terbentuk kristal dengan bentuk bebas dan cantik. Kata ‘tenang’ dalam bahasa Jepang adalah kiraku yang artinya menikmati energi Ki (energi Qi atau Chi).

Kata-kata Negatif:

  • Ketidakbahagiaan: Kristal yang samar dan lemah.
  • Cobalah menjadi cantik: Kristal yang kurang sempurna.
  • Benci: Bentuk kristal yang berlubang, seperti tercekik.
  • Kekuasaan: Kristal unik yang berantakan.
  • Ketidakberdayaan: Terbentuk kristal yang berlubang.
  • Kamu tolol!: Kristal yang bentuknya tidak beraturan seperti angin puting beliung.
  • Perang: Kristal seperti tertabrak pesawat jet.
  • Harta benda dan modal: Keseimbangan hilang, muncul kekacauan.
  • Minyak: Keseimbangan hilang, muncul kekacauan.
  • Penderitaan: Terbentuk kristal yang tidak sempurna.
  • Tidak berguna: Terbentuk kristal bulat yang berlubang tidak sempurna di tengahnya.
  • Stres: Terbentuk kristal dengan kesan tertekan dan takut.
  • Khawatir: Terbentuk kristal dengan bentuk yang mirip dengan stres di atas.

Dari hasil eksperimen Masaru Emoto di atas, terlihat besarnya pengaruh kata-kata positif terhadap kristal air. Tubuh manusia terdiri dari 70 persen air. Demikian pula dunia juga terdiri dari 70 persen air dan 30 persen daratan. Dengan demikian, doa, lagu, dan kata-kata positif juga akan mempunyai pengaruh positif bagi manusia dan dunia.

Frekuensi Gelombang pada Bandulan Jam

Dari analisis Energi 5 Elemen, kata-kata mempunyai frekuensi tertentu. Kata-kata positif seperti pada contoh di atas akan mempunyai frekuensi rendah, yaitu 1/6 Hz sampai 1 Hz, dan kata-kata negatif akan mempunyai frekuensi tinggi, yaitu di atas 1 Hz, dari 2 Hz sampai 19 Hz.

Untuk memahami frekuensi ini, kita bisa melihat bandulan jam antik. Satu kali gerakan bolak-balik ke kiri dan ke kanan dari bandulan dengan periode 1 detik identik dengan frekuensi 1 Hz. Bila bandulan bergerak lebih lambat, berarti frekuensinya semakin lambat. Bila bergerak lebih lambat 2 kali, maka frekuensinya menjadi ½ Hz. Bila bergerak lebih lambat 3 kali, maka frekuensinya menjadi 1/3 Hz. Sebaliknya, bila bandulan bergerak lebih cepat, berarti frekuensinya semakin cepat. Bila bergerak lebih cepat 2 kali, maka frekuensinya menjadi 2 Hz. Bila bergerak lebih cepat 3 kali, maka frekuensinya menjadi 3 Hz.

Otak dan pikiran manusia juga mempunyai frekuensi. Dalam kondisi tenang, otak akan mempunyai frekuensi lambat 1 Hz sampai 1/7 Hz. Dalam kondisi tidak tenang, aktif, atau stres, otak akan mempunyai frekuensi cepat 2 Hz sampai 19 Hz.

Penemuan Gelombang Epsilon dan Frekuensinya

Para peneliti telah melakukan penelitian untuk melihat hubungan antara frekuensi gelombang otak dengan kondisi aktivitas otak, meditasi, kebahagiaan, dan inspirasi. Sebelum gelombang Epsilon ditemukan oleh Dr. Jeffrey D. Thompson, D.C., B.F.A. dari Neuroacoustic Research, para peneliti gelombang otak telah menemukan gelombang Delta, Theta, Alpha, Beta, dan Gamma. Gelombang Delta mempunyai frekuensi yang paling rendah, yaitu 1 Hz ~ 4 Hz. Disusul oleh gelombang Theta dengan frekuensi 4 Hz ~ 7 Hz, gelombang Alpha 8 ~ 12 Hz, gelombang Beta 12 ~ 19 Hz, dan gelombang Gamma di atas 19 Hz ~ 70 Hz.

Gelombang Epsilon yang terakhir ditemukan mempunyai mempunyai frekuensi sangat rendah dan lebih rendah dari gelombang Delta, yaitu ½ Hz atau lebih rendah. Menurut hasil penelitian tersebut, pengaruh gelombang Epsilon pada otak mempunyai korelasi dengan:

  • Kondisi yang meningkatkan koordinasi aktivitas otak kiri dan otak kanan
  • Kondisi meditasi yang sangat hening
  • Kondisi kesadaran yang bahagia
  • Kondisi inspirasi tingkat tinggi.

Kesimpulannya, semakin rendah frekuensi otak akan membuat pikiran menjadi semakin tenang, semakin jernih, semakin hening, semakin inspiratif, dan semakin bahagia.

Gelombang Epsilon dan Frekuensi Sehat Ideal untuk Otak

Dari analisis energi 5 Elemen, batas frekuensi sehat untuk otak adalah 1 Hz. Di atas 1 Hz, otak akan mengalami stres. Semakin tinggi frekuensinya, orang akan semakin stres. Hal ini dapat dimengerti bila kita memahami frekuensi sehat pada masing-masing elemen.

Setiap elemen pada tubuh kita mempunyai frekuensi sehat masing-masing, yaitu:

  • Elemen keenam Kesadaran: 1/6 Hz
  • Elemen kelima Ether: 1/5 Hz
  • Elemen keempat Udara: 1/4 Hz
  • Elemen ketiga Api: 1/3 Hz
  • Elemen kedua Air: 1/2 Hz
  • Elemen pertama Bumi: 1 Hz

Frekuensi sehat yang ideal untuk otak adalah 1/5 Hz, 1/6 Hz, dan 1/7 Hz, karena otak berada pada elemen kelima Ether dan elemen keenam Kesadaran. Analisis ini sesuai dengan hasil penelitian gelombang Epsilon dari Dr. Jeffrey D. Thompson. Hal ini berarti, semakin rendah frekuensi otak, otak akan menjadi semakin jernih, semakin hening, stres hilang, kita menjadi semakin bahagia, dan inspirasi serta ide yang kita peroleh, kualitasnya akan semakin baik pula.

Efek Kata Positif dan Negatif pada Frekuensi Gelombang Otak dan Emosi

Pada tanggal 14 Agustus 2009 yang lalu, pada acara The Master di RCTI, ada pertunjukan kolaborasi antara Romy Rafael dengan Denny Darko. Ada dua sukarelawan yang bersedia maju ke depan. Kedua sukarelawan ini sama sekali dalam kondisi sadar dan tidak dihipnotis. Sukarelawan yang pertama mendapat sebuah kertas besar dari Romy Rafael bertuliskan kata “HELL”. Sedangkan sukarelawan yang kedua mendapat kertas besar juga dari Denny Darko dengan tulisan “BLESS”. Apa yang terjadi pada kedua orang tersebut?

Orang pertama pada awalnya mempunyai frekuensi gelombang otak 2 Hz. Setelah mendapat kertas dengan tulisan “HELL”, frekuensi gelombang otaknya seketika naik menjadi gelombang Theta dengan frekuensi 5 Hz. Emosinya juga menjadi bertambah stres dan negatif dengan frekuensi 5 Hz juga.

Hasil analisis Energi 5 Elemen menunjukkan bahwa kata “HELL” mempunyai energi negatif pada dua elemen, yaitu elemen kedua Air dan elemen pertama Bumi. Orang bisa menderita sakit pada organ elemen Air seperti darah dan pencernaan bila terus-menerus mengingat kata “HELL” selama 3 hari. Setelah pertunjukan selesai dan orang tersebut turun, ternyata frekuensi gelombang otaknya masih 5 Hz dan baru bisa berubah kembali ke kondisi semula setelah tiga jam.

Orang kedua pada awalnya juga mempunyai frekuensi gelombang otak 2 Hz. Setelah mendapat kertas dengan tulisan “BLESS”, frekuensi gelombang otaknya juga seketika berubah, tetapi turun menjadi gelombang Epsilon dengan frekuensi 1/5 Hz. Emosinya juga berubah menjadi lebih bahagia dengan frekuensi 1/5 Hz.

Hasil analisis Energi 5 Elemen menunjukkan bahwa kata “BLESS” mempunyai energi positif pada empat elemen, yaitu pada elemen kelima Ether, elemen keempat Udara, elemen ketiga Api, dan elemen kedua Air.

Orang mulai merasa bahagia ketika mengingat kata “BLESS”. Selanjutnya, organ-organ pada elemen Ether seperti amandel, tiroid, dan getah bening bisa bertambah sehat setelah orang terus mengingat kata “BLESS” selama lima hari. Demikian pula jantung dan paru-paru pada elemen Udara, dan organ-organ tubuh lainnya.

Ketika pertunjukan selesai, orang yang memegang kata “BLESS” ini frekuensi gelombang otaknya masih 1/5 Hz, dan baru berangsur berubah kembali ke kondisi semula setelah tiga jam.

Indeks Manfaat Kata ‘Anda Luar Biasa’

Teman saya Edy Zaqeus, membuat sebuah web motivasi yang bernama AndaLuarBiasa.com. Bagaimana efek positif dari kata “Anda Luar Biasa”? Dari analisis Energi 5 Elemen, “Luar Biasa” mempunyai efek positif pada dua elemen, yaitu elemen kedua Air dan elemen pertama Bumi. Tetapi, setelah digabung menjadi “Anda Luar Biasa”, kata ini mempunyai efek positif pada lima elemen, yaitu elemen kelima Ether, elemen keempat Udara, elemen ketiga Api, elemen kedua Air, dan elemen pertama Bumi. Indeks Manfaat pada masing-masing elemen bernilai +5, sehingga Indeks Manfaat keseluruhan bernilai +25.

Indeks Manfaat positif pada elemen Bumi membuat kita menjadi lebih stabil. Elemen Air yang positif membuat orang lebih mudah berkomunikasi dan bekerja sama. Elemen Api positif membuat kita menjadi lebih bersemangat. Indeks Manfaat positif pada elemen Udara membuat kita menjadi lebih kreatif. Sedangkan elemen Ether yang positif akan membuat kita menjadi lebih bahagia, lebih rileks, lebih mudah mendapat inspirasi, dan ide-ide baru.

Ternyata, kata “Anda” telah membuat “Luar Biasa” menjadi lebih luar biasa lagi.

Oleh sebab itu, kita perlu berhati-hati dalam memilih kata-kata yang akan digunakan. Hal ini akan memengaruhi kesehatan dan kebahagiaan kita, keluarga, maupun orang lain. Pemilihan kata yang tidak tepat akan membuat kita tidak sehat, sedangkan pemilihan kata positif yang tepat akan membuat kita lebih sehat dan bahagia.

Salam Sehat Bahagia![ahg]

* Aleysius H. Gondosari adalah alumnus ITB tahun 1984, trainer bidang organisasi dan manajemen, penggemar fotografi, pengembang online business, dan sedang menulis buku tentang sehat secara alami dengan metode Energi 5 Elemen, yang juga dapat dilihat di www.5elemen.com. Aley tinggal di Jakarta dan dapat dihubungi melalui email: aleysiush[at]gmail[dot]com atau di nomor telepon: 0818116669.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.3/10 (12 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 3 votes)

Makan untuk Hidup atau Hidup untuk Makan?

iy1Oleh: Iftida Yasar*

Kompas, Minggu 18 Desember 2007 pernah menceritakan bagaimana para pencari sagu suku asmat harus berjuang melawan ratusan nyamuk di hutan demi mendapatkan sagu untuk keluarga mereka. Kebanyakan pencari sagu adalah para ibu rumah tangga. Setelah berjalan sekitar 2 jam di hutan, baru mereka menemukan pohon sagu. Dan setelah ditebang serta diproses, kira-kira sore hari baru mereka pulang dengan membawa sagu untuk keluarganya. Betapa berat perjuangan mereka untuk mendapatkan bahan makanan buat keluarganya di rumah. Dibandingkan dengan kita, warga metropolitan yang dalam keadaan yang berkecukupan, yang malah selalu bingung untuk menentukan mau makan apa hari ini.

Saya pernah berkantor di Setiabudi Building, di mana banyak sekali tempat pilihan restoran di sana. Setiap hari mulai dari waktu sarapan sampai dengan malam, hampir semua tempat penuh. Biasanya, mulai jam 11 siang deretan panjang mobil yang antri untuk masuk pelataran parkir sudah mulai terlihat. Pihak pengelola gedung yang sudah menambahkan sarana parkir masih saja tidak bisa menampung jumlah mobil yang datang. Untuk tempat yang paling sering didatangi pengunjung, mereka tidak memperbolehkan pengunjung me-reserved tempat. Penikmat makan enak harus rela datang lebih dahulu untuk mendapatkan tempat, atau menunggu selesai orang lain yang sudah lebih dulu makan di sana. Bagi yang sudah mendapatkan tempat lebih dahulu juga harus tebal muka dan cuek untuk tetap menikmati makan siang sambil haha hihi dengan teman semeja, tanpa memedulikan tatapan tidak sabar dari pengunjung yang masih antri di depan mereka. Belum lagi tatapan para waitres yang tidak sabar ingin segera membersihkan meja kita begitu melihat makanan di meja telah habis.

Biasanya, kalau kita makan di restoran kita sudah tahu makanan apa yang enak di sana. Tetapi, tetap saja kita masih suka bingung menu apa yang akan dipilih. Semua kelihatannya enak dan mengundang selera sehingga akhirnya karena lapar mata memilih berbagai menu. Setelah makanan terhidang baru menyadari banyak betul makanan yang dipesan. Karena semua makanan enak sayang jika tidak dihabiskan sehingga semua disikat walaupun akhirnya kekenyangan. Alhasil, setelah kekenyangan rasanya justru menjadi kurang nikmat lagi dan membuat rasa begah di perut, bahkan menjadi mengantuk.

Saya pernah menjadi training manajer di sebuah perusahaan asing di mana training selalu dilakukan di hotel berbintang, minimal hotel bintang tiga. Makanan yang terhidang sangat mewah dan berlebih. Mulai dari coffee break pertama setidaknya dua macam snack ditambah kopi atau teh. Makan siangnya beraneka macam makanan enak ditambah dessert-nya yang juga sangat menggugah selera. Diakhiri dengan coffee break sore yang juga sarat dengan pilihan kue yang lezat. Dengan pilihan makanan yang menurut saya sudah diatur sedemikian baik oleh para ahli perhotelan, ternyata masih ada saja yang komplain. Menunya yang kurang cocok, kuenya kurang enak, dessert-nya kurang banyak, dll. Kalau komplain dari peserta training sudah keterlaluan, biasanya saya tanya, “Apa sih yang kamu makan di rumah? Saya pingin lihat, kok makanan begini enak masih komplain?!”

Tidak ada yang salah dengan pola makan yang seperti itu, terutama jika kita telah mencapai taraf hidup tertentu yang memang mampu membiayai hal tersebut. Saya sendiri dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang selalu menyediakan makanan satu untuk semua, tidak ada yang diistimewakan. Saya pernah komplain kepada Ibu saya, kenapa setiap anak tidak dimasakan sesuai dengan kesukaannya masing-masing, seperti yang dilakukan ibunya teman saya sebelah rumah.

Teman saya sangat dimanjakan oleh ibunya. Setiap hari untuk empat orang anak dimasakan menurut kesukaan masing-masing. Kalau sore hari selalu ada kue-kue, sementara kulkas dan lemari makannya selalu penuh dengan makanan enak. Sering sekali bau asap sate atau bau kuah bakso tercium dari rumah sebelah karena mereka sering sekali jajan. Rasanya saya iri dan menganggap Ibu saya pelit. Ingin rasanya Ibu saya juga seperti ibu teman saya. Usulan dan komplain tetap tidak didengar, makanan yang terhidang selalu sama untuk semua. Kalaupun ada kue-kue paling pisang goreng atau pisang rebus yang juga dalam jumlah yang banyak untuk orang sekampung.

Ibu saya selalu memasak dalam jumlah besar, dan biasanya lebih banyak sayur mayur dibandingkan dengan lauk daging atau ikan. Selain keluarga kami yang enam orang di rumah, banyak saudara baik dekat maupun jauh yang ikut kami. Kadang-kadang jumlahnya tidak tanggung-tanggung. Pernah yang ikut kami berjumlah 16 orang ditambah kami sendiri yag enam orang sehingga jumlahnya 22 orang. Bayangkan, setiap hari berapa liter beras yang harus dimasak?

Waktu kecil saya saya sampai sebal sekali dengan mereka. Sebab, kadang-kadang lauk habis dimakan oleh mereka dan yang tinggal hanya sisa sayur. Padahal, pembantu setia kami selalu menyembunyikan lauk untuk saya, tetapi kadang tetap saja hilang. Kalau saya marah, biasanya Ibu akan berkata, “Sudahlah kasihan mereka, kamu dibuatkan telur goreng saja, ya?”

Kini, hasil didikan Ibu saya yang selalu mengajarkan berbagi dengan saudara, dan makan apa saja yang terhidang, membuat saya gampang sekali dalam hal makanan. Saya tidak pernah komplain mengenai makanan yang disediakan oleh pembantu di rumah atau di kantin kantor. Karena terbiasa dari kecil makan sayur, jumlah serat dari sayur dan buah mendominasi pola makan saya. Komposisi jumlah sayur dan buah sekitar 2/3 dari jumlah karbohidrat dan protein. Makan hanya untuk hidup bukan hidup untuk makan….

Di rumah saya juga jarang sekali menyediakan camilan atau makanan kecil. Isi kulkas juga sesuai dengan kebutuhan. Kalaupun saya harus makan enak di restoran, itu hanya untuk menyenangkan keluarga sekali-kali, atau makan dengan klien karena urusan bisnis.

Dampaknya terhadap saya adalah dalam usia 47 tahun (saat artikel ini ditulis) saya tetap langsing untuk ukuran emak-emak, awet muda, dan jarang sekali sakit karena pola makan saya yang sehat. Tentang teman saya yang dulu terbiasa makan enak kelihatannya jauh lebih tua dari saya. Badannya gemuk, sakit-sakitan, bahkan kena gula sehingga ia sangat tersiksa karena kalau makan sekarang harus ditakar. Makanan rumahan, biar bagaimanapun sederhananya, tetap lebih sehat dibandingkan dengan makanan restoran. Sekali-kali boleh makan enak di restoran, tetapi jangan jadikan sebagai gaya hidup. Itu jika Anda ingin sehat dan hemat.[iy]

* Iftida Yasar lahir pada 28 Maret 1962. Ia meraih gelar Sarjana Psikologi Pendidikan dan Sarjana Hukum di Universitas Padjajaran tahun 1980. Dan meraih gelar S-2 Psikologi di Universitas Indonesia tahun 1992. Iftida Yasar adalah seorang konsultan SDM, hubungan industrial, dan outsourching. Ia juga seorang entrepreneur, trainer, motivator, aktivis sosial bidang pengembangan SDM, Wakil Sekretaris Umum APINDO, dan Penasihat Asosiasi Bisnis Alih Daya Indonesia (ABADI). Iftida baru saja meluncurkan dua buku terbarunya yaitu Merancang Perjanjian Kerja Outsourcing (PPM, 2009) dan Perempuan Makan Perempuan (Kosmis, 2009). Ia dapat dihubungi di nomor: 0811896944 atau pos-el: iftidayasar[at]yahoo[dot]com.

UA:A [1.5.7_846]
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Berhentilah Khawatir pada Kelemahan Diri

ap1Oleh: Agung Praptapa*

Tak ada manusia yang sempurna. Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Inilah yang membuat seseorang itu “khas”, unik, atau berbeda antara satu dengan lainnya. Di samping memiliki kelebihan dan kekurangan yang berbeda-beda, cara orang memandang kelebihan dan kekurangannya juga berbeda-beda. Ada orang yang sangat khawatir dengan kelemahan dirinya. Sedangkan di lain pihak, ada juga orang yang memiliki kelemahan yang sama, tetapi tidak begitu memikirkannya. Sebaliknya, ada orang yang mendayagunakan kelebihan yang dimilikinya semaksimal mungkin, namun ada pula orang yang tidak menyadari kelebihannya.

Dalam beberapa kasus ada orang yang sadar dengan kelebihan dan kekurangannya, namun ada pula yang tidak sadar akan kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya. Ada pula orang yang menyadari kelebihan dan kekurangannya secara tidak seimbang. Bisa sadar tentang kelebihannya, namun tidak sadar atas kekurangan yang dimilikinya. Sebaliknya, ada orang yang sadar pada kekurangannya, tetapi tidak sadar atas kelebihannya. Jadi, bagaimana seharusnya?

Yang paling baik tentunya kita sadar atas kelebihan maupun kekurangan yang kita miliki. Selanjutnya, kita harus pandai-pandai mengelolanya. Jadikan kelebihan kita sebagai pendorong. Jadikan kelebahan kita sebagai pemacu.

Mangonversi Kekurangan Menjadi Kelebihan

Dalam suatu pelatihan personal empowerment saya minta kepada para peserta untuk membuat daftar kelebihan dan daftar kekurangan yang mereka miliki. Saya minta mereka membuat daftar yang sebanyak-banyaknya dalam waktu yang telah saya tentukan. Hasilnya beragam. Beberapa peserta menulis seimbang antara kelebihan dan kekurangan. Beberapa peserta lainnya mendapatkan kelebihan lebih banyak dari kekurangannya. Dan, sebagian lainnya menulis kelebihan lebih sedikit dari kukurangannya. Yang mengherankan, sebagian besar peserta mampu menulis daftar kekurangan begitu banyaknya, tetapi tidak mampu menuliskan daftar kelebihan yang dimilikinya.

Di sini saya bisa melihat bahwa banyak orang yang terlampau berfokus pada kekurangan atau kelemahan yang dimilikinya. Mereka ahli dalam melihat kekurangannya, berfokus kepada kelemahannya, melupakan kelebihannya, sehingga mereka menjadi gelisah, tidak percaya diri, dan bahkan sampai depresi. Kekurangan yang mereka miliki rasanya seperti seperti sesuatu yang abadi yang tidak bisa berubah dan diperbaiki.

Seharusnya, kita bisa menyikapi kekurangan yang kita miliki secara arif. Bukankah semua orang memiliki kelebihan dan kekurangan? Semestinya kita adil terhadap keduanya. Kekurangan yang kita miliki adalah sesuatu yang wajar. Kita terima saja bahwa itu adalah kekurangan. Namun, harus pula diingat bahwa tidak ada sesuatu yang abadi. Kalau kita benar-benar mau sekuat hati, apa sih yang tak bisa? Jadi, setelah kita terima dengan lapang dada kekurangan yang kita miliki, langkah berikutnya adalah berkomitmen pada diri sendiri bahwa kita ingin mengubah “kelemahan” yang kita miliki menjadi sesuatu “kekuatan”. Bisakah kita mengubah “kekurangan” menjadi “kelebihan?” Bisa saja kalau kita tahu caranya.

Langkah yang pertama untuk mengubah “kelemahan” menjadi “kekuatan” adalah dengan menemukan “lawan kata”-nya. Misalnya, kelemahan kita adalah “tidak bisa” berbicara dalam bahasa Inggris dengan lancar, maka lawan katanya adalah “bisa” berbicara dalam bahasa Inggris dengan lancar. Kalau kelemahan kita adalah “takut” membuka usaha, lawannya adalah “berani” membuka usaha. Lakukan seterusnya dari daftar kekurangan atau kelemahan yang kita miliki. Cari lawan katanya.

Langkah berikutnya adalah membayangkan kenikmatan yang bisa kita peroleh apabila kita memiliki kelebihan yang merupakan konversi dari kekurangan seperti yang telah kita lakukan pada langkah pertama. Bayangkan saja! Enyahkan perasaan tidak bisa. Biarkan pikiran kita “liar” berimajinasi tentang nikmatnya apabila kita memiliki kelebihan tersebut. Imajinasikan dengan sebebas-bebasnya. Kalau hati kita sudah mulai bertanya “Apa bisa?”, langsung saja bentak kata hati itu dengan tegas bahwa kita pasti bisa. Pasti bisa!

Dalam hal mengubah dari “tidak bisa” berbicara dalam bahasa Inggris menjadi “bisa”seperti dicontohkan di ataskita bisa bayangkan bahwa kita sedang berdiskusi dengan orang bule dengan menggunakan bahasa Inggris. Bayangkan kita berbicara dalam seminar memakai bahasa Inggris. “Uff, hebatnya gue!Mungkin begitu kita bisa katakan pada diri sendiri tentang hebatnya dan nikmatnya saat kita bisa berbicara dalam bahasa Inggris dengan lancar.

Selanjutnya, temukan cara bagaimana supaya kita bisa pada keadaan seperti yang kita bayangkan. Dalam contoh menjadi bisa berbahasa Inggris, kita coba temukan cara supaya kita menjadi bisa berbahasa Inggris. Tentu banyak cara untuk bisa berbahasa Inggris. Kita bisa menghafalkan lagu barat, menghafalkan percakapan, menghafalkan satu kata baru setiap hari, selalu berbahasa Inggris saat berbicara dengan orang lain yang bisa berbahasa Inggris, dan masih banyak lagi. Menemukan cara cerdas untuk “bisa” adalah suatu keterampilan tersendiri. Semakin sering dilatih semakin mudah kita melakukan. Cari cara kreatif untuk bisa.

Berikutnya adalah kita lakukan “eksekusi” terhadap cara-cara yang telah kita temukan tersebut. Di sini lakukan dulu yang paling mudah, yang bisa kita lakukan segera. Misalnya, cara yang paling mudah untuk berbicara dalam bahasa Inggris adalah dengan menghafalkan lagu, kita tinggal “laksanakan”. Hafalkan lagu, nyanyikan berulang-ulang, tiru bagaimana penyanyi aslinya melafalkan setiap kata. Dengan demikian kita menjadi tidak asing dengat kata-kata yang ada dalam lagu yang kita hafalkan tadi. Kalau kita nyanyikan berulang kali dengan lafal seperti penyanyi aslinya maka otot-otot mulut kita akan terbiasa dengan kata-kata tersebut.

Kita bisa juga sambil mencoba cara lain untuk bisa berbahasa Inggris. Dengan menghafalkan percakapan misalnya. Saya punya teman yang hebat dalam berbahasa Inggris yang cara belajarnya adalah dengan menonton film dan menghafalkan percakapan-percakapan yang menarik. “Mau berapa banyak sih kata-kata yang kita gunakan dalam berkomunikasi?” begitu kata dia saat menjelaskan kiat-kiatnya belajar berbahasa Inggris. Menurut dia, dalam berkomunikasi kita akan menggunakan kata-kata yang sebenarnya itu-itu saja. Ada variasinya tentunya, tetapi tidak banyak. Apa pun alasannya tidak masalah. Yang penting bagaimana kita bisa berbahasa Inggris dengan baik dan benar.

Sebagai kesimpulan, berhentilah khawatir tentang kelemahan kita. Stop worrying about your weaknesses. Mari kita konversi kelemahan menjadi kekuatan. Kita konversi dari kekurangan menjadi kelebihan. Kalau kita mau, apa sih yang tidak bisa? Kita pasti bisa![ap]

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.2/10 (10 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 3 votes)

Personal Branding Melalui Buku

ez1Oleh: Edy Zaqeus*

“Awali branding Anda dengan tulisan.”

~ Edy Zaqeus

Suatu kali ada seorang trainer datang kepada saya untuk mendiskusikan strategi membangun personal branding dan debutnya di ranah publik Indonesia. Trainer ini lulusan luar negeri dan mengaku telah berkiprah selama bertahun-tahun di berbagai bidang bisnis. Jaringan atau fondasi internasionalnya sudah terbentuk, namun yang saat itu ingin dia bidik justru jaringan dan fondasi di Tanah Air. Alasannya sederhana, pasar di Indonesia dipandangnya masih “menyilaukan” mata, sangat prospektif, dan sangat sayang bila diabaikan.

Infrastruktur berupa tim kerja sudah dibentuk, termasuk event organizer. Sementara website berciri company profile sebagai sarana mass communication dan wadah jejaring juga sudah disiapkan. Rencana-rencana dan budgeting “penampakan” ke ranah publik juga sudah disusun dan dipersiapkan sedemikian rapinya, baik berupa sejumlah preview seminar, seminar inti, termasuk segala macam marketing tools yang dibutuhkan. Sepintas, semua persiapan tersebut bakal memudahkan si trainer ini untuk menggaet perhatian dalam belantara pelatihan dan permotivasian di Indonesia.

Tetapi, dari kacamata saya pribadi sebagai konsultan kepenulisan dan penerbitan, tampaknya ada satu alat personal branding yang tidak dia prioritaskan. Apa itu? Tak lain adalah branding melalui tulisan, dan lebih khusus lagi melalui buku (baik buku panduan, kajian profesi, atau memoar). Mudah saja bagi saya untuk menyatakan bahwa tulisan atau buku adalah alat personal branding yang luar biasa, terlebih bila dipersiapkan dengan baik dan profesional.

Mengapa saya katakan buku ini ampuh untuk mem-branding seseorang? Bahkan, mengapa bisa menjadi medium yang sungguh-sungguh mampu menjadikan ‘si bukan siapa-siapa’ menjadi ‘si seseorang’ yang diperhitungkan? Ya, jawabannya cukup sederhana, yaitu karena sudah banyak contoh membuktikan hal tersebut. Kita pasti tidak asing dengan nama-nama beken seperti Hermawan Kartajaya, Renald Khasali, Ary Ginanjar, Mario Teguh, Andrie Wongso, Andrias Harefa, Safir Senduk, dan masih banyak lagi.

Mereka ini contoh konkrit para penikmat fungsi dan manfaat buku sebagai alat personal branding. Dan saya bisa pastikan, saat ini buku menjadi pilihan terfavorit bagi para profesional untuk branding dan mengangkat reputasi dan kredibilitas profesi. Para motivator, trainer, coach, sales agent, broker, banker, termasuk para juru dakwah pun sudah memanfaatkan buku sebagai alat meraih popularitas.

Nah, apa untungnya memanfaatkan buku sebagai alat personal branding? Mengapa tidak memilih iklan atau advertorial di berbagai media massa? Mengapa tidak memakai jasa konsultan PR saja untuk itu? Saya ada beberapa alasan yang semoga bisa menjadikan preferensi awal untuk melihat potensi buku sebagai pilihan strategi branding Anda. Berikut di antaranya:

Pertama, buku memiliki citra (atau dipersepsi) sebagai “barang intelektual”. Artinya, seorang penulis buku hampir pasti dipersepsi oleh publik sebagai orang yang pandai dan ahli (expert) di bidang yang dia tulis. Sebagai barang intelektual, buku maupun penulisnya akan menuai gengsi tersendiri sebagai bagian dari komunitas terpelajar.

Nah, di belahan dunia dan sistem sosial mana pun, komunitas terpelajar begitu dihormati sehingga kadang seperti mendapatkan priveledge sosial tertentu. Sebut misalnya, kalangan pers pasti lebih menyukai narasumber yang sudah memiliki track record tertentu, yang mana informasi itu bisa mereka rujuk dari buku yang ditulis.

Kedua, persepsi sebagai ahli ini memunculkan efek berupa pengakuan awal atas kredibilitas si penulis. Kredibilitas seseorang menentukan tingkat pengaruh maupun kepercayaan publik terhadapnya. Tokoh atau figur yang memiliki kredibilitas di ranah publik seperti memiliki ‘kartu pas’ untuk masuk ke berbagai lingkungan, sasaran, atau target pengaruh. Mau bukti, simak saja menjelang pemilihan jabatan-jabatan publik, biasanya akan muncul buku-buku profil dari para kandidat.

Nah, buku memang cenderung menghasilkan persepsi automatis. Maka, panjang-pendek usia atau kuat-lemah pengaruh pun tergantung pada isi buku itu sendiri.

Ketiga, buku itu sejatinya bersifat egaliter dan demokratis. Lho, apa maksudnya? Nah, beda dengan persepsi awam selama ini yang memandang buku sebagai perwujudan olah intelektual yang eksklusif. Dalam beberapa kasus bisa jadi demikian, tetapi sesungguhnya buku merupakan salah satu instrumen mobilitas pengaruh yang paling egaliter dan demokratis. Artinya, siapa pun Anda dan dari latar belakang apa pun, tidak ada hambatan struktural untuk mewujudkan sebuah buku, termasuk menggunakannya sebagai bagian dari strategi-strategi branding Anda.

Jadi jangan heran, mulai dari yang SD saja tidak tamat, sopir taksi, pembantu rumah tangga, tukang sol sepatu, pemulung, mantan narapidana, sampai para konglomerat maupun pakar bergelar profesor doktor berhak menuliskan pikiran-pikirannya menjadi sebuah buku. Buku adalah instrumen pengaruh yang inklusif sifatnya. Setiap orang yang berhasil menerbitkan buku akan memiliki kesempatan yang sama untuk masuk dalam public discourse, dan ada efek pengaruh di situ.

Keempat, buku adalah instrumen branding yang relatif mudah untuk dikreasikan. Saya katakan begitu karena ada berbagai macam teknik praktis yang bisa digunakan untuk menyusun atau menulis buku. Ada teknik kompilasi tulisan, ada teknik menulis cepat, ada teknik interview, ada juga teknik co-writing dan ghost writing. Berdasarkan pengalaman saya, hampir semua tema maupun problem kepenulisan tetap bisa dicarikan solusinya.

Nah, dari segi waktu misalnya, penulisan buku pun bisa disesuaikan dengan rencana atau target-target tertentu. Percaya atau tidak, ada buku yang bisa ditulis dalam waktu 2,5 jam! Saya pernah mengkreasikan buku jenis ini (Mengukir Kata Menata Kalimat; Gradien, 2007) bersama Andrias Harefa, seorang trainer dan penulis buku-buku bestseller.

Kelima, dari segi efisiensi biaya, tak jarang (atau malah lebih sering) proses penggarapan buku menjadi lebih kompetitif dibanding iklan-iklan  di televisi maupun media cetak. Beberapa tokoh atau perusahaan rela menghabiskan ratusan juta rupiah untuk sekali pasang iklan di media massa cetak. Padahal, dengan budget yang sama mereka bisa menghasilkan buku-buku dengan kualitas yang sangat baik serta memiliki efek pengaruh yang relatif lebih lama.

Baik, saya sudah sampaikan beberapa alasan dasar mengapa Anda perlu melirik buku sebagai pilihan membangun personal branding Anda. Barangkali ada di antara pembaca tulisan ini yang mulai terusik perhatiannya dan ingin tahu bagaimana mempraktikkannya. Saya ada saran sederhana yang saya yakin bisa mulai dijalankan oleh siapa saja, khususnya kaum profesional. Apa itu? Mulai saja menulis. Ya, mulailah menulis apa saja, khususnya bidang yang memang menjadi keahlian atau kompetensi Anda.[ez]

* Edy Zaqeus adalah penulis buku-buku bestseller, editor profesional, writer coach, trainer, dan konsultan kepenulisan dan penerbitan. Dua karya terakhirnya (dari delapan buku yang ditulisnya) yang laris di pasaran adalah Resep Cespleng Menulis Buku Bestseller (Fivestar, 2008) dan Bob Sadino: Mereka Bilang Saya Gila (Kintamani, 2009). Edy juga menjadi pendiri sekaligus editor website motivasi AndaLuarBiasa.com dan BukuKenangan.com. Ia dapat dihubungi di nomor: 08159912074/021-59400515 atau pos-el: edzaqeus[at]gmail[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 6.0/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 3 votes)

Berbuat Baik Hanya untuk Tuhan

fi1Oleh: Fita Irnani*

Sebagai makhluk sosial, tentunya manusia akan selalu berhubungan dengan manusia lainnya. Hubungan yang terbina ini kadang-kadang tidak selamanya mulus. Adakalanya justru berbuah konflik di antara mereka sendiri. Demikianlah, jika batas-batas toleransi dalam memaknai hubungan dirasa sudah tidak dapat dijunjung tinggi lagi. Sayangnya, justru batasan toleransi diciptakan berdasarkan sudut pandang pribadi yang tidak objektif. Banyak muatan egoisme dan kepentingan di dalamnya.

Selama persinggungan antarmanusia masih berjalan, demikian pula konflik akan tetap terjadi. Tidak hanya untuk mereka yang sudah saling mengenal, yang belum mengenal pun dapat menciptakan konflik, entah secara sengaja ataupun tidak. Sering saya menyaksikan di tempat-tempat umum bagaimana konflik terlahir di antara orang-orang yang tidak saling mengenal. Hanya lantaran hak antrian diambil orang lain, mampu mendidihkan emosi. Hanya lantaran tersenggol pada saat berdesak-desakan dalam transportasi yang sarat penumpang, kadang baku hantam terjadi.

Terciptanya konflik tidak melulu di dominasi oleh laki-laki. Perempuan pun mampu menberikan andil dalam menyulut konflik. Berebut tempat duduk dalam kereta pun, bahkan berhasil menuai adu mulut dengan penumpang wanita lainnya. Setidaknya, hal ini pernah saya temui dan tiada ending yang membahagiakan. Karena, sepanjang perjalanan adalah mulut yang tiada henti meracau serta body language yang jelas ditunjukkan sebagai bentuk ketidakterimaan.

Hubungan antarsesama saudara kandung juga berpotensi menciptakan konflik. Begitu pula antarteman, dalam komunitas apa pun, di lingkungan perumahan, kantor, atau sekolah, semua berpotensi menciptakan konflik. Demikianlah manusia, dikarunia oleh Tuhan kekayaan akal, nafsu, sekaligus hati. Segala penggunaan ketiga piranti tersebut dan bagaimana menjaga keseimbangannya, kembali pada manusia sendiri.

Akan berbahaya jika nafsu lebih mendominasi dari dua lainnya. Akibatnya tentu saja bangunan konflik yang makin runcing dengan manusia lain. Begitulah nafsu bekerja, menjadikan manusia melupakan manusia lainnya. Sesungguhnya pada saat itu, manusia tengah lupa, yang diingat hanya kepuasaan pribadi, yang penting kemenangan, yang penting kepuasaan, yang penting apa yang diinginkan tercapai. Keegoisan berada pada urutan pertama. Jika hal ini terjadi, sudah pasti segala hal menjadi halal dilakukan, karena dalam pikirannya hanya nafsu mengalahkan.

Sejatinya jika manusia mengedepankan pemanfaatan akal dan kebersihan hati, konsep berpikir dalam memaknai konflik akan mengalami perubahan kearah kematangan. Dari tinjauan berpikir yang matang, biasanya akan disertai teknik pemilihan tindakan yang dewasa.

“Ini lho gue! Lu mesti ikut pendapat gue! Yang gue lakukan benar, kok! Kalau gue enggak mau, lu mau apa? Terserah lu! Kan udah gue bilang! Lu urus diri lu sendiri! Jangan urusin gue! Siape lu?” barang kali demikian contoh kata-kata yang terlintas pada saat berkonflik dengan manusia lain, ditambah intonasi dan bahasa nonverbal yang jelas killer. Jelas sekali, ketidaksukaan yang dominan terhadap lawan bicaranya. Lantas, bagaimanakah kita harus bersikap?

Terpancing pada awalnya tentu saja, karena ini adalah bagian dari proses pembelajaran ke arah kesabaran. Secara naluri pada awalnya reaksi manusia cenderung defensif menerima aksi dari luar. Selanjutnya, untuk beberapa saat manusia butuh waktu untuk berpikir dan menimbang. Di sinilah akal mulai bekerja. Tidak mudah untuk menerima dengan lapang dada, perlakuan seperti di atas, diperlukan ekstra kesabaran menghadapinya. Kadang justru kita membalas dengan perilaku yang sama. Jika sudah demikian apa yang kita cari? Apa yang kita dapatkan? Apakah ada kemenangan di sana? Ataukah kepuasaan?

Permasalahannya, tindakan mana yang lebih baik? Menganggap perlakuan mereka seolah tidak pernah terjadi—lalu memosisikan diri tetap berada dalam situasi tanpa konflik—tetap berbuat baik dan tetap memperlakukan mereka layaknya sahabat atau saudara? Atau, justru melakukan hal yang sama, berusaha mengalahkan, berusaha menunjukkan sebagai pihak yang menang? Setiap hari memikirkan strategi bagaimana menjadi sang juara? Setiap hari menunjukkan perbedaan pendapat dan perilaku yang tidak objektif dengan satu tujuan, “Ingat lho… kita berseberangan!”

Satu hal yang pasti, Tuhan mengajarkan hal baik melalui setiap ajaran agama, dan apa pun agamanya mengajarkan seluruh manusia untuk tidak saling bertikai, melainkan untuk saling mengasihi. Saya percaya, dalam hati setiap manusia beragama tentulah memiliki perasaan kasih yang sama. Jika mereka belum menunjukkannya, tidak rugi pula apabila kita mengawalinya untuk tetap berbuat baik terhadap mereka. Apabila masih terasa berat, pertajam penggunaan hati, jangan biarkan nafsu yang berbicara. Berlatih setiap saat untuk menjaga keseimbangannya. Selanjutnya akan muncul suatu bentuk keikhlasan, dan sedikit demi sedikit kedamaian akan menyelimuti hati. Indah, bukan?

Jangan merasa sudah beribadah dengan baik, jika dalam keseharian kita masih mengabaikan perasaan manusia lain. Jangan merasa yang paling benar jika kita paling pintar menyalahkan orang lain. Tetap berbuat baik dengan siapa pun. Apa pun dan bagaimanapun buruknya perlakuan orang lain, tetaplah berbuat baik hanya dengan satu alasan. Untuk Tuhan. Selamat menikmati keindahan bulan Ramadhan.[fi]

* Fita Irnani lahir di kota Semarang 13 Juni 1975. Sulung dari tiga bersaudara ini menghabiskan masa kecil hingga SMA di kota kelahirannya. Alumnus workshop Proaktif “Cara Cerdas Menulis Buku Bestseller” Batch VIII, Februari 2009 ini menetap di kota Bogor dan saat ini bekerja sebagai Learning & Development Specialist pada sebuah perusahaan multinasional yang berkantor di Sudirman. Fita dapat dihubungi melalui pos-el: acho_fit[at]yahoo[dot]co[dot]id.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Kekuatan dari Sifat Hati-Hati

ekOleh: Eni Kusuma*

Kerap kali kita mendengar kata “hati-hati” diucapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Seorang ibu yang melepas kepergian anaknya ke sekolah dengan ucapan “hati-hati”. Seorang istri yang melepas sang suami untuk bekerja dengan ucapan “hati-hati” pula. Sepele memang. Kadang kita tidak begitu memerhatikan. Kata “hati-hati” dianggap sebagai pelengkap kalimat perpisahan saja. Padahal “hati-hati” mengandung makna yang sangat dalam. Karena, jika ingin hidup kita sukses dan bahagia, sifat berhati-hati adalah juga salah satu faktor penentunya.

Kita tentu mendengar dan melihat berita-berita tentang musibah yang menimpa orang-orang di sekitar kita. Biasanya, itu berawal dari keteledoran atau ketidakhati-hatian. Rumah yang terbakar karena lupa mematikan kompor; anak balita yang tersiram air panas karena lupa tidak menaruhnya di tempat yang aman; remaja yang bersahabat dengan narkoba karena mudah terpengaruh dan tidak hati-hati memilih teman.

Demikian juga pejabat yang ditangkap KPK. Ini bukan karena ia tidak hati-hati dalam melakukan korupsi sehingga ketahuan, tetapi karena ia teledor terhadap hidupnya sendiri. Dia tidak berhati-hati untuk menjauhi segala kecurangan. Betapa kehati-hatian adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan kita.

Saya belajar sifat hati-hati ini secara detail ketika saya menjadi pembantu rumah tangga di Hong Kong. Apalagi saya menjaga anak orang dari bayi sampai tumbuh menjadi seorang anak usia sekolah. Saya harus berhati-hati mulai dari menjaga kebersihannya sampai keamanannya.

Apa pun yang sedang saya kerjakan, hati-hati adalah prioritas utama. Ketika saya memasak, saya harus hati-hati memasukkan garam (takut keasinan, hehehe…). Demikian juga ketika saya meletakkan sesuatu yang bisa berbahaya bagi anak-anak. Apalagi ketika menjaga anak balita yang sedang giat-giatnya belajar berjalan.

Dengan demikian, bukankah sifat hati-hati akan menyelamatkan kita dari musibah dan malapetaka yang disebabkan oleh keteledoran?

Ada kisah dari Timur Tengah yang diceritakan oleh Ibnul Jauzi tentang keteledoran ini, yakni seorang laki-laki yang sedang memotong kukunya. Karena tidak hati-hati, maka ia memotong jarinya, dan mati. Juga seseorang yang masuk kandang keledai. Karena tidak hati-hati, ia diseruduk keledai dan langsung meninggal.

Berhati-hati bukan berarti lamban. Justru berhati-hati sering berarti kecepatan. Contohnya, mengendarai mobil dengan tidak hati-hati dan terlalu cepat justru sering akan lebih lambat sampai ke tujuan.

Berhati-hati juga berarti mengontrol diri secara ketat, yaitu meninggalkan kesalahan-kesalahan, keteledoran, dan hal-hal bodoh serta menggantinya dengan melakukan hal-hal yang bermanfaat, seperti bertindak dengan benar, menciptakan ide-ide brilian, dan lain-lain.

Saya sendiri sedang latihan mengontrol diri, yaitu memaksa diri saya supaya pintar-pintar mencari waktu luang untuk menulis. Karena, tidak memanfaatkan waktu dengan baik adalah bagian dari kebodohan saya. Bukankah memberikan kontribusi kepada khalayak dengan menulis di forum ini merupakan kebanggaan dan kebahagiaan saya?

Bagaimana dengan Anda?[ek]

* Eni Kusuma adalah nama pena Eni Kusumawati, perempuan kelahiran Banyuwangi, 27 Agustus, 31 tahun yang lalu. Ia berangkat dari menulis puisi dan fiksi. Puisinya dibukukan bersama seratus penyair Indonesia dengan judul Yogya, 5,9 Skala Richter, sementara cerita fiksinya bertebaran di berbagai media dan juga dibukukan. Ia bercita-cita mendirikan sekolah gratis dan rumah baca di Banyuwangi. Pendidikan formal terakhir di SMUN 1, Banyuwangi (1995). Sementara, pendidikan nonformalnya, S-1 di Pembelajar.Com (2006 sampai sekarang), dan S-2 di Andaluarbiasa.Com (15 Januari 2009 sampai sekarang). Eni menjadi pembantu rumah tangga di Hong Kong tahun 2001-2007. Eni, yang ketika kecil menderita gagap bicara ini, kini menjadi seorang motivator dan telah memberikan seminarnya di berbagai perusahaan, lembaga sosial, birokrasi pemerintahan, serta berbagai kampus di seluruh Indonesia. Eni adalah penulis buku laris Anda Luar Biasa!!! (Fivestar, 2007). Saat ini ia tengah menyelesaikan buku motivasi kedua dan ketiganya. Silahkan hubungi Eni di ek_virgeus[at]yahoo[dot]co[dot]id atau enikusuma[at]ymail[dot]com , HP: 081 389 641 733.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 3 votes)

Ada Tembok China di antara Saya dan Dia (1)

ad1Oleh: Alexandra Dewi*

Saya mencoba menceritakan sebuah kisah percintaan yang saya harap nanti bisa dijadikan sebuah kumpulan cerita dan dibukukan. Cerita pertama ini berasal dari salah satu kenalan saya. Supaya saya tidak menggunakan nama samaran, saya menulis seolah-olah orang ini yang menceritakan langsung dan mudah-mudahan juga bisa lebih mudah dimengerti.

Here it goes.

Saya datang dari keluarga sederhana. Orang tua saya bukan orang melarat, tetapi bukan pula yang kaya raya sampai bisa menyekolahkan anak-anaknya ke luar negeri. Sehingga, ketika sepupu jauh saya menawari saya sekolah ke Amerika dengan biaya dari keluarganyawalau awalnya saya sempat shock, that this is seems too good to be trueakhirnya saya berangkat juga. Usia saya ketika itu 17 tahun.

Di Amerika saya tinggal dengan kakak perempuan saya yang juga dibiayai oleh sepupu kami. Tidak lama kuliah di sana, saya sudah mendapat seorang pacar bernama Hans, tiga tahun lebih tua dari saya. Kami amat sangat saling mencintai. Waktu yang saya lewatkan bersama Hans, bagi saya adalah masa-masa terindah dalam kehidupan saya. Semula saya tidak percaya ada surga. Tetapi, dua tahun pertama saya di Amerika bersama Hans itu berarti surga. Tidak ada yang bisa lebih baik dari saat itu.

Setelah dua tahun berjalan, kakak perempuan saya Cindy yang berusia 23 tahunwalau belum punya pacar yang cocokpun sangat menikmati masa muda kami kuliah di negara itu. Suatu hari, Cindy berkata, “Sepupu (yang selama ini membiayai semua kebutuhan kami) mau melamar dan menikahiku.

Cindy berkata kepada saya, kalau ia menolak lamarannya, sepupu kami itu akan berhenti membiayai sekolah kami dan semua biaya lainnya. “Aku sama sekali tidak ada rasa cinta sama dia. Apa yang bisa kita lakukan?” tanya Cindy.

Saya duduk terdiam. Betapa bodohnya saya selama ini. Saya pikir ada orang atau sanak saudara yang begitu tulus membiayai pendidikan kami, ternyata semua ada syaratnya. Saya melihat Cindy sangat tertekan. Dan, ketika ultimatum diberikan kepadanya, akhirnya saya berkata,OK, kalau begitu biar kita cari kerja saja di sini!

Cindy bertanya, “Bagaimana bisa cari kerja? Kita bukan penduduk? Kita tidak punya green card? Kita harus pulang!”

Alangkah mudahnya kalau Cindy bisa menerima lamaran dari saudara jauh kami itu. Tetapi, alangkah egoisnya saya menyuruh atau bahkan merelakan kakak saya sendiri menikah dengan pria yang tidak dicintainya.

Ketika saya sampaikan masalah ini kepada Hans, dia pun terdiam. Saya tahu dia sedih, tetapi saat itu pun dia masih hidup dengan dibiayai orang tuanya. Usianya baru jalan 23 tahun. Kuliahnya masih di tengah-tengah. Setelah segala sudut kami telaah dan tidak ada jalan keluar, akhirnya saya dan Cindy pulang ke Singapura. Saudara jauh kami ternyata benar-benar sudah tidak mengirim uang sekolah maupun biaya sewa apartemen kami.

Ketika saya berpisah dengan Hans, kami berdua masih saling berjanji. Saya berjanji untuk cari kerja di Singapura dan menabung untuk mengunjunginya. Sementara, Hans menjanjikan hal yang sama, dan apabila selesai kuliah dia akan melamar saya.

Ketika tiba di Singapura, saya benar-benar seperti orang terkena depresi. Rasa rindu saya kepada Hans lebih sakit daripada rasa belum makan berhari-hari. Setiap kali kami bicara lewat telepon, saya selalu menangis. Di antara tahun-tahun pertama kami berpisahsaking tidak tahannya tidak bertemusaya rela menjual semua perhiasan saya untuk tiket mengunjungi Hans di Amerika. Gaji saya tidak pernah cukup ditabung karena untuk hidup sehari-hari saja sudah sangat pas-pasan.

Hans pun sempat datang mengunjungi saya di Singapura. Saya tidak tahu bagaimana dan dari mana Hans dapat uang untuk membeli tiket. Sebab, saya tahu semua biaya hidupnya di sana masih dari orang tua, dan dia pun belum punya mata pencaharian. Waktu berjalan dan terasa semakin berat karena orang tua Hans mulai keberatan dia bolak-balik ke Singapura mengunjungi saya. Apalagi kuliahnya juga belum selesai. Saya tidak menyalahkan orang tuanya. Orang tua mana pun tentu ingin anaknya selesai kuliah dengan baik.

Di tempat kerja saya berjumpa dengan Ron, pria mapan asal Amerika yang usianya 20 tahun lebih tua dari saya. Saya tahu Ron berminat pada saya, tetapi ketika saya berjumpa Ron, dia sudah menikah. Saya tidak pernah menanggapi, apalagi saya masih berharap Hans akan menepati janjinya; selesai kuliah dia akan melamar saya.

Tetapi, lama kelamaan Hans tidak bisa berkunjung lagi walau dia masih sering menghubungi saya lewat telepon. Mungkin, orang tuanya melarang atau dia tidak tahu harus pinjam dan dapat uang dari mana lagi untuk menemui saya. Sementara kami begitu jauh, saya kesepian, letih bekerja, dan fake a smile everyday. Saya amat sangat kangen pada Hans tetapi tidak tahu lagi harus bagaimana….

Ron berkata bahwa dia bersedia menceraikan istrinya jika saya mau menikah dengannya. Saya lihat kegigihan dan keseriusan Ron dengan mata kepala saya sendiri. Ron berkata jika bercerai dengan istrinya, dia harus memberikan hampir semua yang dia miliki kepada istrinya. Karena angan-angan saya bisa hidup bersama Hans semakin pupus dimakan habis oleh realitas kehidupan, akhirnya saya coba membuka sedikit celah hati kepada Ron.

Sebelum bercerai dengan istrinya Ron punya rumah, mobil, dan aset yang cukup. Tetapi ketika menikah dengan saya, hampir semua harta bendanya harus diserahkan kepada (mantan) istrinya. Ron tidak banyak cerita mengapa harus terjadi demikian itu. Yang saya tahu, ketika saya akhirnya menikah dengan Ron, kami tidak hidup berkelimpahan. Ron harus mulai dari awal. Tetapi, saya cukup bersyukur karena pekerjaannya sebagai GM di sebuah club golf internasional cukup untuk menghidupi rumah tangga kami.

Pada hari pernikahan saya, semua seperti blur. Saya masih punya rasa cinta untuk Hans. Tetapi, rasa itu saya tepis karena harapan untuk bersamanya tinggal angan-angan belaka. Saya tidak sadar bahwa saya masuk ke suatu pernikahan, yang mana hati saya masih bersama pria lain. Hans, hanya dia yang saya cintai sepenuh hati.

Karena usia Ron sudah 45 tahun, kami memutuskan segera punya anak. Anak pertama kami laki laki, Josh luar biasa lucunya. Darah Asia saya yang terkombinasi dengan Ron yang caucasian, Josh really a handsome litte boy. Tidak lama kemudian lahir putra kami yang kedua dan yang ketiga.

Menjadi seorang ibu buat saya merupakan pengalaman yang sangat indah. Saya suka anak-anak. Dan, saya menilai diri saya sebagai seorang wanita yang sangat berbakat dalam menjadi seorang ibu. Semua amat sangat natural bagi saya. Proses hamil pun bagi saya indah terasa. Saya menjadi full time mother, full time wife.

Ketika usia pernikahan kami menginjak tahun kedelapan, Ron kehilangan pekerjaannya karena mulai sering sakit-sakitan. Memang, usianya sudah lebih dari 50 tahun. Ketika kehilangan pekerjaan Ron jadi sangat down. Setiap hari dia mulai minum-minum dan saya hampir tidak pernah bisa bicara dengannya ketika dia tidak sedang mabuk. Saya pun mulai harus lebih berhemat lebih dari dari sebelumnya. Memotong kupon discount di koran bukan hal yang baru buat saya, malah sekarang menjadi kerjaan saya sehari-hari. Uang pensiun Ron tidak cukup untuk menghidupi kami sekeluarga.

Bukannnya saya tidak pernah membayangkan bahwa masa-masa seperti ini akan benar-benar tiba. Akhirnya, saya toh harus membesarkan ketiga anak saya yang masih kecil-kecil dengan suami saya yang sudah kelihatan sangat tuadan dengan kebiasan minumnya yang di luar dugaan saya. Kadang saya pergi naik bus malam-malam ketika anak-anak dan Ron sudah tidur, hanya untuk menunggu penumpang terakhir turun, dan bus berputar satu kali lagi, dan saya bisa menangis sendiri.

Saya tidak bisa menangis di depan anak-anak atau di depan Ron. Anak-anak masih terlalu kecil untuk mengerti dan saya tidak ingin mereka melihat ibunya menderita. Saya tidak ingin Ron semakin down karena dia tahu saya amat sangat merana. Karena, usia kami berbeda 20 tahun, maka saat saya menceritakan kisah ini, saya sudah 38 tahun dan Ron sudah 58 tahun. Usia 38 tahun bisa dibilang tidak muda, tetapi saya masih ingin pergi makan dengan teman-teman. Saya kadang masih ingin beli baju baru. Tetapi, Ron sudah tidak ada semangat untuk melakukan semua itu. Ia sakit-sakitan dan tidak ada hasrat untuk meninggalkan rumah, kecuali untuk hal-hal seperlunya seperti ke toserba atau ke dokter. Saya melihat pasangan pergi nonton, makan di restoran, dan saya hanya bisa menghela napas.

Berkali-kali terlintas di pikiran saya untuk bercerai. Lebih gila lagi saya ingin mencari di mana Hans berada. Hans. Tidak ada satu hari pun terlewat tanpa teringat kenangan indah kami di Amerika.

Pada tahun-tahun pertama saya menikah dengan Ron, tentu saya masih mendengar kabar soal Hans dari teman-teman lama kami. Saya dengar dia punya pacar. Saya coba cari fotonya, saya bandingkan diri saya perempuan itu. Buat apa saya begitu, saya tidak tahu. Lalu, beberapa tahun kemudian saya dengar Hans putus dengan pacarnya. Diam-diam saya berharap dia akan mencari saya. Itu bahkan sampai terbawa bawa dalam mimpi. Saya sangat berharap itu terjadi, tetapi saya lupa bahwa saya bukan saya yang dulu. Sekarang saya sudah menjadi milik Ron dan ketiga anak saya.

Saya coba melupakan angan-angan gila itu tadi, tetapi saya tidak bisa. Karena saya tahu, Hans masih sendiri dan saya berharap, siapa tahu minimal Hans masih mau berteman dengan saya? Tidak lama kemudian, Hans menikah. Lagi-lagi saya membanding-bandingkan diri saya dengan istrinya. Saya juga sadar itu tidak ada gunanya, tetapi masih saja saya lakukan. Saya dengar istrinya pun pernah menikah dan bercerai sebelum menikah dengan Hans. Sakit hati saya, kenapa bukan saya? Kalau sama-sama menikah dengan janda, saya pun bisa menjanda dan menikah dengannya, jika dia masih menginginkan saya.

Herannya, setelah dia menikahwalau sakit mendengar kabar itusaya mulai bisa menerima kenyataan bahwa Hans tidak akan pernah hadir dalam kehidupan saya. Mungkin, itu karena kali ini dia sudah beristri. Kenyataan ini seperti tamparan buat saya, dan terbangunlah! Kenyataan… habis sudah harapan saya untuk bisa bersamanya, walaupun sekadar berteman.

Akhirnya, saya tetap jalankan kehidupan hasil pilihan saya sendiri dengan suami seusia ayah saya, dengan keadaan ekonomi sangat minim, dan saya harus bertahan demi anak-anak. Setiap hari hanya mereka yang masih bisa membuat saya tersenyum. Lain dari itu, saya sadar surga jelas-jelas bukan di dunia ini. Terbalik 180 derajat dengan ketika saya jumpa Hans puluhan tahun lalu.

Tiga tahun setelah Hans menikah, saya mendapat kabar dari teman kami bahwa dia mau datang berkunjung ke Singapura bersama temannya itu, dan bahkan mau bertemu saya. Sejak saya dengar kabar itu, saya tidak bisa tidur. Saya menangis karena saya ingin sekali jumpa dia. Sudah puluhan tahun sejak menikah saya inginkan kesempatan itu. Tetapi, saya malu karena rupa saya sudah tidak seperti dulu lagi, dan keadaan saya pun tidak sedang baik-baik. Saking malunya, saya hampir berpikir untuk tidak usah berjumpa dengan Hans nantinya. Tetapi, rasa kangen saya begitu besar dan mengalahkan segala-galanya.

Hari itu ketika kami membuat janji bertemu di sebuah coffee shop, saya datang tepat waktu. Saya bersolek sebisa saya karena saya sudah tidak punya dana ke salon. Makanya, saya sampai mengantri di department store ketika mereka menggelar promosi “Free Make Over. Dan, karena saya tidak punya uang untuk membeli baju baru, saya pinjam sebuah gaun sederhana dari seorang teman—mama temannya Josh di sekolah. Saya sudah berada di tempat janjian dan tidak satu menit pun terlalu pagi, karena saya tidak ingin memberi kesan bahwa saya yang menunggu-nunggu. Juga tidak terlambat satu menit pun karena saya tidak mau memberi kesan bahwa saya tidak menghargai waktu.

Begitu banyak persiapan baik luar maupun dalam hanya untuk pertemuan ini. Hans. Tidak tahukah dia, hanya dia yang saya cintai? Tentu dia tidak tahu, dan sampai kapan pun lebih baik dia tidak tahu. Saya wanita menikah dan dia juga sudah beristri. Bisa bertemu saja sudah anugerah buat saya. Apa pun kenangannya, biar buat saya simpan di hati saya yang paling dalam.

Ketika kami bertemu saya pun terperangah…. Hans juga sudah berumur sekarang. Sudah 15 tahun lebih kami tidak jumpa. Rambutnya sudah menipis dan badannya tidak seramping dulu. Herannya, betapapun tubuh luar bisa dimakan usia, essence dari manusia yang kita cintai masih ada saja di sana. Kami duduk di cafe itu setelah sebelumnya kami saling berpeluk sebentar. Saya harus menahan diri untuk tidak memeluknya seperempat detik lebih lama dari yang sepantasnya. Kami membicarakan hal-hal lucu mengenai orang-orang yang sama-sama kami kenal dari masa sekolah dulu. Apa pun pembicaraannya, asal bukan soal apa yang terjadi dulu di antara kami.

Walau dalam hati saya ingin sekali bertanya, mengapa dia tidak pernah menepati janjinya dulu? Apakah dia bahagia di pernikahannya sekarang? Apakah dia pernah atau sering memikirkan soal saya walau kami jelas-jelas sudah tidak berjodoh? Sering kali saya tidak bisa menangkap kata-kata kasual yang keluar dari mulutnya karena saya terlalu terserap atas semua pertanyaan terpendam itu.

Ketika Hans berpamit, saya pun tersenyum dan berkata bahwa senang bisa jumpa kembali. Dan, saya titipkan salam untuk keluarganya. Saya adalah seorang ‘kawan lama’ yang sedang bertemu ‘kawan lama’, dan sekarang pertemuan itu sudah berakhir. Time to say Good Bye. Tetapi Tuhan tahu, hanya dia yang saya cintai sepenuhnya, dan saya sadar saya tidak akan pernah bisa bersamanya. Saya kadang berpikir apakah hanya saya seorang yang punya perasaan dan nasib seperti ini.

–Cecilia –[ad]

* Alexandra Dewi adalah seorang eksekutif sebuah perusahaan pemasar suplemen makanan, penulis buku The Heart Inside the Heart, Queen of Heart, dan co-writer buku I Beg Your Prada. Dewi baru saja meluncurkan bukunya keempatnya tentang fashion yang ditulis bersama Fitria Yusuf berjudul Little Pink Book. Ia juga sedang menyiapkan buku-buku berikutnya. Dewi dapat dihubungi melalui pos-el: inthelalaland[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.5/10 (4 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +4 (from 4 votes)

Sang Negosiator

ayb1Oleh: Anang Y.B.*

Bekerja secara self employed ibarat bertarung di ring tinju, dan bukan seperti berperang bersama satu peleton pasukan. Saat bel tanda mulai berlaga dibunyikan, Anda bakal mempertahankan hidup mati sendirian, ya sendirian. Tak ada yang bisa andalkan selain gerak cepat Anda sendiri. Kegesitan Anda, kemampuan berkelit, taktik jitu, dan sederet pengalaman sebelumnya adalah modal yang bisa Anda kerahkan untuk memenangi pertandingan. Semuanya harus berasal dari diri Anda sendiri, bukan dari orang lain!

Mengerikan? Mungkin ya bagi Anda yang terbiasa bekerja dalam sebuah tim semasa masih menjadi karyawan. Anda hanya perlu menekuni dan berkonsentrasi pada bidang tugas Anda saja. Semisal Anda berada pada posisi accounting di sebuah perusahaan trading, Anda tidak perlu pusing soal bagaimana stock barang mesti disiapkan, bagaimana proses negosiasi pengadaan barang, tidak ada urusan soal mobil deliveri dan tetek-bengek di luar soal keuangan. Kini saat Anda banting setir kerja di rumah, Anda mendadak menjadi panitia tunggal dari semua urusan. Dari A sampai Z dan balik lagi ke A. Terus berputar.

Taruhlah Anda punya usaha rumahan berupa jasa sablon mug. Maka, urusan Anda bakal menjadi sederet persoalan dari yang remeh hingga yang rumit memusingkan kepala. Awalnya, Anda mesti mencari bahan baku mug, tinta sablon, dan kertas sublim. Belum selesai urusan itu Anda mesti juga memutar otak untuk mencari klien, merayunya, dan bernegosiasi soal harga. Barang siap, Anda pun harus segera memikirkan cara pengiriman apakah diantar langsung, klien mengambil sendiri, atau Anda menggunakan jasa kurir. Bagaimana sistem packing-nya? Dari sepuluh mug yang dipesan mungkin keuntungan Anda berasal dari satu mug saja. Jadi, kalau sistem pengepakan kedodoran hingga salah satu atau salah dua mug retak maka Anda hanya bisa gigit jari atau gigit bibir sambil menangis sesenggukan.

Karena dalam setiap tahap Anda berhubungan dengan pihak lain, maka satu jurus yang mutlak Anda kuasai adalah jurus bernegosiasi. Negosiasi tak sekadar bersilat lidah karena bukan cuma lidah yang Anda manfaatkan untuk memenangi sebuah negosiasi. Otak dan seluruh gerak tubuh Anda turut memberi andil pada hasil negosiasi. Anda bisa menang tetapi Anda bisa juga mati kutu tak berkutik karena salah memanfaatkan lidah dan otak Anda.

Nyaris seluruh hidup kita dilewati dengan bernegosiasi. Saat Anda memutuskan untuk resign dan kerja di rumah saja, pastinya Anda perlu bernegosiasi dengan pasangan Anda atau malah dengan mertua Anda juga. Pagi hari mungkin Anda perlu bernegosiasi soal menu sarapan pagi. Anda pun perlu bernegosiasi dengan tukang sayur keliling untuk mendapatkan harga ikan asin yang termurah. Saat memegang remote control televisi, negosiasi menjadi mutlak ada karena setiap kepala punya acara televisi yang diidolakan. Untuk urusan berapa mau punya anak, jaraknya masing-masing berapa tahun, pingin anak cowok atau cewek dulu, mau diikutkan les apa, semua perlu negosiasi. Hidup Anda dikelilingi dengan sejuta negosiasi. Dan, jalan menuju kesuksesan ditentukan pula oleh kemahiran Anda memainkan peran saat berada di panggung negosiasi.

Lantas, apa sebetulnya pengertian dari kata “negosiasi”? Secara gampang, negosiasi bisa kita pahami sebagai proses di mana kita memenuhi persyaratan untuk mendapatkan yang kita inginkan dari orang lain yang sebaliknya juga menginginkan sesuatu dari kita. Negosiasi adalah juga proses mencapai kompromi. Ukurannya adalah sama-sama bisa menerima walau tidak selalu kedua belah pihak menerima keuntungan yang sama besar.

Bernegosiasi bisa dipelajari dan tidak perlu bakat. Hal pertama yang harus Anda ingat adalah:

1. Negosiasi bertujuan demi keuntungan kedua belah pihak, bukan mengalahkan satu sama lain.

2. Negosiasi mengantar kita pada satu hubungan yang lebih baik, bukan malah memutus hubungan yang sudah terjalin.

3. Negosiasi yang baik berakhir pada satu kesepakatan, walau tidak selalu begitu. Dalam hal ini bisa saja dua belah pihak bersepakat untuk tidak sepakat.

Menjadi negosiator perlu persiapan. Terlalu bodoh bila Anda terburu-buru membuka negosiasi tanpa melakukan persiapan dan penelitian terlebih dahulu. Keuntungan dan kredibilitas Anda bakal melayang dalam sekejap bila Anda masuk dalam ruang negosiasi tanpa persiapan. Pasti diperlukan sederet pertemuan yang melelahkan dan membosankan bila negosiasi hanya berputar-putar tak menentu. Apalagi kalau Anda bernegosisi asal cuap karena tidak siap. Ingat, waktu dan energi Anda terbatas. Lebih baik buang sedikit energi dan waktu Anda untuk melakukan persiapan sebaik-baiknya sebelum berlaga.

Jadi, Apa yang perlu disiapkan sebelum Anda melakukan negosiasi? Ini dia yang perlu Anda tahu sebelum masuk meja perundingan:

1. Apa tujuan yang ingin Anda raih?

Tulis secara detail semua hasil yang ingin Anda dapat. Urutkan dari yang paling minimal hingga hasil bonus atau yang paling menggembirakan dan tak terduga karena lawan Anda mati kutu. Menetapkan tujuan secara tertulis dan menuliskannya secara konkret akan menghantar Anda pada pemilihan taktik dan strategi bernegosiasi nantinya.

2. Siapa lawan atau mitra dalam negosiasi?

Anda bisa saja menganggap pihak yang Anda ajak bernegosiasi sebagai lawan atau bisa juga sebagai mitra. Apa pun itu, Anda harus penuh selidik terhadap mereka. Cari tahu apakah lawan Anda itu seorang diri atau satu tim yang terdiri dari pimpinan, ahli marketing, sales, accounting, atau bahkan penasihat hukumnya bakal ikut nimbrung? Bila sendirian, lelaki atau perempuankah mereka? Anda tentu tahu bagaimana mencoloknya perbedaan bernegosiasi dengan lelaki dibandingkan bernegosiasi dengan perempuan yang penuh senyum sambil menegakkan kepalanya!

Anda juga harus tahu betul apa yang pingin diraih oleh lawan negosiasi. Strategi apa yang bakal dia terapkan. Tebak juga karakter atau temperamen lawan bicara Anda. Seorang yang bermuka manis namun penuh muslihat, ataukan seorang yang sangar namun penuh kompromi?

3. Bagaimana model pertemuan untuk melakukan negosiasi?

Pastikan Anda melakukan pertemuan dengan memanfaatkan waktu secara produktif. Bila satu pertemuan saja cukup untuk mencapai kesepakatan, tutup saja segera dan jangan membuka peluang baru untuk mementahkan apa yang sudah Anda raih. Pastikan bahwa pertemuan negosiasi membahas persoalan yang sesuai dengan yang Anda persiapkan. Sering kali lawan negosiasi memelesetkan agenda suatu pembicaraan dengan menggunakan kalimat yang diawali kata, “Ngomong-omong….” Bila itu terjadi, waspadalah. Untuk itu sebelum pertemuan dimulai Anda perlu membuat penegasan, apa agenda pembicaraan pada pertemuan itu. Bila perlu, sodorkan agenda yang sudah Anda rancang pada kesempatan pertama. Jangan ragu dan malu untuk melakukan itu. Sebab, bila lawan Anda memiliki agenda pembicaraan yang berbeda maka segala persiapan Anda bakal berantakan.

Sekarang tiba saatnya untuk bernegosiasi. Debat adalah salah satu makanan utama dalam proses negosiasi, bahkan mencapai 80 persen dari waktu yang Anda siapkan. Kecakapan Anda dalam berdebat bakal menentukan apakah negosiasi akan berjalan alot atau cukup satu ronde saja. Kemampuan berdebat juga membuka pintu gerbang pada pemahaman mengenai apa yang pingin diraih lawan Anda. Teknik memancing jawaban “tidak” bisa Anda terapkan untuk mengetahui sederet argumen lawan Anda. Semakin banyak Anda menemukan hal-hal yang terkait dengan minat dan kemauan lawan Anda, maka semakin besar pula Anda untuk memenangi perdebatan.

Adakah trik untuk memenangi perdebatan? Coba saja beberapa langkah mudah berikut ini:

1. Ajukan argumen yang tak terbantahkan

Semua orang tahu, hanya mereka yang paham persoalan yang bakal menjadi pemenang. Ingatlah itu. Menyiapkan diri dengan membuat daftar semua yang ingin Anda raih plus argumennya menjadi hal yang tidak bisa dianggap enteng. Lakukan itu sebaik mungkin. Bila perlu rancanglah argumen-argumen secara bertingkat mulai dari yang paling sederhana hingga argumen ilmiah sesuai kaidah perdagangan.

2. Pancing emosi lawan

Emosi berbanding terbalik dengan rasio. Manfaatkan teori ini saat argumen tidak lagi cukup ampuh untuk memenangi perdebatan. Semakin terpancing emosi lawan, maka dapat dipastikan dia bakal mengajukan argumen-argumen yang enteng untuk dipatahkan. Pandai-pandailah saat memancing emosi lawan. Bersikap tenang dan tetap santun adalah nasihat terbaik. Gunakan pilihan kata-kata yang baik namun menohok lawan Anda.

“Sebenarnya yang saya sampaikan tadi adalah sesuatu yang sepele, namun baiklah saya akan ulangi bila memang Bapak sulit untuk menangkap maksudnya….”

“Apakah kami harus menjelaskan hal sesederhana ini?”

“Bila tidak keberatan, apakah saya bisa mendapat penjelasan dari tim Bapak yang lebih paham mengenai masalah ini?”

“Saya kira terlalu menggelikan bila saya harus memenuhi permintaan Anda.”

3. Buatlah lawan kelelahan

Lelah berdebat berjam-jam bisa membuat Anda atau lawan bicara Anda kehilangan mood dan konsentrasi. Manfaatkan itu! Pancinglah lawan Anda sampai pada titik kelelahannya. Anda bisa datang dengan mengajak kawan sehingga bisa saling susul bergantian menyerang lawan Anda. Sering kali Anda harus berbicara panjang lebar hingga membuat lawan bicara Anda menatap Anda dengan pandangan kosong. Lakukan itu. Dan, bila lawan debat Anda terlihat kuyu, seranglah dia dengan tawaran yang tidak bisa dia tolak. Kemungkinan besar Anda akan sukses hari itu juga!

Nah, Anda sudah tahu manfaat dari kemampuan bernegosiasi? Asahlah dari sekarang. Bila perlu pancing pasangan Anda untuk bernegosiasi dalam banyak hal. Boleh pakai teknik yang membuat dia kelelahan, namun tentu saja jangan pakai teknik memancing emosi. Bisa gawat nanti![ayb]

*Anang Y.B.  dikenal sebagai penulis bergaya story telling. Pria ini menyebut dirinya sebagai blogger yang geografer. Menjadi geografer memungkinkan dia untuk berkeliling Indonesia dan memperoleh banyak inspirasi menulis dari catatan perjalanannya. Seluruh kisah unik dan opininya dia tuangkan dalam blog beralamat di www.jejakgeografer.com, yang kini telah memiliki lebih dari 500 cerita. Anang dapat dihubungi melalui pos-el: anangyb[at]gmail[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 10.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya Oleh: Don Gabor Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009 ISBN: 978-979-22-5073-2 Tebal: xviii + 380 hal Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas! Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox